Kwee Tek Hoay dan Buddhadharma Indonesia

Kwee Tek Hoay selama ini lebih dikenal sebagai sastrawan Melayu-Tionghoa dan tokoh Tridharma Indonesia. Namun penelitian akademik menunjukkan bahwa ia juga merupakan salah satu pelopor penting kebangkitan Buddhadharma modern di Indonesia. Melalui novel, media, dan aktivitas intelektualnya, Kwee Tek Hoay menghadirkan gagasan-gagasan Buddhis di masa kolonial.

Temuan ini terlihat dalam penelitian Yulianti (2017) Jejak Buddhisme Dalam Novel Karya Kwee Tek Hoay “Boenga Roos dari Tjikembang”: Perspektif Fenomenologi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa karya-karya Kwee Tek Hoay menyimpan refleksi spiritual Buddhis yang kuat dan menjadi bagian dari proses munculnya kesadaran Buddhis modern di Hindia Belanda.

Intelektual Peranakan dari Bogor

Kwee Tek Hoay lahir di Buitenzorg (Bogor) pada 31 Juli 1886 dari keluarga peranakan Tionghoa asal Fujian, Tiongkok. Ia tumbuh dalam lingkungan budaya Tionghoa yang kuat, tetapi sejak muda tertarik pada bahasa Melayu, filsafat, agama, dan dunia intelektual.

Ia belajar bahasa Inggris dari guru Tiong Hoa Hwee Koan dan mempelajari bahasa Belanda dari tokoh-tokoh Theosofi seperti Hinloopen Labberton dan Wotman. Meski tidak memperoleh pendidikan tinggi formal, ia berkembang menjadi salah satu intelektual Melayu-Tionghoa paling produktif pada awal abad ke-20.

Kwee Tek Hoay aktif sebagai jurnalis, editor, dan penulis novel. Ia terlibat dalam penerbitan berbagai media seperti Panorama, Moestika Dharma, dan Sam Kaw Gwat Po. Namun di balik aktivitas sastranya, terdapat pencarian spiritual yang sangat kuat.

Buddhadharma di Era Kolonial

Selama ini kebangkitan agama Buddha Indonesia sering dikaitkan dengan kedatangan Bhikkhu Narada dari Sri Lanka pada 1934. Namun Yulianti menilai bahwa benih-benih Buddhadharma sebenarnya sudah hidup sebelumnya di kalangan peranakan Tionghoa melalui tokoh-tokoh seperti Kwee Tek Hoay (Yulianti 2017: 255–256).

Sebenarnya memang perlu dipilah bahwa momen 1934 tersebut adalah menyangkut sejarah aliran Theravada. Sementara untuk Mahayana dalam bentuk keberadaan kelenteng, sejarahnya jauh lebih panjang. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan para biksu yang terbukti dalam temuan penelitian Chinese Ephigrapic Materials in Indonesia. Baik Vol. I: Sumatra, dan Vol. 2: Jawa yang dieditori Wolfgang Franke (1988). Dimana Franke berkolaborasi dengan Claudine Salmon dan Anthony Siu, dengan asistensi dari Hu Chu-yin dan Theo Lee Kheng. Keberadaan biksu Mahayana terekam jelas di kelenteng-kelenteng tertua di Jawa dan Sumatra.

Demikian pula penelitian Salmon dan Lombard terhadap kelenteng-kelenteng di Jakarta dan kemudian Jawa, ditemukan misalnya di Jin De Yuan terdapat 18 biksu yang tinggal di vihara pertama Batavia tersebut, dengan nama awal Kwan Im Teng berdiri 1650. Demikian pula temuan di rumah abu miliki Tiao Kak Sie Cirebon, yang karena perkembangan dipindahkan ke lokasi yang sekarang bernama Jalan Talang. Bahwa plakat-plakat di rumah abu tersebut, terdapat nama biksu-biksu yang pernah bertugas di Tiao Kak Sie yang memiliki dewata utama Kwan Im, dan sekarang bernama Vihara Dewi Welas Asih. Lebih lengkap bisa disimak kajian Kelenteng Tempat Ibadah Agama Apa?

Gagasan Buddhadharma dalam Karya Kwee Tek Hoay: Karma

Novel-novel seperti Boenga Roos dari Tjikembang dan Allah Jang Palsoe disebut telah memuat gagasan Buddhis sebelum kebangkitan organisasi Buddhis modern di Indonesia (Yulianti 2017: 256).

Hal ini menunjukkan bahwa kebangkitan Buddhadharma Indonesia tidak semata berasal dari pengaruh luar, tetapi juga tumbuh dari refleksi intelektual masyarakat peranakan sendiri.

Dalam Boenga Roos dari Tjikembang, Yulianti menemukan pola sebab-akibat moral yang sangat kuat. Tokoh Ay Tjeng meninggalkan Marsiti demi status sosial dan pernikahan yang menguntungkan secara ekonomi. Namun keputusan tersebut justru membawa penderitaan panjang dalam hidupnya (Yulianti 2017: 260–262).

Menurut penelitian tersebut, pola ini dekat dengan konsep karma Buddhis: tindakan manusia menghasilkan akibat moralnya sendiri.

Penderitaan para tokoh tidak digambarkan sebagai hukuman ilahi, melainkan sebagai konsekuensi dari keterikatan, ambisi, dan keputusan hidup mereka sendiri.

Dukkha dalam Novel Kwee Tek Hoay

Penelitian Yulianti juga menunjukkan bahwa hampir seluruh tokoh utama dalam novel mengalami penderitaan eksistensial. Institut Nagarjuna memilih istilah ketidaksetaraan eksistensial untuk menerjemahkan dukkha.

Marsiti menderita karena cinta dan perpisahan.
Ay Tjeng menderita karena ambisi sosial.
Gwat Nio tenggelam dalam kesedihan akibat kehilangan anak.
Bian Koen hidup dalam duka setelah kematian Lily (Yulianti 2017: 261–262).

Keseluruhan cerita dipenuhi tema:

  • kehilangan,
  • keterikatan,
  • penyesalan,
  • kematian,
  • dan ketidakpuasan hidup.

Hal ini sangat dekat dengan konsep dukkha dalam Buddhadharma, yakni kenyataan bahwa kehidupan duniawi selalu mengandung ketidakpuasan dan ketidakpastian. Ketidakselarasan eksistensial yang diibaratkan roda yang tidak terpasang tepat pada porosnya.

Karena itu, novel Kwee Tek Hoay dapat dibaca bukan sekadar roman percintaan, tetapi refleksi filosofis tentang penderitaan manusia.

Pengaruh Theosofi dan Buddhadharma Modern

Jejak Buddhis dalam novel juga muncul secara eksplisit melalui pengaruh Theosofi.

Dalam salah satu bagian novel disebutkan: “Ia sangat tertarik dengan pelajaran Theosophy jang sebagian besar ada menggenggam pelajaran dari Agama Buddha”. Setelah kehilangan anak mereka, Ay Tjeng dan Gwat Nio mendalami spiritualitas dan Theosofi untuk memahami penderitaan hidup (Yulianti 2017: 262).

Kondisi ini juga mencerminkan kehidupan pribadi Kwee Tek Hoay sendiri yang aktif dalam Theosophical Society dan sering memberikan ceramah spiritual (Yulianti 2017: 259).

Ia bahkan disebut sebagai salah satu tokoh yang membantu menghadirkan Bhikkhu Narada ke Indonesia dan ikut mendorong kebangkitan Buddhadharma modern (Yulianti 2017: 259–260).

Kwan Im dan Spiritualitas Peranakan

Yulianti juga menyoroti kemunculan figur Kwan Im dalam novel. Tokoh Gwat Nio digambarkan seperti “Dewi Kwan Im mendjelma ke doenia” (Hoay 1927: 25).

  1. Menurut penelitian tersebut, kemunculan Kwan Im bukan sekadar unsur budaya Tionghoa, tetapi bagian dari kesadaran spiritual Buddhis masyarakat peranakan saat itu (Yulianti 2017: 261). Hal ini tentu tidak mengherankan, karena kalau kita lihat lanskap keagaaman dari daerah asal leluhur Tionghoa awal. Memang di masa tersebut, didominasi Buddhadharma Tionghoa dengan Kwan Im sebagai bodhisatwa yang paling banyak dipuja. Baik karena sejak masa pelayaran bhiksu Fa Hien, I Tzing dan sebagainya dicatat sebagai pelindung pelayaran. Juga dianggap pelindung para perantau di daerah perantauannya.  Tokoh lain yang juga dianggap pelindung perantauan Hokkian di perantauan adalah Co Su Kong, seorang biksu dari Anxi yang memiliki banyak kontribusi di jamannya.

Ini menunjukkan bahwa Avalokitesvara atau Kwan Im telah hidup sebagai simbol welas asih dalam lanskap religius komunitas Tionghoa Buddhis di Hindia Belanda. Sejak Batavia mulai direncanakan untuk dibangun pada 1600-an, dan didatangkannya orang-orang Tionghoa dari pesisir Tiongkok. Terbukti dari bangunan ibadah pertama yang dibangun adalah Kwan Im Teng di Batavia.

Di luar dunia sastra dan aktivitasnya di perkumpulan Theosofi, Kwee Tek Hoay sangat memperhatikan pembentukan identitas keagamaan masyarakat peranakan Tionghoa di Indonesia.

Kwee Tek Hoay merupakan salah satu tokoh paling penting dalam perkembangan Sam Kauw atau Tri Dharma di Indonesia. Melalui tulisan, ceramah, majalah Moestika Dharma, serta aktivitas organisasionalnya sejak dekade 1920-an hingga 1930-an, ia berupaya menjembatani tradisi Buddhadharma, Taoisme, dan ajaran Konghucu dalam satu kerangka spiritual masyarakat Tionghoa Indonesia. Kwee memandang Sam Kauw bukan sekadar sinkretisme ritual, melainkan jalan etis dan spiritual untuk membangun budi pekerti, welas asih, dan kesadaran moral masyarakat modern. Ia juga aktif memperkenalkan ajaran Buddhadharma secara lebih intelektual melalui dialog, penerbitan, dan hubungan dengan gerakan Buddhis internasional.

Bersama tokoh-tokoh sezamannya, ia kemudian ikut melahirkan gerakan Tridharma pada 1934 yang kelak menjadi cikal bakal Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia (Magabutri). Karena jasa besarnya dalam membangun identitas, pemikiran, dan kelembagaan Sam Kauw di Indonesia, Kwee Tek Hoay dikenang hingga kini sebagai “Bapak Tri Dharma Indonesia.”

Sastra dan Kesadaran Kebangsaan

Selain menjadi tokoh Buddhis modern, Kwee Tek Hoay memiliki peranan penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Penelitian Alexander Raymon misalnya, menunjukkan bahwa karya-karya Kwee Tek Hoay menghadirkan orang Tionghoa sebagai bagian integral masyarakat Hindia Belanda, bukan sekadar “orang asing” sebagaimana stereotip sastra kolonial Balai Pustaka (Raymon 2026: 26–40).

Dalam Drama di Boven Digoel, ia bahkan menunjukkan solidaritas terhadap perjuangan anti-kolonial dan gagasan kebangsaan Indonesia (Raymon 2026: 32–33). Melalui sastra dan media, Kwee Tek Hoay memperlihatkan bahwa komunitas Tionghoa dan umat Buddha merupakan bagian penting dari perjalanan Indonesia modern.

Bacaan Lanjutan

Raymon, A 2026. ‘Dari Balai Pustaka ke Kwee Tek Hoay: Perbandingan Representasi Tionghoa dalam Sastra Awal Abad ke-20.’ Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture, Vol. 14, No. 1, pp. 26–40.

Yulianti 2017, ‘Jejak Buddhisme Dalam Novel Karya Kwee Tek Hoay ‘Boenga Roos Dari Tjikembang’: Perspektif Fenomenologi.’ SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities, Vol. 2, No. 1, pp. 255–266.

LEAVE A REPLY