Page 8

Relik Buddha Tarik Hampir 18 Juta Pengunjung di Vietnam

0
Pameran relik suci Buddha di Vietnam tarik hampir 18 juta pengunjung.
Pameran relik suci Buddha menarik hampir 18 juta pengunjung di Vietnam.

Selama sebulan penuh mulai Mei hingga Juni 2025. Vietnam menjadi saksi sebuah fenomena spiritual luar biasa. Sebanyak 17,8 juta orang, dari segala usia, latar belakang, dan penjuru negeri, datang berbondong-bondong. Kedatangan mereka adalah untuk memuliakan relik suci Buddha yang dipinjamkan pemerintah India dalam rangka peringatan Hari Waisak Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan kali pertama relik suci tersebut dipamerkan di Vietnam.

Kementerian Kebudayaan India: Gerakan Spiritual Luar Biasa

Kementerian Kebudayaan India menyebut peristiwa ini sebagai “gerakan spiritual luar biasa” yang menyapu seluruh wilayah Vietnam. Dari ujung selatan hingga utara. Dalam pernyataan resminya, kementerian menulis:

“Jutaan umat berkumpul dalam ziarah pemujaan bersejarah terhadap relik suci Sang Buddha dari India. Tur suci ini menyatukan umat Buddha dan para pencari spiritual dalam ekspresi penghormatan, kedamaian, dan solidaritas budaya yang mendalam.”

Relik tersebut merupakan sisa jasmani Sang Buddha, Siddhartha Gautama, yang biasanya disemayamkan di Mulagandha Kuti Vihara, Sarnath, Uttar Pradesh—salah satu dari empat situs suci utama dalam kehidupan Buddha. Peminjaman sementara ke Vietnam dikoordinasikan oleh Kementerian Kebudayaan India bekerja sama dengan International Buddhist Confederation (IBC) dan Pemerintah Vietnam.

Perjalanan Relik Buddha

Perjalanan suci dimulai ketika relik tiba di Kota Ho Chi Minh pada 2 Mei 2025. Relik Buddha  mulai dipamerkan di Biara Ay Thanh Tam pada 3 Mei. Dari sana, relik dibawa ke Pagoda Quan Su di Hanoi (13–17 Mei), lalu ke Pagoda Tam Chuc di Provinsi Ha Nam (17–19 Mei). Antusiasme publik yang luar biasa membuat pemerintah Vietnam meminta perpanjangan masa pameran. Pada awalnya pameran direncanakan berakhir pada 21 Mei—hingga 2 Juni.

Vietnam memiliki sekitar 13 juta umat Buddha, atau sekitar 13% dari total populasi. Sebagian besar menganut tradisi Mahayana. Ajaran Buddha telah hadir di tanah ini lebih dari 2.000 tahun. Dan tetap memainkan peran penting dalam kehidupan budaya, sosial, bahkan politik. Sangha Buddha Vietnam, organisasi keagamaan resmi yang diakui negara. Turut mengoordinasikan acara ini bersama kuil-kuil lokal dan otoritas daerah.

Yang Mulia Thích Trí Quảng, Patriark Tertinggi Sangha Buddha Vietnam, menyampaikan rasa harunya:

“Ini adalah pengalaman yang sangat mengharukan dan mempersatukan. Kehadiran relik Sang Buddha di tanah kami memberi kesempatan langka bagi jutaan orang untuk memperbarui ikrar spiritual, merenungkan Dharma, dan merasakan kedekatan dengan Sang Bhagavā.”

Delegasi India yang mengawal relik dipimpin oleh Gubernur Negara Bagian Odisha, Prof. Ganeshi Lal. Ia hadir bersama para bhiksu senior dan pejabat kebudayaan. Pada malam 2 Juni, relik dikembalikan ke India menggunakan pesawat khusus Angkatan Udara India. Kepulangannya disambut secara seremonial di Pangkalan Udara Palam, New Delhi.

Setibanya di India, relik sempat dipamerkan untuk umum selama satu hari di Museum Nasional New Delhi pada 3 Juni. Keesokan harinya, relik diarak dengan penghormatan kenegaraan melalui Varanasi menuju Sarnath, tempat asalnya. Prosesi penyemayaman kembali di Mulagandha Kuti Vihara menandai penutupan dari apa yang oleh banyak pihak disebut sebagai “ziarah internasional bersejarah.”

Pesan dari Komunitas Mahabodhi India

Sekretaris Jenderal Maha Bodhi Society of India, Yang Mulia Ven. Pelwatte Seewalee Thero, menyampaikan kesannya yang mendalam:

“Saya tidak akan pernah melupakan kasih sayang yang ditunjukkan pemerintah dan rakyat Vietnam kepada kami. Negara Anda telah melewati penderitaan panjang untuk mencapai kebebasan dan kemajuan hari ini. Dengan berkah Buddha, Dharma, dan Sangha, serta kebijaksanaan historis yang Anda miliki. Saya percaya Vietnam akan terus bangkit dalam cahaya kedamaian dan kebijaksanaan.”

Peristiwa ini bukan hanya soal angka atau kehadiran massal. Akan tetapi juga simbol nyata bagaimana ajaran Buddha terus menyatukan manusia lintas batas. Baik dalam diam, doa, dan kerinduan universal akan kedamaian.

Sumber: Buddhistdoor.net

Jang Kyung-ho: Dongkuk Steel dan Modernis Buddhis Korea

0
Jang Kyuk-ho pendiri Dongkuk Steel adalah umat awam Buddhis utama di Korea.
Pendiri Dongkuk Steel, Jang Kyuk-ho adalah seorang umat awam Buddhis yang sangat berpengaruh.

Pada 8 September 2025, suasana khidmat menyelimuti lantai tiga Daebeopdang Hall di Gedung Buddhist Broadcasting System (BBS), Mapo, Seoul. Di sana, digelar upacara peringatan 50 tahun wafatnya Geosa Jang Kyung-ho. Pendiri Dongkuk Steel, sekaligus ulang tahun ke-50 Korea Buddhist Promotion Institute (KBPI). Hadir dalam acara tersebut tokoh-tokoh penting seperti Ven. Jinwoo, pimpinan eksekutif Ordo Jogye. Serta Chairman Dongkuk Steel Jang Se-joo, yang dengan khusyuk menundukkan kepala dan menangkupkan tangan.

Siapa sebenarnya Jang Kyung-ho

Lahir di Busan pada 1899, Jang Kyung-ho bukan sekadar pengusaha sukses. Ia adalah seorang geosa (istilah kehormatan untuk umat awam Buddhis). Kyung-ho menjadikan dua hal sebagai misi hidupnya. Yakni, mengembangkan ajaran Buddha dan berkontribusi bagi bangsa melalui bisnis. Setelah lulus dari Boseong High School pada 1916 dan sempat belajar di Jepang, ia memperdalam keyakinannya lewat retret Buddhis (ango) di bawah bimbingan Venerable Guha di Tongdosa pada 1925. Saat itu, ia bersumpah: “Aku akan mengabdi pada negara lewat pekerjaanku, dan membalas jasa kepada Buddha.”

Langkah pertamanya di dunia usaha dimulai dari bisnis karung beras bernama Daegung Yanghaeng pada 1929. Perjalanan bisnisnya terus berkembang hingga akhirnya mendirikan Dongkuk Steel pada 1954. Sebuah perusahaan baja swasta pertama di Korea Selatan.

Dharma Bhakti Jang untuk Agama Buddha

Namun, yang membuat namanya begitu dihormati di kalangan Buddhis bukan hanya kekayaannya. Melainkan cara ia memberi. Ia tak hanya menyumbang uang, tapi membangun sistem yang bisa melestarikan dan memodernisasi ajaran Buddha.

Pada 1967, ia mendirikan Pusat Distribusi Teks Buddhis di depan Kuil Jogye. Organisasi yang mencetak dan menyebarkan versi terjemahan yang mudah dipahami dari sutra-sutra penting. Seperti Sutra Hati, Sutra Seribu Tangan, dan Sutra Intan. Tujuannya? Agar ajaran Buddha bisa menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat awam.

Tak berhenti di situ, pada 1973 ia membangun Vihara Daewon di Gunung Namsan, Seoul, lengkap dengan Daewon Buddhist College. Sebuah langkah revolusioner saat itu. Konon, ia ingin kuil itu menjadi tempat yang ramah bagi umat awam. Bahkan ia menyatakan “Aku ingin membuat tempat suci di mana orang bisa masuk sambil masih memakai sepatu.”

Dan di penghujung hayatnya, tepat sebelum wafat pada 9 September 1975, Jang Kyung-ho menyumbangkan 3 miliar won dari kekayaan pribadinya. Setara sekitar 500 miliar won hari ini. Jika dikonversi ke rupiah, sekira 5,75 Triliun rupiah. Donasi itu adalah untuk mendirikan Korea Buddhist Promotion Institute. Padahal, gaya hidupnya sendiri sangat sederhana. Tisu bekas dikeringkan dan dipakai ulang, kertas pembungkus kue upacara disimpan untuk dijadikan kertas catatan.

Kyung-ho juga merupakan pelopor media Buddhis, meski tak sempat melihatnya terwujud. Visinya tentang stasiun radio Buddhis, akhirnya tercapai pada 1990 dengan lahirnya BBS, Buddhist Broadcasting System.

Dalam sebuah bait puisi yang ditinggalkannya, Jang Kyung-ho menulis:

“Perdebatan di alam Dharma sejati, di mana diri dan orang lain tak terpisah, ibarat seekor lalat berusia sehari yang demikian fana. Keyakinanku sudah teguh sejak usia 20-an, tapi sekadar tahu saja tidaklah cukup. Harus dilatih dan dihayati hingga menjadi manusia sejati. Pikiran menciptakan segala fenomena—semua dibuat oleh pikiran.”

Pesan dari Pemimpin Ordo Jogye

Dalam sambutannya, Ven. Jinwoo menyebut Jang Kyung-ho sebagai “umat awam besar” yang setara dengan tokoh-tokoh Buddhis legendaris seperti Vimalakīrti dari India atau Beopseul dari Korea. “Semakin saya pelajari jejaknya, semakin saya terkagum-kagum,” katanya. “Ia benar-benar pelopor dan visioner.”

Sementara itu, Chairman Jang Se-joo, cucunya, mengenang sang kakek sebagai sosok yang lebih suka bertindak daripada bicara. “Beliau adalah guru sejati yang mengajarkan dengan teladan. Warisannya adalah pedoman emas yang harus kita renungkan di zaman ini.”

Peringatan 50 tahun ini bukan hanya nostalgia, tapi juga panggilan untuk melanjutkan semangat Jang Kyung-ho: menyebarkan Dharma dengan bijak, relevan, dan penuh kasih di tengah dunia modern. Disadur dari artikel yang ditulis Gim Han-soo dan diterbitkan pada 9 September 2025 di Chosun.Com.

Buddha Bamiyan di Belakang Menteri Afganistan: Ironi Bikin Viral

0
Lukisan Patung Buddha Bamiyan di belakang Menteri Luar Negeri Afganistan adalah ironi yang bikin viral.
Hadirnya lukisan Buddha Bamiyan di belakang Menteri Afganistan menciptakan ironi dan viralitas.

Sebuah foto dari New Delhi mendadak beredar luas di media sosial. Dalam gambar itu, Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi tengah berbicara di hadapan wartawan. Di atas meja, berdiri bendera kecil Taliban. Di dinding belakangnya, tergantung lukisan patung Buddha Bamiyan. Sebuah ironi yang kemudian membuat foto ini viral.

Kontras inilah yang membuat publik tertegun. Lukisan itu menjadi ironi visual. Rezim yang pada 2001 meledakkan patung Buddha Bamiyan, kini berbicara di bawah bayangannya.

Tragedi Penghancuran Buddha Bamiyan

Patung Buddha Bamiyan adalah warisan peradaban yang telah berdiri lebih dari 1.500 tahun di tebing Bamiyan, Afghanistan. Taliban menghancurkannya dengan bahan peledak, dengan alasan patung itu “tidak Islami”. Tindakan itu kala itu mengguncang dunia dan menjelma simbol ekstremisme.

Dua dekade kemudian, simbol itu muncul kembali—bukan di lembah Bamiyan, melainkan di ruang diplomasi.

“Buddha Bamiyan mengawasi mereka yang pernah menghancurkannya. Sejarah punya caranya sendiri untuk berbicara,” tulis seorang pengguna media sosial. Yang lain menyebutnya sebagai “puisi sunyi tentang ironi”.

Seorang utusan Taliban pernah mengatakan bahwa penghancuran patung itu dilakukan dalam kemarahan, setelah dunia menawarkan dana untuk menyelamatkan monumen sementara jutaan warga Afghanistan kelaparan. Alasan itu tak pernah benar-benar meredakan luka simbolik yang ditinggalkan.

Dalam konferensi pers tersebut, hanya jurnalis laki-laki yang hadir. Ketika ditanya soal hak-hak perempuan, Muttaqi menyebut isu itu sebagai “propaganda”. Afghanistan, katanya, menjalankan syariah dan “semua orang memiliki hak”.

Kunjungan itu juga diisi pertemuan dengan Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar. Tanpa bendera negara di meja pertemuan, India menyebut Muttaqi sebagai Menteri Luar Negeri Afghanistan—menghindari perdebatan antara “republik” dan “emirat”. India bahkan mengumumkan peningkatan misi teknisnya di Kabul menjadi kedutaan besar.

Namun, di ruang publik, yang paling diingat bukanlah pernyataan diplomatik itu. Yang melekat justru satu gambar: seorang pejabat dari rezim yang pernah meledakkan Buddha, kini berbicara dengan Buddha Bamiyan di punggungnya.

Sejarah, kali ini, tak berteriak. Ia hanya menggantung di dinding.

Sumber: Financial Express

Menuju Kesadaran Ekologis Baru: Bencana Aceh-Sumatra (4/4)

1
Menuju kesadaran ekologis baru bencana aceh dan sumatra.
Bagian penutup dari empat artikel mengenai bencana aceh dan sumatra ini adalah: Menuju kesadaran ekologis baru.
Ketika dunia diperlakukan bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai komunitas hidup yang saling mengondisikan, maka manusia tidak hanya menyelamatkan alam, tetapi juga memulihkan martabatnya sendiri. Di titik inilah Buddhadharma dan falsafah Jawa bertemu sebagai suara etis yang mendesak: mengingatkan bahwa keselamatan manusia dan keselamatan bumi adalah satu dan tak terpisahkan.

Penutup: Menuju Kesadaran Ekologis Baru

Bencana Aceh–Sumatera Utara bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit tanpa sebab. Ia adalah tanda zaman—sebuah panggilan etis yang menyingkap krisis lebih dalam daripada sekadar kegagalan teknis atau bencana alamiah. Ia memanggil kita untuk membaca ulang relasi manusia–alam dan menyadari bahwa keselamatan tidak ditentukan terutama oleh kecanggihan teknologi, percepatan pembangunan, atau pertumbuhan ekonomi, melainkan oleh mutu kesadaran yang membimbing cara kita hidup bersama dunia. Dengan kata lain membawa ke arah menuju kesadaran ekologis.

Dalam terang Buddhadharma, krisis ekologis ini memperlihatkan kegagalan memahami kesalingketergantungan (iddapaccayatā) yang menopang seluruh kehidupan. Ketika manusia memutus jaring relasi sebab-kondisi yang menghidupi alam, ia sesungguhnya sedang merusak fondasi keberadaannya sendiri. Dalam falsafah Jawa, krisis yang sama dibaca sebagai pudarnya laku memayu hayuning bawono—tanggung jawab batin manusia untuk menjaga dunia tetap ayu, seimbang, dan layak dihuni oleh semua makhluk. Dua horizon ini, meski lahir dari tradisi yang berbeda, bertemu pada satu peringatan yang sama: dunia tidak rusak karena alam murka, tetapi karena kesadaran manusia yang tercerabut dari relasi kosmiknya.

Alam dan Diri adalah Tidak Terpisah

Membangun masa depan yang lebih selamat tidak cukup dengan menambal kerusakan atau merespons bencana secara reaktif. Ia menuntut keberanian moral untuk mengoreksi arah pembangunan, membatasi kerakusan yang dilembagakan, dan menata ulang kebijakan publik agar berpihak pada kehidupan—bukan pada kepentingan jangka pendek yang merusak daya dukung bumi. Negara, dalam horizon ini, dipanggil kembali ke perannya yang paling mendasar: bukan sekadar pengelola pertumbuhan, melainkan penjaga kehidupan, pengemban amanat penderitaan rakyat.

Ketika dunia diperlakukan bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai komunitas hidup yang saling mengondisikan, maka manusia tidak hanya menyelamatkan alam, tetapi juga memulihkan martabatnya sendiri. Di titik inilah Buddhadharma dan falsafah Jawa bertemu sebagai suara etis yang mendesak: mengingatkan bahwa keselamatan manusia dan keselamatan bumi adalah satu dan tak terpisahkan.

“Bencana ekologis bukan sekadar kegagalan alam, melainkan tanda bahwa manusia telah kehilangan kesadaran etisnya: lupa bahwa merusak dunia berarti merusak dasar keberadaannya sendiri!”

Eko Nugroho R (Peneliti Institut Nagarjuna)

Bacaan Lanjutan

Buddha. (2010). Majjhima Nikāya: Kumpulan khotbah menengah Sang Buddha (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2012). Saṃyutta Nikāya: Kumpulan khotbah yang berhubungan (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2013). Aṅguttara Nikāya: Kumpulan khotbah bernomor (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2009). Dhammapada (Terj. Indonesia). Jakarta: Dhammacitta Press.

Buddha. (2007). Vinaya Piṭaka: Mahāvagga (Terj. Indonesia). Jakarta: Sangha Theravāda Indonesia.

BNPB. (2025). Laporan Situasi Bencana Hidrometeorologi Akhir Tahun 2025. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Kaza, S., & Kraft, K. (Eds.). (2000). Dharma Rain: Sources of Buddhist Environmentalism. Boston: Shambhala.

KLHK. (2022). Status Deforestasi Indonesia Tahun 2021–2022. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kompas.com. (2025, 16 Desember). Prabowo ingin Papua ditanam sawit agar hasilkan BBM. Jakarta: Kompas.

Lee, S. (2018). Borobudur dan Kosmologi Jawa Kuna. Yogyakarta: Pusat Studi Candi Nusantara.

Lee, S. (2019). Membaca Ulang Borobudur: Koreksi atas Narasi Tridhatu. Yogyakarta: Pusat Kajian Warisan Budaya.

Loy, D. R. (2010). The World Is Made of Stories: Buddhist Perspectives on Globalization. Boston: Wisdom Publications.

Magnis-Suseno, F. (1984). Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.

Riyanto, F. X. A. (2022). Memayu Hayuning Bawana: Etika Relasional dalam Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Kanisius.

WALHI. (2023). Catatan Akhir Tahun: Krisis Ekologis dan Tata Kelola Sumber Daya Alam Indonesia. Jakarta: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.

Tamat

Kembali ke bagian 3/4 Menggali Kembali Pesan Leluhur: Bencana Ekologi Aceh dan Sumatra

Menggali Pesan Leluhur: Bencana Ekologi Aceh-Sumatra (3/4)

2
Menggali kembali pesan leluhur nusantara untuk bencana Aceh dan Sumatra.
Menggali kembali pesan leluhur nusantara dalam memandang bencana di Aceh dan Sumatra.
Sebagai etika publik, perjumpaan antara Buddhadharma dan falsafah Jawa membuka kemungkinan lahirnya etika ekologis Nusantara yang tidak bersifat tambal-sulam, melainkan berakar pada tradisi luhur yang telah lama hidup di wilayah ini. Etika ini memandang krisis ekologis bukan semata sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai krisis relasional—rusaknya hubungan antara manusia, alam, dan tata nilai yang menopang keduanya (Kaza & Kraft, 2000; Loy, 2010). 

Dosa/Dvesa: Penolakan Membuta Terhadap Akal Sehat

Jika lobha dan taṇhā menjelaskan dorongan kerakusan dan rasa tak berkecukupan, serta moha–avidyā menjelaskan kebingungan struktural. Maka dosa/dveṣa (aversion) menyingkap dimensi lain dari krisis ekologis yang kerap diabaikan. Yaitu penolakan aktif terhadap koreksi, kritik, dan refleksi etis. Dalam Buddhadharma, dosa bukan sekadar kemarahan emosional. Melainkan sikap batin yang menolak kenyataan yang tidak menyenangkan. Terutama kenyataan bahwa suatu tindakan telah melahirkan penderitaan (AN 3.69 – Akusala-mūla Sutta). Menggali pesan leluhur: Bencana Ekologi Aceh-Sumatra.

Dalam konteks kebijakan publik, dosa menjelma sebagai penolakan rezim terhadap masukan akal sehat dari para cendekiawan, ilmuwan lingkungan, masyarakat adat, dan pemerhati ekologi. Keengganan untuk melakukan introspeksi, serta penolakan untuk meninjau ulang keputusan politik. Keputusan yang keliru dengan dampak destruktif nyata. Dalam bahasa falsafah Jawa, sikap ini dapat dibaca sebagai ‘selak marang pepeling. Sikap penolakan terhadap nasihat. Dan bentuk hilangnya kesadaran reflektif yang seharusnya menuntun laku kuasa.

Lebih jauh, dosa termanifestasi ketika ‘kritik etis’ justru oleh rezim dilabeli sebagai ‘ancaman terhadap stabilitas.’ Dan para pejuang lingkungan diposisikan sebagai ‘musuh status quo’ yang mengganggu kepentingan oligarkis. Buddhadharma mengingatkan. Bahwa dosa memutus relasi welas asih dan membekukan kemampuan belajar kolektif. Ia menutup ruang dialog dan menghalangi kemungkinan koreksi diri (SN 12.1 – Paṭiccasamuppāda Sutta).

Ketika dosa bersenyawa dengan lobha dan moha. Maka kebijakan tidak lagi diarahkan untuk mengurangi penderitaan. Melainkan untuk mempertahankan kekuasaan dan keuntungan. Sekalipun harus mengorbankan keselamatan rakyat dan keberlanjutan kehidupan. Dalam cakrawala memayu hayuning bawono, inilah bentuk kegagalan etis paling serius. Ketika kekuasaan kehilangan kemampuan eling lan waspada. Dan dunia dibiarkan rusak demi mempertahankan rasa benar diri dan kepentingan sempit.

Oligarki dan Kelesah Struktural

Ketika lobha – ketamakan, taṇhā – kehausan, dan moha – sesat nalar bersenyawa dengan kepentingan oligarki dan kapital besar. Maka penderitaan tidak lagi bersifat insidental, melainkan terstruktur. Buddhadharma menyebut keadaan ini sebagai kelesah (kilesa) yang berlipat ganda. Suatu ‘kondisi batin yang sangat kacau dan keruh.’ Tetapi justru diproduksi ulang dan dipertahankan ‘kekeruhannya’ melalui sistem yang korup. Dalam kerangka ini, bencana ekologis bukan sekadar “musibah alam.” Melainkan buah dari tindakan kolektif:
“Makhluk adalah pemilik tindakannya, pewaris tindakannya.”
(MN 135 – Cūḷakammavibhaṅga Sutta).

Bahasa ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan korban. Akan tetapi menarik tanggung jawab moral ke ‘pusat pengambilan keputusan – rezim penguasa’ hari ini.

Memayu Hayuning Bawono sebagai Etika Kebijakan Alternatif

Falsafah Jawa memayu hayuning bawono menawarkan horizon kebijakan yang berlawanan secara mendasar. Ia tidak bertanya: apa yang bisa diambil? Melainkan: apa yang harus dijaga agar dunia tetap ayu dan lestari? Dalam bahasa Buddhadharma, ini sejalan dengan tindakan yang selaras dengan Dhamma (sammā). Tindakan yang mengurangi penderitaan, bukan memperpanjangnya.

“Periksa, apakah tindakan ini membawa penderitaan bagi dirimu, bagi orang lain, atau bagi keduanya.” (MN 61 – Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta). Jika prinsip ini diterjemahkan ke dalam kebijakan publik. Konsekuensinya setiap regulasi ekologis semestinya diuji dengan satu pertanyaan mendasar. Apakah kebijakan ini melindungi kehidupan, atau justru mempercepat penderitaan?

Menggali Pesan Leluhur: Etika Ekologis dan Tradisi Luhur

Sebagai etika publik, perjumpaan antara Buddhadharma dan falsafah Jawa membuka kemungkinan lahirnya etika ekologis Nusantara yang tidak bersifat tambal-sulam, melainkan berakar pada tradisi luhur yang telah lama hidup di wilayah ini. Etika ini memandang krisis ekologis bukan semata sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai krisis relasional—rusaknya hubungan antara manusia, alam, dan tata nilai yang menopang keduanya (Kaza & Kraft, 2000; Loy, 2010).

Pertama, kesadaran akan jaringan kehidupan menjadi fondasi etis utama. Kesalingketergantungan (iddapaccayatā) mengajak manusia melihat bahwa bencana bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan buah dari relasi-relasi yang timpang dan eksploitatif. Dalam kerangka ini, banjir dan longsor di Aceh–Sumatera Utara adalah cermin dari relasi manusia–alam yang telah lama terluka (SN 12.1 – Paṭiccasamuppāda Sutta).

Kedua, gotong royong dipahami sebagai spiritualitas kolektif, bukan sekadar mekanisme sosial darurat. Gotong royong adalah praktik nyata dari memayu hayuning bawono: bertindak bersama untuk menjaga keseimbangan kehidupan sebelum krisis terjadi, bukan hanya saling menolong setelah bencana melanda. Dalam konteks kebijakan, ini menuntut partisipasi komunitas lokal, penghormatan terhadap pengetahuan adat, dan perlindungan nyata terhadap kelompok rentan. Menggali pesan leluhur mengenai gotong royong, tentu bukan perkara yang sulit.

Ketiga, etika ekologis Nusantara menegaskan tanggung jawab dalam tindakan kolektif. Buddhadharma mengingatkan bahwa makhluk adalah pemilik tindakannya dan pewaris akibatnya (MN 135 – Cūḷakammavibhaṅga Sutta). Prinsip ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan korban, melainkan untuk menarik tanggung jawab moral ke pusat-pusat pengambilan keputusan (rezim) yang selama ini kerap luput dari pertanggungjawaban etis.

Keempat, perlindungan terhadap komunitas rentan—petani, masyarakat adat, nelayan, dan warga miskin kota—menjadi ukuran konkret dari etika ekologis. Dalam Buddhadharma, kepedulian (mettā dan karuṇā) tidak bersifat abstrak, melainkan menuntut keberpihakan nyata pada mereka yang paling terdampak. Dalam falsafah Jawa, prinsip tepa selira menegaskan bahwa penderitaan pihak lain tidak pernah terpisah dari diri kita sendiri. Inilah mengapa menggali pesan leluhur relevan dengan kondisi saat ini.

Dibutuhkan Keberanian Melakukan Koreksi

Dengan demikian, etika ekologis Nusantara bukan sekadar wacana normatif, melainkan ajakan untuk membangun kembali orientasi hidup dan kebijakan yang berpihak pada kehidupan. Ia menuntut keberanian untuk mengoreksi arah pembangunan, membatasi kerakusan yang dilembagakan, dan menata ulang relasi manusia–alam dalam horizon tanggung jawab bersama.

Lanjut ke bagian 4/4 Menuju Kesadaran Ekologis…

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna