Page 15

Walk for Peace Amerika: Thudong 19 Biku Hangatkan Hati Warga

0
Peace Walk di Amerika diikuti 19 Bhikkhu dan seekor anjing bernama Aloka. Winter is coming tapi mereka berhasil hangatkan Amerika
Peace Walk di Amerika menempuh jarak 2.300 mil menuju Washington DC. Diikuti 19 bhikkhu dan seekor anjing bernama Aloka.

Mungkin Anda juga termasuk salah satu yang ikut menyimak video-video viral Walk for Peace Amerika: para biku berjubah coklat kombinasi merah marun, dan coklat polos. Berjalan perlahan di pinggir jalan raya. Beberapa tanpa alas kaki, ditemani seekor anjing bernama Aloka. Jika ya, barangkali Anda merasakan hal yang sama seperti jutaan orang lainnya—sebuah kehangatan yang sulit dijelaskan. seolah ada sesuatu yang lembut menyentuh hati di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Inilah Walk for Peace Amerika, yang dilaksanakan di tengah riuhnya potensi perang dunia, ketidakharmonisan global dan ancaman resesi. Sesuatu yang menimbulkan kegelisahan sendiri di hati banyak orang. Akan tetapi meski Winter is coming, Thudong 19 biku ini berhasil hangatkan hati warga Amerika. Menghadirkan rasa damai yang sudah lama hilang.

Di tengah kecepatan dunia modern, terkadang cara paling kuat untuk menyampaikan pesan kedamaian justru adalah langkah sederhana: berjalan bersama, tanpa pamrih. Itulah yang dilakukan oleh 19 biku dari Huong Dao Vipassana Bhavana Center di Fort Worth, Texas, yang memulai sebuah perjalanan spiritual besar: Peace Walk sejauh 2.300 mil menuju Washington, D.C. Mereka terdiri dari biku dari berbagai negara, seperti Laos, Vietnam, Burma dan Thailand. Diantara pada biku yang tertua berusia 70 tahun.

Buddhistdoor Global melaporkan bahwa perjalanan ini bukanlah protes. Tidak ada tuntutan politik. Tidak ada slogan. Hanya sebuah tekad untuk menyebarkan “pesan penyembuhan nasional, persatuan, dan kasih sayang.” Hanya langkah-langkah sederhana setiap hari, mengingatkan dunia bahwa kedamaian masih bisa diperjuangkan melalui hal yang paling sunyi: berjalan dalam hening dan kesadaran penuh.

Bhikkhu Pannakara, pemimpin spiritual rombongan, mengatakan bahwa perdamaian bukan sekadar tujuan, melainkan perjalanan batin: “Kami berjalan untuk membangkitkan damai yang sudah ada dalam hati setiap kita. Apa yang kami lakukan sepanjang perjalanan adalah melangkah dengan kesadaran penuh”. Harapannya, setiap warga negara Amerika selalu ingat untuk membawa perdamaian, penyembuhan, dan persatuan.

Tradisi Kuno yang Menyapa Dunia Modern

Meski viralnya di TikTok terasa sangat kekinian, perjalanan ini sebenarnya berakar dari tradisi yang sangat kuno. Para biku menjalankan disiplin pertapaan yang dalam Agama Buddha dikenal sebagai praktik Dhutangga. Masyarakat Indonesia sudah mengenalnya sebagai Thudong. Istilah Thailand untuk praktik ini, yang pernah dilakukan dari Thailand hingga Borobudur beberapa tahun lalu. Praktik pengembara spiritual, hidup sederhana, tidur di alam, dan berjalan ribuan langkah setiap hari untuk menjernihkan batin dan mendekatkan diri pada welas asih.

Dalam disiplin tersebut, mereka: makan hanya sekali sehari, sebagai latihan pengendalian diri, tidur di bawah pohon tanpa tenda, meski cuaca mulai memasuki musim dingin, dan berjalan sekitar 20 mil per hari melewati kota, desa, dan ruang-ruang publik tempat orang bisa bertemu mereka secara langsung.

Rombongan ini berangkat pada 26 Oktober 2025, menyusuri 10 negara bagian, berhenti di ibu kota negara bagian, lokasi bersejarah, dan komunitas-komunitas lokal yang ingin berbagi atau sekadar menyambut. Jika semua berjalan sesuai rencana, mereka akan memasuki Washington, D.C. dan tiba di dekat Gedung Capitol pada 13 Februari 2026, setelah perjalanan yang ditargetkan sekira 108 hari.

Aloka, Sahabat Kecil yang Menguatkan Walk for Peace Amerika

Di antara para biku itu, ada satu anggota kecil yang tampaknya paling banyak disorot: seekor anjing bernama Aloka. Menurut komentar netizen Amerika, Aloka adalah anjing adopsi dari Texas yang kemudian ikut dalam perjalanan damai ini dari awal. Sosoknya yang setia, berjalan di samping para biku, membuat banyak orang tersentuh.

Ada warganet yang menawarkan untuk mengirimkan sepatu karet untuk melindungi tapak kaki-nya, tetapi tampaknya Aloka tidak terbiasa memakai alas kaki, sehingga hingga kini ia tetap berjalan dengan caranya sendiri. Sementara itu banyak warga lokal menyiapkan air, makanan, bahkan selimut khusus anjing di titik-titik persinggahan.

Di tengah langkah panjang para biku, kehadiran Aloka seperti simbol kecil dari persahabatan tanpa syarat—dan entah bagaimana, membuat Peace Walk ini terasa semakin “manusiawi”.

Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Kebaikan

Yang paling mengejutkan adalah bagaimana masyarakat Amerika merespons perjalanan ini. TikTok dipenuhi komentar positif. Sesuatu yang cukup langka mengingat suasana media sosial yang sering penuh konflik, amarah, dan makian. Banyak yang menulis bahwa mereka terharu hingga menangis ketika melihat bhikkhu berjalan dengan damai. Atau saat mereka sedang menerima sebotol air. Ada yang menyatakan mengikuti rute perjalanan mereka setiap hari melalui medsos. Selain itu ada juga yang memperingatkan agar warga yang daerahnya dilewati menyiapkan air mineral, makanan, atau baju hangat karena cuaca semakin dingin.

Di beberapa video, tampak keluarga-keluarga Amerika berdiri di pinggir jalan menunggu rombongan. Anak-anak menyerahkan buah atau roti sambil tersenyum ceria dan bercakap-cakap dengan para biku. Ketika para biku membacakan paritta sebagai ucapan terima kasih, banyak yang merasa mendapatkan momen ketenangan yang tidak mereka rasakan selama bertahun-tahun. Beberapa juga tampak bahagia menerima gelang dari para biku.

Bahkan muncul ide dari salah seorang warganet: menjelang Washington D.C., warga diajak ikut berjalan bersama para bhikkhu, sehingga ketika mereka tiba di Capitol, rombongan itu telah disertai orang-orang dari berbagai kota. Apakah ajakan ini akan terwujud atau tidak, belum ada yang tahu. Tetapi gagasan tersebut menunjukkan sejauh mana Peace Walk ini telah menggerakkan hati publik.

Baca juga: Walk for Peace dan Persahabatan Martin Luther King-Thich Nhat Hanh

Perdamaian yang Dimulai dari Dalam

Dalam sebuah wawancara, Bhikkhu Pannakara memberikan pesan yang menjadi pegangan banyak pengikut gerakan ini, bahwa siapa pun sebenarnya bisa ikut Peace Walk, secara batin. “Setiap bangun pagi, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengambil selembar kertas dan pena, lalu tulislah: Today is going to be my peaceful day lalu jalani harimu dengan kesadaran penuh. Apun yang kamu lakukan, satu tugas dalam satu waktu, lakukan dengan sadar penuh. Jika ada waktu, latihlah metode pernafasan, amati keluar masuknya nafas. Dengan begitu, kamu akan punya kedamaianmu sendiri”. Himbaunya.

Ini adalah latihan mindfulness sederhana, atau dalam bahasa Jawa kita mengenalnya sebagai eling lan waspodo—menyadari dan mengawasi.

“Semua berawal di pikiran. Jika ada orang lain yang bertindak buruk terhadapmu, itu adalah tanggung jawab mereka. Sadari itu, dan lepaskan. Tidak perlu merespon dengan sama buruknya. Apa yang menjadi tanggung jawab kita adalah bagaimana kita merespon. Dengan demikian, hari anda akan damai, dan dari situ, kedamaian dapat merambat ke keluarga, ke komunitas, ke kota, hingga ke seluruh negeri”. Pesan Pannakara.

Sebuah Langkah untuk Semua Orang

Yang membuat perjalanan ini begitu istimewa bukanlah jaraknya yang luar biasa panjang, atau viralnya di media sosial. Akan tetapi kesederhanaannya. Sebuah pengingat bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil yang diambil dengan penuh niat baik.

Ketika dunia terasa gaduh, para biku ini memilih hening. Demikian pula ketika banyak hal bergerak cepat, mereka memilih berjalan perlahan penuh kesadaran. Dan ketika berita riuh oleh permusuhan, perpecahan, mereka memilih membawa pesan persatuan dan cinta kasih.

Dan siapa sangka, dari langkah-langkah yang sederhana itu, lahir sebuah gelombang ketenangan yang kini dirasakan oleh banyak warga Amerika. Mungkin itulah kekuatan dari Walk for Peace Amerika ini: mengingatkan kita bahwa kedamaian tidak harus menunggu dunia berubah. Terkadang ia hanya menunggu satu langkah—atau satu kalimat pagi—untuk kembali muncul dari dalam diri kita sendiri. Today is going to be my peaceful day! @Eddy Setiawan

Sekilas Penelitian “Buddhism in Australia”

0
Penelitian Buddhism in Australia
Dewan penasehat atau Advisory Commitee penelitian buddhism in australia telah adakan rapat kedua.

 Pada 25 Februari 2025, proyek riset Buddhism in Australia mengadakan rapat kedua Advisory Committee secara daring. Pertemuan ini mempertemukan para akademisi dan pemimpin komunitas Buddhis untuk berbagi temuan terbaru serta memberikan arahan strategis bagi langkah riset selanjutnya.

Dalam sesi laporan lapangan, Dr Juewei Shi memaparkan hasil kunjungan ke Queensland, New South Wales, Darwin, dan Broome. Sementara itu, Dr Sioh-Yang Tan menyampaikan progres keseluruhan proyek. Dr Ruth Fitzpatrick memperkaya diskusi dengan ulasan literatur mengenai perkembangan komunitas Buddhis pada era 1950–1970-an. Prof Cristina Rocha turut membagikan perkembangan terkait buku yang sedang disiapkan, dan rencana pembuatan sumber belajar digital dipresentasikan oleh A/Prof Sue Smith.

Rapat ini juga menyoroti agenda perjalanan riset berikutnya ke Melbourne, Bendigo, Launceston, Perth, dan Christmas Island. Salah satu fokus utama adalah penyusunan survei nasional pertama tentang Buddhisme di Australia. Survei ini dirancang untuk menggali identitas Buddhis, ritus-ritus penting dalam kehidupan beragama, serta pandangan komunitas Buddhis terhadap isu-isu kontemporer seperti lingkungan dan teknologi. Prof Anna Halafoff memfasilitasi sesi curah pendapat yang menghasilkan berbagai tema dan rancangan pertanyaan kunci untuk survei tersebut.

Komite kembali menegaskan komitmennya terhadap riset yang inklusif, berpengaruh, dan relevan. Seperti yang disampaikan Venerable Juewei, proyek ini berupaya menjembatani waktu, ruang, dan koneksi terhadap tanah yang disebut Australia.

Agama Buddha Bertumbuh Cepat di Australia

Australia memiliki keragaman agama yang terus berkembang, dan agama Buddha merupakan salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat dalam sensus dua dekade terakhir. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh migrasi dari negara-negara Asia, meningkatnya minat masyarakat terhadap praktik meditasi dan mindfulness, serta berkembangnya komunitas dan pusat-pusat Buddhis di berbagai negara bagian. Kondisi ini menjadikan penelitian komprehensif tentang Buddhisme di Australia semakin penting untuk memahami dinamika sosial, budaya, dan spiritual yang menyertainya.

“Buddhism in Australia: Wellbeing, Belonging, and Social Engagement” Merupakan studi komprehensif pertama tentang Buddhisme di Australia, proyek tiga tahun ini dilakukan oleh Nan Tien Institute, Deakin University, Western Sydney University, dan Charles Darwin University. Menggunakan metode campuran seperti wawancara sejarah lisan digital, studi warisan budaya, dan survei berskala nasional, proyek ini menelusuri perjalanan Buddhisme sejak abad ke-19 hingga masa kini.

Lima Tujuan Utama Proyek
  1. Mendokumentasikan sejarah dan kehidupan beragama para migran Buddhis di Australia sejak 1800-an.

  2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong atau menghambat rasa memiliki dalam masyarakat Australia.

  3. Menganalisis kontribusi individu dan organisasi Buddhis terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan keterlibatan sosial.

  4. Menyelidiki hubungan yang berkembang antara komunitas Buddhis dan masyarakat First Nations.

  5. Meningkatkan literasi keagamaan publik melalui penyediaan sumber belajar tentang Buddhisme di Australia.

Perkembangan Terbaru Proyek

Selama 2024–2025, tim riset telah melaksanakan berbagai kegiatan, termasuk:

  • perjalanan lapangan ke Queensland, New South Wales, Darwin, Broome, dan Tasmania,

  • workshop penyusunan survei nasional,

  • penyusunan draft monograf proyek,

  • presentasi akademik di konferensi internasional,

  • dan pengembangan sumber edukasi digital.

Dengan fondasi yang semakin kuat, proyek Buddhism in Australia terus bergerak maju untuk menghadirkan pemahaman baru tentang sejarah dan kehidupan Buddhis di Australia—sebuah kontribusi penting bagi kajian agama, migrasi, dan keberagaman budaya.@Eddy Setiawan

Mau ikuti perkembangan riset ini? kunjungi situs Buddhisminaustralia

Membaca Ulang Agama Buddha di Barat

0
Donald S Lopez (kiri) dan Robert Buswell (kanan memegang buku) adalah dua profesor Buddhis terkemuka. Dalam podcastnya dengan Tyler Cowen, Lopez menawarkan pembacaan ulang terhadap agama buddha yang dibayangkan barat
Agama Buddha yang dibayangkan orang barat menurut Donald S Lopez bisa jadi memiliki beberapa perbedaan dengan sejarah.

Tulisan ini merupakan catatan reflektif setelah saya menyimak percakapan antara Tyler Cowen dan Donald S. Lopez Jr. dalam program Conversations with Tyler (episode 260, 2025). Dapat diakses melalui https://conversationswithtyler.com/episodes/donald-s-lopez-jr/. Dialog ini mempertemukan dua sosok pemikir. Cowen sebagai ekonom dan pewawancara yang gemar menggali sisi filosofis kebudayaan. Dan Lopez sebagai salah satu pakar Buddhologi paling berpengaruh di dunia. Pembicaraannya adalah berbagai lapisan sejarah, teologi, dan mitologi seputar Agama Buddha. Sederhananya, Lopez mengajak pendengar membaca ulang Agama Buddha di Barat.

Lopez, adalah profesor di University of Michigan. Ia juga penyunting bersama The Princeton Dictionary of Buddhism. Pakar Buddhologi ini telah menghabiskan puluhan tahun meneliti naskah-naskah Sanskerta dan Tibet. Ia juga pernah belajar langsung di sebuah biara Tibet di India. Melalui wawancara ini, ia mengajak pendengar meninjau kembali banyak hal yang selama ini diterima begitu saja tentang Buddhisme.

Omniscience dan Kemanusiaan Buddha

Lopez membuka pembicaraan dengan menjelaskan pandangan teologis tentang omniscience (kemahatahuan) Buddha. Dalam pandangan Buddhis, Buddha mengetahui seluruh masa lalu, kini, dan masa depan, tetapi bukan karena ia tuhan. Melainkan karena ia telah menyempurnakan diri selama miliaran kelahiran. Buddha, kata Lopez, bukan sosok yang disembah karena kuasa adikodrati. Akan tetapi, seorang manusia yang berhasil mencapai kesempurnaan spiritual tertinggi melalui kebajikan yang terus diasah.

Menariknya, Lopez juga menyinggung kematian Buddha. Kematian dalam ajaran Buddha, bukanlah tragedi spiritual. Melainkan fenomena jasmani yang alamiah bagi setiap makhluk hidup. Menurut teks-teks awal, Buddha wafat setelah menikmati “makanan terakhir” yang menimbulkan serangan pencernaan parah. Namun bagi penganutnya, peristiwa itu bukan penderitaan. Melainkan bagian dari siklus kehidupan yang berakhir. “Nirvana,” ujar Lopez, “bukanlah tempat; ia adalah padamnya api—kondisi ketika bahan bakarnya habis.”

Etika Kosmis tanpa Tuhan

Salah satu gagasan kunci yang dibahas Lopez adalah struktur etis alam semesta tanpa kehadiran Tuhan. Dalam Buddhisme, hukum karma menjelaskan keteraturan moral dunia. Setiap tindakan memiliki konsekuensi, tidak karena ada otoritas ilahi yang mengadili, tetapi karena realitas itu sendiri bersifat etis. Dengan demikian, penderitaan dan kebahagiaan tidak muncul secara acak. Semuanya adalah buah dari tindakan sebelumnya, entah dalam kehidupan kini atau masa lampau.

Lopez menjelaskan bahwa konsep ini meniadakan kebutuhan akan pencipta, tetapi tetap menghadirkan tatanan kosmis yang bermoral. Dalam sistem Buddhis, terdapat banyak alam kelahiran—dewa, manusia, hewan, hantu kelaparan (preta), brahma dan berbagai tingkat neraka panas maupun dingin. Ini menunjukkan kompleksitas kosmologi Buddhis yang sering disederhanakan oleh tafsir Barat modern.

Buddhisme dan Kekerasan: Mitos “Agama Damai”

Lopez kemudian menyoroti konstruksi Barat terhadap Buddhisme sebagai “agama damai”. Ia berargumen bahwa citra ini lahir pada abad ke-19, ketika kaum intelektual Eropa—terutama yang anti-Gereja dan cenderung ateis—menemukan teks-teks Buddhis dan mengidealkannya sebagai agama rasional tanpa dogma dan peperangan.

Namun, Lopez mengingatkan bahwa sejarah tidak sesederhana itu. Terdapat catatan tentang bhiksu yang menjadi penasehat politik hingga militer, atau bahkan ikut berperang sebagai pasukan. “Buddha memang mengajarkan anti-kekerasan,” ujarnya. Tetapi dalam perjalanan sejarah terdapat individu-individu Buddhis yang terlibat tindak kekerasan. Baik sebagai raja, ratu, hingga pemimpin agama.

Realisme Sosial Buddha

Beralih ke aspek sosial, Lopez meluruskan kesalahpahaman umum bahwa Buddha menghapus sistem kasta. Berdasarkan teks Pali, Buddha tidak menghapuskan sistem tersebut. Melainkan membuka jalan spiritual bagi semua kelas sosial. Menurut Lopez, kebebasan spiritual tidak bergantung pada kelahiran sosial, tetapi pada kemampuan untuk menempuh jalan kebajikan dan disiplin batin. Meski demikian, secara historis, kebanyakan bhikkhu awal berasal dari kasta Brahmana dan Ksatria.

Lopez juga menekankan bahwa Buddhisme berkembang dari tradisi lisan, bukan tulisan. Selama berabad-abad setelah Buddha wafat, ajarannya dipertahankan lewat hafalan kolektif para bhikkhu. Dari hapalan tersebutlah kemudian teks-teks itu ditulis. Lopez menyarankan agar setiap studi Buddhis modern harus mempertimbangkan dimensi oralitas ini sebagai bagian dari metodologi sejarah.

Transformasi Buddhisme Era Digital

Era digital menurut Lopez, menghadirkan bentuk kebangkitan baru. Ritual dan pengajaran kini berlangsung melalui YouTube dan platform daring lainnya. Bahkan, dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI), proyek penerjemahan besar terhadap kanon Buddhis semakin mungkin dilakukan. Bagi Lopez, teknologi mungkin menjadi sarana baru bagi kelangsungan dharma di dunia modern. Suatu bentuk “oralitas digital” yang memperluas cakrawala transmisi ajaran ke berbagai belahan dunia.@Eddy Setiawan

Bhiksu Bhadratamsaka Raih Gelar Doktor di UNJ

0
Bhiksu Bhadrasamtaka resmi raih gelar doktor teknologi pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta atau UNJ
Bhiksu Bhadrasamtaka remi meraih gelar doktornya. Bhiksu dengan nama awam Tejo Ismoyo, kini resmi dapat disebut Dr. Tejo Ismoyo, M.Pd., M.PdB.

Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Buddhis Indonesia. Bhiksu Bhadratamsaka, yang memiliki nama awam Tejo Ismoyo resmi merai gelar Doktor. Sehingga secara akademis resmi sebagai Dr. Tejo Ismoyo, M.Pd., M.Pd.B. Gelar Doktor diperolehnya untuk Teknologi Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Sidang promosi doktor digelar di Gedung Bung Hatta, Kampus A UNJ, Rawamangun. Turut dihadiri oleh para tokoh pendidikan serta anggota Sangha. Prestasi ini menjadi tonggak sejarah tersendiri. Bhiksu Bhadratamsaka merupakan biksu pertama asal Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, yang berhasil mencapai jenjang akademik tertinggi di bidang teknologi pendidikan.

Putra Lampung: Bhiksu Bhadratamsaka dan TEBASTIN

Lahir di Liwa dan dibesarkan di Desa Biha, Kecamatan Pesisir Selatan, Bhiksu Bhadratamsaka dikenal sebagai sosok sederhana dan tekun, dengan komitmen kuat terhadap dunia pendidikan dan pengembangan karakter berbasis nilai-nilai Buddhis. Perjalanan panjang dan penuh dedikasi itu kini membuahkan hasil yang membanggakan, bukan hanya bagi masyarakat Lampung, tetapi juga bagi komunitas pendidikan Buddhis di seluruh Indonesia.

Salah satu yang turut hadir dan memberikan sambutan adalah Biksu Nyanamaitri Mahasthavira, pendiri STIAB Jinarakkhita. Ia menyampaikan apresiasi mendalam terhadap capaian Bhiksu Bhadratamsaka, seraya menekankan pentingnya karya akademik ini bagi kemajuan pendidikan Buddhis di era digital.

“Kami berharap hasil penelitian beliau tentang Model Pembelajaran Pancasila Buddhis Berbasis Problem Based Learning Menggunakan Microlearning dapat memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan Buddhis Indonesia,” ujar Biksu Nyanamaitri yang disambut tepuk tangan hangat dari para hadirin.

Dalam disertasinya, Dr. Tejo Ismoyo memperkenalkan Model Pembelajaran TEBASTIN. Akronim dari nama dirinya dan kedua pembimbingnya, Prof. Dr. Basuki Wibawa (promotor) serta Prof. Dr. Etin Solihatin, M.Pd. (ko-promotor). Model TEBASTIN mengintegrasikan empat komponen utama. Nilai-nilai Pancasila Buddhis, strategi Problem Based Learning (PBL), media Microlearning, dan praktik mindfulness.

Pendekatan ini dirancang untuk memperkuat karakter peserta didik, melatih kemampuan berpikir kritis, serta menumbuhkan budaya kolaboratif yang relevan dengan tantangan abad ke-21.

Melalui riset tersebut, Dr. Tejo berhasil menghasilkan 25 produk pembelajaran inovatif. Mulai dari buku referensi, modul digital, panduan guru dan siswa, LKPD interaktif, video microlearning, hingga lagu-lagu edukatif bernuansa Dharma. Seluruh karya tersebut telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM RI dan dinilai “Sangat Unggul” (Exceeding the Standard) oleh tim penguji UNJ.

Baca juga: Universitas Nalanda: 64 Mata Pelajaran di India Kuno

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa jalur kebhiksuan dan jalur akademik dapat saling melengkapi. Keduanya tidak terpisah, tetapi berjalan beriringan untuk menghadirkan pendidikan yang berlandaskan kebijaksanaan, moralitas, dan kemanusiaan.

Dalam pesannya, Dr. Tejo berharap pencapaiannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Buddhis Indonesia untuk terus belajar, berkarya, dan berkontribusi bagi bangsa.

“Semoga ini menjadi awal dari langkah-langkah kecil menuju pendidikan Buddhis yang lebih maju, terbuka, dan relevan dengan zaman,” tuturnya dengan rendah hati.

Prestasi Bhiksu Bhadratamsaka menegaskan bahwa semangat Dharma dapat menyala di ruang akademik — membimbing, mendidik, dan menginspirasi.

Sumber: Kabar Nusantara

Kwan Im Teng: Adaptasi hingga soal KTP di Era Orde Baru

0
Kwan Im Teng tempat ibadha umat Buddha tertua di Batavia berdiri 1650
Kwan Im Teng adalah nama-nama tempat ibadah umat Buddha di berbagai daerah pada masa kolonial Belanda.

Umat Buddha Tiongkok, Tibet dan negara lainnya sama-sama memuliakan Avalokitesvara (Sansekerta), yang berarti ia yang mengamati dan mendengar suara penderitaan dunia. Diterjemahkan Guan Yin atau Kwan Im (Tiongkok), Cherenzig (Tibet), Kanon (Jepang), Gwan-eum (Korea), Qwan Am (Vietnam) dan sebutan lain dalam berbagai bahasa. Indonesia menyerap istilah Sansekerta dan Tiongkok. Baik Kwan Im, Guan Yin, Awalokiteswara, hingga Dewi Welas Asih. Artikel akan menjelaskan bagaimana adaptasi Kwan Im Teng khususnya di masa orde baru.

Jadi ketika Orba melarang penggunaan bahasa dan adat istiadat Tionghoa, nama tempat ibadah umat Buddha diterjemahkan ke bahasa Sansekerta yang bisa diterima aturan diskriminatif tersebut.

Kwan Im Teng Pertama Tanah Jawa

Kwan Im Teng tertua di Batavia yang didirikan 1600-an, dan telah dipugar pasca kerusuhan 1740 dan berganti nama menjadi Jin De Yuan, diubah menjadi Wihara Dharma Bhakti. Hal sama juga terjadi pada Kwan Im Teng tertua sejaman di Banten, menjadi Vihara Avalokitesvara, demikian juga yang terjadi di Mangga Besar. Bahkan pada masa lalu, nama jalan disana adalah Jalan Kwan Im. Sementara Tiao Kak Sie di Cirebon yang juga memiliki dewata utama Kwan Im menjadi Wihara Dewi Welas Asih. Namun Tay Kak Sie di Semarang yang juga menempatkan Kwam Im sebagai dewata utama, tidak berganti nama.

Tidak hanya menyesuaikan kwan im teng yang ada. Akibat larangan penggunaan bahasa Mandarin, mantra umat Buddha Mahayana yang sudah tentu versi Mandarin. Terpaksa mulai memperkenalkan kembali versi aslinya yaitu dalam bahasa Sansekerta, inilah adaptasi umat Buddha di tengah penindasan Orba.

Baca juga: Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa

Tidak cukup sampai disitu, masa awal Orba adalah masa dimulainya KTP dengan kolom agama. Hal ini dilakukan paska peristiwa 1965, seolah menempatkan PKI sebagai atheis dan dihadapkan dengan umat beragama. Penerapan kolom agama di KTP baru dimulai pada 1967. Tapi implementasinya sangat diskriminatif, banyak oknum petugas hanya memberi pilihan 3 agama yaitu Islam, Kristen dan Katolik. Terutama untuk penganut agama-agama lokal dan agama Buddha. Namun di Bali soal kolom agama ini relatif tidak ada persoalan seperti yang terjadi di Jawa.

Memang Orba suka menyederhanakan, dari banyak partai jadi 3 PPP, Golkar, PDI. Organisasi agama juga dikanalisasi dengan wadah tunggal walubi. Ormas kepemudaan pun demikian atas nama stabilitas. Ada yang punya pengalaman juga soal ini? @esa

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna