Thai Lee: Perempuan Buddhis Terkaya Kelima di Amerika Serikat.

Perempuan Buddhis terkaya Thai Lee menjadi sorotan setelah Forbes menempatkannya sebagai perempuan mandiri terkaya kelima di Amerika Serikat. Di balik kerajaan teknologi SHI International bernilai sekitar US$15 miliar, Thai Lee dikenal menjalani hidup sederhana dan memegang nilai-nilai Buddhis dalam kepemimpinan bisnisnya.

Majalah Forbes sendiri memiliki kategori khusus self-made women, yakni perempuan-perempuan terkaya yang membangun kekayaan mereka secara mandiri melalui usaha dan bisnis sendiri, bukan terutama berasal dari warisan keluarga, pasangan, atau dinasti bisnis. Di kategori inilah perempuan Buddhis terkaya itu menduduki peringkat kelima.

Sebagaimana dikutip dari VN Express, Thai Lee kini memiliki kekayaan sekitar US$6,1 miliar dan memimpin SHI International, salah satu perusahaan layanan teknologi informasi terbesar di Amerika Serikat.

Lahir di Thailand, tumbuh di Korea Selatan

Perempuan Buddhis terkaya ini lahir di Bangkok, Thailand. Nama “Thai” diberikan sebagai penghormatan terhadap negara tempat kelahirannya. Ayahnya merupakan ekonom Korea Selatan yang aktif dalam pembangunan ekonomi pascaperang Korea Selatan dan kerap berpindah negara karena pekerjaannya.

Meski lahir di Thailand, Lee menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Korea Selatan. Adiknya, Celeste Lee, menggambarkan Thai sebagai sosok yang sangat fokus sejak kecil. Bahkan dalam permainan masa kanak-kanak, ia disebut selalu membuat rencana bertahan hidup apabila terjadi invasi Korea Utara. Hubungan kedua Korea memang hingga saat ini masih tegang, meskipun dalam konteks Buddhis kedua komunitas biksu telah saling berkomunikasi dan bertemu. Agama Buddha di Korea Utara, masih ada namun berada di bawah kontrol ketat negara.

Perempuan Korea pertama lulusan Harvard Business School

Saat remaja, Thai Lee pindah ke Amerika Serikat bersama kakaknya dan tinggal di Amherst, Massachusetts. Perempuan Buddhis terkaya di AS ini kemudian kuliah di Amherst College dengan mengambil dua jurusan sekaligus: biologi dan ekonomi.

VN Express mengungkapkan bahwa, Lee sengaja memilih jurusan yang tidak terlalu menuntut kemampuan berbicara di depan umum karena saat itu kemampuan bahasa Inggrisnya masih terbatas.

“Saya bertekad mendapatkan nilai terbaik yang mungkin. Saat itu saya tahu peluang terbaik saya untuk sukses adalah membangun bisnis sendiri,” ujarnya.

Setelah lulus, ia kembali ke Korea Selatan dan bekerja di perusahaan suku cadang otomotif Daesung Industrial untuk mengumpulkan biaya pendidikan lanjutan. Pada 1985, ia mencatat sejarah sebagai perempuan Korea pertama yang lulus dari Harvard Business School.

Kepada Amherst Magazine, Lee mengatakan bahwa ia mengambil MBA sebagai “cadangan” apabila gagal menjadi pengusaha.

Membangun SHI International dari perusahaan kecil

Pada 1989, Thai Lee dan suaminya saat itu, Leo KoGuan, membeli sebuah perusahaan teknologi kecil di New Jersey seharga US$1 juta dengan menggunakan tabungan pribadi serta pinjaman.

Perusahaan tersebut kemudian diubah namanya menjadi Software House International (SHI), mencerminkan ambisi global mereka.

Kini SHI berkembang menjadi salah satu perusahaan layanan teknologi informasi terbesar di Amerika Serikat. Perusahaan itu melayani lebih dari 20.000 pelanggan, termasuk Boeing, Johnson & Johnson, dan AT&T. SHI memiliki 35 kantor di berbagai negara, lebih dari 5.000 pegawai, serta pendapatan tahunan mencapai sekitar US$14–15 miliar.

Dalam daftar Forbes 2024 mengenai perusahaan swasta terbesar di Amerika, SHI berada di posisi ke-27.

Hidup sederhana tanpa privilese eksekutif

Salah satu hal yang membuat Thai Lee menonjol adalah gaya kepemimpinannya yang sederhana. Ia menolak budaya privilese bagi para eksekutif perusahaan.

Sebagaimana dikutip dari VN Express, perempuan Buddhis terkaya itu mengatakan bahwa di SHI tidak ada tempat parkir khusus pimpinan maupun skema kompensasi eksklusif bagi eksekutif.

“Kami berusaha memastikan semua orang merasa dihargai,” ujarnya.

Ia juga dikenal tetap bekerja tanpa asisten pribadi, mengatur jadwal sendiri, memesan perjalanan sendiri, bahkan memarkir mobilnya di area biasa bersama pegawai lain.

Nilai Buddhis dan cara memandang penderitaan

Di balik keberhasilannya sebagai miliarder teknologi, Thai Lee mengaku banyak dipengaruhi ajaran Buddha dalam menjalani hidup.

Dikutip dari VN Express, Lee mengatakan bahwa salah satu pelajaran terpenting dalam Agama Buddha adalah memahami bahwa hidup tidak bisa dilepaskan dari penderitaan.

“Belajar menyesuaikan harapan menjadi keuntungan besar bagi saya,” katanya kepada majalah teknologi CRN.

Menurutnya, sikap tersebut membantu dirinya tetap tenang menghadapi tekanan bisnis dan kehidupan.

Meski dikenal bekerja tujuh hari seminggu, Lee tetap hidup sederhana dan lebih fokus pada keluarga serta perusahaan dibanding pencitraan publik.

Bahkan ketika Forbes pertama kali hendak memasukkan namanya dalam daftar perempuan mandiri terkaya Amerika, ia sempat meminta agar namanya dihapus dari publikasi tersebut.

Namun perempuan buddhis terkaya di AS ini akhirnya menerima wawancara itu sambil mengatakan bahwa angka kekayaan tidak pernah bisa menggambarkan rasa hormatnya kepada para pegawai SHI.

Selain aktif di dunia bisnis, Thai Lee juga mendukung berbagai lembaga pendidikan dan penelitian kanker.

LEAVE A REPLY