Siapa Co Su Kong? Biksu Pelindung Imigran Hokkian yang diangkat sebagai dewa.

Dalam sejarah Buddhadharma Tiongkok, terdapat sejumlah tokoh biksu yang dikenang bukan terutama karena karya filsafat atau penulisan kitab suci, melainkan karena keterlibatan sosial mereka di tengah masyarakat. Salah satu tokoh yang menarik dalam konteks ini adalah Qingshui Zushi (清水祖師), yang di Asia Tenggara lebih populer dengan nama Co Su Kong atau Zushigong. Sosok ini memperlihatkan bagaimana seorang biksu dapat mengalami transformasi historis menjadi figur pemujaan lintas tradisi, bahkan melampaui batas-batas identitas keagamaan formal. Pertanyaannya, siapa Co Su Kong?

Di Indonesia, nama Co Su Kong cukup dikenal dalam komunitas Tionghoa, khususnya di lingkungan kelenteng tradisional Fujian. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa tokoh yang dipuja tersebut pada mulanya adalah seorang biksu Chan (Zen) dari masa Dinasti Song Utara (960–1127). Chingik (2011: 30) bahkan menyebut bahwa Co Su Kong merupakan salah satu contoh tokoh Buddhadharma Humanistik yang dikenang masyarakat karena karya sosial dan kebajikannya, bukan semata-mata karena ritualisme religius. Bahkan bagi masyarakat imigran Hokkian dianggap sebagai dewa pelindungnya di perantauan.

Dalam konteks masyarakat Tionghoa Asia Tenggara, fenomena ini juga berkaitan erat dengan perkembangan kelenteng sebagai ruang religius lintas tradisi. Karena itu, pembahasan mengenai Co Su Kong tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelenteng dan transformasi tradisi Buddhadharma Tionghoa di Nusantara. Co Su Kong menjadi dewata utama di banyak kelenteng Buddhis. Dalam konteks ini, pembaca dapat melihat juga kajian mengenai kelenteng tempat ibadah agama apa untuk memahami posisi historis kelenteng dalam tradisi Buddhadharma Tionghoa.

Dari Biksu Chan Menjadi Patriark Qingshui

Salah satu karya tradisional seperti Qingshui Zushi Benzhuan, mungkin bisa menjawab siapa Co Su Kong. Ia lahir pada tahun 1045 di Yongchun, Fujian, dari keluarga bermarga Chen dengan nama kecil Zhao, Ying, atau Rongzu. Sejak kecil ia dibawa ke Vihara Dayunyuan dan ditahbiskan dengan nama Dharma Puzu. Setelah dewasa, Puzu menjalani retret panjang di Gunung Gaotai Shan sebelum berguru kepada Bhiksu Mingsong di Gunung Dajing Shan. Dalam tradisi Chan, pewarisan jubah dan patra melambangkan transmisi Dharma dari guru kepada murid. Artikel tersebut menyebut bahwa setelah mencapai pencerahan, Puzu memperoleh warisan Dharma dari gurunya dan kemudian kembali menjalankan aktivitas sosial di tengah masyarakat.

Di titik inilah sosok Puzu mulai berubah dari seorang praktisi Chan menjadi figur masyarakat. Ia dikenal menggunakan “berbagai upaya praktis” untuk membantu rakyat, termasuk pembangunan jembatan, pengobatan, hingga ritual mendatangkan hujan. Dalam tradisi masyarakat agraris Fujian, kemampuan mendatangkan hujan memiliki makna sosial yang sangat besar karena berkaitan langsung dengan keselamatan panen dan keberlangsungan hidup komunitas.

Buddhadharma Humanistik dan Aksi Sosial

Berbeda dengan banyak tokoh Buddhadharma lain yang terkenal melalui teks-teks filsafat atau pengajaran meditasi, Co Su Kong justru dikenang karena aktivitas sosialnya. Dalam sumber-sumber sejarah tradisional menurut Chingik (2011: 30) kemampuan mendatangkan hujan Co Su Kong tercatat sampai enam belas kali dalam sumber-sumber sejarah tradisional.

Fenomena ini menarik karena menunjukkan bentuk Buddhadharma yang sangat membumi. Dalam konteks modern, pendekatan demikian dekat dengan konsep “Buddhadharma Humanistik” yang menekankan keterlibatan aktif Buddhadharma dalam persoalan masyarakat sehari-hari. Walaupun istilah Buddhadharma Humanistik sendiri baru populer pada abad ke-20 melalui tokoh seperti Taixu dan Fo Guang Shan, namun spirit dan aksi yang dilakukan Co Su Kong mencerminkan orientasi serupa.

Dalam tradisi Tionghoa, figur religius yang aktif membantu masyarakat sering kali mengalami proses “pendewaan” atau transformasi menjadi pelindung lokal. Hal ini tidak selalu dipahami sebagai perubahan agama, melainkan sebagai bentuk penghormatan budaya terhadap tokoh yang dianggap berjasa besar bagi komunitas. Co Su Kong menjadi contoh jelas dari proses tersebut.

Tokoh Pemujaan Tradisional: Siapa Co Su Kong?

Salah satu aspek paling penting dari sejarah Co Su Kong adalah perubahan identitasnya setelah wafat. Patriark Qingshui yang pada dasarnya seorang biksu pemujaanya meluas dalam kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa, termasuk dalam lingkungan Taoisme.

Fenomena ini menunjukkan cairnya batas antara Buddhadharma, Taoisme, dan agama rakyat Tionghoa. Dalam banyak kasus di Asia Timur dan Asia Tenggara, masyarakat tidak melihat adanya kontradiksi ketika seorang biksu dipuja dalam kelenteng. Salmon dan Lombard (2003) misalnya justru menggunakan indikator dewata utama untuk menentukan jenis kelenteng. Jadi jika dewata utamanya dari kosmologi Buddhis maka itu adalah kelenteng Buddhis, bahasa lain dari vihara atau kuil atau wat.

Di Taiwan misalnya, berdasarkan sensus terdapat 98 kelenteng Co Su Kong, dengan 63 di antaranya berada di Taipei. Taiwan adalah negara yang mengakui 26 agama, dengan mayoritas beragama Buddha (35%), Tao (33%), Non Afiliasi (26,7%), Kristen (3,8%), Lainnya (1,3%). Jadi apa yang di Indonesia disebut kelenteng, di negara lain adalah tempat ibadah agama Buddha atau Tao yang bercampur dengan kepercayaan tradisional rakyat.

Siapa Co Su Kong: Legenda, Mukjizat, dan Memori Kolektif

Popularitas Co Su Kong juga diperkuat oleh berbagai legenda yang berkembang di masyarakat. Salah satu kisah terkenal adalah cerita tentang meditasi Co Su Kong di Gua Air Jernih yang diganggu oleh makhluk-makhluk gaib. Dalam kisah itu, gua dibakar selama tujuh hari tujuh malam, namun Co Su Kong tetap bertahan hidup dalam posisi meditasi. Wajahnya kemudian berubah menjadi hitam dan sejak itu ia dijuluki “Dewa Berwajah Hitam.”

Legenda lain adalah kisah “Luobi Zushi” atau “Sesepuh Hidung Terlepas.” Pada tahun 1867, ketika rupang Co Su Kong diarak di Taipei, hidung rupang tersebut tiba-tiba terlepas. Tidak lama kemudian terjadi gempa besar yang menghancurkan banyak bangunan, sementara warga yang sedang menyaksikan prosesi dianggap selamat karena “diperingatkan” oleh Co Su Kong.

Dalam kajian antropologi agama, kisah-kisah seperti ini berfungsi memperkuat memori kolektif masyarakat sekaligus memperluas legitimasi spiritual tokoh yang dipuja. Mukjizat bukan hanya dipahami sebagai kejadian supranatural, tetapi juga sebagai narasi sosial yang membentuk identitas komunitas. Dan masyarakat awam mungkin lebih banyak mengingat siapa Co Su Kong melalui cara popular dibanding literasi.

Gelar Kehormatan dan Legitimasi Negara

Menariknya, penghormatan terhadap Co Su Kong tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga dari negara. Dinasti Song memberikan sejumlah gelar kehormatan seperti “Mahaguru Zhaoying,” “Mahaguru Zhaoying Ciji,” hingga “Mahaguru Zhaoying Guanghui Ciji Shanli” antara tahun 1164–1210. Jadi pertanyaan siapa Co Su Kong secara historis terjawab oleh keberadaan catatan tentang gelar ini.

Pemberian gelar oleh negara memperlihatkan bahwa tokoh religius lokal memiliki posisi penting dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat. Dalam sejarah Tiongkok, negara sering memberikan legitimasi kepada figur-figur populer yang dianggap membantu ketertiban sosial dan kesejahteraan rakyat.

Penutup

Kisah Qingshui Zushi atau Co Su Kong memperlihatkan bahwa sejarah Buddhadharma Tiongkok tidak hanya dibentuk oleh filsuf besar dan penerjemah sutra, tetapi juga oleh tokoh-tokoh akar rumput yang bekerja langsung di tengah masyarakat. Transformasi Co Su Kong dari biksu Chan menjadi tokoh dewata tradisional menunjukkan bagaimana kebajikan sosial dapat melampaui batas-batas sektarian dan diwariskan lintas generasi.

Dalam konteks Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pemujaan terhadap Co Su Kong juga memperlihatkan eratnya hubungan antara Buddhadharma Fujian, tradisi kelenteng, dan agama rakyat Tionghoa. Sosok ini menjadi contoh bagaimana memori religius dibentuk bukan hanya melalui doktrin, tetapi juga melalui pengalaman sosial, aksi kemanusiaan, dan narasi kolektif masyarakat. Semoga uraian panjang ini menjawab pertanyaan pada judul artikel yaitu Siapa Co Su Kong?

Daftar Pustaka

Chingik 2011, ‘Qingshui Zushi (Bhiksu Cosukong).’ Sinar Dharma, Edisi 27, pp. 27–30.

Demografi Taiwan, 2026, Worldometer, dilihat 07 Mei 2026, (https://www.worldometers.info/id/demografi/demografi-taiwan/).

Salmon, C & Lombard, D 2003, Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta: Abad ke-19 dan ke-20, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.

Wikipedia, Taiwan

 

Siapa Co Su Kong, Siapa Co Su Kong, Siapa Co Su Kong

LEAVE A REPLY