Membaca Kembali Makna Sammā Ājīva
Pendahuluan
Tak sedikit di antara kita yang mungkin tengah menekuni disiplin dan praksis Dharma, di saat yang sama juga menggeluti dunia usaha yang kompetitif untuk menopang kebutuhan hidup. Mereka bekerja keras, membangun usaha, mengelola karyawan, menghadapi persaingan, dan setiap hari harus mengambil keputusan yang tidak selalu mudah. Dalam kenyataan seperti itu, sering muncul sebuah kegelisahan yang sederhana tetapi mendalam: mungkinkah seseorang tetap mengupayakan penghidupan yang selaras dengan Dharma ketika lingkungan di sekitarnya justru mendorong cara-cara yang bertolak belakang?
Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Dinamika dunia usaha memang dapat menguras energi dan menguji keteguhan batin. Persaingan yang pada mulanya mendorong orang untuk berkembang perlahan dapat berubah menjadi saling menjatuhkan. Kepercayaan digantikan oleh kecurigaan, sementara keberhasilan seolah hanya dapat diraih dengan mengorbankan pihak lain. Dalam keadaan seperti itu, seseorang yang berusaha memegang Dharma sering kali merasa berada dalam dilema. Jika tetap berpegang pada kejujuran dan keluhuran, apakah ia akan mampu bertahan? Sebaliknya, jika mengikuti arus yang ada, apa yang sesungguhnya sedang dipertahankan—kehidupan, atau justru kelesah di dalam batin?
Barangkali justru di sinilah persoalannya mulai bergeser. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata bagaimana memperoleh penghidupan, melainkan bagaimana kita mengupayakan dan menopang kehidupan itu sendiri.
Sesungguhnya, kegelisahan semacam ini tidak hanya dialami oleh mereka yang berkecimpung di dunia usaha. Setiap hari manusia mengupayakan penghidupannya dalam beragam bentuk. Ada yang berangkat ke sawah sejak matahari belum terbit. Ada yang membuka toko, menuju kantor, menerima pasien, mengajar di ruang kelas, menawarkan jasa, berdagang di pasar, atau mencari pelanggan. Ada yang sedang membangun usaha dengan penuh harapan, ada yang mengirim lamaran pekerjaan sambil menanti kesempatan, ada pula yang bekerja tanpa mengenal lelah agar dapat membiayai pendidikan anak-anaknya atau merawat orang tuanya yang telah lanjut usia. Sekilas semua itu tampak sebagai aktivitas yang berbeda-beda. Namun jika direnungkan lebih dalam, semuanya digerakkan oleh dorongan yang sama: mengupayakan dan menopang kehidupan.
Dorongan itu bukanlah sesuatu yang rendah ataupun persoalan remeh. Ia merupakan bagian dari kenyataan hidup manusia. Kita membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan rasa aman. Kita bekerja karena kehidupan memang memerlukan penopang. Tanpa itu, kehidupan tidak dapat berlangsung. Justru karena itulah, pertanyaan tentang bagaimana kita mengupayakan kehidupan menjadi jauh lebih penting daripada yang sering kita sadari.
Tulisan ini berangkat dari pertanyaan tersebut melalui sebuah pembacaan kembali terhadap Sammā Ājīva (Sanskerta: Samyagājīva), salah satu ruas dalam Delapan Ruas Jalan Para Ariya. Selama ini istilah tersebut hampir selalu diterjemahkan sebagai “mata pencaharian benar” atau “penghidupan benar”. Terjemahan itu tidak keliru. Namun dalam praktiknya, perhatian kita sering kali berhenti pada persoalan jenis pekerjaan yang dianggap benar atau tidak benar menurut Buddhadharma.
Padahal, mungkinkah persoalannya lebih luas daripada itu? Mungkinkah yang sedang dibicarakan Buddha bukan terutama tentang profesi, melainkan tentang cara manusia mengupayakan dan menopang kehidupannya?
Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak tulisan ini. Melalui pembacaan terhadap beberapa teks Dharma utama, kita akan menelusuri kembali keluasan makna Sammā Ājīva serta melihat bagaimana ajaran ini sesungguhnya tidak hanya berbicara mengenai pekerjaan, tetapi juga mengenai cara manusia membangun kesejahteraan, membentuk kualitas batin, dan menopang kehidupan yang selaras dengan Dharma.
Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Ājīva?
Setelah membaca atau mendengar istilah Sammā Ājīva (Penghidupan yang Selaras), kebanyakan orang segera membayangkan persoalan pekerjaan. Tidak mengherankan jika pembahasannya kemudian berkisar pada profesi apa yang boleh atau tidak boleh dijalankan menurut Buddhadharma. Pertanyaan seperti, “Apakah pekerjaan ini termasuk Sammā Ājīva?” atau “Profesi apa saja yang dilarang?” menjadi sangat lazim.
Pembahasan seperti ini tentu memiliki tempatnya. Buddha memang memberikan batas-batas etis mengenai beberapa bentuk penghidupan yang patut dihindari karena secara langsung menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain. Namun, bila perhatian kita berhenti pada daftar profesi tersebut, kita mungkin sedang melihat Sammā Ājīva melalui jendela yang terlalu sempit. Sebab persoalan yang lebih mendasar bukanlah profesinya, melainkan apa yang sebenarnya dimaksud dengan ājīva.
Dalam bahasa Sanskerta, ājīva berakar pada kata √jīv yang berarti hidup, menjalani kehidupan, atau bertahan hidup. Dari akar kata yang sama lahir berbagai istilah yang berkaitan dengan kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, ājīva tidak pertama-tama menunjuk pada suatu profesi tertentu, melainkan pada cara manusia mengupayakan dan menopang kehidupan. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah seluruh arah pembahasan. Jika ājīva dipahami sebagai mata pencaharian, perhatian kita segera tertuju pada pekerjaan. Namun, jika dipahami sebagai cara mengupayakan dan menopang kehidupan, maka cakupannya menjadi jauh lebih luas.
Manusia menopang kehidupannya melalui beragam cara. Ada yang bekerja sebagai pegawai, bertani, berdagang, mengembangkan usaha, mengandalkan keahlian profesional, mengelola aset, ataupun memperoleh dukungan melalui jejaring keluarga dan kerja sama sosial. Keragamannya bukanlah pokok persoalan. Semuanya merupakan cara manusia mengupayakan keberlangsungan hidup. Karena itu, pertanyaan tentang Sammā Ājīva pun berubah. Bukan lagi, “Apakah profesi ini benar?” melainkan, “Bagaimana saya mengupayakan dan menopang kehidupan?”
Perubahan titik berat inilah yang membawa kita kepada wilayah yang jauh lebih mendasar. Yang sedang dibentuk oleh Sammā Ājīva bukan semata-mata etika profesi, melainkan orientasi batin ketika manusia mengupayakan kehidupannya.
Setiap makhluk ingin hidup. Keinginan akan keamanan, kecukupan, dan kesejahteraan merupakan bagian dari kenyataan hidup manusia. Buddhadharma tidak pernah memandang dorongan ini sebagai sesuatu yang harus dimusuhi. Sebaliknya, kehidupan yang berkecukupan memungkinkan seseorang menjalankan tanggung jawabnya dengan lebih baik, merawat keluarga, membantu sesama, dan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan Dharma. Persoalannya bukanlah apakah kita mengupayakan kesejahteraan, melainkan bagaimana kita mengupayakannya.
Persoalan mulai muncul ketika dorongan yang wajar itu dikuasai oleh lobha (hasrat yang menuntut dipenuhi), bertemu dengan dveṣa (penolakan), atau diselimuti moha (kebingungan). Pada saat itulah kesejahteraan dipersempit menjadi persoalan memiliki lebih banyak, sementara cara memperolehnya perlahan kehilangan perhatian. Padahal cara memperoleh kesejahteraan tidak pernah benar-benar terpisah dari kesejahteraan itu sendiri.
Cara kita memperoleh sesuatu sedikit demi sedikit membentuk batin yang memperolehnya. Keuntungan yang lahir dari tipu daya tidak hanya meninggalkan akibat di luar diri, tetapi juga membentuk kecenderungan batin yang semakin terbiasa menipu. Sebaliknya, penghidupan yang dibangun di atas kejujuran, keterampilan, penghormatan terhadap kehidupan, dan sīla (keluhuran perilaku) sebagai lanjaran akan membentuk batin yang semakin mantap. Dengan demikian, Sammā Ājīva tidak hanya bertanya, “Bagaimana saya memperoleh penghasilan?” Ia juga mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: “Sedang menjadi pribadi seperti apakah saya melalui cara saya mengupayakan penghidupan?”
Di sinilah tampak salah satu kekhasan Buddhadharma. Kesejahteraan tidak dipisahkan dari jalan yang mengantarkannya. Cara dan tujuan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Setiap keputusan yang kita ambil dalam mengupayakan kehidupan perlahan membentuk kualitas batin yang akan kita hidupi. Oleh karena itu, pembahasan mengenai Sammā Ājīva tidak dapat berhenti pada daftar profesi yang dibenarkan atau dilarang. Pertanyaan yang lebih mendasar selalu tetap sama:
Ketika saya mengupayakan penghidupan, apakah cara yang saya tempuh sedang memperkuat penderitaan, atau justru sedang menumbuhkan sebab dan kondisi yang menopang kehidupan, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama?
Pertanyaan inilah yang akan menjadi benang merah seluruh pembahasan berikutnya. Sebab, sebagaimana akan kita lihat melalui berbagai teks Dharma, Sammā Ājīva bukan sekadar mengajarkan bagaimana memperoleh penghidupan, melainkan bagaimana mengupayakan dan menopang kehidupan yang selaras dengan Dharma.
Buddhadharma Tidak Menolak Kesejahteraan
Jika Sammā Ājīva dipahami sebagai cara mengupayakan dan menopang kehidupan, maka muncul pertanyaan yang hampir tidak dapat dihindari. Apakah Buddhadharma memandang kesejahteraan sebagai sesuatu yang harus dijauhi?
Pertanyaan ini penting karena tidak sedikit orang mengira bahwa praktik Dharma menuntut seseorang untuk membebaskan seluruh urusan duniawi. Seolah-olah semakin sederhana kehidupan seseorang, semakin dekat pula ia dengan Dharma. Bahkan kadang muncul anggapan bahwa pembicaraan mengenai pekerjaan, usaha, kekayaan, atau kesejahteraan materi adalah wilayah yang kurang spiritual. Pandangan seperti ini sebenarnya tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang diajarkan Buddha.
Buddha tidak pernah mengajarkan bahwa kemiskinan adalah kebajikan. Beliau juga tidak mengajarkan bahwa kesejahteraan dengan sendirinya merupakan penghalang bagi pengembangan batin. Yang menjadi perhatian Buddhadharma bukanlah ada atau bukannya kesejahteraan, melainkan hubungan batin kita dengan kesejahteraan itu, serta cara kesejahteraan tersebut diupayakan.
Perbedaan ini sangat mendasar. Seseorang dapat hidup sederhana tetapi dikuasai oleh lobha , terus-menerus iri terhadap keberhasilan orang lain, atau dipenuhi ketakutan kehilangan apa yang sedikit dimilikinya. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki materi yang menjadikannya tanpa pusat identitas, tanpa memperolehnya melalui cara-cara yang merugikan kehidupan, dan tanpa kehilangan kemurahan hati. Dengan kata lain, permasalahan utamanya bukanlah berapa banyak yang dimiliki, tetapi bagaimana semuanya itu diperoleh, digunakan, dan dihayati.
Pemahaman ini tampak dengan sangat jelas dalam Dīghajāṇu Sutta (Aṅguttara Nikāya 8.54). Dalam sutta tersebut, Dīghajāṇu —seorang perumah tangga—memohon petunjuk kepada Buddha mengenai bagaimana menjalani kehidupan yang membawa kesejahteraan, baik pada kehidupan sekarang maupun pada kehidupan mendatang. Yang menarik, Buddha tidak menjawab dengan meminta Dīghajāṇu meninggalkan kehidupan berumah tangga atau melepaskan seluruh urusan ekonominya. Sebaliknya, Beliau justru menjelaskan empat kondisi yang menopang kesejahteraan hidup seorang perumah tangga pada kehidupan sekarang. Keempatnya adalah: Utthāna-sampadā — kecakapan dan ketekunan dalam bekerja; Arakkha-sampadā — kemampuan menjaga serta mengelola hasil usaha dengan baik; kalyāṇamittatā —memiliki sahabat-sahabat yang baik dan dapat diandalkan; samajīvikatā — Menjalani kehidupan secara seimbang, tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.
Bagian keempat ini sangat menarik untuk dicermati, tidak satu pun berbicara mengenai ritual, tidak satu pun berbicara mengenai keberuntungan gaib dan tidak satu pun meramalkan seseorang meninggalkan pekerjaannya. Sebaliknya, semuanya berbicara mengenai cara hidup, rajin bekerja, mengembangkan keterampilan, menjaga hasil usaha dengan bijaksana, membangun lingkungan pergaulan yang sehat, serta menjalani kehidupan secara selaras dan seimbang. Jika diperhatikan lebih dalam, Buddha sedang menunjukkan bahwa kesejahteraan bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan. Ia lahir melalui sebab dan kondisi yang dapat diusahakan. Di dekatnya kita mulai melihat hubungan yang erat antara Sammā Ājīva dengan Kemunculan Bergantungan (pratītyasamutpāda).
Kesejahteraan bukan benda yang jatuh dari langit, ini merupakan hasil dari jaringan dan kondisi. Ketekunan salah menjadi satu kondisi, keterampilan menjadi kondisi yang mendukung, dan kepercayaan dari orang lain menjadi penguatan kondisi berikutnya. Hubungan yang baik, jujur, kemampuan mengelola, serta hidup secara seimbang juga merupakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kesejahteraan bertumbuh.
Semakin kita melihatnya, semakin tampak bahwa kesejahteraan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia selalu lahir bersama jaringan hubungan yang menopangnya. Penafsiran terhadap Sammā Ājīva mulai berubah secara mendasar. Selama ini kita cenderung bertanya: “Bagaimana saya memperoleh kesejahteraan?” Namun setelah melihat kesejahteraan sebagai hasil dari sebab dan kondisi, pertanyaan itu perlahan bergeser menjadi: “Kondisi-kondisi seperti apa yang sedang saya bangun melalui cara saya mengupayakan kehidupan?”
Perubahan pertanyaan ini sangat penting karena saat itu perhatian kita tidak lagi hanya muncul pada hasil akhir, tetapi juga pada kualitas kondisi yang sedang kita ciptakan setiap hari. Setiap keputusan ekonomi, setiap cara memperoleh penghasilan, setiap hubungan yang kita bangun, setiap pilihan dalam menjalankan usaha atau pekerjaan, sesungguhnya sedang menanam kondisi yang kelak akan ikut membentuk kehidupan kita sendiri. Dengan demikian, kesejahteraan bukan sekadar sesuatu yang kita miliki, melainkan sesuatu yang terus-menerus kita bangun.
Sammā Ājīva menampilkan dirinya bukan sekadar etika profesi, namun sebagai pelatihan untuk membangun sebab dan kondisi yang menopang kehidupan secara berkelanjutan. Akan tetapi, jika kesejahteraan merupakan sesuatu yang boleh dan bahkan perlu diupayakan, pertanyaan berikutnya segera muncul: “Bagaimana cara mengupayakannya agar tidak justru menjadi penyebab penderitaan bagi makhluk lain?”
Untuk menjawab pertanyaan inilah Buddha menggunakan sebuah perumamaan yang sangat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna yang luar biasa: seekor kumbang yang mengambil sari bunga tanpa merusak warna maupun harumnya.
Seperti Kumbang yang mengambil Sari Bunga
Setelah memahami bahwa Buddhadharma tidak menolak kesejahteraan, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak yang berhasil kita miliki. Persoalannya kini bukan lagi apakah kesejahteraan patut diupayakan, melainkan bagaimana kesejahteraan itu diupayakan. Jawaban Buddha terhadap pertanyaan ini tidak disampaikan melalui uraian ekonomi ataupun aturan-aturan yang rumit. Sebaliknya, Beliau menghadirkan sebuah gambaran yang sangat sederhana, bahkan begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam Dhammapada dinyatakan:
“Bagaikan seekor kumbang mengambil sari bunga tanpa merusak warna maupun harumnya, demikian pula hendaknya seorang bijaksana menjalani kehidupannya di tengah masyarakat.” (Dhammapada 49)
Pada pandangan pertama, syair ini tampak sebagai anjuran untuk hidup tanpa mengganggu orang lain. Pembacaan seperti itu tentu tidak salah, tetapi mungkin belum sepenuhnya menampilkan kedalaman maknanya.
Perumpamaan ini menarik justru karena kumbang tetap mengambil sari bunga. Ia tidak diperintahkan untuk tidak mengambil apa pun. Ia tidak diminta mengabaikan kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, ia memperoleh makanan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupannya. Namun cara memperolehnya tidak merusak bunga yang menjadi sumber kehidupannya. Bahkan dalam kenyataan alam, kehadiran kumbang dan lebah justru berperan dalam penyerbukan yang memungkinkan kehidupan baru terus bertumbuh.
Perumpamaan ini menampilkan bahwa mempertahankan kehidupan dan memelihara kehidupan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya dapat berlangsung secara bersamaan. Di dalam terjemahannya terhadap Sammā Ājīva memperoleh dimensi yang lebih luas. Selama pembahasan kali ini mengenai penghidupan sering diarahkan pada pertanyaan apakah suatu pekerjaan diperbolehkan atau tidak. Pertanyaan tersebut memang penting sebagai batas etis dasar. Akan tetapi, Dhammapada mengajak kita melihat sesuatu yang lebih halus. Yang dipersoalkan bukan semata-mata apa yang kita lakukan, melainkan bagaimana cara kita hadir di tengah jejaring kehidupan yang menopang keberadaan kita.
Tidak ada seorangpun yang hidup sepenuhnya dari dirinya sendiri. Setiap makanan yang kita santap, setiap pakaian yang kita kenakan, setiap pengetahuan yang kita miliki, bahkan setiap kesempatan bekerja yang kita peroleh, semuanya lahir dari hubungan yang saling bergantungan. Kehidupan kita selamanya ditopang oleh kehidupan yang lain. Jika demikian, maka mengupayakan penghidupan sesungguhnya bukan sekadar persoalan memperoleh sesuatu dari dunia. Ia sekaligus merupakan cara kita mengambil bagian di dalam dunia yang sama. Di dalam perumpamaan kumbang menjadi sangat bermakna. Kumbang tidak memandang bunga sebagai objek yang dapat dieksploitasi sampai habis. Ia juga tidak meninggalkan bunga tanpa memperoleh apa pun. Hubungan keduanya bukan hubungan yang saling meniadakan, melainkan hubungan yang memungkinkan keduanya tetap hidup.
Pembacaan seperti ini membawa kita semakin dekat pada pemahaman tentang Kemunculan Bergantungan ( pratītyasamutpāda ). Kehidupan tidak pernah berdiri sendiri. Setiap keberhasilan, setiap kesejahteraan, setiap bentuk penghidupan selalu muncul karena disebabkan oleh sebab dan kondisi yang tidak terhitung banyaknya. Menyadari kenyataan ini berarti menyadari bahwa cara kita mencari nafkah bukan hanya akan menentukan kesejahteraan pribadi, tetapi juga ikut membentuk kondisi kehidupan yang lebih luas.
Oleh karena itu, ukuran Sammā Ājīva tidak berhenti pada pertanyaan apakah seseorang memperoleh keuntungan. Keuntungan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dari kehidupan. Yang lebih penting adalah jejak seperti apa yang ditinggalkan oleh cara kita memperoleh keuntungan tersebut.
Ada keuntungan yang diperoleh dengan meninggalkan kerusakan, ketidakpercayaan, dan penderitaan. Ada pula keuntungan yang diperoleh melalui pelayanan, kejujuran, keterampilan, dan penghormatan terhadap kehidupan. Dari luar, keduanya mungkin tampak sama-sama menghasilkan kesejahteraan. Namun dari sudut pandang Dharma, keduanya sedang membangun sebab dan kondisi yang sama sekali berbeda.
Dalam pengertian inilah Sammā Ājīva tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai profesi etika. Ia merupakan latihan untuk mengembangkan suatu cara berada di dunia. Manusia tetap bekerja, tetap memperoleh penghasilan, tetap membangun kesejahteraan, namun seluruh proses itu berlangsung tanpa merusak jaringan kehidupan yang menjadi penopangnya. Sebaliknya, kumbang yang mengambil sari bunga tanpa menghilangkan warna maupun harumnya, penghidupan yang selaras justru meninggalkan ruang bagi kehidupan untuk terus bertumbuh.
Ketika perumamaan ini kita bawa ke dalam pengalaman sehari-hari, pertanyaannya menjadi sangat sederhana, tetapi sekaligus mendalam. Ketika kita pulang setelah bekerja, ketika usaha kita berkembang, atau ketika penghasilan kita bertambah, apakah cara yang kita tempuh telah ikut memelihara kehidupan yang memungkinkan semua itu terjadi? Ataukah kesejahteraan yang kita bangun justru bertumpu pada rusaknya kepercayaan, hilangnya kesempatan orang lain, atau bertambahnya penderitaan di sekitar kita?
Barangkali di sini letak salah satu pesan terdalam dari Dhammapada. Penghidupan yang selaras bukanlah penghidupan yang tidak mengambil apa pun dari dunia. Penghidupan yang selaras adalah penghidupan yang mengetahui bagaimana mengambil secukupnya, dengan cara yang tidak merusak, bahkan memungkinkan kehidupan itu sendiri terus berkembang.
Ketika Mengupayakan Kehidupan Berubah Menjadi Mempertahankan “Aku”
Perumpamaan kumbang dalam Dhammapada menampilkan bahwa memenuhi kebutuhan hidup tidak harus dilakukan dengan merusak kehidupan orang lain. Namun kenyataannya sehari-hari justru menampilkan sesuatu yang berbeda. Persaingan yang semula sehat dapat berubah menjadi permusuhan. Keinginan untuk memperoleh penghidupan berubah menjadi dorongan untuk mengalahkan orang lain. Bahkan tidak jarang seseorang merasa bahwa keberhasilannya hanya mungkin tercapai apabila keberhasilan orang lain dikurangi atau disingkirkan.
Pertanyaannya kemudian menjadi sangat mendasar. Jika setiap orang pada dasarnya menginginkan kehidupan yang tenteram dan sejahtera, mengapa begitu banyak keputusan yang justru memperbesar keresahan, ketidakpuasan, dan pertentangan? Mengapa dalam mengupayakan kehidupan sering kali berakhir dengan cara-cara yang merusak kehidupan itu sendiri?
Buddhadharma mengajak kita melihat bahwa akar persoalan tersebut tidak terletak pada pekerjaan, uang, ataupun kesejahteraan. Persoalannya terletak pada cara batin menanggapi pengalaman.
Sejak bangun pagi hingga kembali beristirahat pada malam hari, hampir setiap keputusan yang kita ambil sesungguhnya gerakan oleh harapan yang sama: kita ingin merasa aman, merasa cukup, dihargai, dan bahagia. Tidak ada seorang pun yang sadar menghendaki penderitaan. Namun, sepanjang hari yang sama, batin juga terus bereaksi terhadap berbagai pengalaman yang datang silih berganti. Keberhasilan orang lain, pujian, celaan, keuntungan, kerugian, kegagalan, maupun harapan yang tidak terpenuhi, semuanya menjadi rangsangan yang memunculkan berbagai tanggapan reaktif, alih-alih pilihan yang benar-benar sadar dan mengarah pada ketenteraman dan kebahagiaan.
Dalam pembahasan mengenai Putaran Roda Dharma, kelesah ( kleśa ; Pāli: kilesa ) dipahami bukan semata-mata sebagai emosi negatif, melainkan sebagai pola reaktif yang terbentuk ketika pengalaman tidak lagi dilihat sebagaimana adanya, melainkan segera dikaitkan dengan identitas diri. Pengalaman yang semula netral berubah menjadi sesuatu yang “menguntungkan saya”, “merugikan saya”, “mengangkat saya”, atau “mengancam saya”. Dari lahirlah kecenderungan untuk menyengkeram pada apa yang dianggap menyenangkan, menolak apa yang dianggap mengganggu, membandingkan diri dengan orang lain, dan mempertahankan gambaran mengenai diri yang ingin terus dipertahankan. Kelesah kemudian tidak lagi hadir sebagai peristiwa sesaat, melainkan perlahan menjadi kebiasaan batin yang membentuk cara berpikir, berbicara, dan bertindak.
Bila mekanisme ini dibawa ke dalam konteks Sammā Ājīva , kita akan melihat bahwa persoalan sebenarnya bukanlah mencari kegiatan penghidupan itu sendiri. Yang mengubah penghidupan menjadi sumber penderitaan adalah ketika usaha mempertahankan kehidupan bergeser menjadi usaha mempertahankan “aku”. Pada saat itu, pekerjaan tidak lagi sekedar menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi berubah menjadi ukuran harga diri. Keberhasilan tidak lagi dipandang sebagai buah dari sebab dan kondisi yang baik, melainkan sebagai pembuktian identitas. Sebaliknya, keberhasilan orang lain mulai dianggap sebagai ancaman terhadap identitas yang sedang kita bangun.
Dalam persaingan kehilangan sifat alaminya. Persaingan yang seharusnya mendorong seseorang bertumbuh berubah menjadi arena perbandingan tanpa akhir. Seseorang tidak lagi merasa cukup karena apa yang dimilikinya, melainkan terus mengukur dirinya berdasarkan apa yang dimiliki orang lain. Ia tidak lagi sibuk memperbaiki kualitas pekerjaannya sendiri, melainkan sibuk mengamati pencapaian orang lain. Semakin perhatian keluar dari pelatihan diri, semakin mudah batin dikuasai oleh rasa iri, kecemasan, dan ketidakpuasan.
Dalam konteks inilah sabda Buddha dalam Dhammapada memperoleh makna yang sangat mendalam:
“Jangan memperhatikan kesalahan orang lain, atau apa yang telah dan belum mereka lakukan. Perhatikanlah apa yang telah dan belum kamu lakukan sendiri.” (Dhammapada 50)
Sekilas syair ini tampak sebagai nasihat moral agar tidak mencampuradukkan urusan orang lain. Akan tetapi, bila dibaca dalam koneksi dengan Sammā Ājīva , maknanya jauh lebih dalam. Buddha tidak hanya melarang seseorang menghakimi orang lain. Beliau sedang mengarahkan kembali perhatian batin kepada satu-satunya wilayah yang benar-benar dapat dilatih, yaitu diri sendiri.
Perhatian merupakan energi batin yang sangat menentukan arah kehidupan. Ketika perhatian terus-menerus diarahkan pada kehidupan orang lain, batin perlahan kehilangan kesempatan untuk melihat proses yang sedang berlangsung di dalam dirinya sendiri. Kita mulai sibuk menghitung keberhasilan orang lain, membandingkan pencapaiannya dengan pencapaian kita, atau menilai apa yang seharusnya dilakukan oleh orang lain. Tanpa disadari, seluruh energi batin habis untuk memelihara dunia yang berada di luar jangkauan latihan kita.
Sebaliknya, ketika perhatian kembali diarahkan kepada apa yang telah dan belum kita lakukan, ruang bagi kewaskitaan mulai terbuka. Bukan karena dunia di luar berubah, melainkan karena batin tidak lagi dikuasai oleh dorongan untuk terus-menerus membandingkan. Di akhir pelatihan Sammā Ājīva bertemu dengan pelatihan batin secara keseluruhan. Penghidupan yang selaras bukan pertama-tama lahir dari profesi tertentu, tetapi dari kemampuan menjaga arah perhatian agar tidak dibajak oleh kelesah.
Dengan demikian, pertanyaan yang semula berbunyi, “Bagaimana saya dapat memperoleh penghidupan?” perlahan berubah menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: “Sedang menjadi manusia seperti apakah saya melalui cara saya mengupayakan kehidupan?” Perubahan pertanyaan inilah yang menjadi titik balik. Sebab sejak saat itu, keberhasilan tidak lagi diukur hanya dari apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga dari kualitas batin yang dibentuk oleh seluruh proses untuk memperolehnya.
Tetap Mantap di Tengah Delapan Angin Dunia
Apabila kelesah merupakan pola batin yang membuat seseorang terus-menerus bereaksi terhadap pengalaman, maka pertanyaan berikutnya adalah: apakah yang sebenarnya memicu reaksi-reaksi tersebut? Mengapa batin begitu mudah terombang-ambing, padahal yang diinginkannya sejak semula hanyalah kehidupan yang tenteram dan bahagia?
Buddhadharma menjelaskan bahwa kehidupan duniawi senantiasa bergerak di bawah pengaruh delapan keadaan yang dikenal sebagai Delapan Angin Dunia ( aṣṭa lokadharma ). Keuntungan dan kerugian, pujian dan celaan, kemasyhuran dan ketidakterkenalan, kesenangan dan ketidaknyamanan datang silih berganti seperti angin yang tidak pernah berhenti bertiup. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari semuanya. Selama masih hidup di tengah dunia, setiap orang akan mengalami saat memperoleh keuntungan dan saat mengalami kerugian; ada masa dipuji dan ada pula masa dicela; ada saat dihargai dan ada pula saat diabaikan.
Metafora “angin” menjadi sangat penting. Angin tidak pernah bisa diperintah agar hanya bertiup dari satu arah. Ia berubah mengikuti keadaan, kadang lembut, kadang menjadi badai. Persoalannya bukan terletak pada datang atau perginya angin, melainkan pada apakah kita membangun kehidupan dengan mengandalkan sepenuhnya kepada arah angin tersebut.
Jika kesejahteraan hanya dipahami sebagai kemampuan mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman yang menyenangkan, maka kehidupan akan berubah menjadi usaha tanpa akhir untuk mengejar sesuatu yang pada hakikatnya tidak akan pernah dapat dipertahankan. Keuntungan akan selalu dibayangi kemungkinan rugi. Pujian akan selalu membuka kemungkinan celaan. Keberhasilan hari ini tidak pernah menjamin keberhasilan esok hari. Semakin kita menggantungkan rasa aman pada keadaan-keadaan yang terus berubah itu, semakin rapuh pula kesejahteraan yang kita rasakan.
Dalam pembahasan mengenai Sammā Ājīva memperoleh kedalaman yang mungkin sering luput dari perhatian. Selama penghidupan ini lebih banyak dipahami sebagai cara memperoleh sarana material untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tentu saja penyediaan kebutuhan material merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan. Namun apabila kesejahteraan berhenti pada penyediaan materi, maka ia akan selalu bergantung pada keadaan-keadaan yang berada di luar kendali kita. Sebanyak apa pun yang berhasil dikumpulkan, batin tetap dapat diliputi rasa takut kehilangan, kecemasan menghadapi masa depan, atau kegelisahan ketika melihat keberhasilan orang lain.
Dengan demikian, kesejahteraan yang ada dalam Dharma tidak dapat diukur hanya dari apa yang berhasil dimiliki, melainkan juga dari kemampuan batin untuk tetap mantap ketika seluruh keadaan berubah. Kesejahteraan bukan sekedar memiliki lebih banyak, namun memiliki batin yang tidak kehilangan arah ketika keuntungan berubah menjadi kerugian, ketika pujian berganti celaan, atau ketika kenyamanan bergeser menjadi kesulitan. Disana terlihat hubungan yang erat antara Sammā Ājīva dan Delapan Angin Dunia. Cara seseorang mengupayakan kehidupan sesungguhnya sedang diuji setiap kali ia dihadapkan dengan perubahan-perubahan tersebut. Keuntungan sering menggoda seseorang untuk menjadi semakin melekat. Kerugian mendorongnya mencari jalan pintas. Pujian membuatnya ingin mempertahankan citra diri, sedangkan celaan memancing kemarahan dan pembelaan diri. Pada saat-saat seperti itulah kualitas batin yang menopang penghidupan mulai tampak.
Seorang pedagang, misalnya, pada awalnya mungkin hanya ingin menghidupi keluarganya. Namun, ketika usaha tetangganya berkembang semakin pesat, perlahan perhatian beralih dari pekerjaan sendiri ke keberhasilan orang lain. Perbandingan mulai muncul, diikuti rasa iri, ketakutan tertinggal, dan dorongan untuk memenangkan persaingan dengan cara apa pun. Yang berubah sesungguhnya bukanlah kebutuhan hidup, melainkan cara batinnya memaknai keberhasilan. Usaha mencari penghidupan perlahan berubah menjadi usaha mempertahankan gambaran mengenai diri.
Proses seperti ini tidak hanya terjadi di dunia usaha. Ia dapat muncul di hampir setiap bidang kehidupan. Seseorang yang semula bekerja dengan penuh kegembiraan dapat kehilangan ketenangan hanya karena rekannya memperoleh promosi lebih awal. Seorang pelajar dapat kehilangan kejernihan berpikir karena lebih sibuk menghitung pengakuan yang diterima orang lain daripada memperdalam kualitas penelitiannya sendiri. Bahkan dalam kehidupan spiritual, seseorang dapat terjebak menggambarkan pencapaian batinnya dengan pengalaman orang lain. Pada akhirnya, bukan lagi kehidupan yang sedang dijalani, melainkan citra diri yang terus dipertahankan. Dimasukkannya sekali lagi sabda Buddha dalam Dhammapada menjadi sangat relevan.
“Jangan memperhatikan apa yang telah dan belum dilakukan oleh orang lain. Perhatikanlah apa yang telah dan belum kamu lakukan sendiri.” (Dhammapada 50)
Syair ini bukan sekedar anjuran untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Ia merupakan latihan untuk mengembalikan perhatian kepada satu-satunya wilayah yang benar-benar dapat terbentuk, yaitu batin dan tindakan kita sendiri. Ketika perhatian terus diarahkan pada pencapaian orang lain, Delapan Angin Dunia memperoleh ruang yang semakin besar untuk menguasai kehidupan. Sebaliknya, ketika perhatian kembali pada kualitas usaha, cara bekerja, dan cara mengupayakan kehidupan kita sendiri, batin perlahan terbebas dari dorongan membandingkan yang menjadi lahan subur bagi bertumbuhnya kelesah.
Dalam pengertian inilah Sammā Ājīva tidak hanya berbicara mengenai bagaimana memperoleh penghasilan, tetapi juga bagaimana memelihara kemantapan batin ketika menjalani seluruh proses memperolehnya. Sebab penghidupan yang selaras bukanlah penghidupan yang berhasil menghindari Delapan Angin Dunia. Penghidupan yang selaras adalah kemampuan menjalani kehidupan tanpa kehilangan arah ketika Delapan Angin Dunia terus menampilkan silih berganti.
Kemantapan inilah yang membedakan kesejahteraan dalam pengertian Dharma dengan kesejahteraan yang semata-mata diukur dari kepemilikan. Kepemilikan dapat bertambah atau berkurang mengikuti keadaan, tetapi batin yang telah belajar berdiri di atas landasan Dharma tidak lagi menggantungkan seluruh kebahagiaannya terhadap perubahan-perubahan itu. Ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetap mengembangkan keterampilan, tetap mengelola kehidupannya secara bertanggung jawab, namun seluruh usaha itu tidak lagi digerakkan oleh ketakutan akan kehilangan ataupun hasrat untuk mengguguli orang lain. Yang menjadi landasannya adalah pemahaman bahwa kesejahteraan sejati tidak lahir dari keberhasilan mengendalikan arah angin, melainkan dari kemampuan meneguhkan arah langkah di tengah angin yang selalu berubah.
Penutup
Mengupayakan Kehidupan, Menumbuhkan Kesejahteraan
Sepanjang tulisan ini kita telah mengikuti sebuah perjalanan yang bermula dari pertanyaan yang tampak sederhana: bagaimana manusia mengupayakan kehidupannya? Pertanyaan tersebut membawa kita untuk membaca kembali terhadap Sammā Ājīva (Penghidupan yang Selaras) , bukan sekadar sebagai persoalan profesi atau mata pencaharian, melainkan sebagai cara manusia mengupayakan dan menopang kehidupan.
Pembacaan ini menampilkan bahwa Buddhadharma tidak pernah memusuhi kesejahteraan. Sebaliknya, Buddha mengakui bahwa kehidupan memerlukan penopang, dan bahwa kesejahteraan dapat diupayakan melalui sebab dan kondisi yang baik. Namun, pada saat yang sama, Dharma juga mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak pernah dapat dipisahkan dari cara kita memperolehnya. Cara dan tujuan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Jalan yang kita tempuh setiap hari perlahan-lahan sedang membentuk manusia seperti apa kita kelak.
Di dalam perumpamaan kumbang dalam Dhammapada memperoleh maknanya. Kumbang tetap mengambil sari bunga untuk menopang kehidupannya, tetapi ia tidak merusak bunga yang menjadi sumber kehidupannya. Bahkan keberadaannya justru ikut memungkinkan kehidupan baru terus bertumbuh. Barangkali demikian pula seharusnya manusia menjalani kehidupannya. Kita tetap bekerja, membangun usaha, memperoleh penghasilan, mengembangkan kemampuan, dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun seluruh usaha itu dilakukan tanpa menjadikan kehidupan orang lain sebagai korban, tanpa merusak kepercayaan yang menopang hubungan antarmanusia, dan tanpa kehilangan rasa hormat terhadap jejaring kehidupan yang memungkinkan kita hidup.
Namun, perjalanan ini juga menampilkan bahwa tantangan terbesar Sammā Ājīva bukanlah persoalan ekonomi. Tantangan yang sesungguhnya terletak pada batin manusia itu sendiri. Keinginan untuk hidup layak merupakan sesuatu yang alamiah, tetapi dorongan itu dapat dengan mudah dibajak oleh kelesah ( kleśa ; Pāli: kilesa ). Ketika perhatian beralih dari mengembangkan kualitas diri menjadi mempertahankan gambaran tentang “aku”, penghidupan berubah menjadi arena persaingan tanpa akhir. Keberhasilan orang lain mulai terasa sebagai ancaman, sementara keuntungan, pujian, dan pengakuan perlahan menjadi ukuran nilai diri.
Di Delapan Angin Dunia menampilkan. Keuntungan dan kerugian, pujian dan celaan, kemasyhuran dan ketidakterkenalan, kenyamanan dan kemudahan akan selalu datang silih berganti. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatur arah angin tersebut. Yang dapat dibor hanyalah cara kita berdiri di tengah tiupannya. Oleh karena itu, ukuran kesejahteraan menurut Dharma tidak terletak pada keberhasilan menghindari seluruh keadaan yang tidak menyenangkan, melainkan pada kemantapan batin ketika seluruh keadaan itu terus berubah.
Mungkin selama ini kita mengira bahwa kita sedang mengupayakan kesejahteraan. Namun yang lebih sering kita kejar sesungguhnya adalah rangkaian keadaan yang menyenangkan: keuntungan tanpa kerugian, pujian tanpa celaan, keberhasilan tanpa kegagalan, kenyamanan tanpa kesulitan. Padahal seluruh keadaan itu, sebagaimana Delapan Angin Dunia, tidak pernah berhenti berubah. Selama kesejahteraan tergantung pada keadaan-keadaan tersebut, batin akan terus hidup dalam kecemasan untuk mempertahankannya dan ketakutan ketika kehilangannya.
Dharma menggeser orientasi itu secara mendasar. Kesejahteraan tidak lagi dipahami terutama sebagai kemampuan mengumpulkan keadaan-keadaan yang menyenangkan, melainkan sebagai kemampuan membangun kualitas batin yang tetap mantap ketika seluruh keadaan itu berubah. Dalam pemahaman terang inilah Sammā Ājīva tidak lagi sekadar berbicara tentang bagaimana mencari penghidupan, tetapi tentang bagaimana mengupayakan dan menopang kehidupan sehingga batin tidak kehilangan arah menuju kewaskitaan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Apakah saya sudah memperoleh cukup banyak?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Sedang menjadi manusia seperti apakah saya melalui cara saya mengupayakan kehidupan?” Sebab pada setiap keputusan, setiap cara memperoleh penghasilan, setiap bentuk usaha, dan setiap respon terhadap perubahan kehidupan, kita sesungguhnya sedang membangun sebab dan kondisi yang akan membentuk diri kita sendiri.
Barangkali di situlah makna terdalam Sammā Ājīva mulai tampak. Ia bukan sekedar mengajarkan bagaimana hidup dari dunia, melainkan bagaimana hidup bersama dunia; bukan sekadar bagaimana memperoleh kesejahteraan, melainkan bagaimana menjadi bagian dari sebab dan kondisi yang memungkinkan kesejahteraan itu terus bertumbuh bagi diri sendiri maupun bagi sesama. Penghidupan dijalani dengan cara seperti itu, kehidupan tidak lagi menjadi arena untuk saling mengalahkan, melainkan menjadi jalan untuk menghimpun daya hebat ( punya ) dan daya pengetahuan ( jnana ), sehingga setiap langkah yang kita tempuh tidak hanya menopang kehidupan kita sendiri, tetapi juga ikut memperkaya dan memperindah kehidupan yang kita tinggali – Hamemayu hayuning bawana .
Om Avigenham Astu, Mugi Rahayu Sagung Dumadi.























