Pemerintah Tiongkok menegaskan dukungannya terhadap komunitas Buddhis dalam memperkuat pertukaran internasional dan dialog antarperadaban dunia. Komitmen itu disampaikan dalam peringatan Konferensi Hari Waisak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Day of Vesak) ke-21 yang tahun ini untuk pertama kalinya diselenggarakan di Tiongkok.

Dalam laporan yang dikutip dari China Daily, Ketua Komite Nasional CPPCC sekaligus anggota Standing Committee Politbiro Partai Komunis Tiongkok, Wang Huning, menyatakan bahwa Tiongkok akan terus mendukung komunitas Buddhis untuk membangun hubungan persahabatan dengan komunitas Buddhis dunia berdasarkan prinsip independensi, kesetaraan, persahabatan, dan saling menghormati.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana Buddhadharma tidak hanya dipandang sebagai tradisi spiritual, tetapi juga bagian dari diplomasi budaya dan soft power Tiongkok di tengah perubahan geopolitik global. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing memang semakin aktif mendukung forum kebudayaan, warisan sejarah, dan nilai-nilai lintas peradaban.

Tiongkok Dorong Stabilitas dan Kepastian Global

Wang Huning juga menyinggung berbagai inisiatif global yang diajukan Presiden Xi Jinping, seperti Global Development Initiative, Global Security Initiative, dan Global Civilization Initiative. Berbagai inisiatif tersebut menurutnya, telah menghadirkan stabilitas dan kepastian yang lebih besar di tengah era perubahan yang saling terkait.

Di tengah konteks itu, Buddhadharma menurut Huning, diposisikan sebagai salah satu medium penting dalam memperkuat dialog antarbangsa. Komunitas Buddhis Tiongkok disebut akan terus aktif dalam berbagai platform internasional PBB serta memperluas pertukaran peradaban dan kerja sama lintas budaya.

Konferensi Waisak PBB tahun ini digelar di Wuxi, Provinsi Jiangsu, dengan tema “The Role of Buddhist Wisdom in Promoting Global Sustainable Development and Building a Shared Future for Mankind”. Forum tersebut menghadirkan tokoh Buddhis, akademisi, dan delegasi dari 67 negara dan kawasan.

PKT: Buddhadharma Bagian Penting Peradaban Manusia

Berbagai isu dibahas dalam konferensi tersebut, mulai dari peran kebijaksanaan Buddhis dalam meningkatkan kesejahteraan manusia, kontribusi Buddhadharma terhadap kemakmuran bersama, hingga pembangunan perdamaian global berkelanjutan.

Kepala United Front Work Department PKT, Li Ganjie, menyebut Buddhadharma sebagai bagian penting dari peradaban manusia. Menurutnya, nilai welas asih, harmoni, dan inklusivitas dalam ajaran Buddha sejalan dengan nilai universal kemanusiaan. Dikutip dari China Daily, Li Ganjie menyatakan:

“Buddhadharma merupakan bagian penting dari peradaban manusia, dan konsep welas asih, kebaikan, harmoni, serta inklusivitasnya sejalan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan,’ ujar Li Ganjie, anggota Politbiro Komite Sentral PKT sekaligus Kepala Departemen Kerja Front Persatuan Komite Sentral PKT.”

“Kita harus merangkul berbagai peradaban dengan pikiran terbuka, menghormati jalur pembangunan dan tradisi budaya yang dipilih secara mandiri oleh setiap negara, serta sepenuhnya memanfaatkan peran positif Buddhadharma dan komunitas keagamaan untuk membangun lebih banyak platform pertukaran peradaban dan integrasi budaya serta pariwisata,” tambahnya.

Li juga menyatakan harapannya agar komunitas Buddhis dapat menjawab tuntutan zaman, memperdalam pertukaran dan saling pembelajaran, serta meneruskan tradisi luhur welas asih dan memberi manfaat bagi semua makhluk.”

Pernyataan tersebut menarik untuk dicermati dalam konteks berkembangnya narasi global mengenai Buddhadharma sebagai sumber etika sosial, perdamaian, dan dialog lintas budaya. Tidak lagi semata dipahami sebagai praktik ritual keagamaan, Buddhadharma kini semakin sering ditempatkan dalam percakapan mengenai diplomasi budaya, pembangunan berkelanjutan, hingga relasi antarperadaban.

Buddhadharma Tiongkok dan Dialog Global

Wakil Presiden Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC), Shi Minghai, menyebut saat ini terdapat sekitar 33.500 kuil, 260.000 anggota sangha (biksu dan biksuni), dan 44 perguruan tinggi Buddhis di seluruh Tiongkok. Ia juga menegaskan bahwa Buddhadharma Tiongkok semakin terintegrasi dalam dialog global melalui berbagai forum internasional seperti World Buddhist Forum.

Menurut lembaga survei seperti Pew Research yang mendasarkan jumlah penganut agama melalui pendekatan yang lebih cocok untuk Abrahamic Religion daripada Agama Timur. Jumlah penganut Agama Buddha di Tiongkok adalah 250 juta hingga 360 juta orang. Namun menurut para pakar, jika menggunakan pendekatan yang lebih tepat dengan praktik agama-agama Timur, jumlahnya bisa 2 hingga 3 kali lebih besar.

Berbeda dengan agama Abrahamik yang memiliki sistem keanggotaan di tiap tempat ibadah, umat Buddha bisa bersembahyang ke vihara atau kuil atau kelenteng manapun. Tidak selalu yang terdekat dari rumahnya, bisa jadi ke vihara terpencil di puncak sebuah gunung. Maka kalau ditanya dalam survei apakah menjadi jemaat salah satu tempat ibadah? tentu dijawab tidak.

Pun banyak orang di Tiongkok kalau ditanya afiliasi ke salah satu agama, akan menjawab tidak berafiliasi. Karena di Tiongkok, berafiliasi resmi berarti terdaftar sebagai anggota di salah satu organisasi keagamaan yang ada. Padahal dalam praktiknya mereka Buddhis, namun karena merasa tidak pernah mendaftar secara resmi ke organisasi Buddhis manapun maka mereka menjawab tidak berafiliasi. Meskipun sehari-hari mereka bersembahyang kepada Kwan Im atau Bodhisatwa lainnya, maupun dewata Buddhis. Nah inilah yang tidak ditangkap dalam survei Pew, yang lebih mengandalkan afiliasi resmi.

Penyelenggaraan Hari Waisak PBB di Tiongkok menjadi penanda penting bahwa Buddhadharma Asia kembali memperoleh ruang strategis dalam percakapan global modern — bukan hanya sebagai warisan spiritual, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi kebudayaan dan jembatan antarperadaban dunia.

LEAVE A REPLY