Nama Sulak Sivaraksa mungkin belum terlalu populer di Indonesia dibanding tokoh seperti Thich Nhat Hanh atau Dalai Lama. Namun di Asia Tenggara, ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting Buddhadharma Membumi- Socially Engaged Buddhism yang berupaya mempertemukan spiritualitas dengan kritik terhadap ketimpangan sosial, kapitalisme global, dan krisis lingkungan.

Dalam bukunya, The Wisdom of Sustainability Buddhist Economics for the 21st Century yang disunting Arnold Kotler dan Nicholas Bennett. Sulak Sivaraksa sejak awal tulisannya telah menjelaskan bahwa dunia ini butuh alternatif bagi globalisasi ekonomi. Ia bahkan menyampaikan hal ini pada 1998, ketika bertemu dengan James Wolfernsohn, Presiden Bank Dunia. Ia juga menyampaikan bahwa, meskipun pada awalnya kesepakatan Bretton Woods yang menghasilkan pendirian International Monetary Fund (IMF) dan World Bank bertujuan mulia yakni memberantas kemiskinan. Tetapi, pada perkembangannya justru menimbulkan kesenjangan distribusi kekayaan.

Menurut Sulak Sivaraksa, janji kapitalisme untuk mewujudkan emansipasi melalui pertumbuhan ekonomi yang terus menerus, tidaklah masuk akal. Baginya, tidak ada negara yang ekonominya akan terus tumbuh dari hasil bumi, karena semua ada batasnya. Maka ia mengajak agar mengubah haluan dan membangun masa depan dunia dengan welas asih dan kewaskitaan (kebijaksanaan). Ia yakin bahwa sumber daya yang ada tidak akan pernah cukup bagi semua orang untuk menjalani kehidupan sebagaimana standar hidup di negara-negara paling maju saat ini.

Sulak adalah seorang intelektual Buddhis yang memandang pembangunan modern sering kali kehilangan dimensi kemanusiaan. Pembangunan hanya diukur dari angka pertumbuhan, investasi, dan konsumsi, sementara penderitaan manusia, kerusakan alam, serta hilangnya solidaritas sosial justru meningkat. Ia termasuk intelektual yang tidak setuju menempatkan modernisasi sebatas kaca mata Eropa. Karena di banyak negara lainnya, ada gaya hidup agraris, ekonomi subsistem, dan kekayaan lokalitas lainnya, yang tidak bisa dianggap tidak unggul dibandingkan industrialisasi, ekonomi moneter, dan modernisasi ala barat.

Sulak Sivaraksa Tawarkan Jalan Tengah Buddha untuk Ekonomi

Pandangan ini terasa relevan di tengah dunia yang semakin obsesif pada pertumbuhan ekonomi. Sulak tidak menolak pembangunan, tetapi mempertanyakan arah pembangunan itu sendiri. Baginya, ekonomi seharusnya melayani kehidupan, bukan manusia yang menjadi pelayan ekonomi. Ia mengkritik model kapitalisme modern yang mendorong kerakusan tanpa batas dan menjadikan alam semata komoditas.

Dalam berbagai tulisannya, Sulak banyak berbicara tentang kesederhanaan, welas asih, dan keterhubungan antarmakhluk. Ia menilai bahwa krisis ekologis modern lahir dari cara pandang yang memisahkan manusia dari alam. Karena itu, solusi ekonomi menurut Buddhadharma bukan sekadar distribusi materi, tetapi juga transformasi kesadaran.

Sulak Sivaraksa bahkan menyatakan bahwa gurunya yaitu Bhikkhu Buddhadasa, sangat menekankan pentingnya hidup selaras dengan alam. Contohnya, ketika mengajar beliau menunjuk ke arah pohon beringin dan berbagai satwa yang hidup damai di sekitarnya, untuk menjelaskan konsep interdependensi, kesalingtergantungan. Globalisasi pun sebenarnya menganjurkan kesalingtergantungan antarnegara, kepentingan yang saling bekelindan, dan profit diharap dapat diperoleh dari hubungan semacam itu.

Akan tetapi setelah lebih dari setengah abad diberlakukan, kesenjangan makin melebar antara negara Utara dan Selatan, investor dan pekerja, pengusaha agribisnis dan petani, yang berujung ketergantungan negara berkembang pada negara maju. Negara maju dengan leluasa mendikte melalui IMF dan Bank Dunia, tentang pengurangan restriksi, pengurangan peran negara dan sebagainya. Resep yang terkadang malah menjerumuskan negara-negara berkembang ke krisis yang lebih dalam.

Transformasi Diri dan Transformasi Sosial

Menariknya, kritik Sulak tidak berhenti pada teori. Ia mendirikan berbagai gerakan sosial dan jaringan Buddhis lintas negara seperti International Network of Engaged Buddhists (INEB) yang menghubungkan praktik Buddhadharma dengan isu demokrasi, kemiskinan, lingkungan, dan perdamaian.

Mengikut pemikiran Sulak, Buddhadharma ternyata tidak hanya berbicara soal meditasi atau ritual pribadi. Di tangan Sulak Sivaraksa, Buddhadharma tampil sebagai kritik moral terhadap sistem ekonomi yang tidak berkeadilan. Kekayaan tidak dianggap salah, tetapi harus diperoleh melalui cara yang benar dan digunakan demi kesejahteraan bersama.

Pandangan ini sebenarnya memiliki akar kuat dalam ajaran Buddha sendiri, terutama konsep samma ajiva atau mata pencaharian benar. Bahkan beberapa kajian ekonomi Buddhis kontemporer juga mulai mengangkat pentingnya pembangunan berkelanjutan, gotong royong, dan keseimbangan ekologis sebagai bagian dari etika ekonomi Buddhis.

Membaca Sulak Sivaraksa hari ini terasa seperti membaca kritik terhadap dunia modern yang semakin lelah oleh kompetisi tanpa akhir. Ia mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati tidak selalu identik dengan konsumsi yang terus bertambah. Kadang, masyarakat justru kehilangan kedamaian ketika terlalu mengejar kemajuan material.

Di titik itu, pemikiran Sulak Sivaraksa semakin menarik. Bahwa Buddhadharma tidak anti pembangunan, tetapi mengingatkan agar pembangunan tetap membawa jiwa belas kasih kepada semua makhluk. Transformasi diri sebagaimana telah ditekankan selama ini oleh para rohaniwan Buddhis, perlu diimbangi dengan aksi transformasi sosial, yang merupakan praktik dharma yang tidak terpisah. Keduanya tidak berjalan terpisah, atau sekuensial namun dijalankan secara bersamaan sebagai seorang praktisi Buddhadharma.

Buku Sulak Sivaraksa tersebut telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, dan telah terbit pada 2013. Judul versi Indonesia adalah Pembangunan untuk Manusia, Ekonomi Buddhis Abad ke-21, diterbitkan oleh HIKMAHBUDHI bekerjasama dengan Institut Nagarjuna.

LEAVE A REPLY