Kerangka Pemikiran Institut Nagarjuna disusun sebagai landasan dalam mengembangkan kajian Buddhadharma yang kritis, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan sosial di Indonesia. Sebagai lembaga kajian Buddhis Indonesia, Institut Nagarjuna membumikan Dharma dan memajukan pemikiran melalui refleksi mendalam atas dinamika zaman.
Pendahuluan
Institut Nagarjuna hadir sebagai ruang kajian yang berupaya mengembangkan pemahaman Buddhadharma secara mendalam, sistematis, dan kontekstual. Istilah Buddhadharma, yang dalam penggunaan umum sering diterjemahkan sebagai Buddhadharma, dipahami dalam kerangka ini sebagai tradisi pemikiran yang hidup, reflektif, dan terbuka terhadap dialog dengan realitas sosial.
Pengembangan kajian tersebut diarahkan untuk melampaui pendekatan yang semata bersifat ritualistik atau normatif, menuju pemahaman yang lebih kritis dan analitis terhadap ajaran serta praktik Buddhis dalam kehidupan kontemporer.
Pendekatan Filosofis
Kerangka pemikiran Institut Nagarjuna berakar pada tradisi filsafat Buddha, khususnya pemikiran Nagarjuna yang menekankan jalan tengah (madhyamaka), kritik terhadap pandangan yang bersifat absolut, serta pemahaman realitas sebagai sesuatu yang saling bergantung (pratityasamutpada). Institut Nagarjuna menempatkan kerangka pemikiran ini melampaui kotak-kotak etnis dan aliran, memandang Agama Buddha sebagai keseluruhan, bukan parsial.
Pendekatan ini memungkinkan pembacaan Buddhadharma tidak sebagai sistem doktrin yang kaku, tetapi sebagai kerangka reflektif yang dinamis dalam memahami pengalaman manusia dan realitas sosio-kulturalnya. Intisari Buddhadharma menjadi benang merah bagi semua tradisi, ikonografi dan praktik keagamaan Buddha di berbagai negara.
Pendekatan Historis
Pendekatan historis digunakan untuk menelusuri perkembangan Buddhadharma dalam lintasan waktu, termasuk bagaimana ajaran ini berinteraksi dengan berbagai konteks budaya, politik, dan sosial di berbagai wilayah.
Melalui pendekatan ini, Institut Nagarjuna berupaya memahami Buddhadharma sebagai tradisi yang terus berkembang, serta melihat bagaimana transformasi historis mempengaruhi bentuk pemikiran dan praktik keagamaan yang ada saat ini. Keberagaman bentuk luar, sejauh apapun dipandang sebagai bentuk adaptasi dalam sejarah panjang penyebaran Agama Buddha dari India ke berbagai penjuru dunia.
Pendekatan Kontekstual
Institut Nagarjuna menempatkan Buddhadharma dalam konteks Indonesia kontemporer. Pendekatan kontekstual digunakan untuk membaca persoalan sosial, budaya, dan kebangsaan sebagai ruang refleksi dan pengembangan pemikiran Buddhis.
Dengan demikian, kajian yang dikembangkan tidak berhenti pada pemahaman tekstual, tetapi juga berupaya menjawab tantangan nyata yang dihadapi masyarakat, seperti pluralitas, keadilan sosial, identitas kebangsaan, dan dinamika kehidupan modern. Pendekatan Socially Engaged Buddhism atau Buddhadharma Membumi, dan Humanistic Buddhism atau Buddhadharma Humanistik adalah bagian dari spirit Institut Nagarjuna.
Arah Pengembangan
Berdasarkan kerangka pemikiran ini, Institut Nagarjuna mengembangkan berbagai bentuk kegiatan, termasuk kajian akademik, publikasi, pendidikan, dan pengembangan komunitas. Seluruh aktivitas tersebut diarahkan untuk menghasilkan pemikiran Buddhadharma yang kritis, membumi, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Baik kebutuhan komunitas maupun bangsa dan negara.
Kerangka pemikiran ini menjadi landasan bagi upaya membangun tradisi intelektual Buddhis di Indonesia yang tidak hanya berakar pada teks, tetapi juga hidup dalam dialog dengan realitas sosial.












