
Sejarah kerajaan Maurya di India kuno tidak hanya berbicara tentang kekuasaan dan administrasi, tetapi juga tentang warisan spiritual yang mengubah wajah Asia. Jika Kaisar Ashoka dikenal dunia karena perannya menyebarkan agama Buddha, maka cucunya, Samrat Samprati, memainkan peran serupa bagi ajaran Jain.
Kisah dua kaisar ini kembali mencuri perhatian setelah Perdana Menteri Narendra Modi sebagaimana diwartakan Indian Express, meresmikan Museum Samrat Samprati di Koba, Gandhinagar, pada hari Mahavir Jayanti, 31 Maret 2026. Museum yang didedikasikan untuk sejarah Jain dan kehidupan Samprati ini menjadi pengingat bahwa warisan Maurya tidak berhenti pada Agama Buddha saja.
Kontribusi Besar Kaisar Ashoka: Penyebaran Agama Buddha
Kaisar Ashoka, yang memerintah sekitar 269–232 SM, memang meninggalkan jejak yang sulit tertandingi. Setelah perang Kalinga yang berdarah, ia beralih pada ajaran Buddha dan membangun kerangka moral berbasis welas asih, non-kekerasan, dan etika pemerintahan. Menurut sejarawan John E. Cort, Kaisar Ashoka menciptakan model “kerajaan etis” yang hingga hari ini masih hidup dalam imajinasi politik dan keagamaan di Asia.
Ashoka memang memiliki kontribusi terbesar dalam penyebaran Agama Buddha melampaui batas India utara. Bahkan tradisi menandai tempat-tempat suci Agama Buddha dengan patung singa tampaknya dimulai oleh Kaisar Ashoka. Ia menempatkan patung singa empat arah dengan roda dharma di atasnya, pada pilar-pilar tinggi. Inilah yang disebut Pilar Ashoka. Tradisi menempatkan patung singa sebagai penanda tempat suci Buddhis ini, tampak konsisten di berbagai peradaban dunia. Umat Buddha Tionghoa misalnya, selalu menempatkan sepasang singa di depan bangunan kelentengnya. Singa adalah bagian dari ikonografi kelenteng yang menyampaikan pesan dharma leluhur Tionghoa kepada penerusnya di perantauan.
Namun, di balik bayang-bayang kakeknya yang termasyhur, Samprati menulis kisahnya sendiri. Sebagai penganut Jain yang taat, ia menggunakan pengaruh kekaisaran untuk mendukung penyebaran ajaran Mahavira. Ia dikenal membangun ribuan kuil Jain, mendukung para pertapa, dan memfasilitasi misi-misi dakwah ke berbagai penjuru anak benua India—bahkan hingga ke wilayah selatan yang saat itu belum sepenuhnya terjangkau oleh ajaran-ajaran utara.
Yang menarik, Samprati tidak memaksakan keyakinannya melalui kekuasaan. Sebagaimana kakeknya yang memilih jalan persuasi ketimbang paksaan dalam menyebarkan Dharma. Samprati juga mengandalkan pendekatan kultural: membangun infrastruktur keagamaan, mendukung literatur Jain, dan menciptakan ruang bagi pertukaran gagasan. Hasilnya, ajaran Jaini yang sebelumnya lebih terkonsentrasi di wilayah tertentu, mulai menjangkau komunitas yang lebih luas.
Peresmian museum di Gandhinagar ini bukan sekadar acara seremonial. Ia menjadi simbol pengakuan negara terhadap kontribusi Samprati—tokoh yang selama ini kerap terlupakan dalam narasi besar sejarah Maurya.
Baca juga: Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa

















