Sutra Teratai adalah salah satu sutra terpenting saat penyebaran agama Buddha di Asia Timur yang demikian pesat kala itu. Masa dimana teknologi cetak belum lahir. Sehingga salah satu kebajikan yang dapat dilakukan kaum terpelajar adalah menyalin isi Tripitaka. Kitab suci Agama Buddha. Salah satu diantaranya adalah Lotus Sutra atau Sutra Teratai. Tujuan penyalinan adalah untuk menyebarluaskan dharma, ajaran Buddha. Praktik ini ternyata juga dilakukan tokoh seperti Cheng Ho.

Praktik Menyalin Kitab Suci

Bagi yang lahir tahun 80-an tentu tidak asing soal selebaran yang meminta kita memfotokopi selebaran tersebut. Agar dapat berkah, tercapai apapun yang diinginkan. Tentu yang pasti adalah tukang fotokopinya dulu yang memperoleh berkah. Akarnya ternyata bisa ditelusuri hingga masa lampau dalam konteks positif tentunya.

Praktik umumnya adalah seorang umat akan bertekad (adhitana). Untuk menyalin misal 1.000 salinan sutra. Ini tidak bisa diwakili, jadi meski dia orang terkaya sekalipun ia harus menulis sendiri kitab tersebut. Sebanyak yang ia tekadkan. Proses menyalin ini secara tidak langsung juga menjadi proses internalisasi nilai-nilai. Yang selanjutnya diharapkan juga dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Termasuk dalam konteks penyalinan sutra teratai oleh Cheng Ho.

Temuan Sutra Teratai Tulisan Tangan Cheng Ho

Gambar penunjang artikel singkat ini adalah koleksi cukup baru dari Long Museum yang berkedudukan di Shanghai, kalau naik metro anda bisa menggunakan line 7. Koleksi langka ini ditebus pihak museum pada 2015 di Balai Lelang Sotheby New York 14 juta US dolar. Memang ini koleksi langka dari 615 tahun silam yaitu tulisan tangan asli dari Zheng He (Laksamana Cheng Ho) sang Kasim Tiga Perlindungan, San Bao, Sam Poo (Sam Poo Kong).

Pada salinan Sutra Teratai inilah ditemukan kolofon yaitu catatan atau teks penutup dari penulis di bagian akhir gulungan sutra. Biasanya berisi informasi mengenai penulis, maksud penulisan, dibiayai oleh siapa dan berbagai informasi yang dianggap penulisnya perlu dicantumkan.

Pada kolofon-kolofon Zheng He yang sudah ditemukan saat ini, ia kerap menyebutkan dirinya sebagai Kasim Ming yang Agung Zheng He dengan nama dharma Fu Jixiang (Basuki 2017). Basuki dalam artikelnya yang berjudul Apa Agama Cheng Ho? juga menyatakan bahwa di berbagi kolofon tersebut Cheng Ho kerap menyatakan rasa syukurnya terhadap Tri Ratna. Hal ini tentu menambah bukti bahwa Cheng Ho beragama Buddha. Demikian pula temuan artefak salinan sutra teratai yang saat ini sudah jadi koleksi Long Museum tersebut di atas.

Akhiran Nama “Kelenteng”

Nama-nama tempat ibadah yang secara generik disebut kelenteng di Indonesia. Umumnya terdiri dari 3 huruf, sebagaimana juga nama-nama orang Tionghoa sebelum kebijakan ganti nama. Akhiran Kong pada Sam Poo Kong misalnya, adalah kata keterangan tempat, sebagaimana Bio pada Boen Tek Bio, Yuan pada Jin De Yuan, Sie Pada KHong Hoa Sie, dan Teng pada Kwan Im Teng. Tempat ibadah tradisional umat Buddha Tionghoa ini, memang tidak menggunakan kata kelenteng di depan namanya. Karena kata kelenteng sebenarnya hanya sebutan masyarakat awam terhadap tempat ibadah berarsitektur Tiongkok. Sementara tempat ibadah demikian dalam namanya sudah terkandung keterangan tempat di akhir nama. Jadi tidak mungkin di tulis dua kali, kecuali beberapa fenomena baru yang lebih bersifat penguatan narasi identitas. Sehingga di Indonesia masih banyak pertanyaan kelenteng tempat ibadah agama apa? Konghucu atau Buddha?
Praktik menyalin dan mendistribusikan ajaran Buddha adalah termasuk jenis dana tertinggi dalam Agama Buddha. Disebut sebagai dana dharma, Oleh karena itu sejak lama praktiknya telah dilakukan praktisi yang penuh tekad dan dedikasi karena itu bukan pekerjaan mudah. Bayangkan, sutra teratai dalam bentuk buku cetak modern tebalnya sekitar 500-an halaman.
Tak heran dalam salah satu kolofon sutra milik salah seorang bhiksu yang hidup sejaman dengan Zhenghe (1371-1433). Ia menuliskan bahwa penyalinan sutra ini dilakukan atas perintah Zheng He sebelum ia berangkat memimpin salah satu pelayarannya. Biasanya hasil salinan kitab suci tersebut disebarkan ke berbagai vihara dan tokoh-tokoh penting pada jamannya.
Teknologi cetak secara massal yang mungkin sudah ada pada masa tersebut adalah dengan menggunakan blok cetak. Tapi karena praktik ini adalah praktik dharma, maka ia harus menyalin sendiri atau setidaknya membiayai penyalinan dan pendistribusiannya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY