Borobudur: Sistem atau Pengalaman? Sebuah Resensi Kritis atas Buku Borobudur Biara Himpunan Kebajikan Sugata karya Hudaya Kandahjaya

Resensi Kritis atas Buku Borobudur                              Karya Hudaya Kandahjaya

Buku Borobudur: Biara Himpunan Kebajikan Sugata ini akan dibaca dari sudut pandang Borobudur sebagai kamulan bhūmisambhāra. Sumber penghimpunan daya kebajikan dan daya pengetahuan atau kewaskitaan. Sekilas, posisi ini tampak sejalan dengan judul yang diusung Hudaya. Keduanya sama-sama berbicara tentang “penghimpunan kebajikan,” seolah berdiri di tanah yang sama.

Namun justru di situlah persoalannya bermula. Kesamaan istilah dapat mengaburkan pandangan. Ia memberi kesan keselarasan, padahal cara kerjanya bisa berlawanan arah. Apa yang dalam judul tampak sebagai “himpunan kebajikan” dapat dengan mudah bergeser menjadi ‘himpunan konsep’—tertata, rapi, dan meyakinkan, tetapi berjarak dari denyut pengalaman itu sendiri.

Di tangan Hudaya, Borobudur dibaca sebagai sistem: sesuatu yang dapat dijelaskan, dipetakan, dan ditata dalam kerangka konseptual yang utuh. Ini adalah kekuatan sekaligus batasnya. Sebab ketika Borobudur terlalu cepat dipahami sebagai sistem, ia berisiko berhenti sebagai pengalaman.

Sementara dari sudut pandang Borobudur sebagai kamulan bhūmisambhāra, penghimpunan tidak pernah berhenti pada pemahaman. Ia terjadi sebagai laku—dalam cara batin melihat, terguncang, melepaskan, dan berubah. Ia tidak terkumpul sebagai pengetahuan yang dimiliki, tetapi sebagai kewaskitaan (prajnya) yang mengurai keterikatan.

Di sini perbedaannya menjadi tegas:

  • Yang satu mengumpulkan makna, yang lain meluruhkan “yang ingin mengumpulkan” — membongkar reifikasi, pemadatan yang diam-diam membentuk “sesuatu” untuk digenggam.
  • Yang satu membangun keterpahaman, yang lain justru menguji apakah masih ada yang perlu dipertahankan sebagai “pemahaman”.

Maka resensi ini tidak berdiri untuk menegaskan siapa yang benar. Ia justru bergerak di celah ketegangan itu—menunjukkan bahwa kesamaan bahasa tidak selalu berarti kesamaan jalan. Dan bahwa dalam membaca Borobudur, yang paling halus bukanlah apa yang tampak berbeda, melainkan apa yang tampak sama, tetapi bekerja dengan cara yang bertolak belakang.

Walau bagaimanapun, buku Hudaya Kandahjaya menghadirkan satu usaha serius untuk memahami Borobudur sebagai bangunan makna, bukan sekadar susunan batu. Buku ini tidak melihat Borobudur sebagai objek wisata atau peninggalan sejarah semata, tetapi sebagai sebuah sistem spiritual yang utuh. Di sinilah kekuatan sekaligus keterbatasannya bermula.

Pendekatan Dasar: Borobudur sebagai Sistem Kosmik

Hudaya membaca Borobudur sebagai sebuah mandala besar—suatu representasi kosmos Buddhadharma dalam bentuk arsitektur. Ia mengaitkan prasasti, teks, dan simbol menjadi satu kesatuan yang koheren. Borobudur dipahami sebagai perwujudan ajaran tingkat tinggi, termasuk konsep bodhisatwa, tathagata, dan mandala.

Pendekatan ini bersifat tekstual dan simbolik. Artinya, makna Borobudur ditarik dari jaringan konsep yang sudah dikenal dalam tradisi Buddhadharma, lalu diproyeksikan kembali ke struktur bangunan. Hasilnya adalah sebuah pembacaan yang sangat terstruktur:

  • Angka-angka tidak dianggap kebetulan
  • Posisi arca dimaknai sebagai bagian dari sistem
  • Keseluruhan candi dipahami sebagai satu rancangan spiritual yang utuh

Pendekatan ini memberikan kesan bahwa Borobudur adalah “bahasa yang telah selesai ditulis”—tinggal dibaca dengan kunci yang tepat.

Kekuatan: Kedalaman Simbolik dan Keutuhan Visi

Kelebihan utama pendekatan Hudaya adalah kemampuannya mengangkat Borobudur dari benda menjadi makna. Ia menunjukkan bahwa bentuk adalah simbol, struktur adalah ajaran dan arsitektur adalah bahasa. Dengan cara ini, Borobudur tidak lagi diam. Ia menjadi teks yang berbicara.

Selain itu, pendekatan ini juga menghubungkan Borobudur dengan jaringan besar Buddhadharma lintas wilayah. Borobudur tidak diposisikan sebagai fenomena lokal semata, tetapi sebagai bagian dari arus pemikiran yang lebih luas. Secara intelektual, pendekatan ini kuat. Ia konsisten, sistematis, dan berupaya menjelaskan detail secara menyeluruh. Bagi pembaca, ini memberi rasa kepastian—seolah semua bagian menemukan tempatnya.

Keterbatasan: Ketika Sistem Menjadi Terlalu Penuh

Namun justru di sinilah muncul pertanyaan yang lebih halus—dan perlu ditegaskan dengan lebih tajam. Ketika segala sesuatu dijelaskan sebagai bagian dari sistem, ada risiko bahwa pengalaman langsung menjadi tersisih. Pendekatan ini tidak sekadar deskriptif, tetapi cenderung normatif: seolah Borobudur harus dibaca sebagai sistem tertentu agar bermakna.

Pendekatan ini bergerak dari atas ke bawah: konsep ditentukan terlebih dahulu, lalu bangunan dibaca agar sesuai dengan konsep itu. Misalnya, ketika jumlah arca dihitung dan diselaraskan menjadi 729 melalui konstruksi matematis tertentu, lalu dikaitkan dengan sistem mandala dan bilangan simbolik, muncul kesan bahwa seluruh kompleks sejak awal dirancang sebagai satu skema numerologis yang presisi. Ini memberi keindahan intelektual, tetapi sekaligus membuka pertanyaan: apakah ini pembacaan yang ditemukan, atau pembacaan yang dibentuk?

Di titik ini, Borobudur berisiko berubah dari ruang pengalaman menjadi objek sistematisasi. Ia tidak lagi “ditemui”, tetapi “disusun kembali”. Ada kecenderungan over-koherensi—seolah semua elemen sejak awal dirancang dalam kesempurnaan sistematis. Padahal dalam kenyataan sejarah dan praktik pembangunan monumen besar, sering terjadi penyesuaian bertahap, perubahan desain dan kompromi teknis. Dan kita tahu Borobudur dalam proses pembangunannya butuh setidaknya tiga generasi. Di rentang waktu yang demikian panjang segala kemungkinan dan penyesuaian atau perubahan konsep bisa saja terjadi.

Dengan kata lain, keteraturan yang sangat rapi dalam pembacaan bisa jadi lebih mencerminkan cara berpikir penafsir daripada kondisi historis yang sebenarnya.  Di sinilah kritik utama perlu diletakkan: bukan bahwa sistem itu salah, tetapi bahwa sistem itu mungkin terlalu cepat dianggap total keseluruhan ide yang sempurna sejak awal hingga akhir. Dalam perspektif Buddhadharma, kecenderungan memadatkan realitas menjadi sesuatu yang tampak tetap dan koheren ini dapat dibaca sebagai bentuk reifikasi—sebuah kecenderungan yang justru dikritik secara mendalam dalam pemikiran Nagarjuna dalam tradisi Madhyamaka.

Persoalan Anakronisme Buku Borobudur Kandahjaya

Kritik terhadap kecenderungan melihat Borobudur sebagai sistem yang sepenuhnya rapi dan selesai sejak awal membawa kita pada satu pertanyaan penting: dari mana kerangka kerapian itu berasal? Apakah ia benar-benar lahir dari konteks sezaman Borobudur, ataukah ia merupakan hasil pembacaan yang dibentuk oleh perkembangan pemikiran kemudian? Di titik inilah persoalan anakronisme menjadi relevan.

Anakronisme di sini tidak berarti sekadar “salah zaman”, melainkan kecenderungan membaca masa lalu dengan kerangka yang baru menjadi matang di periode berikutnya, lalu menganggapnya sudah hadir utuh sejak awal. Dalam pendekatan Hudaya, hal ini tampak terutama dalam penggunaan Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan sebagai kunci utama membaca Borobudur.

Secara historis, teks ini umumnya ditempatkan lebih muda daripada Borobudur—sekitar satu abad atau lebih setelah masa pembangunan Borobudur (abad ke-8–9 M). Dengan demikian, kita berhadapan dengan dua lapisan waktu: Borobudur sebagai karya abad ke-8–9. Sementara Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan sebagai refleksi perkembangan Buddhadharma Jawa setelahnya

Perbedaan ini penting. Ia tidak otomatis membatalkan relevansi teks tersebut, tetapi mengubah cara kita menggunakannya. Maka konsekuensinya teks ini lebih tepat dipahami sebagai: ‘cerminan perkembangan pemikiran.’ bukan sebagai ‘panduan arsitektural langsung.’

Sebab bagaimanapun tidak ada bukti bahwa para perancang Borobudur menjadikan Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan sebagai cetak biru konseptual. Di sinilah letak anakronisme yang halus: ketika sistem yang sudah matang digunakan untuk menjelaskan bentuk yang lahir dalam kondisi yang mungkin masih cair. Ini seperti melihat pohon yang sudah besar, lalu mengira bentuk itu sudah sama ketika ia masih berupa benih.

Namun di sisi lain, pendekatan ini juga memiliki nilai: ia membantu pembaca modern menemukan bahasa untuk memahami Borobudur. Maka dari itu, yang diperlukan bukan penolakan, melainkan kewaspadaan—menyadari kapan kita sedang membaca sejarah, dan kapan kita sedang memproyeksikan pemahaman kita sendiri pada objek bersejarah.

Perbedaan Cara Membaca: Teks Sekunder vs Peta Jalan Langsung

Di sinilah perbedaan paling mendasar perlu dipertajam, karena menyentuh inti metodologi. Pendekatan Hudaya sangat bertumpu pada pembacaan melalui teks seperti Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan. Teks ini digunakan sebagai kunci untuk membuka makna Borobudur. Dengan kata lain, Borobudur dibaca melalui lensa doktrinal yang sudah dirumuskan.

Dengan demikian maka strukturnya menjadi: teks diperlakukan sebagai kerangka, kemudian Borobudur dipahami dan dipaparkan sebagai representasi dari teks. Akibatnya, relief, arca, dan struktur candi cenderung diposisikan sebagai ilustrasi dari ajaran yang sudah diformulasikan di dalam teks tersebut. Pendekatan ini sah sebagai metode hermeneutik, tetapi membawa konsekuensi: pengalaman langsung terhadap relief sebagai “narasi hidup” menjadi sekunder.

Sebaliknya, ada cara membaca lain yang berangkat bukan dari teks sekunder, tetapi dari apa yang benar-benar terukir di Borobudur sendiri—yakni sutra-sutra yang diwujudkan dalam relief.

Relief seperti: Karmawibhaṅga, Jātaka–Avadāna, Lalitavistara, Gandavyūha dan Bhadracari Pranidhana, bukan sekadar dekorasi atau simbol, tetapi dapat dibaca sebagai peta jalan penggugahan. Dalam pendekatan ini, strukturnya terbalik: Pengalaman visual dan naratif diperlakukan sebagai pintu masuk; Kemudian teks (jika digunakan) berfungsi sebagai pendamping (sebagai sutra saksi), bukan penentu.

Dengan cara membaca seperti ini, relief tidak lagi ditanyakan:

“ini melambangkan apa dalam sistem?” – Melainkan:

“jika ini dihayati sebagai proses batin, apa yang sedang ditunjukkan?”

Sebagai contoh:

  • Karmawibhaṅga tidak hanya menjelaskan bagaimana cara karma bekerja, tetapi memperlihatkan bagaimana tindakan (karma) berbuah dalam pengalaman hidup secara kontekstual, kekinian.
  • Gandavyūha bukan sekadar kisah Sudhana, tetapi perjalanan batin yang bertahap, relasional, dan terbuka dan bagaimana ini bisa menjadi sarana reflektif untuk pengalaman hidup hari ini.

Pendekatan ini lebih dekat dengan prinsip kemunculan bergantungan (pratītyasamutpāda):
makna tidak dipaksakan dari luar, tetapi muncul dari keterkaitan pengalaman yang diamati langsung.  Dengan demikian, perbedaannya menjadi jelas: Hudaya membaca melalui sistem doktrinal. Borobudur ditempatkan sebagai representasi ajaran dan menggunakan teks sekunder sebagai kunci utama

Sedangkan pembacaan secara langsung melalui bukti fisik di tubuh candi, dilakukan dengan cara membaca melalui relief sebagai pengalaman dan sebagai sarana refleksi. Borobudur dibaca, diselami secara praksis sebagai proses penggugahan yang bisa menjadi laku hidup. Dan sutra-sutra yang terukir dibaca sebagai peta jalan menuju potensi tertinggi manusia.

Perbedaan ini bukan sekadar teknis, tetapi menyentuh orientasi batin. Pendekatan pertama cenderung menghasilkan pemahaman konseptual. Pendekatan kedua membuka kemungkinan pengalaman transformasi langsung bagi si pembaca.

Titik Temu: Peta, Rakit, dan Perjalanan Tanpa Menggenggam

Pendekatan Hudaya dapat dipahami sebagai peta dengan fungsi tertentu. Peta sangat berharga: ia memberi orientasi, membuka kemungkinan makna, dan membantu melihat keterhubungan. Tetapi peta bukan wilayah itu sendiri.

Di sini, satu analogi klasik dalam Dharma menjadi relevan: ajaran diumpamakan sebagai rakit—digunakan untuk menyeberang, bukan untuk digendong terus setelah sampai. Peta, seperti halnya rakit, menuntun, tetapi tidak untuk dipertahankan. Yang menjadi persoalan bukan pada peta atau rakitnya, melainkan pada kecenderungan batin untuk menjadikannya sesuatu yang harus dimiliki.

Jika peta dipegang terlalu erat, perjalanan berhenti sebagai pengalaman dan berubah menjadi pembenaran peta itu sendiri—seperti seseorang yang, setelah menyeberang sungai, justru memikul rakit di punggungnya. Sebaliknya, tanpa peta, seseorang bisa tersesat tanpa arah. Kematangan terletak pada kemampuan menggunakan peta tanpa terikat padanya—memanfaatkannya tanpa menjadikannya sesuatu yang harus dipertahankan.

Di titik ini, pembacaan relief Gandavyūha memberi pembanding yang hidup. Perjalanan Sudhana tidak bergerak sebagai pengumpulan peta, melainkan sebagai perjumpaan demi perjumpaan yang meluruhkan pegangan. Setiap guru, setiap pengalaman, tidak disimpan sebagai milik, tetapi dilewati—diterima, dihayati, lalu dilepaskan. Tidak ada satu “peta final” yang digenggam, bahkan tidak ada “hasil” yang dipertahankan sebagai capaian.

Dengan demikian, Gandavyūha memperlihatkan arah yang berbeda: perjalanan tanpa menggenggam—tanpa melekat pada peta, tanpa menetap pada hasil. Di sinilah pengetahuan berfungsi sebagai sarana yang dilepaskan, dan kewaskitaan (prajñā) muncul bukan sebagai sesuatu yang dikumpulkan, melainkan sebagai kejernihan yang tidak lagi membutuhkan pencengkeraman (upadana).

Borobudur: Dari Pengetahuan ke Kewaskitaan

Buku Biara Himpunan Kebajikan Sugata adalah upaya serius untuk memahami Borobudur sebagai himpunan ajaran. Ia kaya, mendalam, dan memberi banyak pintu masuk bagi pembaca. Namun pada akhirnya, pertanyaan yang lebih mendasar tetap mengemuka:

Apakah pemahaman ini membawa pada kewaskitaan (prajñā)?”
“Ataukah ia berhenti pada tumpukan konsep tentang struktur?”

Karena Borobudur sebagai kamulan bhūmisambhāra bukan hanya tempat menghimpun konsep, tetapi menghimpun daya kebajikan dan kewaskitaan. Di sana, makna tidak hanya dipahami—tetapi dialami, dilihat, dan dilepaskan. Dan mungkin, di titik itu, Borobudur tidak lagi sekadar dibaca. Ia mulai memperlihatkan dirinya sebagai laku hidup.

LEAVE A REPLY