Pada 25 Februari 2025, proyek riset Agama Buddha di Australia mengadakan rapat kedua Advisory Committee secara daring. Pertemuan ini mempertemukan para akademisi dan pemimpin komunitas Buddhis untuk berbagi temuan terbaru serta memberikan arahan strategis bagi langkah riset selanjutnya.

Dalam sesi laporan lapangan, Dr Juewei Shi memaparkan hasil kunjungan ke Queensland, New South Wales, Darwin, dan Broome. Sementara itu, Dr Sioh-Yang Tan menyampaikan progres keseluruhan proyek. Dr Ruth Fitzpatrick memperkaya diskusi dengan ulasan literatur mengenai perkembangan komunitas Buddhis pada era 1950–1970-an. Prof Cristina Rocha turut membagikan perkembangan terkait buku yang sedang disiapkan, dan rencana pembuatan sumber belajar digital dipresentasikan oleh Prof Sue Smith.

Rapat ini juga menyoroti agenda perjalanan riset berikutnya ke Melbourne, Bendigo, Launceston, Perth, dan Christmas Island. Salah satu fokus utama adalah penyusunan survei nasional pertama tentang Agama Buddha di Australia. Survei ini dirancang untuk menggali identitas Buddhis, ritus-ritus penting dalam kehidupan beragama, serta pandangan komunitas Buddhis terhadap isu-isu kontemporer seperti lingkungan dan teknologi. Prof Anna Halafoff memfasilitasi sesi curah pendapat yang menghasilkan berbagai tema dan rancangan pertanyaan kunci untuk survei tersebut.

Komite kembali menegaskan komitmennya terhadap riset yang inklusif, berpengaruh, dan relevan. Seperti yang disampaikan Venerable Juewei, proyek ini berupaya menjembatani waktu, ruang, dan koneksi terhadap tanah yang disebut Australia.

Agama Buddha di Australia: Bertumbuh Cepat

Negeri Kangguru memiliki keragaman agama yang terus berkembang, dan agama Buddha di Australia merupakan salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat dalam sensus dua dekade terakhir. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh migrasi dari negara-negara Asia, meningkatnya minat masyarakat terhadap praktik meditasi dan mindfulness, serta berkembangnya komunitas dan pusat-pusat Buddhis di berbagai negara bagian. Kondisi ini menjadikan penelitian komprehensif tentang Agama Buddha di Australia semakin penting untuk memahami dinamika sosial, budaya, dan spiritual yang menyertainya.

“Buddhism in Australia: Wellbeing, Belonging, and Social Engagement” Merupakan studi komprehensif pertama tentang Buddhadharma di Australia, proyek tiga tahun ini dilakukan oleh Nan Tien Institute, Deakin University, Western Sydney University, dan Charles Darwin University. Menggunakan metode campuran seperti wawancara sejarah lisan digital, studi warisan budaya, dan survei berskala nasional, proyek ini menelusuri perjalanan Buddhadharma sejak abad ke-19 hingga masa kini.

Institut Nagarjuna di Indonesia, memposisikan diri sebagai lembaga kajian Buddhadharma, dan berupaya memberikan kontribusi melalui dua pilar yaitu pengkajian dan pengembangan komunitas. Simak juga Policy Brief tentang Chattra Borobudur.

Lima Tujuan Utama Proyek
  1. Mendokumentasikan sejarah dan kehidupan beragama para migran Buddhis di Australia sejak 1800-an.

  2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong atau menghambat rasa memiliki dalam masyarakat Australia.

  3. Menganalisis kontribusi individu dan organisasi Buddhis terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan keterlibatan sosial.

  4. Menyelidiki hubungan yang berkembang antara komunitas Buddhis dan masyarakat First Nations.

  5. Meningkatkan literasi keagamaan publik melalui penyediaan sumber belajar tentang Buddhadharma di Australia.

Perkembangan Terbaru Proyek

Selama 2024–2025, tim riset telah melaksanakan berbagai kegiatan, termasuk:

  • perjalanan lapangan ke Queensland, New South Wales, Darwin, Broome, dan Tasmania,

  • workshop penyusunan survei nasional,

  • penyusunan draft monograf proyek,

  • presentasi akademik di konferensi internasional,

  • dan pengembangan sumber edukasi digital.

Dengan fondasi yang semakin kuat, proyek Buddhism in Australia terus bergerak maju untuk menghadirkan pemahaman baru tentang sejarah dan kehidupan Buddhis di Australia—sebuah kontribusi penting bagi kajian agama, migrasi, dan keberagaman budaya.

Mau ikuti perkembangan riset ini? kunjungi situs Buddhisminaustralia

LEAVE A REPLY