Agama Buddha di barat sebagai sebuah pembacaan ulang ini, merupakan catatan reflektif setelah saya menyimak percakapan antara Tyler Cowen dan Donald S. Lopez Jr. dalam program Conversations with Tyler (episode 260, 2025). Dialog ini mempertemukan dua sosok pemikir. Cowen sebagai ekonom dan pewawancara yang gemar menggali sisi filosofis kebudayaan. Dan Lopez sebagai salah satu pakar Buddhologi paling berpengaruh di dunia. Pembicaraannya adalah berbagai lapisan sejarah, teologi, dan mitologi seputar Agama Buddha. Sederhananya, Lopez mengajak pendengar melihat kembali agama Buddha di barat.
Lopez, adalah profesor di University of Michigan. Ia juga penyunting bersama The Princeton Dictionary of Buddhism. Pakar Buddhologi ini telah menghabiskan puluhan tahun meneliti naskah-naskah Sanskerta dan Tibet. Ia juga pernah belajar langsung di sebuah biara Tibet di India. Melalui wawancara ini, ia mengajak pendengar meninjau kembali agama Buddha di Barat dalam banyak hal yang selama ini diterima begitu saja.
Omniscience dan Kemanusiaan Buddha
Lopez membuka pembicaraan dengan menjelaskan pandangan teologis tentang omniscience (kemahatahuan) Buddha. Dalam pandangan Buddhis, Buddha mengetahui seluruh masa lalu, kini, dan masa depan, tetapi bukan karena ia tuhan. Melainkan karena ia telah menyempurnakan diri selama miliaran kelahiran. Buddha, kata Lopez, bukan sosok yang disembah karena kuasa adikodrati. Akan tetapi, seorang manusia yang berhasil mencapai kesempurnaan spiritual tertinggi melalui kebajikan yang terus diasah.
Menariknya, Lopez juga menyinggung kematian Buddha. Kematian dalam ajaran Buddha, bukanlah tragedi spiritual. Melainkan fenomena jasmani yang alamiah bagi setiap makhluk hidup. Menurut teks-teks awal, Buddha wafat setelah menikmati “makanan terakhir” yang menimbulkan serangan pencernaan parah. Namun bagi penganutnya, peristiwa itu bukan penderitaan. Melainkan bagian dari siklus kehidupan yang berakhir. “Nirwana,” ujar Lopez, “bukanlah tempat; ia adalah padamnya api—kondisi ketika bahan bakarnya habis.”
Etika Kosmis tanpa Tuhan
Salah satu gagasan kunci yang dibahas Lopez adalah struktur etis alam semesta tanpa kehadiran Tuhan. Dalam Buddhadharma, hukum karma menjelaskan keteraturan moral dunia. Setiap tindakan memiliki konsekuensi, tidak karena ada otoritas ilahi yang mengadili, tetapi karena realitas itu sendiri bersifat etis. Dengan demikian, penderitaan dan kebahagiaan tidak muncul secara acak. Semuanya adalah buah dari tindakan sebelumnya, entah dalam kehidupan kini atau masa lampau.
Lopez menjelaskan bahwa konsep ini meniadakan kebutuhan akan pencipta, tetapi tetap menghadirkan tatanan kosmis yang bermoral. Dalam sistem Buddhis, terdapat banyak alam kelahiran—dewa, manusia, hewan, hantu kelaparan (preta), brahma dan berbagai tingkat neraka panas maupun dingin. Ini menunjukkan kompleksitas kosmologi Buddhis yang sering disederhanakan oleh tafsir Barat modern. Sehingga agama Buddha di Barat seolah merupakan saringan atas versinya di Timur.
Buddhadharma dan Kekerasan: Mitos “Agama Damai”
Lopez kemudian menyoroti konstruksi Barat terhadap Buddhadharma sebagai “agama damai”. Ia berargumen bahwa citra ini lahir pada abad ke-19, ketika kaum intelektual Eropa—terutama yang anti-Gereja dan cenderung ateis—menemukan teks-teks Buddhis dan mengidealkannya sebagai agama rasional tanpa dogma dan peperangan. Demikianlah agama Buddha di barat dalam perspektif mereka.
Namun, Lopez mengingatkan bahwa sejarah tidak sesederhana itu. Terdapat catatan tentang biksu yang menjadi penasehat politik hingga militer, atau bahkan ikut berperang sebagai pasukan. “Buddha memang mengajarkan anti-kekerasan,” ujarnya. Tetapi dalam perjalanan sejarah terdapat individu-individu Buddhis yang terlibat tindak kekerasan. Baik sebagai raja, ratu, hingga pemimpin agama. Inilah yang perlu diimbangi dalam perkembangan agama Buddha di barat, agar lebih komprehensif.
Realisme Sosial Buddha
Beralih ke aspek sosial, Lopez meluruskan kesalahpahaman umum bahwa Buddha menghapus sistem kasta. Berdasarkan teks Pali, Buddha tidak menghapuskan sistem tersebut. Melainkan membuka jalan spiritual bagi semua kelas sosial. Menurut Lopez, kebebasan spiritual tidak bergantung pada kelahiran sosial, tetapi pada kemampuan untuk menempuh jalan kebajikan dan disiplin batin. Meski demikian, secara historis, kebanyakan bhikkhu awal berasal dari kasta Brahmana dan Ksatria.
Lopez juga menekankan bahwa Buddhadharma berkembang dari tradisi lisan, bukan tulisan. Selama berabad-abad setelah Buddha wafat, ajarannya dipertahankan lewat hafalan kolektif para biku. Dari hapalan tersebutlah kemudian teks-teks itu ditulis. Lopez menyarankan agar setiap studi Buddhis modern harus mempertimbangkan dimensi oralitas ini sebagai bagian dari metodologi sejarah. Masyarakat dengan tingkat literasi tinggi perlu memahami bagaimana pada awalnya kotbah-kotbah Buddha lestari dalam tradisi hapalan oral, sebelum kelak dituliskan.
Menurut penulis, masyarakat Barat yang memang sudah memiliki kebiasaan membaca. Perlu untuk mendalami filsafat Nagarjuna, selain buku-buku populer mengenai agama Buddha yang terbit disana. Karena karya-karya Nagarjuna dapat menjadi fondasi rasional Agama Buddha, dan ini cocok dengan masyarakat rasional di Barat.
Transformasi Buddhadharma Era Digital
Era digital menurut Lopez, menghadirkan bentuk kebangkitan baru agama Buddha di barat. Ritual dan pengajaran kini berlangsung melalui YouTube dan platform daring lainnya. Bahkan, dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI), proyek penerjemahan besar terhadap kanon Buddhis semakin mungkin dilakukan. Bagi Lopez, teknologi mungkin menjadi sarana baru bagi kelangsungan dharma di dunia modern. Suatu bentuk “oralitas digital” yang memperluas cakrawala transmisi ajaran ke berbagai belahan dunia. Agama Buddha di Barat berkembang dari kebiasaan membaca masyarakat barat, hingga penyajian dharma melalui media sosial.























