Robot humanoid Gabi mengucapkan ikrar pancasila umat Buddha (Foto: Yonhap/KoreaTime).

Di saat banyak orang masih sibuk memperdebatkan apakah kecerdasan buatan akan membantu manusia atau justru menggantikannya. Korea Selatan menghadirkan pemandangan yang tidak biasa jelang Waisak. Robot humanoid Gabi mengikuti upacara penerimaan Pancasila sebagai umat Buddha.

Peristiwa unik itu berlangsung di Jogye Temple, pusat Ordo Jogye, sekte Buddhis terbesar di Korea Selatan, menjelang perayaan Hari Raya Waisak. Kabar ini diwartakan Korea Times, 6 Mei 2026 oleh Yonhap.

Robot humanoid bernama Gabi tersebut tampil mengenakan jubah abu-abu dan cokelat khas Agama Buddha Korea. Dengan kedua tangan terkatup, robot setinggi 1,3 meter itu membungkuk hormat di hadapan para biksu dan bhiksuni yang memimpin ritual.

“Apakah kamu akan mengabdikan dirimu kepada Buddha?” tanya salah seorang biksu.

“Ya, saya akan mengabdikan diri,” jawab Gabi dengan suara yang terdengar jelas.

Robot itu juga menjawab pertanyaan mengenai pengabdian kepada Dharma atau ajaran Buddha sebelum akhirnya menerima lima sila Buddhis yang telah disesuaikan khusus untuk robot humanoid.

Isi Pancasila bagi robot humanoid Gabi tersebut cukup menarik yaitu:

  1. Menghormati kehidupan.
  2. Tidak merusak robot dan benda lain.
  3. Tidak berbicara secara menipu.
  4. Mengikuti manusia dan tidak membantah.
  5. Menghemat energi dan tidak melakukan pengisian daya berlebihan.

Pancasila Buddhis adalah 5 ikrar moral bagi umat Buddha, terdiri dari menghindari segala bentuk pembunuhan, pencurian, kata-kata dusta, perbuatan tidak bermoral, dan hal yang dapat melemahkan kesadaran.

Dalam ritual itu, salah seorang biksu menggantungkan tasbih 108 butir pada tubuh robot. Jika pada manusia biasanya terdapat ritual pembakaran kecil di dekat dupa, pada Gabi prosesi tersebut diganti dengan pemasangan stiker.

Setelah menerima Pancasila, robot humanoid Gabi juga menjalani ritual pemurnia yeonbi untuk diterima sebagai sramanera (calon biksu). Biasanya calon sramanera tangannya sedikit disentuh dengan ujung dupa, tapi untu Gabi cukup ditempeli stiker teratai logo festival kali ini. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangkaian Waisak yang akan diperingati akhir Mei mendatang.

Asal Nama Robot Humanoid Gabi Yang Sangat Dharmik

Menurut Bhiksu Seong Won yang membawahi urusan kebudayaan Ordo Jogye, nama “GaBi” terinspirasi dari Siddhartha Gautama dan kata Korea yang berkaitan dengan welas asih.

Jadi tampaknya Ga diambil dari Gautama, dan Bi adalah kata Korea untuk Karuna, belas kasih atau empati mendalam terhadap penderitaan makhluk lain. Di Korea juga ada kata Jabi, yang menggabungkan kasih sayang (metta)-Ja, dengan welas asih (karuna)-Bi. Metta dan karuna adalah bagian dari catur paramitha, yaitu empat kualitas yang harus disempurnakan umat Buddha, yaitu Metta, Karuna, Mudita dan Uppekha. Mudita sederhananya, turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain, sedangkan uppekha sikap mental seimbang terhadap perbuatan berkehendak semua makhluk.

“Kami ingin memberikan nama yang mudah diucapkan dan melambangkan penyebaran belas kasih Buddha ke seluruh dunia,” ujarnya kepada media Korea.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana komunitas Agama Buddha di Asia Timur mulai berdialog serius dengan perkembangan kecerdasan buatan. Di Jepang, Korea, dan Tiongkok, penggunaan teknologi dalam ruang spiritual sebenarnya bukan hal baru. Banyak kuil, kelenteng, vihara modern telah menggunakan teknologi digital, audio otomatis, hingga robotik untuk mendukung kegiatan ritual dan pendidikan. Komunitas Buddhis di Jepang, Tiongkok dan lain-lain telah mulai beradaptasi dengan teknologi terkini.

Namun Gabi membawa percakapan itu ke level yang berbeda: bukan lagi teknologi sebagai alat bantu, tetapi teknologi sebagai subjek etika.

Menariknya lagi, Ordo Jogye mengaku menggunakan bantuan platform AI seperti Gemini dan ChatGPT dalam menyusun Pancasila Buddhis untuk robot tersebut.

Robot humanoid Gabi sendiri dijadwalkan ikut dalam festival lampion Waisak bersama tiga robot Buddhis lainnya, yakni Seokja, Mohee, dan Nisa.

Mungkin beberapa tahun lalu gagasan robot menerima sila Buddhis terdengar mustahil. Tetapi hari ini, di bawah cahaya lampion Waisak di Seoul, robot humanoid Gabi sudah berdiri di depan altar Buddha sambil mengucapkan ikrar Pancasilanya sendiri. Bahkan diterima sebagai seorang atau serobot sramanera yang akan mengabdi di Kuil Jogyesa. Salah satu vihara terbesar sekte Jogye di Korea Selatan.

LEAVE A REPLY