
Diplomasi Buddhis semakin mendapat perhatian dalam kajian hubungan internasional Asia. Buku terbaru menunjukkan bahwa relasi antarnegara di kawasan ini tidak hanya dibentuk oleh negara, kekuatan militer, atau kepentingan ekonomi. Akan tetapi juga oleh agama, jaringan lintas budaya, dan para tokohnya.
Buku yang Membuka Perspektif Baru
Buku Figures of Buddhist Diplomacy in Modern Asia menghadirkan cara pandang baru tentang diplomasi di Asia. Disunting oleh Jack Meng-Tat Chia dari National University of Singapore, buku ini mengumpulkan 22 tulisan dari berbagai disiplin ilmu yang menelusuri bagaimana Buddhisme berperan dalam membentuk hubungan lintas negara. Dukungan dari Social Science Research Council of Singapore menegaskan pentingnya tema ini dalam diskursus akademik kontemporer.
Alih-alih melihat diplomasi semata sebagai urusan negara, buku ini memperkenalkan konsep diplomasi Buddhis—yakni praktik di mana ajaran, institusi, simbol, dan jaringan Buddhisme dimanfaatkan untuk membangun pengaruh, memperkuat hubungan budaya, hingga mendorong inisiatif perdamaian dan strategi geopolitik.
Diplomasi Buddhis Melampaui Formalitas
Selama ini, diplomasi identik dengan peran duta besar atau pejabat negara. Namun, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa di Asia, hubungan antarnegara juga sering terbentuk melalui jalur yang lebih halus dan kultural. Biksu, pemimpin spiritual, dan jaringan vihara lintas negara memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi, membangun kepercayaan, dan menciptakan ruang dialog.
Dengan pendekatan ini, Buddhisme tidak lagi dipahami sebagai ajaran yang sepenuhnya terpisah dari politik. Sebaliknya, ia hadir sebagai kekuatan sosial dan budaya yang aktif memengaruhi praktik diplomasi, terutama dalam konteks Asia yang memiliki sejarah panjang interaksi lintas peradaban.
Tokoh dan Praktik yang Membentuk Diplomasi Buddhis
Buku ini juga menyoroti sejumlah figur penting yang menunjukkan bagaimana diplomasi Buddhis bekerja dalam praktik nyata. Nama-nama seperti Tenzin Gyatso dan Thích Nhất Hạnh memperlihatkan bagaimana ajaran Buddhis dapat menjadi fondasi bagi gerakan perdamaian global. Di sisi lain, tokoh seperti George Yeo, Narendra Modi, hingga Xi Jinping menunjukkan bagaimana nilai dan simbol Buddhisme juga dapat hadir dalam kebijakan negara dan strategi diplomasi.
Melalui berbagai contoh ini, buku tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi Buddhis tidak bersifat tunggal. Ia bisa hadir sebagai upaya membangun perdamaian, memperkuat identitas budaya, maupun sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.
Agama, Soft Power, dan Politik Asia
Pandangan ini diperkuat oleh Chan Heng Chee sebagaimana dikutip dari Mirage News yang menyebut buku ini sebagai kontribusi penting dalam memahami diplomasi di kawasan. Ia menekankan bahwa hubungan internasional di Asia tidak hanya dibentuk oleh kekuatan keras, tetapi juga oleh ide, nilai, dan keyakinan.
Dalam konteks ini, Buddhisme berfungsi sebagai soft power—sebuah kekuatan yang bekerja melalui daya tarik budaya dan moral, bukan tekanan. Jaringan keagamaan, praktik spiritual, dan simbol-simbol Buddhis menjadi medium yang efektif untuk membangun kedekatan antar masyarakat dan negara.
Relevansi bagi Asia dan Indonesia
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, pendekatan seperti diplomasi Buddhis menawarkan alternatif yang lebih dialogis dan kultural. Ia membuka kemungkinan bagi hubungan internasional yang tidak hanya berbasis kepentingan, tetapi juga nilai dan pemahaman bersama.
Bagi Indonesia, konsep ini memiliki relevansi tersendiri. Sejarah panjang interaksi Buddhisme di kawasan Nusantara menunjukkan bahwa agama telah lama menjadi bagian dari jaringan budaya Asia. Membaca ulang diplomasi melalui perspektif Buddhis bukan hanya memperkaya kajian akademik, tetapi juga membuka cara baru dalam memahami posisi Indonesia di tengah dinamika regional.@esa










