Page 7

Randu Berdarah di Borobudur Viral, Ini Faktanya Sebenarnya

0
Pohon randu berdarah di Borobudur mendadak viral, namun bagaimana fakta sebenarnya?
Sebuah pohon randu berdarah di Borobudur viral dan mengundang perhatian banyak orang. Bagaimana fakta sebenarnya?

Media sosial kembali dihebohkan dengan kemunculan pohon randu alas raksasa di kawasan Borobudur, Magelang. Bukan tanpa alasan, pohon yang diduga sudah berusia ratusan tahun ini bikin warganet merinding setelah muncul video yang memperlihatkan cairan merah keluar dari batangnya, mirip darah. Sontak randu berdarah di Borobudur viral, tapi mari kita ungkap faktanya.

Sekilas memang kelihatan menyeramkan. Tapi ternyata, cerita di balik pohon ini nggak seseram yang dibayangkan.

Pohon Tua Raksasa yang Jadi Sorotan

Pohon randu alas ini berdiri megah di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Ukurannya nggak main-main—tingginya lebih dari 30 meter dan batangnya super besar, sampai delapan orang dewasa pun susah memeluknya bareng-bareng.

Sayangnya, kondisi pohon sudah mulai mengkhawatirkan. Ranting-rantingnya tampak kering dan rapuh. Karena letaknya dekat jalan dan area aktivitas warga, pohon ini awalnya direncanakan untuk ditebang demi alasan keamanan.

Soal “Darah” yang Bikin Viral

Masalah mulai ramai ketika proses pemangkasan dilakukan. Dari bagian pohon yang dipotong, keluar cairan berwarna merah pekat. Video dan fotonya langsung menyebar luas di media sosial, lengkap dengan berbagai spekulasi mistis.

Ada yang mengaitkannya dengan hal gaib, ada juga yang menganggap pohon ini “sakral”. Tapi warga sekitar dengan cepat meluruskan kabar tersebut.

Bukan Mistis tapi Alami

Menurut warga setempat, cairan merah itu bukan darah, melainkan getah alami pohon randu merah. Fenomena ini sebenarnya wajar secara biologis dan sudah dikenal oleh sebagian masyarakat.

Pemilik rumah di dekat lokasi pohon juga menegaskan bahwa randu jenis tertentu memang mengeluarkan getah kemerahan saat terluka. Jadi, nggak ada hubungannya dengan hal supranatural.

Randu Berdarah di Borobudur Jadi Daya Tarik Baru

Setelah viral, pohon randu alas ini justru kebanjiran pengunjung. Banyak orang datang hanya untuk melihat langsung “pohon berdarah” yang sedang ramai dibicarakan.

Sebagian pengunjung merasa pohon ini punya aura unik dan energi positif. Nggak sedikit juga yang menganggapnya sebagai ikon baru desa dan sayang kalau harus ditebang.

Meski viral dan jadi perhatian, persoalan utamanya tetap soal keamanan. Pemerintah desa dan Pemkab Magelang kini masih menunggu kajian dari para ahli untuk menentukan langkah selanjutnya.

Ahli menyebut randu alas memang bisa hidup sangat lama, bahkan ratusan tahun. Tapi kondisi ranting yang mudah patah jadi tanda bahwa pohon ini sudah mulai rapuh. Kalau masih memungkinkan diselamatkan, warga berharap pohon ini bisa dipertahankan. Namun jika risikonya terlalu besar, penebangan bisa jadi pilihan terakhir.

Antara Viral, Alam, dan Keselamatan

Kisah pohon randu alas di Borobudur ini jadi pengingat kalau sesuatu yang viral nggak selalu mistis. Kadang, alam punya cara unik untuk “bercerita”, dan tugas manusia adalah memahaminya dengan logika—tanpa mengabaikan keselamatan.

Sumber: Kumparan

Menyongsong 2026: Bantuan Senyap sebagai Fondasi Spiritual

0
Menyongsong 2026 berikut ini adalah pesan dari Bhikkhu Mahindasiri Thero. Bantuan Senyap sebagai fondasi spiritual.
Menyongsong 2026 bhikkhu mahindasiri thero berpesan agar menggunakan bantuan senyap sebagai fondasi spritual.

Memasuki tahun 2026, banyak dari kita sibuk menyusun resolusi: target karier, rencana finansial, atau pencapaian pribadi. Namun, di balik semua itu, ada satu latihan spiritual yang sederhana, tenang, dan justru sangat transformatif untuk dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari: “Bantuan Senyap” (Silent Help). Artikel berikut merupakan pesan dharma dari Biku Mahindasiri Thero menyongsong 2026.

Refleksi ini disarikan dari pesan Tahun Baru dalam ceramah Life and Dharma, yang mengajak kita melihat kembali makna spiritualitas sebagai praktik hidup—bukan sekadar konsep, apalagi simbol.

Apa Itu “Bantuan Senyap” untuk Menyongsong 2026?

Bantuan senyap adalah tindakan menolong orang lain tanpa diminta. Ia lahir dari pengamatan yang jernih dan hati yang peka. Dalam tradisi Buddhis, Arhat Sariputra menjadi teladan klasik praktik ini.

Dikisahkan, suatu pagi Sariputra melihat para biksu junior sedang membersihkan vihara. Tanpa diminta, tanpa merasa dirinya “terlalu tinggi” untuk tugas tersebut, ia meletakkan mangkuk dan jubahnya, mengambil sapu, lalu ikut membersihkan. Setelah selesai, ia kembali pada kegiatannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada pengumuman. Tidak ada pencitraan. Hanya kehadiran yang penuh welas asih.

Di situlah esensi bantuan senyap: membantu bukan demi dipuji, melainkan karena kita melihat kebutuhan dan hati kita tergerak.

Mengapa Praktik Ini Relevan di Tahun 2026?

Di dunia yang semakin individualistis dan serba cepat, bantuan senyap memiliki kekuatan yang luar biasa.

  1. Menumbuhkan Kualitas Batin Luhur
    Di balik tindakan menolong tanpa diminta, tumbuh kualitas-kualitas luhur: pemahaman, cinta kasih (metta), kasih sayang (karuna), kemurahan hati, dan keramahan batin. Ini bukan sekadar etika sosial, melainkan latihan batin yang nyata.

  2. Mendisiplinkan Spiritualitas dalam Kehidupan Nyata
    Spiritualitas tidak berhenti pada meditasi di atas bantal duduk. Ia menemukan wujudnya dalam dedikasi waktu dan energi untuk kesejahteraan orang lain. Bantuan hening menjembatani meditasi dan kehidupan sehari-hari.

  3. Menciptakan Kebahagiaan dari Dalam
    Kebahagiaan tidak selalu “datang”; ia juga bisa diciptakan. Ketika kita menolong dengan tulus lalu menyadari kebaikan itu dengan sukacita, kita membangun sumber kebahagiaan dari dalam diri—stabil dan tidak bergantung pada pengakuan.

Langkah Praktik Sederhana

  1. Amati – Lihat sekeliling dengan penuh perhatian. Siapa yang membutuhkan bantuan?

  2. Bertindak – Lakukan bantuan itu tanpa menunggu diminta, tanpa mengharapkan pengakuan.

  3. Syukuri – Sadari kebahagiaan yang muncul dari tindakan bajik tersebut dengan penuh kesadaran.

Dengan cara inilah spiritualitas turun dari ruang kontemplasi ke ruang kehidupan.

Mari kita jadikan tahun 2026 bukan hanya sebagai tahun pencapaian material, tetapi juga sebagai tahun penguatan akar spiritual—melalui pelayanan yang tulus, sederhana, dan senyap.

Selamat Tahun Baru 2026.
Semoga semua makhluk berbahagia. Namo Buddhaya.

Artikel ini disarikan dari pesan Tahun Baru dari Biku Mahindasiri Thero melalui kanal Life and Dharma. Tonton video aslinya disini untuk mendalami pesan spiritual ini secara utuh.

Candi Adan-Adan: Situs Buddha dengan Makara Terbesar

0
Candi Adan-Adan adalah situs Buddha dengan makara terbesar saat ini.
Candi Adan-Adan adalah situs Buddha di Gurah, Kediri Jawa Timur. Memiliki temuan makara terbesar diantara semua candi yang ada.

Candi Adan-Adan terletak di Dusun Candi, Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Merupakan situs Buddha terpenting di Jawa Timur. Hasil ekskavasi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (2016–2022) mengungkap struktur candi berukuran 25 × 25 meter. Saat ini merupakan struktur candi terluas di Jawa Timur. Adapun fondasi candi ini adalah batu bata dan selubung luar dari andesit. Arah hadapnya adalah barat laut. Situs ini ditemukan terpendam di kebun durian milik H. Syamsudin.

Keistimewaan utama situs ini terletak pada sepasang makara setinggi 2,3 meter. Temuan makara terbesar di Indonesia. Bahkan melampaui ukuran makara Candi Borobudur. Keunikan pahatannya tampak pada detail benangsari berujung kuncup bunga, serta penggambaran gender. Makara pertama tanpa kumis dan dada polos (betina), sedangkan pasangannya berkumis dengan rambut dada berhias motif floral (jantan). Selain makara, ditemukan pula arca Dwarapala setinggi hampir 2 meter dalam posisi berdiri. Arca ini berbeda dari kebanyakan Dwarapala Jawa yang ditemukan dalam sikap jengkeng. Serta fragmen kala, stupa, kepala Bodhisattva, dan arca Dhyani Buddha Amitabha.

Perkiraan Tahun Pendirian Candi Adan-Adan

Berdasarkan analisis gaya pahatannya yang mirip dengan Candi Kedaton di Muaro Jambi. Serta temuan keramik Dinasti Song (abad ke-10), Song-Yuan (abad ke-12), dan Yuan (abad ke-13). Situs ini diperkirakan dibangun pada abad ke-11 di masa Kerajaan Kadiri. Stratigrafi menunjukkan 12 lapisan tanah dengan abu vulkanik Gunung Kelud pada kedalaman 2 meter. Hal ini mengindikasikan candi beberapa kali tertutup letusan gunung berapi sepanjang sejarahnya. Keberadaan keramik Tiongkok dan pecahan keramik Belanda abad ke-17. Membuktikan keterhubungan kawasan ini dengan jalur perdagangan maritim Asia. Catatan kolonial Belanda tahun 1908 pun menyebutkan pengamatan awal terhadap situs ini. Meskipun ekskavasi baru dilakukan seabad kemudian.

Penemuan situs ini mengoreksi pandangan bahwa masa Kadiri hanya merupakan “zaman keemasan sastra.” Tanpa peninggalan arsitektur monumental. Lokasinya yang berdekatan dengan Candi Tondowongso, memperkuat dugaan bahwa kawasan Gurah merupakan pusat peradaban penting Kadiri. Tondowongso adalah candi Hindu dimana arca Brahma dan Syiwa dengan pahatan halus ditemukan pada 2007.

Baca juga: Gayatri Rajapatni: Mastermind Politik Kejayaan Majapahit

Saat ini, pengelolaan situs menerapkan konsep Heritage Spotting Area. Hanya 8 m² area yang dibuka untuk publik demi pelestarian situs. Artefak besar seperti makara dan Dwarapala sementara waktu dikubur kembali. Sedangkan fragmen seperti kepala Buddha disimpan di Museum Bhagawanta Bari. Lahan tempat ditemukannya situs tetap dimiliki keluarga Syamsudin. Pemerintah melibatkan putranya, yaitu Ikhwanil Kiram menjadi juru pelihara resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Adan-adan juga menjadi nama salah satu prasasti, yang terdiri dari 17 lempeng Tembaga. Prasasti Adan-adan yang bertarikh 1301 M ditemukan di Bojonegoro. Keduanya tampak memiliki kesamaan nama. Situs Adan-Adan karena nama desa tempat ditemukannya bernama Adan-Adan. Di sisi lain, Prasasti Adan-Adan memang berisi penetapan Desa Adan-Adan sebagai Sima. Tanah bebas pajak. Prasasti ditemukan di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur oleh Mardjuki. Prasasti Adan-Adan kini disimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, Jawa Timur.

Pagoda Ba Vang di Vietnam: Bisa Ngapain Aja?

0
Pagoda Ba Vang adalah tempat ibadah umat Buddha sekaligus destinasi wisata di Vietnam.
Pagoda Ba Vang adalah salah satu pagoda umat Buddha Vietnam yang menjadi tempat wisata.

Datang ke Ba Vang Pagoda bukan cuma soal foto-foto. Banyak pengalaman yang bisa kamu rasakan langsung. Seperti ikut retret meditasi dan sesi dharma talk. Hadir di festival lampion, Vu Lan, atau festival awal tahun lunar. Jalan santai di hutan pinus sambil dengar denting lonceng dari vihara. Ziarah relik Buddha dan artefak Truc Lam. Atau sekedar duduk tenang, tarik napas, dan benar-benar healing. Menyadari kehadiran diri 100% di sini dan saat ini.

Banyak pengunjung bilang, suasana di Ba Vang bikin hati lebih ringan dan pikiran lebih jernih.

Arti Nama Pagoda Ba Vang yang Penuh Makna

Nama Ba Vang berarti tiga gunung emas. Mewakili tiga gunung yang mengelilingi lokasi vihara. Dalam filosofi Buddhis, tiga gunung ini melambangkan: kebijaksanaan, moralitas, dan welas asih. Secara feng shui, Ba Vang dipercaya sebagai titik pertemuan energi alam. Nggak heran kalau banyak orang merasa suasana di tempat ibadah umat Buddha ini “berbeda”.

Baca juga: Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh: Singa Emas yang Terlupakan

Cara Menuju Lokasi dari Hanoi

Dari Hanoi ke lokasi pagoda ini berjarak sekira 120–130 km. Dengan waktu tempuh 2–2,5 jam via jalan tol yang tersedia. Jika perjalanan dilakukan dari Vietnam Selatan atau luar negeri. Kita harus terbang ke Cat Bi, Van Don, atau Noi Bai. Lalu lanjut ke Uong Bi.

Bisa sekalian mampir ke lokasi wisata lainnya. Seperti Yen Tu, Ha Long Bay, atau Sun World Ha Long. Aksesnya mudah dan cocok buat trip singkat maupun liburan panjang.

Tips Biar Healing Makin Maksimal

Meski menjadi destinasi wisata yang terbuka untuk semua orang. Hal yang harus diingat adalah bahwa Pagoda Ba Vang adalah tempat ibadah umat Buddha. Jadi gunakan pakaian sopan dan tertutup, Jaga ketenangan, hindari suara berisik. Selain itu, jagalah kebersihan, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Waktu terbaik berkunjung ke pagoda ini adalah pada awal tahun lunar, hari besar Buddhis, atau Vu Lan. Sehingga kamu bisa merasakan atmosfer perayaan hari-hari besar di lokasi premium ini.

Dengan arsitektur megah, alam yang menenangkan, dan sejarah spiritual yang kuat. Ba Vang Pagoda Quang Ninh bukan cuma destinasi wisata religi. Ini tempat buat berhenti sejenak, menata ulang pikiran, dan pulang dengan hati yang lebih tenang.

Sumber: Sun Paradise Land

Renovasi Plum Village Telah Mendapat Persetujuan Resmi

1
Rencana renovasi Plum Village libatkan MVRDV dan telah disetujui otoritas lokal di Perancis.
Rencana renovasi Plum Village libatkan MVRDV dan telah disetujui otoritas lokal di Perancis.

Baru-baru ini, saya menyimak kabar tentang disetujuinya rencana pembangunan untuk renovasi biara Plum Village. Sebuah biara Buddhis yang terletak di wilayah Dordogne selatan, Prancis. Izin tersebut diberikan oleh otoritas setempat kepada komunitas biara. Sebagai bagian dari upaya menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan komunitas spiritual yang terus berkembang. Di balik rancangan tersebut, terlibat studio arsitektur ternama asal Belanda, MVRDV. Studio yang telah bekerja sama erat dengan biara sejak 2023 silam.

Plum Village didirikan pada 1982 oleh Bhikkhu Thich Nhat Hạnh. Seorang bhiksu asal Vietnam yang juga merupakan tokoh sentral dalam gerakan Engaged Buddhism. Biara ini sekarang menjadi biara Buddhis terbesar di Eropa. Kompleksnya terdiri dari tiga lokasi, termasuk Upper Hamlet untuk para bhiksu dan Lower Hamlet untuk para bhiksuni. Setiap tahunnya, ribuan pengunjung datang untuk mengikuti retret meditasi. Sehingga kapasitas infrastruktur pun mulai tidak memadi. Pada masa puncak, beberapa bhiksu atau bhiksuni bahkan rela tidur di tenda, demi memberi ruang bagi para tamu. Pernah dalam satu masa retret total peserta yang datang berjumlah 800 orang.

Plum Village Menjawab Tantangan

Untuk menjawab tantangan ini, Plum Village menggandeng MVRDV, arsitek pendamping MoonWalkLocal, serta konsultan teknis seperti OTEIS, VPEAS, dan Emacoustic. Tujuannya adalah guna menyusun dua masterplan terpadu, baik untuk Upper Hamlet maupun Lower Hamlet. Pada Desember 2025, Dewan Kota Thenac dan Loubes-Bernac memberikan izin pembangunan untuk fase pertama proyek tersebut.

Rencana yang disetujui mencakup pembangunan empat rumah tamu komunal berbahan kayu, renovasi toko buku biara (yang berada di bekas lumbung batu), serta pembangunan vihara bhiksuni baru di Lower Hamlet. Semua elemen dirancang dengan prinsip nirlaba dan berorientasi pada keberlanjutan: menggunakan material sirkular, berbasis hayati seperti kayu dan insulasi jerami, serta meminimalkan jejak karbon—selaras dengan nilai-nilai ekologis yang menjadi inti praktik Engaged Buddhism.

Rancangan Kolaboratif

Proses perancangan sendiri bersifat partisipatif. Tim arsitek mengadakan serangkaian lokakarya dengan para bhiksu dan bhiksuni untuk memahami ritme kehidupan, kebutuhan spiritual, dan hubungan mereka dengan lingkungan. Seperti diungkapkan Sanne van der Burgh, Associate Director MVRDV, “Kami harus ‘melupakan’ banyak hal yang kami pelajari sebagai arsitek… Kehidupan yang mereka jalani sangat berbeda dari pengguna yang biasanya kami rancang.”

Hasilnya adalah desain yang responsif dan rendah hati. Rumah tamu dibentuk dalam konfigurasi huruf U, mengelilingi ruang bersama untuk lingkar Dharma, dengan akses melalui tangga luar, balkon, dan beranda yang memperkuat koneksi dengan alam. Vihara bhiksuni—yang akan menampung 76 anggota monastik dari 12 negara—dirancang sebagai bangunan halaman dalam berbahan kayu prefabrikasi, lengkap dengan zendo, perpustakaan, ruang kelas, dan area komunal.

Aspek lingkungan juga menjadi prioritas renovasi Plum Village. Masterplan mengintegrasikan strategi lanskap seperti penciptaan habitat burung untuk pengendalian nyamuk, penempatan panel surya, serta pengurangan lalu lintas kendaraan demi menjaga suasana kontemplatif.

Bagi pembaca di Indonesia—negara dengan warisan Buddhis yang panjang dan komunitas spiritual yang dinamis—proyek ini menawarkan wawasan berharga: bahwa arsitektur religius kontemporer dapat menjadi medium untuk mewujudkan harmoni antara spiritualitas, komunitas, dan ekologi. Di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim, pendekatan Plum Village menunjukkan bahwa merancang ruang suci bukan hanya soal bentuk, tetapi juga tentang mendengarkan—secara mendalam—cara hidup yang ingin diwadahi.

Dalam konteks Indonesia dengan keberagaman budaya yang demikian kaya. Pembangunan tempat ibadah selain soal ramah lingkungan, faktor pelestarian budaya lokal juga perlu diperhatikan. Tantangannya bagaimana mengintrodusir arsitektur etnik kontemporer yang unik untuk vihara di berbagai wilayah Indonesia.

Sumber: Archdaily.Com

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna