Banyak orang membayangkan bahwa dalam sejarah Agama Buddha, Buddhadharma berkembang sebagai sebuah tradisi yang utuh, seragam, dan tidak mengalami perbedaan pandangan. Gambaran tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta sejarah. Sejak masa-masa awal setelah Parinirvana Buddha sekira 400 Sebelum Masehi (SM), komunitas Buddhis telah menghadapi berbagai pertanyaan mengenai cara memahami, melestarikan, dan menerapkan ajaran. Dari proses inilah lahir beragam aliran yang kemudian membentuk wajah Buddhadharma selama berabad-abad.

Memahami sejarah agama Buddha awal membantu kita melihat bahwa keragaman bukanlah sesuatu yang muncul belakangan. Justru sejak awal, Buddhadharma berkembang melalui diskusi, perdebatan, dan upaya para praktisi untuk memahami ajaran Buddha secara lebih mendalam. Dalam waktu sekitar tiga abad setelah Buddha wafat, komunitas yang semula relatif bersatu berkembang menjadi sedikitnya delapan belas aliran yang berbeda.

Ketika Buddha Tidak Menunjuk Pengganti

Menjelang Parinirvana, Buddha tidak menunjuk seorang pengganti untuk memimpin Sangha. Sebaliknya, beliau menegaskan bahwa Dharma dan Vinaya harus menjadi pedoman utama bagi para pengikutnya. Keputusan ini mencerminkan karakter Buddhadharma yang tidak bergantung pada otoritas individu, melainkan pada ajaran dan praktik yang dapat diuji melalui pengalaman.

Setelah Buddha wafat, para murid senior segera mengadakan Mahasamaya Pertama di Rajagriha. Dalam pertemuan ini, Upali melafalkan kembali Vinaya atau aturan kehidupan monastik, sedangkan Ananda menyampaikan kembali khotbah-khotbah Buddha yang kemudian menjadi dasar Sutta Pitaka.

Mahasamaya ini sering dipandang sebagai simbol persatuan Sangha. Namun berbagai sumber awal menunjukkan bahwa perbedaan pandangan sebenarnya sudah mulai muncul. Sebagian anggota Sangha ingin mempertahankan seluruh aturan secara ketat, sementara yang lain berpendapat bahwa beberapa aturan kecil dapat disesuaikan sesuai kebutuhan zaman. Ketegangan semacam ini kelak menjadi benih bagi lahirnya berbagai aliran Buddhadharma.

Pemisahan Pertama dalam Sejarah Agama Buddha

Sekitar masa Mahasamaya Kedua, yang secara tradisional ditempatkan sekitar satu abad setelah Parinirvana Buddha, mulai muncul perbedaan yang kemudian melahirkan dua kelompok besar: Mahasanghika dan Sthavira.

Para sejarawan modern masih memperdebatkan apakah perpecahan tersebut terjadi tepat pada masa Mahasamaya Kedua atau beberapa waktu setelahnya. Bahkan sejumlah penelitian berpendapat bahwa kelompok Sthavira mungkin merupakan pihak yang memisahkan diri dari komunitas Mahasanghika yang lebih besar, bukan sebaliknya sebagaimana sering digambarkan dalam tradisi tertentu.

Yang menarik, perpecahan awal ini bukan terutama disebabkan oleh persoalan filsafat yang rumit. Persoalan utamanya berkaitan dengan disiplin monastik atau penafsiran terhadap Vinaya. Namun dari perbedaan tersebut kemudian berkembang berbagai pandangan filosofis yang semakin beragam.

Mahasanghika, yang berarti “Majelis Agung”, dikenal lebih terbuka terhadap perkembangan dan interpretasi baru. Sebaliknya, Sthavira atau “Para Sesepuh” lebih menekankan pelestarian tradisi dan disiplin yang ketat. Dari kedua kelompok besar inilah kemudian lahir berbagai mazhab yang berkembang di berbagai wilayah India.

Selain perbedaan pandangan, faktor geografis juga berperan penting. Dalam beberapa generasi setelah Parinirvana Buddha, komunitas Buddhis telah menyebar ke berbagai wilayah India yang berjauhan, mulai dari Magadha di timur hingga Gandhara di barat laut dan Andhra di selatan. Jarak yang besar, kondisi sosial yang berbeda, serta keterbatasan komunikasi membuat penafsiran dan praktik berkembang secara beragam. Dengan kata lain, kemunculan berbagai aliran tidak hanya didorong oleh perdebatan doktrin, tetapi juga oleh proses penyebaran Buddhadharma ke lingkungan budaya yang berbeda.

Sejarah Agama Buddha Awal dan Lahirnya 18 Aliran

Dalam beberapa abad berikutnya, perkembangan sejarah Agama Buddha melahirkan sedikitnya delapan belas aliran utama. Angka delapan belas sebenarnya merupakan angka tradisional dan tidak boleh dipahami sebagai jumlah yang pasti. Berbagai sumber klasik India, Tiongkok, dan Tibet memberikan daftar yang berbeda-beda mengenai nama dan jumlah aliran yang ada.

Karena itu, istilah “delapan belas aliran” dalam sejarah Agama Buddha, lebih tepat dipahami sebagai cara tradisional untuk menggambarkan keragaman Buddhadharma awal. Daripada sebuah hitungan historis yang disepakati semua pihak.

Berdasarkan rekonstruksi para sarjana seperti A.K. Warder, kemunculan berbagai mazhab berlangsung secara bertahap antara sekitar 300 SM hingga 50 SM. Karena itu, “18 aliran” bukanlah kelompok yang muncul sekaligus, melainkan hasil perkembangan selama kurang lebih tiga setengah abad setelah Parinirvana Buddha. Sebagian mazhab muncul lebih awal dan melahirkan cabang-cabang baru, sementara sebagian lainnya berkembang di wilayah-wilayah tertentu di India seiring meluasnya penyebaran Buddhadharma.

Aliran-aliran ini bukan organisasi seperti lembaga keagamaan modern. Mereka lebih merupakan komunitas intelektual dan spiritual yang memiliki cara berbeda dalam memahami ajaran Buddha. Sebagian menekankan aspek disiplin, sebagian mengembangkan sistem filsafat yang rumit, sementara yang lain memberi perhatian besar pada sifat Buddha dan jalan menuju Kebuddhaan.

Ashoka dan Penyebaran Buddhadharma

Pada abad ke-3 SM, pemerintahan Kaisar Ashoka menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Agama Buddha awal. Setelah memeluk Buddhadharma, Ashoka memberikan dukungan besar kepada Sangha dan mendorong penyebaran ajaran Buddha ke berbagai wilayah.

Tradisi Buddhis mengaitkan masa pemerintahannya dengan Mahasamaya Ketiga di Pataliputra. Pada periode inilah berbagai misi dikirim ke Sri Lanka, Kashmir, Gandhara, Asia Tengah, dan wilayah-wilayah lain. Penyebaran tersebut mempercepat perkembangan Buddhadharma sebagai tradisi lintas wilayah sekaligus memperkuat keberagaman aliran yang telah mulai terbentuk sebelumnya.

Salah satu misi yang paling berpengaruh adalah pengiriman Mahinda ke Sri Lanka. Dari sinilah berkembang tradisi yang kemudian dikenal sebagai Theravada. Dukungan Ashoka tidak hanya membantu memperluas jangkauan Buddhadharma, tetapi juga memastikan bahwa berbagai tradisi yang sedang berkembang dapat bertahan dan berakar di wilayah yang berbeda-beda.

Sarvastivada dan Upaya Memahami Waktu

Salah satu aliran yang paling berpengaruh adalah Sarvastivada. Nama ini secara harfiah berarti “ajaran bahwa semuanya ada”. Para pemikir Sarvastivada berpendapat bahwa unsur-unsur dasar pengalaman atau dharma memiliki keberadaan dalam masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Pandangan ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana karma dapat bekerja dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya tanpa memerlukan konsep jiwa yang kekal. Sarvastivada kemudian menjadi kekuatan intelektual besar di wilayah Kashmir dan Gandhara, serta menghasilkan tradisi Abhidharma yang sangat sistematis.

Pudgalavada dan Persoalan Diri

Aliran lain yang terkenal karena kontroversinya adalah Pudgalavada. Para pengikutnya berusaha menjawab pertanyaan yang terus muncul dalam Buddhadharma: jika tidak ada diri yang permanen, bagaimana menjelaskan kesinambungan pengalaman seseorang?

Untuk menjawab persoalan tersebut, mereka mengembangkan konsep pudgala atau pribadi. Konsep ini bukan jiwa yang kekal sebagaimana diajarkan dalam beberapa tradisi India kuno, tetapi juga bukan sekadar kumpulan unsur fisik dan mental yang terpisah. Upaya ini memicu perdebatan panjang dengan aliran-aliran lain yang menilai konsep tersebut terlalu dekat dengan gagasan tentang diri.

Mahasanghika dan Benih Mahayana

Sementara itu, sejumlah aliran yang berasal dari Mahasanghika mengembangkan pandangan yang lebih luhur mengenai Buddha. Mereka menekankan bahwa Buddha tidak sekadar manusia biasa yang mencapai pencerahan, tetapi memiliki sifat yang melampaui batas-batas manusiawi.

Beberapa aliran Mahasanghika juga mulai memberikan perhatian lebih besar pada jalan Bodhisatwa dan mempertanyakan apakah pencapaian seorang arahat benar-benar merupakan tujuan tertinggi. Banyak sarjana modern melihat bahwa gagasan-gagasan ini kemudian menjadi salah satu fondasi bagi berkembangnya Mahayana.

Karena itu, Mahayana tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Banyak ide yang kemudian dikenal sebagai ciri khas Mahayana dalam sejarah Agama Buddha. Sesungguhnya telah berkembang dalam lingkungan Buddhadharma awal selama beberapa abad.

Perdebatan tentang Kesempurnaan Arahat

Salah satu perdebatan doktrinal yang paling terkenal dalam sejarah Agama Buddha awal berkaitan dengan sosok Mahadeva dan apa yang kemudian dikenal sebagai Lima Tesis Mahadeva.

Menurut sejumlah sumber kuno, Mahadeva berpendapat bahwa seorang arahat masih dapat memiliki keterbatasan tertentu. Seorang arahat, misalnya, masih mungkin memiliki ketidaktahuan dalam beberapa hal, masih dapat mengalami keraguan, masih memerlukan bimbingan dari orang lain, serta dapat mencapai pemahaman melalui dorongan atau penjelasan eksternal.

Terlepas dari perdebatan mengenai keakuratan historis kisah Mahadeva, isu yang diangkatnya menjadi sangat penting. Jika arahat belum sepenuhnya sempurna, maka pencapaian Buddha dianggap berada pada tingkat yang lebih tinggi. Pandangan semacam ini memberi ruang bagi berkembangnya ideal Bodhisatwa yang kelak menjadi salah satu ciri utama Mahayana.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai tujuan tertinggi jalan Buddhis sudah menjadi bahan diskusi jauh sebelum Mahayana muncul sebagai gerakan yang teridentifikasi secara jelas.

Theravada dalam Konteks Sejarah

Saat ini Theravada merupakan tradisi Buddhis yang dominan di Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos, dan Kamboja. Secara historis, Theravada berasal dari garis Sthavira melalui cabang Vibhajjavada yang berkembang di Sri Lanka sejak masa Ashoka.

Namun sejarah Agama Buddha awal menunjukkan bahwa Theravada juga merupakan hasil proses perkembangan yang panjang. Sama seperti tradisi Buddhadharma lainnya, Theravada mengalami penyusunan ulang teks, perkembangan institusi monastik, dan pembaruan praktik keagamaan sepanjang sejarahnya.

Dengan demikian, tidak ada satu tradisi pun yang dapat mengklaim sebagai satu-satunya representasi sempurna dari Buddhadharma awal. Semua tradisi yang masih hidup saat ini merupakan hasil perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks dalam sejarah Agama Buddha.

Keragaman Sebagai Kekayaan Sejarah Agama Buddha

Ketika mempelajari sejarah Agama Buddha awal, kita menemukan bahwa perbedaan pandangan bukanlah tanda kemunduran. Sebaliknya, keberagaman menunjukkan bahwa para praktisi dan pemikir Buddhis secara serius berusaha memahami ajaran Buddha dari berbagai sudut pandang.

Mereka tidak sekadar menghafal ajaran yang diwariskan, tetapi juga menguji, mendiskusikan, dan mengembangkannya untuk menjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam kehidupan nyata. Dari proses intelektual yang panjang itulah lahir berbagai aliran yang kemudian menyebarkan Buddhadharma ke seluruh Asia.

Pada akhirnya, sejarah Agama Buddha awal memperlihatkan bahwa tradisi ini tidak berkembang melalui keseragaman, melainkan melalui dialog yang terus berlangsung. Delapan belas aliran yang muncul dalam beberapa abad pertama bukanlah bukti kegagalan menjaga warisan Buddha, melainkan bukti bahwa ajaran tersebut cukup kaya untuk dipahami dari berbagai perspektif. Seperti sebuah pohon besar yang tumbuh dari satu akar, berbagai aliran Buddhadharma berkembang dari sumber yang sama: ajaran Buddha tentang penderitaan, kebijaksanaan, dan pembebasan.

Referensi

Hirakawa, A 1990, A History of Indian Buddhism: From Sakyamuni to Early Mahayana, University of Hawai’i Press, Honolulu.

Nakamura, Hajime. 1987. Indian Buddhism: A Survey with Bibliographical Notes, Motilal Banarsidass, Delhi.

Nattier, J & Prebish, CS 1977, ‘Mahasanghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism,’ History of Religions, Vol. 16, No. 3, pp. 237–272.

Skilling, P 2012, How the Theravāda Came to Be, Fragile Palm Leaves Foundation, Bangkok.

Warder, AK 2000, Indian Buddhism, Revised Third Edition, Motilal Banarsidass, Delhi.

Williams, P 2009, Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations, Second Edition, Routledge, London.

LEAVE A REPLY