Kehidupan Siddhartha Gautama dikenal terutama melalui sumber-sumber Buddhis yang diwariskan selama berabad-abad. Tripitaka dan berbagai teks Buddhis lainnya memuat kisah kelahiran, pelepasan keduniawian, pencapaian Kebuddhaan, serta perjalanan penyebaran ajaran. Namun, ketika sejarah Buddha diteliti melalui pendekatan arkeologi, pertanyaan yang muncul menjadi lebih luas: adakah peninggalan material yang dapat membantu kita memahami dunia tempat Siddhartha Gautama hidup?

Salah satu situs yang memiliki arti penting dalam pembahasan tersebut adalah Piprahwa, sebuah kawasan arkeologi di Distrik Siddharthnagar, Uttar Pradesh, India, tidak jauh dari perbatasan Nepal. Situs ini dikenal karena penemuan sebuah stupa kuno pada 1898 yang di dalamnya ditemukan wadah-wadah relik, benda-benda berharga, serta sebuah inskripsi yang menyebut Buddha dan kaum Sakya.

Penemuan tersebut menjadi salah satu temuan arkeologi Buddhis paling penting pada akhir abad ke-19. Akan tetapi, arti penting Piprahwa tidak hanya terletak pada benda-benda yang ditemukan. Situs ini juga memunculkan pertanyaan mengenai hubungan antara peninggalan arkeologis, tradisi Buddhis tentang pembagian relik Buddha, dan lokasi Kapilavastu sebagai tempat asal komunitas Sakya.

Penemuan Stupa pada 1898

Penemuan Piprahwa berkaitan dengan kegiatan William Claxton Peppé, seorang pemilik perkebunan di kawasan Birdpur pada masa pemerintahan kolonial Inggris. Pada 1898, Peppé melakukan penggalian terhadap sebuah gundukan besar yang kemudian diketahui menyimpan struktur stupa dari bata.

Penggalian tersebut mengungkap bangunan berbentuk kubah dengan ukuran yang cukup besar. Di bagian dalamnya ditemukan sebuah peti batu besar yang berisi sejumlah wadah relik. Benda-benda yang ditemukan mencakup wadah dari batu steatit, sebuah wadah kristal, perhiasan, manik-manik, benda dari emas, serta sisa-sisa tulang dan abu.

Di antara temuan tersebut terdapat sebuah wadah yang memiliki inskripsi dalam aksara Brahmi awal. Inskripsi inilah yang kemudian menarik perhatian para ahli epigrafi dan sejarah India kuno. Penemuan itu dilaporkan dalam tulisan William Claxton Peppé dan Vincent A. Smith yang diterbitkan dalam Journal of the Royal Asiatic Society pada 1898 dengan judul “The Piprāhwā Stūpa, containing relics of Buddha”.

Sejak awal, temuan Piprahwa dihubungkan dengan tradisi mengenai pembagian relik Buddha setelah wafatnya. Dalam tradisi Buddhis, relik jasmani Buddha dibagi kepada sejumlah kelompok yang kemudian membangun stupa untuk menyimpan dan menghormatinya. Salah satu kelompok yang disebut dalam tradisi tersebut adalah kaum Sakya, komunitas tempat Siddhartha Gautama dilahirkan.

Inskripsi yang Menyebut Buddha dan Sakya

Hal paling penting dari temuan Piprahwa adalah inskripsi pada salah satu wadah relik. Teks Prakrit dalam aksara Brahmi tersebut lazim ditransliterasikan sebagai:

sukiti-bhatinam sa-bhaginikanam sa-putadalānam iyaṃ salila-nidhane Budhasa Bhagavate Sakiyanam.

Pembacaan dan penerjemahan inskripsi ini telah menjadi bahan diskusi sejak akhir abad ke-19. Salah satu terjemahan yang banyak dikenal menyatakan bahwa wadah atau tempat penyimpanan relik ini merupakan persembahan kaum Sakya, yaitu saudara-saudara Sukirti, bersama saudara perempuan, anak-anak, dan istri mereka, bagi relik Buddha Yang Terberkahi.

Bagian yang paling menarik adalah penyebutan Budhasa Bhagavate dan Sakiyanam. Kedua unsur tersebut menghubungkan inskripsi dengan Buddha dan kaum Sakya. Karena itu, banyak peneliti menilai bahwa temuan tersebut memberikan bukti epigrafis yang sangat penting bagi sejarah awal pemujaan relik Buddha.

Namun, inskripsi ini tidak boleh dibaca tanpa memperhatikan persoalan filologisnya. Sejak awal, para ahli mengemukakan perbedaan penafsiran mengenai hubungan antara nama-nama yang disebut, kelompok pemberi persembahan, dan relik yang disimpan. J. F. Fleet, misalnya, mengajukan pembacaan yang berbeda dari interpretasi yang kemudian lebih populer. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah inskripsi kuno dapat mengandung persoalan bahasa, tata kalimat, dan konteks sejarah yang tidak selalu mudah diselesaikan.

Karena itu, kesimpulan yang paling aman adalah bahwa inskripsi Piprahwa secara jelas menghubungkan sebuah tempat penyimpanan relik dengan Buddha dan kaum Sakya. Penafsiran lebih rinci mengenai identitas setiap pemberi persembahan dan hubungan kekerabatan mereka perlu disampaikan dengan mempertimbangkan perdebatan epigrafis yang ada.

Relik Buddha dan Tradisi Pembagian Relik

Dalam tradisi Buddhis, setelah Buddha wafat di Kusinara, jasad beliau dikremasi dan relik jasmani dibagikan kepada sejumlah kelompok. Relik tersebut kemudian disimpan dalam stupa-stupa yang dibangun sebagai tempat penghormatan.

Kisah pembagian relik ini dikenal dalam Mahaparinibbana Sutta (Digha Nikaya 16). Teks tersebut menceritakan bahwa sejumlah kelompok dan komunitas mengajukan permintaan untuk memperoleh bagian relik Buddha. Pembagian dilakukan agar relik dapat disimpan dan dihormati di berbagai tempat.

Dalam narasi tersebut, kaum Sakya dari Kapilavastu juga memperoleh bagian relik. Mereka kemudian membangun stupa untuk menyimpannya. Tradisi ini menjadi salah satu alasan mengapa temuan Piprahwa sering dihubungkan dengan stupa relik kaum Sakya.

Hubungan antara teks dan temuan arkeologis memang menarik. Di satu sisi terdapat tradisi tertulis yang menyebut kaum Sakya memperoleh relik Buddha. Di sisi lain terdapat temuan sebuah stupa di kawasan yang secara historis dihubungkan dengan Kapilavastu, dengan inskripsi yang menyebut Buddha dan kaum Sakya.

Kesesuaian tersebut memberikan dasar kuat bagi interpretasi bahwa Piprahwa memiliki hubungan dengan tradisi penyimpanan relik Buddha oleh kaum Sakya. Namun, hubungan antara stupa yang ditemukan, tahap pembangunan bangunan, dan peristiwa pembagian relik pada masa awal perlu dijelaskan secara kronologis. Stupa yang terlihat sekarang merupakan hasil dari beberapa tahap pembangunan dan pemugaran, bukan bangunan yang seluruh bagiannya berasal dari satu masa.

Penanggalan dan Tahap Pembangunan Stupa

Salah satu persoalan penting dalam penelitian Piprahwa adalah penanggalan struktur stupa dan wadah reliknya. Penemuan Peppé pada 1898 kemudian dilanjutkan oleh penggalian arkeologis yang dilakukan Archaeological Survey of India pada awal 1970-an di bawah pimpinan K. M. Srivastava.

Penggalian lanjutan tersebut memberikan informasi baru mengenai tahap pembangunan stupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan mengalami beberapa fase pembangunan. Fase paling awal umumnya dihubungkan dengan masa Maurya, sementara bagian-bagian berikutnya merupakan hasil perluasan atau pembangunan ulang pada masa yang lebih kemudian.

Penelitian lanjutan juga menemukan wadah relik lain pada lapisan yang lebih dalam. Temuan tersebut memunculkan hipotesis bahwa terdapat struktur stupa yang lebih tua di bawah bangunan yang ditemukan Peppé. Dalam interpretasi tertentu, struktur terdalam itu dikaitkan dengan fase awal penyimpanan relik, sedangkan pembangunan berikutnya berhubungan dengan kegiatan pemugaran dan penghormatan pada masa Maurya.

Perbedaan tahap pembangunan ini penting karena tidak semua benda yang ditemukan di Piprahwa harus berasal dari waktu yang sama. Wadah relik, struktur bata, dan benda-benda persembahan dapat memiliki kronologi yang berbeda. Penanggalan masing-masing perlu ditentukan melalui analisis arkeologis, epigrafis, dan tipologis.

Dengan demikian, tidak tepat menyebut seluruh kompleks Piprahwa sebagai bangunan yang didirikan sekaligus pada masa Buddha. Bukti yang tersedia lebih mendukung pemahaman bahwa situs tersebut berkembang melalui beberapa fase, dengan bagian-bagian penting yang berhubungan dengan masa Maurya dan periode sesudahnya.

Piprahwa dan Persoalan Lokasi Kapilavastu

Selain relik Buddha, Piprahwa memiliki arti penting dalam perdebatan mengenai lokasi Kapilavastu. Dalam tradisi Buddhis, Kapilavastu merupakan pusat komunitas Sakya dan tempat Siddhartha Gautama menghabiskan masa awal kehidupannya.

Selama lebih dari satu abad, para peneliti memperdebatkan lokasi Kapilavastu. Dua kawasan yang sering dibahas adalah Piprahwa di wilayah India dan Tilaurakot di wilayah Nepal. Keduanya memiliki temuan arkeologis yang berkaitan dengan permukiman kuno dan tradisi Buddhis.

Penggalian di Piprahwa pada 1970-an menemukan sejumlah segel tanah liat dengan inskripsi Brahmi. Salah satu pembacaannya berbunyi:

Om Devaputra Vihare Kapilavastu Bhikshu Sanghasa.

Inskripsi tersebut umumnya diterjemahkan sebagai keterangan mengenai Sanggha para biksu Kapilavastu yang berada di Wihara Devaputra. Temuan ini menjadi bukti penting bahwa nama Kapilavastu digunakan dalam lingkungan monastik di kawasan Piprahwa pada masa kemudian.

Namun, perlu dibedakan antara bukti keberadaan komunitas atau lembaga monastik yang menggunakan nama Kapilavastu dan bukti bahwa lokasi tersebut merupakan pusat permukiman Sakya pada masa Siddhartha Gautama. Sebuah inskripsi yang menyebut Sanggha Kapilavastu tidak dengan sendirinya menyelesaikan seluruh persoalan lokasi kota kuno tersebut.

Tilaurakot juga memiliki temuan arkeologis yang penting, termasuk struktur pertahanan, gerbang, dan sisa-sisa permukiman kuno. Karena itu, perdebatan mengenai identifikasi Kapilavastu tidak dapat diselesaikan hanya dengan menunjuk satu inskripsi atau satu jenis temuan. Diperlukan pembandingan kronologi, pola permukiman, struktur kota, bukti material, serta kesesuaian geografis dengan sumber-sumber tertulis.

Piprahwa dengan demikian merupakan bagian penting dari lanskap arkeologi yang berkaitan dengan Kapilavastu, tetapi hubungan antara situs ini dan pusat kota Sakya pada masa Siddhartha Gautama tetap harus dibahas secara kritis.

Mengapa Piprahwa Penting bagi Buddhologi?

Piprahwa memiliki arti penting setidaknya dalam tiga hal.

Pertama, situs ini menyediakan bukti epigrafis awal yang menghubungkan Buddha dengan kaum Sakya. Inskripsi pada wadah relik memperlihatkan bahwa nama Buddha dan Sakya telah hadir dalam praktik penyimpanan relik pada masa India kuno. Hal ini menjadi sumber penting bagi penelitian sejarah awal Buddhadharma.

Kedua, temuan Piprahwa membantu memahami perkembangan tradisi stupa dan penghormatan terhadap relik Buddha. Stupa bukan hanya bangunan keagamaan, melainkan juga pusat kegiatan ritual, ingatan kolektif, dan identitas komunitas. Melalui stupa, hubungan antara komunitas, tokoh pendiri, dan warisan ajaran dipelihara lintas generasi.

Ketiga, Piprahwa memperlihatkan bagaimana penelitian sejarah bekerja melalui dialog antara teks dan bukti material. Kisah dalam Mahaparinibbana Sutta dapat dibandingkan dengan inskripsi dan struktur arkeologis. Namun, keduanya tidak harus dipaksakan agar selalu cocok secara sempurna. Teks memiliki konteks penyusunan dan tujuan tertentu, sementara artefak memiliki sejarah penggunaan, pemindahan, dan penempatan yang perlu diteliti.

Pendekatan semacam ini penting agar penelitian Buddhologi tidak hanya mengulang tradisi, tetapi juga mampu menilai bukti secara kritis. Keyakinan keagamaan dan penelitian sejarah dapat memiliki ruang masing-masing tanpa harus saling meniadakan.

Penutup

Penemuan Stupa Piprahwa pada 1898 membuka salah satu jendela penting untuk memahami sejarah awal Buddhadharma. Wadah relik berinskripsi yang menyebut Buddha dan kaum Sakya memberikan bukti material yang sangat berharga. Penggalian lanjutan pada 1970-an memperluas pemahaman mengenai tahap pembangunan stupa dan perkembangan komunitas Buddhis di kawasan tersebut.

Akan tetapi, nilai ilmiah Piprahwa justru semakin kuat ketika temuan-temuannya dibaca secara hati-hati. Inskripsi perlu dipahami melalui kajian epigrafi. Relik dan wadahnya perlu ditempatkan dalam kronologi arkeologis. Sementara itu, identifikasi Piprahwa dengan Kapilavastu harus tetap mempertimbangkan temuan dari situs-situs lain, termasuk Tilaurakot.

Bagi penelitian kehidupan Siddhartha Gautama, Piprahwa bukan sekadar tempat ditemukannya benda-benda kuno. Situs ini memperlihatkan bagaimana ingatan terhadap Buddha dipelihara oleh komunitas yang memiliki hubungan historis dan tradisional dengan beliau. Melalui penelitian terhadap peninggalan material semacam ini, sejarah Buddhadharma dapat dipahami bukan hanya melalui teks, tetapi juga melalui jejak yang ditinggalkan oleh masyarakat masa lampau.

Referensi

Digha Nikaya. Mahaparinibbana Sutta (DN 16).

Peppé, W. C. 1898, ‘The Piprāhwā Stūpa, containing relics of Buddha’, Journal of the Royal Asiatic Society, vol. 30, no. 3, h. 573–588.

Allen, C. 2008, The Buddha and the Sahibs: The Men Who Discovered India’s Lost Religion, John Murray, London.

Falk, H. 2017, ‘The inscription on the Piprahwa reliquary’, kajian epigrafis mengenai inskripsi Piprahwa.

Härtel, H. 2000, kajian arkeologi mengenai Piprahwa dan situs-situs Buddhis awal di kawasan Kapilavastu.

Srivastava, K. M. 1979, laporan penggalian Piprahwa dalam Indian Archaeology: A Review, Archaeological Survey of India, New Delhi.

Smith, V. A. 1898, ‘Kausambi and Sravasti’, Journal of the Royal Asiatic Society.

LEAVE A REPLY