Page 12

Vihara 400 Tahun Bangkit: Pasang Kong Liong dipimpin 8 Bhiksu

1
Vihara 400 tahun yaitu Jin De Yuan atau Vihara Dharma Bhakti bangkit dengan dimulainya pemugaran yang ditandai dengan upacara pasang kong liong dipimpin 8 orang bhiksu
Vihara berusia 400 tahun yaitu Kwan Im Teng yang pada 1740 dipugar dan berubah nama menjadi Jin De Yuan dan karena kebijakan orba disesuaikan menjadi Vihara Dharma Bhakti. Setelah kebakaran pada 2015 lalu kini bangkit ditandai upacara pasang kong liong oleh 8 bhiksu

Di tengah gemuruh Jakarta yang tak pernah berhenti bergerak, sebuah ritual untuk memulai pemugaran tempat ibadah tertua umat Buddha di Indonesia dilaksanakan. Upacara yang disebut “Pasang Kong Liong” ini dilakukan di halaman Vihara Dharma Bhakti  atau Jin De Yuan. Vihara 400 tahun di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Dengan dipimpin oleh delapan bhiksu Mahayana, yang berdiri mengelilingi meja sembahyang dilengkapi pucuk tebu di kanan kiri, berbagai sesajian, serta bunga. Di hadapannya tampak sebuah balok kayu besar dan panjang dibalut kain merah, siap dikerek oleh para pekerja.

Di bawah pimpinan Yang Mulia Bhiksu Kusalasasana Mahasthavira, Ketua Umum Sangha Mahayana Indonesia. Mereka memulai upacara pemasangan Kong Liong—balok utama yang menjadi jiwa arsitektur vihara tertua ini. Bagi masyarakat awam, Kong Liong hanyalah bagian dari konstruksi. Tapi bagi komunitas Buddhis-Tionghoa, ia adalah simbol spiritual yang menopang bukan hanya atap, melainkan juga keyakinan, harapan, dan kesinambungan tradisi selama hampir empat abad.

“Kong Liong adalah titik pertemuan langit dan bumi,” kata Ci Shirley, salah satu pengurus vihara, dalam sambutannya. “Ia bukan sekadar kayu, tapi jembatan antara masa lalu dan masa depan.” pungkasnya.

Dari Kwan Im Teng hingga Dharma Bhakti

Vihara Dharma Bhakti, awalnya dikenal sebagai Kwan Im Teng (Paviliun Guanyin). Vihara ini didirikan pada 1650 oleh Luitenant Tionghoa Kwee Hoen. Tempat ibadah dengan dewata utama Bodhisattva Avalokitesvara ini, mengalami kerusakan parah dalam kerusuhan 1740. Kemudian dibangun kembali pada 1755 oleh Kapitan Oei Tjhie dan diganti namanya menjadi Jin De Yuan—“Kebijaksanaan Emas”.

Dalam perbaikan inilah tampaknya sekaligus dilakukan perluasan dan penambahan fungsi. Karena akhiran Yuan setara dengan Arama, yakni vihara dengan fasilitas lebih lengkap.  Tidak hanya untuk ritual, tapi juga ada tempat tinggal dan pendidikan para bhiksu. Hal ini terkonfirmasi dalam temuan penelitian Franke, Salmon & Chun-yin (1997) yang meneliti materi-materi efigrafis Tionghoa di Indonesia. Termasuk temuan di Vihara Dharma Bhakti, berupa prasasti yang memuat nama-nama bhiksu yang pernah tinggal di Jin De Yuan di era kolonial. Hasilnya telah dibukukan dengan judul Chinese Ephigraphic Materials in Indonesia, Vol. 2, Java.

Nama Jin De Yuan, bertahan hingga masa Orde Baru. Kebijakan larangan aksara dan bahasa Mandarin mendorong pengurus mengganti namanya menjadi Vihara Dharma Bhakti. Ia menjadi pusat aktivitas umat Buddha Jakarta, bahkan tak jarang wisatawan berkunjung mengagumi arsitektur klasiknya. Namun, sejarah kembali menguji vihara 400 tahun ini di era reformasi. Pada 2 Maret 2015, kobaran api melalap habis bangunan utamanya. Meski demikian, 3 Patung Buddha berukuran besar dan Kwan Im yang berusia sangat tua berhasil diselematkan. Sejak itu, proses restorasi berjalan lambat karena berbagai kompleksitas yag ada. Meskipun sebenarnya semangat kolektif dari pengurus vihara, Sangha, relawan, donatur, hingga pemerintah setempat tetap menyala.

Pasang Kong Liong di Vihara 400 Tahun

Upacara pemasangan Kong Liong pada Kamis pagi, 27 November 2025 ini bukan hanya tanda dimulainya pembangunan fisik—tapi juga pernyataan bahwa warisan budaya dan spiritual ini tak akan padam.

Delapan bhiksu yang hadir mewakili kehadiran institusi Sangha Mahayana Indonesia. Menegaskan bahwa ritual ini bukan sekadar teknis pembangunan, melainkan peristiwa spiritual yang sakral. Di tengah gema mantra, aroma dupa, dan dentang genta, tambur dan musik liturgi Buddha Mahayana.  Umat dari berbagai latar belakang berkumpul dan mengikuti upacara dengan hikmat. Tokoh masyarakat Buddhis seperti Tommy Winata dan Ibu Dewi Kam, juga tampak larut dalam upacara pagi itu. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pelestarian vihara yang hampir berusia empat abad ini adalah tanggung jawab bersama. 

Memang, Vihara Dharma Bhakti selama ini lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah pusat komunitas, ruang dialog lintas generasi, dan simbol ketahanan budaya Tionghoa-Indonesia di ibu kota. Umat Buddha Tionghoa adalah salah satu penjaga terdepan budaya Tionghoa, sebagaimana umat Buddha dari suku-suku lainnya, adalah penjaga budaya yang penuh welas asih.

Kong Liong: Arsitektur yang Bernyawa

Dalam tradisi arsitektur Tionghoa, Kong Liong adalah elemen paling sakral dalam sebuah bangunan suci. Ia dipasang tepat di puncak struktur, menghubungkan tiang-tiang utama, menopang atap, dan—dalam makna simbolis—mengikat langit, bumi, dan manusia.

Proses pemasangannya pun sarat makna. Kayu dipilih dengan cermat, diukir dengan doa, dan dipasang pada hari dan jam yang ditentukan menurut penanggalan tradisional. Tak heran, upacara ini hanya dilakukan sekali dalam seabad—atau bahkan lebih jarang.

“Setiap paku yang dipalu hari ini adalah doa,” ujar Bhiksu Kusalasasana. “Agar vihara ini terus menjadi tempat welas asih, kebijaksanaan, dan persaudaraan.” 

Menatap Masa Depan

Fase restorasi yang dimulai hari ini diperkirakan akan berlangsung sekitar satu tahun. Namun, seperti yang terasa dalam setiap langkah ritual, yang paling penting bukanlah kecepatan, melainkan niat tulus untuk mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.

Di tengah kota yang terus berubah, Vihara Dharma Bhakti bak batu karang—tempat sejarah bernapas, komunitas bertemu, dan kepercayaan tumbuh. Ikonografi Chinese Buddhism yang penuh makna, semoga akan dipertahankan sebaik-baiknya dalam proses restorasi ini.

Saat Kong Liong akhirnya dikatrol naik oleh para pekerja yang dilengkapi alat pengaman dan rompi menyolok. Tak ada sorak-sorai bergemuruh, semua tenang mengikuti irama liturgi Mahayana yang mengantarkan alunan doa yang mengalir perlahan. Doa agar bangunan ini, seperti semangat yang menghidupkannya, tetap berdiri kokoh untuk ratusan tahun lagi. Harapan agar bangunan tempat ibadah ini memberi manfaat bagi semua makhluk. @esa

Bhutan dan Soft Power: Spiritualitas Dunia

0
Bhutan jadi tuan rumah global peace prayer festival
Bhutan selama ini dikenal karena alamnya yang demikian lestari hingga GNH. Kali ini karena menjadi tuan rumah Global Peace Prayer Festival

Bhutan kembali menarik perhatian dunia — bukan lewat diplomasi atau ekonomi, tetapi lewat kekuatan spiritualnya. Tahun 2025 ini, ibu kota Thimphu menjadi tuan rumah Global Peace Prayer Festival. Perhelatan pertama, sebuah yang akan berlangsung dua minggu. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-70 Yang Mulia Raja Keempat, Jigme Singye Wangchuck. Sang penggagas konsep Gross National Happiness biasa disingkat GNH.

Festival Doa Bhutan untuk Perdamaian Global

Acara ini mempertemukan para pemimpin spiritual, bhiksu, dan praktisi dari berbagai negara yang datang dengan satu tujuan: mendoakan kedamaian, welas asih, dan harmoni bagi dunia.

Festival ini bukan sekadar kumpul-kumpul religius. Ada banyak ritual besar yang digelar, seperti Jabzhi Dhoechog, pembacaan mantra Bazaguru, dan Kalachakra Empowerment yang dipimpin langsung oleh Yang Mulia Je Khenpo, tokoh spiritual tertinggi Bhutan.

Salah satu momen bersejarah dalam festival ini adalah penahbisan lebih dari 250 bhiksuni — sebuah langkah besar menuju inklusivitas dan pemberdayaan dalam tradisi Buddhis di kawasan Himalaya.

Sekilas tentang Keberagaman Ajaran Buddha

Buddhisme berakar pada ajaran Siddhartha Gautama, Buddha, yang menekankan welas asih, kesadaran batin, dan pembebasan dari penderitaan. Di perjalanan sejarah, tradisi ini berkembang menjadi tiga aliran besar:

  • Theravada – banyak dianut di Thailand, Sri Lanka dan negara lainnya di Asia Tenggara; fokus pada disiplin dan pencerahan pribadi. Hanya Vietnam yang mayoritas Mahayana.

  • Mahayana – berkembang di Asia Timur; menekankan cita-cita Bodhisattva, yakni mencapai pencerahan demi membantu semua makhluk. Tiongkok, Jepang, dan Korea adalah negara dengan mayoritas pemeluk Buddha Mahayana.

  • Vajrayana – khas kawasan Himalaya seperti Bhutan dan Tibet; dikenal dengan praktik mantra, meditasi mendalam, dan ritual tantra.

Menariknya, ketiga tradisi besar ini hadir bersama dalam festival perdamaian di Bhutan. Momen ini jarang terjadi dan menjadi simbol persatuan spiritual lintas aliran — semua bergabung untuk satu doa: kedamaian bagi dunia.

Baca juga: Phra Paisal Visalo: Spiritualitas dan Aksi Sosial

Kehadiran Pemimpin Dunia dan Oase Ketenangan

Perayaan ini juga dihadiri oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang ikut bergabung dalam berbagai rangkaian acara. Kehadirannya memberi sinyal kuat tentang pentingnya hubungan spiritual dan budaya antara India dan Bhutan.

Dengan sejarah spiritual yang kaya, tradisi Buddhis yang hidup, dan komitmen mendalam terhadap kesejahteraan batin, Bhutan sekali lagi menunjukkan bahwa soft power tak selalu berupa ekonomi atau militer — kadang berupa doa, ritual, dan pesan damai yang menggerakkan dunia.

Festival ini bukan hanya perayaan agama, tetapi juga cermin nilai-nilai Bhutan: harmoni, kebahagiaan, dan kedalaman spiritual yang terus menginspirasi banyak orang.

Nagarjunakonda untuk Konservasi Warisan Agama Buddha di India

0
Akademi baru akan didirikan di Nagarjunakonda demikianlah hasil
Nagarjunakonda terpilih menjadi lokasi akademi baru yang akan didirikan dalam rangka perlindungan situs warisan Buddha yang belum terlindungi

Upaya melindungi warisan Buddha di pedesaan India mendapatkan dorongan baru. Melalui pembukaan International Conference on the Preservation of Rural Buddhist Heritage. Sebuah konferensi yang digelar di Dr Ambedkar International Centre, pada Jumat, 28 November 2025. Acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut menghadirkan para pakar, praktisi, dan perwakilan komunitas. Dengan tujuan untuk merancang strategi konservasi bagi situs-situs Buddhis yang selama ini belum mendapat perlindungan memadai. Salah satu berita bahagia pada konferensi adalah soal keberadaan lahan untuk akademi pelestarian di Nagarjunakonda.

Konferensi ini diselenggarakan oleh India Trust for Rural Heritage and Development (ITRHD). Dibuka oleh tokoh-tokoh penting seperti mantan anggota parlemen Karan Singh, Ketua ITRHD S. K. Misra, serta akademisi Buddhis Shantum Seth.

Akademi Baru di Nagarjunakonda

Salah satu pengumuman terbesar datang dari S. K. Misra yang menyampaikan bahwa lima acre lahan di Nagarjunakonda, Andhra Pradesh. Telah dialokasikan untuk pembangunan sebuah akademi khusus pelestarian warisan Buddha. Khususnya situs-situs yang belum terlindungi secara memadai selama ini.

Akademi ini dirancang untuk menjadi pusat pelatihan bagi berbagai kalangan. Mulai dari administrator, akademisi, hingga komunitas lokal. Adapun pendekatan yang digunakan adaah dengan menggabungkan kearifan tradisional dan teknik konservasi modern.

Baca juga: Agama Buddha dan Jalan Pembebasan

Konservasi yang Berpihak pada Komunitas

Abhijit Halder, Direktur Jenderal International Buddhist Confederation, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pelestarian situs. Menurutnya, ajaran Buddha mengingatkan bahwa pelestarian tidak hanya soal bangunan, tetapi juga menjaga tradisi, komunitas, dan ekosistem yang menopang warisan tersebut.

Hari pertama konferensi diisi dengan diskusi mengenai konservasi warisan pedesaan dan pandangan global terhadap pelestarian budaya. Sesi-sesi ini membantu membentuk rancangan kurikulum dan strategi jangka panjang bagi akademi yang diusulkan.

Pada hari kedua, peserta akan membahas beragam topik, termasuk:

  • Arsitektur Buddhis dan teknik konservasinya
  • Warisan hidup Buddha di Nepal
  • Keterkaitan komunitas modern dengan peninggalan Buddhis
  • Museum komunitas dan warisan tak benda
  • Inisiatif internasional untuk konservasi situs Buddhis
  • Sistem pengetahuan sakral dan warisan bangunan di India dan Asia Timur

Konferensi ini akan ditutup pada 30 November, dengan diskusi seputar inovasi pendidikan untuk pengelolaan warisan, tantangan pembangunan di pedesaan, dan peran kesadaran akademis dalam pembangunan kawasan rural.

Sumber: PTI News Update

Jalan Pembebasan Perumahtangga: Relasi sebagai Jalan

0
Jalan Pembebasan di Tengah Hidup Perumah Tangga
Perumah Tangga sebagai salah satu pilar Agama Buddha memiliki peluang yang sama untuk merealisasikan pembebasannya.

UKetika kemudian ia berjumpa dengan Buddhadharma, kisah Pangeran Siddharta terasa mengguncangnya: seolah ada pembenaran untuk dorongan lamanya meninggalkan dunia rumah tangga. Namun pada saat yang sama, muncul keraguan mendalam—keraguan yang bukan sekadar tentang memilih jalan, tetapi tentang bagaimana memahami dukkha, cinta, dan tanggung jawab dalam terang Dharma. Jalan pembebasan perumahtangga bukan sebuah utopia.

Jalan Pembebasan di Tengah Hidup Perumahtangga:
Relasi sebagai Jalan, Bukan Belenggu

Oleh Eko Nugroho R*

Pendahuluan

Di antara mereka yang menapaki jalan Buddhadharma. Tak jarang muncul suatu dorongan awal yang kuat untuk meniru jejak Pangeran Siddharta. Meninggalkan rumah, menanggalkan ikatan keluarga, dan menempuh Nihsaraṇa secara radikal. Kisah agung itu menggugah imajinasi. Seolah pembebasan akan lebih dekat bila kita berani memutus semua dahan keduniawian. Namun realitas batin tidak selalu sesederhana alur naratif. Sebaliknya jalan pembebasan perumahtangga juga bukan ilusi.

Sering kali, pemula hanya melihat satu fragmen sejarah. Siddharta meninggalkan Yasodhara. Yang luput dari jangkauan penglihatan ialah kedalaman hubungan mereka. Hubungan yang telah teranyam dalam banyak kelahiran sepanjang kalpa. Mereka bukan pasangan yang terjalin seketika. Melainkan para teman handal yang saling menopang dalam perjalanan menuju Penggugahan. Kepergian Siddharta bukan penolakan. Melainkan buah kematangan batin yang telah dipupuk dari kehidupan-kehidupan lampau. Disertai pengertian yang jernih dari Yasodhara sendiri.

Kisah Sahabat: Aspirasi, Trauma, dan Kebingungan Jalan

Kerentanan aspirasi yang sama muncul dalam kisah seorang sahabat dalam komunitas meditasi. Sejak muda ia memandang kehidupan rumah tangga sebagai sesuatu yang rapuh dan penuh kesia-siaan. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kegagalan pernikahan di sekitar dirinya. Hal ini menanam benih trauma dan penolakan terhadap ikatan emosional yang mendalam. Ketika sang ibu memintanya untuk menikah, ia menerima bukan karena dorongan hati. Melainkan demi memenuhi harapan keluarga. Tahun-tahun berjalan, ia menjalani pernikahan. Menjadi ayah, dan menunaikan peran-peran yang muncul dalam aliran hidup. Namun di dalam batin, tetap ada desir yang samar. Sebuah kerinduan untuk melepaskan diri dari segala belenggu. Untuk menempuh jalan sunyi tanpa ikatan.

Ketika kemudian ia berjumpa dengan Buddhadharma. Kisah Pangeran Siddharta terasa mengguncangnya. Seolah ada pembenaran untuk dorongan lamanya meninggalkan dunia rumah tangga. Namun pada saat yang sama, muncul keraguan mendalam. Keraguan yang bukan sekadar tentang memilih jalan. Akan tetapi tentang bagaimana memahami dukkha, cinta, dan tanggung jawab dalam terang Dharma.

Baca juga: Ian Stevenson 40 Tahun Menyusuri Jejak Reinkarnasi

Perspektif Buddhadharma dan Psikologi Humanis

Di sinilah perspektif Buddhadharma dan psikologi humanis saling melengkapi. Aspirasi pembebasan yang tidak ditopang oleh pengenalan diri yang jujur. Sering kali berubah menjadi bentuk halus dari penghindaran. Dalam psikologi humanis, terutama melalui pemikiran Carl Rogers (1961). Proses pendewasaan batin menuntut keberanian untuk hadir apa adanya. Kejujuran terhadap perasaan sendiri, penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard), dan keterbukaan untuk menyentuh inti pengalaman diri. Tanpa menyangkalnya.

Rogers menyebut kecenderungan ini sebagai dorongan alami menuju aktualisasi diri. Sebuah gerak batin yang hanya dapat muncul dari keaslian dan penerimaan mendalam atas kondisi diri. Dalam horizon yang sama. Maslow (1968) menekankan bahwa kebutuhan aktualisasi diri tidak dapat dicapai melalui pelarian. Tetapi melalui keberanian menghadapi pengalaman manusiawi dengan penuh kesadaran. Dalam konteks ini. Aspirasi pembebasan tidak selalu harus tampil sebagai bentuk penolakan terhadap kehidupan rumah tangga. Kerap kali, bagi praktisi masa kini, jalan itu justru menuntut transformasi batin yang lebih halus. Yakni mengalihkan dorongan untuk “meninggalkan” menjadi kesiapan untuk “menghadir”. Jika Nekkhamma muncul sebagai ‘dorongan untuk bebas dari mencengkeram.’ Maka kebebasan itu dapat berkembang bukan dengan cara menjauhi relasi yang telah terjalin. Melainkan melalui perubahan cara kita menjalani hidup bersama.

Justru ketika seseorang tergugah oleh ideal pembebasan, muncul risiko salah langkah. Seperti menjadi dingin, tampak tak terjamah oleh perasaan, seolah welas asih tak relevan lagi. Padahal, jika aspirasi pembebasan tidak diimbangi Karuṇā dan Kewaskitaan. Ia akan mudah menjelma menjadi bentuk baru dari kecemasan dan kelesah (kilesa). Hal yang berujung penolakan (dosa), sebuah dukkha yang terselubung. Perspektif psikologi humanis membantu menegaskan bahwa kehangatan, kehadiran autentik, dan penerimaan adalah fondasi relasi yang sehat. Sekaligus juga fondasi untuk transformasi spiritual (Cain, 2016).

Transformasi Aspirasi melalui Catur-Apramāṇa

Pada titik inilah ajaran Catur-Apramāṇa menjadi penuntun yang gamblang untuk jalan pembebasan perumahtangga. Mettā adalah hati yang hangat, yang secara aktif mengharapkan dan mengupayakan kebahagiaan bagi yang lain. Karuṇā adalah keberanian untuk hadir di mana ada penderitaan—bukan berlari menjauh darinya. Muditā adalah kemampuan merayakan kebahagiaan orang terdekat—pasangan, anak, keluarga—tanpa tersentuh iri atau penghindaran. Upekkhā adalah keseimbangan dan kesetaraan batin yang membuat kita mampu melihat dukkha tanpa hanyut olehnya, baik dukkha kita sendiri maupun dukkha pasangan.

