Page 11

Desain Kawasan Berbasis Nilai Buddhis dibangun di Inggris

0
Desain kawasan berbasis nilai-nilai Buddhis dibangun di Inggris
Desain kawasan berbasis nilai-nilai Buddhis dibangun di Northstowe Inggris oleh Mole Architect dan Pengembang TOWN.

Sebuah kawasan hunian baru di Northstowe, Cambridgeshire, Inggris. Saat ini tengah diajukan izinnya oleh firma arsitektur Mole Architects bersama pengembang TOWN dan The Hill Group. Proyek yang menempati lokasi sekitar sembilan mil dari Cambridge ini. Dirancang sebagai lingkungan urban padat dengan 145 rumah, dua komunitas co-housing, serta berbagai fasilitas bersama. Dengan penekanan pada pola hidup komunal modern untuk desain kawasan tersebut.

Dalam rencana yang diserahkan kepada otoritas setempat. Para pengembang menyebut bahwa dua komunitas co-housing akan menjadi bagian inti dari desain kawasan. Yang pertama adalah Suvana Co-housing Community. Kawasan ini secara eksplisit digambarkan sebagai komunitas yang berbasis nilai-nilai Buddhis. Meski nilai-nilai tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut dalam dokumen publik. Penyertaan identitas tersebut membuat Suvana menjadi salah satu komunitas berbasis agama. Dalam pengembangan kawasan urban baru di Inggris. Komunitas kedua, Northstowe Cohousing. Merupakan kelompok multigenerasi yang mengikuti model Marmalade Lane. Sebuah proyek co-housing pertama di Cambridge, yang dikenal sukses dari sisi partisipasi warga dan penggunaan ruang bersama.

Membentuk Komunitas yang Sehat dan Harmonis

Skema 145 rumah ini dibangun dalam empat blok urban kompak dengan berbagai rancangan ruang komunal. Sekitar 40 persen unit dialokasikan sebagai hunian terjangkau, termasuk kategori sewa terjangkau dan unit diskon pasar. Para perancang juga mengedepankan rancangan jalan bebas mobil yang membentuk koridor permainan (car-free play street) yang langsung terhubung ke Greenway Park, serta penggunaan rangka kayu untuk konstruksi rumah sebagai bagian dari pendekatan desain yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Renovasi Plum Village telah Mendapat Persetujuan Resmi

Desain Kawasan untuk Kota Baru

Selain hunian, kawasan ini juga akan menampilkan dua common houses—ruang bersama yang menjadi ciri utama co-housing. Fasilitas ini nantinya digunakan untuk pertemuan, kegiatan komunitas, dan berbagai fungsi sosial yang memperkuat interaksi antarwarga. Mole Architects menyebut bahwa penataan taman, ruang hijau, dan area komunal menjadi bagian penting dalam mengatur alur gerak dan kehidupan sehari-hari para penghuni.

Rencana ini menempatkan kawasan tepat di samping pusat kota Northstowe yang tengah berkembang, sehingga proyek ini diharapkan menjadi bagian dari ekspansi besar-besaran kota baru tersebut. Jika proposal disetujui otoritas lokal, pembangunan dijadwalkan mulai pada musim panas 2026.

Sumber: Architects Journal

Phra Paisal Visalo: Kumpulan Tulisan Spiritualitas dan Aksi Sosial

1
Buddhist Spirituality and Social Action Buku Baru Phra Paisal Visalo disunting oleh Jonathan S Watts
Buddhist Spirituality and Social Action: The Collected Writing of Phra Paisal Visalo disunting oleh Jonathan S Watts.

Dalam beberapa dekade terakhir, nama Phra Paisal Visalo menjadi salah satu yang paling menonjol dalam perkembangan Socially Engaged Buddhism di Thailand. Beliau bukan hanya biku yang tekun dalam praktik meditatif, tetapi juga pemikir yang lantang bersuara tentang krisis lingkungan, kekerasan politik, dan reformasi sangha.

Melalui buku Buddhist Spirituality and Social Action—sebuah kompilasi lebih dari empat puluh tulisan yang disunting dengan rapi pada tahun 2025—kita diajak menelusuri keluasan gagasan dan kedalaman spiritualitas yang dihadirkan oleh Phra Paisal Visalo. Buku ini tidak hanya memotret perjalanan seorang biku, tetapi juga menghadirkan peta besar hubungan antara dhamma, kemanusiaan, dan bumi yang kita tinggali bersama.

Seperti biasa, Jonathan S Watts, salah seorang sahabat kita di INEB. Menyunting dengan sangat baik buku ini. Entah sekarang kepalanya masih plontos atau tidak.

Bhikkhu, Aktivis, dan Penjaga Hutan

Perjalanan hidup Phra Paisal, sebagaimana tergambar dalam paruh awal buku, memperlihatkan transformasi dari seorang aktivis mahasiswa menjadi biku yang memusatkan hidupnya pada mediasi perdamaian dan perlindungan lingkungan.

Sekilas kehidupannya menunjukkan bahwa bagi beliau, Buddhisme bukanlah ajaran yang berdiri di luar realitas sosial. Sebaliknya, dhamma adalah fondasi untuk merawat dunia yang sedang terluka—baik oleh krisis moral, polarisasi politik, maupun kerusakan ekologis. Dhamma tidak berada di ruang hampa, tapi melingkupi seluruh aspek kehidupan di dunia.

Renungan Dhamma yang Membumi Phra Paisal Visalo

Bagian pertama buku berisi refleksi pendek tentang kehidupan sehari-hari. Phra Paisal menulis tentang kebiasaan, kesadaran, cara kita makan, cara kita bekerja, hingga bagaimana teknologi perlahan membentuk batin manusia. Tulisan-tulisan ini sederhana, tetapi sering kali mengandung kritik halus terhadap gaya hidup modern yang serba terburu-buru. Di sinilah pembaca merasakan ciri khas ajaran Buddhisme Thailand kontemporer: jernih, langsung, dan menyentuh akar persoalan.

Baca juga: Agama Buddha dan Jalan Pembebasan

Reformasi Buddhis: Membongkar Krisis dari Dalam

Bagian berikutnya menggali masalah internal agama Buddha, terutama di Thailand. Phra Paisal Visalo menyoroti bagaimana sangha semakin terpolitisasi, bagaimana dana umat lebih banyak mengalir untuk membangun gedung daripada membina kualitas biku, serta munculnya kelompok-kelompok Buddhis militan yang mengikis semangat welas asih.

Kritiknya lugas tetapi disampaikan dengan hormat—selalu mengajak pembaca untuk kembali pada esensi Buddhisme: pembebasan dari penderitaan, bukan perebutan kekuasaan.

Ketika Hutan Menjadi Guru Spiritualitas

Beberapa tulisan paling kuat dalam buku ini berbicara tentang alam. Bagi Phra Paisal, hutan bukan hanya latar bagi kehidupan para biku, tetapi juga ruang pembelajaran spiritual. Ia menuliskan dengan indah bagaimana pepohonan dan sungai mengajarkan kesederhanaan, keheningan, dan saling keterhubungan.

Buku ini juga mengangkat kerja-kerja advokasinya dalam perlindungan hutan—sering kali melibatkan kolaborasi lintas agama dan komunitas lokal—sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik dhamma.

Pembangunan yang Berpihak pada Manusia

Dalam bagian tentang pembangunan, Phra Paisal menantang model ekonomi konsumtif. Ia mendorong pendekatan yang lebih manusiawi: komunitas yang kuat, pola hidup sederhana, dan keputusan ekonomi yang tidak merusak bumi.

Tulisan-tulisannya menyiratkan kritik tajam terhadap model pembangunan modern yang sering kali menciptakan penderitaan baru—ketimpangan, alienasi, dan kehancuran ekologi. Penulis jadi ingat ketika beliau menyampaikan materi tentang lingkungan, pada Young Bodhisattva Training lebih dari satu dekade lalu. Pelatihan tersebut diadakan INEB di Thailand, dan terdapat sesi kunjungan lapangan ke berbagai tempat yang inspiratif.

Spiritualitas sebagai Energi Gerakan Sosial

Salah satu pesan utama buku ini adalah bahwa perjuangan sosial membutuhkan energi batin. Aktivisme tanpa spiritualitas akan mudah jatuh pada kebencian; spiritualitas tanpa tindakan justru menjauh dari dunia nyata.

Phra Paisal menekankan bahwa nilai-nilai seperti non-kekerasan, welas asih, dan kesadaran mendalam merupakan fondasi bagi gerakan sosial yang tahan lama dan tidak terjebak dalam permusuhan.

Seni Mendampingi Kematian

Bagian akhir buku membawa pembaca pada tema yang lembut namun penting: pendampingan kematian. Phra Paisal menulis tentang pelayanan spiritual bagi orang yang sedang berada di ambang ajal, meditasi kesadaran kematian, serta prinsip-prinsip yang membantu seseorang meninggal dengan damai.

Tulisan ini menunjukkan sisi paling manusiawi dari praktik Buddhis: menemani seseorang di saat paling rapuhnya.

Buddhisme yang Relevan dan Membebaskan

Buddhist Spirituality and Social Action memperlihatkan bagaimana Buddhisme dapat menjadi sumber kekuatan moral, ekologis, dan sosial. Buku ini mengajak kita melihat dhamma sebagai kekuatan yang hidup—yang bekerja di desa-desa, di hutan, di jalanan saat demonstrasi damai, di ruang perawatan bagi orang yang menjelang meninggal, dan dalam setiap napas kita sendiri.

Dengan gaya yang jernih dan penuh welas asih, Phra Paisal menunjukkan bahwa spiritualitas Buddhis tidak pernah berjarak dari kehidupan sehari-hari. Justru di situlah ia menemukan kekuatannya.

Buat pembaca yang tertarik, Buku dapat diunduh gratis melalui INEB Network.

Doa Makan Singkat Umat Buddha

1
doa makan singkat umat buddha bisa terima kasih atau rahayu yang setara itadakimasu
Doa makan singkat umat Buddha di Indonesia adalah Terima kasih atau Rahayu. Ini setara dengan itadakimasu di Jepang.

Dalam tradisi Buddhis, makan bukan sekadar memuaskan rasa lapar. Ia adalah momen penuh kesadaran—sebuah kesempatan untuk berterima kasih, merenungkan asal-usul makanan, serta menumbuhkan welas asih bagi semua makhluk. Menariknya, dari biara-biara Theravada di Asia Tenggara hingga dapur keluarga di Nusantara, doa makan dalam Buddhisme berkembang dalam bentuk yang berbeda-beda, dari yang panjang dan mendalam hingga yang sangat singkat namun penuh makna.

Perenungan atau Doa Makan Bhikkhu Theravada

Pada komunitas Theravada, setiap pagi para bhikkhu melakukan piṇḍapāta—berjalan keliling menerima dana makanan dari umat. Setelah menerima dan sebelum makan, para bhikkhu biasanya mengucapkan perenungan makan (paccavekkhaṇa), yang intinya mengingatkan bahwa makanan bukan untuk kesenangan, bukan untuk memperindah tubuh, melainkan untuk menopang hidup dan mendukung praktik Dhamma.

Perenungan ini membantu para bhikkhu menjaga kesadaran, menekan keserakahan, serta memupuk rasa syukur kepada semua pihak yang terlibat dalam keberlangsungan hidup mereka.

Bhiksu Mahayana dan Tantrayana: Syukur dan Dedikasi

Dalam tradisi Mahayana, doa makan sering disebut sebagai “lima perenungan” (wuguan 五觀), terutama dipraktikkan di biara-biara Tiongkok, Korea, dan Jepang. Intinya mencakup: Merenungkan asal-usul makanan dan banyaknya kerja keras yang terlibat. Memeriksa kualitas diri apakah pantas menerimanya. Merenungkan apakah makanan ini dapat membangkitkan keserakahan. Mengingat bahwa makanan adalah obat untuk menjaga tubuh. Terakhir, mendedikasikan energi yang diperoleh untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk.

Sementara dalam tradisi Tantrayana (Vajrayana), doa makan sering dipadukan dengan visualisasi, pemberian persembahan (ganachakra), dan aspirasi welas asih bagi seluruh makhluk. Penekanannya tetap sama: makanan adalah berkah yang harus digunakan untuk tujuan luhur.

Umat Awam: Dari Itadakimasu sampai Rahayu

Jika para bhikkhu memiliki perenungan yang panjang dan mendalam, umat awam Buddha justru memiliki versi yang sangat singkat namun tetap sarat makna. Di Jepang misalnya, masyarakat terlepas dari agama, senantiasa mengucapkan “itadakimasu” sebelum makan. Kata ini berarti saya menerima dengan penuh hormat. Menerima apa? menerima kebaikan semua yang menyebabkan makanan itu ada. Mulai orang tua yang bekerja untuk membeli makanan, petani padi, petani garam, peladang merica, dan petani sayur, nelayan, juru masak di restoran, pelayan, hingga abang ojek online yang mengantar ke rumah. Ini sejalan dengan ungkapan sabbe satta bhavantu sukhitattā — berbahagialah semua makhluk.

Bagaimana dengan leluhur Nusantara kita? Sesungguhnya leluhur kita di Nusantara juga telah memiliki ungkapan syukur yang ringkas namun kaya makna. Salah satunya adalah “Rahayu”, yang bermakna doa keselamatan, kedamaian, dan keberkahan. Ungkapan ini dapat menjadi padanan Itadakimasu yang sangat cocok bagi umat Buddha Indonesia.

Bahkan dalam versi bahasa Indonesia pun bisa. Kata “Terima kasih”, dalam konteks doa makan dapat dimaknai sebagai rasa syukur kepada semua makhluk yang telah berperan dalam menghadirkan makanan. Saya terima semua pengorbanan semua yang menyebabkan makanan ini tersedia, dan saya kirimkan kasih untuk semuanya.

Maka, ketika seorang umat Buddha ingin mengucapkan doa makan yang sederhana namun penuh makna: Satukanlah kedua tangan (añjali). Kemudian hadirkan rasa syukur yang tulus. Lalu ucapkan dengan penuh welas asih di dalam hati: “Rahayu.” atau
“Terima kasih.” Dan boleh ditambahkan, berbahagialah semua makhluk”.

Doa yang sangat singkat, namun di dalamnya tersimpan kesadaran, penghormatan, welas asih, dan rasa syukur yang mengalir kepada seluruh makhluk di dunia. Doa makan yang mengingatkan tentang non dualitas, bahwa tidak ada keberadaan yang berdiri sendiri. Semuanya ada karena kesalingketergantungan atau interpendensi. Isi adalah kosong dan kosong adalah isi.@esa

Ordo Jogye Tolak UU Khusus World Youth Day 2027 Korea Selatan

0
ordo buddhis terbesar di korea selatan yakni chogye menentang uu khusus mendikung world youth day Seoul 2027
Ordo Buddhis terbesar di Korea Selatan yakni Chogye, menentang upaya pemerintah mengesahkan uu khusus mendukung world youth day Seoul 2027 karena anggara negara seharusnya tidak disalurkan untuk kepentingan agama tertentu.

Ordo Buddhis terbesar di Korea Selatan, Ordo Jogye, menyerukan penarikan sebuah rancangan undang-undang. Pasalnya, UU tersebut akan digunakan untuk memberikan dukungan finansial negara bagi World Youth Day (WYD) Seoul 2027. Adapun alasan penolakan adalah bahwa langkah tersebut melanggar prinsip konstitusional. Khususnya tentang pemisahan agama dan negara. Rancangan undang-undang “Special Act on Supporting World Youth Day Seoul 2027.” Telah tertunda di Majelis Nasional sejak November 2024.

Ordo Jogye: Anggaran Publik bukan Untuk Acara Keagamaan

Berbicara kepada kantor berita UCA News pada 22 November. Yang Mulia Sungwang dari Ordo Jogye menyatakan bahwa “RUU tersebut jelas melanggar konstitusi.” (UCA News). Ia menegaskan bahwa kekhawatiran Ordo Jogye ditujukan kepada pemerintah dan para legislator. Bukan kepada Gereja Katolik sendiri. Menurut Ven. Sungwang. Seluruh 61 anggota voting Dewan Pusat Ordo Jogye secara bulat menolak RUU tersebut. Voting diadakan dalam pertemuan umum pada 19 November lalu.

Ordo Jogye mewakili sekitar 70 persen vihara Buddhis Korea Selatan. Dan berfungsi sebagai badan pengambil keputusan tertinggi dalam Buddhadharma Korea. Dalam pernyataan resmi setelah pertemuan tersebut. Para anggota dewan mengutip prinsip konstitusional. Bahwa “negara tidak dapat mendukung agama tertentu, dan organisasi keagamaan tidak boleh menggunakan kekuatan politik.” Serta berpendapat bahwa undang-undang tersebut akan menyalurkan sumber daya publik ke dalam “sebuah acara keagamaan untuk evangelisasi Katolik. Bukan sebuah acara internasional yang menjamin nilai publik bagi masyarakat Korea.” (UCA News)

Rencana WYD 2027

World Youth Day dijadwalkan berlangsung pada 29 Juli–8 Agustus 2027. Dengan Keuskupan Agung Seoul bersiap menyambut sekitar satu juta peserta untuk Misa penutupan. Para pemimpin Katolik mengakui bahwa acara tersebut bersifat keagamaan. Akan tetapi mereka menegaskan bahwa dukungan pemerintah diperlukan. Khususnya untuk keselamatan massa, transportasi, logistik, dan koordinasi antar-lembaga. RUU “Special Act on Supporting World Youth Day Seoul 2027.” Telah tertunda di Majelis Nasional sejak November 2024.

Dalam konferensi pers pada 27 Oktober. Panitia Penyelenggara WYD mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan tahap perencanaan dasar dengan Vatikan. Uskup Lee Kyung-sang, yang memimpin panitia tersebut. Mencatat pada bulan September bahwa acara WYD akan “tiga kali lebih besar daripada Olimpiade.” Dan membutuhkan kerja sama sektor publik secara substansial (UCA News).

Uskup Lee menjelaskan bahwa panitia berencana meminta sekitar 50 miliar won (US$34 juta). Dalam bentuk dukungan pemerintah dari total anggaran yang diperkirakan mencapai 300 miliar won. Ia juga menekankan bahwa dana semacam itu akan dialokasikan untuk keselamatan publik, bukan kegiatan gerejawi.

Keberatan Serupa dari Jaringan Lintas Agama

Sengketa yang sedang berlangsung ini mengikuti keberatan sebelumnya yang disampaikan oleh Interreligious Reform Civil Coalition, sebuah jaringan yang terdiri dari 29 kelompok dari lima agama besar Korea. Koalisi tersebut memperingatkan bahwa memberikan apa yang mereka sebut sebagai “perlakuan istimewa secara kelembagaan” kepada satu tradisi agama akan melanggar konstitusi. (UCA News) Kekhawatiran mereka semakin memicu perdebatan publik mengenai ketepatan keterlibatan negara dalam acara keagamaan berskala besar.

Para pemimpin Gereja Katolik telah mencoba menanggapi kekhawatiran tersebut dengan menekankan dimensi kewargaan dari acara tersebut, menyoroti perlunya kerangka kerja lintas pemerintah, terutama karena Paus Leo XIV diperkirakan akan hadir sebagai tamu negara. Penyelenggara juga menyatakan harapan bahwa acara tersebut dapat mendorong keharmonisan antaragama melalui penyediaan program budaya dan pemuda yang terbuka untuk semua, serta dengan mencari kemungkinan kerja sama dengan vihara Buddhis sebagai tempat penginapan.

Romo Joseph Young-je Lee dari Panitia WYD mengatakan kepada UCA News pada 25 November bahwa pernyataan Ordo Jogye telah disampaikan kepada Uskup Agung Seoul. Ia menambahkan bahwa Gereja akan memberikan tanggapan resmi setelah diskusi internal selesai.

Khawatir jadi Preseden Buruk Relasi Politik dan Agama

Ordo Jogye menyatakan bahwa mereka tidak menentang World Youth Day itu sendiri, tetapi menekankan bahwa dana pembayar pajak tidak boleh digunakan untuk mendukung acara keagamaan tertentu. Ordo tersebut juga memperingatkan bahwa rancangan undang-undang itu berisiko menciptakan “preseden buruk dari kolusi antara politik dan agama.” (UCA News)

Baca juga: Gayatri Rajapatni: Mastermind Politik di Balik Kejayaan Majapahit

Buddhisme merupakan salah satu tradisi keagamaan terbesar di Korea Selatan, dengan perkiraan 10–15 juta penganut, meskipun data sensus bervariasi karena perbedaan metode survei dan tingginya tingkat nonafiliasi di negara tersebut. Sementara itu, populasi Katolik, meskipun lebih kecil—sekitar 11 persen dari populasi—telah tumbuh stabil selama beberapa dekade terakhir. Relasi agama-negara secara berkala muncul dalam perdebatan publik di Korea Selatan, terutama terkait pendanaan publik yang setara dan representasi agama dalam upacara kenegaraan.

Diterjemahkan dari: Justin Whitaker, BuddhistDoor Global, 2 Desember 2025

Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa

2
Om Mani Padme Hum diwujudkan dalam arsitektur dan ikonografi vihara chinese buddhism atau disebut di Indonesia sebagai kelenteng
Om Mani Padme Hum adalah mantra untuk memuliakan Avalokitesvara atau Guanyin atau Kwan Im. Bisa dibaca dari bentuk arsitektur dan ikonografi vihara Buddhisme Tionghoa. Sepasang singa mewakili AUM atau OM. Permata di atap yang dijaga sepsang naga adalah MANI. Teratai sebagai singgasana Buddha, Bodhisattava dan Mahasattva adalah Padme. Sedangkan Hum direpresentasikan arca Buddha, Bodhisattva dan Mahasattva yang ada.

Ikonografi kelenteng yang khas, ternyata dapat menjadi media unik untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual sebagaimana Borobudur dan candi lainnya. Dapat menjembatani konsep abstrak dalam ajaran agama dengan pengalaman konkret.  Artikel ini akan mengajak pembaca menelusuri hubungan mantra, dan ikonografi kelenteng di Indonesia.

Om Mani Padme Hum, Adalah mantra Buddhis yang mendunia. Merupakan mantra untuk Avalokitesvara (Sansekerta) atau Guan Yin (Mandarin), Kwan Im (Hokkien) dan berbagai penyebutannya di tiap negara. Mantra ini bukan sekedar empat suku kata. Leluhur Tionghoa yang merantau ke Nusantara ratusan tahun yang lalu, telah mewujudkannya dalam ikonografi kelenteng, arsitektur, dan tata ruang tempat suci Buddhis di Asia.

Pemujaan terhadap Avalokitesvara, dilakukan leluhur Tionghoa dengan mendirikan Kwan Im Teng. Biasanya di daerah-daerah Pelabuhan atau pasar akan dapat ditemukan Kwan Im Teng. Untuk wilayah Hindia Belanda, pendiriannya bersamaan dengan perkembangan wilayah sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa, Jayakarta menjadi Kota Batavia. Sekira 1600-an, Kwan Im Teng pertama berdiri di daerah yang sekarang dikenal sebagai Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat.

Pesan Mendalam Ikonografi Kelenteng

Pelafalan istilah Kwan Im Teng oleh masyarakat lokal yang tidak berbahasa Mandarin, bergeser sesuai bunyi kata yang mereka dengar menjadi kelenteng. Ikonografi kelenteng, sebagaimana tempat-tempat suci Buddhis lainnya. Seperti Borobudur misalnya, selalu dipenuhi dengan pesan yang dalam melalui berbagai elemen visualnya. Tingkatan, relief, bentuk lubang pada stupa, hingga stupa tanpa lubang di puncak Borobudur. Seluruhnya memiliki kesinambungan pesan dharma dari Buddha. Ibarat sebuah kitab tiga dimensi terbesar di dunia.

Demikian halnya dengan kelenteng, tempat ibadah umat Buddha Tionghoa.  Ikonografinya bukan sekedar hiasan pelengkap, akan tetapi menyampaikan pesan mendalam ajaran Buddha. Tidak seperti yang selama ini dipahami kebanyakan orang, bahwa ia hanyalah sekedar praktik folk religion atau agama rakyat dari masa klasik hingga sekarang. Seolah bebas nilai dan hanya mempraktikan animisme.

Shenisme dan Agama Buddha

Gondomono (1996: 14, 105) yang menyitir Eliot menyebutnya religi klasik atau shenisme, yang menyembah arwah leluhur, thian, dan dewata bawahanya. Namun Gondomono keliru Ketika menempatkan shenisme ini seolah terpisah sama sekali dari Taoisme dan Buddhisme. Memang masuk akal apabila Tiongkok sebelum masuknya Agama Buddha dari luar, memiliki sistem keyakinan sendiri atau sederhananya shenisme sebagaiman dijelaskan di atas. Namun, Ketika Agama Buddha dan Tao berkembang, selain memiliki kosmologi dewata tersendiri. Kedua agama yang masih eksis hingga saat ini di Tiongkok, juga mengintegrasikan dewa dari shenisme tersebut ke dalam kosmologi masing-masing.

Kelenteng, dengan ikonografinya yang khas, ternyata dapat menjadi media unik untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual sebagaimana Borobudur dan candi lainnya. Dapat menjembatani konsep abstrak dalam ajaran agama dengan pengalaman konkret.  Artikel ini akan mengajak pembaca menelusuri hubungan mantra, ikonografi, dan arsitektur kelenteng di Indonesia.

Migrasi Leluhur Tionghoa ke Jawa dan Agama Baur

Migrasi dari Tiongkok ke Jawa secara massif terjadi pada era kolonial awal. Bentuk agama yang dibawa leluhur Tionghoa, disebut Gondomono (1996) sebagai agama baur, dengan penjelasan yang tidak mendalam. Seolah agama yang mencampuradukkan semuanya. Padahal baur dapat dilihat dari perspektif agama-agama yang dianggap asli Tiongkok yaitu Tao dan Buddha.

Agama Buddha memang berasal dari India, namun keberhasilan sinifikasi yang demikian mendalam menempatkannya sebagai agama asli. Salah satu indikatornya, hanya kedua agama tersebut yang memiliki gunung-gunung suci sejak masa Tiongkok klasik, dan memiliki pengaruh besar terhadap arsitektur, bahasa, hingga pengobatan.

Soal Agama Baur yang Kerap Disalahpahami

Bentuk baur memang tampak dalam praktik keagamaan di tempat ibadah yang disebut kelenteng. Namun pembagian Salmon dan Lombard (2017) dari hasil kajian terhadap 74 kelenteng di Jakarta, dapat menjadi pedoman yang lebih tepat. Kajian tersebut membedakan kategori kelenteng berdasarkan dewata tuan rumah atau dewata utamanya. Oleh karena hanya Agama Buddha dan Agama Tao yang memiliki kosmologi dewata Tiongkok.

Maka hanya terdapat kategori kelenteng Buddhis (umat Buddha) dan kelenteng Taois (umat Tao). Sedangkan Konfusianis, tidak memiliki kosmologi dewata. Maka Salmon dan Lombard meski menjadikan kajiannya kurang konsisten, menempatkan Konghucu sebagai dewata utama di Boen Bio Surabaya dengan penjelasan sangat singkat. Karena memang Konghucu tidak pernah dikanonisasi sebagai dewata dari masa Tiongkok klasik hingga saat ini.

Kelenteng adalah Istilah Generik

Kelenteng sebenarnya adalah sebutan generik orang Jawa terhadap tempat ibadah orang Tionghoa. Baik yang beragama Buddha maupun Tao. Tidak seperti Salmon dan Lombard yang dapat mengkaji berdasarkan dewata utama atau tuan rumah. Masyarakat awam tidak dapat membedakan, karena keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang praktik keagamaan di tempat yang disebut kelenteng tersebut. Padahal tempat ibadah tersebut memiliki nama dengan pemaknaan masing-masing. Contoh Kwan Im Teng, Jin De Yuan, Kong Hoa Sie, Tay Kak Sie, Sam Po Kong dan sebagainya.

Salah satu ikonografi yang konsisten pada kelenteng adalah sepasang singa, sepasang naga menjaga mutiara menyala di atap, dan Teratai sebagai alas berdiri atau duduk Buddha dan Bodhisattva. Keseluruhannya membentuk pesan ajaran Buddha, yang dirangkum dalam mantra Om Mani Padme Hum.  Akan tetapi saat ini tidak banyak yang dapat menangkap pesan tersebut. Diantaranya akibat diskriminasi selama tiga dasawarsa lebih terhadap orang-orang Tionghoa pada masa orde baru. Hal yang menyebabkan kosongnya kelenteng-kelenteng dari para bhiksu Mahayana yang pada masa kolonial hingga orde lama masih menjadi pembimbing spiritual.

Om: Representasi Tiga Kemurnian

Suku kata “Om” berasal dari A–U–M, representasi tiga aspek Buddha: tubuh, ucapan, dan pikiran murni (Strong, 2007). Jonathan Strong menekankan keselarasan tindakan, perkataan, dan pikiran dalam praktik Buddhis.

Transformasi simbolik A–U–M terlihat dalam ikonografi singa. Lewis Fogelin (2015) mencatat ketiadaan ikonografi singa Buddhis sebelum masa Aśoka (abad ke-3 SM). Metafora “Buddha sebagai Singa” (Śākyasiṃha) dan “raungan singa Dharma” (siṅhanāda) menggambarkan kekuatan ajaran Buddha. Pada masa Asoka, singa menjadi simbol resmi Buddhisme karena kekuatan dan keagungannya merepresentasikan kekuasaan sekaligus perlindungan Dharma.

Kapitel singa pada pilar Aśoka adalah ikonografi singa Buddhis monumental pertama (Craven, 1997; Dehejia, 1997). Tradisi ini menyebar ke Asia Timur, termasuk komainu di Jepang, mewarisi konsep fonetik yang sama (Ebrey, 2003). Di kelenteng Nusantara, pengaruh komainu dapat dilihat pada patung singa di gerbang masuk, meski dengan gaya yang telah mengalami penyesuaian lokal.

Mani: Permata Welas Asih

“Mani” berarti permata. Dalam Mahāyāna, cintāmaṇi (permata pemenuh harapan) adalah simbol welas asih Avalokiteśvara (Hopkins, 1980), melambangkan potensi tak terbatas untuk memberi manfaat (Hopkins, 1980).

Ikonografi Buddhisme Tiongkok memperkuat makna ini. Naga menjaga mutiara bercahaya di atap kelenteng sebagai lambang cintāmaṇi (Little, 2000), memancarkan kebijaksanaan dan welas asih. British Museum mengklasifikasikan mutiara naga (flaming pearl) sebagai wish-granting jewel. Di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, misalnya, naga menjaga mutiara dapat dilihat di atap bangunan utama, melambangkan perlindungan dan berkah bagi seluruh kelenteng.

Dalam tradisi kelenteng Nusantara, mutiara yang dijaga naga adalah “Mani”: cahaya welas asih yang melindungi dan menyinari dunia. Cahaya ini memengaruhi pengalaman spiritual umat, memberikan rasa aman, harapan, dan mengingatkan akan pentingnya welas asih.

Padme: Teratai sebagai Simbol Kebijaksanaan Tanpa Noda

“Padme” berarti “teratai”, simbol kebijaksanaan (prajñā) yang tak tercemar (Dehejia, 1997). Teratai adalah ikonografi paling konsisten dalam seni Buddhis (Dehejia, 1997), melambangkan bagaimana kebijaksanaan tumbuh dari pengalaman sulit.

Relief Borobudur menunjukkan Bodhisattva duduk di atas teratai. Di kelenteng Kwan Im, Jakarta, patung Avalokiteśvara seringkali digambarkan duduk di atas teratai, menekankan sifat welas asih dan kebijaksanaan yang tak terpisahkan. Simbol teratai relevan dengan kehidupan sehari-hari, mengingatkan bahwa kebijaksanaan dapat ditemukan dalam setiap pengalaman, bahkan yang paling menantang.

Hum: Non Dualitas Welas Asih dan Kebijaksanaan

“Hum” adalah suku kata pemeteraian, mewakili kesadaran tak tergoyahkan (Hopkins, 1980), menandai penyatuan welas asih (karuṇā) dan kebijaksanaan (prajñā) (Hopkins, 1980).

Dalam ikonografi Vajrayāna, hampir semua Buddha dan Bodhisattva dapat diwujudkan melalui “Hum” (Rhie & Thurman, 1991). Patung Buddha Śākyamuni, Amitābha, Guanyin, atau Kṣitigarbha di altar kelenteng adalah representasi “Hum”, puncak perjalanan spiritual. Umat Buddha dapat mencapai penyatuan welas asih dan kebijaksanaan melalui meditasi, visualisasi, dan praktik spiritual lainnya di kelenteng.

Kelenteng sebagai Mantra Tiga Dimensi

Kelenteng dapat dilihat sebagai struktur mantra: Gerbang dan Singa Penjaga → Om: Memurnikan tubuh, ucapan, dan pikiran (Fogelin, 2015; Strong, 2007). Atap dan Naga Penjaga Mutiara → Mani: Welas asih Avalokiteśvara (Little, 2000). Teratai pada Singgasana Buddha → Padme: Pencerahan tanpa noda (Dehejia, 1997; Craven, 1997). Patung Buddha dan Bodhisattva di Altar → Hum: Penyatuan welas asih dan kebijaksanaan (Hopkins, 1980; Rhie & Thurman, 1991). Dengan demikian, arsitektur kelenteng didesain untuk mengingatkan pesan Om Mani Padme Hum. Setiap insan yang hadir ke kelenteng, ibarat “melangkahkan tubuhnya” di dalam mantra suci tersebut.

Maka, ketika seorang umat Buddha menancapkan dupa di depan Buddha atau Guanyin, ia sesungguhnya telah menapaki perjalanan batin: Om — Memasuki gerbang dengan kesadaran murni. Mani — Membangkitkan cinta kasih universal. Padme — Memohon kebijaksanaan tak bernoda. Hum — Menghadapkan diri pada figur yang sudah menyempurnakan keduanya. Ritual sederhana itu adalah deklarasi sunyi: Bahwa ia pun bertekad ingin menapaki jalan welas asih dan kebijaksanaan, dengan meneladani Buddha, Guanyin, atau Bodhisattva dan Mahasattva lainnya.

Demikian, dari Himalaya hingga Nusantara, dari pilar Aśoka hingga candi, vihara atau kelenteng di wilayah Indonesia, Om Mani Padme Hum hidup sebagai suara, teks, cahaya, dan ruang suci yang mengarahkan setiap insan pada penggugahan sempurna. Senantiasa menggemakan pesan dari para leluhur, agar penerusnya senantiasa berjuang penuh kesadaran untuk memurnikan tubuh, ucapan, dan pikirannya. Ikonografi kelenteng membuktikan kebijaksanaan dari leluhur Tionghoa. @Eddy Setiawa – Peneliti Institut Nagarjuna

Bacaan Lanjutan

Berzin, A. (2002). Taking the Kalachakra Initiation. Snow Lion Publications, Ithaca, New York.

Craven, R. (1997). Indian Art: A Concise History. Thames & Hudson, London.

Dehejia, V. (1997). Discourse in Early Buddhist Art: Visual Narratives of India. Munshiram Manoharlal Publishers, New Delhi.

Ebrey, P.B. (2003). Chinese Civilization and Society: A Sourcebook. Free Press, New York.

Fogelin, L. (2015). An Archaeological History of Indian Buddhism. Oxford University Press, Oxford.

Gondomono (1996), Membanting Tulang Menyembah Arwah: Kehidupan Kekotaan Masyarakat Cina, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Depok.

Hopkins, J. (1980). Meditation on Emptiness. Wisdom Publications, Somerville, MA.

Little, S. (Ed.). (2000). Taoism and the Arts of China. Art Institute of Chicago, Chicago.

Rhie, M.M. & Thurman, R. (1991). Wisdom and Compassion: The Sacred Art of Tibet. Abrams, New York.

Strong, J. (2007). Buddhism: A Very Short Introduction. Oxford University Press, Oxford.

Wayman, A. & Wayman, E. (1973). The Lion’s Roar of Queen Śrīmālā. Columbia University Press, New York.

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna