Page 10

Agama Buddha dan Jalan Pembebasan

2
Agama Buddha dan Jalan Pembebasan
Agama Buddha dan Jalan Pembebasan. Buddhisme adalah non dualitas.

Agama Buddha kerap dipahami sebagai jalan pembebasan bagi individu dari ketidakpastian atau dunia yang penuh turbulensi (dukkha). Ibarat roda kereta yang tidak terpasang pada porosnya, demikianlah realitas hidup yang harus kita hadapi. Namun jika hanya berfokus hanya pada individu, tentu hal tersebut mengabaikan konsep non dualitas dan pattica samupada yang diajarkan Buddha. Bahwa semua fenomena fisik maupun mental, tidak ada yang berdiri sendiri (independen), semuanya interdependen (saling ketergantungan).

Nagarjuna menjelaskannya melalu non dualitas, atau jalan tengah (madhyamaka) yakni jalan tengah yang melampaui dua ekstrem. Dalam konteks ini, interdependen melampaui dependen dan independen. Dalam konteks Indonesia, Pancasila juga disebut jalan tengah. Bukan karena berada tepat di tengah, tapi karena melampui spektrum ideologi kiri maupun kanan. Bukan relasi yang saling meniadakan, tapi saling memberdayakan.

Oleh karena itu, ajaran Buddha memiliki relevansi mendalam bagi transformasi sosial-politik. Tranformasi sosial yang dilakukan orang-orang yang dengan sadar melakukan transformasi diri secara berkesinambungan. Tentu berbeda dengan transformasi sosial oleh kelompok yang tidak memiliki kesadaran demikian.

Pembebasan Dari Apa?

Dalam ajaran Buddha, semua makhluk terjebak di alam samsara akibat tiga akar kejahatan. Disebut dalam bahasa Sansekerta sebagai akusala-mula, terdiri dari keserakahan (lobha), penolakan atau kebencian (dosa), dan delusi atau kedunguan (moha). Inilah struktur internal yang menjerat manusia sehingga terjebak dalam kelahiran berulang di alam samsara. Ajaran Buddha adalah pisau pemotong, jalan pembebasan sejati untuk melepaskan diri dari ketiganya. Hal yang akan dicapai ketika merealisasi penggugahan sempurna (menjadi Buddha).

Namun, yang kerap dilupakan adalah bahwa transformasi individu tidak terjadi di ruang hampa. Setiap individu lahir di ruang etis, sosiologis, politis, kultural dan berbagai aspek kehidupan yang berbeda-beda. Dimana keseluruhan hal tersebut menjadi bagian dari dirinya. Sejalan dengan pattica-samupada (dependent origination), tidak ada fenomena yang berdiri sendiri. Seorang individu beragama Buddha tidak bisa dilepaskan dari identitas etnis dan politisnya. Ia orang Jawa berkewarganegaraan Indonesia, ia orang Tionghoa berkewarganegaraan Indonesia.

Baca juga: Hamemayu Hayuning Bawono dan Etika Kesalingketergantungan

Agama Buddha dan Kewarganegaraan

Agama dan kewarganegaraan, etnis dan kewarganegaraan contohnya, dalam  agama Buddha bukanlah relasi saling meniadakan. Tidak ada ketegangan hubungan antara agama dan kewarganegaraan. Keduanya dipandang sebagai keutuhan atau non dualitas, dua sisi dari sekeping mata uang. Seorang umat Buddha dalam waktu bersamaan adalah seorang patriot sejati Indonesia. Maka tak heran jika banyak altar di berbagai vihara juga memasang bendera merah putih. Partisipasi sebagai warga negara, adalah bentuk praktik dharma bagi umat Buddha. Memilih ataupun dipilih dalam kontestasi elektoral misalnya, juga bagian dari praktik dharma seorang umat Buddha.

Jika sebagai individu kita punya tugas, membebaskan diri dari keserakahan, penolakan, dan kedunguan atau delusi. Sebagai warga negara kita juga punya dharma untuk membebaskan struktur sosial, politik, dan negara dari ketiga akar tersebut. Dengan kata lain, transformasi diri sejati tidak terpisahkan dengan transformasi sosial.

Tokoh-tokoh Buddhis modern memberikan ilustrasi nyata dari prinsip ini. Bhikkhu Buddhadasa menekankan pentingnya kembali pada ajaran Dharma yang sederhana dan universal. Agar manusia mampu menundukkan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan dalam diri mereka. Sementara Sulak Sivaraksa, dengan gerakan Socially Engaged Buddhism. Menunjukkan bahwa pembebasan spiritual yang hanya individual akan kehilangan maknanya jika masyarakat tetap tertindas secara struktur atau rusak secara sosial, politik, hingga lingkungan.

Sekilas Praktik Santi Asoke

Praktiknya yang lebih jauh penulis pernah saksikan pada komunitas Santi Asoke. Salah seorang penulis bahkan menggunakan istilah dharmik sosialis pada bukunya untuk merujuk komunitas ini.  Komunitas yang dibangun oleh orang dari beragam latar belakang ini. Menerapkan prinsip-prinsip Agama Buddha dalam kehidupan kolektif, membangun masyarakat mandiri yang bebas dari keserakahan dan ketidakadilan. Mereka bekerja bukan untuk uang, karena setiap anggotanya tidak memegang uang. Mereka bekerja sesuai minat dan keahliannya. Minimarket mereka memasang dua harga, yaitu harga perolehan dan harga jual. Jadi kita bisa menghitung berapa labanya.

Namun jangan remehkan penghasilannya sebagai komunitas, mereka sudah membangun beberapa SPBU dan restoran vegetarian di berbagai wilayah Thailand. Untuk rumah, mereka tinggal bersama di sebuah wilayah dimana mereka bertani, bertempat tinggal dengan rumah sangat sederhana dari kayu, dan tidak memiliki kemewahan pribadi seperti tv, sepeda motor dan sebagainya. Semua barang itu ada, tapi milik bersama dan dirawat bersama. Untuk sekolah, disediakan sekolah gratis di lingkungan mereka. Sangat menarik.

Interaksi Ajaran Buddha dan Dimensi Sosial Politik

Fenomena serupa dapat ditemui di Laos, Tiongkok, dan Vietnam, di mana ajaran Buddhis berinteraksi dengan kebutuhan pembangunan sosial dan keadilan politik. Di sana, praktik Buddhis tidak hanya fokus pada meditasi atau ritual, tetapi juga pada pendidikan, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan umum. Ini menegaskan bahwa transformasi individu selalu terjadi dalam konteks sosial-politik yang nyata, sesuai logika pattica-samupada: ketidakadilan sosial mempengaruhi penderitaan batin individu, sementara pembebasan batin memberi energi untuk perubahan sosial.

Dengan demikian, Jalan Pembebasan dalam Buddhisme bukan sekadar pembebasan dari penderitaan pribadi, tetapi juga dari corak sosial-politik yang terjerat lobha, dosa, dan moha. Transformasi diri dan transformasi masyarakat saling menguatkan: kesadaran batin memicu tindakan sosial yang etis, dan perbaikan sosial-politik memberi ruang bagi individu untuk berkembang secara spiritual. Jalan ini menegaskan bahwa pembebasan sejati adalah proses holistik, yang melibatkan hati, pikiran, dan struktur masyarakat sekaligus.@Eddy Setiawan.

Biksu Enku: Spiritualitas Pengembara dalam Sepotong Kayu

0
Dunia Enku: spiritualitas pengembara dalam sepotong kayu
Enku adalah seorang bhiksu pengembara Jepang. Ia menyampaikan banyak hal spiritual melalui karya patung kayunya

Dulu di era Jepang abad ke-17.  Ada sosok biksu pengembara yang tak hanya membawa ajaran spiritual, tetapi juga menjadikan kayu sebagai medium doa dan harapan. Dia adalah Biksu Enku, seorang biksu, pemahat, dan pengembara. Beliau dikenal lewat karya-karyanya: patung-patung Buddha kayu yang menyimpan jiwa.

Siapa Enku dan Kenapa Ia Istimewa

Enku lahir tahun 1632 di provinsi Mino (sekarang Prefektur Gifu). Dalam hidupnya, ia memilih jalan sebagai biksu pengembara, dengan menjelajahi Jepang dari selatan ke utara. Melewati desa-desa kecil, gunung, dan jalan setapak perdesaan. Praktik ini disebut dhutangga, atau orang Thailand menyebutnya Thudong. Istilah yang juga dikenal masyarakat umum di Indonesia.

Sebagai seorang biksu ia tidak memiliki uang untuk membayar penginapan atau makanan. Oleh karena itu, setiap tempat yang memberinya tumpangan atau makanan. Dibalasnya dengan pahatan kayu, bisa sosok Buddha, Bodhisattva, atau dewata lokal. Ini sebagai ungkapan syukur dan doa, kepada semua yang membantunya dalam perjalanan.

Menurut tradisi, Enku bersumpah akan menghasilkan sekitar 120.000 patung sepanjang hidupnya.

Hingga kini, lebih dari 5.000 karya telah teridentifikasi tersebar di berbagai penjuru Jepang. Nippon+2MLIT+2

Gaya & Filosofi Karya Enku

Perbedaan Biksu Enku dari pemahat patung Buddha lain di zamannya sangat terasa: Ia sering memahat dari potongan kayu sederhana — bisa dari kayu bekas, kayu tumbang, bahkan kayu ditemukan di sungai — bukan kayu mahal atau dipersiapkan secara khusus.

Patung-patungnya tidak dihaluskan atau disempurnakan sampai tampak mulus seperti patung kuil pada umumnya. Bekas pahat, simpul kayu, dan tekstur kasar dibiarkan — sengaja.

Alhasil, meskipun tampak kasar, patung-patung itu menyampaikan sesuatu: kejujuran, kerendahan hati, spiritualitas — seperti “jiwa yang tertanam di kayu”. Banyak pecinta seni dan spiritual mengatakan bahwa inilah daya tarik Enku: bukan kemewahan, tapi ketulusan.

Kalau dipandang dalam diam — tekstur kayu, garis kasar pahatannya, bentuknya yang sederhana — patung-patungnya bisa terasa sangat hidup; ekspresi halus di wajah, postur yang natural, membuat kita merasa seolah melihat sosok Buddha yang “dekat”, bukan sesuatu yang jauh dan sakral di atas altar.

Warisan Biksu Enku Bisa Kamu Saksikan DImana?

Kalau suatu hari kamu berkesempatan ke Jepang — terutama wilayah Prefektur Gifu atau Hida — dua tempat berikut sangat layak dikunjungi:

  • Kuil atau Vihara Senkoji di Takayama
    Di sini terdapat “Enku Buddha Treasure House” yang memamerkan 64 patung asli hasil ukiran Enkū — termasuk patung-patung ikonik seperti “Standing Nio” dan sosok Ryōmen Sukuna. Patung-patung ini memperlihatkan evolusi gaya Enkū dari yang cukup halus ke yang lebih spontan dan mentah.

  • Minami Furusato-kan di Gujo (Gifu Prefecture)
    Museum ini menyimpan sekitar 90 patung Enkū, plus artefak seperti surat-suratan sang biksu, salinan sutra, dan kadang pemandu lokal siap menjelaskan teknik pahatan serta perubahan gaya Enkū dari waktu ke waktu.

Selain itu, patung-patung Enku juga ditemukan di berbagai kuil dan museum kecil di seluruh Jepang — dari wilayah tengah sampai utara, tergantung di mana ia sempat singgah.

Mengapa Patung-patung Enku Masih Menyentuh Hati Kita

Ada beberapa hal yang membuat karya Enku terasa relevan hingga sekarang:

  • Kesederhanaan & keaslian — Di dunia modern yang sering menilai dari kilau dan kemewahan, patung Enku mengingatkan kita bahwa keindahan bisa lahir dari kesederhanaan, dari “kayu biasa” yang diukir dengan niat baik.

  • Semangat berbagi & empati — Enku membuat patung bukan untuk dirinya sendiri, melainkan sebagai ungkapan terima kasih, doa, atau penghiburan bagi orang-orang yang ia temui — sering kali masyarakat kecil, desa jauh, atau orang biasa. Itu semangat kemanusiaan yang universal.

  • Jembatan antara seni, spiritualitas & kehidupan sehari-hari — Patung-patung Enku tidak hanya objek suci, tapi juga bagian dari kehidupan masyarakat, bagian dari tradisi lokal, dan cerminan sejarah sosial — sehingga bagi pecinta budaya, sejarah, atau seni, “menyentuh” karya Enku berarti menyentuh hati dan kisah banyak orang di masa lampau.

Baca juga: CyberNamuNamu: Mantra Buddha, Musik, dan Pengalaman Imersif

Seni Kayu, Pengembaraan dan Spiritualitas

Patung-patung kayu yang diukir oleh Enku bukan sekadar artefak kuno. Mereka adalah fragmen kehidupan — hasil dari perjalanan panjang, doa sederhana, dan keinginan tulus untuk menyebarkan penghiburan serta spiritualitas.

Di setiap guratan pahat, di setiap simpul kayu yang dibiarkan asli — ada jejak kaki sang biksu, harapan dia, dan doa untuk banyak orang. Mengunjungi karya-karyanya bisa jadi lebih dari sekadar melihat benda seni; itu bisa jadi momen refleksi — tentang pesan Biksu Enku, agar kita bisa melihat semua fenomena apa adanya (tathata). Sebagaimana ia tidak memilih bahan kayu, dan ukirannya yang sengaja “apa adanya”.

Selanjutnya, tentang kewelasasihan (karuna), dimana patung karyanya kerap diberikan kepada warga miskin, orang yang sedang mengalami kesulitan, dan warga di daerah terpencil yang mengalami ketakutan. Ia menghadirkan sosok Buddha melalui patung karyanya, yang dibuat tanpa nama. Mempraktikkan konsep anattā, menanggalkan ego dalam pengabdiannya.

Tampaknya bagi Enku, mengukir adalah meditasi, cara menghadirkan kesadaran dalam aktivitas sehari-hari. Sekaligus keyakinan bahwa sifat Buddha (Jepang: busshō) ada dalam segala hal. Bahkan pada sepotong kayu sederhana. Melalui pahatan-pahatan itu, Enku mengingatkan kita. Bahwa pencerahan bukanlah sesuatu yang jauh atau rumit. Akan tetapi bisa hadir di dalam keseharian yang dijalani dengan hati yang jernih dan penuh kasih.@esa

Sumber: Japan Travel  dan Nippon.Com

Desain Kawasan Berbasis Nilai Buddhis dibangun di Inggris

0
Desain kawasan berbasis nilai-nilai Buddhis dibangun di Inggris
Desain kawasan berbasis nilai-nilai Buddhis dibangun di Northstowe Inggris oleh Mole Architect dan Pengembang TOWN.

Sebuah kawasan hunian baru di Northstowe, Cambridgeshire, Inggris. Saat ini tengah diajukan izinnya oleh firma arsitektur Mole Architects bersama pengembang TOWN dan The Hill Group. Proyek yang menempati lokasi sekitar sembilan mil dari Cambridge ini. Dirancang sebagai lingkungan urban padat dengan 145 rumah, dua komunitas co-housing, serta berbagai fasilitas bersama. Dengan penekanan pada pola hidup komunal modern untuk desain kawasan tersebut.

Dalam rencana yang diserahkan kepada otoritas setempat. Para pengembang menyebut bahwa dua komunitas co-housing akan menjadi bagian inti dari desain kawasan. Yang pertama adalah Suvana Co-housing Community. Kawasan ini secara eksplisit digambarkan sebagai komunitas yang berbasis nilai-nilai Buddhis. Meski nilai-nilai tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut dalam dokumen publik. Penyertaan identitas tersebut membuat Suvana menjadi salah satu komunitas berbasis agama. Dalam pengembangan kawasan urban baru di Inggris. Komunitas kedua, Northstowe Cohousing. Merupakan kelompok multigenerasi yang mengikuti model Marmalade Lane. Sebuah proyek co-housing pertama di Cambridge, yang dikenal sukses dari sisi partisipasi warga dan penggunaan ruang bersama.

Membentuk Komunitas yang Sehat dan Harmonis

Skema 145 rumah ini dibangun dalam empat blok urban kompak dengan berbagai rancangan ruang komunal. Sekitar 40 persen unit dialokasikan sebagai hunian terjangkau, termasuk kategori sewa terjangkau dan unit diskon pasar. Para perancang juga mengedepankan rancangan jalan bebas mobil yang membentuk koridor permainan (car-free play street) yang langsung terhubung ke Greenway Park, serta penggunaan rangka kayu untuk konstruksi rumah sebagai bagian dari pendekatan desain yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Renovasi Plum Village telah Mendapat Persetujuan Resmi

Desain Kawasan untuk Kota Baru

Selain hunian, kawasan ini juga akan menampilkan dua common houses—ruang bersama yang menjadi ciri utama co-housing. Fasilitas ini nantinya digunakan untuk pertemuan, kegiatan komunitas, dan berbagai fungsi sosial yang memperkuat interaksi antarwarga. Mole Architects menyebut bahwa penataan taman, ruang hijau, dan area komunal menjadi bagian penting dalam mengatur alur gerak dan kehidupan sehari-hari para penghuni.

Rencana ini menempatkan kawasan tepat di samping pusat kota Northstowe yang tengah berkembang, sehingga proyek ini diharapkan menjadi bagian dari ekspansi besar-besaran kota baru tersebut. Jika proposal disetujui otoritas lokal, pembangunan dijadwalkan mulai pada musim panas 2026.

Sumber: Architects Journal

Phra Paisal Visalo: Kumpulan Tulisan Spiritualitas dan Aksi Sosial

1
Buddhist Spirituality and Social Action Buku Baru Phra Paisal Visalo disunting oleh Jonathan S Watts
Buddhist Spirituality and Social Action: The Collected Writing of Phra Paisal Visalo disunting oleh Jonathan S Watts.

Dalam beberapa dekade terakhir, nama Phra Paisal Visalo menjadi salah satu yang paling menonjol dalam perkembangan Socially Engaged Buddhism di Thailand. Beliau bukan hanya biku yang tekun dalam praktik meditatif, tetapi juga pemikir yang lantang bersuara tentang krisis lingkungan, kekerasan politik, dan reformasi sangha.

Melalui buku Buddhist Spirituality and Social Action—sebuah kompilasi lebih dari empat puluh tulisan yang disunting dengan rapi pada tahun 2025—kita diajak menelusuri keluasan gagasan dan kedalaman spiritualitas yang dihadirkan oleh Phra Paisal Visalo. Buku ini tidak hanya memotret perjalanan seorang biku, tetapi juga menghadirkan peta besar hubungan antara dhamma, kemanusiaan, dan bumi yang kita tinggali bersama.

Seperti biasa, Jonathan S Watts, salah seorang sahabat kita di INEB. Menyunting dengan sangat baik buku ini. Entah sekarang kepalanya masih plontos atau tidak.

Bhikkhu, Aktivis, dan Penjaga Hutan

Perjalanan hidup Phra Paisal, sebagaimana tergambar dalam paruh awal buku, memperlihatkan transformasi dari seorang aktivis mahasiswa menjadi biku yang memusatkan hidupnya pada mediasi perdamaian dan perlindungan lingkungan.

Sekilas kehidupannya menunjukkan bahwa bagi beliau, Buddhisme bukanlah ajaran yang berdiri di luar realitas sosial. Sebaliknya, dhamma adalah fondasi untuk merawat dunia yang sedang terluka—baik oleh krisis moral, polarisasi politik, maupun kerusakan ekologis. Dhamma tidak berada di ruang hampa, tapi melingkupi seluruh aspek kehidupan di dunia.

Renungan Dhamma yang Membumi Phra Paisal Visalo

Bagian pertama buku berisi refleksi pendek tentang kehidupan sehari-hari. Phra Paisal menulis tentang kebiasaan, kesadaran, cara kita makan, cara kita bekerja, hingga bagaimana teknologi perlahan membentuk batin manusia. Tulisan-tulisan ini sederhana, tetapi sering kali mengandung kritik halus terhadap gaya hidup modern yang serba terburu-buru. Di sinilah pembaca merasakan ciri khas ajaran Buddhisme Thailand kontemporer: jernih, langsung, dan menyentuh akar persoalan.

Baca juga: Agama Buddha dan Jalan Pembebasan

Reformasi Buddhis: Membongkar Krisis dari Dalam

Bagian berikutnya menggali masalah internal agama Buddha, terutama di Thailand. Phra Paisal Visalo menyoroti bagaimana sangha semakin terpolitisasi, bagaimana dana umat lebih banyak mengalir untuk membangun gedung daripada membina kualitas biku, serta munculnya kelompok-kelompok Buddhis militan yang mengikis semangat welas asih.

Kritiknya lugas tetapi disampaikan dengan hormat—selalu mengajak pembaca untuk kembali pada esensi Buddhisme: pembebasan dari penderitaan, bukan perebutan kekuasaan.

Ketika Hutan Menjadi Guru Spiritualitas

Beberapa tulisan paling kuat dalam buku ini berbicara tentang alam. Bagi Phra Paisal, hutan bukan hanya latar bagi kehidupan para biku, tetapi juga ruang pembelajaran spiritual. Ia menuliskan dengan indah bagaimana pepohonan dan sungai mengajarkan kesederhanaan, keheningan, dan saling keterhubungan.

Buku ini juga mengangkat kerja-kerja advokasinya dalam perlindungan hutan—sering kali melibatkan kolaborasi lintas agama dan komunitas lokal—sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik dhamma.

Pembangunan yang Berpihak pada Manusia

Dalam bagian tentang pembangunan, Phra Paisal menantang model ekonomi konsumtif. Ia mendorong pendekatan yang lebih manusiawi: komunitas yang kuat, pola hidup sederhana, dan keputusan ekonomi yang tidak merusak bumi.

Tulisan-tulisannya menyiratkan kritik tajam terhadap model pembangunan modern yang sering kali menciptakan penderitaan baru—ketimpangan, alienasi, dan kehancuran ekologi. Penulis jadi ingat ketika beliau menyampaikan materi tentang lingkungan, pada Young Bodhisattva Training lebih dari satu dekade lalu. Pelatihan tersebut diadakan INEB di Thailand, dan terdapat sesi kunjungan lapangan ke berbagai tempat yang inspiratif.

Spiritualitas sebagai Energi Gerakan Sosial

Salah satu pesan utama buku ini adalah bahwa perjuangan sosial membutuhkan energi batin. Aktivisme tanpa spiritualitas akan mudah jatuh pada kebencian; spiritualitas tanpa tindakan justru menjauh dari dunia nyata.

Phra Paisal menekankan bahwa nilai-nilai seperti non-kekerasan, welas asih, dan kesadaran mendalam merupakan fondasi bagi gerakan sosial yang tahan lama dan tidak terjebak dalam permusuhan.

Seni Mendampingi Kematian

Bagian akhir buku membawa pembaca pada tema yang lembut namun penting: pendampingan kematian. Phra Paisal menulis tentang pelayanan spiritual bagi orang yang sedang berada di ambang ajal, meditasi kesadaran kematian, serta prinsip-prinsip yang membantu seseorang meninggal dengan damai.

Tulisan ini menunjukkan sisi paling manusiawi dari praktik Buddhis: menemani seseorang di saat paling rapuhnya.

Buddhisme yang Relevan dan Membebaskan

Buddhist Spirituality and Social Action memperlihatkan bagaimana Buddhisme dapat menjadi sumber kekuatan moral, ekologis, dan sosial. Buku ini mengajak kita melihat dhamma sebagai kekuatan yang hidup—yang bekerja di desa-desa, di hutan, di jalanan saat demonstrasi damai, di ruang perawatan bagi orang yang menjelang meninggal, dan dalam setiap napas kita sendiri.

Dengan gaya yang jernih dan penuh welas asih, Phra Paisal menunjukkan bahwa spiritualitas Buddhis tidak pernah berjarak dari kehidupan sehari-hari. Justru di situlah ia menemukan kekuatannya.

Buat pembaca yang tertarik, Buku dapat diunduh gratis melalui INEB Network.

Doa Makan Singkat Umat Buddha

1
doa makan singkat umat buddha bisa terima kasih atau rahayu yang setara itadakimasu
Doa makan singkat umat Buddha di Indonesia adalah Terima kasih atau Rahayu. Ini setara dengan itadakimasu di Jepang.

Dalam tradisi Buddhis, makan bukan sekadar memuaskan rasa lapar. Ia adalah momen penuh kesadaran—sebuah kesempatan untuk berterima kasih, merenungkan asal-usul makanan, serta menumbuhkan welas asih bagi semua makhluk. Menariknya, dari biara-biara Theravada di Asia Tenggara hingga dapur keluarga di Nusantara, doa makan dalam Buddhisme berkembang dalam bentuk yang berbeda-beda, dari yang panjang dan mendalam hingga yang sangat singkat namun penuh makna.

Perenungan atau Doa Makan Bhikkhu Theravada

Pada komunitas Theravada, setiap pagi para bhikkhu melakukan piṇḍapāta—berjalan keliling menerima dana makanan dari umat. Setelah menerima dan sebelum makan, para bhikkhu biasanya mengucapkan perenungan makan (paccavekkhaṇa), yang intinya mengingatkan bahwa makanan bukan untuk kesenangan, bukan untuk memperindah tubuh, melainkan untuk menopang hidup dan mendukung praktik Dhamma.

Perenungan ini membantu para bhikkhu menjaga kesadaran, menekan keserakahan, serta memupuk rasa syukur kepada semua pihak yang terlibat dalam keberlangsungan hidup mereka.

Bhiksu Mahayana dan Tantrayana: Syukur dan Dedikasi

Dalam tradisi Mahayana, doa makan sering disebut sebagai “lima perenungan” (wuguan 五觀), terutama dipraktikkan di biara-biara Tiongkok, Korea, dan Jepang. Intinya mencakup: Merenungkan asal-usul makanan dan banyaknya kerja keras yang terlibat. Memeriksa kualitas diri apakah pantas menerimanya. Merenungkan apakah makanan ini dapat membangkitkan keserakahan. Mengingat bahwa makanan adalah obat untuk menjaga tubuh. Terakhir, mendedikasikan energi yang diperoleh untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk.

Sementara dalam tradisi Tantrayana (Vajrayana), doa makan sering dipadukan dengan visualisasi, pemberian persembahan (ganachakra), dan aspirasi welas asih bagi seluruh makhluk. Penekanannya tetap sama: makanan adalah berkah yang harus digunakan untuk tujuan luhur.

Umat Awam: Dari Itadakimasu sampai Rahayu

Jika para bhikkhu memiliki perenungan yang panjang dan mendalam, umat awam Buddha justru memiliki versi yang sangat singkat namun tetap sarat makna. Di Jepang misalnya, masyarakat terlepas dari agama, senantiasa mengucapkan “itadakimasu” sebelum makan. Kata ini berarti saya menerima dengan penuh hormat. Menerima apa? menerima kebaikan semua yang menyebabkan makanan itu ada. Mulai orang tua yang bekerja untuk membeli makanan, petani padi, petani garam, peladang merica, dan petani sayur, nelayan, juru masak di restoran, pelayan, hingga abang ojek online yang mengantar ke rumah. Ini sejalan dengan ungkapan sabbe satta bhavantu sukhitattā — berbahagialah semua makhluk.

Bagaimana dengan leluhur Nusantara kita? Sesungguhnya leluhur kita di Nusantara juga telah memiliki ungkapan syukur yang ringkas namun kaya makna. Salah satunya adalah “Rahayu”, yang bermakna doa keselamatan, kedamaian, dan keberkahan. Ungkapan ini dapat menjadi padanan Itadakimasu yang sangat cocok bagi umat Buddha Indonesia.

Bahkan dalam versi bahasa Indonesia pun bisa. Kata “Terima kasih”, dalam konteks doa makan dapat dimaknai sebagai rasa syukur kepada semua makhluk yang telah berperan dalam menghadirkan makanan. Saya terima semua pengorbanan semua yang menyebabkan makanan ini tersedia, dan saya kirimkan kasih untuk semuanya.

Maka, ketika seorang umat Buddha ingin mengucapkan doa makan yang sederhana namun penuh makna: Satukanlah kedua tangan (añjali). Kemudian hadirkan rasa syukur yang tulus. Lalu ucapkan dengan penuh welas asih di dalam hati: “Rahayu.” atau
“Terima kasih.” Dan boleh ditambahkan, berbahagialah semua makhluk”.

Doa yang sangat singkat, namun di dalamnya tersimpan kesadaran, penghormatan, welas asih, dan rasa syukur yang mengalir kepada seluruh makhluk di dunia. Doa makan yang mengingatkan tentang non dualitas, bahwa tidak ada keberadaan yang berdiri sendiri. Semuanya ada karena kesalingketergantungan atau interpendensi. Isi adalah kosong dan kosong adalah isi.@esa

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna