Blog

Lanskap Keagamaan Beijing 1400–1900 dan Praktik di Perantauan

0
Kajian Susan Nauqin sebagai sejarawan mencatat lanskap keagamaan Beijing yang dulu bernama Peking dalam rentang 500 tahun dari 1400-1900.
Lanskap keagamaan Beijing 1400-1900 didominasi tempat ibadah dan rohaniwan Buddha menurut Susan Nauqin.

Bagaimana sebenarnya lanskap keagamaan di Tiongkok pada masa lampau? Apakah sejak dahulu Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme berdiri sejajar sebagai agama dengan bentuk kelembagaan yang sama? atau biasa disebut Sanjiao (Tridharma)? Kajian mendalam atas kehidupan kuil di Beijing selama lima abad memberi gambaran yang lebih konkret. Melalui Peking: Temples and City Life, 1400–1900, sejarawan Susan Naquin mengungkap hasil penelitiannya terhadap ribuan kuil di ibu kota Tiongkok dari masa Dinasti Ming hingga akhir Dinasti Qing.

Temuan dalam buku ini membantu kita melihat bagaimana agama benar-benar berfungsi dalam kehidupan kota.

Rohaniwan dalam Lanskap Keagamaan Beijing Kuno

Dalam pembahasan tentang “Gods and Clerics”, Naquin secara eksplisit mencatat keberadaan: bhiksu dan bhiksuni Buddha, pendeta Taois, dan Mullah (pemimpin religius Muslim). Ketiganya tampil sebagai kelompok sosial-keagamaan yang nyata: memiliki tempat ibadah, menjalankan ritual, dan melayani umatnya masing-masing. Jumlah tempat ibadah dan rohaniwan Agama Buddha paling dominan, diikuti Taois, dan dalam porsi paling kecil adalah muslim.

Uniknya, hingga 1908 tidak muncul kategori “rohaniwan Konghucu”. Tidak ditemukan istilah seperti Confucian priest atau Confucian cleric sebagai kelas klerikal yang hidup dari pelayanan ritual kepada umatnya. Karena memang gagasan untuk menjadikan Konghucu sebagai agama baru lahir jelang keruntuhan Dinasti Qing dan berdirinya Republik Tiongkok.

Memang terdapat Wenmiao (Kuil Konfusius), tetapi posisinya berada dalam kategori ritual negara (state cult). Bukan jaringan kuil dengan umat yang hidup dalam dinamika sosial kota. Hanya digunakan oleh kaisar dan kaum cendekia yang mempelajari ajaran Konghucu, apapun agamanya.

Dengan kata lain, dalam lanskap keagamaan nyata Beijing 1400–1900: Agama Buddha hadir dengan vihara dan bhiksu. Agama Tao hadir dengan kuil Taois dan pendeta Taois. Sementara Agama Islam hadir dengan masjid dan Mullah. Sedangkan Konfusianisme hadir sebagai etika dan ritual negara. Struktur ini tercermin konsisten dalam data yang dihimpun Naquin.

Memahami Kelenteng di Indonesia melalui Pola Ini

Temuan tersebut menjadi relevan ketika kita melihat sejarah kelenteng di Indonesia. Istilah “kelenteng” sendiri berkembang di Jawa dan berasal dari istilah Kwan Im Teng (觀音亭), yang berarti balai atau paviliun untuk pemujaan Guanyin (Kwan Im Pu Sa). “Pu Sa” (菩薩) merupakan transliterasi dari kata Sanskerta Bodhisattva.

Secara etimologis dan ikonografis, akar Buddhis dalam kelenteng sangat jelas. Figur Guanyin adalah bentuk sinifikasi dari Bodhisattva Avalokitesvara dalam tradisi Buddhadharma Mahayana.

Di Beijing sebagaimana dipetakan Naquin, kuil-kuil publik yang hidup dalam masyarakat kota berafiliasi dengan Agama Buddha dan Agama Tao. Tidak ditemukan jaringan kuil Konghucu sebagai agama publik dengan rohaniwannya. Pola ini memberi konteks historis ketika kita melihat kelenteng di Indonesia. Wilayah dimana leluhur Tionghoa sejak abad ke-5 merantau dan membawa serta praktik keagamaannya.

Kelenteng Buddha: Ruang yang Terbuka

Penelitian Claudine Salmon dan Denys Lombard dalam Klenteng-Klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta (2003) menunjukkan bahwa kelenteng Buddhis bersifat inklusif dan terbuka.

Kelenteng awal di Nusantara kuat berakar pada tradisi Buddhis Mahayana. Namun sifat inklusif vihara atau kelenteng membuatnya tidak eksklusif secara sektarian. Tradisi Taois yang berkembang dalam komunitas Tionghoa perantauan diberi ruang dalam kompleks yang sama. Oleh karena itu, pengaruh Taois yang masuk belakangan menurut Salmon dan Lombard (2003), diberi ruang di kelenteng Buddhis.

Sehingga kita saat ini dapat menyaksikan dewata dari kosmologi Taois berdampingan dengan figur-figur dewata maupun Bodhisatva Buddhis di dalam satu kelenteng. Ini bukan anomali, melainkan cerminan praktik religius Buddhadharma Tionghoa yang lentur dan akomodatif. Terutama melalui konsep upaya kausalya.

Jika di Beijing 1400–1900 Buddha dan Tao sama-sama hadir dalam jaringan kuil publik. Maka dalam konteks di tanah perantauan, keduanya dapat berbagi ruang dalam satu kompleks tempat ibadah. Yakni di tempat ibadah berarsitektur Tiongkok yang secara umum (generik) disebut kelenteng. Bahkan di Bali, vihara bergaya Tiongkok ini juga hadir di tengah-tengah pura. Seperti di Pura Batur, Balingkang dan sebagainya.

Tiao Kak Sie Cirebon: Dinamika Ruang dan Fungsi

Contoh menarik dapat dilihat di Cirebon, khususnya pada kompleks Tiao Kak Sie, yang sejak masa orde baru diubah namanya menjadi Vihara Dewi Welas Asih. Penamaan pada masa orba ini bukan bebas nilai. Memang akar Buddhisnya jelas, dari akhiran Sie pada nama tempat ibadah tersebut. Sebagaimana Sie pada kata Shaolin Si (Mandarin) atau Siauw Lim Sie (Hokkien). Memang sejak awal bangunan ini adalah sebuah vihara. Temuan Franke, Salmon & Xiao (2003) bahkan mencatat keberadaan plakat yang mencatat Tiao Kak Sie sebagai pusat penyebaran agama Buddha di Jawa Barat.

Dewata utama di Tiao Kak Sie Cirebon maupun Tay Kak Sie Semarang adalah Kwan Im. Avalokitesvara dalam bahasa asalnya, dan diterjemahkan Dewi Welas Asih dalam bahasa Indonesia. Inilah vihara tertua di Jawa Barat, yang menurut manuskrip Keraton Kasepuhan dibangun pada 1559. Namun kalau berdasarkan Dui Lian atau Pai, yakni syair berpasangan yang biasa diukir pada papan kayu dan diletakkan di kanan kiri altar, tercatat tahun 1658. Umumnya inilah tahun pendirian sebuah tempat ibadah.

Beberapa artikel populer di berbagai media online yang biasanya hadir jelang imlek, kerap mengutip keterangan dari sumber yang kurang valid. Biasanya bersumber dari Kronik Tionghoa Cirebon. Padahal kronik ini menurut kajian Wain (2025: 1-27) merupakan sumber yang keabsahannya diragukan, kisah penemuannya tidak dapat dipercaya. Bahkan Residen Poortman yang diklaim Parlindungan sebagai penemu kedua kronik, datanya tidak sesuai dengan Poortman historis dalam catatan pegawai Belanda yang bernama Poortman.

Wain menemukan bahwa pegawai Belanda yang bernama Poortman sudah pensiun dan tinggal di Belanda pada tahun penemuan kedua kronik sebagaimana diklaim Parlindungan. Naskah asli kedua kronik juga tidak pernah dilihat dan ditemukan siapapun hingga saat ini. Menurut pengakuan Parlindungan, naskah asli sudah diserahkan ke perpustakaan di Leiden. Namun, dari penelusuran Wain, tidak ada tanda terima naskah tercatat dan pihak Leiden menyatakan tidak ada kedua kronik dalam koleksinya.

Temuan Ephigrafi Tionghoa di Jawa

Dari materi-materi ephigrafi Tionghoa yang telah ditemukan, sebuah rumah abu ini didirikan pada 1790 oleh Kapiten Tan Oat Ing di kompleks vihara. Tujuannya adalah untuk menyimpan abu dan papan nama peringatan para bhiksu yang pernah bertugas di Tiao Kak Sie dan juga untuk tokoh-tokoh Tionghoa setempat. Perkembangan selanjutnya, karena kebutuhan ruang yang semakin besar maka pada 1848 rumah abu ini dipindah ke jalan Talang oleh Kapiten Tan Phan Long. Pemindahan dan pembangunan baru tuntas pada masa Kapiten Khoe Tiauw Jang (Franke, W, Salmon, C & Xiao, G 1997). 

Pada awal abad ke-20, lahirnya gagasan dari Kang Youwei untuk membentuk Agama Konghucu di Tiongkok. Ide ini kemudian berkembang, termasuk di Cirebon sehingga akhirnya rumah abu di jalan Talang tersebut juga digunakan untuk kegiatan kebaktian umat Konghucu. Menurut Teddy Setiawan Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN), penggunaan oleh umat Konghucu dimulai pada tahun 1950-an (Dejabar.id). Istilah “Kelenteng Talang”, merujuk pada bangunan rumah abu yang kemudian berdiri terpisah di Jalan Talang. Jadi judul pada tulisan di artikel tersebut tidak tepat, karena apa yang kini disebut Kelenteng Talang bukan kelenteng tertua kedua. Pada 1858 bangunan ini masih berfungsi sebagai rumah abu dari Vihara Dewi Welas Asih. Bukan tempat ibadah.

Kasus ini memperlihatkan sesuatu yang penting: kelenteng sebagai ruang ibadah Buddhis memiliki kapasitas akomodasi yang luas. Ia tidak dibangun sebagai institusi eksklusif untuk satu denominasi modern tertentu, melainkan sebagai ruang religius komunitas Tionghoa yang lentur. Menerima pengaruh Taois, kemudian memberi ruang bagi penganut Konghucu. Bahkan di beberapa tempat mengakomodasi praktik agama lokal dengan pemujaan terhadap orang suci atau dewata lokal.

Inklusivitas & Kelenturan Tempat Ibadah Chinese Buddhism (Buddhadharma Tionghoa)

Jika dilihat dari akar historisnya—baik melalui istilah Kwan Im Teng, dominasi ikonografi Buddhis, maupun pola lanskap kuil sebagaimana tergambar dalam studi Beijing 1400–1900—dominasi unsur Buddhis dalam kelenteng bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Ia memiliki landasan sejarah panjang.

Kajian atas lanskap keagamaan Beijing selama lima abad menunjukkan bahwa: Buddha dan Tao hadir sebagai agama dengan kuil dan rohaniwan. Islam hadir dengan struktur komunitas dan klerikal yang jelas. Konfusianisme berfungsi terutama sebagai sistem etika dan ritual negara.

Ketika pola ini dibawa ke konteks Nusantara, kita melihat bahwa kelenteng berkembang sebagai ruang ibadah Buddhis yang inklusif, yang kemudian memberi ruang bagi unsur Daois dan bahkan kegiatan kebaktian Konghucu.

Sejarah sosial menunjukkan dinamika yang cair dan terbuka. Dan dari sanalah kita dapat memahami identitas kelenteng dengan lebih jernih—bukan sekadar berdasarkan kategori administratif modern, melainkan berdasarkan jejak historisnya yang panjang.

Eddy Setiawan, Peneliti Institut Nagarjuna

Bacaan Lanjutan:

Dejabar.id 2019, ‘Melihat Sejarah Klenteng Talang Cirebon, Klenteng Tertua Kedua di Indonesia’, 6 Februari, dilihat 24 Februari 2026 (https://dejabar.id/melihat-sejarah-klenteng-talang-cirebon-klenteng-tertua-kedua-di-indonesia/).

Franke, W, Salmon, W & Xiao, G 1997, Chinese Ephigrapic Materials in Indonesia Vol. II (2 Volumes), South Seas, Singapore.

Naquin, S 2000, Peking: Temples and City Life, 1400–1900, University of California Press, Berkeley and Los Angeles, California.

Salmon, C & Lombard, D 2003, Klenteng-Klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Yayasan Pustaka Loka, Jakarta.

Wain, A 2025, ‘Dua Kronik Tionghoa Semarang dan Cirebon: Suatu Catatan tentang Asal Usul dan Kehandalan’, (terj.), Jurnal Identitas, Vol. 5, No. 1, pp. 1-27 (https://jurnalidentitas.id/index.php/jid/en/article/view/43).

Diterjemahkan dari Wain, A 2017, ‘The two Kronik Tionghua of Semarang and Cirebon: A note on provenance and reliability’, Journal of Southeast Asia Studies, Vol. 48, Issue 2, pp. 179-195. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000030.

Dona dan Bahiya: Menyusuri Arus Batin Menuju Nihsaraṇa

0
Dona dan Bahiya Sutta Arus Batin
Dona dan Bahiya Sutta

Dona dan Bahiya: Menyusuri Arus Batin Menuju Nihsaraṇa
Oleh Eko N.R.

Ada saat-saat dalam hidup ketika batin terasa seperti air yang keruh. Berputar tanpa
henti, terseret oleh rasa tidak berkecukupan, penolakan, dan kebingungan. Pada
titik itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “Siapa aku?”. Atau “Mengapa ini
terjadi?” tetapi lebih mendalam: “Bagaimana aku bisa keluar dari pusaran ini?”. Dona
dan Bahiya muncul dalam Sutta sebagai dua tokoh yang berbeda. Pada waktu dan situasi
yang juga sama sekali berbeda. Namun pengalaman batin mereka saling terkait. Yang
satu berhadapan dengan hasil batin yang telah bebas dari kelesah. Sedangkan yang lain mengajak kita menggugah kesadaran agar bisa melihat fenomena secara jelas. Tanpa keruh batin, dan keduanya menuntun ke arah Nihsaraṇa, ‘arus keluar dari pusaran samsara.’

Dona Pertanyaan yang Tak Pernah Usai: “Siapakah Engkau?”

Kisah Dona Sutta diawali dengan sebuah misteri yang membuat sang brahmana, Doṇa,
terhenti di tengah hutan. Ia melihat jejak kaki yang ganjil – Jejak kaki mahapurisa. Keunikan jejak kaki ini adalah petunjuk pertama: seorang mahapurisa (manusia agung)
adalah ia yang berjalan di dunia tanpa terikat, tanpa meninggalkan jejak identitas diri,
sehingga jejak kakinya tidak dapat diklasifikasikan layaknya makhluk pada umumnya.
Jejak itu adalah tanda kebebasan.

Layaknya seseorang yang hatinya penuh tanda tanya, ia langsung bertanya sesuatu
yang mungkin juga kita tanyakan ketika menghadapi ‘Ia yang berpengetahuan
sempurna’:

“Devosi bhavaṃ?”
“Apakah Engkau seorang dewa?”

Buddha menjawab lembut:
“No hidaṃ, brāhmaṇa, devo homi.”
“Tidak, Brahmana, Aku bukan dewa.”

Dona tidak berhenti. Ia mencoba menempelkan label lain: manusia, gandhabba, yakṣa.
Setiap label muncul dari kebutuhan batin untuk menamai dan memahami sesuatu yang
mengagumkan sekaligus menimbulkan kegelisahan. Kebutuhan ini adalah manifestasi
alami batin yang masih terperangkap dalam kelesah—selalu ingin mengidentifikasi,
mengkategorikan, dan memegang teguh sesuatu.

Buddha menanggapi dengan terang, tidak menolak atau menerima label-label tersebut,
melainkan menjelaskan hasil dari latihan batinnya:

“Sakkāyadiṭṭhā me pahīnā.”
“Aku telah meninggalkan pandangan tentang identitas diri.”

Sakkaya-dithi: Pandangan Keliru tentang “Aku”

Di sini terlihat jelas: batin yang masih dipenuhi kelesah—rasa tidak berkecukupan,
penolakan, kebingungan—akan selalu membawa kecenderungan untuk mencari dan
menyematkan label, selalu ingin menggenggam. Namun, Dona berhadapan dengan ‘Ia
yang telah selesai dengan dirinya dan terbebas dari semua pelabelan’.

Sakkāya-diṭṭhi adalah pandangan keliru yang menganggap lima agregat kehidupan
(khandha): wujud, perasaan, persepsi, bentukan mental, dan kesadaran, sebagai ‘Aku’
atau ‘milikku’. Dengan menghilangkan pandangan ini, batin Buddha melihat kelima
agregat hanya sebagai proses yang muncul dan lenyap tanpa pemilik abadi. Akibatnya,
tidak ada lagi subjek yang merasa tidak berkecukupan yang menjadi akar dari kilesa.
Batin yang padam dari kelesah kini mampu melihat tanpa terganggu oleh identitas dan
kategori. Inilah bentuk awal dari apa yang Mahāyāna sebut Ādarśa-jñāna, kewaskitaan
yang memantulkan realitas tanpa menilai, tanpa menambah-nambahi, tanpa
prapañca. Kewaskitaan ‘bagaikan cermin’ ini ‘tidak terdistorsi’ oleh apa yang
dipantulkannya (tidak marah pada pantulan kemarahan) dan ‘tidak menyimpan’ jejak
pantulan (tidak ada memori identitas yang tersisa setelah objek pergi). Sementara itu pada kesempatan lain, ada Bahiya;

Bahiya: Mengamati Apa Adanya (yathā bhūta-darśana)

Bahiya seorang siswa, datang dengan batin yang terguncang dan terburu-buru,
mendesak Sang Buddha untuk mengajarkan Dharma segera karena khawatir kematian
akan menjemputnya lebih dahulu:

“Bhante, ajari aku Dharma.”

Buddha memberinya ajaran yang singkat namun tajam, yang langsung memutus rantai
reaksi batin:

“Di dalam yang dilihat, hanya yang dilihat.
di dalam yang terdengar, hanya yang terdengar.
di dalam yang dirasakan, hanya yang dirasakan.
di dalam yang dikenali, hanya yang dikenali.”
(Bāhiya Sutta, Udāna 1.10)

Bahiya diajak melihat fenomena apa adanya (yathā bhūta-darśana), tanpa komentar
batin, tanpa menilai, tanpa mengaitkan dengan narasi diri. Ajaran ini adalah praktik
radikal untuk memutuskan rantai reaksi antara indera dan Kilesa. Ketika mendengar
suara keras, alih-alih merespon dengan ‘Suara ini mengganggu’ (yang sudah melibatkan
Dosa atau penolakan), batin hanya mencatat ‘Hanya yang terdengar’ (hanya getaran
udara).

Batin yang keruh oleh kelesah mulai mereda. Dalam keheningan ini, kesadaran
tergugah: bahwa penderitaan muncul dari kegelisahan, kelesah yang mengaduk-aduk
batin sehingga keruh. Dari titik ini, arah menuju Nihsaraṇa menjadi terlihat.

Buddha menegaskan lagi, menjelaskan konsekuensi dari praktik yathā bhūta-darśana:
“Ketika engkau melihat yang terlihat hanya sebagai yang terlihat, maka engkau tidak
‘menjadi oleh itu’ (na tena); ketika engkau tidak ‘menjadi oleh itu’, engkau tidak ‘di
dalamnya’; ketika engkau tidak ‘di dalamnya’, engkau tidak di sini, tidak di sana, tidak di
antara keduanya.”

Kata-kata ini menekankan kekuatan Ādarśa-jñāna dalam praktik: batin yang
memantulkan pengalaman tanpa distorsi, tanpa menambah cerita (prapanca), dan
tanpa menempel pada identitas. “Tidak menjadi oleh itu” berarti Anda tidak
menjadikan pengalaman (dilihat, dirasakan, dikenali) sebagai basis untuk
mengukuhkan ‘siapa aku’. Jika saya melihat keindahan, saya tidak menjadi ‘orang yang
melihat keindahan’. Jika saya merasakan sakit, saya tidak menjadi ‘orang yang
menderita’. Inilah kunci untuk membongkar Sakkāya-diṭṭhi melalui praktik senantiasa
‘hadir’ saat ini.

Menyadari Kelesah dan Keruh Batin

Kelesah (Kilesa) yang berwujud rasa tidak berkecukupan (lobha/raga), penolakan
(Dosa/Dvesa), kebingungan (Moha)—ini mengaduk-mengaduk batin sehingga menjadi
tidak lagi tampak jernih, kekeruhan berupa kegelisahan (kelesah) batin ini menutupi
penglihatan kita terhadap hakikat kenyataan.

Ketiga Kilesa (kelesah) ini bekerja secara simultan atau bergantian. Moha (kebingungan
atau delusi) adalah akar yang membuat kita gagal melihat sifat sejati fenomena
(anicca, dukkha, anatta), sehingga memicu Lobha (keinginan kuat untuk memiliki atau
mempertahankan sesuatu yang kita kira bisa diandallkan dan memuaskan) dan Dosa
(penolakan terhadap sesuatu yang kita anggap tidak menyenangkan, tidak mendukung
atau mengancam).

Seperti Dona yang melihat hasil akhir batin yang ‘bebas dari kelesah’ pada kehadiran
Buddha, kita pun sering hanya menggagas dan berharap bisa mengalami kondisi
‘terbebas’ itu, hanya sayangnya kita tak pernah sungguh-sungguh berupaya melihat
secara jernih apa yang sedang terjadi dalam batin kita. Setiap pengalaman, baik kelima
indra maupun pikiran, biasanya ditangkap melalui ‘lensa’ kelesah: kita menilai,
membandingkan, ingin memiliki, atau menolak. Inilah yang menghalangi kita melihat
fenomena apa adanya (yathā bhūta-darśana), seperti yang diajarkan kepada Bāhiya.
Misalnya, seseorang membaca komentar tajam di media sosial. Batin segera
terguncang—marah, tersinggung, ingin membalas. Moha membuat kita lupa bahwa

kata-kata itu hanyalah barisan huruf dan getaran temporer. Kita menganggapnya nyata
dan mengancam identitas diri (Sakkāya-diṭṭhi). Kemudian muncul Dosa (penolakan)
dan Lobha (keinginan untuk membalas atau memenangkan argumen). Bukan
komentarnya yang membuat batin keruh, tetapi kelesah yang mengaduk-aduk batin,
menutupi kemampuan untuk melihat kenyataan sederhana: kata-kata itu hanyalah
kata-kata, suara yang lewat, pengalaman indera yang muncul dan hilang.

Kesadaran yang Tergugah: Titik Balik Menuju Tindakan

Saat batin mulai diam, hanya mengamati pengalaman apa adanya, muncul momen
halus namun penting: kesadaran tergugah. Kesadaran tergugah ini adalah Sati
(Perhatian Penuh) yang berfungsi sebagai penjaga pintu indera. Ia melihat Vedanā
(perasaan/sensasi—suka, duka, netral) muncul sebelum Kilesa sempat bereaksi.

Kita mulai menyadari bahwa mencengkeram kelesah hanya menambah penderitaan.
Saat batin hanya hadir sebagai pengamat tanpa menginginkan, tanpa menolak, tanpa
menilai, ada rasa ringan, kelegaan, dan keheningan di tengah pengalaman yang
biasanya membuat keruh.

Kesadaran ini seperti cahaya yang menembus kabut—tidak instan, tapi cukup untuk
menunjukkan arah. Dalam praktik, ini berarti ketika rasa cemas muncul (sensasi fisik di
perut/dada), alih-alih bereaksi dengan narasi (‘mengapa aku cemas?’, ‘ini buruk’), kita
hanya mengamati sensasi itu sebagai energi fisik, tanpa memberi label ‘cemas’ atau
mengaitkannya dengan cerita ‘siapa’ yang cemas.

Dari kesadaran tergugah itu, muncul dorongan alami untuk mengambil tindakan yang
membawa batin keluar dari pusaran. Tindakan ini bukan lari atau menolak pengalaman,
melainkan membiarkan pengalaman ada tanpa pencengkeraman, hadir sepenuhnya,
dan melepaskan kelesah yang mengaduk-aduk batin, inilah pengalaman sadar penuh
(mindfulness).

Bayangkan seseorang terjebak dalam pusaran sungai. Awalnya, ia panik, menarik kayu
atau melawan arus, dan semakin hanyut. Tapi ketika ia menyadari arus, perlahan ia
belajar melepaskan kayu, mengikuti arus, dan menemukan arah keluar. Begitu juga
batin: ketika kesadaran tergugah, ia mulai melihat jalur alami menuju kebebasan,
menuju Nihsaraṇa.

Sintesis: Doṇa adalah Peta, Bāhiya adalah Kompas

Untuk mencapai pembebasan, kita membutuhkan dua komponen esensial dalam
perjalanan batin: sebuah tujuan yang jelas (Peta) dan alat navigasi (Kompas) yang
efektif. Dona menyajikan Peta bagi kita. Peta ini bukan sekadar deskripsi topografi,
melainkan gambaran nyata dari hasil akhir batin yang telah menanggalkan semua label
dan kekeruhan (Ādarśa-jñāna). Kisah Dona, di mana Buddha menolak setiap kategori
identitas, menegaskan bahwa Nihsaraṇa (arus keluar) adalah pelepasan total dari
beban diri—sebuah kondisi yang membuktikan bahwa pembebasan mutlak dari
Sakkāya-diṭṭhi itu mungkin.

Tanpa peta ini, upaya praktik kita mungkin tersesat, hanya berputar pada perbaikan diri sementara, bukan pembebasan fundamental. Sementara Peta (Dona) menunjukkan ke mana kita harus pergi, Bahiya menawarkan Kompas yang sangat presisi. Ajaran “di dalam yang dilihat, hanya yang dilihat” adalah alat navigasi instan yang dapat digunakan di setiap momen dan situasi.

Kompas Pemutus Kilesa

Kompas ini tidak peduli dengan identitas masa lalu atau tujuan masa depan. Ia hanya memberikan instruksi radikal tentang cara memutuskan rantai Kilesa dalam momen saat ini (yathā bhūta-darśana). Misalnya, ketika kita merasa gelisah di tempat kerja. Peta
mengingatkan kita bahwa ada kondisi batin yang bebas dari cengkeraman kegelisahan
(seperti yang dicapai Buddha). Kompas (Bahiya) segera mengarahkan perhatian kita. Amati gelisah tersebut ‘hanya sebagai yang dirasakan’—sensasi panas, denyutan.
Tanpa menempelkan narasi “Aku gelisah karena bosku…”. Ini adalah praktik langsung
memotong prapañca.

Sintesis kedua ajaran ini terletak pada kesadaran yang konsisten. Nihsaraṇa tidak
tercapai dalam satu lompatan, melainkan ketika batin secara disiplin dan terus￾menerus menerapkan metode Bāhiya (Kompas). Setiap kali kita berhasil mengamati
sesuatu “hanya sebagai yang terlihat” tanpa menjadikannya basis identitas, kita sedang
melatih batin kita untuk berfungsi sebagaimana batin seorang mahapurisa—batin yang
terbebas dari Sakkāya-diṭṭhi yang disaksikan oleh Doṇa (Peta yang dicapai). Dengan
demikian, Kompas dan Peta saling memvalidasi: praktik observasi murni memurnikan
batin, dan kemurnian batin adalah tujuan akhir yang telah diwujudkan oleh Buddha.
Inilah proses transformatif yang memandu kita keluar dari pusaran samsara.

Mengambil Arah Nihsaraṇa: Membiarkan Arus Membimbing

Nihsaraṇa bukan pelarian dari dunia, tetapi ‘arus keluar dari pusaran’ yang diciptakan
oleh kelesah sendiri. Dengan kesadaran tergugah, batin memahami bahwa penderitaan
muncul dari pencengkeraman, bukan dari fenomena itu sendiri. Seperti yang
dinyatakan dalam Majjhima Nikāya (MN 29):

“Dhamma ini, para bhikkhu, diajarkan untuk pembebasan (nissaraṇa/nihsarana), bukan
untuk menggenggam atau menginginkan.”

Tindakan menuju Nihsaraṇa adalah keputusan batin: tidak menambah cerita, tidak
menilai, tidak mencengkeram, hanya hadir dengan jernih. Dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti: Melihat komentar yang menyakitkan tanpa ikut terbakar. Merasakan
cemas tanpa menambahkan narasi tentang siapa yang salah. Mengamati kemarahan
muncul dan hilang tanpa ikut terseret. Setiap momen hadir dengan kesadaran seperti
ini adalah langkah kecil menuju arus bebas dari pusaran samsara.

Nihsaraṇa bukanlah berenang ke tepi sungai, melainkan ‘berhenti melawan arus yang
kita ciptakan sendiri’ (arus Kilesa). Ketika kita melihat arus tanpa melawan
(menerapkan ajaran Bāhiya), kita secara alami menemukan jalur keluar, inilah tindakan “membiarkan arus membimbing” yang didorong oleh kesadaran yang tergugah, melek,
awas dan jernih.

Akhirnya, batin menjadi seperti cermin yang memantulkan segala sesuatu tanpa distorsi, tanpa keruh, dan dari cermin itu. Nihsaraṇa mengalir alami bebas, tenang, dan penuh kesadaran. Inilah penghubung reflektif dari Doṇa yang menunjukkan hasil batin jernih, dan Bāhiya yang menuntun kesadaran melihat apa adanya. Kesadaran tergugah yang menuntun kita secara alami ke arah Nihsaraṇa.

Daftar Pustaka

Lembaga Dharmaduta Indonesia. (1990). Majjhima Nikāya 29: Alagaddūpama Sutta. Jakarta: Lembaga Dharmaduta Indonesia.

Lembaga Dharmaduta Indonesia. (1990). Angutara Nikāya 4.36: Doṇa Sutta. Jakarta: Lembaga Dharmaduta Indonesia.

Yayasan Buddhis Indonesia. (2001). Udāna 1.10: Bāhiya Sutta. Jakarta: Yayasan Buddhis
Indonesia.

Dalai Lama Raih Grammy Award Berkat Audiobook “Meditasi”

0
Dalai Lama raih Grammy Award melalui Audiobook Meditations: The Reflections of The His Holiness The Dalai Lama.
Dalai Lama raih Grammy Award untuk kategori Audiobook, Naration, and Storytelling Recording.

Pemimpin spiritual Tibet, Yang Mulia Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso. Meraih penghargaan Grammy Award melalui karya audio berjudul Meditations: The Reflections of His Holiness the Dalai Lama. Penghargaan ini diberikan dalam ajang 68th Annual Grammy Awards, yang digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 1–2 Februari 2026.

Dalai Lama memenangkan kategori Best Audio Book, Narration, and Storytelling Recording. Sebuah kategori yang menilai kualitas narasi, pesan, serta kekuatan penyampaian karya audio berbasis suara. Kemenangan ini menandai Grammy pertama, yang diraih pada usia 90 tahun.

Audiobook Meditasi dan Pesan Universal

Audiobook Meditations berisi rangkaian refleksi dan ajaran Dalai Lama mengenai kedamaian batin, kasih sayang, tanggung jawab universal, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Narasi suara pemimpin spiritual Tibet tersebut, dipadukan dengan musik latar yang digarap oleh maestro sarod India. Yakni Amjad Ali Khan bersama putra-putranya, serta kolaborasi sejumlah musisi internasional.

Karya ini dirilis pada Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-90 Dalai Lama. Sejak awal, proyek ini dirancang bukan sebagai produk hiburan semata, melainkan sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan lintas agama dan budaya kepada audiens global.

Dalam kompetisi Grammy tahun ini, Meditations bersaing dengan karya audio dari tokoh publik dan figur budaya terkemuka, sebelum akhirnya dipilih oleh Recording Academy sebagai pemenang.

Pernyataan Resmi

Melalui pernyataan di situs resminya, Dalai Lama menyampaikan menerima penghargaan tersebut dengan rasa syukur dan kerendahan hati. Sekaligus menegaskan bahwa Grammy ini tidak ia pandang sebagai pencapaian pribadi. Melainkan sebagai pengakuan terhadap pentingnya pesan tanggung jawab universal dan kasih sayang. Di tengah dunia yang dihadapkan pada berbagai krisis kemanusiaan dan lingkungan.

Ia juga berharap bahwa penghargaan ini dapat membantu menjangkau lebih banyak orang. Serta mendorong kesadaran bahwa seluruh umat manusia saling terhubung dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan dunia yang lebih damai.

Meski tidak hadir secara langsung dalam malam penganugerahan Grammy. Penghargaan tersebut diterima atas namanya oleh musisi Rufus Wainwright, salah satu kolaborator dalam proyek Meditations. Dalam sambutannya, Wainwright menyampaikan rasa hormat dan kehormatan dapat mewakili Dalai Lama dalam menerima penghargaan tersebut.

Makna Kemenangan Grammy Dalai Lama

Penghargaan Grammy ini menambah daftar panjang pengakuan internasional yang diterima Dalai Lama sepanjang hidupnya, termasuk Penghargaan Nobel Perdamaian. Namun, kemenangan melalui format audiobook memiliki makna tersendiri: ajaran spiritual yang selama ini disampaikan melalui ceramah, teks, dan dialog lintas agama kini menjangkau publik yang lebih luas melalui medium audio.

Dengan Meditations, pesan tentang kedamaian, welas asih, dan tanggung jawab bersama hadir di ruang budaya populer global, tanpa kehilangan kedalaman nilai spiritual yang menjadi ciri ajaran Buddha.

Sumber: Dalailama.Com, Grammy.Com, Kompas.Com

Berkenalan dengan Biksuni Kung Fu di Himalaya

0
Artikel Berkenalan dengan biksuni kung fu di Himalaya ini bersumber dari artikel karya Magdalena Rojo.
Berkenalan dengan biksuni kung fu di Himalaya ini bersumber dari hasil pembacaan atas karya Magdalena Rojo. Judul aslinya Meet Buddhism's Kung Fu Nuns in Himalaya

Sebuah artikel karya Magdalena Rojo menarik perhatian penulis hari ini. Judulnya adalah “Meet Buddhism’s Kung Fu Nuns Of The Himalaya,” yang tayang di religionunplugged.com. Rojo menulis praktik unik para biksuni Ordo Drukpa di Biara Druk Amitabha, Nepal. Mereka mengintegrasikan latihan kung fu ke dalam kehidupan monastik Agama Buddha di Himalaya. Sekitar 800 biksuni, dari berbagai rentang usia, menjalani latihan seni bela diri di vihara. Tujuannya adalah sebagai sarana peningkatan kesehatan fisik dan mental, perlindungan diri, serta strategi simbolik untuk menantang struktur ketimpangan gender. Sesuatu yang masih mengakar kuat di masyarakat Himalaya.

Melalui narasi pengalaman dua biksuni, Jigme Lhamo dan Jigme Yamgchen Ghamo. Rojo menyoroti konteks sosial yang melingkupi kehidupan perempuan di kawasan India dan Nepal. Termasuk ketimpangan akses pendidikan, praktik pernikahan anak, beban kerja domestik yang tidak seimbang. Selain itu juga keterbatasan kepemilikan sumber daya, serta tingginya kerentanan terhadap kekerasan berbasis gender dan perdagangan manusia. Dalam konteks tersebut, biara tidak hanya berfungsi sebagai ruang spiritual. Akan tetapi juga sebagai institusi alternatif yang menyediakan perlindungan, pendidikan, dan pembentukan agensi bagi perempuan.

Peran Penting Gyalwang Drukpa

Transformasi ini tidak terlepas dari peran Yang Mulia Gyalwang Drukpa, pemimpin spiritual Ordo Drukpa.  Sejak 2008 beliau secara sadar mendorong reinterpretasi praktik Buddhisme melalui pengenalan kung fu bagi para biksuni. Inisiatif ini menantang persepsi dominan yang memandang seni bela diri sebagai praktik yang identik dengan kekerasan dan maskulinitas. Sekaligus ini memperluas pemaknaan disiplin tubuh dalam kerangka etika Buddhis yang menekankan kesadaran, konsentrasi, dan pengendalian diri.

Latihan kung fu diposisikan sebagai praktik yang selaras dengan meditasi dan latihan pernapasan Buddhis. Karena keduanya sama-sama menuntut fokus mental, ketajaman kesadaran, serta disiplin tubuh. Dalam jangka panjang, praktik ini membentuk ketahanan psikologis, kepercayaan diri, dan kepemimpinan di kalangan biksuni. Hal yang kemudian mentransmisikan keterampilan tersebut kepada generasi yang lebih muda, dalam struktur pedagogis internal biara.

Di luar ruang monastik, para Biksuni Kung Fu Drukpa terlibat aktif dalam kegiatan advokasi sosial melalui kunjungan ke sekolah, ceramah publik, serta partisipasi dalam yatra sepeda lintas Nepal dan India yang diselenggarakan oleh organisasi Live to Love. Kegiatan ini menggabungkan agenda kesetaraan gender, pelestarian lingkungan, dan pelayanan sosial, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan bagi komunitas Himalaya. Dengan demikian, praktik keagamaan para biksuni tidak berhenti pada ranah spiritual semata. Akan tetapi meluas ke bentuk keterlibatan sosial yang konkret.

Secara keseluruhan, artikel Rojo menunjukkan bahwa praktik Biksuni Kung Fu Drukpa merepresentasikan bentuk Buddhisme kontemporer yang adaptif dan emansipatoris. Praktik di mana disiplin spiritual, pengelolaan tubuh, dan aktivisme sosial saling terjalin. Kasus ini memperlihatkan bagaimana institusi keagamaan dapat berfungsi sebagai agen transformasi sosial. Khususnya dalam konteks pemberdayaan perempuan dan penantangan norma patriarkal di masyarakat tradisional.

Gusdurian Tolak Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace

0
Gusdurian tolak keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace.
Lewat pernyataan sikap tanggal 2 Februari 2026. Gusdurian menyatakan penolakan terhadap keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace. Dan lebih mendorong mekanisme melalui PBB.
Jaringan Gusdurian Indonesia mengeluarkan pernyataan sikap menolak keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian). Sebuah inisiatif yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss. Tujuannya adalah menjadi upaya penyelesaian pendudukan Israel atas Palestina. Termasuk soal pembangunan kembali Gaza.
Dalam pernyataan yang dirilis pada 2 Februari 2026 di Yogyakarta tersebut. Jaringan Gusdurian menyatakan keberatan atas inisiatif tersebut. Alasannya karena tidak melibatkan perwakilan Palestina dalam struktur dewan. Selain itu, dewan ini dinilai tidak memiliki mandat hukum internasional yang jelas. Serta berpotensi melemahkan mekanisme multilateral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Rencana ini sama saja dengan melakukan pemulihan perdamaian semu. Tanpa kemerdekaan dan harga diri Palestina untuk menentukan nasib sendiri.” Demikian tertulis dalam pernyataan yang ditandatangani Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid.
Jaringan Gusdurian menilai keikutsertaan Indonesia dalam inisiatif sepihak tersebut. Bertentangan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan, penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Selain itu, keterlibatan dalam perjanjian internasional yang berdampak luas. Seharusnya memerlukan persetujuan DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UUD NRI 1945. 
Selain itu, keterlibatan Indonesia dinilai hanya akan menempatkan Indonesia sebagai pemberi legitimasi. Bagi kepentingan kekuatan global, yang justru melanggengkan penindasan di Palestina. Gusdurian sekaligus mengingatkan agar pemerintah Indonesia tetap setia pada prinsip politik bebas aktif. Mengupayakan perdamaian dunia melalui mekanisme multilateral yang sudah ada yaitu PBB.

Sikap Jaringan Gusdurian

Jaringan Gusdurian oleh karena itu menyatakan sikap sebagai berikut: Pertama, menolak Board of Peace karena dinilai lebih sebagai upaya dominasi imperial berbungkus perdamaian. Kedua, mendesak pemerintah Indonesia untuk menarik diri dari Board of Peace. Ketiga, meminta pemerintah memaksimalkan mekanisme PBB yang lebih transparan, akuntabel dan berpihak pada rakyat Palestina. Keempat, mendorong kelompok-kelompok masyarakat sipil untuk menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak sesuai konstitusi. Kelima, menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dan melawan genosida oleh Israel.
Sumber: Pernyataan Sikap Jaringan GUSDURian Menolak Board of Peace, Yogyakarta, 2 Februari 2026.

Menag Kukuhkan Wisma STI sebagai Rumah Moderasi Beragama

0
Wisma STI dikukuhkan Menteri Agama sebagai Rumah Moderasi Beragama
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar kukuhkan WIsma STI atau Sangha Theravada Indonesia sebagai Rumah Moderasi Beragama

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.  Secara resmi mengukuhkan Wisma Sangha Theravada Indonesia (STI) di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sebagai Rumah Moderasi Beragama, pada Senin, 26 Januari 2026. Pengukuhan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat praktik moderasi beragama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dalam sambutannya, Menag menekankan bahwa moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif, tetapi harus berakar pada praktik spiritual yang mendalam. Menurutnya, dunia modern yang bergerak cepat justru membutuhkan ruang-ruang kontemplatif agar manusia tidak terjebak dalam kemelekatan pada hal-hal duniawi.

Rumah Moderasi sebagai Pusat Pembelajaran Spiritual

“Dunia tanpa kontemplasi itu akan berbahaya. Dunia harus dibimbing oleh dua kekuatan, yakni kekuatan konsentrasi dan kekuatan kontemplasi,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan bahwa Rumah Moderasi Beragama di Wisma STI diharapkan menjadi pusat pembelajaran spiritual yang membantu umat mengembangkan kemampuan untuk melepaskan kemelekatan—baik pada uang, materi, maupun jabatan. Bagi Menag, kemelekatan berlebihan justru menjadi awal dari kegagalan manusia dalam memaknai hidup.

Lebih jauh, Menag memandang Rumah Moderasi Beragama sebagai “rumah besar bagi kemanusiaan”, yang tidak hanya menumbuhkan nilai spiritual dan kasih sayang antar-manusia, tetapi juga kepedulian terhadap alam. Ia menegaskan bahwa moderasi beragama seharusnya melahirkan aksi nyata, bukan sekadar diskusi atau perdebatan.

“Rumah moderasi ini harus melahirkan tangan-tangan yang menanam pohon, bukan hanya yang pintar berdebat. Jika Penciptanya sakral, maka alam ciptaan-Nya juga harus disakralkan,” tegasnya.

Rumah Sambung Rasa dan Komunikasi Antarumat Beragama

Sementara itu, Ketua Wisma Sangha Theravada Indonesia, Bhante Dhammasubho Mahathera, menyambut baik pengukuhan tersebut. Ia berharap Rumah Moderasi Beragama dapat menjadi ruang sambung rasa dan komunikasi antar-umat beragama, terutama di tengah tantangan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi.

Menurut Bhante Dhammasubho, kemajuan teknologi memang mendekatkan jarak secara fisik, tetapi pada saat yang sama berpotensi menjauhkan hubungan batin antar-manusia.

“Teknologi membuat jarak antar-jagat semakin dekat, tetapi hubungan antar-jiwa justru semakin jauh,” ujarnya.

Melalui Rumah Moderasi Beragama, ia berharap masyarakat dapat kembali membangun perjumpaan yang nyata—bukan hanya bertemu secara fisik, tetapi juga berdialog dan bekerja bersama lintas iman. Baginya, sikap saling mengenal adalah fondasi utama bagi kehidupan yang rukun dan harmonis.

“Agama-agama harus saling mengenal satu dengan yang lain. Kalau kita tidak pernah bertemu, kita tidak bisa mengenal satu dengan yang lain,” katanya.

