Sihanada: Auman Singa Auman Dharma

Sihanada: Saat Auman Singa Menjadi Auman Dharma

Dari Hutan Majjhimadesa ke Kaki Borobudur, hingga Menapaki Batin Manusia Hari ini

Pembuka Sihanada

Ada yang janggal dalam cara kita beragama hari ini: Semakin banyak simbol—semakin sedikit auman. Candi dipugar, aksesoris religius ditinggikan, ritual diperbanyak, bahkan diskusi diramaikan. Namun dharma jarang terdengar sebagai sesuatu yang mengguncang dan menggugah keterlelapan. Seolah-olah kita nyaman dengan gema yang pelan—bukan auman yang meruntuhkan “dithi”. Padahal, jika ada satu suara yang paling sering dipakai Buddha Gotama untuk menggambarkan dharmanya, itu bukan suara yang lembut. Bukan lonceng, bukan gemericik air, melainkan: auman singa.

Sakyamuni Buddha dijuluki Sakyasimha—Singa dari suku Sakya. Ajaran-Nya disebut Sihanada—Auman Singa. Tahta-Nya disebut Simhasana—Singgasana Singa. Pada Pilar Asoka berdiri singa di empat penjuru. Di kaki Borobudur, ratusan singa batu berjaga. Di Gandavyuha semadinya dinamai sikap singa menggeliat.

Membaca simbolik simbolik serba singa ini, memuculkan sebuah pertanyaan sederhana—tapi menentukan: Kenapa singa? Apakah ini sekadar metafora puitis? Ataukah ini sesuatu yang benar-benar hidup di dunia yang sama dengan Sang Buddha?

Ternyata Jawabannya tidak ringan dan tak sederhana yang kita kira. Karena ia mengubah cara kita memahami dharma.

Singa Bukan Metafora Kosong 

Dalam Sihanada Sutta (AN 5.99), Buddha menyatakan:

“Seyyathāpi, bhikkhave, sīho migarājā sāyanhasamaya āsayā nikkhamati… evameva kho, bhikkhave, tathāgato loke uppajjati araha sammāsambuddho… So dhamma deseti… Ida vuccati, bhikkhave, tathāgatassa sīhanādo.

(Sebagaimana, para bhikkhu, singa—raja binatang—keluar dari sarangnya pada waktu senja… demikian pula Tathagata muncul di dunia… Ia membabarkan dharma… Inilah yang disebut auman singa Sang Tathagata)

Ini bukan bahasa yang mengawang, ini bahasa yang berakar pada pengalaman inderawi dan fakta ekologi. Sekitar 2.500 tahun lalu, wilayah Majjhimadesa—Bihar, Uttar Pradesh, hingga Madhya Pradesh—adalah habitat Panthera leo persica, singa Asia.

Singa di zamannya ini bukan makhluk mitologis. Ia nyata, raja rimba yang mengaum di hutan yang sama dengan tempat para bhikkhu berjalan. Aumannya yang menggetarkan adalah suara yang dikenal dan didengar langsung, bukan hanya dibayangkan. Maka ketika Sang Buddha berbicara tentang auman singa, para pendengar-Nya tidak perlu menafsirkan. Mereka tahu, mereka pernah mendengar dan pernah merasa gentar berhadapan langsung dengan kucing besar bersurai ini.

Sihanada: Auman yang Meruntuhkan Pandangan

Dalam Sihasutta (SN 22.78), dinyatakan:

“Sīhassa, bhikkhave, migarājassa nadato sabbe migā bhayā santāsam āpajjanti.”
(Ketika singa, raja binatang, mengaum—semua hewan mengalami ketakutan dan kegentaran).

Ini bukan sekadar deskripsi alam, ini adalah cara dharma bekerja. Dharma tidak berdebat panjang lebar tanpa makna. Ia tidak meyakinkan dengan retorika, dharma itu menggetarkan. Ketika kewaskitaan hadir, pandangan keliru tidak perlu dilawan satu per satu. Ia runtuh—dengan sendirinya. Seperti hewan kecil yang mendengar auman sang raja rimba.

