Kajian para pakar menunjukkan Borobudur bukan tri dhatu sebagaimana dinarasikan selama ini.

Borobudur hampir selalu dijelaskan sebagai tiga tingkat alam: kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Narasi ini begitu mapan, diulang dalam buku pelajaran, panduan wisata, hingga publikasi resmi, sehingga tampak seperti kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Padahal berbagai kajian pakar menunjukkan bahwa Borobudur bukan Tri Dhatu atau simbol tiga alam.

Sejumlah sarjana penting telah menyanggah pembacaan Tri Dhatu ini, antara lain Dumarcay (1978), de Casparis (1981), Gomez & Woodward (1981), Lancaster (1981), hingga Fontein (2012), yang menunjukkan bahwa pembagian tersebut tidak memiliki dasar tekstual maupun analitis yang memadai. Dalam perkembangan terkini, kritik ini juga diperkuat oleh kajian Salim Lee (2017; 2018) yang membaca Borobudur sebagai struktur kesadaran, bukan kosmologi. Terakhir juga melalui kajian So Tju Sinta Lee (2024) yang dengan tegas menyatakan Borobudur tidak melambangkan kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Demikian pula melalui kajiannya di Jurnal SPAFA, Lee, Munandar & Kurnia (2025) menjelaskan tinjauan ulang terhadap interpretasi lama ini.

Artinya, apa yang selama ini dianggap sebagai penjelasan utama berpotensi adalah penyederhanaan yang keliru. Padahal kajian para pakar tersebut tegas menyatakan Borobudur bukan tri dhatu.

Kesalahan yang Dilestarikan

Pembagian Borobudur menjadi tiga dhatu pertama kali dipopulerkan oleh Stutterheim pada paruh awal abad ke-20 (Stutterheim 1956). Ia mengusulkan bahwa kaki candi melambangkan kamadhatu, galeri I–IV melambangkan rupadhatu, dan teras bundar hingga stupa puncak melambangkan arupadhatu.

Model ini kemudian diadopsi luas. Namun yang sering luput disadari, tafsir tersebut sejak awal tidak pernah benar-benar diterima tanpa kritik. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sejumlah pakar mengkritik pendapat ini. Akan tetapi, berbagai lembaga resmi hingga media tetap meneruskannya hingga sekarang.

Dengan kata lain, tafsir Tri Dhatu bukanlah konsensus akademik, melainkan salah satu interpretasi yang terus direproduksi. Sebaliknya pendapat ilmiah yang menyatakan Borobudur bukan tri dhatu seolah tidak mendapat tempat.

Sudah Jelas di Relief Paling Bawah: Borobudur Bukan Tri Dhatu

Salah satu temuan paling penting adalah bahwa relief Karmawibhangga di bagian dasar Borobudur tidak hanya menggambarkan kamadhatu, tetapi juga mencakup kelahiran di rupadhatu dan arupadhatu (Lee 2024). Artinya, tiga dhatu tidak dipisahkan secara vertikal, tetapi sudah hadir dalam satu kesatuan narasi sejak awal.

Lebih jauh lagi, panel terakhir Karmawibhangga justru menggambarkan pencapaian nirvana, yang melampaui tiga dhatu itu sendiri (Lee, Munandar & Kurnia 2025).

Temuan ini menjadi titik krusial. Jika dasar candi sudah melampaui tiga dhatu, maka sulit mempertahankan bahwa keseluruhan struktur candi adalah representasi bertingkat dari tiga alam tersebut.

Rangkaian Relief Borobudur: Bukan tentang Alam Tetapi Jalan

Analisis terhadap relief utama Borobudur yakni Jataka, Lalitavistara, dan Gandavyuha. Menunjukkan bahwa yang digambarkan bukan karakteristik alam rupadhatu, melainkan praktik bodhisatwa menuju penggugahan tertinggi (Lee, Munandar & Kurnia 2025).

Bahkan dalam Gandavyuha-Bhadracari, tujuan akhirnya bukan pencapaian arupadhatu, melainkan pengalaman dharmadhatu—realitas yang melampaui tiga dhatu (Lee, Munandar & Kurnia 2025). Dengan demikian, struktur Borobudur lebih tepat dipahami sebagai proses spiritual daripada peta kosmologi.

Borobudur sebagai peta potensi manusia

Dalam kerangka ini, Borobudur dapat dipahami sebagai peta perkembangan kesadaran manusia. Sebuah struktur yang menggambarkan transformasi batin dan dapat menjadi petunjuk bagi pembelajarnya.

Tiga bagiannya tak lain menunjukkan tiga tahap yaitu:

1. Realitas manusia dalam hukum sebab-akibat
Bagian bawah memperlihatkan dunia dalam jalinan karma—kondisi kesadaran yang masih reaktif dan terikat. Keseluruhan realitas yang masih terikat hukum karma.

2. Jalan transformasi melalui latihan bodhisatwa
Bagian tengah menggambarkan praktik paramita sebagai proses pengembangan potensi manusia. Mastermind Borobudur memilih dengan sangat cakap berbagai sutta atau sutra untuk dirangkai secara sistematis untuk tujuan ini. Kata-kata dalam sutra tersebut ditransformasi menjadi rangkaian relief. Bayangkan seorang guru mengajar para siswanya mengenai isi suatu sutra dengan memanfaatkan relief sebagai “jembatan keledai”.

3. Penyingkapan realitas sejati hingga Dharmakaya
Bagian atas menunjukkan pergeseran dari narasi menuju pengalaman langsung, dengan puncaknya pada Dharmakaya—realitas yang melampaui seluruh kategori. Bentuk lubang pada stupa yang berbeda pun menjadi petunjuk tentang apa yang ingin disampaikan. Dengan demikian, Borobudur bukan tangga menuju tiga alam, melainkan perjalanan kesadaran manusia.

Arupadhatu Bukan Tujuan Akhir

Dalam Buddhadharma, arupadhatu bukanlah tujuan akhir. Bahkan dalam kisah hidup Buddha, pencapaian meditasi tanpa bentuk ditinggalkan karena tidak membawa pada pembebasan (Lee 2024). Namun dalam tafsir lama, arupadhatu justru ditempatkan sebagai puncak Borobudur. Di sinilah letak kesalahan mendasarnya.

Mengapa penting membaca ulang sekarang?

Selama hampir satu abad, tafsir Tri Dhatu diulang tanpa banyak ditinjau ulang. Ia menjadi pengetahuan umum bukan karena pasti benar, tetapi karena terus direproduksi. Padahal, kritik terhadap tafsir ini sudah lama ada—dan kini semakin diperkuat oleh kajian-kajian terbaru.

Sudah saatnya pemangku kepentingan meluruskan hal ini, dan media pun punya tanggung jawab untuk meluruskan salah kaprah laten ini.

*Peneliti Institut Nagarjuna

Referensi 

Fontein, J 2012, The Sculpture of Indonesia, National Gallery of Art, Washington DC.

Gomez, L & Woodward, HW.Jr (eds.) 1981, Barabudur: History and Significance as a Buddhist Monument, Asian Humanities Press, Berkeley, California.

Krom, N.J 1927, Barabudur: Archaeological Description, Martinus Nijhoff, The Hague.

Lee, STS 2024, Candi Borobudur Tidak Melambangkan Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, DOI: https//doi.org/10.12140/RG.2.2.23354.30402.

Lee, STS, Munandar, AA & Kurnia, L 2025, ‘Re-examining the Division of Candi Borobudur into Kamadhatu, Rupadhatu, and Arupadhatu’, SPAFA Journal, Vol. 9, pp. 1-17. DOI: https://doi.org/10.26721/spafajournal.bo2frueq93.

LEAVE A REPLY