Ketika Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi dalam KTT India–Jepang 2026 di New Delhi. KTT tahunan kali ini adalah yang ke-16, dan perhatian dunia tertuju pada berbagai isu strategis yang menjadi agenda pembahasan. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, dalam KTT India-Jepang 2026 kedua negara kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat Special Strategic and Global Partnership melalui kerja sama di bidang ekonomi, teknologi, investasi, keamanan, serta pertahanan.

Dalam KTT India-Jepang 2026, kedua pemimpin membahas penguatan ketahanan rantai pasok, pengembangan semikonduktor, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), mineral kritis, transisi energi bersih, keamanan maritim, hingga kerja sama di kawasan Indo-Pasifik. Agenda-agenda KTT India-Jepang 2026 mencerminkan semakin eratnya posisi India dan Jepang sebagai dua mitra strategis yang memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas dan kemakmuran kawasan.

Hubungan kedua negara selama ini memang lebih sering dipahami melalui lensa perdagangan, investasi, dan geopolitik. Namun, sebagaimana diingatkan oleh media internasional WION, terdapat sebuah fondasi yang jauh lebih tua dan melampaui hubungan antarnegara modern. Jauh sebelum kedua negara bekerja sama dalam bidang teknologi ataupun pertahanan, India dan Jepang telah dipersatukan oleh perjalanan panjang penyebaran Buddhadharma (Buddhism).

Berawal dari Sarnath

Untuk menelusuri akar hubungan tersebut, kita perlu kembali sekitar 2.500 tahun ke belakang, ke Sarnath, sebuah kawasan yang terletak di pinggiran Varanasi (Kashi) di India.

Di tempat inilah, menurut tradisi Buddhis, Siddhartha Gautama menyampaikan khotbah pertamanya setelah mencapai pencerahan. Peristiwa yang dikenal sebagai Dhammacakkappavattana atau Pemutaran Roda Dharma itu menandai lahirnya Sangha sekaligus dimulainya penyebaran Buddhadharma ke berbagai wilayah Asia.

Perjalanan tersebut berlangsung selama berabad-abad. Dari India, ajaran Buddha menyebar ke Asia Tengah, kemudian ke Tiongkok, dilanjutkan ke Semenanjung Korea, sebelum akhirnya diperkenalkan secara resmi ke Jepang pada abad ke-6 Masehi. Dalam prosesnya, Buddhadharma tidak hanya membawa ajaran keagamaan, tetapi juga filsafat, seni, sastra, arsitektur, pendidikan, serta nilai-nilai yang kemudian membentuk peradaban di berbagai kawasan Asia Timur.

Di Jepang, Buddhadharma berkembang menjadi berbagai tradisi. Salah satu yang paling berpengaruh adalah ajaran Nichiren Daishonin (1222–1282), yang menempatkan Sutra Teratai (Lotus Sutra) sebagai inti praktik spiritual. Melalui tradisi ini dikenal pelafalan Nam Myoho Renge Kyo, yang hingga kini dipraktikkan oleh jutaan umat Buddha di berbagai negara.

KTT India-Jepang 2026 dan Sebuah Siklus Perjalanan

Menariknya, perjalanan sejarah tersebut seolah membentuk sebuah lingkaran.

Tradisi Buddhadharma yang berkembang selama berabad-abad di Jepang kini kembali menemukan banyak pengikut di India, negeri tempat Buddha pertama kali mengajarkan Dharma.

Fenomena ini tampak melalui perkembangan Bharat Soka Gakkai (BSG) atau Soka Gakai India. Organisasi yang merupakan afiliasi India dari Soka Gakkai International, organisasi Buddhis asal Jepang yang mengikuti tradisi Nichiren.

Selama lebih dari tiga dekade terakhir, BSG berkembang di berbagai kota di India melalui kegiatan pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan masyarakat. Menurut WION, praktik melafalkan Nam Myoho Renge Kyo yang dahulu berkembang di Jepang kini semakin banyak dijumpai di berbagai kota di India. Jika pada awalnya berkembang terutama di kota-kota besar, dalam beberapa tahun terakhir penyebarannya juga meluas hingga kota-kota tingkat dua dan tiga.

Fenomena tersebut menjadi contoh menarik mengenai bagaimana pertukaran budaya tidak selalu berlangsung satu arah. Ajaran yang lahir di India berkembang menjadi tradisi yang khas di Jepang, lalu kembali dipraktikkan secara aktif di negeri asalnya dalam bentuk yang telah mengalami perkembangan selama berabad-abad.

Warisan yang Diakui dalam Diplomasi Modern

Hubungan sejarah tersebut juga memperoleh pengakuan dalam diplomasi modern, sebagaimana tersirat pada KTT India-Jepang 2026.

Pada tahun 2015, saat kunjungan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke India, kota Varanasi dan Kyoto menandatangani Partner City Agreement. Kedua kota dipilih bukan karena kedudukannya sebagai pusat pemerintahan, melainkan karena sama-sama memiliki posisi penting dalam warisan spiritual kedua negara. Varanasi berkaitan erat dengan Sarnath sebagai tempat khotbah pertama Buddha, sedangkan Kyoto selama berabad-abad menjadi pusat perkembangan berbagai tradisi Buddhadharma di Jepang.

Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa hubungan India dan Jepang tidak hanya dibangun melalui kepentingan ekonomi dan politik, tetapi juga melalui penghargaan terhadap warisan budaya dan sejarah yang mereka miliki bersama.

Dalam konteks itulah, KTT India–Jepang 2026 (ke-16) memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pertemuan diplomatik rutin. Ketika kedua negara membahas semikonduktor, kecerdasan buatan, keamanan maritim, investasi, dan ketahanan energi, mereka sesungguhnya sedang melanjutkan hubungan yang telah terjalin jauh sebelum lahirnya konsep negara-bangsa modern.

Selama lebih dari dua milenium, Buddhadharma telah menjadi salah satu jembatan peradaban yang menghubungkan India dan Jepang. Warisan tersebut tidak hanya tersimpan di situs-situs bersejarah atau naskah kuno, tetapi juga tetap hidup melalui praktik keagamaan, pertukaran budaya, dan hubungan antarmasyarakat yang terus berkembang hingga hari ini.

Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, sejarah tersebut mengingatkan bahwa diplomasi modern sering kali bertumpu pada ikatan peradaban yang telah dibangun selama berabad-abad. KTT India-Jepang 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana warisan spiritual dapat terus menjadi sumber inspirasi bagi kerja sama internasional pada abad ke-21.

LEAVE A REPLY