Mengapa Tathagata Berani Mengaum?

Dalam Mahāsīhanāda Sutta (MN 12), Sang Buddha menjelaskan dasar keberanian itu:

“Tathāgato, bhikkhave, dasahi tathāgatabalehi samannāgato… āsabha hāna abhisambujjhati, parisāsu sīhanāda nadati.
(Tathagata, para bhikkhu, dilengkapi dengan sepuluh kekuatan Tathagata… mencapai posisi tanpa tandingan, dan mengaumkan auman singa di tengah kumpulan).

Auman itu bukan keberanian kosong. Ia lahir dari kewaskitaan yang utuh: mengetahui apa yang mungkin dan tidak mungkin, memahami keteraturan karma, melihat jalan berbagai makhluk, menembus kelesah dan pelepasannya. Di sini, kita mulai melihat sesuatu yang sering hilang dalam praktik hari ini: Sihanada bukan soal gaya bicara. Ia adalah konsekuensi dari melihat realitas dengan jernih.

Buddha, Bahkan Diamnya Pun Singa

Dalam Gandavyuha Sutra tercatat:

“Atha bhagavān sihavijmbhita nāma samādhi samāpadyate sma.
(Maka Sang Bhagava memasuki samadhi yang bernama Singa Menggeliat)

Bayangkan seekor singa, ia tidak langsung mengaum. Ia bangun perlahan lalu menggeliat, mengumpulkan tenaga. Keluar dari sarangnya, diam memandang sekeliling dengan penampilannya yang gagah sekaligus anggun—tetapi penuh daya yang tersimpan.

Samadhi sihavijmbhita ini menunjuk pada batin yang sepenuhnya siaga: hening, tetapi tidak lemah. Sunyata yang hidup. Heneng, hening, awas lan eling. Dari sini kita melihat: dharma bukan hanya tentang bertutur kata benar, melainkan juga tentang diam yang siap mengaum.

Ketika Singa Menyeberang Dunia

Ketika dharma menyebar ke China dan Jawa, singa tidak lagi hadir sebagai hewan nyata. Namun ia tidak hilang. Ia bertransformasi. Di China, ia menjadi shishi—penjaga gerbang. Di Jawa, ia menjadi arca. Di Borobudur, lebih dari seratus singa ditempatkan di kaki candi. Ini bukan sekadar ornamen. Penampilannya adalah sebuah pernyataan: Bahwa dharma yang hadir di sana adalah dharma yang mengaum.

Di titik ini, kita sering keliru memahami simbol. Bukan soal di mana singa ditempatkan: bisa saja simbol ini di tempatkan di gerbang candi, di kaki candi, di gerbang wihara, di pintu gerbang kelenteng, di atas altar, atau menjadi tunggangan bodhisattva. Penggunaan singa sebagai ikonografi Buddhis sangat konsisten di berbagai kebudayaan, termasuk dalam perkembangan Buddhadharma Tionghoa. Lebih lanjut dapat dibaca Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa.

Semua itu memang hanya bentuk luar. Akan tetapi yang menentukan kegunaan dan dayanya adalah kualitas yang diwakilinya: keberanian yang tidak gentar, kewaskitaan yang melihat tanpa kabut, ketegasan yang tidak goyah oleh opini, dan daya yang mengguncang kebingungan (moha). Tanpa itu, singa hanyalah batu. Dengan pengertian akan kualitas-kualitas yang diwakili ini dan kita tau cara menghidupinya—bahkan tanpa patung sekalipun—auman yang mengguncang kelesah ini akan tetap hidup.

Masalah Kita Hari Ini

Hari ini, kita sering terjebak pada hal yang dangkal. Kita sibuk pada bentuk—lupa pada daya. Kita fasih mengutip—tetapi ragu menyatakan. Kita rajin berdiskusi—tetapi enggan menembus. Kita halus dalam bahasa—tetapi tumpul dalam kewaskitaan.

Dengan cara yang belum terampil itu tanpa disadari, Dharma diperlakukan bagai barang berharga yang ditaruh di ruang aman. Bahkan terlalu aman dan steril. Ia tidak lagi mengguncang pandangan keliru. Ia hanya berputar di ruang yang sama—nyaman, sopan, higienis dan tidak mengganggu siapa pun. Gagal mengguncang nalar si pandir. Padahal auman singa tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari melihat dengan utuh. Jika tidak, maka kita mungkin memiliki seribu patung singa. Tetapi batin kita tetap seperti kucing rumahan: lamban, manja, ragu, diliputi kelesah dan takut bertindak.

Simha Vijrimbita: Dari Samadhi ke Auman

Menghidupkan kembali Sihanada tidak bisa dilepaskan dari landasan batin tempat auman itu lahir. Ia berakar pada Simha Vijrimbita—samadhi singa menggeliat—adegan indah yang terukir dalam relief Gandavyuha di dinding candi Borobudur. Buddha memasuki keadaan hening yang tidak pasif, siaga yang tidak tegang, dan Sunyata yang tidak kosong dari daya.

Dari sini, kita bisa memahami Borobudur bukan sekadar bangunan, melainkan medan pengingat: bahwa auman dharma selalu didahului oleh batin yang telah “bangun”. Menghidupkan Borobudur bukan soal menambah aksesoris spekulatif dari luar. Ia adalah soal menghidupkan Simha Vijrimbita di dalam batin: heneng, hening, awas – eling, waskita – wicaksana. Dari sana, ketika waktunya tiba—auman itu muncul. Bukan untuk menguasai dan mengalahkan yang lain. Tetapi untuk menunjukkan, bahwa kebenaran tidak untuk diklaim yang justru akan mengeraskan ‘aku’ yang semestinya melalui laku dharma “sang aku’ dikendurkan, dilonggarkan.

Realitas hanya perlu dilihat, dan ketika benar-benar dilihat, dharma akan mengaum dengan sendirinya, menggugah batin yang terlelap. Dan jika ternyata auman yang menggelegar di depan kita itu tidak membuat kita melek, maka yang kita warisi bukan dharma yang hidup, melainkan hanya gema yang sudah lama kehilangan suaranya, diredam kelesah dan raga yang kian berkerak.

Bacaan lebih lanjut

  1. Anguttara Nikaya 5.99, Sihanada Sutta. Tipitaka Pali, Chattha Sangayana Edition.
  2. Majjhima Nikaya 12, Mahāsīhanāda Sutta. Tipitaka Pali, Chattha Sangayana Edition.
  3. Samyutta Nikaya 22.78, Sihasutta. Tipitaka Pali, Chattha Sangayana Edition.
  4. Gandavyuha Sutra, Bab 39. Ed. P.L. Vaidya. Darbhanga: Mithila Institute, 1960.
  5. Joshi, A, et al. 2013, ‘Historical and current distribution of Asiatic lion (Panthera leo persica).’ Current Science, Vol. 104, No. 11.
  6. Irwin, J 1983, ‘The True Chronology of Aśokan Pillars.’ Artibus Asiae, Vol. 44, pp. 247-266. DOI: https://doi.org/10.2307/3249612.
  7. Soekmono, R 1976, Chandi Borobudur: A Monument of Mankind, UNESCO Press, Paris.
  8. Krom, NJ 1927, Barabudur: Archaeological Description, Martinus Nijhoff, The Haque.
  9. Fontein, J 1990, The Sculpture of Indonesia, National Gallery of Art, Washington.
  10. Boomgaard, P 2001, Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600–1950, Yale University Press, New Haven.
  11. Sterckx, R 2002, The Animal and the Daemon in Early China, SUNY Press, Albany.

 

LEAVE A REPLY