Membaca buku Dagpo Rinpoche berjudul Jika Hidupku Tinggal Sehari (terjemahan dari Appreciating Life, Preparing for Death). Seharusnya tidak terasa nyaman, karena kecenderungan kita menghindari topik kematian. Buku ini bukan sekadar refleksi spiritual, melainkan sebuah gangguan—gangguan terhadap cara kita menjalani hidup yang terlalu yakin bahwa waktu selalu tersedia. Jika hidup tinggal sehari, apa yang benar-benar penting? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, namun di sanalah kegelisahan itu bermula.
Ketika Kematian Terasa Jauh dari Diri
Selama ini, kita hidup seolah-olah kematian hanya terjadi pada orang lain. Kita menyusun rencana panjang, menunda hal-hal penting, dan merasa selalu ada “nanti” untuk memperbaiki semuanya. Padahal, satu-satunya hal yang tidak pernah bisa kita jadwalkan justru adalah akhir dari hidup itu sendiri. Dalam sebuah serial drama Korea Phantom Lawyer, kalimat semacam ini berulang: sering-seringlah mengucapkan terima kasih, minta maaf, dan mengatakan “aku sayang kamu”, agar tidak ada yang tertinggal ketika semuanya berakhir. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang sama: bagaimana jika waktu kita tidak sebanyak yang kita kira?
Pertanyaan “jika hidup tinggal sehari” sebenarnya bukan tentang kematian, melainkan tentang cara hidup. Ia membongkar ilusi bahwa kita memiliki kendali penuh atas waktu, sekaligus menyingkap kenyataan bahwa banyak hal penting justru kita abaikan. Kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang jauh di depan, hingga lupa merawat yang ada di dekat. Kita menunda perhatian, menunda kehadiran, bahkan menunda menjadi manusia yang utuh.
Menjalani Hidup Bermakna Dengan Kesadaran Penuh
Namun, menyadari bahwa hidup bisa berakhir kapan saja bukanlah ajakan untuk menjadi pasif atau berhenti mengejar kehidupan yang lebih baik. Ia justru sebaliknya—sebuah dorongan untuk hidup dengan lebih sadar, lebih jernih, dan lebih bertanggung jawab. Dalam kerangka Buddhadharma, kesadaran akan kematian tidak meniadakan usaha, melainkan memurnikan niat di baliknya. Karier, kekayaan, dan pencapaian tidak ditolak, tetapi tidak lagi dijadikan sumber utama kebahagiaan. Ia menjadi sarana—bukan tujuan akhir.
Seseorang tetap bekerja, tetap berkarya, tetap membangun masa depan. Namun ia melakukannya tanpa penundaan, tanpa kesombongan, dan tanpa keyakinan palsu bahwa waktu selalu tersedia. Justru karena hidup bisa tinggal sehari, maka setiap tindakan menjadi lebih bermakna, lebih utuh, dan lebih manusiawi. Tidak ada lagi alasan untuk menunda kebaikan, tidak ada lagi ruang untuk mengabaikan hal-hal yang esensial.
Dalam pandangan Nagarjuna, realitas tidak berdiri secara mutlak, tetapi juga tidak nihil. Hidup ini tidak kekal, tetapi juga tidak sia-sia. Karena ia kosong dari keberadaan yang tetap, justru di sanalah terbuka kemungkinan untuk bertindak dengan bijaksana. Kesadaran akan ketidakkekalan justru tidak membawa kita pada keputusasaan, melainkan pada cara hidup yang lebih tepat: tidak melekat, tetapi tetap bertindak dengan sadar. Di sinilah keseimbangan itu menemukan bentuknya—antara kesadaran akan keterbatasan dan keberanian untuk tetap menjalani kehidupan sepenuhnya. Dengan kesadaran penuh, damai, bahagia dan sejahtera karena mampu melihat semua fenomena apa adanya.
Hadir Disini dan Saat Ini
Maka, jika hidup benar-benar tinggal sehari, mungkin yang berubah bukanlah daftar hal yang ingin kita miliki, melainkan cara kita hadir dalam setiap momen. Kita akan lebih jujur dalam mencintai, lebih tulus dalam meminta maaf, dan lebih berani mengatakan hal-hal yang selama ini kita tunda. Kita tidak lagi hidup dalam bayang-bayang “nanti”, tetapi dalam kehadiran yang nyata—di sini dan sekarang.
Pada akhirnya, pertanyaan ini tidak menuntut jawaban yang sempurna. Ia hanya meminta kejujuran: apakah kita sudah hidup sebagaimana mestinya? Karena bisa jadi, tanpa kita sadari, kita memang sedang menjalani hari yang tidak akan pernah terulang lagi. Dan justru di situlah hidup menemukan kesungguhannya.


















