Selama beberapa dekade, banyak kajian sejarah seni menganggap bahwa perkembangan seni Buddhis Tiongkok terutama dipengaruhi oleh tradisi Gandhara yang berkembang di wilayah Pakistan dan Afghanistan saat ini. Teori ini begitu dominan sehingga menjadi salah satu penjelasan utama mengenai bagaimana citra Buddha, gaya pahatan, dan ikonografi Buddhis menyebar dari India menuju Asia Timur melalui Jalur Sutra.
Namun, sebuah temuan terbaru dari para akademisi Tiongkok menunjukkan bahwa sejarah penyebaran seni Buddhis Tiongkok mungkin jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami.
Perspektif Baru Mengenai Asal Seni Buddhis Tiongkok
Dikutip dari China Daily, dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan Fakultas Seni Rupa East China Normal University di Shanghai pada 13–14 Juni 2026. Para peneliti memaparkan hasil penelitian yang mengusulkan perspektif baru mengenai asal-usul dan jalur penyebaran seni Buddhis Tiongkok. Konferensi tersebut menghadirkan lebih dari 40 akademisi dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, India, Jepang, Thailand, Indonesia, Bangladesh, dan Amerika Serikat.
Pusat perhatian dalam konferensi itu adalah penelitian yang dipimpin oleh Profesor Ruan Rongchun. Selama lebih dari tiga puluh tahun, timnya melakukan penelitian lapangan, kajian arkeologi, dan ekspedisi internasional untuk menelusuri jejak perkembangan seni Buddhis dari India hingga Tiongkok.
Menurut Ruan, teori yang selama ini dikenal sebagai “Pengaruh Gandhara” tidak sepenuhnya mampu menjelaskan seluruh bukti arkeologis yang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah artefak dan temuan baru justru menunjukkan adanya jalur penyebaran yang lebih beragam.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa seni Buddhis Tiongkok tidak hanya menerima pengaruh dari Gandhara, tetapi juga mewarisi tradisi artistik dari dua pusat penting Buddhadharma India kuno, yakni Mathura di India utara dan Amaravati di India selatan.
Mathura dikenal sebagai salah satu pusat awal perkembangan seni Buddha di India. Di wilayah ini berkembang gaya pahatan yang menampilkan Buddha dengan tubuh yang lebih kuat, ekspresi tenang, dan karakter visual yang kemudian memengaruhi berbagai tradisi Buddhis di Asia.
Sementara itu, Amaravati berkembang sebagai pusat seni Buddhis yang terkenal dengan relief-relief naratif yang kaya dan teknik pemahatan yang halus. Tradisi seni dari kawasan ini selama ini kurang mendapat perhatian dalam pembahasan mengenai asal-usul seni Buddhis Tiongkok.
Dua Jalur Sumber Seni Buddhis Tiongkok
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, para akademisi mengusulkan setidaknya dua jalur penting penyebaran seni Buddhis menuju Tiongkok.
Jalur pertama berawal dari Mathura dan kemudian bergerak ke kawasan lembah Sungai Yangtze sebelum mencapai berbagai wilayah di Tiongkok bagian utara. Jalur ini menunjukkan bahwa hubungan budaya antara India dan Tiongkok tidak selalu bergantung pada rute darat Jalur Sutra yang selama ini dikenal luas.
Jalur kedua berasal dari Amaravati di India selatan. Pengaruh artistik dari kawasan ini menyebar menuju kerajaan kuno Qiuci atau Kucha di Asia Tengah, lalu berlanjut hingga ke Bamiyan di Afghanistan yang terkenal dengan patung-patung Buddha raksasanya sebelum akhirnya turut memengaruhi perkembangan seni Buddhis di wilayah yang lebih luas.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penyebaran seni Buddhis berlangsung melalui jaringan pertukaran budaya yang jauh lebih dinamis daripada yang selama ini diasumsikan. Jalur laut, hubungan antar kerajaan, migrasi para biksu, serta aktivitas perdagangan tampaknya memainkan peran yang lebih besar dalam proses penyebaran budaya Buddhis di Asia.
Bagi kajian Buddhadharma, penelitian ini memiliki arti penting karena seni bukan sekadar ekspresi estetika. Patung, relief, lukisan, stupa, dan arsitektur keagamaan merupakan jejak konkret perjalanan ajaran Buddha melintasi berbagai peradaban. Melalui seni, para sejarawan dapat melacak bagaimana gagasan keagamaan berpindah, beradaptasi, dan berkembang ketika bertemu dengan budaya lokal yang berbeda.
Temuan ini juga mengingatkan bahwa sejarah penyebaran Buddhadharma tidak pernah berlangsung melalui satu jalur tunggal. Sebagaimana ajaran Buddha berkembang melalui dialog dengan berbagai masyarakat di Asia, seni Buddhis pun lahir dari perjumpaan banyak tradisi, bahasa, dan kebudayaan.
Jika penelitian ini terus diperkuat oleh temuan-temuan arkeologis di masa depan, maka pemahaman dunia mengenai asal-usul seni Buddhis Tiongkok kemungkinan akan mengalami perubahan signifikan. Teori lama tentang dominasi Jalur Sutra Utara mungkin tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi akan ditempatkan sebagai bagian dari jaringan transmisi yang lebih luas dan lebih kompleks daripada yang selama ini dibayangkan.























