Page 6

Asosiasi Buddhis Tiongkok Bentuk Komite Pengawas Pertama

1
Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) untuk pertama kalinya memilih komite pengawas.
Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) untuk pertama kalinya memili komite pengawas.

Kongres Nasional ke-11 Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) berlangsung di Beijing pada 28–29 Desember 2025. Dalam kongres tersebut, untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi itu, dibentuk Komite Pengawas. Sebuah badan baru yang bertugas mengawasi kinerja dan tata kelola internal asosiasi.

Sebanyak 547 perwakilan Buddhis dari tiga tradisi utama (Sanskerta, Pali, dan Tibet), yang berasal dari 31 provinsi, wilayah otonom, dan kota setingkat provinsi hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka didampingi oleh 106 perwakilan undangan khusus. Hadir pula Duan Yijun, Wakil Menteri Departemen Kerja Front Persatuan Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok sekaligus Kepala Administrasi Urusan Agama Nasional, yang menyampaikan pidato resmi.

Presiden BAC dan Kepala Pengawas Baru

Kongres memilih Yanjue sebagai presiden BAC periode ke-11, menggantikan kepemimpinan sebelumnya. Selain itu, kongres juga memilih anggota Dewan dan Dewan Tetap BAC periode 2025–2030.

Adapun yang menjadi sorotan adalah pembentukan Komite Pengawas pertama BAC. Bhiksu Zhengci, mantan wakil presiden BAC periode sebelumnya. Terpilih sebagai Kepala Pengawas. Dengan jabatan baru ini, Zhengci tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden.

Zhengci, lahir di Daye, Provinsi Hubei, pada 1971, ditahbiskan sebagai bhikkhu pada April 1983. Ia sebelumnya menjabat sebagai Presiden Asosiasi Buddhis Provinsi Hubei, serta menjadi kepala vihara di Wuzu Temple di Huangmei. Juga di Vihara Honghua yang berlokasi di Gunung Dongfang, Huangshi. Pengalaman kepemimpinannya di tingkat lokal dan nasional menjadikannya figur sentral dalam struktur baru BAC ini.

Pembentukan Komite Pengawas di tingkat nasional mengikuti tren yang telah berkembang di sejumlah daerah. Sejak beberapa tahun terakhir, asosiasi Buddha di Shenyang (Liaoning), Jinjiang (Fujian), dan Provinsi Jilin telah membentuk komite serupa. Menurut pengumuman sebelumnya dari Asosiasi Buddha Shenyang. Komite pengawas lokal beroperasi berdasarkan prinsip “kepemimpinan kolektif, sentralisme demokratis, diskusi menyeluruh, dan pengambilan keputusan melalui rapat”. Tugas utamanya mencakup pengawasan internal, evaluasi kebijakan, serta pengembangan pendekatan kerja organisasi.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya BAC untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan transparansi, dan menyesuaikan diri dengan arahan kebijakan keagamaan pemerintah Tiongkok yang menekankan pada “sinifikasi agama” dan integrasi nilai-nilai sosialis.@esa

Jejak Sunyi Shaolin Afrika

1
Shaolin dari Henan Tiongkok berakar pada Chan Buddhisme. Kini telah berdiri pusat budayanya di Afrika. Shaolin Afrika menjadi pemandangan menarik.
Jejak sunyi Shaolin Afrika. Dari Henan Tiongkok chan Buddhisme akhirnya tiba di Afrika membawa kungfu shaolin.

Beberapa dari kita mungkin kerap mendapatkan FYP di akun media sosial kita yang bertema “Shaolin Afrika”. Konten tersebut biasanya menampilkan anak-anak Afrika, berjubah Shaolin sedang mendemonstrasikan kungfunya. Mereka diawasi seorang dewasa, yang juga berpenampilan pelontos dan berjubah Shaolin. Tampak kedisiplinan dan ketepatan gerak yang memukau dari anak-anak tersebut. Salah satu yang kerap muncul adalah akun dari Zambia.

Pusat Budaya Shaolin di Lusaka Afrika

Jika diamati dari latar video tempat mereka berlatih. Ini tampaknya adalah Cultural Center of Shaolin Temple di Lusaka, ibu kota Zambia. Pusat budaya ini dibuka pada 2021. Ia bukan sekadar sekolah bela diri, melainkan simpul kecil dari tradisi panjang Shaolin yang berakar pada Buddhisme Chan (Zen) di Tiongkok. Secara historis, Kuil Shaolin di Gunung Song, Henan, adalah vihara Buddhis sejak abad ke-5. Di sanalah ajaran meditasi Chan berpadu dengan latihan fisik, melahirkan tradisi kung fu sebagai disiplin tubuh dan batin—cara para bhiksu menjaga kesehatan, ketahanan, dan konsentrasi dalam praktik Dharma.

Di Lusaka, warisan itu hadir dalam bahasa yang lebih universal. Setiap sore, suara hentakan kaki dan teriakan latihan menggema dari kompleks sederhana di pinggiran kota. Para murid—disebut Shaolin disciples—datang dari berbagai latar belakang, sebagian besar remaja yang sebelumnya memiliki sedikit pilihan hidup. Mereka belajar jurus, mengatur napas, menguatkan tubuh, sekaligus menyerap nilai disiplin, ketekunan, dan pengendalian diri—nilai yang sejak berabad-abad lalu menjadi bagian dari etos monastik Shaolin.

Agama Buddha di Afrika

Pusat budaya ini membawa jejak Agama Buddha secara halus ke Afrika. Kungfu di sini bukan semata seni bertarung, melainkan latihan membentuk karakter. “Shaolin bukan hanya tentang gerak, tetapi tentang membangun diri,” ujar salah seorang pelatih. Di sela latihan, anak-anak itu bermain sepak bola, menabuh genderang, dan berbincang tentang mimpi mereka. Tubuh bergerak, tetapi batin juga diarahkan.

Empat tahun sejak dibuka, Cultural Center of Shaolin Temple di Zambia telah melampaui fungsinya sebagai sekolah kungfu. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas benua: tradisi Buddhis Chan yang lahir di Tiongkok bertemu dengan realitas sosial Afrika. Di sana, Shaolin hadir bukan sebagai agama yang dikhotbahkan, melainkan sebagai laku hidup—disiplin, kesabaran, dan harapan.

Di tengah dunia yang serba cepat, pusat kecil di Lusaka itu mengingatkan kita bahwa Dharma dapat menempuh jalan sunyi. Kadang ia tidak datang lewat kitab atau ritual. Melainkan lewat hentakan kaki, tarikan napas, dan tubuh-tubuh muda yang belajar berdiri tegak menghadapi hidup. Sebuah upaya kausalya dalam mewujudkan kebahagiaan bagi semua makhluk. @eddy setiawan

Baca juga: News.Cn

Dari Chinese ke Han Buddhism: Sinifikasi Agama Buddha Tibet

1
Dari chinese ke han buddhism: upaya sinifikasi Agama Buddha Tibet
Dari chinese ke han buddhism: upaya sinifikasi Agama Buddha Tibet

Pada 10–11 Januari 2026, Universitas Tsinghua di Beijing menyelenggarakan sebuah simposium.  Temanya adalah “Simposium 2026 tentang Studi Buddhisme Han–Tibet”. Sebuah forum yang menghimpun sekitar 50 akademisi dan tokoh keagamaan. Termasuk para biksu dan khenpo (kepala vihara). Mereka berasal dari berbagai biara utama aliran Nyingma di Tibet dan wilayah etnis Tibet di Tiongkok. Simposium ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Buddhisme Han–Tibet. Institusi yang berada di bawah Fakultas Humaniora ini, berfokus pada sejarah, tokoh, dan ajaran aliran Nyingma.

Salah satu aspek menarik dari kegiatan ini adalah pergeseran terminologis yang tampaknya sedang dikembangkan dalam wacana resmi. Penggunaan istilah “Agama Buddha Han” (Han Buddhism) menggantikan “Agama Buddha Tiongkok” (Chinese Buddhism). Dalam kerangka ini,  keduanya tampak diposisikan sebagai dua komponen tradisi etnis dalam Agama Buddha yang lebih luas. Secara kolektif seluruhnya disebut sebagai bagian dari warisan budaya Tiongkok yang unggul.

Soal Rasa Kebersamaan Bangsa Tiongkok

Dalam pidato pembukaannya. Profesor Shen Weirong, Direktur Pusat Studi Buddhisme Han–Tibet. Menjelaskan bahwa studi Buddhis tidak hanya merupakan upaya akademik, tetapi juga berkontribusi pada penguatan “rasa kebersamaan sebagai komunitas bangsa Tiongkok”. Menurutnya, dialog antara kalangan akademik dan komunitas keagamaan, sebagaimana terjadi dalam simposium tersebut. Merupakan bentuk konkret dari “adaptasi Buddhisme ke dalam konteks Tiongkok”.

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong “sinifikasi agama”. Suatu proses penyesuaian praktik dan doktrin agama agar selaras dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan politik Tiongkok kontemporer. Dalam konteks Agama Buddha Tibet, hal ini mencakup upaya untuk menekankan keterkaitan historis dan budaya antara tradisi Tibet dan Tiongkok daratan, serta memperkuat narasi integrasi nasional.

Dari Chinese Buddhism ke Han Buddhism

Namun, pergeseran dari istilah “Agama Buddha Tiongkok” ke “Agama Buddha Han” juga membawa implikasi konseptual. Istilah “Tiongkok” bersifat geopolitik dan inklusif terhadap berbagai kelompok etnis, sedangkan “Han” merujuk pada kelompok etnis mayoritas. Dengan demikian, penggunaan istilah “Han” berpotensi mengubah cara Agama Buddha Tibet dipahami. Tidak lagi sebagai sesuatu yang bersifat asing, tapi bagian dari spektrum internal yang beragam sejajar dengan etnis lainnya.

Di sisi lain, partisipasi aktif para tokoh keagamaan Tibet dalam forum semacam ini menunjukkan adanya ruang dialog antara negara dan komunitas religius. Biara-biara seperti Samye, Mindrolling, Dzogchen, Palyul, dan Larung Gar turut mengirimkan perwakilan, yang mengindikasikan tingkat keterlibatan tertentu dari kalangan internal Buddhisme Tibet terhadap wacana resmi ini.

Penting untuk dicatat bahwa proyek sinifikasi agama di Tiongkok bukanlah fenomena baru. Namun suatu evolusi terminologis dan pendekatan akademik. Seperti yang terlihat dalam simposium Tsinghua, yang menandai tahap baru dalam upaya tersebut. Tentu menarik untuk dibahas lebih dalam soal akurasi historis dan teologisnya. Selain tentunya, soal bagaimana identitas agama dikelola dalam kerangka negara-bangsa modern.

Dalam konteks global, di mana banyak tradisi agama menghadapi tantangan adaptasi terhadap realitas sosial-politik kontemporer. Kasus Agama Buddha Tibet di Tiongkok menawarkan contoh kompleks tentang interaksi antara agama, identitas etnis, dan kebijakan negara. Bagaimana keseimbangan antara pelestarian tradisi dan integrasi nasional akan terus menjadi isu yang layak diamati. Baik oleh pemerhati agama, kewarganegaraan, sejarawan, maupun pengamat kebijakan publik.@eddy setiawan

Cyber NamuNamu: Mantra Buddha, Musik, & Pengalaman Imersif

1
Cyber NamuNamu memadukan mantra Buddha, Musik Elekronik dan visual digital imersif untuk suatu pengalaman spiritual baru.
Cyber NamuNamu memadukan mantra Buddha, musik elektronik dan visual digital imersif untuk pengalaman spiritual baru.

Proyek bernama Cyber NamuNamu dapat diposisikan pada ruang di antara ritual keagamaan dan lantai dansa klub malam. Namun, ia bukan sekadar konser, bukan pula sekadar pertunjukan seni visual. Cyber NamuNamu adalah pengalaman spiritual kontemporer: perpaduan lantunan sutra Buddha, musik elektronik berdentum, dan visual digital imersif yang membawa penonton ke ruang batin yang sama sekali baru.

Penggagas Cyber NamuNamu

Proyek ini digagas oleh Madoka Kohno pada tahun 2018. Ia berangkat dari pengalaman personalnya menghadapi depresi berat. Pada masa kelamnya itu, Kohno menemukan sebuah video YouTube berjudul Techno Hoyo. Sebuah upacara memorial Buddhis yang dipadukan dengan musik dan visual 3D. Alih-alih terasa asing, pengalaman itu justru memberinya rasa lega dan harapan. “Saya merasa bisa kembali ke masyarakat,” kenangnya. Dari situlah muncul keinginan untuk membagikan pengalaman penyembuhan itu kepada orang lain.

Cyber NamuNamu kemudian berkembang menjadi proyek kolaboratif. Kohno tampil bersama dua bhiksuni dari aliran Buddhisme Tanah Suci, Hourin dan Mikou. Hourin melantunkan sutra, sementara Mikou mengisi ruang dengan suara saksofon yang melayang di antara irama elektronik. Musiknya digubah bersama komposer Ryoji Sato dan Yuki Kawamura, yang meramu beat modern agar selaras dengan pola chanting tradisional.

Pertunjukan mereka telah hadir di berbagai ruang: dari festival seni digital di Shibuya, museum seni kontemporer Tokyo, kuil Tsukiji Hongwanji, hingga universitas di Amerika Serikat. Dalam satu penampilan di sebuah bar musik kecil di Shinjuku, suasana dimulai dengan lantunan sutra yang stabil, diiringi layar-layar bercahaya menampilkan kota futuristik dan mandala digital yang berdenyut mengikuti irama. Sebagian penonton menari, sebagian lain berdiri diam dengan mata terpejam. Tak ada aturan baku tentang bagaimana “seharusnya” merespons—setiap orang dipersilakan menemukan maknanya sendiri.

Mujo dan Engi di Dunia Digital dan AI

Bagi Kohno, kata “cyber” bukan sekadar gaya visual. Ia adalah cara menerjemahkan Buddhisme ke dalam dunia hidup manusia hari ini—dunia yang dipenuhi AI, sistem digital, dan realitas virtual. Ia tidak bermaksud menciptakan ajaran baru. Justru sebaliknya, ia percaya bahwa kebijaksanaan Buddhis sudah relevan untuk zaman ini. Konsep mujō (ketidakkekalan) dapat membantu manusia menghadapi perubahan teknologi tanpa rasa takut berlebihan. Sementara engi (saling ketergantungan) dapat dibaca sejajar dengan cara kerja sistem digital seperti blockchain.

Salah satu karya paling mencolok adalah remix berdurasi 19 menit dari Amitabha Sutra, di mana patung-patung emas Buddha melayang di langit malam Tokyo digital. Di sini, dunia suci dan kota modern tidak dipertentangkan, melainkan dipertautkan.

Kehadiran Cyber NamuNamu menjadi penting di tengah krisis sunyi Agama Buddha di Jepang, di mana banyak orang kini hanya berhubungan dengan ritual Buddha saat kematian. Kohno sendiri mengakui bahwa dulu ia memandang Agama Buddha sebatas urusan akhirat. Kini, ia melihatnya sebagai kunci menghadapi tekanan hidup modern.

Menariknya, audiens Cyber NamuNamu sangat beragam. Di venue musik, mereka menarik generasi usia 20 hingga 50 tahun. Di kuil, sering kali hadir keluarga lintas tiga generasi. Bagi Kohno, keberhasilan terbesar bukanlah jumlah penonton, melainkan momen-momen sederhana ketika seseorang berkata, “Pikiran saya terasa lebih tenang.”

Cyber NamuNamu menunjukkan bahwa Dharma tidak harus terkurung dalam bentuk-bentuk lama. Ia bisa berdentum, berkilau, dan berdenyut dalam bahasa zaman—tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Sumber: The Japan Times

Walk for Peace dan Persahabatan Martin Luther-Thich Nhat Hanh

1
Walk for Peace oleh 19 bhikkhu mulai Oktober 2025 lalu disambut hangat warga negara Amerika Serikat. Ini mengingatkan kembali pada persahabatan presiden Amerika Martin Luther King Jr dengan Bhiksu Thich Nhat Hanh. Keduanya soal perdamaian.
Warga Negara Amerika Serikat mendamba kedamaian, sehingga Walk for Peace oleh 19 bhikkhu Buddha disambut begitu hangat. Ini mengingatkan pada persahabatan presiden Amerika Serikat Martin Luther King Jr dan Bhiksu Thich Nhat Hanh.

Awal 2026 dunia menyaksikan sesuatu yang sederhana namun menyentuh hati. Sebanyak 19 bhikkhu Buddha memulai perjalanan kaki sejauh 2.300 mil. Dari Huong Dao Vipassana Bhavana Center di Fort Worth, Texas, menuju Washington, D.C. Mereka menamakannya Walk for Peace. Perjalanan damai ini dimulai pada 26 Oktober 2025 dan direncanakan akan berlangsung selama 120 hari. Harapannya, rombongan para bhiksu ini akan tiba di ibu kota Amerika Serikat pada 13 Februari 2026.

Mereka tak membawa spanduk besar atau megafon, melainkan langkah-langkah sunyi yang penuh kesadaran. Melakukan meditasi berjalan, dan memancarkan perdamaian dan kasih sayang bagi semua makhluk. Perjalanan ini juga ditujukan untuk menabur benih kedamaian, di tengah masyarakat yang sedang terbelah. Sepanjang jalan, mereka disambut hangat oleh warga Amerika. Ditawari makanan, tempat berteduh, bahkan dukungan moral. Salah seorang warga bahkan mendonasikan mobilnya untuk kegiatan ini.

Maskot Walk for Peace: Aloka

Perjalanan para bhikkhu ini juga ditemani seekor anjing bernama Aloka. Dalam salah satu unggahan viral di media sosial oleh seorang netizen Amerika. Bhikkhu Pannakara, pemimpin Walk for Peace, menyatakan:

“Di India, beberapa anjing sempat mengikuti kami selama perjalanan. Tapi Aloka-lah yang paling setia. Ia bahkan sempat menghilang di tengah jalan—namun entah bagaimana, ia berhasil menemukan kembali rombongan dan terus mengikuti sampai perjalanan selesai. Karena itulah kami memberinya nama Aloka, yang berarti ‘cahaya’. Kemudian kami pun mengadopsi dan membawanya ke Amerika Serikat.”

Kehadirannya kini menjadi simbol kepolosan, ketulusan, dan persahabatan lintas spesies yang menyentuh hati banyak orang—bahkan menarik perhatian luas di media sosial.

Perjalanan ini mengingatkan kita pada sebuah persahabatan lintas benua dan tradisi yang lahir puluhan tahun lalu: antara Martin Luther King Jr. dan Thich Nhat Hanh—dua tokoh yang sama-sama meyakini bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan kehadiran cinta, keadilan, dan saling pengertian.

Saat Api Menjadi Damai

Pada 11 Juni 1963, di persimpangan jalan Saigon, Bhikkhu Thich Quang Duc duduk dalam posisi meditasi dan membakar dirinya sebagai protes terhadap diskriminasi terhadap umat Buddha di bawah rezim Vietnam Selatan. Aksi itu, yang diabadikan dalam foto ikonik oleh Malcolm Browne, mengguncang dunia—bukan karena kekerasannya, tapi karena kedamaian yang tetap ia pertahankan di tengah nyala api.

Dalam suratnya kepada Martin Luther King Jr. pada 1 Juni 1965, Thich Nhat Hanh menjelaskan bahwa tindakan seperti itu bukan bunuh diri, melainkan pengorbanan penuh kasih—upaya membangunkan hati dunia terhadap penderitaan yang selama ini tak terlihat. Ia menulis:

“Musuh sejati manusia bukanlah sesama manusia, melainkan intoleransi, fanatisme, kebencian, dan diskriminasi yang bersarang dalam hati.”

Persahabatan yang Mengubah Dunia

Surat itu menjadi jembatan. Pada 31 Mei 1966, King dan Hanh bertemu di Chicago. Dari percakapan itu, King semakin yakin bahwa perjuangan hak sipil di Amerika tak bisa dipisahkan dari seruan perdamaian global—termasuk penolakan terhadap Perang Vietnam. Setahun kemudian, King mencalonkan Hanh untuk Hadiah Nobel Perdamaian.

Hubungan mereka bukan sekadar kolaborasi politik, melainkan pertemuan dua jiwa yang percaya: perubahan sosial dimulai dari dalam. Bahwa kita harus menjadi damai terlebih dahulu, sebelum bisa menciptakan dunia yang damai.

Hari ini, Walk for Peace menjadi kelanjutan dari semangat itu. Para bhikkhu tak datang untuk menghakimi atau menuntut, tapi untuk hadir—dengan diam, dengan senyum, dengan langkah yang penuh perhatian. Mereka menghidupkan kembali gagasan beloved community: komunitas yang dibangun bukan atas dasar kesamaan, tapi atas dasar welas asih yang melampaui perbedaan.

Di tengah hiruk-pikuk opini, polarisasi, dan kebisingan digital, perjalanan ini adalah undangan lembut: mari kembali pada kehadiran yang utuh, pada hubungan yang tulus, pada keyakinan bahwa damai bukan hanya tujuan—tapi juga cara kita melangkah.

Damai Adalah Jalan Itu Sendiri

Martin Luther King Jr. pernah berkata:

“Kebencian tidak pernah mengusir kebencian; hanya cinta yang bisa melakukannya.”

Thich Nhat Hanh menambahkan:

“Tidak ada jalan menuju perdamaian. Perdamaian adalah jalannya.”

Dua kalimat ini menyatu dalam setiap langkah para bhikkhu—dan bahkan dalam langkah kecil Aloka yang setia mengikuti dari belakang. Mereka tak menolak dunia, tapi menawarkan cara lain untuk berada di dalamnya: dengan hati yang terbuka, pikiran yang tenang, dan tekad untuk terus berjalan bersama, meski jalan itu panjang.

Karena pada akhirnya, damai bukan hanya sesuatu yang kita impikan di masa depan.
Damai adalah cara kita berjalan hari ini—di jalan raya, di ruang publik, dan di dalam relasi kita satu sama lain.@eddy setiawan

Bacaan Lanjutan:

Edward Tick, Lion’s Roar

Jeremy Davi Engels, The Conversation

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna