Buddhadharma di era AI dihadirkan Teraverse perusahaan AI asal Jepang dalam bentuk BuddhaBot.
BuddhaBot adalah upaya menghadirkan Buddhadharma di era AI. BuddhaBot adalah karya Teraverse perusahaan AI dari Jepang dan sekarang sedang diujicobakan di Bhutan.

BuddhaBot bukan sekadar eksperimen teknologi, tetapi upaya menerjemahkan ajaran Buddha ke dalam bahasa digital. Di Bhutan, ratusan biksu kini mulai menggunakan chatbot buatan Jepang yang berbasis Akal Imitasi (AI) untuk mencari bimbingan spiritual. Ini menandai bagaimana Agama Buddha, sebagai salah satu agama tertua dunia, terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Teknologi untuk Bimbingan Spiritual

Laporan Mainichi Shimbun yang ditulis oleh Takuro Iwahashi menggambarkan bagaimana chatbot bernama BuddhaBot digunakan oleh komunitas monastik di Thimphu. Sistem ini dirancang untuk menjawab pertanyaan kehidupan sehari-hari dengan merujuk pada ajaran Buddha, memungkinkan pengguna memperoleh nasihat kapan saja dan di mana saja.

Dalam salah satu percobaan, seorang pejabat monastik Bhutan mengajukan pertanyaan tentang cara mengatasi rasa iri. Dalam hitungan detik, BuddhaBot memberikan jawaban yang merujuk pada Dhammapada, menekankan pentingnya pemurnian batin dan praktik welas asih. Respons semacam ini dinilai jelas, sistematis, dan mudah dipahami.

Dari Jepang untuk Dunia Buddhadharma

BuddhaBot dikembangkan oleh Seiji Kumagai dari Kyoto University, bekerja sama dengan perusahaan rintisan AI Teraverse. Gagasan awalnya muncul dari kekhawatiran akan menurunnya keterlibatan umat dalam Agama Buddha di Jepang, bahkan diperkirakan sebagian kuil dapat menghilang dalam beberapa dekade ke depan.

Sejak mulai dikembangkan sekitar 2014, proyek ini bertujuan sederhana namun ambisius: memungkinkan orang “berdialog dengan Buddha” melalui teknologi. Versi awal yang diluncurkan pada 2021 masih terbatas, terutama karena jawaban yang terlalu singkat. Namun, pengembangan berlanjut hingga lahir BuddhaBot Plus, yang memanfaatkan teknologi generatif seperti ChatGPT untuk menghasilkan penjelasan yang lebih mendalam dan kontekstual.

Sejak diterapkan di Bhutan pada 2025, sekitar 450 biksu telah menggunakan sistem ini dalam tahap uji coba. Ketertarikan juga mulai datang dari komunitas Agama Buddha di Sri Lanka dan Thailand.

Antara Inovasi dan Tantangan

Pemanfaatan AI dalam Buddhadharma membuka peluang baru, terutama dalam memperluas akses terhadap ajaran. Bagi sebagian orang, chatbot ini menjadi jembatan untuk mendapatkan bimbingan tanpa harus berhadapan langsung dengan guru spiritual.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Salah satu isu utama adalah risiko hallucination, ketika AI menghasilkan jawaban yang tidak sepenuhnya akurat. Untuk mengurangi risiko ini, pengembang memisahkan kutipan asli dari kitab suci dengan interpretasi yang dihasilkan oleh sistem. Meski demikian, pengguna tetap dituntut untuk memiliki kebijaksanaan dalam memahami jawaban yang diberikan.

Masa Depan BuddhaBot: Dari Chatbot ke Robot Humanoid

Proyek BuddhaBot terus berkembang. Pada 2026, Kumagai bahkan mengumumkan pengembangan robot humanoid yang dilengkapi BuddhaBot Plus. Integrasi antara robotika dan kecerdasan buatan ini membuka kemungkinan baru dalam cara penyebaran ajaran Buddhadharma—tidak hanya melalui teks, tetapi juga interaksi yang lebih personal.

Sebagaimana dikutip oleh Iwahashi dalam laporannya di Mainichi Jepang, Kumagai menyatakan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu “memaksimalkan potensi Buddhadharma”.

Agama Buddha di Akal Imitasi

Fenomena ini menunjukkan bahwa Agama Buddha tidak statis. Dari tradisi lisan, manuskrip, hingga kini ke platform digital, ajaran terus mengalami transformasi mengikuti konteks zaman. BuddhaBot menjadi contoh bagaimana teknologi tidak selalu bertentangan dengan agama, tetapi justru dapat menjadi medium baru untuk memperluas jangkauan dan pemahaman.

Di era AI, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan memengaruhi agama, melainkan bagaimana agama—termasuk Buddhadharma—dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Baca juga: Bhiksu Yang Mun Ternyata AI: Jutaan Orang Kadung Percaya

LEAVE A REPLY