Selama lebih dari seribu tahun, Bodhgaya—tempat Siddhartha Gautama mencapai Pencerahan—berada dalam kondisi terabaikan. Meskipun lokasi ini tetap dihormati dalam tradisi Buddhis, tidak banyak umat Buddha dari berbagai negara yang berziarah ke sana. Bahkan, menurut penelitian sejarawan Bhadrajee Hewage dari Universitas Oxford, sebelum akhir abad ke-19 umat Buddha Sri Lanka hampir tidak lagi memiliki hubungan langsung dengan Bodhgaya. Hingga kelak hadir Anagarika Dharmapala yang memperjuangkan Bodhgaya sebagai situs Buddhis internasional.
Keadaan tersebut mulai berubah pada tahun 1891 ketika seorang pemuda Sri Lanka bernama Anagarika Dharmapala melakukan perjalanan ziarah ke Bodhgaya. Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan ke tempat suci, melainkan menjadi titik balik yang mengubah arah sejarah Buddhadharma modern.
Anagarika Dharmapala: Putra Saudagar Pejuang Bodhgaya
Anagarika Dharmapala lahir di Kolombo, Sri Lanka, pada 17 September 1864 dengan nama Don David Hewavitarne. Ia berasal dari keluarga Sinhala Buddhis yang sangat berkecukupan. Ayahnya, Don Carolis Hewavitarne, merupakan pengusaha furnitur dan mebel yang sukses pada masa kolonial Inggris, sedangkan ibunya, Mallika Hewavitarne, dikenal sebagai pendukung berbagai kegiatan keagamaan Buddha. Kondisi ekonomi keluarganya memungkinkan Dharmapala memperoleh pendidikan yang baik, termasuk di sekolah-sekolah yang dikelola misionaris pada masa itu.
Meskipun tumbuh dalam lingkungan kolonial Inggris yang kuat dipengaruhi pendidikan Barat, sejak muda Dharmapala tertarik pada gerakan kebangkitan Buddhadharma di Sri Lanka. Ia banyak dipengaruhi tokoh-tokoh seperti Kolonel Henry Steel Olcott dan Helena Blavatsky yang membantu membangkitkan kembali kepercayaan diri umat Buddha di bawah pemerintahan kolonial.
Pada usia sekitar dua puluh tahun, ia mengambil keputusan yang tidak lazim. Ia meninggalkan kehidupan sebagai pewaris keluarga kaya dan memilih menjadi anagarika, seorang petapa awam Buddhis yang menjalani hidup sederhana, selibat, dan mengabdikan seluruh hidupnya bagi penyebaran Buddhadharma. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Anagarika Dharmapala, yang berarti “pelindung Dharma”. Berbeda dengan seorang biku, seorang anagarika tidak ditahbiskan ke dalam Sangha, tetapi menjalankan kehidupan yang hampir sepenuhnya didedikasikan bagi praktik dan pelayanan agama.
Perubahan terbesar dalam hidupnya terjadi pada tahun 1891 ketika ia mengunjungi Bodhgaya, tempat Siddhartha Gautama mencapai Pencerahan. Alih-alih menemukan pusat spiritual Agama Buddha yang megah, Dharmapala menyaksikan Mahabodhi dalam keadaan kurang terawat dan dikelola oleh mahant Hindu Saivite. Pengalaman tersebut mengguncang batinnya dan melahirkan tekad yang kemudian mengubah sejarah Buddhadharma modern.
Perjuangan Dharmapala pada awalnya bertumpu pada dedikasi pribadi, jaringan umat Buddha lintas negara, serta kemampuan organisasinya. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bepergian ke India, Sri Lanka, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat guna menggalang dukungan bagi kebangkitan Buddhadharma dan penyelamatan Bodhgaya. Aktivitasnya menjadikan Dharmapala salah satu tokoh Buddhis pertama yang memperkenalkan Buddhadharma kepada khalayak internasional pada era modern.
Ziarah Anagarika Dharmapala dan Maha Bodhi Society
Ketika tiba di Bodhgaya, Dharmapala mendapati kenyataan yang sangat berbeda dari bayangannya. Mahabodhi, tempat Buddha mencapai Pencerahan, berada dalam keadaan kurang terawat dan dikelola oleh mahant Hindu Saivite. Kehadiran umat Buddha di sana sangat sedikit. Dalam catatannya, Dharmapala menggambarkan bahwa tempat suci tersebut “terabaikan”, padahal bagi umat Buddha seharusnya merupakan lokasi yang paling dihormati. Pengalaman inilah yang kemudian membentuk misi hidupnya.
Hanya beberapa bulan setelah kembali ke Kolombo pada tahun 1891, Dharmapala mendirikan Maha Bodhi Society. Organisasi ini memiliki tujuan yang sangat jelas, yaitu menghidupkan kembali Buddhadharma di India, mendorong umat Buddha melakukan ziarah ke tempat-tempat suci, serta memperjuangkan agar Mahabodhi kembali dikelola oleh umat Buddha.
Bagi Dharmapala, Bodhgaya bukan sekadar situs bersejarah. Ia memandangnya sebagai pusat spiritual seluruh umat Buddha. Karena itu ia pernah menulis bahwa sebagaimana Mekah bagi umat Islam dan Yerusalem bagi umat Kristen, demikian pula Mahabodhi merupakan tempat paling suci bagi umat Buddha.
Perjuangan Dharmapala tidak berlangsung singkat. Pada tahun 1895, Maha Bodhi Society mengajukan gugatan hukum untuk memperoleh kembali pengelolaan Mahabodhi. Gugatan tersebut tidak berhasil, tetapi perjuangan itu menarik perhatian dunia Buddhis internasional. Dukungan mulai berdatangan dari Sri Lanka, Myanmar, Jepang, Thailand, Tibet, dan negara-negara Buddhis lainnya.
Melalui ceramah, tulisan, dan aktivitas organisasinya, Dharmapala berhasil membangkitkan kesadaran bahwa Bodhgaya merupakan warisan bersama seluruh umat Buddha.
Warisan yang Bertahan Hingga Kini
Anagarika Dharmapala wafat pada tahun 1933 tanpa sempat menyaksikan cita-citanya terwujud sepenuhnya. Namun perjuangannya tidak berhenti. Setelah India merdeka, Pemerintah Bihar membentuk Bodh Gaya Temple Management Committee pada tahun 1949 yang memberikan umat Buddha hak pengelolaan bersama atas kompleks Mahabodhi. Meskipun hingga kini masih terdapat perdebatan mengenai tata kelola situs tersebut, perubahan itu merupakan hasil dari perjuangan panjang yang telah dimulai Dharmapala sejak akhir abad ke-19.
Saat ini Bodhgaya menjadi tujuan ziarah jutaan umat Buddha dari seluruh dunia dan diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Sulit membayangkan kebangkitan Bodhgaya sebagai pusat Buddhadharma modern tanpa peran Anagarika Dharmapala. Ia bukan penemu Bodhgaya, tetapi tokoh yang berhasil membangkitkan kembali perhatian dunia Buddhis terhadap tempat Sang Buddha mencapai Pencerahan.