Sebelum pengukuhan oleh Menteri Agama, selama dua hari diadakan pembacaan 3 sutta secara non stop mulai tanggal 25 hingga 26 Januari 2026 di Wisma STI. Adapun yang dibacakan umat Buddha dan para bhikkhu adalah Sutta: Ratana, Manggala, dan Karaniya Metta. Isyanto, Ketua Institut Nagarjuna 2015-2025 bertindak selaku ketua panitia kegiatan. Sehari sebelumnya, sebagai rangkaian menyambut pengukuhan juga diadakan Puja Manta Pembacaan Paritta 24 Jam Non Stop. Selain itu, pengukuhan juga diawali pidato budaya oleh Yudi Latief bertema Dalam Menyambut Hidup Baru Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?

Pengukuhan ini juga dihadiri oleh berbagai unsur umat Buddha. Kehadiran berbagai elemen lintas organisasi ini menegaskan bahwa Rumah Moderasi Beragama di Wisma STI diharapkan menjadi ruang hidup—tempat perjumpaan, dialog, praktik Dharma, serta kerja bersama untuk merawat harmoni sosial dan kemanusiaan Indonesia.

Bhiksu Yang Mun ternyata AI: Jutaan Orang Kadung Percaya

1
Bhiksu Yang Mun memiliki jutaan follower di media sosial, belakangan terungkap ternyata dibuat dengan AI.
Sosok Bhiksu Yang Mun memiliki dua akun dengan jutaan follower ternyata adalah AI.

Awalnya cuma satu video. Seorang bhiksu tua duduk tenang di sudut vihara. Wajahnya teduh, suaranya ramah dan enak didengar. Ia bicara tentang lelah, tentang gagal, tentang berdamai dengan diri sendiri. Kata-katanya sederhana, tapi entah kenapa terasa tepat. Dari situlah Bhiksu Yang Mun hadir di tengah-tengah netizen internasional.

Seiring waktu video-videonya banyak disimpan dan dibagikan netizen. Akibatnya, keesokan harinya konten serupa akan muncul lagi, dan lagi. Nama akunnya ada 2 yaitu @yangmunus dengan follower 2,5 juta dan @itsyangmuns. Komentarnya penuh rasa terima kasih. Banyak yang merasa ditemani, dipahami, bahkan diselamatkan.

Bukan Bhiksu Yang Mun

Namun, masalahnya, belakangan terungkap sesuatu yang mengejutkan. Bhiksu Yang Mun itu tidak pernah ada. Yang Mun bukan tokoh spiritual. Bukan bhiksu. Bukan manusia. Ia adalah karakter Artificial Intelligence atau AI. Di Indonesia kita menerjemahkannya sebagai Akal Imitasi.

Wajahnya buatan, suaranya sintetis, dan seluruh nasihatnya dihasilkan mesin. Kontennya dibuat dengan teknologi AI generatif dan dipoles sedemikian rupa hingga tampak otentik. Tokoh ini buatan orang Israel bernama Shalev Hani. Tidak hanya untuk memberi nasehat bijak, tapi juga untuk jualan e-book dan kursus spiritual. Singkatnya, ia dapat dikategorikan sebagai AI-generated virtual influencer. Pemengaruh virtual yang dihasilkan AI.

Akan tetapi, yang membuat banyak orang terkejut bukan semata teknologinya. Melainkan betapa mudahnya kita percaya. Mungkin karena karakter Yang Mun tidak memaksa. Tidak menggurui. Tidak menjual ketakutan. Ia menawarkan ketenangan—sesuatu yang langka di tengah hidup yang bising. Inilah mungkin eranya spiritualitas algoritmik.

Kasus Yang Mun bukan sekadar cerita viral. Ia adalah peringatan. Di era AI, apa yang kita tonton dan tampak realistis secara visual maupun suara. Belum tentu benar-benar nyata dalam kehidupan. Kebetulan pada kasus Yang Mun, ada aspek positif yang dapat dinikmati followernya. Akan tetapi, ada juga yang merasa ditipu karena merasa sosok Yang Mun adalah manusia yang eksis di dunia nyata.

Sebenarnya di akun media sosialnya, telah ada catatan pada profil. For educational purposes only. Selain itu juga ada tanda di sudut kanan atas AI Info, yang menunjukkan bahwa konten diproduksi menggunakan AI.

Sumber: Detikinet

Daniel Johan Anggota DPR RI Hadiri Puja Manta: Bicara Moderasi

0
Daniel Johan salah seorang Anggota DPR RI hadir sebagai umat Buddha pada Puja Manta Baca Paritta 24 Jam Non Stop di Wisma STI
Daniel Johan anggota komisi IV DPR RI sebagai umat Buddha menghadiri Puja Manta di Wisma STI pada Minggu 25 Januari 2026.

Wisma Sangha Theravada Indonesia (STI) menyelenggarakan Puja Manta Baca Paritta 24 Jam Non Stop. Kegiatan diadakan di Pendopo Kendali Roso, Wisma Sangha Theravada Indonesia, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Puja Manta dimulai pada Minggu hingga Senin, 25–26 Januari 2026 dengan membaca tiga sutta yang dipilih.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan spiritual menjelang pengukuhan Rumah Moderasi Beragama. Pengukuhan dilaksanakan pada 26 Januari 2026 di lokasi yang sama oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Dengan diawali pidato kebudayaan dari intelektual Yudi Latief. Dengan tema Menyambut Hidup Yang Baru Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia.

Anggota DPR RI Hadiri Puja Manta

Pembacaan paritta dimulai pada Minggu, 25 Januari 2026 pukul 09.00 WIB. Berakhir pada Senin, 26 Januari 2026 pukul 09.00 WIB. Pembacaan berlangsung secara berkesinambungan selama 24 jam tanpa jeda. Paritta yang dibaca secara berulang selama kegiatan tersebut meliputi: Manggala Sutta, Karaniya Metta Sutta, dan Ratana Sutta. Ketiga sutta ini dikenal sebagai teks penting dalam tradisi Buddhis yang menekankan nilai-nilai kebajikan, cinta kasih universal, serta perlindungan melalui keyakinan kepada Tri Ratna.

Salah satu umat yang hadir adalah Daniel Johan yang membawa serta istri dan anak-anaknya. Beliau adalah seorang anggota Komisi IV DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Barat. Johan menyatakan menyambut baik rangkaian kegiatan di Wisma STI dalam rangka menyambut pengukuhan Rumah Moderasi Beragama. “Indonesia yang beragam telah menyaksikan gelombang ekstrimisme dalam beragama. Sehingga dibutuhkan narasi moderasi, jalan tengah di setiap agama. Ini patut diapresiasi.” ungkapnya saat ditemui penulis di lantai dasar Wisma STI.

Moderasi Beragama: Pemaknaan

Dalam beberapa tahun terakhir, moderasi beragama memang semakin sering dibicarakan sebagai respons terhadap menguatnya berbagai ekspresi ekstremisme beragama. Sesuatu yang kerap—meski tidak selalu tepat—disebut sebagai radikalisme. Istilah moderasi beragama muncul sebagai upaya untuk menawarkan cara beragama yang tidak terjebak pada sikap berlebihan, sekaligus tidak jatuh pada pengabaian nilai-nilai keimanan.

Secara etimologis, kata moderasi berasal dari bahasa Inggris moderation, yang berarti sikap sedang, seimbang, dan tidak melampaui batas. Dalam konteks keberagamaan, moderasi beragama merujuk pada sikap yang berusaha mengambil jalan tengah, menjadi penyeimbang, serta menghadirkan solusi di antara dua kutub ekstrem yang saling berhadapan.

Pendekatan ini menempatkan moderasi sebagai posisi—titik tengah—yang tidak hanya bersifat netral. Akan tetapi juga aktif berperan sebagai penengah atau wasit dalam dinamika kehidupan beragama. Dengan demikian, moderasi beragama bukan sekadar sikap kompromistis. Melainkan upaya sadar untuk menjaga keseimbangan antara keyakinan, toleransi, dan tanggung jawab sosial.

Agama Buddha dan Jalan Tengah

Dalam ajaran Buddha jalan tengah dimaknai sebagai bukan ini dan bukan itu, tapi melingkupi keduanya, melampaui kedua kutub. Bhiksu Nagarjuna, intelektual Buddhis yang hidup pada abad 1 hingga 3 masehi. Menjelaskan melalui Madhyamaka (jalan tengah), bahwa jalan diantara dua ekstrim bukan berada diantara keduanya, tapi melampaui keduanya. Karena keduanya tidak memiliki esensi, keberadaannya saling bergantung atau interdependen. Tidak ada kanan tanpa kiri, tiada kami tanpa kita, tiada aku tanpa kamu. Maka dalam Agama Buddha Mahayana di Tiongkok, dikenal istilah “Isi adalah Kosong dan Kosong adalah Isi”. Ketika tiba di tanah Jawa, oleh Mpu Tantular. Pejabat Agama Buddha di Rakryan ing Kasogatan. Digubah menjadi Bhinna Ika Tunggal Ika, untuk menyesuaikan rima, beliau tulis Bhinneka Tunggal Ika.

Delegasi Buddhis Tiongkok diterima Penasehat Politik Tertinggi

0
Delegasi Buddhis Tiongkok (BAC) diterima penasihat politik tertinggi Wang Huning.
Penasihat politik tertinggi Tiongkok Wang Huning menyampaikan pentingnya adaptasi budaya dan modernisasi kepada delegasi Buddhis Tiongkok (BAC).

Penasihat politik tertinggi Tiongkok, Wang Huning, bertemu dengan para delegasi Buddhis Tiongkok. Para delegasi ini adalah peserta Kongres Nasional Asosiasi Buddha Tiongkok di Beijing, yang berlangsung dari 28 hingga 29 Desember 2025. Pertemuan ini berlangsung seiring penguatan kebijakan negara dalam penataan kehidupan beragama melalui organisasi keagamaan resmi.

Wang Huning, adalah anggota Komite Pusat Polit Biro Partai Komunis Tiongkok. Selain itu juga menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok. Pada pertemuan tersebut ia menekankan pentingnya penerapan kebijakan dasar Partai terkait urusan keagamaan. Menurutnya, komunitas dan tokoh Buddhis diharapkan dapat berperan aktif dalam mendukung agenda besar modernisasi nasional.

Baca juga: Asosiasi Buddhis Tiongkok Bentuk Komite Pengawas Pertama

Delegasi Buddhis Tiongkok: Kesadaran Hukum, SDM dan Budaya

Dalam pertemuan dengan delegasi buddhis Tiongkok tersebut. Wang mendorong Asosiasi Buddha Tiongkok untuk memperkuat tata kelola internal kehidupan beragama. Ia menekankan perlunya peningkatan kesadaran hukum di kalangan umat dan rohaniwan Buddha. Tujuannya, agar mereka senantiasa menaati hukum negara, memegang teguh aturan serta sila kebiksuan. Sekaligus menjaga kemurnian ajaran dan praktik keagamaan Buddhadharma Tiongkok.

Selain itu, Wang juga menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia di lingkungan Buddhis. Ia mendorong lahirnya generasi rohaniwan yang tidak hanya menguasai ajaran kanonik Buddha. Akan tetapi juga memahami dan menghayati nilai-nilai luhur budaya tradisional Tiongkok. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat identitas Buddhadharma yang selaras dengan konteks kebudayaan nasional.

Wang juga mengajak Asosiasi Buddhis Tiongkok untuk memperluas pertukaran dan dialog dengan komunitas Buddhis internasional. Hal ini dinilai penting sebagai bagian dari kontribusi Tiongkok dalam percakapan global tentang agama dan budaya. Tiongkok sendiri sudah beberapa kali menjadi tuan rumah pertemuan umat Buddha global.

Dalam Kongres Nasional ke-11 tersebut. Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) juga mengesahkan piagam organisasi yang telah direvisi. Menetapkan seperangkat aturan dan regulasi keagamaan baru. Serta memilih kepemimpinan yang baru untuk periode mendatang.

Pertemuan ini mencerminkan upaya berkelanjutan pemerintah Tiongkok dalam mengarahkan kehidupan beragama. Suatu relasi harmonis agama dan negara. Dimana agama berjalan seiring dengan hukum negara, pembangunan sosial, dan visi modernisasi nasional.

Sumber: China Daily

Asosiasi Buddhis Tiongkok Bentuk Komite Pengawas Pertama

1
Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) untuk pertama kalinya memilih komite pengawas.
Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) untuk pertama kalinya memili komite pengawas.

Kongres Nasional ke-11 Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) berlangsung di Beijing pada 28–29 Desember 2025. Dalam kongres tersebut, untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi itu, dibentuk Komite Pengawas. Sebuah badan baru yang bertugas mengawasi kinerja dan tata kelola internal asosiasi.

Sebanyak 547 perwakilan Buddhis dari tiga tradisi utama (Sanskerta, Pali, dan Tibet), yang berasal dari 31 provinsi, wilayah otonom, dan kota setingkat provinsi hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka didampingi oleh 106 perwakilan undangan khusus. Hadir pula Duan Yijun, Wakil Menteri Departemen Kerja Front Persatuan Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok sekaligus Kepala Administrasi Urusan Agama Nasional, yang menyampaikan pidato resmi.

Presiden BAC dan Kepala Pengawas Baru

Kongres memilih Yanjue sebagai presiden BAC periode ke-11, menggantikan kepemimpinan sebelumnya. Selain itu, kongres juga memilih anggota Dewan dan Dewan Tetap BAC periode 2025–2030.

Adapun yang menjadi sorotan adalah pembentukan Komite Pengawas pertama BAC. Bhiksu Zhengci, mantan wakil presiden BAC periode sebelumnya. Terpilih sebagai Kepala Pengawas. Dengan jabatan baru ini, Zhengci tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden.

Zhengci, lahir di Daye, Provinsi Hubei, pada 1971, ditahbiskan sebagai bhikkhu pada April 1983. Ia sebelumnya menjabat sebagai Presiden Asosiasi Buddhis Provinsi Hubei, serta menjadi kepala vihara di Wuzu Temple di Huangmei. Juga di Vihara Honghua yang berlokasi di Gunung Dongfang, Huangshi. Pengalaman kepemimpinannya di tingkat lokal dan nasional menjadikannya figur sentral dalam struktur baru BAC ini.

Pembentukan Komite Pengawas di tingkat nasional mengikuti tren yang telah berkembang di sejumlah daerah. Sejak beberapa tahun terakhir, asosiasi Buddha di Shenyang (Liaoning), Jinjiang (Fujian), dan Provinsi Jilin telah membentuk komite serupa. Menurut pengumuman sebelumnya dari Asosiasi Buddha Shenyang. Komite pengawas lokal beroperasi berdasarkan prinsip “kepemimpinan kolektif, sentralisme demokratis, diskusi menyeluruh, dan pengambilan keputusan melalui rapat”. Tugas utamanya mencakup pengawasan internal, evaluasi kebijakan, serta pengembangan pendekatan kerja organisasi.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya BAC untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan transparansi, dan menyesuaikan diri dengan arahan kebijakan keagamaan pemerintah Tiongkok yang menekankan pada “sinifikasi agama” dan integrasi nilai-nilai sosialis.@esa