Keempatnya bukan ideal abstrak; justru semuanya berdenyut paling kuat dalam relasi sehari-hari. Buddhadharma sendiri menegaskan bahwa ketika seseorang menemukan sahabat yang selaras, yang bisa diajak maju bersama, seharusnya ia berjalan bersamanya. Dhammapada 328 menuliskan:

“Jika engkau menemukan seorang sahabat bijaksana yang hidup selaras dan berperilaku luhur, hendaklah engkau berjalan bersamanya dengan gembira dan penuh perhatian, mengatasi segala bahaya.” (Dhp 328)

Kutipan ini bukan sekadar ajakan literal, melainkan penjelasan halus bahwa sebuah relasi dapat menjadi lahan latihan spiritual. Pasangan—yang berbagi suka-duka kita—dapat menjadi mitra handal (kalyanamitra), seorang kalyāṇamitra yang membantu kita mematangkan keberanian untuk menghadapi dukkha sendiri. Seperti dijelaskan dalam Itivuttaka 17 tentang peran para sahabat bajik:

“Para kalyāṇamitra adalah seluruh dari kehidupan suci.” (Iti 17)

Memandang pasangan sebagai kalyāṇamitra bukan berarti menyepelekan konflik atau perbedaan; tetapi melihat bahwa melalui relasi itulah kita belajar mengendurkan genggaman, menumbuhkan kejernihan, dan mempraktikkan cinta yang bebas dari tuntutan.

Berdamai dengan Relasi: Dari Penghindaran Menuju Kehadiran

Samsara di ruang hidup saat ini hanya berlangsung sekejap; namun dalam sekejap itu, kita punya kesempatan untuk menumbuhkembangkan Bodhicitta dalam bentuk yang paling konkret: kesediaan untuk hadir, menyokong, dan berjalan bersama. Keintiman bukan penghalang pembebasan—ia dapat menjadi ladang praktik untuk melihat Sunyata dalam relasi: bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar “milikku,” dan justru dari kejernihan ini tumbuh kelembutan yang tak menuntut.

Dalam suasana batin seperti ini, transformasi tidak selalu berarti mengubah dunia luar, tetapi mengubah cara berpijak. Psikologi humanis menyebutnya sebagai proses menjadi manusia yang utuh—yang mampu menghadapi dukkha dengan keberanian, mencintai tanpa kehilangan diri, dan menata batas-batas dengan penuh welas asih.

Jalan Pertapaan: Bukan Jaminan Bebas Dukkha

Sering muncul anggapan bahwa jika seseorang memilih jalan pertapaan, maka seluruh persoalan duniawi akan sirna begitu saja. Namun sejarah dan kenyataan menunjukkan bahwa meninggalkan rumah bukan berarti meninggalkan dukkha. Bahkan para biksu pun kerap berhadapan dengan godaan, tantangan batin, dan kondisi yang dapat menggoyahkan tekad.

Dalam Vinaya dan berbagai kisah Buddhadharma, banyak contoh yang memperlihatkan bahwa kehidupan pertapaan tidak steril dari persoalan duniawi. Para biksu bisa tersandung oleh godaan harta, kedudukan dalam komunitas, atau relasi yang tidak tertata. Godaan sensual, konflik internal sangha, atau ambisi halus kadang justru muncul lebih kuat ketika seseorang berada dalam lingkungan yang diasumsikan suci.

Bahkan Buddha sendiri menghadapi fitnah dan tuduhan, seperti kisah Ciñcā Māṇavikā, yang menuduh Beliau menghamilinya. Udāna 4.8 mencatat bagaimana Buddha tetap diam dan tidak bereaksi, dan kebenaran akhirnya terungkap ketika kain penyangga yang disembunyikan Ciñcā terlepas. Kisah ini menunjukkan bahwa sekalipun sudah mencapai Penggugahan, tantangan dunia tidak lenyap; yang berubah adalah cara seseorang menanggapinya.

Contoh Kasus Kontemporer

Sebagai pembanding kontemporer, sejumlah kasus di Thailand beberapa tahun terakhir menunjukkan kenyataan serupa. Bahwa Sangha pun tidak kebal terhadap godaan duniawi. Misalnya, kasus penggelapan dana di Wat Rai Khing yang melibatkan jutaan baht (Kompas, 17 Mei 2025). Skandal pemerasan seksual dan aliran dana yang menyeret beberapa biksu senior (Bangkok Post, 2025). Serta penyalahgunaan dana amal di Wat Phra Bat Nam Phu yang memicu proses hukum terhadap kepala viharanya (Thai Examiner, 2025).

Contoh-contoh ini tidak dimaksudkan untuk menilai Sangha, melainkan untuk menegaskan bahwa arus samsara dapat menggoyahkan siapa pun bila daya tahan batin dan kewaskitaan belum matang. Semua ini menggarisbawahi bahwa Jalan pertapaan meskipun dapat menjadi medan latihan yang dalam, tetapi bukan jalan pintas menuju kebebasan. Tanpa daya tahan batin, kewaskitaan, dan karuṇā, seseorang bisa saja runtuh di tengah jalan.

Di tengah kenyataan bahwa bahkan kehidupan pertapaan pun tidak bebas dari arus samsara, kita juga melihat sisi lain yang melengkapi gambaran ini: bahwa kehidupan rumah tangga bukanlah penghalang bagi Penggugahan. Sutta-sutta menyimpan banyak contoh kisah upāsaka dan upāsikā yang tetap menjalani hidup keluarga namun mencapai tingkat kesucian.

Teladan Awam dari Masa Lalu

Anāthapiṇḍika—penyokong Jetavana—digambarkan sebagai seorang Sotāpanna yang tetap mengelola rumah besar dan tanggung jawab sosialnya (SN 55.26; AN 7.50). Visākhā Migāramātā, seorang ibu dari banyak anak, juga disebut mencapai tingkat yang sama sejak usia muda, sambil tetap aktif menata rumah tangga dan mendukung Sangha (AN 8.43; Vinaya Mahāvagga VIII). Citta Gahapati bahkan mencapai tingkat Anāgāmī—pencapaian tinggi kedua sebelum Arahat—tanpa meninggalkan perannya sebagai kepala keluarga dan pengusaha (SN 41; AN 8.23). Demikian pula Hatthaka Āḷavaka, pemimpin komunitas yang dikenal karena kehangatan dan welas asihnya, hidup sebagai Sotāpanna sembari memikul tanggung jawab publik dan keluarga (AN 3.127; AN 8.24). Mahānāma Sakya, pejabat publik sekaligus kerabat Buddha, juga digambarkan mencapai tingkat Ariya sambil tetap menjalankan perannya dalam masyarakat (SN 55.21–40; AN 11.12).

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa bentuk luar kehidupan, baik rumah tangga atau pertapaan. Bukanlah penentu kemajuan batin. Karena yang menentukan adalah kedalaman Kewaskitaan, ketulusan Karuṇā, dan kemampuan melihat Sunyata dalam menghadapi apapun. Dengan demikian, bagi banyak praktisi modern, rumah tangga dapat menjadi ladang latihan yang subur. Tempat di mana Bodhicitta tumbuh melalui kehadiran, kejujuran, dan cinta kasih yang matang. Kesadaran ini membantu menetralkan romantisasi terhadap kehidupan pertapaan. Ia juga membuka ruang pemahaman. Bahwa latihan spiritual sejati terletak pada kualitas kehadiran, bukan pada bentuk luar.

Penutup: Jalan Pulang Menuju Kehadiran yang Lebih Lapang

Pada akhirnya, pergulatan sahabat ini mengungkapkan sesuatu yang universal: bahwa jalan spiritual tidak pernah terpisah dari kehidupan yang sedang kita jalani. Nekkhamma tidak selalu berarti meninggalkan rumah; kadang berarti ‘meninggalkan pola lama yang dibangun oleh luka.’ Karuṇā (keberaanian untuk hadir di mana ada penderitaan) kadang muncul bukan dalam langkah menjauh, tetapi dalam keberanian untuk tetap tinggal. Dan Mettā (niat bajik) menemukan bentuk paling indahnya dalam kehangatan sederhana: secangkir teh bersama pasangan, obrolan yang jujur, atau kesediaan mendengarkan ketika hari terasa berat. Kehadiran yang tidak mengembangkan cinta dan bukan kemelekatan adalah bagian dari jalan pembebasan perumahtangga.

Seperti sungai yang tetap mengalir meski melalui bebatuan, aspirasi pembebasan dapat menemukan bentuk yang lebih luas dan lembut ketika dialirkan melalui welas asih. Transformasinya bukan dari rumah menuju hutan, tetapi dari ketakutan menuju keterbukaan. Dari penghindaran menuju kehadiran. Dari ideal yang kaku menuju cinta yang matang.

Ketika aspirasi pembebasan diresapi oleh Kewaskitaan dan Karuṇā, ia tidak membawa kita menjauh dari manusia lain, tetapi menuntun kita pulang ke hati yang lebih lapang. Dengan demikian, apa yang dulu tampak sebagai dilema—antara meninggalkan dan tinggal—berubah menjadi perjalanan untuk belajar hadir secara lebih selaras, lebih ringan, dan lebih penuh cinta. Inilah hakikat jalan pembebasan perumahtangga.

*Peneliti Institut Nagarjuna

Bacaan Lanjutan untuk Jalan Pembebasan Perumahtangga
  • (T.t.). Dhammapada(terjemahan bahasa Indonesia). Diakses dari https://dhammacitta.org
  • (T.t.). Itivuttaka(terjemahan bahasa Indonesia). Diakses dari https://dhammacitta.org
  • Lembaga Tipitaka Indonesia. (T.t.). Tipitaka: Sutta Pitaka(terjemahan Indonesia). Jakarta: Lembaga Tipitaka Indonesia.
  • Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist’s view of psychotherapy. Houghton Mifflin.
  • Maslow, A. H. (1968). Toward a psychology of being(2nd ed.). Van Nostrand.
  • Cain, D. J. (2016). Humanistic psychotherapies: Handbook of research and practice(2nd ed.). American Psychological Association.

Berbahagialah Semua Makhluk: Kok Doanya Gitu?

0
Semoga semua makhluk hidup berbahagia adalah doa yang kerap diucapkan umat Buddha
Sabbe satta bhavantu sukkhitatta atau semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dalam hampir setiap doa atau puja bakti serta di akhir sesi meditasi umat Buddha, ada satu kalimat yang berulang: “Semoga semua makhluk berbahagia.” Ungkapan sederhana ini terdengar lembut, tetapi landasan filosofisnya sangat dalam. Ia lahir dari inti ajaran Buddha yang menggabungkan kesadaran akan dukkha (ketidakpuasan hidup) dan pemahaman tentang sunyata (kekosongan) serta paticca-samuppāda (saling ketergantungan) serta prinsip pikiran adalah pelopor, pemimpin, dan pembentuk. Singkatnya berbahagialah semua makhluk memiliki makna dan akar filosofis mendalam.

Mari kita bahas secara ringkas satu persatu beberapa inti ajaran Buddha terkait ucapan Semoga Semua Makhluk Berbahagia. Atau Berbahagialah Semua Makhluk tersebut.

1. Dukkha: Mengakui Kenyataan Ketidakpuasan

Ajaran Buddha dimulai dari pengamatan mendalam dan universal, dan kesimpulan Buddha adalah hidup penuh dengan ketidakpuasan akibat perubahan dan ketidakpastian yang tak terhindarkan atau disebut Dukkha. Namun perlu diingat, artinya tidak sama dengan kata serapannya dalam bahasa Indonesia yaitu duka.

Hidup ibarat menaiki kereta yang roda-rodanya tidak terpasang presisi pada porosnya. Setiap putaran membawa guncangan; naik-turun, oleng, terkadang mulus, mendadak terantuk. Ada momen senang, ada momen susah, dan keduanya silih berganti. Bahkan kebahagiaan yang kita rasa pun tidak bertahan lama—cepat atau lambat, ia berubah. Di ujungnya, semua makhluk menghadapi kematian, yang datangnya pun tidak mengenal usia. Dipastikan kita akan berpisah dari yang kita cintai, bisa besok, lusa atau beberapa puluh tahun lagi.

Penuaan, sakit, dan mati adalah kenyataan yang tak dapat dihindari. Siddhartha Gautama, bahkan sebagai seorang pangeran yang sengaja diisolir dalam kemewahan istana, akhirnya menyaksikan realitas ini. Ia melihat seorang tua, seorang sakit, jenazah, dan seorang pertapa berwajah damai. Dari situ ia menyimpulkan bahwa kehidupan sungguh tidak memuaskan dan bertekad mencari “obat” untuk mengatasi penderitaan semua makhluk. Ia pun meninggalkan semuanya demi cita-cita kebahagiaan semua makhluk ini.

Buddha merumuskannya dalam Empat Kebenaran Mulia:

Dukkha: Hidup mengandung ketidakpuasan.
Samudaya: Ketidakpuasan timbul dari keinginan dan keterikatan.
Nirodha: Ketidakpuasan dapat diakhiri.
Magga: Ada jalan menuju akhir ketidakpuasan—Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Ketika seorang umat Buddha mendoakan kebahagiaan semua makhluk, itu berangkat dari kesadaran akan fakta ini: semua makhluk, tanpa kecuali, mengalami dukkha. Manusia, hewan, bahkan makhluk halus. Ini menumbuhkan sifat welas asih tanpa syarat. Dalam istilah kanoniknya juga disebut:

“Diṭṭhā vā ye ca adiṭṭhā, ye ca dūre vasanti avidūre, bhūtā vā sambhavesī vā, sabbe sattā bhavantu sukhitattā.”

“Yang tampak maupun tak tampak, yang dekat maupun jauh, yang telah lahir maupun yang akan lahir, semoga semua makhluk berbahagia.”
Karaniya Metta Sutta, Sutta Nipata 1.8

2. Sunyata dan Paticca-Samuppāda

Sering kali kata sunyata diterjemahkan sebagai “kekosongan,” tetapi bukan berarti nihilisme. Kekosongan di sini berarti ketiadaan esensi atau substansi yang kekal dan berdiri sendiri. Segala sesuatu ada karena saling bergantung—tidak ada yang eksis sendirian, terpisah dari sebab dan kondisi lain. “Aku–Kamu”, “Kita–Mereka”, sejatinya tidak bersifat biner, melainkan membentuk suatu kontinum yang saling bergantung. Keberadaan masing-masing pihak hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan pihak lain, sesuai prinsip interdependensi (Sansekerta: pratītyasamutpāda) dalam filsafat Buddhis. Semua fenomena muncul karena sebab dan kondisi. Jika sebab dan kondisi berubah, maka fenomena itu pun berubah.

Contohnya sederhana: setangkai bunga ada karena tanah yang subur, air, sinar matahari, benih, dan perawatan. Tanpa salah satu unsur ini, bunga itu tidak akan ada. Hal yang sama berlaku pada diri kita—tubuh, pikiran, bahkan identitas kita adalah hasil dari interaksi banyak faktor: orang tua, makanan, bahasa, budaya, pendidikan, dan tak terhitung kondisi lain. Tanpa jaringan ini, “aku” tidak akan terbentuk.

Jika kita memahami sunyata dan paticca-samuppāda, kita akan menyadari bahwa kebahagiaan kita tidak pernah berdiri sendiri. Ia terhubung dengan kebahagiaan orang lain dan seluruh ekosistem kehidupan. Kesadaran inilah yang melahirkan welas asih: karena kita saling terhubung, merugikan yang lain sama saja merugikan diri sendiri, dan menolong yang lain juga menolong diri sendiri. Jadi ketika kita mengucapkan hal yang baik untuk semua mahkluk itu juga berimbas pada diri kita, karena semua saling terkait dan bergantungan.

3. Doa sebagai Latihan Welas Asih dan Jiwa Bodhisattva

Lalu, bagaimana filosofi ini diterjemahkan menjadi praktik nyata? Di sinilah doa “Semoga semua makhluk berbahagia” berperan sebagai sebuah latihan batin untuk mengarahkan hati pada cinta kasih tanpa syarat (metta), tanpa diskriminasi, tanpa batas ruang dan waktu.

Melalui pengulangan doa ini, seorang praktisi melatih pikirannya untuk melampaui lingkaran sempit “aku dan keluargaku” menjadi kepedulian terhadap seluruh makhluk: yang dekat maupun jauh, yang dikenal maupun tidak, yang tampak maupun tak tampak, yang besar maupun kecil. Inilah upaya pengembangan jiwa Bodhisattva. Jika kita sungguh menginginkan kebahagiaan untuk diri sendiri, kita tidak bisa mengabaikan penderitaan makhluk lain.

Berbahagialah Semua Makhluk sebagai Obyek Meditasi

Pemahaman filosofis ini tidak berhenti di kepala. Dalam Buddhisme, doa selalu diiringi usaha nyata. Mendoakan kebahagiaan semua makhluk berarti juga berusaha menjadi penyebab kebahagiaan itu—melalui ucapan yang benar, tindakan yang penuh kasih, dan pikiran yang jernih.

Buddha mengajarkan teknik meditasi mettā-bhāvanā (meditasi cinta kasih) sebagai cara untuk menginternalisasi doa ini. Dalam meditasi tersebut, kita mulai dengan mendoakan kebahagiaan untuk diri sendiri, lalu meluas ke orang terdekat, kenalan, orang yang netral, bahkan mereka yang kita anggap “lawan,” hingga akhirnya mencakup seluruh makhluk di segala penjuru. Dianjurkan untuk obyek yang dibenci, dilatih belakangan. Oleh karena itu, dimulai dari memancarkan cinta kasih kepada obyek yang paling mudah yaitu diri sendiri, lalu keluarga dan seterusnya.

Doa “Semoga semua makhluk berbahagia” menjadi kompas moral. Ia menuntun kita untuk tidak sekadar berpikir “apa untungnya untuk saya,” tetapi “apa manfaatnya bagi semua.”

Baca juga: Doa Makan Singkat Umat Buddha

Hukum Karma

Dalam Dhammapada, Yamakavaga (syair berpasangan), Buddha menyatakan pada syair 1 bahwa karma memiliki 3 saluran yaitu pikiran, ucapan dan tindakan. Maka jika dalam berucap dan bertindak dilandasi pikiran buruk, maka penderitaan akan mengikutinya. Bagaikan roda kereta mengikuti langkah kaki lembu penariknya.

Sebaliknya pada syair 2 ditegaskan bahwa bila seseorang berbicara dan bertindak dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya. Bagaikan bayangan yang tak pernah meninggalkan bendanya.

Jika kita baca kitab komentar atau penjelasan Dhammapada (Dhammpada Atthakata). Kedua syair ini diucapkan Buddha pada kesempatan yang berbeda di Savathi, India klasik.

Syair pertama terkait kasus Cakkhupala Thera. Seorang bhiksu yang memiliki gangguan pada matanya dan akhirnya buta. Namun ia sangat disiplin dan tekun melatih meditasi. Ternyata pada kehidupan lampaunya, ia telah menyebabkan makhluk lain menderita akibat pikirannya yang penuh kebencian. Buddha menyampaikan syair pertama dalam kesempatan tersebut.

Sementara untuk syair kedua, disampaikan Buddha ketika berceramah terkait Mahakala. Seorang umat awam yang sangat kaya raya dan demikian berdedikasi pada Tri Ratna. Buddha menjelaskan syair kedua, bahwa semua ucapan dan perbuatan yang dilandasi pikiran baik akan mendatangkan kebahagiaan. Mungkin ungkapan populer “Buah karma nggak akan tertukar” juga mengacu ke bagian akhir dari syair ini, yaitu bagai bayangan yang tak akan meninggalkan bendanya.

Begitu sentralnya pikiran, ucapan, dan perbuatan ini terlihat dari posisinya yang diletakkan Buddha diantara empat teratas jalan mulia berunsur delapan, setelah Pandangan Benar di nomor 1.

Oleh karena itu, ucapan Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta atau Berbahagialah Semua Makhluk. Bukan sekadar formalitas, ia cerminan pandangan dunia yang mengakar kuat dalam filsafat Buddhis, dan berfungsi sebagai latihan batin untuk mengembangkan welas asih tanpa batas. Alat untuk melatih pikiran manusia agar senantiasa penuh kewelasasihan tanpa syarat bagi semua. Pada saat yang sama juga berbuat karma baik melalui pikiran dan ucapan.

Mengatasi Keterasingan Menuju Kebahagiaan Universal

Doa “Semoga semua makhluk berbahagia” atau berbahagialah semua makhluk adalah praktik sehari-hari yang menggerakkan umat Buddha. Ia buka sebuah permohonan pada makhluk adi kodrati. Melainkan sebuah ikrar batin untuk menjadi bagian dari sebab kebahagiaan dunia.

Ketika doa itu diucapkan, ia adalah pengakuan atas sunyata dan paticca-samuppada—bahwa tidak ada satu pun dari kita yang berdiri sendiri. Ia adalah penolakan terhadap alienasi dan penegasan bahwa setiap makhluk, tanpa kecuali, layak mendapatkan kedamaian. Seolah mengingatkan kita semua, “Seandainya pun kamu merasa sendirian di dunia yang keras ini, ketahuilah bahwa ada jutaan hati yang mendoakan agar kamu berbahagia.”@Eddy Setiawan.

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna