Page 3

Dalai Lama Raih Grammy Award Berkat Audiobook “Meditasi”

0
Dalai Lama raih Grammy Award melalui Audiobook Meditations: The Reflections of The His Holiness The Dalai Lama.
Dalai Lama raih Grammy Award untuk kategori Audiobook, Naration, and Storytelling Recording.

Pemimpin spiritual Tibet, Yang Mulia Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso. Meraih penghargaan Grammy Award melalui karya audio berjudul Meditations: The Reflections of His Holiness the Dalai Lama. Penghargaan ini diberikan dalam ajang 68th Annual Grammy Awards, yang digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 1–2 Februari 2026.

Dalai Lama memenangkan kategori Best Audio Book, Narration, and Storytelling Recording. Sebuah kategori yang menilai kualitas narasi, pesan, serta kekuatan penyampaian karya audio berbasis suara. Kemenangan ini menandai Grammy pertama, yang diraih pada usia 90 tahun.

Audiobook Meditasi dan Pesan Universal

Audiobook Meditations berisi rangkaian refleksi dan ajaran Dalai Lama mengenai kedamaian batin, kasih sayang, tanggung jawab universal, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Narasi suara pemimpin spiritual Tibet tersebut, dipadukan dengan musik latar yang digarap oleh maestro sarod India. Yakni Amjad Ali Khan bersama putra-putranya, serta kolaborasi sejumlah musisi internasional.

Karya ini dirilis pada Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-90 Dalai Lama. Sejak awal, proyek ini dirancang bukan sebagai produk hiburan semata, melainkan sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan lintas agama dan budaya kepada audiens global.

Dalam kompetisi Grammy tahun ini, Meditations bersaing dengan karya audio dari tokoh publik dan figur budaya terkemuka, sebelum akhirnya dipilih oleh Recording Academy sebagai pemenang.

Pernyataan Resmi

Melalui pernyataan di situs resminya, Dalai Lama menyampaikan menerima penghargaan tersebut dengan rasa syukur dan kerendahan hati. Sekaligus menegaskan bahwa Grammy ini tidak ia pandang sebagai pencapaian pribadi. Melainkan sebagai pengakuan terhadap pentingnya pesan tanggung jawab universal dan kasih sayang. Di tengah dunia yang dihadapkan pada berbagai krisis kemanusiaan dan lingkungan.

Ia juga berharap bahwa penghargaan ini dapat membantu menjangkau lebih banyak orang. Serta mendorong kesadaran bahwa seluruh umat manusia saling terhubung dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan dunia yang lebih damai.

Meski tidak hadir secara langsung dalam malam penganugerahan Grammy. Penghargaan tersebut diterima atas namanya oleh musisi Rufus Wainwright, salah satu kolaborator dalam proyek Meditations. Dalam sambutannya, Wainwright menyampaikan rasa hormat dan kehormatan dapat mewakili Dalai Lama dalam menerima penghargaan tersebut.

Makna Kemenangan Grammy Dalai Lama

Penghargaan Grammy ini menambah daftar panjang pengakuan internasional yang diterima Dalai Lama sepanjang hidupnya, termasuk Penghargaan Nobel Perdamaian. Namun, kemenangan melalui format audiobook memiliki makna tersendiri: ajaran spiritual yang selama ini disampaikan melalui ceramah, teks, dan dialog lintas agama kini menjangkau publik yang lebih luas melalui medium audio.

Dengan Meditations, pesan tentang kedamaian, welas asih, dan tanggung jawab bersama hadir di ruang budaya populer global, tanpa kehilangan kedalaman nilai spiritual yang menjadi ciri ajaran Buddha.

Sumber: Dalailama.Com, Grammy.Com, Kompas.Com

Berkenalan dengan Biksuni Kung Fu di Himalaya

0
Artikel Berkenalan dengan biksuni kung fu di Himalaya ini bersumber dari artikel karya Magdalena Rojo.
Berkenalan dengan biksuni kung fu di Himalaya ini bersumber dari hasil pembacaan atas karya Magdalena Rojo. Judul aslinya Meet Buddhism's Kung Fu Nuns in Himalaya

Sebuah artikel karya Magdalena Rojo menarik perhatian penulis hari ini. Judulnya adalah “Meet Buddhism’s Kung Fu Nuns Of The Himalaya,” yang tayang di religionunplugged.com. Rojo menulis praktik unik para biksuni Ordo Drukpa di Biara Druk Amitabha, Nepal. Mereka mengintegrasikan latihan kung fu ke dalam kehidupan monastik Agama Buddha di Himalaya. Sekitar 800 biksuni, dari berbagai rentang usia, menjalani latihan seni bela diri di vihara. Tujuannya adalah sebagai sarana peningkatan kesehatan fisik dan mental, perlindungan diri, serta strategi simbolik untuk menantang struktur ketimpangan gender. Sesuatu yang masih mengakar kuat di masyarakat Himalaya.

Melalui narasi pengalaman dua biksuni, Jigme Lhamo dan Jigme Yamgchen Ghamo. Rojo menyoroti konteks sosial yang melingkupi kehidupan perempuan di kawasan India dan Nepal. Termasuk ketimpangan akses pendidikan, praktik pernikahan anak, beban kerja domestik yang tidak seimbang. Selain itu juga keterbatasan kepemilikan sumber daya, serta tingginya kerentanan terhadap kekerasan berbasis gender dan perdagangan manusia. Dalam konteks tersebut, biara tidak hanya berfungsi sebagai ruang spiritual. Akan tetapi juga sebagai institusi alternatif yang menyediakan perlindungan, pendidikan, dan pembentukan agensi bagi perempuan.

Peran Penting Gyalwang Drukpa

Transformasi ini tidak terlepas dari peran Yang Mulia Gyalwang Drukpa, pemimpin spiritual Ordo Drukpa.  Sejak 2008 beliau secara sadar mendorong reinterpretasi praktik Buddhisme melalui pengenalan kung fu bagi para biksuni. Inisiatif ini menantang persepsi dominan yang memandang seni bela diri sebagai praktik yang identik dengan kekerasan dan maskulinitas. Sekaligus ini memperluas pemaknaan disiplin tubuh dalam kerangka etika Buddhis yang menekankan kesadaran, konsentrasi, dan pengendalian diri.

Latihan kung fu diposisikan sebagai praktik yang selaras dengan meditasi dan latihan pernapasan Buddhis. Karena keduanya sama-sama menuntut fokus mental, ketajaman kesadaran, serta disiplin tubuh. Dalam jangka panjang, praktik ini membentuk ketahanan psikologis, kepercayaan diri, dan kepemimpinan di kalangan biksuni. Hal yang kemudian mentransmisikan keterampilan tersebut kepada generasi yang lebih muda, dalam struktur pedagogis internal biara.

Di luar ruang monastik, para Biksuni Kung Fu Drukpa terlibat aktif dalam kegiatan advokasi sosial melalui kunjungan ke sekolah, ceramah publik, serta partisipasi dalam yatra sepeda lintas Nepal dan India yang diselenggarakan oleh organisasi Live to Love. Kegiatan ini menggabungkan agenda kesetaraan gender, pelestarian lingkungan, dan pelayanan sosial, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan bagi komunitas Himalaya. Dengan demikian, praktik keagamaan para biksuni tidak berhenti pada ranah spiritual semata. Akan tetapi meluas ke bentuk keterlibatan sosial yang konkret.

Secara keseluruhan, artikel Rojo menunjukkan bahwa praktik Biksuni Kung Fu Drukpa merepresentasikan bentuk Buddhisme kontemporer yang adaptif dan emansipatoris. Praktik di mana disiplin spiritual, pengelolaan tubuh, dan aktivisme sosial saling terjalin. Kasus ini memperlihatkan bagaimana institusi keagamaan dapat berfungsi sebagai agen transformasi sosial. Khususnya dalam konteks pemberdayaan perempuan dan penantangan norma patriarkal di masyarakat tradisional.

Gusdurian Tolak Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace

0
Gusdurian tolak keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace.
Lewat pernyataan sikap tanggal 2 Februari 2026. Gusdurian menyatakan penolakan terhadap keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace. Dan lebih mendorong mekanisme melalui PBB.
Jaringan Gusdurian Indonesia mengeluarkan pernyataan sikap menolak keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian). Sebuah inisiatif yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss. Tujuannya adalah menjadi upaya penyelesaian pendudukan Israel atas Palestina. Termasuk soal pembangunan kembali Gaza.
Dalam pernyataan yang dirilis pada 2 Februari 2026 di Yogyakarta tersebut. Jaringan Gusdurian menyatakan keberatan atas inisiatif tersebut. Alasannya karena tidak melibatkan perwakilan Palestina dalam struktur dewan. Selain itu, dewan ini dinilai tidak memiliki mandat hukum internasional yang jelas. Serta berpotensi melemahkan mekanisme multilateral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Rencana ini sama saja dengan melakukan pemulihan perdamaian semu. Tanpa kemerdekaan dan harga diri Palestina untuk menentukan nasib sendiri.” Demikian tertulis dalam pernyataan yang ditandatangani Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid.
Jaringan Gusdurian menilai keikutsertaan Indonesia dalam inisiatif sepihak tersebut. Bertentangan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan, penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Selain itu, keterlibatan dalam perjanjian internasional yang berdampak luas. Seharusnya memerlukan persetujuan DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UUD NRI 1945. 
Selain itu, keterlibatan Indonesia dinilai hanya akan menempatkan Indonesia sebagai pemberi legitimasi. Bagi kepentingan kekuatan global, yang justru melanggengkan penindasan di Palestina. Gusdurian sekaligus mengingatkan agar pemerintah Indonesia tetap setia pada prinsip politik bebas aktif. Mengupayakan perdamaian dunia melalui mekanisme multilateral yang sudah ada yaitu PBB.

Sikap Jaringan Gusdurian

Jaringan Gusdurian oleh karena itu menyatakan sikap sebagai berikut: Pertama, menolak Board of Peace karena dinilai lebih sebagai upaya dominasi imperial berbungkus perdamaian. Kedua, mendesak pemerintah Indonesia untuk menarik diri dari Board of Peace. Ketiga, meminta pemerintah memaksimalkan mekanisme PBB yang lebih transparan, akuntabel dan berpihak pada rakyat Palestina. Keempat, mendorong kelompok-kelompok masyarakat sipil untuk menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak sesuai konstitusi. Kelima, menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dan melawan genosida oleh Israel.
Sumber: Pernyataan Sikap Jaringan GUSDURian Menolak Board of Peace, Yogyakarta, 2 Februari 2026.

Menag Kukuhkan Wisma STI sebagai Rumah Moderasi Beragama

0
Wisma STI dikukuhkan Menteri Agama sebagai Rumah Moderasi Beragama
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar kukuhkan WIsma STI atau Sangha Theravada Indonesia sebagai Rumah Moderasi Beragama

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.  Secara resmi mengukuhkan Wisma Sangha Theravada Indonesia (STI) di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sebagai Rumah Moderasi Beragama, pada Senin, 26 Januari 2026. Pengukuhan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat praktik moderasi beragama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dalam sambutannya, Menag menekankan bahwa moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif, tetapi harus berakar pada praktik spiritual yang mendalam. Menurutnya, dunia modern yang bergerak cepat justru membutuhkan ruang-ruang kontemplatif agar manusia tidak terjebak dalam kemelekatan pada hal-hal duniawi.

Rumah Moderasi sebagai Pusat Pembelajaran Spiritual

“Dunia tanpa kontemplasi itu akan berbahaya. Dunia harus dibimbing oleh dua kekuatan, yakni kekuatan konsentrasi dan kekuatan kontemplasi,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan bahwa Rumah Moderasi Beragama di Wisma STI diharapkan menjadi pusat pembelajaran spiritual yang membantu umat mengembangkan kemampuan untuk melepaskan kemelekatan—baik pada uang, materi, maupun jabatan. Bagi Menag, kemelekatan berlebihan justru menjadi awal dari kegagalan manusia dalam memaknai hidup.

Lebih jauh, Menag memandang Rumah Moderasi Beragama sebagai “rumah besar bagi kemanusiaan”, yang tidak hanya menumbuhkan nilai spiritual dan kasih sayang antar-manusia, tetapi juga kepedulian terhadap alam. Ia menegaskan bahwa moderasi beragama seharusnya melahirkan aksi nyata, bukan sekadar diskusi atau perdebatan.

“Rumah moderasi ini harus melahirkan tangan-tangan yang menanam pohon, bukan hanya yang pintar berdebat. Jika Penciptanya sakral, maka alam ciptaan-Nya juga harus disakralkan,” tegasnya.

Rumah Sambung Rasa dan Komunikasi Antarumat Beragama

Sementara itu, Ketua Wisma Sangha Theravada Indonesia, Bhante Dhammasubho Mahathera, menyambut baik pengukuhan tersebut. Ia berharap Rumah Moderasi Beragama dapat menjadi ruang sambung rasa dan komunikasi antar-umat beragama, terutama di tengah tantangan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi.

Menurut Bhante Dhammasubho, kemajuan teknologi memang mendekatkan jarak secara fisik, tetapi pada saat yang sama berpotensi menjauhkan hubungan batin antar-manusia.

“Teknologi membuat jarak antar-jagat semakin dekat, tetapi hubungan antar-jiwa justru semakin jauh,” ujarnya.

Melalui Rumah Moderasi Beragama, ia berharap masyarakat dapat kembali membangun perjumpaan yang nyata—bukan hanya bertemu secara fisik, tetapi juga berdialog dan bekerja bersama lintas iman. Baginya, sikap saling mengenal adalah fondasi utama bagi kehidupan yang rukun dan harmonis.

“Agama-agama harus saling mengenal satu dengan yang lain. Kalau kita tidak pernah bertemu, kita tidak bisa mengenal satu dengan yang lain,” katanya.

Sebelum pengukuhan oleh Menteri Agama, selama dua hari diadakan pembacaan 3 sutta secara non stop mulai tanggal 25 hingga 26 Januari 2026 di Wisma STI. Adapun yang dibacakan umat Buddha dan para bhikkhu adalah Sutta: Ratana, Manggala, dan Karaniya Metta. Isyanto, Ketua Institut Nagarjuna 2015-2025 bertindak selaku ketua panitia kegiatan. Sehari sebelumnya, sebagai rangkaian menyambut pengukuhan juga diadakan Puja Manta Pembacaan Paritta 24 Jam Non Stop. Selain itu, pengukuhan juga diawali pidato budaya oleh Yudi Latief bertema Dalam Menyambut Hidup Baru Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?

Pengukuhan ini juga dihadiri oleh berbagai unsur umat Buddha. Kehadiran berbagai elemen lintas organisasi ini menegaskan bahwa Rumah Moderasi Beragama di Wisma STI diharapkan menjadi ruang hidup—tempat perjumpaan, dialog, praktik Dharma, serta kerja bersama untuk merawat harmoni sosial dan kemanusiaan Indonesia.

Bhiksu Yang Mun ternyata AI: Jutaan Orang Kadung Percaya

1
Bhiksu Yang Mun memiliki jutaan follower di media sosial, belakangan terungkap ternyata dibuat dengan AI.
Sosok Bhiksu Yang Mun memiliki dua akun dengan jutaan follower ternyata adalah AI.

Awalnya cuma satu video. Seorang bhiksu tua duduk tenang di sudut vihara. Wajahnya teduh, suaranya ramah dan enak didengar. Ia bicara tentang lelah, tentang gagal, tentang berdamai dengan diri sendiri. Kata-katanya sederhana, tapi entah kenapa terasa tepat. Dari situlah Bhiksu Yang Mun hadir di tengah-tengah netizen internasional.

Seiring waktu video-videonya banyak disimpan dan dibagikan netizen. Akibatnya, keesokan harinya konten serupa akan muncul lagi, dan lagi. Nama akunnya ada 2 yaitu @yangmunus dengan follower 2,5 juta dan @itsyangmuns. Komentarnya penuh rasa terima kasih. Banyak yang merasa ditemani, dipahami, bahkan diselamatkan.

Bukan Bhiksu Yang Mun

Namun, masalahnya, belakangan terungkap sesuatu yang mengejutkan. Bhiksu Yang Mun itu tidak pernah ada. Yang Mun bukan tokoh spiritual. Bukan bhiksu. Bukan manusia. Ia adalah karakter Artificial Intelligence atau AI. Di Indonesia kita menerjemahkannya sebagai Akal Imitasi.

Wajahnya buatan, suaranya sintetis, dan seluruh nasihatnya dihasilkan mesin. Kontennya dibuat dengan teknologi AI generatif dan dipoles sedemikian rupa hingga tampak otentik. Tokoh ini buatan orang Israel bernama Shalev Hani. Tidak hanya untuk memberi nasehat bijak, tapi juga untuk jualan e-book dan kursus spiritual. Singkatnya, ia dapat dikategorikan sebagai AI-generated virtual influencer. Pemengaruh virtual yang dihasilkan AI.

Akan tetapi, yang membuat banyak orang terkejut bukan semata teknologinya. Melainkan betapa mudahnya kita percaya. Mungkin karena karakter Yang Mun tidak memaksa. Tidak menggurui. Tidak menjual ketakutan. Ia menawarkan ketenangan—sesuatu yang langka di tengah hidup yang bising. Inilah mungkin eranya spiritualitas algoritmik.

Kasus Yang Mun bukan sekadar cerita viral. Ia adalah peringatan. Di era AI, apa yang kita tonton dan tampak realistis secara visual maupun suara. Belum tentu benar-benar nyata dalam kehidupan. Kebetulan pada kasus Yang Mun, ada aspek positif yang dapat dinikmati followernya. Akan tetapi, ada juga yang merasa ditipu karena merasa sosok Yang Mun adalah manusia yang eksis di dunia nyata.

Sebenarnya di akun media sosialnya, telah ada catatan pada profil. For educational purposes only. Selain itu juga ada tanda di sudut kanan atas AI Info, yang menunjukkan bahwa konten diproduksi menggunakan AI.

Sumber: Detikinet

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna