Page 9

Lobha Dosa Moha dan Bencana Aceh – Sumatra (2/4)

1
Lobha, Dosa, Moha dalam bencana ekologi yang terjadi di Aceh dan Sumatra.
Loba, Dosa, Moha dalam persoalan bencana ekologi di Aceh dan Sumatra. Ketiganya adalah 3 akar kejahatan umat manusia menurut ajaran Buddha.

Alih-alih melakukan moratorium dan evaluasi menyeluruh atas model pembangunan berbasis perambahan hutan, negara justru bersiap mereproduksi skema kerusakan ekologis yang sama di wilayah lain yang secara ekologis dan sosial jauh lebih rentan. Sikap ini menunjukkan ketidakpekaan struktural terhadap prinsip kesalingketergantungan serta mengungkap watak pembangunan yang lebih setia pada kepentingan oligarki dan kapital ekstraktif ketimbang keselamatan rakyat dan keberlanjutan kehidupan (WALHI, 2023; Kompas.com, 2025).

Kritik terhadap Respons Kebijakan: Politik dan Lobha Dosa Moha

Seiring bencana yang meluas, kritik terhadap respons pemerintah pun menguat. Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa situasi dianggap terkendali dan kehidupan dapat kembali normal dalam beberapa bulan. Mencerminkan jarak yang serius antara bahasa kebijakan dan realitas penderitaan warga terdampak. Pernyataan semacam ini bukan sekadar problem komunikasi. Melainkan indikasi kegagalan etis negara dalam membaca penderitaan rakyat sebagai akibat langsung dari pilihan-pilihan kebijakan sebelumnya. (Kompas.com, 2025).

Lebih jauh, wacana Presiden Prabowo mengenai perluasan perkebunan kelapa sawit di Papua demi produksi bahan bakar. Memperlihatkan dengan gamblang kegagalan rezim dalam menarik pelajaran dari bencana Aceh dan Sumatera. Alih-alih melakukan moratorium dan evaluasi menyeluruh atas model pembangunan berbasis perambahan hutan. Negara justru bersiap mereproduksi skema kerusakan ekologis yang sama di wilayah lain. Wilayah yang secara ekologis dan sosial jauh lebih rentan. Sikap ini menunjukkan ketidakpekaan struktural terhadap prinsip kesalingketergantungan. Serta mengungkap watak pembangunan yang lebih setia pada kepentingan oligarki dan kapital ekstraktif. Ketimbang keselamatan rakyat dan keberlanjutan kehidupan (WALHI, 2023; Kompas.com, 2025).

Sepertinya presiden masih belum cukup menyaksikan kehancuran yang diderita Aceh dan Sumatra. Yang seharusnya dapat menjadi cermin kegagalan rezim ini menjaga keselamatan rakyat dari bencana ekologis. Bencana akibat perusakan hutan yang seolah dilegalkan. Lalu dengan tanpa beban dan tidak peka, rezim bersiap menciptakan kondisi kerusakan lanjutan di Papua.

Kebijakan yang mengutamakan ekspansi monokultur tanpa memperhatikan dampak ekologis jangka panjang. Hanya menunjukkan bahwa pendekatan pemerintah masih terjebak pada logika ekonomi semata. Logika yang mengabaikan prinsip kesalingketergantungan yang fundamental. Ketidaksensitifan semacam ini mengindikasikan kurangnya penyadaran akan keterhubungan antara keputusan politik dan dampak ekologis. Hal yang pada akhirnya berimbas pada keselamatan rakyat, bahkan nyawa mereka.

Lobha Dosa Moha: Akar Beracun Kebijakan yang Merusak Alam

Dalam Buddhadharma, penderitaan tidak pernah dipahami sebagai peristiwa kebetulan. Ia selalu memiliki sebab, dan sebab itu berakar pada kondisi batin. Sang Buddha merumuskan akar penderitaan itu secara ringkas namun tegas sebagai lobha (rasa tidak berkecukupan dan kerakusan), dosa (penolakan), dan moha (kebingungan atau keliru mengerti). Ketiganya disebut sebagai akar tidak-bajik (akusala-mūla) atau trivisa – tiga racun.
“Ada tiga akar tidak-bajik: lobha, dosa, dan moha.”
(AN 3.69 – Akusala-mūla Sutta)

Dalam konteks bencana ekologis di Aceh dan Sumatera Utara, tiga akar negatif atau tiga racun (trivisa) batin ini tidak hanya hadir pada level individual, tetapi telah menjelma menjadi rasionalitas kebijakan dan kerangka pembangunan.

Lobha: Ketidakcukupan yang Dilembagakan

Lobha dalam pengertian Buddhadharma bukan sekadar keserakahan vulgar, melainkan perasaan eksistensial bahwa apa yang ada tidak pernah cukup. Ketika rasa tidak berkecukupan ini menjadi dasar kebijakan, alam diposisikan semata sebagai resource base—basis sumber daya yang harus terus diekstraksi demi pertumbuhan ekonomi.

Dalam bahasa kebijakan publik, lobha menjelma sebagai orientasi pertumbuhan tanpa batas (growth imperative), Indikator keberhasilan yang semata berbasis produksi dan output, serta pengabaian daya dukung ekologis (carrying capacity).
>Terkait ini Buddha telah mengingatkan secara eksplisit bahwa lobha tidak pernah membawa kesejahteraan, melainkan penderitaan lanjutan:
“Dari lobha muncul penderitaan; dari lobha muncul rasa takut.”
(Dhp 216)

Banjir bandang dan longsor yang berulang justru memperlihatkan paradoks kebijakan berbasis lobha: semakin alam dieksploitasi atas nama kesejahteraan, semakin besar penderitaan yang ditanggung masyarakat.

Taṇhā: Dorongan Kebijakan yang Tidak Pernah Puas

Jika lobha adalah rasa tidak berkecukupan, maka taṇhā adalah dorongan untuk terus memuaskannya. Taṇhā bekerja melalui logika “harus lebih”: lebih banyak energi, lebih luas lahan industri, lebih tinggi produksi. Dalam kerangka kebijakan, taṇhā hadir sebagai Obsesi terhadap ekspansi, Narasi ketertinggalan yang menjustifikasi perusakan, dan pengabaian prinsip kehati-hatian ekologis (precautionary principle).

Buddha menegaskan bahwa taṇhā adalah sumber langsung penderitaan kolektif:
“Inilah asal mula penderitaan: taṇhā yang menimbulkan kelahiran kembali, disertai kenikmatan dan nafsu, yang mencari kepuasan di sana-sini.”
(SN 56.11 – Dhammacakkappavattana Sutta)

Ketika taṇhā (kehausan, kerakusan, ketamakan, rasa tak berkecukupan) menjadi motor kebijakan, negara terjebak dalam lingkaran produksi–kerusakan–penanggulangan, tanpa pernah menyentuh akar masalahnya.

Moha dan Avidyā: Kebingungan yang Melahirkan Keputusan Keliru

Namun akar terdalam dari lobha dan taṇhā adalah moha atau avidyā—keliru mengerti. Dalam Buddhadharma, avidyā bukan sekadar kurang informasi, melainkan gagal memahami kesalingketergantungan (iddapaccayatā).

“Karena tidak mengetahui dan tidak memahami secara benar, makhluk-makhluk ini terjerat dan berputar dalam penderitaan.” (SN 12.1 – Paṭiccasamuppāda Sutta)

Dalam bahasa kebijakan publik, avidyā termanifestasi sebagai pemisahan ekonomi dari ekologi, pemisahan pembangunan dari keselamatan rakyat, dan pemisahan keputusan dari dampak jangka panjangnya. Avidyā membuat kebijakan tampak sah secara prosedural, tetapi gagal secara etis dan ekologis. Negara hanya hadir sebagai pengelola izin yang miskin integritas, bukan penjaga kehidupan yang mengemban amanat penderitaan rakyat.

Eko Nugroho R (Peneliti Institut Nagarjuna)

Bersambung ke bagian 3/4 Menggali Pesan Leluhur…

Cermin Krisis: Bencana Aceh hingga Sumatra Utara (1/4)

0
Cermin Krisis: Bencana Aceh dan Sumatra adalah tentang kesadaran ekologis umat manusia.
Cermin Krisis: Bencana Aceh dan Sumatra adalah tentang krisis kesadaran ekologis umat manusia.

Secara meteorologis bencana ini dipicu oleh hujan ekstrem yang turun tanpa jeda. Dan sistem atmosfer kompleks yang berkaitan dengan siklon tropis. Namun interaksi antara faktor alam dan manusia adalah yang memperparah dampaknya. Para ahli lingkungan dan meteorologi menekankan. Bahwa kerusakan hutan dan ekosistem hulu sungai mempercepat limpasan air, memperlemah daya serap tanah, dan memicu banjir serta longsor. Dengan dampak yang jauh lebih mematikan (KLHK, 2022; WALHI, 2023). Ini seharusya menjadi cermin krisis bahwa kesadaran ekologis kita masih rendah.

Tinjauan Kritis Bencana Aceh–Sumut:                                                Membaca Krisis Ekologis dengan Buddhadharma dan Falsafah Jawa

Oleh Eko Nugroho R. (Institut Nagarjuna)

Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat. Terjadi pada akhir November–Desember 2025 lalu. Merupakan bencana yang telah menorehkan luka besar dalam kehidupan jutaan rakyat Indonesia. Data terkini menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 jiwa telah meninggal dunia. Dengan ribuan lainnya terluka dan ratusan ribu mengungsi akibat bencana ini. BNPB memperbarui angka korban menjadi 1.053 jiwa per 16 Desember 2025. Dengan kerusakan rumah, infrastruktur, dan lingkungan yang sangat luas (BNPB, 2025; WALHI, 2023; Kompas.com, 2025).

Fenomena ini memunculkan pertanyaan lebih dalam. Mengapa tragedi ekologis seperti ini terus berulang? Apa maknanya jika kita membaca kejadian ini bukan hanya sebagai “peristiwa alam.” Akan tetapi sebagai cermin krisis kesadaran ekologis.

Bencana Alam Bukan Azab Tetapi Cermin Krisis Kesadaran

Secara meteorologis, bencana ini dipicu oleh hujan ekstrem yang turun tanpa jeda. Dan sistem atmosfer kompleks yang berkaitan dengan siklon tropis. Namun interaksi antara faktor alam dan manusia adalah yang memperparah dampaknya. Para ahli lingkungan dan meteorologi menekankan. Bahwa kerusakan hutan dan ekosistem hulu sungai mempercepat limpasan air, memperlemah daya serap tanah, dan memicu banjir serta longsor. Dengan dampak yang jauh lebih mematikan (KLHK, 2022; WALHI, 2023).

Deforestasi, ekspansi perkebunan besar (minyak sawit, pertambangan, dan izin lahan lainnya) memperparah dampak bencana. Karena hilangnya vegetasi yang semestinya menahan aliran air, mengurangi erosi, dan memperlambat limpasan hujan berat. Baik ke lembah maupun sungai. Kerusakan ekologis masif ini bahkan disebut berdampak “tingkat kepunahan” pada habitat satwa langka seperti orangutan Tapanuli. Populasi kritis yang hidup di hutan utara Sumatera kini makin terancam (WALHI, 2023; KLHK, 2022).

Fenomena ini bukan sekadar “aksentuasi cuaca ekstrem.” Akan tetapi akumulasi dari perjalanan panjang. Di mana tutupan hutan hilang, lahan dirambah, dan sumber daya alam diubah untuk kepentingan jangka pendek. Dalam konteks ini, bencana menunjukkan apa yang disebut oleh para praktisi Buddhadharma sebagai keliru mengerti (avijjā). Kesadaran yang memisahkan manusia dari jaringan hidup yang saling menopang. Serta hilangnya pengakuan terhadap kesalingketergantungan (iddapaccayatā) (SN 12.1 – Paṭiccasamuppāda Sutta).

Etika Ekologis dalam Kesalingketergantungan

Dalam Buddhadharma, ajaran paṭiccasamuppāda (iddapaccayatā) menegaskan. Bahwa segala fenomena muncul dan bertahan melalui jaringan sebab-kondisi yang saling bergantung. “Jika ini ada itu ada, jika ini muncul itu muncul; jika ini tak ada, itu pun tak ada, jika ini hilang itu pun hilang.” Dan tidak ada satu pun entitas yang berdiri sendiri. Ketika manusia merusak hutan, sungai, dan tanah, tindakan tersebut bukan hanya merugikan alam. Tetapi juga merusak manusia itu sendiri, lantaran kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan alam tempat kita berpijak. (SN 12.1 – Paṭiccasamuppāda Sutta; Kaza & Kraft, 2000).

Etika ekologis Buddhadharma mengingatkan bahwa tindakan manusia terhadap alam adalah bagian dari karma. Sekalipun istilah karma bukan “hukum moral”, ia merujuk pada dampak moral dari tindakan yang saling berkaitan dan berimbas pada semua makhluk hidup. Ketidaksadaran terhadap iddapaccayatā membawa manusia pada gaya hidup yang fragmentaris. Gaya hidup yang hanya melihat dunia sebagai “sumber daya” bukan sebagai komunitas kehidupan yang perlu dirawat. (MN 135 – Cūḷakammavibhaṅga Sutta; Loy, 2010).

Memayu Hayuning Bawono, Gotong Royong Kosmis dan Akar Kedalaman Spiritualitas

Dalam falsafah Jawa, gagasan memayu hayuning bawono merangkum etika hidup yang holistik: memperindah dan merawat keseimbangan dunia sebagai wujud tanggung jawab batin manusia. Ini bukan sekadar ideal estetis, melainkan etika yang lahir dari pengalaman hidup kolektif masyarakat Jawa yang memandang alam sebagai bagian dari kehidupan moral itu sendiri. Dalam horizon ini, gotong royong bukan hanya praktik sosial, melainkan ekspresi kosmis dari kesadaran bahwa kehidupan berlangsung dalam jalinan relasi yang saling menopang (Riyanto, 2022; Magnis-Suseno, 1984).

Kesadaran semacam ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Buddhadharma tidak hadir di tanah Jawa sebagai lapisan asing, melainkan ngoyot jero—mengakar dalam dan menyatu dengan laku hidup masyarakatnya. Pada masa Medang Mataram, kehadiran Borobudur bukan sekadar monumen religius, melainkan pusat kosmologi etis yang membentuk cara manusia Jawa memahami dunia dan dirinya. Integrasi ini memperkaya kearifan lokal Jawa dengan prinsip kesalingketergantungan dan tanggung jawab batin terhadap semesta, sehingga memayu hayuning bawono menemukan pijakan historis dan simboliknya yang paling kuat melalui kehadiran Borobudur (Shinta Lee, 2019; Salim Lee, 2018).

Makna dibalik Relief Borobudur

Relief Borobudur memperlihatkan laku manusia dalam jaring sebab-akibat: ngunduh wohing pakarti pada relief karmavibhaṅga; migunani tumraping liyan dalam kisah-kisah Jātaka dan Avadāna; kasampurnaning dumadi dalam narasi Lalitavistara; serta semangat ngangsu kawruh dalam Gandavyūha. Keseluruhan rangkaian ini menggambarkan bagaimana transformasi batin manusia—bukan dominasi atas alam—dipahami sebagai dasar keharmonisan dunia dan prasyarat bagi kehidupan yang ayu dan lestari (Shinta Lee, 2019).

Nilai-nilai Buddhadharma tidak hadir di tanah Jawa sebagai lapisan asing, melainkan ngoyot jero—mengakar dalam dan menyatu dengan laku hidup masyarakatnya. Pada masa Medang Mataram, kehadiran Borobudur bukan sekadar monumen religius, melainkan pusat kosmologi etis yang membentuk cara manusia Jawa memahami dunia dan dirinya. Integrasi ini memperkaya kearifan lokal Jawa dengan prinsip kesalingketergantungan dan tanggung jawab batin terhadap semesta (Shinta Lee, 2019; Salim Lee, 2018). Jika kesadaran demikian dimiliki sebagian individu. Maka bencana ekologis ini akan menjadi cermin krisis kesadaran.

Bersambung ke bagian 2 Loba Dosa Moha…

WFB: World Fellowship of Buddhists Peringatan 75 Tahun

0
Peringatan HUT ke-75 World Fellowship of Buddhists atau WFB diperingati di Bangkok Thailand.
Perayaan Hari Ulang Tahun atau HUT ke-75 Tahun WFB atau World Fellowship of Buddhists dilaksanakan di Bangkok, Thailand.

Peringatan Hari Ulang Tahun atau HUT ke-75 tahun berdirinya World Fellowship of Buddhists (WFB) digelar di Bangkok, Thailand. Peringatan tersebut diadakan pada 4–7 Desember 2025. Perhelatan ini dihadiri berbagai tokoh dan perwakilan organisasi Buddhis dunia. Termasuk Sekretaris Departemen Agama dan Kebudayaan Central Tibetan Administration (CTA), Dhondul Dorjee.

Rangkaian peringatan ini bertepatan dengan sejumlah agenda penting berskala internasional. Antara lain General Conference ke-31 World Fellowship of Buddhists, World Fellowship of Buddhist Youth Conference ke-22. Serta Council Meeting ke-13 World Buddhist University.

Pada 5 Desember, digelar diskusi khusus bertajuk “Cultivating Wisdom and Well-Being in the AI Era: A Buddhist Vision for the Future.” Diskusi yang berlangsung hangat tersebut diselenggarakan di Vajiravudh College, Bangkok. Diskusi ini menyoroti peran nilai-nilai Buddhis dalam merespons tantangan era Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan. Akal Imitasi (AI). Pada hari yang sama, dilangsungkan pula rapat Dewan Pemuda Buddhis Dunia. Selain itu juga sesi pertama General Conference WFB, dan rapat Komite Eksekutif WFB, serta Council Meeting World Buddhist University.

Keesokan harinya, para peserta mengikuti upacara pembukaan resmi peringatan 75 tahun WFB. Agenda dilanjutkan dengan sesi kedua General Conference dan ditutup dengan seremoni penutupan yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian sidang.

Kunjungan Budaya WFB ke Wat Arun dan Wat Pho

Pada 7 Desember, para peserta mengikuti kunjungan budaya ke dua vihara penting di Bangkok, yakni Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan—vihara kerajaan kedua Thailand—serta Wat Phra Chetuphon Wimon Mangkhalaram Rajwaramahawihan.

Wat Arun merupakan salah satu mahakarya arsitektur sekaligus pusat spiritual terpenting di Thailand. Terletakdi tepi Sungai Chao Phraya, pagoda ini telah ada sejak periode Kerajaan Ayutthaya. Hingga kelak memperoleh peran historis penting karena Raja Taksin Agung menjadikan Thonburi sebagai ibu kota baru. Pada era Raja Rama II dan Raja Rama III, pagoda ini dipugar dan diperluas. Saat ini Wat Arun juga berfungsi sebagai destinasi wisata utama dan simbol pariwisata nasional. Demikian juga Wat kedua, yang lebih dikenal sebagai Wat PhoVihara dimana kita bisa menyaksikan Patung Buddha berbaring terbesar. Dengan telapak kaki yang menunjukkan berbagai simbol keagungan.

Peringatan ini tidak hanya menjadi momen refleksi atas perjalanan panjang WFB sejak didirikan pada 1950, tetapi juga menegaskan peran Buddhadharma global dalam merespons tantangan zaman, termasuk isu teknologi, pendidikan, dan pembangunan manusia berbasis kebijaksanaan. Apalagi di era digital dengan perkembangan pesat kecerdasan buatan yang memerlukan cara pandang baru terhadap berbagai bidang.

Sumber: Tibet.net

Vihara Karangdjati Terima Kunjungan Mahasiswa UIN

0
Vihara Karangdjati yang terletak di Sleman Yogyakarta pada Rabu 3 Desember 2025 menerima kunjungan dari mahasiswa Studi Agama-Agama UIN.
Vihara Karangdjati adalah sebuah vihara yang berlokasi di Sleman Yogyakarta. Pada Rabu 3 Desember 2025 menerima kunjungan mahasiswa Studia Agama-Agama UIN.

Sebagai penutup perkuliahan semester ganjil. Mahasiswa Semester 5 Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) UIN melaksanakan kunjungan pembelajaran ke Vihara Karangdjati.  Sebuah vihara yang berlokasi di Jl. Monjali No. 78, Gemawang, Sinduadi, Mlati, Sleman. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Agama Buddha dan dilakukan bersama dosen pengampu, Derry Ahmad Rizal, M.A. Hal ini sebagai upaya memperkaya metode pembelajaran agar mahasiswa tidak hanya menerima materi secara teoritis di ruang kelas.

Kunjungan pada Rabu, 3 Desember 2025 tersebut berlangsung dalam suasana penuh antusias dan keceriaan. Mahasiswa disambut oleh Mas Eko, perwakilan pengelola vihara, yang menjelaskan sejarah berdirinya Vihara Karangdjati. “Vihara ini didirikan oleh Romo Among, dan nama Karangdjati berasal dari nama kampung tempat vihara ini berdiri: Kampung Karangdjati,” terangnya.

Ia juga memaparkan berbagai kegiatan rutin vihara, seperti meditasi, puja bakti mandiri maupun berjamaah, serta kegiatan bakti sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Menurutnya, umat yang aktif di vihara ini banyak berasal dari kalangan mahasiswa kampus sekitar, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Atma Jaya.

Panca Sila, Altar Vihara Karangdjati, hingga Bendera Buddhis

Selain mendapat sambutan dari pengurus vihara, mahasiswa juga menerima materi dari Ibu Listiyani dan Ibu Dharma Susanti, Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kabupaten Sleman.

Ibu Listiyani memaparkan inti ajaran Buddha yang merangkum moralitas dasar: jangan berbuat jahat, kembangkan perbuatan baik, serta sucikan hati dan pikiran. Ia juga menjelaskan Pancasila Buddhis, lima pedoman moral dalam Agama Buddha, yakni:

  1. Tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain,
  2. Tidak mencuri,
  3. Tidak berbuat asusila,
  4. Tidak berbohong,
  5. Tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat menghilangkan kesadaran.

Sementara itu, Ibu Dharma Susanti membahas simbolisme dalam altar Buddha. Ia menerangkan makna setiap objek yang ada. “Di altar terdapat Rupang Buddha, bunga, buah, lilin, dupa, dan air,” jelasnya. Rupang Buddha merupakan bentuk penghormatan kepada Guru Agung. Bunga melambangkan anicca atau ketidakkekalan. Lilin merupakan simbol pencerahan. Buah melambangkan hukum karma—apa yang kita tanam, itulah buah yang kita peroleh. Dupa melambangkan harum nama baik, sedangkan air melambangkan kesucian dan kerendahan hati, karena air selalu mengalir dari tempat tinggi ke dataran rendah.

Beliau juga menjelaskan makna warna bendera Buddhis (biru, kuning, merah, putih, dan jingga) yang secara historis diyakini berasal dari pancaran aura Buddha saat mencapai pencerahan. Warna-warna tersebut melambangkan bakti (biru), kebijaksanaan (kuning), cinta kasih (merah), kesucian (putih), dan tekad (jingga).

Meditasi untuk Semua

Sesi tanya jawab berlangsung aktif dan interaktif. Menjelang akhir kegiatan, menanggapi pertanyaan mahasiswa, Ibu Dharma menekankan pentingnya meditasi sebagai kebutuhan manusia modern. Meditasi, menurutnya, tidak hanya untuk umat Buddha, tetapi relevan bagi semua orang. “Kita sering terlihat diam, tetapi pikiran kita ke mana-mana. Meditasi membantu kita kembali fokus pada apa yang sedang kita lakukan,” tuturnya.

Mas Eko menambahkan bahwa meditasi adalah cara untuk meredakan kekhawatiran dan belajar hadir pada momen kini. “Semakin kita mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi, semakin bertambah penderitaan kita,” ujarnya. Ia memberi analogi menarik: “Kalian sering curhat ke teman, tapi kadang cerita itu justru tersebar. Dalam meditasi, kita ‘bercurhat’ kepada hembusan napas kita sendiri, karena napas adalah yang paling dekat dan setia menemani kita.” Menurutnya, meditasi memang tidak serta-merta menghilangkan masalah, tetapi membantu menjernihkan pikiran sehingga seseorang dapat mengambil keputusan dengan lebih baik. Ia menambahkan bahwa meditasi kini juga banyak direkomendasikan oleh psikolog sebagai terapi pelengkap bagi kesehatan mental.

Kegiatan kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama. Selain menjadi pengalaman langsung mengenal ajaran dan praktik Buddhis, kunjungan ini juga menjadi sarana refleksi serta memperluas wawasan mahasiswa mengenai keberagaman tradisi keagamaan di Indonesia.

Sumber: SAA UIN

Shi Heng Yi: Ceramah Dharma di TEDx yang Mengguncang

0
Shi Heng Yi adalah seorang bhiksu kepala Shaolin Temple Europe. Pada 2020 lalu ia diundang memberikan Ceramah Dharma di TEDx Talk dan mengguncang dunia barat
Shi heng Yi: Ceramah Dharma di TEDx Talk yang Mengguncang Dunia Barat

Ketika Master Shi Heng Yi, seorang bhiksu sekaligus guru dari Shaolin Temple Europe. Naik ke panggung TEDxVitosha pada tahun 2020. Hanya sedikit yang menyangka bahwa ceramahnya yang tenang dan sederhana. Akan menjadi salah satu pembicaraan paling berpengaruh dalam lanskap spiritualitas modern. Dengan topik “5 Hindrances to Self-Mastery” (Lima Hambatan Menuju Penguasaan Diri). Ia tidak hanya menyampaikan ajaran tentang disiplin batin, tetapi juga memperkenalkan kembali esensi Dharma. Kepada jutaan penonton di Barat yang tengah mencari makna hidup dan kejernihan mental.

Dharma Bersinar di Panggung Barat

Shi Heng Yi membuka ceramahnya dengan ketenangan khas seorang praktisi Shaolin. Tanpa dramatisasi, tanpa pamer kekuatan fisik atau teknik bela diri. Ia justru menawarkan kedalaman batin. Pertanyaan mendasar tentang apa yang menghalangi manusia untuk mengenali dirinya yang sejati.

Jawabannya ia ambil dari ajaran Buddha yaitu Lima Hambatan Batin. Terdiri dari sensual desire (keinginan indrawi), ill-will/aversion (perasaan tidak suka), dullness/heaviness (kemalasan dan kelesuan), restlessness (gelisah), dan skeptical doubt (keraguan yang merusak keyakinan). Istilah teknis Buddha juga dicantumkan pada presentasi kepala vihara Shaolin Eropa ini. Yakni Kamacchanda, Byapada, Thinamiddha, Uddhaca, dan Vicikiccha. Namun Shi Heng Yi menyampaikannya dengan cara yang sangat kontemporer. Lugas, praktis, dan inspiratif bagi audiens.

Ledakan Respons Netizen Barat

Saat video ceramah itu diunggah ke kanal resmi TEDx Talks, responsnya luar biasa. Dalam waktu relatif singkat, ia telah ditonton lebih dari 16 juta kali, memicu belasan ribu komentar haru dan penuh refleksi—banyak di antaranya mengaku bahwa hidup mereka berubah hanya dengan mendengarkan ceramah tersebut. Tak lama, talk ini menjadi salah satu pembicaraan bertema spiritualitas paling populer dan paling sering dibagikan di berbagai platform sosial.

Bagi banyak penonton Barat, Shi Heng Yi menjadi pintu masuk baru ke Buddhisme—bukan sebagai agama yang penuh ritual atau dogma, melainkan sebagai jalan praktis untuk memahami dan mengelola pikiran sendiri. Dalam hitungan bulan, namanya pun mulai dikenal luas di kalangan komunitas meditasi, praktisi mindfulness, psikologi positif, bahkan di lingkaran akademik yang meneliti kesehatan mental.

Mengapa Ceramah Shi Heng Yi Begitu Mengena?

Beberapa faktor menjadikan ceramah ini begitu menyentuh dan relevan:

  1. Gaya Komunikasi yang Lembut namun Tegas
    Shi Heng Yi tidak menggurui. Ia mengajak. Ia tidak berorasi, melainkan berbagi. Pendekatannya kontras dengan khas motivator Barat yang cenderung eksplosif dan dramatis—ia justru menunjukkan kekuatan dalam kesederhanaan.
  2. Kearifan Timur dalam Bahasa Modern
    Lima Hambatan Batin dijelaskan dengan contoh konkret: kebiasaan menunda, gangguan digital, kecemasan, atau keraguan diri. Ini menjadikan ajaran kuno terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan kontemporer.
  3. Waktu yang Tepat
    Ceramah ini muncul di tengah gelombang minat global terhadap meditasi, manajemen stres, dan pencarian makna hidup—suatu momen ketika banyak orang mulai merasa lelah dengan kehidupan yang hiruk-pikuk dan ingin kembali ke dalam diri.
  4. Aura Autentik Shaolin
    Sosok seorang bhiksu Shaolin yang berbicara dengan ketenangan luar biasa membawa kehadiran yang autentik—sesuatu yang jarang ditemui di dunia self-help Barat yang sering kali terasa dangkal.
Dari Shaolin ke Dunia: Dharma yang Hidup Kembali

Dampak ceramah ini meluas jauh di luar layar. Pusat-pusat meditasi di Eropa dan Amerika mulai mengadopsi kerangka “Lima Hambatan” dalam program latihannya. Diskusi akademik tentang psikologi kontemporer kembali mengangkat relevansi ajaran kuno ini dalam konteks mental modern.

Dalam hal ini, Shi Heng Yi bukan hanya seorang pembicara inspiratif—ia menjadi jembatan budaya, seseorang yang mampu membawa Dharma ke tengah dunia modern tanpa mengorbankan kedalaman spiritualnya.

Dharma Kontekstual untuk Dunia

Ceramah “5 Hindrances to Self-Mastery” bukan sekadar fenomena viral. Ia adalah bukti nyata bahwa ajaran Dharma, ketika disampaikan dengan ketulusan, kejernihan, dan kebijaksanaan kontekstual (kausalya), mampu menembus batas budaya, zaman, dan latar belakang. Ceramah ini mengingatkan kita semua bahwa penguasaan diri bukanlah konsep abstrak, melainkan praktik harian untuk mengenali—dan melepaskan—apa pun yang menghalangi kita menjadi manusia yang utuh, damai, dan sadar.

Simak videonya di TEDx Talks

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna