Istilah kelenteng berakar dari Kwan Im Teng, Jadi kelenteng tak lain adalah tempat ibadah agama buddha dengan tradisi Tionghoa.
Agama Buddha berkembang sesuai konteks budaya penganutnya. Leluhur Tionghoa membawa tradisi Chinese Buddhism ke Nusantara. Tempat ibadah awal adalah Kwan Im Teng diserap oleh masyarakat lokal menjadi kelenteng.

Kelenteng adalah tempat ibadah agama apa? pertanyaan ini kerap muncul, khusus di Indonesia. Jawaban singkatnya adalah agama Buddha dalam tradisi Tionghoa yang dikenal sebagai Chinese Buddhism. Istilah ini berasal dari Kwan Im Teng, yaitu tempat pemujaan Bodhisattva Avalokitesvara. Namun di Indonesia, pemahaman tentang kelenteng sering kali rancu dan disalahartikan.

Kajian historis menunjukkan bahwa kelenteng awal di Nusantara berakar pada tradisi Buddhis Mahayana, khususnya dalam devosi terhadap Avalokitesvara sebagai pelindung para perantau (Salmon & Lombard 1997).

Asal Usul Istilah Kelenteng dari Kwan Im Teng

Di Indonesia, masyarakat terbiasa menyebut bangunan rumah ibadah berciri khas Tiongkok sebagai kelenteng. Istilah ini merupakan bentuk serapan dari “Kwan Im Teng”, yang secara harfiah berarti tempat pemujaan Kwan Im. Sebagaimana dicatat dalam kajian klasik tentang komunitas Tionghoa di Jakarta oleh Claudine Salmon dan Denys Lombard dalam Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta.

Masyarakat di Nusantara, khususnya Jawa umumnya menyerap suatu kata berdasarkan apa yang didengar. Atau dapat disebut secara fonetik, seperti kata kantoor (Belanda) jadi kantor, lalu tsap-tshai (雜菜) jadi capcay, tsiah-kue/tsia-kue (炸粿) jadi cakwe, dan tau-hu/tau-fu (豆腐) jadi tahu. Demikianlah Kwan Im Teng diserap menjadi kelenteng.

Kwan Im dan Avalokitesvara dalam Buddhadharma Tionghoa

Perlu dipahami bahwa Kwan Im adalah pelafalan dalam tradisi Tiongkok untuk Bodhisatwa Avalokitesvara dalam Agama Buddha Mahayana. Dengan demikian, pemujaan terhadap Kwan Im Pu Sa merupakan bagian dari praktik keagamaan Buddhadharma Tionghoa (Chinese Buddhism), yang berkembang melalui proses akulturasi antara ajaran Buddha dan kepercayaan lokal masyarakat Tiongkok sejak awal masehi.

Ciri Khas Kelenteng: Arsitektur dan Ikonografi Buddhadharma Tionghoa

Arsitektur, ragam hias, dan ikonografi Tiongkok adalah ciri khas dari wihara Chinese Buddhism. Seperti Naga, Sepasang Singa Penjaga, Cakra, Bunga Teratai, Swastika, Ikan, Mutiara, Pagoda, dan lain sebagainya. Kehadiran singa penjaga di gerbang bukan sekadar ornamen, melainkan simbol yang dalam tradisi Buddhis telah digunakan sejak masa Ashoka sebagai penanda ruang suci dan otoritas Dharma. Buddha sendiri juga disebut Singa diantara bangsa Sakya. Dan salah satu ceramahya oleh Buddha disebut sebagai Auman Singa.

Kwan Im Teng di negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Yang dibangun sejaman dengan Kwan Im Teng-Kwan Im Teng tertua di Indonesia hingga saat ini masih disebut dengan nama aslinya. Sementara di Indonesia karena kebijakan orde baru, umat Buddha menyesuaikan nama kelentengnya. Strateginya adalah mengalihkan dari bahasa Mandarin yang saat itu dilarang, ke bahasa Sansekerta yang tidak dipersoalkan penguasa.  

Diantara Kwan Im Teng tertua di Indonesia adalah Kwan Im Teng/Jin De yuan/Vihara Dharma Bhakti di Glodok. Kwan Im Teng/Vihara Avalokitesvara di Banten. Tiao Kak Sie/Vihara Dewi Welas Asih di Cirebon dan lain-lain. Di Malang juga terdapat En Ang Kiong dengan dewata utama Kwan Im dan di kanan kiri  altarnya berjajar 18 arahat. Orang Tionghoa menyebutnya se pa louhan. Ini semua “Kwan Im Teng” awal komunitas Tionghoa di perantauan.

R.A Kartini dan Praktik Keagamaan di Kelenteng

Sementara di Indonesia menggunakan istilah serapan Kelenteng. Istilah lain yang digunakan adalah Konco, dan Topekong. R. A Kartini dalam salah satu suratnya menuliskan bahwa saat remaja ia pernah sakit dan tidak bisa disembuhkan oleh para dokter. Kemudian keluarganya mengikuti saran seorang Tionghoa untuk berobat ke Topekong Hian Thian Sang Te. Sekarang masyarakat umum menyebutnya Kelenteng Welahan, meski nama resminya tetap Hian Thian Sang Te.

Kartini sebagaimana tulisannya, diminta meminum air yang telah ditaburi abu sisa pembakaran dupa di altar dan ternyata sembuh. Kartini dalam suratnya tersebut juga menyebut bahwa ia adalah anak Buddha. Kemudian mulai bervegetarian sejak saat itu. Di tahun 1800-an tersebut, Kartini jelas menyadari praktik keagamaan di Kelenteng Welahan adalah bersifat Buddhis. Mungkin karena ada kehadiran para bhiksu di kelenteng-kelenteng yang ada pada masa itu. 

Simplifikasi Anggapan Sinkretisme

Kwan Im Teng/JIn De Yuan/Wihara Dharma Bhakti di Glodok menyimpan prasasti nama-nama bhiksu yang pernah menempati wihara tersebut yang berdiri tahun 1650, namun karena kondisi sosial politik yang tidak kondusif sejak terbitnya PP 10 Tahun 1959 hingga meletusnya peristiwa 1965, para bhiksu ini akhirnya meninggalkan Indonesia dan mengungsi ke Tiongkok. Kwan Im Teng/Wihara Dewi Welas Asih di Cirebon juga menyimpan prasasti yang mencatat penyebaran agama Buddha di Cirebon dan sekitarnya pada tahun 1800an.

Praktik keagamaan di kelenteng kerap kali dianggap sinkretis. Mencampuradukkan berbagai kepercayaan khususnya Tao, Buddha, Konghucu. Fenomena ini oleh Denys Lombard dipahami sebagai bentuk “akulturasi berlapis” di Indonesia. Dimana pengaruh Buddha hadir paling awal. Keluwesan Buddhadharma membuka ruang masuknya pengaruh Tao beberapa abad kemudian, berbagi tempat ibadah di satu lahan yang sama (Salmon & Lombard 1996). Kedua agama tersebut memang memiliki kosmologi dewata, sedangkan Konghucu tidak memiliki kosmologi dewata.

Kosmologi Dewata hingga Tri Dharma

Salmon dan Lombard (1996), yang melakukan penelitian terhadap begitu banyak kelenteng di Indonesia. Menggunakan kategori kelenteng berdasarkan dewata utama atau tuan rumah. Jadi ada kelenteng dengan dewata tuan rumah yang berasal dari kosmologi Agama Buddha, dan Agama Tao. Sebagian besar adalah kelenteng Buddha, sedangkan untuk Konghucu, hanya dicatat 1 yaitu Boen Bio Surabaya. Itupun tanpa dewata tuan rumah, tapi hanya dicatat terdapat Konghucu di altar utama.

Tan Chee-Beng bahkan menegaskan bahwa apa yang disebut “sinkretisme Tionghoa” sesungguhnya merupakan sistem religius yang koheren (Tan 2000). Jelas sekali Chinese Buddhism dan Taoism yang dipraktikkan di kelenteng, bukan Confusianism. Bahkan tokoh seperti Kwee Tek Hoay, mendirikan Sam Kauw yang kemudian berubah menjadi Tri Dharma. Tak lain merupakan Majelis Agama Buddha Tri Dharma. Umat Buddha yang mempelajari 3 ajaran sekaligus, yaitu Buddha, Tao dan Konghucu.

Apa Itu Chinese Buddhism dalam Tradisi Kelenteng?

Chinese Buddhism atau Buddhadharma Tionghoa adalah bentuk perkembangan Agama Buddha yang masuk ke Tiongkok sejak awal Masehi melalui jalur perdagangan dan para bhiksu dari India dan Asia Tengah. Seiring waktu, ajaran Buddha tidak hanya diterima, tetapi juga berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Tiongkok, berinteraksi dengan kebudayaan lokal, bahasa, simbol, serta sistem kepercayaan yang telah ada sebelumnya.

Proses panjang ini membuat Agama Buddha tidak tampil sebagai tradisi asing, melainkan menjadi bagian integral dari peradaban Tiongkok. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan gunung-gunung suci Buddhis seperti Wutai Shan, Emei Shan, Jiuhua Shan, dan Putuo Shan yang hingga kini menjadi pusat ziarah. Dalam konteks yang lebih luas, dari lima agama yang diakui di Tiongkok—Buddha, Tao, Kristen, Katolik, dan Islam—Buddha dan Tao sering dipandang sebagai tradisi yang telah berakar dalam kebudayaan Tiongkok itu sendiri.

Dengan demikian, apa yang dikenal sebagai Chinese Buddhism merupakan hasil akulturasi yang berhasil antara ajaran Buddha dan kebudayaan Tiongkok. Bentuk Buddhadharma yang telah beradaptasi inilah yang kemudian dibawa oleh leluhur Tionghoa ke berbagai wilayah perantauan, termasuk Nusantara.

Ikonografi Buddhadharma Tionghoa di Kelenteng

Proses ini tidak hanya membawa ajaran dalam bentuk teks atau ritual, tetapi juga dalam bentuk simbol dan ikonografi. Bagi komunitas perantauan, ikonografi kelenteng menjadi medium penting untuk mentransmisikan nilai-nilai Dharma secara visual, terutama ketika akses terhadap bahasa dan teks tidak selalu tersedia. Karena itu, ragam hias, arsitektur, dan simbol yang terdapat di kelenteng tidak dapat dipahami sekadar sebagai unsur budaya, melainkan sebagai representasi ajaran yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Di tempat-tempat baru ini, mereka mendirikan ruang ibadah seperti Kwan Im Teng atau Tang, yaitu tempat pemujaan Kwan Im Po Sat (Bodhisatwa Avalokitesvara). Melalui ikonografi, penamaan, dan praktik keagamaan yang berkembang, kelenteng menjadi cerminan dari Buddhadharma Tionghoa yang telah berproses panjang dalam sejarah. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini dapat dilihat pada kajian tentang ikonografi kelenteng dalam artikel berikut: Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa.

Singa adalah ikonografi Agama Buddha untuk menandai tempat-tempat suci. Ikonografi ini telah lama digunakan diantaranya sejak 200 tahun sebelum masehi oleh Kaisar Ashoka.
Singa penjaga penjaga Borobudur. Penggunaan singa penjaga konsisten di berbagai peradaban Buddhis dunia.
Mengapa Kwan Im Dominan di Kelenteng?

Catatan tertua tentang Nusantara dari Bhiksu Fa Hien tampaknya bisa menjawab hal ini. Fa Hien yang datang ke Jawa tahun 400 mencatat betapa ganas dan lamanya pelayaran dari Tiongkok ke Jawa. Para pengelana ini umumnya membawa pratima Kwan Im, entah gambar ataupun arca. Bhiksu pengelana ini mencatat bahwa ia pun membawa pratima Kwan Im, dan ketika terjebak badai dasyat ia membaca Ta Pei Cou atau Maha Karuna Dharani dalam bahasa Sansekertanya.

Jadi inilah sebabnya kebanyakan tempat ibadah tertua yang ada di Asia Tenggara adalah Kwan Im Teng. Huruf terakhir menunjukkan keterangan tempat yakni Tang/Teng/Tong. Atau kemudian Yuan, Sie, Bio, Kiong, Ma. Jin De Yuan, salah satu yang tertua di Nusantara, dulu juga bernama Kwan Im Teng yang dibangun sejaman dengan Kwan Im Teng di Singapura dan Malaysia yakni antara 1600-1700.

Sejarah Awal Kelenteng di Batavia

Pembangunan Kwan Im Teng di Batavia mendapat tantangan luar biasa dari Dewan Gereja Batavia yang menentang keras pembangunan tempat ibadah agama Buddha yang dianggap memuja iblis dari kacamata mereka. Beruntunglah perekonomian orang-orang Tionghoa kemudian membaik berkat berkembangnya perkebunan tebu, industri gula dan arak Batavia yang sangat dikenal para pelaut dari berbagai negara.

Peningkatan perekonomian itu pada gilirannya memiliki andil dalam upaya membangun tempat ibadah. Sebuah tempat ibadah sebenarnya sempat dibangun di sisi luar tembok kota, namun akhirnya dibongkar, karena keberatan Dewan Gereja Batavia yang tak segan-segan bersurat langsung ke pusat kerajaan di Netherland. Maka awalnya masyarakat Tionghoa membangun rumah sakit untuk orang miskin (sekarang RS Husada Mangga Besar, belakangan juga bangun yang sekarang namanya RS Budi Kemuliaan di sebelah BI).

Setelah perjuangan panjang, baru menjelang 1650 ijin mendirikan Kwan Im Teng Batavia di daerah Glodok diperoleh. Kwan Im Teng lain juga telah berdiri sebelumnya di areal benteng Kerajaan Banten pada masa yang sama, yang sekarang bernama Vihara Avalokitesvara Banten.

Peran Kelenteng Cirebon dalam Penyebaran Buddhadharma

Selain itu juga terdapat kelenteng dengan dewata utama Kwan Im di wilayah Kerajaan Cirebon. Bernama Tiao Kak Sie yang dibangun tahun 1559. Dalam monografnya Claudine menerjemahkan prasasti yang ada di Wihara Dewi Welas Asih (nama Tiao Kak Sie saat ini). Bahwa kelenteng ini adalah pusat penyebaran agama Buddha di Jawa Barat.

Kwan Im Teng Batavia hancur pasca kerusuhan Tionghoa 1740, dan dibangun kembali dengan nama Jin De Yuan. Atau dalam dialek Hokkien disebut Kim Tek Ie, kelak menyesuaikan nama akibat kebijakan Orba menjadi Wihara Dharma Bhakti. Masyarakat juga mengenalnya sebagai kelenteng Petak Sembilan karena lokasinya.

Istilah Kwan Im Teng inilah yang keberadaanya demikian tua dan mengakar di masyarakat yang mengalami penyesuaian fonetik sesuai lidah masyarakat setempat menjadi klenteng. Sebagaimana proses lidah masyarakat lokal melahirkan nama yan tidak ada maknanya dalam bahasa mandarin tapi sudah melekat sehingga tetap dipakai sebagai nama jalan, wihara bahkan gereja yaitu Toasebio. Dewa utama di Toasebio adalah Cheng Goan Cheng Kun yang kemmudian diidentikkan dengan dewa yang banyak dipuja Tionghoa asal Fujian Selatan yakni Dazhi, maka kemungkinan mereka menyebut tempat memujanya Dazhi Bio atau Dazhi Miao, dan warga lokal kemudian melafalkannya menjadi Toasebio.

Baca juga: Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa

Kelenteng di Bali dan Tradisi Chinese Buddhism

Proses lain terjadi di Bali, karena tempat ibadah Chinese Buddhism tertua disana terkait dengan pembangunan Taman Ayun. Tokoh yang kemudian dipuja sebagai dewa adalah Chen Fu Zheng Ren atau Tan Cin Jin (Hokkien), asal Tiongkok yang sangat dihormati warga Tionghoa Banyuwangi, Bali hingga Lombok. Ia datang ke Kerajaan Blambangan dari Batavia saat Kerajaan Mengwi menguasai Blambangan. Keberhasilannya membangun istana di Blambangan menyebabkan ia diminta membuat istana di Mengwi Bali. Singkat cerita ia akhirnya difitnah, dan diburu untuk dibunuh. Tetapi 2 orang ksatria yang diutus untuk membunuhnya justru akhirnya bertekad menjadi abdi beliau. Makanya arca pengawal di altar beliau tampak berpakaian adat Bali di Banyuwangi.

Leluhur laki-laki Tionghoa disebut Kongco, inilah yang kemudian diserap menjadi Konco, untuk menyebut tempat ibadahnya. Jadi di Bali dan Lombok istilah klenteng tidak sepopuler di Jawa, lebih familiar istilah konco. Penyebutannya bukan kanca (konco atau teman dalam bahasa Jawa) tapi o yang depan dibaca agak seperti u, co nya mirip ucapan “taoco.”).

Sam Poo Kong sebagai Kelenteng Tri Ratna

Informasi tambahan bagi yang pernah sembahyang atau main ke Sam Poo Kong (Klenteng Gedong Batu Semarang), apakah tahu artinya? Kong itu menunjukkan “tempat” sama seperti Bio, Kiong, Sie, Yuan, Teng, Tang, Miao dll yang dalam bahasa Indonesia semua secara sederhana diterjemahkan kuil atau wihara. Sam (tiga) Poo (permata/ratana/ratna-sanskrit/pali) Kong (wihara) jadi dapat diterjemahkan: Wihara Tri Ratna (Wihara Tiga Permata): Buddha, Dharma, dan Sangha.

Perbedaan Kelenteng dan Lithang dalam Tradisi Tionghoa

Jadi setelah anda memahami panjang lebar riwayat klenteng di atas. Jangan rancu dengan rumah ibadah Konghucu yang disebut Li thang/Lidang. Ciri khas paling utama yang membedakan Li thang dengan Kelenteng adalah. Pada Li thang semestinya tidak ada arca dewa-dewa dan bodhisattva apalagi Buddha. Tokoh yang menjadi pusat pemujaan dan penghormatan adalah Nabi Konghucu.

Sedangkan Kelenteng (Chinese Buddhism) yang biasanya di Indonesia dibawah pembinaan Majelis Tri Dharma. Pada altarnya terdapat aneka macam patung Buddha, bodhisattva dan dewa-dewa (termasuk dewa-dewa yang dihormati penganut Taoisme). Pengertian ini penting juga untuk membedakan Kwan im teng (kelenteng) dengan Li thang/Lidang.

Apakah Kelenteng Tempat Ibadah Agama Buddha?

Kelenteng adalah tempat ibadah agama Buddha dalam tradisi Tionghoa (Chinese Buddhism). Ditandai oleh keberadaan altar Buddha, bodhisatwa, serta simbol-simbol Dharma.

Secara historis dan praktis, kelenteng dapat dipahami sebagai tempat ibadah dalam tradisi Buddhadharma Tionghoa (Chinese Buddhism). Hal ini terlihat dari keberadaan altar Buddha dan bodhisatwa, serta ikonografi khas seperti sepasang singa penjaga di gerbang. Singa adalah ikonografi Buddhis yang sejak masa Ashoka digunakan sebagai penanda ruang suci dan otoritas Dharma.

Selain itu, penamaan kelenteng juga banyak merujuk pada terminologi Buddhis, baik dari kanon maupun tradisi. Istilah seperti Yuan, Sie, Kiong, hingga penyebutan Tri Ratna dalam Sam Poo Kong. Menunjukkan keterkaitan langsung dengan ajaran Buddhadharma, meskipun dalam perkembangannya turut berinteraksi dengan tradisi lokal Tiongkok.

Namun demikian, bentuk dan praktik keagamaan di kelenteng merupakan hasil proses panjang akulturasi antara ajaran Buddha dan kebudayaan Tiongkok. Karena itu, ia tidak selalu tampil dalam bentuk yang dapat dengan mudah dikategorikan sebagai “ortodoks” dalam pengertian yang sempit.

Pendekatan ini dapat dipahami melalui konsep Jalan Tengah dalam Buddhadharma. Perumusan filosofisnya secara mendalam dilakukan Nagarjuna melalui Madhyamaka. Jalan Tengah bukan sekadar posisi di antara dua kutub, melainkan cara pandang yang melampaui penetapan ekstrem—baik dalam bentuk klaim identitas yang kaku maupun penolakan total terhadapnya.

Dengan demikian, kelenteng dapat dipahami sebagai tempat ibadah agama Buddha dalam konteks tradisi Tionghoa, sekaligus sebagai wujud bagaimana Buddhadharma beradaptasi dan hidup dalam berbagai kebudayaan. Pemahaman ini memungkinkan kita melihat kelenteng secara lebih utuh—tidak semata sebagai label, tetapi sebagai realitas historis dan kultural yang dinamis.

FAQ

Apakah kelenteng tempat ibadah agama Buddha?

Kelenteng adalah tempat ibadah dalam tradisi Agama Buddha Tionghoa (Chinese Buddhism). Hal ini ditandai oleh keberadaan altar Buddha, bodhisattva, serta ikonografi Dharma seperti singa penjaga di gerbang sebagai penanda ruang suci.

Apa perbedaan kelenteng dan vihara?

Kelenteng adalah istilah generik yang digunakan masyarakat, sedangkan vihara (atau wihara) adalah istilah resmi dalam Agama Buddha. Nama seperti Kwan Im Teng, Jin De Yuan, Tay Kak Sie, atau Sam Poo Kong. Pada dasarnya sudah mengandung penanda tempat ibadah melalui kata seperti Teng, Yuan, Sie, atau Kiong, sehingga penambahan kata “kelenteng” menjadi redundan.

Apakah kelenteng merupakan tempat ibadah agama Konghucu?

Tidak. Sebagian besar kelenteng telah berdiri jauh sebelum konsep Konghucu sebagai agama berkembang dalam konteks modern. Tempat ibadah Konghucu yang khusus disebut Lithang, yang muncul kemudian bersama pembentukan komunitas dan organisasi Konghucu.

Mengapa kelenteng sering disalahartikan sebagai tempat ibadah Konghucu?

Kesalahpahaman ini berkaitan dengan perkembangan kebijakan dan narasi keagamaan di Indonesia. Dalam beberapa periode, kelenteng dikaitkan dengan Konghucu dalam konteks administratif, meskipun secara historis kelenteng berakar pada praktik Agama Buddha Tionghoa (Chinese Buddhism).

__________________________
Eddy Setiawan, Peneliti Institut Nagarjuna.

Referensi

Coppel, C 1983, Indonesian Chinese in Crisis, Oxford University Press, Kuala Lumpur.

Chen, Y 2008, Confucianism as Religion: Controversies and Consequences, Brill, Leiden.

Yu, CF 2020, Chinese Buddhism: A Thematic History, University of Hawaii Press, Honolulu. DOI: https://doi.org/10.2307/j.ctv105b9zz.

Goossaert, V & Palmer, DA 2011, The Religious Question in Modern China, University of Chicago Press, Chicago.

Salmon, C & Lombard, D 2003, Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta: Abad ke-19 dan ke-20, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.

Tan, CB 2000, Chinese Religion in Malaysia: Temples and Communities, Brill, Leiden.

Wang, G 1991, China and the Chinese Overseas, Times Academic Press, Singapore.

Zürcher, E 1959, The Buddhist Conquest of China, Brill, Leiden.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY