Page 2

Jika Hidupku Tinggal Sehari, Kita Masih Sibuk untuk Apa?

0
Jika Hidupku Tinggal Sehari adalah sebuah buku karya Dagpo Rinpoche.

Membaca buku Dagpo Rinpoche berjudul Jika Hidupku Tinggal Sehari (terjemahan dari Appreciating Life, Preparing for Death). Seharusnya tidak terasa nyaman, karena kecenderungan kita menghindari topik kematian. Buku ini bukan sekadar refleksi spiritual, melainkan sebuah gangguan—gangguan terhadap cara kita menjalani hidup yang terlalu yakin bahwa waktu selalu tersedia. Jika hidupku tinggal sehari, apa yang benar-benar penting? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, namun di sanalah kegelisahan itu bermula.

Ketika Kematian Terasa Jauh dari Diri

Selama ini, kita hidup seolah-olah kematian hanya terjadi pada orang lain. Kita menyusun rencana panjang, menunda hal-hal penting, dan merasa selalu ada “nanti” untuk memperbaiki semuanya. Padahal, satu-satunya hal yang tidak pernah bisa kita jadwalkan justru adalah akhir dari hidup itu sendiri. Dalam sebuah serial drama Korea Phantom Lawyer, kalimat semacam ini berulang: sering-seringlah mengucapkan terima kasih, minta maaf, dan mengatakan “aku sayang kamu”, agar tidak ada yang tertinggal ketika semuanya berakhir. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang sama: bagaimana jika waktu kita tidak sebanyak yang kita kira?

Pertanyaan “jika hidupku tinggal sehari” sebenarnya bukan tentang kematian, melainkan tentang cara hidup. Ia membongkar ilusi bahwa kita memiliki kendali penuh atas waktu, sekaligus menyingkap kenyataan bahwa banyak hal penting justru kita abaikan. Kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang jauh di depan, hingga lupa merawat yang ada di dekat. Kita menunda perhatian, menunda kehadiran, bahkan menunda menjadi manusia yang utuh.

Jika Hidupku Tinggal Sehari:                                Menjalani Hidup Bermakna dengan Sadar Penuh

Namun, menyadari bahwa hidup bisa berakhir kapan saja bukanlah ajakan untuk menjadi pasif atau berhenti mengejar kehidupan yang lebih baik. Ia justru sebaliknya—sebuah dorongan untuk hidup dengan lebih sadar, lebih jernih, dan lebih bertanggung jawab. Dalam kerangka Buddhadharma, kesadaran akan kematian tidak meniadakan usaha, melainkan memurnikan niat di baliknya. Karier, kekayaan, dan pencapaian tidak ditolak, tetapi tidak lagi dijadikan sumber utama kebahagiaan. Ia menjadi sarana—bukan tujuan akhir.

Seseorang tetap bekerja, tetap berkarya, tetap membangun masa depan. Namun ia melakukannya tanpa penundaan, tanpa kesombongan, dan tanpa keyakinan palsu bahwa waktu selalu tersedia. Justru karena hidup bisa tinggal sehari, maka setiap tindakan menjadi lebih bermakna, lebih utuh, dan lebih manusiawi. Tidak ada lagi alasan untuk menunda kebaikan, tidak ada lagi ruang untuk mengabaikan hal-hal yang esensial.

Dalam pandangan Nagarjuna, realitas tidak berdiri secara mutlak, tetapi juga tidak nihil. Hidup ini tidak kekal, tetapi juga tidak sia-sia. Karena ia kosong dari keberadaan yang tetap, justru di sanalah terbuka kemungkinan untuk bertindak dengan bijaksana. Kesadaran akan ketidakkekalan justru tidak membawa kita pada keputusasaan, melainkan pada cara hidup yang lebih tepat: tidak melekat, tetapi tetap bertindak dengan sadar. Di sinilah keseimbangan itu menemukan bentuknya—antara kesadaran akan keterbatasan dan keberanian untuk tetap menjalani kehidupan sepenuhnya. Dengan kesadaran penuh, damai, bahagia dan sejahtera karena mampu melihat semua fenomena apa adanya.

Realitas ada kosong dari inti yang kekal dan mandiri, Nagarjuna memperdalam konsep Pratitya Samupada yang diajarkan Buddha. Tidak hanya sebatas konteks mikro di dalam diri, tetapi secara makro. Bahwa segala sesuatu tidak memiliki esensi yang tetap dan mandiri, karena semuanya “ada” oleh berbagai sebab-sebab yang mendahului. Secangkir teh “ada” karena terdapat tanah untuk membuat cangkir, pengrajin tembikar, petani teh, bibit teh, sinar matahari, unsur hara dalam tanah, dan seterusnya hingga tak berhingga. Inilah yang kerap disalahpahami masyarakat ketika mendengar kata kosong adalah isi dan isi adalah kosong. Pada konteks jika hidupku tinggal sehari, sebenarnya dari perspektif filsafat Nagarjuna yang terpenting bukan tinggal sehari atau seribu hari. Tapi bagaimana kita bisa melihat realitas apa adanya, tidak terjebak oleh kata-kata maupun konstruksi pikiran dan kesadaran kita sendiri.

Hadir Disini dan Saat Ini: Jika Hidupku Tinggal Sehari

Maka, jika hidupku benar-benar tinggal sehari, mungkin yang berubah bukanlah daftar hal yang ingin kita miliki, melainkan cara kita hadir dalam setiap momen. Kita akan lebih jujur dalam mencintai, lebih tulus dalam meminta maaf, dan lebih berani mengatakan hal-hal yang selama ini kita tunda. Kita tidak lagi hidup dalam bayang-bayang “nanti”, tetapi dalam kehadiran yang nyata—di sini dan sekarang.

Pada akhirnya, pertanyaan jika hidupku tinggal sehari apa yang akan dilakukan? tidak menuntut jawaban yang sempurna. Ia hanya meminta kejujuran: apakah kita sudah hidup sebagaimana mestinya? Karena bisa jadi, tanpa kita sadari, kita memang sedang menjalani hari yang tidak akan pernah terulang lagi. Dan justru di situlah hidup menemukan kesungguhannya.

Borobudur Bukan Tri Dhatu: Meluruskan Salah Kaprah Laten

0
Kajian para pakar menunjukkan Borobudur bukan tri dhatu sebagaimana dinarasikan selama ini.

Borobudur hampir selalu dijelaskan sebagai tiga tingkat alam: kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Narasi ini begitu mapan, diulang dalam buku pelajaran, panduan wisata, hingga publikasi resmi, sehingga tampak seperti kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Padahal berbagai kajian pakar menunjukkan bahwa Borobudur bukan Tri Dhatu atau simbol tiga alam.

Sejumlah sarjana penting telah menyanggah pembacaan Tri Dhatu ini, antara lain Dumarcay (1978), de Casparis (1981), Gomez & Woodward (1981), Lancaster (1981), hingga Fontein (2012), yang menunjukkan bahwa pembagian tersebut tidak memiliki dasar tekstual maupun analitis yang memadai. Dalam perkembangan terkini, kritik ini juga diperkuat oleh kajian Salim Lee (2017; 2018) yang membaca Borobudur sebagai struktur kesadaran, bukan kosmologi. Terakhir juga melalui kajian So Tju Sinta Lee (2024) yang dengan tegas menyatakan Borobudur tidak melambangkan kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Demikian pula melalui kajiannya di Jurnal SPAFA, Lee, Munandar & Kurnia (2025) menjelaskan tinjauan ulang terhadap interpretasi lama ini.

Artinya, apa yang selama ini dianggap sebagai penjelasan utama berpotensi adalah penyederhanaan yang keliru. Padahal kajian para pakar tersebut tegas menyatakan Borobudur bukan tri dhatu.

Kesalahan yang Dilestarikan

Pembagian Borobudur menjadi tiga dhatu pertama kali dipopulerkan oleh Stutterheim pada paruh awal abad ke-20 (Stutterheim 1956). Ia mengusulkan bahwa kaki candi melambangkan kamadhatu, galeri I–IV melambangkan rupadhatu, dan teras bundar hingga stupa puncak melambangkan arupadhatu.

Model ini kemudian diadopsi luas. Namun yang sering luput disadari, tafsir tersebut sejak awal tidak pernah benar-benar diterima tanpa kritik. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sejumlah pakar mengkritik pendapat ini. Akan tetapi, berbagai lembaga resmi hingga media tetap meneruskannya hingga sekarang.

Dengan kata lain, tafsir Tri Dhatu bukanlah konsensus akademik, melainkan salah satu interpretasi yang terus direproduksi. Sebaliknya pendapat ilmiah yang menyatakan Borobudur bukan tri dhatu seolah tidak mendapat tempat.

Sudah Jelas di Relief Paling Bawah: Borobudur Bukan Tri Dhatu

Salah satu temuan paling penting adalah bahwa relief Karmawibhangga di bagian dasar Borobudur tidak hanya menggambarkan kamadhatu, tetapi juga mencakup kelahiran di rupadhatu dan arupadhatu (Lee 2024). Artinya, tiga dhatu tidak dipisahkan secara vertikal, tetapi sudah hadir dalam satu kesatuan narasi sejak awal.

Lebih jauh lagi, panel terakhir Karmawibhangga justru menggambarkan pencapaian nirvana, yang melampaui tiga dhatu itu sendiri (Lee, Munandar & Kurnia 2025).

Temuan ini menjadi titik krusial. Jika dasar candi sudah melampaui tiga dhatu, maka sulit mempertahankan bahwa keseluruhan struktur candi adalah representasi bertingkat dari tiga alam tersebut. Maka jelas Borobudur bukan tri dhatu.

Rangkaian Relief Borobudur: Bukan tentang Alam Tetapi Jalan

Analisis terhadap relief utama Borobudur yakni Jataka, Lalitavistara, dan Gandavyuha. Menunjukkan bahwa yang digambarkan bukan karakteristik alam rupadhatu, melainkan praktik bodhisatwa menuju penggugahan tertinggi (Lee, Munandar & Kurnia 2025).

Bahkan dalam Gandavyuha-Bhadracari, tujuan akhirnya bukan pencapaian arupadhatu, melainkan pengalaman dharmadhatu—realitas yang melampaui tiga dhatu (Lee, Munandar & Kurnia 2025). Dengan demikian, struktur Borobudur lebih tepat dipahami sebagai proses spiritual daripada peta kosmologi.

Borobudur sebagai peta potensi manusia

Dalam kerangka ini, Borobudur dapat dipahami sebagai peta perkembangan kesadaran manusia. Sebuah struktur yang menggambarkan transformasi batin dan dapat menjadi petunjuk bagi pembelajarnya.

Tiga bagiannya tak lain menunjukkan tiga tahap yaitu:

1. Realitas manusia dalam hukum sebab-akibat
Bagian bawah memperlihatkan dunia dalam jalinan karma—kondisi kesadaran yang masih reaktif dan terikat. Keseluruhan realitas yang masih terikat hukum karma.

2. Jalan transformasi melalui latihan bodhisatwa
Bagian tengah menggambarkan praktik paramita sebagai proses pengembangan potensi manusia. Mastermind Borobudur memilih dengan sangat cakap berbagai sutta atau sutra untuk dirangkai secara sistematis untuk tujuan ini. Kata-kata dalam sutra tersebut ditransformasi menjadi rangkaian relief. Bayangkan seorang guru mengajar para siswanya mengenai isi suatu sutra dengan memanfaatkan relief sebagai “jembatan keledai”.

3. Penyingkapan realitas sejati hingga Dharmakaya
Bagian atas menunjukkan pergeseran dari narasi menuju pengalaman langsung, dengan puncaknya pada Dharmakaya—realitas yang melampaui seluruh kategori. Bentuk lubang pada stupa yang berbeda pun menjadi petunjuk tentang apa yang ingin disampaikan. Dengan demikian, Borobudur bukan tangga menuju tiga alam, melainkan perjalanan kesadaran manusia.

Jadi Borobudur bukan tri dhatu sebagaimana narasi populer yang terus diulang-ulang, padahal sudah ada banyak pendapat ahli yang menjelaskan bahwa interpretasi awal itu tidak berdasar.

Arupadhatu Bukan Tujuan Akhir

Dalam Buddhadharma, arupadhatu bukanlah tujuan akhir. Bahkan dalam kisah hidup Buddha, pencapaian meditasi tanpa bentuk ditinggalkan karena tidak membawa pada pembebasan (Lee 2024). Namun dalam tafsir lama, arupadhatu justru ditempatkan sebagai puncak Borobudur. Di sinilah letak kesalahan mendasarnya.

Mengapa penting membaca ulang sekarang?

Selama hampir satu abad, tafsir Tri Dhatu diulang tanpa banyak ditinjau ulang. Ia menjadi pengetahuan umum bukan karena pasti benar, tetapi karena terus direproduksi. Padahal, kritik terhadap tafsir ini sudah lama ada—dan kini semakin diperkuat oleh kajian-kajian terbaru.

Sudah saatnya pemangku kepentingan meluruskan hal ini, dan media pun punya tanggung jawab untuk meluruskan salah kaprah laten ini. Selain isu ini sebenarnya juga masih ada polemik Chattra Borobudur, apakah candi ini berchattra atau tidak.

*Peneliti Institut Nagarjuna

Referensi 

Fontein, J 2012, The Sculpture of Indonesia, National Gallery of Art, Washington DC.

Gomez, L & Woodward, HW.Jr (eds.) 1981, Barabudur: History and Significance as a Buddhist Monument, Asian Humanities Press, Berkeley, California.

Krom, N.J 1927, Barabudur: Archaeological Description, Martinus Nijhoff, The Hague.

Lee, STS 2024, Candi Borobudur Tidak Melambangkan Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, DOI: https//doi.org/10.12140/RG.2.2.23354.30402.

Lee, STS, Munandar, AA & Kurnia, L 2025, ‘Re-examining the Division of Candi Borobudur into Kamadhatu, Rupadhatu, and Arupadhatu’, SPAFA Journal, Vol. 9, pp. 1-17. DOI: https://doi.org/10.26721/spafajournal.bo2frueq93.

Praktik Fangsheng: Satu Nafas Welas Asih dan Kebijaksanaan

0
Praktik Fangsheng membutuhkan keseimbangan welas asih dan kebijaksanaan.
Umat Buddha kerap melakukan praktik fangsheng atau melepas makhluk hidup. Hal ini butuh keseimbangan antara welas asih dan kebijaksanaan agar perbuatan baik benar-benar berdampak baik bagi lingkungan.

Di banyak kelenteng dan vihara, kita kerap melihat praktik fangsheng, yaitu melepas makhluk hidup seperti ikan, burung, atau kura-kura ke alam bebas. Bagi banyak umat, tindakan ini adalah wujud nyata dari welas asih: menyelamatkan kehidupan, menanam kebajikan, dan memperpanjang umur makhluk lain.

Namun di era krisis lingkungan saat ini, muncul pertanyaan penting:
apakah semua pelepasan makhluk hidup benar-benar membawa kebaikan?

Praktik Fangsheng: Niat Baik yang Perlu Ditinjau Ulang

Fangsheng berakar kuat dalam tradisi Buddhis Tiongkok. Praktik ini didorong oleh semangat karuna—belas kasih terhadap semua makhluk hidup. Namun dalam perspektif pemikiran Nagarjuna, kita diingatkan bahwa segala tindakan tidak berdiri sendiri. Dalam filsafat Madhyamaka, setiap fenomena muncul dalam jaringan sebab-akibat atau pratityasamutpada (kesalingtergantungan).

Nagarjuna merumuskan prinsip ini secara terkenal:

“Apa pun yang muncul karena sebab dan kondisi, itulah yang kami sebut sebagai sunyata; dan itulah pula penetapan yang bergantung.”
(Madhyamakakarika, 24:18)

Artinya, bahkan tindakan yang diniatkan baik pun tetap memiliki konsekuensi yang perlu dipahami secara menyeluruh. Contoh sederhana bisa kita temui di sekitar kita. Ikan sapu-sapu (pleco) yang dilepas ke sungai dapat merusak dasar perairan. Bahkan saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara khusus memberantasnya. Kura-kura red-eared slider menjadi spesies invasif di banyak negara. Ikan lele yang paling banyak dilepas saat fangsheng misalnya, ternyata sangat invansif terhadap ikan lokal dan mengganggu ekosistem.

Fenomena ini menunjukkan bahwa satu tindakan tidak bisa dilihat secara terpisah. Seperti yang ditegaskan oleh Nagarjuna, realitas selalu bersifat relasional. Tiada sesuatu pun di dunia ini yang berdiri sendiri, semuanya ada karena kesalingtergantungan.

Dengan kata lain, tindakan melepas makhluk hidup tidak pernah berdiri sendiri—ia selalu berdampak pada sistem kehidupan yang lebih luas.

Welas Asih Harus Diimbangi Kebijaksanaan untuk Praktik Fangsheng

Dalam ajaran Buddha, welas asih (karuna) harus berjalan bersama kebijaksanaan (prajna). Di sinilah pemikiran Nagarjuna menjadi relevan. Ia mengkritik cara pandang yang melihat sesuatu secara tunggal dan terpisah.

Jika fangsheng dipahami hanya sebagai “melepas = baik”, tanpa melihat dampaknya, maka kita jatuh pada pandangan yang tidak utuh. Jika satu tindakan menyelamatkan satu makhluk tetapi menciptakan penderitaan bagi banyak makhluk lain, maka praktik tersebut perlu ditinjau kembali dengan kebijaksanaan. Maka praktik yang dianggap baik ini pada saat yang sama juga adalah praktik yang buruk jika tanpa kebijaksanaan.

Menuju Fangsheng yang Lebih Bijak

Alih-alih meninggalkan praktik fangsheng, pendekatan yang lebih relevan adalah menyelaraskannya dengan pemahaman ekologis. Dalam kerangka Madhyamaka, kita diajak melihat bahwa manusia, hewan, dan lingkungan adalah satu jaringan yang saling bergantung.

Beberapa prinsip sederhana yang bisa dipertimbangkan ketika melakukan fangsheng:

  • Tidak melepas spesies non-lokal yang invasif.
  • Tidak terjebak dalam lingkaran pemburu-penjual tangkapan-fangsheng-pemburu.
  • Memastikan kesesuaian habitat binatang yang dilepasliarkan.
  • Mengutamakan pelestarian ekosistem.

Menyelamatkan dengan Cara Baru

Di tengah tantangan zaman, kita mungkin perlu memperluas makna “menyelamatkan kehidupan”. Dalam kerangka berpikir kesalingtergantungan, menyelamatkan tidak bisa dipahami secara parsial. Menyelamatkan satu makhluk dengan merusak sistem kehidupan yang lebih besar justru bertentangan dengan semangat welas asih itu sendiri.

Bhiksu Shi Benkong di Amerika Serikat misalnya melakukan transformasi ekologi terhadap praktik fangsheng. Shi Benkong mengkritik praktik lama karena justru merusak lingkungan dan menyebabkan kematian hewan. Melalui pendekatan baru yang disebut “compassionate release”, ritual ini dialihkan menjadi kerja sama dengan lembaga rehabilitasi satwa agar pelepasan hewan dilakukan secara bertanggung jawab, legal, dan selaras dengan prinsip welas asih yang lebih otentik. Dengan demikian, praktik keagamaan tidak lagi sekadar simbolik atau bahkan kontraproduktif, tetapi menjadi bentuk etika lingkungan yang konkret dan relevan dengan tantangan konservasi modern.

Praktik Fangsheng tetaplah perbuatan baik yang indah dan bermakna. Simbol kepedulian manusia terhadap kehidupan, welas asih kepada semua makhluk sesuai ajaran Buddha. Namun seperti semua praktik spiritual, ia perlu dilakukan dengan penuh kesadaran berlandaskan kebijaksanaan. Karena perlu disadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang melampaui niat awalnya. Karena itu, di era krisis ekologi global ini, pastikan bahwa praktik welas asih selalu dibarengi kebijaksanaan. Meminjam istilah Buddha mengenai keindahan dharma sebagaimana disebut dalam Tri Pitaka. Keseimbangan welas asih dan kebijaksanaan dalam praktik fangsheng ini, akan membuatnya “indah pada awal, pertengahan, hingga akhirnya.” 

Master Xu Yun dan Buddhadharma di Tiongkok Modern

0
Master Xu Yun adalah salah seorang tokoh Buddhis di masa Tiongkok awal.
Master Xu Yun dan Buddhadharma di Tiongkok Modern (Foto: Amitabha Buddha.Wordpress.com)

Di tengah perubahan besar Tiongkok—dari runtuhnya kekaisaran hingga lahirnya negara modern—Buddhadharma turut bergerak dinamis. Justru dalam masa yang penuh gejolak itu, muncul seorang tokoh yang menjaga dharma di era yang baru. Master Xu Yun (1840–1959), seorang biksu Chan yang dikenal dengan nama “Awan Kosong”.

Nama tersebut bukan sekadar julukan puitis, melainkan gambaran dari kehidupan dan ajarannya. Menurut Shakya, Shakya & Cheung (1996) dalam Empty Cloud: The Teachings of Xu Yun, A Remembrance of the Great Chinese Zen Master. Istilah “kosong” dalam tradisi Chan merujuk pada keadaan bebas dari ego. Yaitu ketika seseorang tidak lagi menilai dunia berdasarkan “aku” dan “milikku”. Dalam pengertian ini, Master Xu Yun tidak hanya mengajarkan konsep tersebut, tetapi menjalaninya secara konkret.

Sejak awal, jalan hidupnya telah menunjukkan arah yang berbeda. Lahir pada masa Dinasti Qing dalam keluarga yang berharap ia menempuh karier duniawi. Xu Yun justru memilih meninggalkan kehidupan tersebut sebelum pernikahan yang telah direncanakan terjadi. Dalam biografi yang dihimpun oleh para muridnya. Diceritakan bahwa ia memilih kehidupan asketik yang keras, bahkan harus bertahan hidup dalam kondisi yang sangat terbatas. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pencarian spiritualnya (Wyles 2016).

Master Xu Yun: Dari Dinasti Qing hingga Era Komunis

Perjalanan hidupnya yang panjang membuatnya menjadi saksi tiga zaman yang berbeda yaitu kekaisaran, republik, dan negara komunis. Namun, di tengah perubahan sosial dan politik yang begitu drastis, ia tetap berpegang pada satu hal yang tidak berubah. Yakni keberlangsungan Buddhadharma. Dalam dirinya, tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi dijaga dan dihidupkan kembali.

Pencerahan dalam tradisi Chan bukanlah sesuatu yang datang secara instan, melainkan hasil dari latihan panjang yang penuh ujian. Sebagaimana dicatat dalam sumber yang sama, Xu Yun mengalami berbagai penderitaan fisik dan mental sebelum mencapai kondisi batin yang jernih dan bebas dari keraguan . Pengalaman ini menjadi fondasi otoritas spiritualnya sebagai guru Chan.

Namun, kontribusinya tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia hadir pada masa ketika banyak vihara mengalami kemunduran dan disiplin monastik melemah. Dalam kesaksian muridnya, digambarkan bahwa ketika Xu Yun tiba di Vihara Nan Hua, kondisi kehidupan monastik sangat tidak tertib—para bhiksu saling bertengkar dan bangunan vihara mengalami kerusakan (Shakya, Shakya & Cheung 1996). Melalui kepemimpinannya, disiplin ditegakkan kembali dan vihara dipulihkan, menandai kebangkitan kembali tradisi Chan.

Master Xu Yun, Zhou Enlai dan Mao

Pandangan Xu Yun juga tidak terbatas pada Tiongkok. Ia memahami bahwa Buddhadharma harus melampaui batas geografis jika ingin bertahan. Dalam catatan biografisnya disebutkan bahwa ia mendorong penerjemahan teks-teks Buddhis ke dalam bahasa Inggris, sehingga ajaran Chan dapat diakses oleh dunia internasional (Wyles 2016). Langkah ini menjadi penting dalam konteks globalisasi Buddhisme pada abad ke-20.

Menariknya, pengaruh Xu Yun juga melampaui ranah keagamaan. Dalam sebuah kajian akademik tentang agama di Tiongkok modern, disebutkan bahwa Zhou Enlai memiliki kedekatan dengan tradisi Buddhis, sementara Mao Zedong menunjukkan ketertarikan terhadap Buddhadharma sebagai sistem pemikiran tentang pembebasan manusia (Wyles 2016). Dalam konteks ini, Buddhadharma tidak hanya diposisikan sebagai agama, tetapi juga sebagai sumber refleksi filosofis dalam masyarakat modern.

Warisan Sang Awan Kosong

Meski demikian, masa Tiongkok modern bukanlah periode yang sepenuhnya ramah bagi institusi keagamaan. Dalam catatan murid Master Xu Yun, diceritakan bahwa pada tahun 1951 ia mengalami kekerasan fisik yang berat akibat tekanan politik, bahkan hingga dipukuli dan dibiarkan tanpa makanan (Shakya, Shakya & Cheung 1996). Namun, yang menjadi penting bukan hanya peristiwa tersebut, melainkan bagaimana ia meresponsnya. Ia tetap bertahan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.

Sebagaimana dituliskan oleh Jy Din Shakya, Master Xu Yun adalah sosok yang “tidak lagi memiliki diri yang dapat digenggam”, sebuah metafora untuk keadaan batin yang sepenuhnya bebas dari keterikatan (Shakya, Shakya & Cheung 1996). Dalam arti ini, “Awan Kosong” bukan sekadar nama, melainkan representasi dari pencapaian spiritualnya.

Warisan Xu Yun terus hidup hingga hari ini, tidak hanya melalui bangunan fisik yang ia pulihkan, tetapi melalui ajaran dan murid-murid yang melanjutkan jalannya. Ia menunjukkan bahwa dalam dunia yang terus berubah, nilai-nilai spiritual tidak harus hilang. Sebaliknya, ia dapat bertahan, beradaptasi, dan bahkan menemukan bentuk baru.

Kisahnya bukan sekadar biografi seorang bhiksu, melainkan refleksi tentang daya tahan sebuah tradisi. Dalam sosok Master Xu Yun, kita melihat bagaimana Buddhadharma tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi di tengah perubahan zaman.

Referensi

Shakya, JD, Shakya CY & Cheung, UR 1996, Empty Cloud: The Teachings of Xu Yun, A Remembrance of the Great Chinese Zen Master, Nan Hua Chan Buddhist Society, Tiongkok.

Wyles, AC 2016, ‘Master Xu Yun, Mao Zedong, and Zhou Enlai’, (terj.), Buddhist Socialism,  dilihat pada 09 April 2026, (https://buddhistsocialism.weebly.com/master-xu-yun-mao-zedong-and-zhou-enlai.html).

Baca juga: Shi Heng Yi: Ceramah Dharma di TEDx yang Mengguncang Dunia Barat

Buddhadharma Korea Utara: Agama di Bawah Kontrol Negara (1)

0
Posisi agama di bawah kontrol negara dibahas Levi dan Husarski untuk kasus Buddhadharma Korea Utara.
Artikel Levi dan Husarski menjelaskan mengenai sejarah Buddhadharma Korea Utara. Dimulai abad keempat hingga era pecahnya Korea menjadi Utara dan Selatan. (Ilustrasi: ChatGPT)

Di Korea Utara, agama sering dianggap tidak ada. Negara ini dikenal sebagai salah satu yang paling ketat mengontrol kehidupan warganya, termasuk urusan keyakinan. Namun, benarkah Buddhadharma Korea Utara benar-benar hilang? Atau justru ia tetap hidup—meski dalam bentuk yang berbeda?

Pertanyaan ini menjadi menarik ketika kita melihat bahwa jauh sebelum berdirinya negara modern disana. Buddhadharma telah berakar sangat dalam di Semenanjung Korea. Ia bukan sekadar agama, tetapi juga bagian dari budaya, politik, dan kehidupan sosial masyarakat selama berabad-abad. Buddhadharma Korea Utara adalah ajaran Buddha yang dipraktikkan di Korea Utara, yang dalam segi kultur memiliki perbedaan dengan saudaranya di Selatan.

Artikel ini adalah bagian pertama dari lima tulisan bersambung Buddhadharma Korea Utara, yang merupakan hasil bacaan terhadap artikel Nicolas Levi dan Roman Husarski. Buddha Under Control. Buddhism’s Legacy in North Korea, yang diterbitkan dalam Jurnal Acta Asiatica Varsoviensia pada 2021 silam.

Jejak Panjang Buddhadharma di Semenanjung Korea

Menurut kajian Nicolas Levi dan Roman Husarski, Buddhadharma mulai masuk ke Semenanjung Korea sekitar tahun 372. Pada abad keempat tersebut, Korea masih terbagi dalam tiga kerajaan besar: Goguryeo, Baekje, dan Silla.

Seiring waktu, Buddhadharma berkembang pesat, terutama pada masa Dinasti Goryeo (918–1392). Ia tidak hanya menjadi ajaran spiritual, tetapi juga memainkan peran penting dalam kehidupan politik dan budaya. Vihara, kitab suci, hingga praktik keagamaan menjadi bagian dari struktur masyarakat.

Namun, perjalanan Buddhadharma tidak selalu mulus. Memasuki abad ke-14, pengaruh Neo-Konfusianisme (pengembangan Konfusianisme menjadi ideologi politik) mulai menguat. Pada masa Dinasti Joseon (1392–1897), kebijakan anti-Buddha diberlakukan secara sistematis. Para biksu dibatasi, vihara kehilangan kekuasaan, dan Buddhadharma perlahan terdorong ke pinggiran kehidupan sosial.

Meski demikian, Buddhadharma tidak pernah benar-benar hilang. Ia bertahan di wilayah-wilayah terpencil, terutama di pegunungan, dan tetap hidup dalam praktik masyarakat sehari-hari, khususnya di kalangan rakyat biasa.

Dari Tradisi ke Identitas Budaya

Menariknya, menjelang abad ke-20, Buddhadharma justru mulai bertransformasi. Para biksu mulai aktif kembali ke kota, mengadopsi metode modern seperti pendidikan publik, organisasi keagamaan, hingga penerbitan kitab suci. Upaya ini dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan menanggapi perkembangan agama lain, seperti Kekristenan.

Pada masa kolonial Jepang (1910–1945), Buddhadharma bahkan mengalami fase pertumbuhan baru. Meski tidak lepas dari intervensi politik, periode ini membuat Buddhadharma kembali memiliki ruang dalam kehidupan publik. Jumlah penganutnya meningkat, dan berbagai reformasi dilakukan dalam praktik keagamaan .

Semua ini menunjukkan satu hal penting: Buddhadharma bukanlah elemen asing di Korea, melainkan bagian dari identitas sejarah dan budaya yang sangat kuat.

Mengapa Buddhadharma Korea Utara Sulit Dihapus?

Ketika Korea terpecah menjadi Utara dan Selatan setelah Perang Dunia II, kedua wilayah ini mengambil jalan yang sangat berbeda, termasuk dalam hal agama. Korea Utara mengadopsi ideologi negara yang cenderung anti-agama, sementara Korea Selatan berkembang sebagai masyarakat yang lebih plural secara keagamaan.

Namun, berbeda dengan agama lain yang relatif baru, Buddhadharma memiliki akar yang jauh lebih dalam di wilayah utara. Ia telah menjadi bagian dari warisan budaya selama berabad-abad. Inilah yang membuatnya Buddhadharma Korea Utara sulit untuk benar-benar dihapus.

Sebagaimana dicatat dalam penelitian tersebut, meskipun mengalami tekanan berat, Buddhadharma tetap memiliki “kehadiran” di Korea Utara, baik dalam bentuk budaya maupun simbolik . Ia mungkin tidak lagi tampil sebagai praktik keagamaan yang bebas, tetapi jejaknya tetap ada dalam berbagai aspek kehidupan.

Awal dari Cerita yang Lebih Kompleks

Bagian pertama ini menunjukkan bahwa untuk memahami posisi Buddhadharma Korea Utara hari ini, kita tidak bisa hanya melihat kondisi politik modern. Kita perlu menelusuri akar sejarahnya yang panjang dan kompleks.

Buddhadharma Korea Utara bukan sekadar soal agama yang ditekan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tradisi kuno bertahan, beradaptasi, dan—dalam beberapa hal—diubah oleh kekuasaan. Agama Buddha ternyata masih dipraktikkan di vihara-vihara yang ada di negara yang dipimpin Kim Jong Un tersebut.

Pada bagian berikutnya, kita akan melihat bagaimana perubahan drastis terjadi setelah Perang Korea, ketika negara mulai secara sistematis menekan dan mengontrol kehidupan keagamaan.@esa

Baca juga: Menghidangkan Dharma Lewat Masakan: Inspirasi dari Bhiksuni Jeong Kwan

Warta

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna