Page 19

Suksesi Pengurus Institut Nagarjuna

1
Kepengurusan Institut Nagarjuna Periode 2020-2025 di bawah Ketua Umum Isyanto telah berakhir. Suksesi pun diadakan dan terpilih Eddy Setiawan sebagai ketua umum periode 2025-2030.
Institut Nagarjuna telah mengadakan pergantian kepengurusan dengan berakhirnya masa kepengurusan periode 2020-2025.

Pengurus Institut Nagarjuna periode sebelumnya, pada November 2025 telah purna tugas. Ketua Pengurus IN, Isyanto dan jajaran mengakhiri masa kepengurusannya selama 2 periode. Hal ini dilakukan dengan mengadakan Rapat Pleno Lengkap. Rapat dihadiri Pembina, Pengurus, dan Pengawasan yayasan, dengan materi mengenai laporan pertanggungjawaban dan suksesi pengurus.

Kegiatan diadakan di Wisma STI yang terletak di bilangan Jakarta Selatan, pada Minggu 2 November 2025. Di wisma yang lebih akrab disebut umat Buddha sebagai vihara Pondok Labu. Isyanto membacakan Laporan pertanggungjawaban pengurus yang dipimpinnya. Setelah didialogkan antara pembina, pengurus, dan pengawas LPJ dapat diterima dengan baik.

Pembina dan pengawas hanya berpesan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan eksistensi IN sebagai lembaga kajian dan pengembangan umat Buddha, dapat makin diterima. Program yang sudah berjalan dengan baik dan rutin seperti Sekolah Kepemimpinan Buddhis perlu dilanjutkan. Apalagi informasi terakhir, masyarakat di beberapa daerah masih berharap IN mengadakan kegiatan kembali di wilayahnya.

Salah satu kekuatan IN menurut para Pembina dan Pengawas adalah kemampuan IN mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang aliran atau majelis. Latar belakang pengurus IN yang beragam, dan karakter inklusif para aktivisnya membuat suasana pelatihan penuh keterbukaan dan jauh dari eksklusitas sektarian. Hal demikianlah yang tampaknya dirindukan sebagian besar kaum muda yang menjadi peserta kegiatan IN. Suasana demikian membuat umat dapat merasakan harmoni, selain materi-materi kebangsaan dalam kegiatan. Selain itu IN ke depan juga diharapkan lebih intensif untuk mempublikasikan kajian-kajiannya. Baik kajian ringan melalui website IN maupun yang lebih serius melalui berbagai jurnal yang ada.

Suksesi Pengurus: Eddy Setiawan Ketua Umum IN 2025-2030

Sementara pemilihan ketua dilakukan dengan musyawarah mufakat, dan memberikan kepercayaan kepada Eddy Setiawan sebagai Ketua IN 2025-2030. Sedangkan Manggala Wirya Tantra sebagai Sekretaris, dan memberikan hak sepenuhnya kepada Pembina sesuai AD/ART untuk menentukan sususan pengurus ke depan. Pembentukan kepengurusan, akan menyesuaikan kebutuhan dan perkembanan organisasi. Diharapkan melalui suksesi pengurus ini, IN akan benar-benar dapat mengisi bidang yang belum cukup banyak digarap komunitas Buddhis di Indonesia.@sekretariat

Baca juga: Institut Nagarjuna Sukses Luncurkan Sekolah Kepemimpinan Muda

Apa itu Sunyata: Konsep Kekosongan dalam Agama Buddha

0
Apa itu sunyata? Filsafat Kekosongan dalam Agama Buddha.

Apa Itu Sunyata?

Sunyata adalah konsep dalam Buddhisme yang menyatakan bahwa semua fenomena tidak memiliki keberadaan mandiri, melainkan muncul karena sebab dan kondisi (Cheng, 1982). Bagian ini akan menjawab pertanyaan apa itu sunyata.

Makna Kekosongan

Sunyata bukan berarti:

  • tidak ada
  • nihilisme

Melainkan:

tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri

Contoh Sederhana

Sebuah meja:

  • terdiri dari bagian-bagian
  • bergantung pada fungsi dan persepsi

Maka “meja” tidak memiliki esensi tetap.

Sunyata dan Pratityasamutpada

Sunyata berkaitan dengan:

👉 sebab-akibat bergantungan

sesuatu kosong karena muncul bergantung

Kesalahpahaman Umum

Sunyata = tidak ada
Sunyata = nihilisme

Yang tepat adalah:

Sunyata = relasionalitas

Implikasi Filosofis

Sunyata berdampak pada:

  • cara memahami realitas
  • cara berpikir
  • praktik etika

Relevansi

Konsep ini membantu:

  • mengurangi keterikatan
  • memahami perubahan
  • membuka welas asih

Konsep ini merupakan inti dari ajaran Nagarjuna dalam Madhyamaka. Lihat penjelasan lengkap di Nagarjuna, Madhyamaka, dan Sunyata: Fondasi Rasional Buddhadharma

FAQ

Apa yang dimaksud sunyata?
Konsep bahwa semua fenomena tidak memiliki keberadaan mandiri.

Apakah sunyata nihilisme?
Tidak.

Apa Itu Madhyamaka? Filsafat Jalan Tengah Nagarjuna

0
Apa itu Madhyamaka? filsafat jalan tengah dari Nagarjuna

Apa Itu Madhyamaka?

Madhyamaka adalah aliran filsafat Buddhis yang dirumuskan oleh Nagarjuna yang menekankan Jalan Tengah, yakni menghindari dua ekstrem: eternalism dan nihilism (Garfield, 1995). Artikel ringkas ini akan menjawab apa itu Madhyamaka.

Jalan Tengah dalam Madhyamaka

Madhyamaka menolak:

  • Eternalisme → keyakinan bahwa sesuatu memiliki esensi tetap
  • Nihilisme → keyakinan bahwa tidak ada apa pun

Nagarjuna menunjukkan bahwa kedua pandangan ini tidak dapat dipertahankan secara logis.

Metode Prasanga

Pendekatan utama Madhyamaka adalah:

  • membongkar argumen lawan
  • menunjukkan kontradiksi
  • tidak membangun posisi sendiri

Metode ini disebut prasanga (Cheng, 1982).

Dua Kebenaran

Madhyamaka mengenal:

  1. Kebenaran konvensional
  2. Kebenaran ultim

Namun keduanya tidak terpisah, melainkan saling bergantung.

Hubungan dengan Sunyata

Madhyamaka tidak dapat dipisahkan dari konsep sunyata:

segala sesuatu kosong karena muncul secara bergantung

Mengapa Madhyamaka Penting?

Karena:

  • membongkar cara berpikir absolut
  • menjadi dasar filsafat Mahayana
  • membuka pendekatan kritis dalam Buddhadharma

Relevansi Modern:

Madhyamaka relevan untuk:

  • filsafat kritis
  • pluralisme
  • dialog antaragama

Filsafat ini tidak dapat dipisahkan dari tokohnya. Baca juga artikel utama tentang Nagarjuna, Madhyamaka, dan Sunyata: Fondasi Rasional Buddhadharma

FAQ

Apa itu Madhyamaka?
Filsafat Jalan Tengah yang menghindari ekstrem.

Apakah Madhyamaka nihilisme?
Tidak, justru menolak nihilisme.

Filsuf Buddhis Nagarjuna dan Pengaruhnya

0
Siapa filsuf Buddhis Nagarjuna dan bagaimana pengaruhnya?

Siapa Nagarjuna?

Filsuf Buddhis Nagarjuna hidup pada abad ke-2 Masehi. Ia adalah pendiri aliran Madhyamaka, salah satu tradisi paling berpengaruh dalam Buddhadharma (Buddhism) Mahayana. Ia dikenal karena pemikirannya yang radikal dalam membongkar asumsi tentang realitas, terutama melalui konsep sunyata atau kekosongan (Garfield, 1995).

Dalam sejarah Buddhadharma, filsuf Buddhis Nagarjuna sering disebut sebagai “Buddha kedua” karena perannya dalam menghidupkan kembali ajaran Prajnaparamita dalam bentuk filsafat yang sistematis.

Latar Belakang dan Kehidupan

Informasi historis tentang kehidupan filsuf buddhis Nagarjuna terbatas dan bercampur dengan tradisi. Ia diyakini berasal dari India Selatan dan hidup sekitar abad ke-2 M.

Beberapa sumber menyebut:

  • ia pernah menjadi sarjana Brahmana sebelum menjadi Buddhis
  • memiliki hubungan dengan pusat pembelajaran seperti Nalanda
  • menjadi penasihat raja

Selain itu, terdapat kisah simbolik bahwa ia memperoleh teks Prajnaparamita dari dunia naga (naga-loka), yang mencerminkan perannya sebagai penjaga kebijaksanaan. Oleh karena itulah umat Buddha membuatnya secara simbolik pada setiap arca. Filsuf Buddhis satu ini senantiasa dibuat dengan ular-ular di atas kepalanya.

Karya-Karya Utama Nagarjuna

Karya Nagarjuna membentuk fondasi filsafat Madhyamaka, di antaranya:

  • Mulamadhyamakakarika
  • Vigrahavyavartani
  • Shunyatasaptati
  • Yuktishashtika
  • Ratnavali
  • Suhrllekha

Karya-karya ini menunjukkan pendekatan filosofis yang tidak membangun sistem metafisika baru, tetapi membongkar asumsi yang keliru (Cheng, 1982).

Pendekatan Filsafat

Berbeda dari filsuf lain, filsuf Buddhis Nagarjuna tidak menawarkan teori tentang realitas. Ia justru:

  • mengkritik semua pandangan absolut
  • menunjukkan kontradiksi dalam konsep esensi tetap
  • menolak klaim kebenaran final

Pendekatan ini menjadikannya unik dalam sejarah filsafat global. Jalan tengah tidak berarti ia tepat di tengah-tengah antara dua kutub. Melainkan melingkupi dan mengatasi keduanya. Banyak yang menyebutnya sebagai non dualitas.

Pengaruh Nagarjuna

Pemikirannya berkembang luas:

  • Tibet → dasar filsafat Gelug dan Kagyu
  • Tiongkok → aliran Sanlun
  • Jepang → Zen dan Tendai

Ia dianggap sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh dalam Buddhadharma Mahayana (Williams, 2009).

Relevansi Nagarjuna Hari Ini

Pemikirannya relevan untuk:

  • kritik terhadap absolutisme
  • pemahaman pluralisme
  • pendekatan rasional terhadap agama

Dalam konteks Indonesia, pemikirannya membuka ruang bagi Buddhadharma sebagai tradisi intelektual yang dinamis.

FAQ Singkat

Siapa Nagarjuna?
Filsuf Buddhis Nagarjuna hidup pada abad ke-2 dan merumuskan Madhyamaka.

Mengapa Nagarjuna penting?
Karena ia memberikan dasar filosofis bagi Buddhadharma Mahayana.

Nagarjuna Pendiri Madhyamaka

0
Nagarjuna pendiri Madhyamaka memiliki Ikonografi dalam tradisi Buddhadharma Mahayana.
Nagarjuna kerap digambarkan lengkap dengan naga. Nagarjuna dan Madhyamaka mencakup sunyata, dua kebenaran dan relevansinya dalam konteks Indonesia.

Nagarjuna pendiri Madhyamaka adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah Buddhadharma, bahkan sering disebut sebagai “Buddha Kedua”. Ia tidak hanya mengubah arah filsafat Buddhis, tetapi juga membentuk cara manusia memahami realitas, kebenaran, dan hubungan antar makhluk hingga hari ini. Di tengah dunia modern yang penuh polarisasi, ekstremisme, dan krisis kebenaran, pemikirannya terasa semakin relevan. Ia menawarkan cara berpikir yang tajam tetapi tidak kaku, kritis tanpa jatuh pada nihilisme, dan mendalam tanpa kehilangan pijakan pada kehidupan sehari-hari.

Keturunan Brahmana yang Menjadi Bhiksu: Nagarjuna Pendiri Madhyamaka

Diperkirakan hidup sekitar abad ke-2 hingga ke-3 Masehi di India Selatan, Nagarjuna berasal dari latar belakang Brahmana—kelas intelektual tertinggi dalam masyarakat India pada masa itu. Hal ini memberinya bekal kuat untuk memahami dan mengkritik berbagai sistem filsafat dari dalam. Ia dikenal sebagai seorang jenius yang menguasai Veda, logika, dan metafisika, sebelum akhirnya mendalami Buddhadharma dan mengembangkan pendekatan yang benar-benar baru dalam memahami realitas.

Nama Nagarjuna sendiri sering dikaitkan dengan legenda tentang naga, makhluk simbolis yang melambangkan kebijaksanaan tersembunyi. Dikisahkan bahwa ia memperoleh ajaran Prajnaparamita dari dunia naga, sebuah metafora yang menggambarkan perannya sebagai pengungkap kembali ajaran kebijaksanaan mendalam yang sebelumnya tersembunyi. Namun di balik kisah simbolik tersebut, kontribusi utamanya bersifat sangat konkret: ia merumuskan fondasi filsafat Madhyamaka melalui karya-karya seperti Mulamadhyamakakarika, yang hingga kini menjadi salah satu teks paling penting dalam tradisi Buddhis Mahayana.

Pemikiran Nagarjuna tentang Kekosongan

Inti pemikiran Nagarjuna terletak pada kritiknya terhadap gagasan bahwa segala sesuatu memiliki esensi tetap. Ia menolak pandangan bahwa realitas terdiri dari unsur-unsur dasar yang berdiri sendiri. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa segala sesuatu bersifat saling bergantung. Dari sinilah muncul konsep Sunyata atau kekosongan—sebuah gagasan yang sering disalahpahami sebagai nihilisme, padahal justru sebaliknya. Kekosongan bukan berarti “tidak ada apa-apa”, melainkan menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki keberadaan mandiri. Semua muncul karena sebab dan kondisi, dan karena itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Pemahaman ini berkaitan erat dengan konsep kemunculan bergantungan (pratityasamutpada), yang menjadi inti ajaran Buddha. Nagarjuna tidak menciptakan ajaran baru, tetapi memperdalam dan menajamkan pemahaman terhadap ajaran tersebut. Ia menunjukkan bahwa kekosongan dan kemunculan bergantungan adalah dua sisi dari realitas yang sama. Dengan memahami ini, seseorang tidak terjebak dalam pandangan ekstrem—baik yang menganggap segala sesuatu absolut, maupun yang menolak keberadaan sepenuhnya. Inilah yang ia sebut sebagai Jalan Tengah.

Cara berpikir Nagarjuna juga unik karena ia tidak membangun sistem metafisik baru, melainkan membongkar asumsi-asumsi yang sudah ada. Ia menggunakan metode analisis logis yang dikenal sebagai catuskoti, yang menguji kemungkinan bahwa sesuatu itu ada, tidak ada, keduanya, atau bukan keduanya. Melalui pendekatan ini, ia menunjukkan bahwa semua klaim yang menganggap adanya esensi tetap pada akhirnya runtuh. Tujuannya bukan untuk membingungkan, tetapi untuk membebaskan pikiran dari keterikatan pada konsep yang kaku.

Pengaruh dan Relevansi Nagarjuna di Asia

Pengaruh Nagarjuna sangat luas dan melampaui zamannya. Pemikirannya menjadi dasar bagi perkembangan Buddhisme di Tiongkok, Jepang, dan Tibet. Di Tibet, ia dihormati sebagai “Buddha Kedua”, dan ajarannya menjadi fondasi utama dalam studi filsafat Buddhis. Bahkan dalam konteks modern, pemikirannya sering dibandingkan dengan filsuf Barat seperti Immanuel Kant dan Ludwig Wittgenstein, terutama dalam hal kritik terhadap bahasa dan konsep realitas.

Relevansi Nagarjuna pendiri Madhyamaka tidak berhenti pada ranah filsafat. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, pemikirannya menawarkan cara untuk keluar dari fanatisme dan absolutisme. Ia mengingatkan bahwa kebenaran tidak dapat dipahami secara hitam-putih, dan bahwa keterikatan pada pandangan tertentu justru menjadi sumber konflik. Di sisi lain, pemahamannya tentang keterkaitan semua makhluk juga menjadi dasar etika welas asih. Jika tidak ada yang benar-benar terpisah, maka penderitaan orang lain tidak bisa diabaikan sebagai sesuatu yang jauh dari diri kita.

Dalam konteks Indonesia, warisan pemikiran Nagarjuna pendiri Madhyamaka, sebenarnya bukan hal asing. Jejaknya dapat ditemukan dalam tradisi Buddhis di Sriwijaya, dalam simbolisme Borobudur, hingga dalam teks-teks Jawa Kuno. Ini menunjukkan bahwa pemikiran kritis dan reflektif seperti yang ia ajarkan pernah menjadi bagian dari peradaban di Nusantara. Karena itu, menghidupkan kembali semangat Nagarjuna bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga membuka kemungkinan untuk menjawab persoalan-persoalan kontemporer—mulai dari isu sosial, lingkungan, hingga kebangsaan.

Baca juga: Hamemayu Hayuning Bawono dan Etika Kesalingketergantungan

Bagi Institut Nagarjuna, nama ini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan representasi dari sebuah misi intelektual: menghadirkan Dharma sebagai alat analisis untuk memahami dan menjawab persoalan kehidupan berbangsa, bernegara, dan berkemanusiaan di Indonesia. Dalam arti ini, Nagarjuna bukan hanya tokoh masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk berpikir secara jernih, kritis, dan penuh welas asih di masa kini. Itulah filsuf Buddhis terbesar Nagarjuna pendiri Madhyamaka.

Referensi Nagarjuna Pendiri Madhyamaka

Garfield, JL 1995, The Fundamental Wisdom of the Middle Way: Nagarjuna’s Mulamadhyamakakarika, Oxford University Press, New York.

Westerhoff, J 2009, Nagarjuna’s Madhyamaka: A Philosophical Introduction, Oxford University Press, Oxford.

Williams, P 2009, Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations. 2nd ed., Routledge, London.

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna