Di tengah dunia yang terus dilanda konflik dan ketegangan, nilai-nilai Agama Buddha kembali menggema di panggung global. Dalam rangka peringatan Hari Waisak di Perserikatan Bangsa-Bangsa, diadakan diskusi bertema “Mempromosikan nilai-nilai Buddhis untuk perdamaian dan kerja sama global.” Diskusi ini menghadirkan pesan yang sederhana namun mendalam. Bahwa perdamaian tidak bisa dilepaskan dari transformasi batin individu.
Kesuksesan Waisak PBB 2025 di Vietnam
Sorotan utama datang dari Duta Besar Do Hung Viet, yang menegaskan bahwa Agama Buddha bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi telah menjadi bagian hidup bangsa Vietnam sejak lama. Dari masa pembangunan hingga mempertahankan negara, nilai-nilai Buddhis berperan dalam menjaga persatuan dan mendorong pembangunan yang inklusif.
Namun yang membuat forum ini terasa lebih hidup adalah kisah konkret yang dibawa Vietnam ke panggung dunia. Keberhasilan penyelenggaraan Waisak PBB 2025 di Ho Chi Minh City menjadi bukti bahwa Agama Buddha bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga energi sosial yang nyata di masa kini. Ribuan biksu, biksuni, dan umat Buddha dari berbagai negara berkumpul, menciptakan ruang perjumpaan lintas budaya yang jarang terjadi pada momen Waisak PBB 2025 lalu tersebut.
Momen paling simbolik adalah ketika relik suci Buddha dari India ditempatkan di Vietnam. Bagi banyak pihak, ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan jembatan persahabatan antarbangsa. Sebuah bahasa universal yang melampaui politik dan batas negara.
Sebagai penutup, Misi Vietnam di PBB juga menayangkan video yang menampilkan sorotan utama kesuksesan perayaan Waisak PBB 2025 di Ho Chi Minh, Vietnam. Video tersebut sekaligus mempromosikan citra komunitas Buddhis yang selaras dengan kehidupan berbangsa serta berkontribusi pada perdamaian dan kerja sama global.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, pesan dari forum ini terasa relevan: mungkin perdamaian global tidak selalu dimulai dari meja perundingan, tetapi dari nilai-nilai batin yang perlahan mengubah cara manusia memandang satu sama lain. Di tengah upaya global mencari titik temu perdamaian, pendekatan Agama Buddha seperti yang juga dikembangkan dalam filsuf Buddhis Nagarjuna menawarkan perspektif jalan tengah—melampaui dikotomi konflik dan membuka ruang dialog yang lebih mendalam.
Sumber: VOV World
























