Page 3

Gereja Terbengkalai di Amerika Kini Jadi Vihara Buddhis Vietnam

0
Tampak 3 patung Buddha utama di altar bekas gereja terbengkalai di Buffalo Amerika Serikat.
Patung Buddha Amitabha, Sakyamuni, dan Bhaisajyaguru kini menjadi bagian dari altar utama di bekas gereja terbengkalai di Amerika Serikat.

Sebuah gereja Katolik tua di Buffalo, Amerika Serikat, yang sempat terbengkalai, kini memiliki wajah baru yang tak terduga. Bangunan bersejarah tersebut bertransformasi menjadi vihara bagi komunitas Buddhis Vietnam. Lengkap dengan tiga patung Buddha besar yang masing-masing beratnya sekitar 900 kilogram.

Sebagaimana ditulis John dalam artikelnya di Journee mondiale, gereja terbengkalai tersebut bernama gereja St. Agnes. Sebuah gereja yang dibangun pada 1883 dan dikonsekrasi pada 1905 dan telah melayani komunitas Katolik selama lebih dari satu abad. Namun, penurunan jumlah jemaat dan perubahan demografi menyebabkan gereja tersebut ditutup pada 2007. Sehingga akhirnya gereja tua tersebut menjadi gereja terbengkalai selama bertahun-tahun.

Perubahan signifikan terjadi ketika seorang biksu asal Vietnam, Thich Minh Tuyen, membeli bangunan gereja terbengkalai tersebut dengan dukungan komunitas Buddhis. Harga pembelian pada 2009 lalu adalah sekitar 250.000 dolar AS. Ia kemudian memimpin proses renovasi selama dua tahun, mengubah fungsi bangunan tanpa sepenuhnya menghapus identitas arsitektur lamanya. Secara penampakan arsitektur luar tidak ada perubahan, hanya dilakukan perbaikan terhadap bagian-bagian yang sudah lapuk. Sementara bagian dalam hanya ada perubahan di bagian altar utama, dan pengurangan jumlah kursi. Hal ini dilakukan agar ada ruang untuk umat Buddha bernamaskara atau duduk bersila di lantai depan altar utama.

Transformasi Gereja Terbengkalai Tanpa Menghapus Sejarah

Alih fungsi gereja terbengkalai menjadi vihara dilakukan dengan pendekatan yang cukup unik. Elemen-elemen Katolik seperti altar, salib, dan Stations of the Cross dilepas secara hati-hati. Lalu umat Buddha menempatkan tiga patung Buddha utama dalam tradisi Mahayana, yakni Amitabha, Sakyamuni, dan Bhaisajyaguru.

Namun demikian, struktur utama bangunan tetap dipertahankan. Artikel John yang berjudul This abandoned church sold for $250,000 and now houses three 2,000-pound Buddha statues di Journee mondiale. Mengungkapkan bahwa bagian seperti rangka kayu, jendela kaca patri, hingga beberapa bangku gereja masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan arsitektur.

Hasilnya adalah sebuah ruang ibadah yang menggabungkan unsur lama dan baru. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan karpet meditasi di lantai sekaligus bangku tradisional gereja Katolik. Hal ini mencerminkan adaptasi dan penghargaan umat Buddha terhadap warisan sejarah komunitas sebelumnya.

Cerminan Perubahan Demografi

Transformasi ini bukan sekadar soal bangunan, tetapi mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas. Kota Buffalo, seperti banyak wilayah lain di Amerika Serikat, mengalami penurunan jumlah jemaat gereja tradisional. Sementara komunitas imigran, termasuk umat Buddha dari Vietnam terus bertumbuh. Sebagaimana dikutip dari Journee mondiale, perubahan ini menunjukkan bagaimana pergeseran demografi secara perlahan mengubah peta keagamaan di berbagai komunitas .

Dalam konteks ini, alih fungsi tempat ibadah menjadi solusi yang tidak hanya menjaga bangunan tetap hidup, tetapi juga memungkinkan fungsi spiritualnya tetap berlanjut, meski dalam bentuk yang berbeda. Hal inilah yang dilakukan pada salah satu gereja terbengkalai di Amerika tersebut.

Model Baru untuk Masa Depan?

Kasus gereja St. Agnes dinilai sebagai contoh model baru dalam pengelolaan bangunan keagamaan. Daripada dibiarkan kosong atau dihancurkan, bangunan tersebut tetap digunakan sebagai ruang ibadah, meskipun oleh agama yang berbeda.

John melalui Journee mondiale juga menyatakan, pendekatan ini dianggap sebagai solusi “win-win” karena mampu menjaga warisan sejarah sekaligus memenuhi kebutuhan komunitas baru. Meski demikian, proses ini tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Beberapa insiden vandalisme sempat terjadi setelah perubahan fungsi, menunjukkan masih adanya ketegangan di tingkat lokal. Namun, sebagian besar warga justru lebih memilih bangunan tersebut tetap aktif daripada terbengkalai.

Ruang Suci yang Berubah, Fungsi yang Tetap

Fenomena ini membuka perspektif baru tentang makna ruang keagamaan. Jika sebelumnya tempat ibadah identik dengan satu tradisi tertentu, kini muncul kemungkinan bahwa ruang tersebut dapat melampaui batas denominasi.

Sebagaimana dikutip dari Journee mondiale, transformasi ini menunjukkan bahwa bangunan keagamaan tidak harus selamanya terikat pada satu identitas, melainkan dapat beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan fungsi spiritualnya .

Kisah gereja St. Agnes di Buffalo yang sempat menjadi gereja terbengkalai bukan hanya cerita tentang perubahan fungsi bangunan. Tetapi juga tentang bagaimana agama, migrasi, dan perubahan sosial saling berinteraksi. Di tengah dunia yang terus berubah, ruang-ruang suci pun ternyata ikut bertransformasi—bukan untuk menghilang, melainkan untuk tetap hidup dalam bentuk baru.

Baca juga: Membaca Ulang Agama Buddha di Barat

Diplomasi Buddhis di Asia Modern: Tokoh, Jaringan, dan Politik

0
Sebuah buku baru mengenai diplomasi Buddhis telah diterbitkan dengan penyunting Jack Meng-Tat Chia
Diplomasi Buddhis di Asia Modern menyangkut jaringan para biksu, vihara dan politik negara-negara Asia. (Foto: Sampul Buku)

Diplomasi Buddhis semakin mendapat perhatian dalam kajian hubungan internasional Asia, terutama dengan menguatnya posisi Tiongkok dan India. Dua negara besar yang memiliki ikatan tersendiri dengan Agama Buddha. Figures of Buddhist Diplomacy in Modern Asia, adalah buku yang baru terbit pada 5 Februari lalu. Buku ini menunjukkan bahwa relasi antarnegara di kawasan ini tidak hanya dibentuk oleh negara, kekuatan militer, atau kepentingan ekonomi. Akan tetapi juga oleh agama, jaringan lintas budaya, dan para tokohnya.

Buku yang Membuka Perspektif Baru

Buku Figures of Buddhist Diplomacy in Modern Asia menghadirkan cara pandang baru tentang diplomasi di Asia. Disunting oleh Jack Meng-Tat Chia dari National University of Singapore, buku ini mengumpulkan 22 tulisan dari berbagai disiplin ilmu yang menelusuri bagaimana Buddhadharma berperan dalam membentuk hubungan lintas negara. Dukungan dari Social Science Research Council of Singapore menegaskan pentingnya tema ini dalam diskursus akademik kontemporer.

Alih-alih melihat diplomasi semata sebagai urusan negara, buku ini memperkenalkan konsep diplomasi Buddhis—yakni praktik di mana ajaran, institusi, simbol, dan jaringan Buddhadharma dimanfaatkan untuk membangun pengaruh, memperkuat hubungan budaya, hingga mendorong inisiatif perdamaian dan strategi geopolitik.

Diplomasi Buddhis Melampaui Formalitas

Selama ini, diplomasi identik dengan peran duta besar atau pejabat negara. Namun, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa di Asia, hubungan antarnegara juga sering terbentuk melalui jalur yang lebih halus dan kultural. Biksu, pemimpin spiritual, dan jaringan vihara lintas negara memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi, membangun kepercayaan, dan menciptakan ruang dialog.

Dengan pendekatan ini, Buddhadharma tidak lagi dipahami sebagai ajaran yang sepenuhnya terpisah dari politik. Sebaliknya, ia hadir sebagai kekuatan sosial dan budaya yang aktif memengaruhi praktik diplomasi, terutama dalam konteks Asia yang memiliki sejarah panjang interaksi lintas peradaban.

Tokoh dan Praktik yang Membentuk Diplomasi Buddhis

Buku ini juga menyoroti sejumlah figur penting yang menunjukkan bagaimana diplomasi Buddhis bekerja dalam praktik nyata. Nama-nama seperti Tenzin Gyatso dan Thich Nhat Hạnh memperlihatkan bagaimana ajaran Buddhis dapat menjadi fondasi bagi gerakan perdamaian global. Di sisi lain, tokoh seperti George Yeo, Narendra Modi, hingga Xi Jinping menunjukkan bagaimana nilai dan simbol Buddhisme juga dapat hadir dalam kebijakan negara dan strategi diplomasi.

Melalui berbagai contoh ini, buku tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi Buddhis tidak bersifat tunggal. Ia bisa hadir sebagai upaya membangun perdamaian, memperkuat identitas budaya, maupun sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.

Agama, Soft Power, dan Politik Asia

Pandangan ini diperkuat oleh Chan Heng Chee sebagaimana dikutip dari Mirage News yang menyebut buku ini sebagai kontribusi penting dalam memahami diplomasi di kawasan. Ia menekankan bahwa hubungan internasional di Asia tidak hanya dibentuk oleh hard power atau kekuatan keras, tetapi juga oleh ide, nilai, dan keyakinan.

Dalam konteks ini, Buddhadharma berfungsi sebagai soft power atau kekuatan lunak—sebuah kekuatan yang bekerja melalui daya tarik budaya dan moral, bukan tekanan. Jaringan keagamaan, praktik spiritual, dan simbol-simbol Buddhis menjadi medium yang efektif untuk membangun kedekatan antar masyarakat dan negara.

Dekade ini misalnya dunia menyaksikan bagaimana Tiongkok menggunakan Agama Buddha sebagai bagian dari strategi kekuatan lunaknya di Asia Tenggara. Agama Buddha dan Agama Islam merupakan dua agama mayoritas di negara-negara yang ada Asia Tenggara.

Relevansi bagi Asia dan Indonesia

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, pendekatan seperti diplomasi Buddhis menawarkan alternatif yang lebih dialogis dan kultural. Ia membuka kemungkinan bagi hubungan internasional yang tidak hanya berbasis kepentingan, tetapi juga nilai dan pemahaman bersama.

Bagi Indonesia, konsep ini memiliki relevansi tersendiri, karena sejarah panjang interaksi Buddhadharma di kawasan Nusantara menunjukkan bahwa agama telah lama menjadi bagian dari jaringan budaya Asia. Membaca ulang diplomasi melalui perspektif Buddhis bukan hanya memperkaya kajian akademik, tetapi juga membuka cara baru dalam memahami posisi Indonesia di tengah dinamika regional. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, dengan negara tetangga yang sebagian besar beragama Buddha.@esa

Baca juga: Soft Power Buddhis dalam Diplomasi Asia Modern

Ekspo Buddhadharma Korea 2026: Dari DJ hingga K-Pop

0
Komunitas Buddhis Korea Selatan kembali gelar Ekspo Buddhadharma Korea 2026.
Guna mendekatkan kembali agama kepada kaum muda, komunitas Buddhis Korsel gelar Ekspo Buddhadharma Korea Selatan 2026. (Foto: Newyork Times)

Ekspo Buddhadharma Korea Selatan 2026 berlangsung meriah dihadiri ratusan ribu anak muda. Siapa sangka kuil Buddha bisa berdenyut seiring alunan musik elektronik? Di Seoul International Buddhism Expo 2026, hal yang tampak kontradiktif tersebut benar-benar terjadi. Kompleks Vihara Bongeunsa yang biasanya hening, kali ini “berisik”. Dimana pengunjung disuguhi pengalaman spiritual yang sama sekali berbeda. DJ yang memutar musik elektronik berpadu dengan lantunan sutra. Selain itu juga ada biksu yang menarikan koreografi K-pop. Suasana kuil pun berubah menjadi ruang budaya yang dinamis dan inklusif khas kaum muda.

Gelaran empat hari ini sukses besar, menarik lebih dari 250.000 pengunjung—meningkat 25% dari tahun sebelumnya. Yang lebih mengejutkan, 73% di antaranya adalah kaum muda berusia 20-30 tahun. Bahkan hampir setengahnya menyatakan tidak mengidentifikasi diri sebagai penganut agama tertentu. Angka-angka ini berbicara jelas: expo Buddhadharma Korea 2026 ini bukan sekadar acara keagamaan. Melainkan sebuah gerakan budaya yang berhasil menjembatani spiritualitas kuno dengan realitas generasi era digital.

Ekspo Buddhadharma Korea 2026: Sebuah Transformasi

Pengunjung yang datang tidak hanya menjadi penonton pasif. Mereka diajak berpartisipasi dalam workshop meditasi yang dirancang khusus untuk pemula, mengikuti upacara minum teh tradisional, hingga bergabung dalam sesi matchmaking yang dikemas dengan sentuhan nilai-nilai Buddhis. Stan-stan merchandise menampilkan desain modern yang membuat simbol-simbol Buddhadharma tampak relevan dengan gaya hidup kontemporer. Kuil, yang selama ini sering dipersepsikan sebagai ruang sakral yang eksklusif, bertransformasi menjadi tempat yang hangat dan mudah diakses.

Transformasi radikal ini tentu bukan tanpa alasan. Data dari berbagai lembaga riset menunjukkan penurunan signifikan dalam praktik keagamaan di Asia Timur, khususnya di kalangan generasi muda. Mereka mungkin menghargai warisan budaya, tetapi semakin menjauh dari institusi agama formal. Ekspo Buddhadharma Korea Selatan 2026 ini hadir sebagai jawaban kreatif atas tantangan ini: alih-alih memaksa kaum muda datang ke kuil dengan cara-cara lama, expo ini membawa kuil ke dunia mereka melalui bahasa yang mereka pahami—musik, teknologi, dan pengalaman interaktif.

Tentu saja, pendekatan ini memancing perdebatan. Sebagaimana dikutip dari Asia News, sebagian biksu senior mengkhawatirkan bahwa Buddhadharma berisiko kehilangan kedalamannya, tereduksi menjadi sekadar hiburan atau tren sesaat. Namun, tokoh seperti Yang Mulia Dogyun dari Vihara Hyegwangsa menawarkan pandangan yang lebih longgar: esensi Buddhadharma justru terletak pada kebebasan, termasuk kebebasan dalam mengekspresikan dan mengalami spiritualitas. Bagi mereka, yang terpenting adalah benih kesadaran itu tertanam, terlepas dari kemasannya. Inilah perdebatan dibalik meriahnya Ekspo Buddhadharma Korea Selatan 2026.

Sebenarnya pada masa awal penyebaran Buddhadharma ke berbagai wilayah dunia. Umumnya pendekatan yang dilakukan adalah beradaptasi dengan bahasa dan budaya setempat. Baik di Nusantara, Tiongkok, Jepang, termasuk Korea dan pada masa kini di berbagai wilayah Eropa dan Amerika. Salah seorang tokoh Buddhis dunia, seorang biksu senior, pernah mengungkapkan bahwa dharma ibarat air, sedangkan budaya adalah gelasnya. Semua orang bisa menikmati air kalau punya cangkir untuk menampung kemudian menikmati isinya. Bisa jadi Ekspo Buddhadharma Korea Selatan 2026 ini adalah sebuah cangkir untuk kaum muda mereguk dharma.

Pada akhirnya, Ekspo Buddhadharma Korea Selatan 2026 membuktikan bahwa tradisi dan inovasi bukanlah dua kutub yang saling meniadakan. Dengan keberanian untuk bereksperimen, agama Buddha di Korea Selatan menunjukkan bahwa spiritualitas bisa tetap relevan tanpa kehilangan jati dirinya. Dari panggung DJ hingga koreografi K-pop dan meditasi, pesan abadi tentang welas asih, kesadaran, dan kebebasan batin terus bergema.@esa

Baca juga: Jang Kyung Ho Taipan Dongkuk Steel Sang Modernis Buddhis Korea

BuddhaBot: Inovasi Buddhadharma di Era AI

0
Buddhadharma di era AI dihadirkan Teraverse perusahaan AI asal Jepang dalam bentuk BuddhaBot.
BuddhaBot adalah upaya menghadirkan Buddhadharma di era AI. BuddhaBot adalah karya Teraverse perusahaan AI dari Jepang dan sekarang sedang diujicobakan di Bhutan. (Ilustrasi: Anitya.Org)

BuddhaBot bukan sekadar eksperimen teknologi, tetapi upaya menerjemahkan ajaran Buddha ke dalam bahasa digital. Di Bhutan, ratusan biksu kini mulai menggunakan chatbot buatan Jepang yang berbasis Akal Imitasi (AI) untuk mencari bimbingan spiritual. Ini menandai bagaimana Agama Buddha, sebagai salah satu agama tertua dunia, terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Teknologi untuk Bimbingan Spiritual

Laporan Mainichi Shimbun yang ditulis oleh Takuro Iwahashi menggambarkan bagaimana chatbot bernama BuddhaBot digunakan oleh komunitas monastik di Thimphu. Sistem ini dirancang untuk menjawab pertanyaan kehidupan sehari-hari dengan merujuk pada ajaran Buddha, memungkinkan pengguna memperoleh nasihat kapan saja dan di mana saja.

Dalam salah satu percobaan, seorang pejabat monastik Bhutan mengajukan pertanyaan tentang cara mengatasi rasa iri. Dalam hitungan detik, BuddhaBot memberikan jawaban yang merujuk pada Dhammapada, menekankan pentingnya pemurnian batin dan praktik welas asih. Respons semacam ini dinilai jelas, sistematis, dan mudah dipahami.

Dari Jepang untuk Dunia Buddhadharma

BuddhaBot dikembangkan oleh Seiji Kumagai dari Kyoto University, bekerja sama dengan perusahaan rintisan AI Teraverse. Gagasan awalnya muncul dari kekhawatiran akan menurunnya keterlibatan umat dalam Agama Buddha di Jepang, bahkan diperkirakan sebagian kuil dapat menghilang dalam beberapa dekade ke depan.

Sejak mulai dikembangkan sekitar 2014, proyek ini bertujuan sederhana namun ambisius: memungkinkan orang “berdialog dengan Buddha” melalui teknologi. Versi awal yang diluncurkan pada 2021 masih terbatas, terutama karena jawaban yang terlalu singkat. Namun, pengembangan berlanjut hingga lahir BuddhaBot Plus, yang memanfaatkan teknologi generatif seperti ChatGPT untuk menghasilkan penjelasan yang lebih mendalam dan kontekstual.

Sejak diterapkan di Bhutan pada 2025, sekitar 450 biksu telah menggunakan sistem ini dalam tahap uji coba. Ketertarikan juga mulai datang dari komunitas Agama Buddha di Sri Lanka dan Thailand.

Antara Inovasi dan Tantangan

Pemanfaatan AI dalam Buddhadharma membuka peluang baru, terutama dalam memperluas akses terhadap ajaran. Bagi sebagian orang, chatbot ini menjadi jembatan untuk mendapatkan bimbingan tanpa harus berhadapan langsung dengan guru spiritual.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Salah satu isu utama adalah risiko halusinasi, ketika AI menghasilkan jawaban yang tidak sepenuhnya akurat. Untuk mengurangi risiko ini, pengembang memisahkan kutipan asli dari kitab suci dengan interpretasi yang dihasilkan oleh sistem. Meski demikian, pengguna tetap dituntut untuk memiliki kebijaksanaan dalam memahami jawaban yang diberikan.

Masa Depan BuddhaBot: Dari Chatbot ke Robot Humanoid

Proyek BuddhaBot terus berkembang. Pada 2026, Kumagai bahkan mengumumkan pengembangan robot humanoid yang dilengkapi BuddhaBot Plus. Integrasi antara robotika dan kecerdasan buatan ini membuka kemungkinan baru dalam cara penyebaran ajaran Buddhadharma—tidak hanya melalui teks, tetapi juga interaksi yang lebih personal.

Sebagaimana dikutip oleh Iwahashi dalam laporannya di Mainichi Jepang, Kumagai menyatakan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu “memaksimalkan potensi Buddhadharma”.

Agama Buddha di Era Akal Imitasi

Fenomena ini menunjukkan bahwa Agama Buddha tidak statis. Dari tradisi lisan, manuskrip, hingga kini ke platform digital, ajaran terus mengalami transformasi mengikuti konteks zaman. BuddhaBot menjadi contoh bagaimana teknologi tidak selalu bertentangan dengan agama, tetapi justru dapat menjadi medium baru untuk memperluas jangkauan dan pemahaman.

Di era AI, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan memengaruhi agama, melainkan bagaimana agama—termasuk Buddhadharma—dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kedalaman maknanya. Atau sejauh mana pemanfaatan AI yang etis, misalnya pada kasus Bhiksu Yang Mun. Bhiksu yang demikian tampak nyata, memiliki puluhan ribu pengikut bahkan menerbitkan buku eletronik, dan membuat program pelatihan.

Kelak sesuai perkembangan, AI akan semakin fasih dan detail dalam menjelaskan Nagarjuna dan Madhyamaka. Meskipun itu bisa jadi paradok, karena secanggih apapun AI hanya akan menghasilkan kata-kata, gambar, hingga video. Sesuatu yang menurut Nagarjuna bukanlah realitas itu sendiri. Kita mungkin tersesat oleh kata-kata, terdikotomi oleh kata-kata, merasa tercerahkan oleh kata-kata. Tapi pencerahan sesungguhnya ada di luar kata-kata, ia dijalani secara nyata. Bhiksu Thich Nhat Hanh dalam sebuah wawancaranya dengan media menyatakan bahwa, berjalan di atas air bagi banyak orang adalah mukjizat. Tapi bagi beliau berjalan di atas bumi dengan sadar penuh adalah mukjizat sesungguhnya.@esa

Kaisar Ashoka Sebarkan Buddha, Cucunya Sebarkan Jain

0
Perdana Menteri India Narendra Modi di Museum Samrat Samprati pada suatu kesempatan. Jika Agama Buddha disebarkan Kaisar Ashoka. Samrat, cucunya adalah penyebar Agama Jain.
Jasar besar Kaisar Ashoka adalah melakukan penyebaran Agama Buddha keluar dari India. Ternyata cucunya Samrat Samprati juga menyokong penyebaran Agama Jain. (Foto: Indian Express/ANI)

Sejarah kerajaan Maurya di India kuno tidak hanya berbicara tentang kekuasaan dan administrasi, tetapi juga tentang warisan spiritual yang mengubah wajah Asia. Jika Kaisar Ashoka dikenal dunia karena perannya menyebarkan agama Buddha, maka cucunya, Samrat Samprati, memainkan peran serupa bagi ajaran Jain.

Kisah dua kaisar ini kembali mencuri perhatian setelah Perdana Menteri Narendra Modi sebagaimana diwartakan Indian Express, meresmikan Museum Samrat Samprati di Koba, Gandhinagar, pada hari Mahavir Jayanti, 31 Maret 2026. Museum yang didedikasikan untuk sejarah Jain dan kehidupan Samprati ini menjadi pengingat bahwa warisan Maurya tidak berhenti pada Agama Buddha saja.

Kontribusi Besar Kaisar Ashoka: Penyebaran Agama Buddha

Kaisar Ashoka, yang memerintah sekitar 269–232 SM, memang meninggalkan jejak yang sulit tertandingi. Setelah perang Kalinga yang berdarah, ia beralih pada ajaran Buddha dan membangun kerangka moral berbasis welas asih, non-kekerasan, dan etika pemerintahan. Menurut sejarawan John E. Cort, Kaisar Ashoka menciptakan model “kerajaan etis” yang hingga hari ini masih hidup dalam imajinasi politik dan keagamaan di Asia.

Ashoka memang memiliki kontribusi terbesar dalam penyebaran Agama Buddha melampaui batas India utara. Bahkan tradisi menandai tempat-tempat suci Agama Buddha dengan patung singa tampaknya dimulai oleh Kaisar Ashoka. Ia menempatkan patung singa empat arah dengan roda dharma di atasnya, pada pilar-pilar tinggi. Inilah yang disebut Pilar Ashoka. Tradisi menempatkan patung singa sebagai penanda tempat suci Buddhis ini, tampak konsisten di berbagai peradaban dunia. Umat Buddha Tionghoa misalnya, selalu menempatkan sepasang singa di depan bangunan kelentengnya. Singa adalah bagian dari ikonografi kelenteng yang menyampaikan pesan dharma leluhur Tionghoa kepada penerusnya di perantauan.

Namun, di balik bayang-bayang kakeknya yang termasyhur, Samprati menulis kisahnya sendiri. Sebagai penganut Jain yang taat, ia menggunakan pengaruh kekaisaran untuk mendukung penyebaran ajaran Mahavira. Ia dikenal membangun ribuan kuil Jain, mendukung para pertapa, dan memfasilitasi misi-misi dakwah ke berbagai penjuru anak benua India—bahkan hingga ke wilayah selatan yang saat itu belum sepenuhnya terjangkau oleh ajaran-ajaran utara.

Yang menarik, Samprati tidak memaksakan keyakinannya melalui kekuasaan. Sebagaimana kakeknya yang memilih jalan persuasi ketimbang paksaan dalam menyebarkan Dharma. Samprati juga mengandalkan pendekatan kultural: membangun infrastruktur keagamaan, mendukung literatur Jain, dan menciptakan ruang bagi pertukaran gagasan. Hasilnya, ajaran Jaini yang sebelumnya lebih terkonsentrasi di wilayah tertentu, mulai menjangkau komunitas yang lebih luas.

Peresmian museum di Gandhinagar ini bukan sekadar acara seremonial. Ia menjadi simbol pengakuan negara terhadap kontribusi Samprati—tokoh yang selama ini kerap terlupakan dalam narasi besar sejarah Maurya.

Baca juga: Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna