Menimbang Klaim “Buddhadharma Awal”: Catatan atas buku Perbedaan Agama Buddha Mula-mula dengan Theravāda karya Bhikkhu Sujato

Buku Perbedaan Agama Buddha Mula-mula dengan Theravāda karya Bhikkhu Sujato adalah salah satu karya yang menarik perhatian dalam diskusi Buddhisme kontemporer. Dengan gaya yang ringkas dan langsung, Bhante Sujato berusaha menunjukkan bahwa banyak gagasan yang kini dianggap sebagai bagian dari Theravāda ternyata merupakan perkembangan yang muncul jauh setelah masa Buddha. Melalui perbandingan dengan apa yang disebut sebagai Early Buddhist Texts (EBT), ia mengajak pembaca membedakan antara lapisan ajaran yang lebih awal dan berbagai penafsiran yang berkembang kemudian.

Dalam banyak hal, upaya yang dilakukan Bhikkhu Sujato ini layak diapresiasi. Tradisi keagamaan mana pun selalu berhadapan dengan risiko menganggap seluruh warisannya sebagai sesuatu yang turun langsung dari pendirinya. Padahal sejarah biasanya jauh lebih rumit. Tradisi melestarikan, tetapi tradisi juga menafsirkan. Tradisi menjaga, tetapi tradisi juga berubah. Karena itu, keberanian untuk memeriksa kembali asumsi-asumsi yang telah lama diterima merupakan salah satu kekuatan utama buku ini.

Namun justru ketika membaca buku versi terjemahan dari karya Bhikkhu Sujato yang berjudul asli How Early Buddhism differs from Theravada a handy checklist ini. Muncul sebuah pertanyaan yang lebih mendasar. Jika berbagai doktrin dan penafsiran tradisional perlu diperiksa kembali karena dianggap menjauh dari lapisan ajaran yang lebih awal, apa yang memberi legitimasi pada klaim mengenai “Buddhadharma awal” itu sendiri?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar perdebatan antara Theravāda dan EBT. Sebab ketika kita mengatakan bahwa suatu ajaran lebih dekat dengan Buddha, apa sebenarnya yang kita maksud? Apakah karena teksnya lebih tua? Karena bentuk bahasanya lebih kuno? Karena ia ditemukan dalam berbagai tradisi Buddhis yang berbeda? Semua pertimbangan tersebut tentu penting. Namun apakah kedekatan historis dengan masa Buddha otomatis menjadikan suatu ajaran lebih benar secara dharma?

Di sinilah saya melihat persoalan yang menarik. Kajian sejarah dapat membantu kita memahami dari mana sebuah gagasan berasal. Ia dapat menunjukkan mana yang kemungkinan lebih tua dan mana yang muncul belakangan. Tetapi sejarah tidak dengan sendirinya dapat menjawab pertanyaan lain yang tidak kalah penting: bagaimana sebuah ajaran seharusnya dinilai?

Sebuah gagasan mungkin sangat tua, tetapi masih dapat dipahami secara keliru. Sebaliknya, suatu penjelasan yang muncul berabad-abad kemudian belum tentu kehilangan nilainya hanya karena tidak berasal dari lapisan paling awal. Pertanyaan tentang usia suatu ajaran dan pertanyaan tentang daya transformasinya ternyata tidak selalu identik. Di titik inilah diskusi tentang Buddhadharma awal mulai bergeser dari persoalan sejarah menuju persoalan yang lebih mendasar: persoalan tentang otoritas.

Sering kali kita membayangkan bahwa masalah utama terletak pada otoritas tradisional. Namun sejarah intelektual menunjukkan sesuatu yang lebih halus. Ketika satu sumber otoritas kehilangan kewibawaannya, manusia cenderung mencari penggantinya. Jika sebelumnya suatu pandangan diterima karena diwariskan oleh tradisi, kini pandangan lain dapat diterima karena dianggap lebih dekat dengan sumber yang lebih tua. Yang berubah bukan selalu strukturnya, melainkan dasar legitimasi yang digunakan.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah suatu ajaran berasal dari kitab ulasan, dari Theravāda, atau dari lapisan EBT yang lebih awal. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dilakukan ajaran itu terhadap cara kita melihat?

Apakah ia membantu mengurangi mencengkeram, penolakan, dan kebingungan? Apakah ia menumbuhkan kejernihan dan kewaskitaan? Apakah ia membuka ruang penyelidikan yang lebih luas, atau justru menjadi identitas baru yang harus dipertahankan?

Dalam terang pertanyaan-pertanyaan semacam ini, pencarian terhadap Buddhadharma awal memperoleh makna yang berbeda. Ia tidak lagi semata-mata menjadi usaha menemukan ajaran yang paling tua, melainkan usaha memahami bagaimana suatu ajaran bekerja dalam kehidupan manusia. Mungkin karena itu, pertanyaan tentang Buddhadharma awal pada akhirnya tidak menemukan tujuannya pada masa lalu. Ia menemukan tujuannya pada kualitas penglihatan yang dihadirkannya saat ini. Sejarah tetap penting. Tradisi tetap penting. Kajian tekstual tetap penting. Namun semuanya pada akhirnya menunjuk ke arah yang sama: berkembangnya kemampuan untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya—yathābhūta-jñāna-darśana.

Resensi ini merupakan versi ringkas dari sebuah kajian yang lebih panjang mengenai legitimasi klaim “Buddhadharma awal”, hubungan antara sejarah dan otoritas dalam studi Buddhis, serta relevansinya terhadap yathābhūta-jñāna-darśana. Bagi pembaca yang ingin menelusuri argumentasi secara lebih mendalam, versi lengkap dapat diunduh melalui Pustaka Institut Nagarjuna.

Siapa Bhikkhu Sujato?

Bhikkhu Sujato adalah seorang biku Theravada asal Australia yang dikenal sebagai salah satu pendiri SuttaCentral. Sebuah platform daring penyedia terjemahan gratis naskah-naskah Buddhis awal (EBT) beserta teks aslinya dalam berbagai bahasa. Melalui proyek ini, ia berupaya memperluas akses masyarakat dunia terhadap ajaran-ajaran awal Buddha secara terbuka dan mudah diakses.

Saat ini Bhikkhu Sujato menetap di Sydney, Australia, di Vihara Lokanta. Sebuah wihara yang didirikannya pada 2019 bersama para siswa dan umat pendukungnya. Secara harfiah Vihara Lokanta berarti “Biara di Ujung Dunia”. Wihara yang didirikan Bhikkhu Sujato ini ditujukan sebagai pusat praktik, pembelajaran, dan pengembangan Buddhadharma.

Pada pendahuluan bukunya, Bhikkhu Sujato menjelaskan bahwa karyanya ini tidak untuk melacak perubahan historis istilah-istilah dan gagasan-gagasan dari EBT. Ia memposisikan karyanya bukan sebagai tesis tapi daftar perika (checklist). Dan juga tidak membahasa berbagai gagasan yang tidak ada di EBT. Bhikkhu Sujato berupaya untuk menunjukkan dimana letak perubahan dari EBT, konteksnya, dan mengapa itu penting. Daftar periksa ini diharapkan dapat membantu para pembelajar EBT.

 

LEAVE A REPLY