Page 20

Langkah Awal IN Mencetak Pemimpin Buddhis Nasionalis

0
Sekolah Kepemimpinan Buddhis Muda Indonesia adalah langkah awal IN mencetak pemimpin Buddhis nasionalis masa depan.
Sekolah kepemimpinan yang diadakan merupakan langkah awal IN mencetak pemimpin Buddhis nasionalis.

Menteri Pemuda dan Olahraga menyambut baik Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis yang diselenggarakan pada Sabtu, 15 Desember. “Ini merupakan satu hal yang luar biasa karena diharapkan memang dari dulu sekolah kepemimpinan namanya Tanasda (Ketahanan Nasional Pemuda) ini mungkin mirip-miriplah dan ini sangat bagus.” Demikian sepenggal kata sambutan perwakilan Menpora. Sekolah kepemimpinan ini adalah langkah awal IN untuk mencetak pemimpin Buddhis yang diharapkan.

Sambutan Deputi Pengembangan Pemuda

Kementerian Pemuda ini ada 2 deputi. Pertama, Deputi Pemberdayaan Pemuda dan yang kedua Deputi Pengembangan Pemuda. Seharusnya ini masuk ke Deputi Pengembangan Pemuda. “Pak Menteri mendisposisi ke Deputi Pengembangan Pemuda, kebetulan Bapak Deputi Sedang ada acara lalu mewakilkan kepada saya untuk menghadiri itu semua, salam hormat untuk bapak-bapak sekalian.”, sambut Bapak Khairil.

Pada UU No.40 tahun 2009, memang usia pemuda yaitu 16 – 30 tahun. Tetapi, kita pakai UU Unesco, 18 sampai 65 tahun. Bapak Menteri berharap, melalui kegiatan ini, terus berlangsung dengan baik, menghasilkan pemimpin nasionalis sekaligus religius. Karena kita kurang dan harus mengisi ruang-ruang kosong negara ini. Hal ini dinilai sebagai langkah awal yang positif bagi perkembangan pemuda di Indonesia.

Negara ini lebih banyak jiwa pemimpin saja tetapi tidak jiwa kepemimpinan. Mereka tidak siap ketika dipimpin, tetapi lebih banyak ngomong di media. Ketika menjadi anak buah, ketika dipimpin oleh orang lain, mereka tidak siap. Perbedaan antara leader dengan leadership, bahwa pemimpin itu, pertama, punya integritas, saya takut sekali kalau diundang pemuda atau siapapun tidak tepat waktu. Yang kedua dia punya jiwa sosial, dia tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk banyak orang.

“Saya berharap nanti ada kunjungan seperti sekolah Tanasda, kunjungan ke KPK, kunjungan ke DPR, dan kami dari Kementerian Pemuda dan Olahraga silahkan kalau ingin bertemu dengan Bapak Menteri setelah kegiatan ini usai atau di tengah-tengah kegiatan ini, berkunjungan dengan bapak menteri kami persilahkan”, lanjut Bapak Khairil.

Pengalaman Bhante Jayamedho Semasa Muda

Suasana Launching Sekolah Kepemimpinan Muda Buddhis Institut Nagarjuna

Buddhism is so Beautiful

“Saya mengenal Agama Buddha tahun 1963. Ini masalah kepemimpinan muda, buddhis, nasionalis dan berintegritas, wah ini musti dikuliti. Yang pertama adalah kepemimpinan. Pada waktu tahun 63, waktu mahasiswa, masuk dalam kepengen tahu apa sih Agama Buddha itu? Di situ, bahkan ada beberapa mahasiswa buddhis, mahasiswa yang beragama buddha atau persisnya yang baru mengenal Agama Buddha. Dari situ, kita melihat Buddhism itu so beautiful, sangat indah teorinya, tapi dalam praktiknya tersimpan di kelenteng-kelenteng karena pada waktu itu hampir tidak ada vihara dan penuh dengan debu dan isinya penuh dengan ritual-ritual yang kasarnya sukar dimaknai, bukan tanpa makna ya”, ucap Bhikkhu Jayamedho.

“Sehingga pada waktu itu, muncul karena mungkin talentanya, karena ada orang Padangnya, ada orang Tionghoanya, ada orang Jawanya, ada orang Sundanya. Muncul keinginan leadership-nya, muncul keinginan bagaimana kalau anak-anak muda berkumpul dan kemudian goes to campus. Jadi, leadership itu dimulai dari dalam. Dari mana mulainya? Dari kesadaran dan bangga atas sesuatu yang dimilikinya tanpa adanya interest betul-betul murni karena nggak ada keuntungan beragama Buddha itu, apa sih untungnya?”, lanjut Bhikkhu Jayamedho.

“Karena merasakan ini sesuatu yang indah tetapi tersimpan di abu, karena itulah maka kita berkumpul membentuk yang namanya GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia) dan kita isinya agamanya sama, etnisnya beda, aspirasi politiknya juga sangat beda. Bagaimana kita hidup dalam banyak perbedaan, dalam satu komunitas itu indahnya? Dan kemudian muncul aspirasi gimana kita mengenalkan buddhism itu di kampus? Ya di ITB, di Unpad dan di banyak tempat, karena kaum muda ini yang bisa diambil duluan, kaum tua dipelihara. Untuk sebagai apa? Di samping sebagai monumen, penerus dan koceknya juga ada disitu. Anak muda itu ngomongnya aja gede, duitnya kosong. Maka muncul di situ kekuatan kita goes to campus.”

Kilas Balik Sejarah

“Ajarkanlah Dhamma ini secara ilmiah, tetapi juga religius yang diajarkan di situ adalah the values, karena kalau seseorang beragama kehilangan nilai-nilai, habislah negara ini. Itulah munculnya GBPI dan kita mulai bergerak membuat cabang-cabang di seluruh Indonesia dan sekarang tokoh-tokoh dulu itu sekarang sudah menjadi tokoh sepuh karena usia saya sudah 77 Pak, jadi bukan waktunya untuk duduk di sini sebenarnya. Jadi, kepemimpinan itu dimulainya dengan adanya komitmen, bukan komat-kamit. Sekarang itu paling banyak komat-kamitnya, paling pinter itu apalagi disorot televisi, mulai komat-kamitnya muncul. Komitmen terhadap sesuatu yang diyakini kalau dalam istilah itu saddha-nya. Saddha tidak hanya dalam bidang agama, tetapi dalam bisnis pun adalah sesuatu yang diyakini sebagai sesuatu yang baik, yang benar, layak dan bermanfaat untuk orang banyak.”, sambung Bhikkhu Jayamedho.

“Ini dulu dipegang sebagai kuncinya dan kita bergerak cukup bagus, cuman sayangnya tahun 65, usianya baru 2 tahun, mulai marah dan muncul peristiwa 65. Mulailah penangkapan, pembunuhan, dan sebagainya, kalau sekarang melanggar HAM ya. Sehingga pada waktu itu, saya sebagai ketua Umum mengatakan sudah, bukan dibubarkan, tapi tiarap dulu, karena mayoritasnya adalah orang-orang Tionghoa dan orang Tionghoa banyak yang baperki pada waktu itu, sudahlah tiarap dulu. Jadi, yang bukan Tionghoa, mari kita ambil alih kepemimpinan untuk membantu menjembatani antara the chinese sama pemerintah pada waktu itu. Ini kita gerakkan, maka leadership pada waktu itu ada confident. Jadi, di samping commitment, ada nilai-nilai confident, keyakinan terhadap sesuatu yang diyakini. Dan ini yang harus dikembangkan, tidak perlu kursus dulu, sekarang harus kursus dulu. Kalau mau pidato, tanya dulu seniornya”, papar Bhante Jayamedho

Langkah Awal IN: Kepemimpinan Muda Sangat Penting

“Yang kedua adalah muda, muda itu apa to Pak? Dua minggu lalu, saya kan memegang Sekolah Tinggi Agama Buddha, dimana ada seratus mahasiswanya berjubah semua. Mereka saya kirim ke acara di Kota Batu Malang sana mengenai acara kepemudaan dan kerukunan hidup beragama. Mereka pulang dengan lemes. ‘Bhante, kami ini katanya pemuda tapi kok dianggap anak kecil, yang hadir tue-tue (alias tua), ini pemuda apa bhante?’ Nah, ini peranan dari DPR harus berani tegas, kalau umur 35 sudah tidak ikut WHO lah dan kalau WHO tentu masih muda sekali. Dan harus tegas, kalau tidak, organisasi kepemudaan akan dipakai sebagai kuda tua para orang tua.”

Bhante Jayamedho sedang membagikan pengalamannya

“Buddhis juga harus berani begitu, kami di Theravada juga begitu. Patria tidak boleh usianya lebih dari 30 tahun. Kalau sudah 30 tahun, silahkan naik ke dalam majelis, naiklah masuk dalam bhikkhu, yang wanita naiklah jadi wandani, masih ada jenjang-jenjang. Janganlah organisasi dipakai sebagai alat mencari kekuasaan, dan keuntungan diri sendiri dan kelompoknya itu sangat tidak betul, tapi di luar monggo kerso, di buddhis harus tegas. Kemudian, muda juga, paling tidak mereka bisa bersuara, bersosialisasi sesama usianya, syukur tempat cari jodoh di situ, daripada cari jodoh agama lain, akhirnya pindah agama lain karena kurang kuat.

Soal Huruf N dalam Kata Pemimpin

“Saya tidak melarang karena organisasi itu memang penting. Pada waktu saya masih muda, saya dimarahi oleh bhikkhu tempat ini, kok dipakai sebagai tempat pacaran. Lho, pacaran itu penting untuk memberikan semangat. Dan akhirnya jadi jodoh, mereka tetap aktif sampai tua. Peranan pemuda ini membangun cinta tetapi juga membangun agama di dalam rumah tangganya, ini kewajiban anak muda juga diatur.”

Bhikkhu Jayamedho lanjut, “Yang ketiga adalah sebagai buddhis, sebenarnya untuk menjadi seorang pemimpin, yang dikatakan pemimpin itu huruf N-nya dihilangkan dulu Pak, apa itu? Ya harus mimpi, kalau seorang pemimpin tidak pernah bermimpi the future, the vision, ke depan ya organisasi itu ya glear gleor. Ya, bahasa indahnya itulah vision. Lihatlah Soekarno, itu mimpi dia, Indonesia merdeka, program jembatan emas, dan sebagainya. Pemimpin adalah pemimpi yang begitu dia bangun menggunakan tenaga orang muda untuk menggerakkan mereka untuk mencapai tujuannya, mencapai mimpinya dan saya bersyukur mimpi kita dulu, Buddhism goes to campus, sudah betul-betul masuk kampus dengan munculnya dulu KMBJ. Saya sekarang sudah puas, apa yang kita pernah lontarkan itu betul-betul marak, tapi ini juga tidak bisa berhenti.”

Demikian paparan pengalaman dari Bhante Jayamedho pada pembukaan sekolah kepemimpinan Buddhis yang dianggap langkah awal IN. Untuk pengembangan komunitas Buddhis di Indonesia.

Stage berikutnya adalah melakukan development, yaitu buddhism goes to family. Di Islam itu terasa sekali, puasa bareng, lebarannya bareng, sholatnya bareng dan di rumah pula. Saya sebagai buddhis, tapi keluarga saya muslim semua. Kalau mereka puasa, saya ikut puasa, sampai kadang-kadang mereka lupa saya bukan Islam. Keluarga saya sangat toleran sekali, yang penting adalah the quality of the people, bukan di dalam pengertian merek agamanya.”

Baca juga: Institut Nagarjuna Sukses Luncurkan Sekolah Kepemimpinan Buddhis

Soal Integritas dan Pancasila Buddhis

“Yang keempat adalah integritas. Integritas ini sangat penting karena buddhism dan integritas itu sebetulnya inheren, semua agama juga. Terutama kita memegang sila, Pancasila Buddhis itu adalah lima principles. Pertama adalah menghindari pembunuhan, tetapi juga harus dikembangkan non-physical violence, ini yang harus dikembangkan di dalam dunia buddhis. Bagaimana di luar, kekerasan terhadap fisik sangat besar sekali? Pada waktu itu, jika dipertanyakan layak ndak demo Buddha Bar? Memang tidak ada kekerasan fisik di situ. Yang kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah Adinadana, yaitu tidak mencuri, termasuk di dalam hal ini jangan korupsi. Jadi, kalau mencari seorang pemimpin buddhis, lihat track recordnya. Kalau nyata-nyata ditangkap KPK dan masuk penjara, no way!

Perumpamaan Teratai

Seorang pengusaha duduk di pimpinan agama itu riskan sekali. Karena itulah, kita harus bersikap seperti lambang Agama Buddha, teratai (lotus). Teratai itu bisa tumbuh kalau kolamnya penuh lumpur, ikan koi bisa hidup karena airnya bening, itu bedanya. Kalau ada lumpur, dia akan kemudian tumbuh, pada waktu gelap dia, akan muncul ke permukaan dan pada waktu ada sinar matahari, dia akan mekar. Jadi, dengan lambang itu, juga kita harus berani. Sang Buddha mengajarkan dalam Sanghanusati, yang namanya murid Buddha itu harus baik, harus jujur, harus benar, harus layak. Empat itulah integrity, bukan Sangha itu yang mencapai kesucian-kesucian, itu untuk kita semua. Kalau melakukan sesuatu, is it good or not? Ini baik atau tidak? Jujur apa tidak? Benar tidak, benar itu benar sesuai peraturan perundangan, peraturan vinaya, kemudian pantas tidak itu dilakukan.”, lanjut Bhikkhu Jayamedho.

“Kalau sudah melakukan 4 hal tersebut dengan benar, maka layak diberi persembahan, layak diberi penghormatan, layak tempat menanam jasa, dsb. Kaum muda pun kalau tidak bisa menerapkan Dharma untuk kehidupan sehari-hari, itu salah besar. Karena penerapan Dharma itu bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk keselamatan orang banyak. Tidak hanya untuk keselamatan dalam hidup ini tetapi juga untuk keselamatan hidup yang akan datang. Maka, kita jalan lurus itu, tidak membuat kita kaya maka kita harus mencari kekayaan lahir seimbang dengan kekayaan batin. Kekayaan lahir untuk anak cucu, kekayaan batin adalah untuk next life yang lebih panjang lagi.”

Memulai Perjalanan 1.000 Mil

Langkah awal IN ini merupakan bagian dari visi pengembangan komunitas yang menjadi salah satu pilar lembaga ini. Selain pilar utama yaitu kajian Buddhadharma kontekstual untuk berbagai aspek. Meskipun langkah awal IN ini bisa dinilai langkah kecil, tapi bukankah ada ungkapan perjalanan 1.000 mil dimulai dari langkah pertama. Pengurus berharap semoga langkah awal IN ini benar-benar berdampak dan bermanfaat.

_____________________________
Oleh: Wandi Siswanto

Baca juga: Dirjen Bimas Buddha Berikan Penguatan di Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan VII

Sutra Teratai Salinan Laksamana Cheng Ho

1
Temuan sutra teratai yang ditulis langsung oleh Cheng Ho kini menjadi koleksi Long Museum.
Long Museum di Shanghai memiliki koleksi sutra teratai yang ditulis langsung oleh Cheng Ho.
Sutra Teratai adalah salah satu sutra terpenting saat penyebaran Buddhis di Asia Timur yang demikian pesat kala itu. Masa dimana teknologi cetak belum lahir. Sehingga salah satu kebajikan yang dapat dilakukan kaum terpelajar adalah menyalin isi Tripitaka. Kitab suci Agama Buddha. Salah satu diantaranya adalah Lotus Sutra. Tujuan penyalinan adalah untuk menyebarluaskan dharma, ajaran Buddha. Praktik ini ternyata juga dilakukan tokoh seperti Cheng Ho.

Praktik Menyalin Kitab Suci

Bagi yang lahir tahun 80an tentu tidak asing soal selebaran yang meminta kita memfotokopi selebaran tersebut. Agar dapat berkah, tercapai apapun yang diinginkan. Tentu yang pasti adalah tukang fotokopinya dulu yang memperoleh berkah. Akarnya ternyata bisa ditelusuri hingga masa lampau dalam konteks positif tentunya.

Praktik umumnya adalah seorang umat akan bertekad (adhitana). Untuk menyalin misal 1.000 salinan sutra. Ini tidak bisa diwakili, jadi meski dia orang terkaya sekalipun ia harus menulis sendiri kitab tersebut. Sebanyak yang ia tekadkan. Proses menyalin ini secara tidak langsung juga menjadi proses internalisasi nilai-nilai. Yang selanjutnya diharapkan juga dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Temuan Sutra Teratai Tulisan Tangan Cheng Ho

Gambar penunjang artikel singkat ini adalah koleksi cukup baru dari Long Museum yang berkedudukan di Shanghai, kalau naik metro anda bisa menggunakan line 7. Koleksi langka ini ditebus pihak museum pada 2015 di Balai Lelang Sotheby New York 14 juta US dolar. Memang ini koleksi langka dari 615 tahun silam yaitu tulisan tangan asli dari Zheng He (Laksamana Cheng Ho) sang Kasim Tiga Perlindungan, Sanbao, Sam Poo (Sam Poo Kong).

Akhiran Kong adalah kata keterangan tempat, sebagaimana Bio pada Boen Tek Bio, Yuan pada Jin De Yuan, Sie Pada KHong Hoa Sie, dan Teng pada Kwan Im Teng. Tempat ibadah tradisional umat Buddha yang Tionghoa.
Menyalin dan mendistribusikan ajaran Buddha adalah termasuik jenis dana tertinggi yaitu dana dharma, Oleh karena itu sejak lama praktiknya telah dilakukan praktisi yang penuh tekad dan dedikasi karena itu bukan pekerjaan mudah. Bayangkan, lotus sutra dalam bentuk buku cetak modern tebalnya sekitar 500an halaman. @Eddy Setiawan (Peneliti IN)

Potensi Pemberdayaan Umat Buddha di Kaloran, Temanggung

0

Institut Nagarjuna (IN) bekerja sama dengan Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama. Kolaborasi dilakukan untuk melakukan penelitian tentang potensi pemberdayaan umat Buddha di Kaloran. Penelitian ini dilaksanakan oleh tim peneliti dari IN. Terdiri dari Eddy Setiawan (koordinator), Isyanto, Eko Nugroho Raharjo, dan Adi Kurniawan antara November 2015 sampai dengan Januari 2016.

Hasil penelitian tersebut telah dipaparkan dalam sebuah seminar di hadapan pemangku kepentingan agama Buddha. Seminar yang dihadiri oleh 30 orang itu digelar di Restoran Ekaria, Jakarta pada Sabtu, 27 Februari 2016.

Direktur Eksekutif Institut Nagarjuna, Isyanto. Menyatakan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pembinaan dalam bidang apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat perdesaan, khususnya Kaloran. “Selama ini kebijakan, baik dalam hal pembinaan maupun penyusunan anggaran program pemerintah. Khususnya pembinaan umat Buddha tidak mengacu pada data penelitian mana pun. Dengan penelitian ini diharapkan bisa menjadi rekomendasi pemerintah maupun pemangku kepentingan Buddhis untuk membuat kebijakan dalam pembinaan umat di perdesaan.” Ujar Isyanto.

Potensi Pemberdayaan di Kaloran

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan lapangan. Dilengkapi dengan hasil Focus Group Discussion (FGD) perwakilan vihara dan organisasi Buddhis di Kaloran. Selain itu juga dilakukan dokumentasi dan wawancara mendalam dengan sejumlah pihak. Seperti pemuka agama, manggalia (koordinator lurah), ketua vihara, pimpinan majelis, dharmaduta, guru, tokoh wanita, tokoh pemuda, hingga abdi desa Ehipassiko Foundation.

Umat Buddha Kecamatan Kaloran menjadi obyek penelitian dikarenakan umat Buddha Kaloran merupakan salah satu basis agama Buddha di Indonesia. Menurut hasil penelitian, salah satu yang menarik adalah perbedaan data jumlah umat Buddha di Kaloran antara Badan Pusat Statistik (BPS) dengan temuan data lapangan yang diperoleh dari penelitian melalui pengisian kuesioner oleh tokoh agama Buddha di Kaloran.

Menurut BPS, umat Buddha Kaloran tahun 2014 berjumlah 6.003 jiwa. Data ini lebih kecil dibandingkan dengan data yang diperoleh tim peneliti. Umat Buddha tersebar di 12 desa dari total 14 desa yang termasuk dalam Kecamatan Kaloran. Tim peneliti IN memproyeksikan masing-masing KK terdiri dari 5 jiwa. Maka jumlah umat Buddha di 8 desa, 38 dusun di Kecamatan Kaloran adalah sebanyak 9.070 jiwa. Angka ini lebih besar 3.067 jiwa (51%) dibandingkan data BPS. Proyeksi jumlah umat Buddha dalam perhitungan ini belum termasuk umat Buddha dari 4 desa yang tidak mengikuti FGD. Di seluruh Kaloran terdapat 44 vihara dan 8 cetiya.

“Kajian lanjutan dan mendalam mengenai hal ini diperlukan guna mendapatkan gambaran jumlah dan sebaran umat Buddha yang lebih valid, mengingat kesenjangan data yang demikian besar antara angka resmi yang dirilis BPS dengan data yang diperoleh dari penelitian,” ujar Eddy Setiawan dalam pemaparan hasil penelitian.

Komunitas Buddhis di Kaloran dan Potensinya

Mengenai potensi pemberdayaan ekonomi, umat Buddha Kaloran mempunyai banyak potensi yang dibagi menjadi dua, yaitu potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam.

Sumber daya manusia terdiri dari berbagai majelis, lembaga dan organisasi, dan kaum terdidik dalam hal ini lulusan sarjana. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui FGD, di Kecamatan Kaloran terdapat lima majelis agama Buddha, yaitu Magabudhi, Majubuthi, Majabumi, MBI, dan Tantrayana Kasogatan. Selain dari para romo dan ramani, umat Buddha juga mendapatkan pembinaan secara berkala dari para anggota Sangha (bhikkhu/bhiksu), namun sampai saat ini belum ada anggota Sangha yang menetap di Kecamatan Kaloran.

Selain majelis, di Kaloran juga terdapat dua organisasi wanita Buddhis: Wanita Theravada Indonesia (Wandani) dan Mattu Maitri (organisasi Buddhis non sektarian), serta organisasi kepemudaan. Hingga saat ini di Kaloran juga terdapat 44 sarjana yang beragama Buddha.

Sementara sumber daya alam yang dapat dikembangkan di Kaloran adalah sektor pertanian, hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Kaloran bermatapencaharian sebagai petani. Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di sektor pertanian dan perkebunan adalah tanaman jagung, cabe, jahe, sayur mayur, kopi, alpukat, manggis, nangka, dan padi di areal tertentu. Tanaman kayu sengon dan jabon juga memiliki potensi untuk dikembangkan, namun dengan catatan pola tanam dan panen yang memperhatikan kondisi lahan yang pada umumnya memiliki tingkat kemiringan yang tinggi.

Kaloran juga dinilai memiliki potensi di bidang peternakan, yaitu penggemukan sapi, domba dan ayam ras pedaging dan petelur. Sedangkan di bidang kreasi terdapat potensi olahan berbagai hasil pertanian dan perkebunan seperti kripik ketela/ubi, nangka, gula aren, jahe, empon-empon, kopi, dan cokelat.

Aspek Kebudayaan dan Pemaknaan Dharma

Selain sumber daya alam, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah masyarakat Kaloran dari berbagai agama pada momen-momen tertentu secara bersama-sama merayakan tradisi leluhur, yakni sadranan (ziarah kubur), merti desa/dusun, merti Bumi, selapanan desa/dusun, gotong royong membangun rumah, kebaktian limolasan (purnama), dan sawuhan.

“Hal ini menarik apabila kita bisa memberi makna Dharmik pada setiap tradisi, bisa menjadi potensi wisata kebudayaan Buddhis. Selain itu, masyarakat Kaloran juga sangat menjunjung seni. Banyak kesenian daerah seperti, jaran kepang, soreng, prajuritan, coglok dan lain-lain yang masih dilaksanakan,” jelas Eddy.

20160229 Inilah Potensi Pemberdayaan Umat Buddha di Kaloran, Temanggung Berdasarkan Penelitian Institut Nagarjuna 2

Menurutnya, beberapa potensi yang realistis untuk dikembangkan saat ini adalah pertanian, peternakan, dan perkebunan. “Di bidang pertanian dan perkebunan, tanaman kopi masih menjadi andalan umat Buddha di Kaloran. Selain itu jahe, alpukat, cabai, nangka, ubi, singkong dan tanaman kayu juga produksinya sangat bagus, hanya saja pemasarannya masih di tengkulak. Sedangkan peternakan: sapi, domba, dan ayam.

“Namun dari berbagai potensi tersebut ada persoalan mendasar, yaitu ketersediaan air selama musim kemarau, minimnya inovasi dan penguasaan teknik modern, ketiadaan kemampuan mengolah hasil panen dan pemasaran. Pemberdayaan dapat dilakukan berupa pengadaan alat dan pelatihan. Pemasaran dapat dilakukan dengan pendekatan social marketing. Potensi pariwisata Kaloran dapat diperkaya dengan penguatan dan pengembangan seni budaya lokal berkarakter Dharmik. Caranya dengan memberikan pemaknaan baru pada unsur-unsur seni budaya lokal.” Lanjut Eddy.

Tanggapan Pemangku Kepentingan

Para tokoh yang hadir dalam seminar tersebut memberikan pujian kepada Institut Nagarjuna yang telah melakukan penelitian. Mereka berharap dapat bekerjasama dengan IN menindaklanjuti hasil penelitian dengan tindakan langsung pendampingan dan pemberdayaan umat Buddha khususnya di Kaloran.

Wenny Lo misalnya, wanita yang aktif di Buddhist Fellowship Indonesia (BFI) ini mengaku sangat tertarik dengan hasil penelitian soal pemberdayaan ekonomi umat. “Yang saya pikirkan, hasil bumi di Indonesia harus bisa digarap, gunung-gunung di Indonesia sangat indah. Sebagai pebisnis, saya melihat hal ini adalah peluang.

Beasiswa Pintu Belajar (yang dikelola BFI) juga sudah memulai pemberdayaan ekonomi, namun bingung memulai dari mana. Namun setelah ada penelitian seperti ini, saya semakin ada gambaran untuk melakukan apa, tetapi tentu kita tidak mungkin menggelontorkan uang ke orang-orang desa. Langkah yang mesti kita lakukan adalah menyiapkan orang-orang yang bisa tinggal dan melakukan pendampingan dan pemberdayaan. Sementara itu, tim pebisnis akan membatu secara dana usaha profit, yang keuntungannya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dan sebagian untuk membiayai organisasi dan vihara,” ujar Wenny Lo.

Harapan Ditjen Bimas Buddha

Sementara itu Kasubdit Ditjen Bimas Buddha, Supriyadi, berharap agar hasil penelitian segera ditindaklanjuti. “Diharapkan melalui riset ini segera ditindaklanjuti dengan langkah action dalam bentuk empowerment (pemberdayaan masyarakat),” harap Supriyadi. Ia juga berjanji Ditjen Bimas Buddha akan kembali membantu pembiayaan bagi pihak yang akan menjalankan program pemberdayaan.

“Kami berharap penelitian ini menjadi sumber pemicu bagi kawan-kawan. Tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga pihak majelis dan swasta. Untuk melihat, inilah potensi yang ada di Temanggung. Untuk dikembangkan di majelis ataupun kelompok wirausaha,” lanjut Supriyadi.

Direktur Eksekutif IN Harapkan Keterlibatan Komunitas

Sementara itu Isyanto mengatakan bahwa masukan-masukan yang didapat dalam seminar ini untuk menyempurnakan laporan. Untuk tindak lanjutnya, Institut Nagarjuna akan menyusun kembali rencana program pemberdayaan umat berdasarkan hasil penelitian. “Institut Nagarjuna sendiri sebagai peneliti, memberdayakan apa yang dibutuhkan masyarakat berdasarkan hasil penelitian. Berdasarkan temuan itulah nanti akan kita tawarkan ke Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha dan pemangku kepentingan agama Buddha, seperti hari ini banyak elemen-elemen Buddhis yang hadir.

“Tiga hal yang menarik untuk dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dan masukan-masukan tadi adalah bidang pertanian, sektor wisata dan kebudayaan. Meskipun ini masih perlu kajian lebih jauh seperti memberi pemaknaan Dharmik. Namun untuk bentuk teknisnya seperti apa itu nanti yang akan kita susun lebih lanjut bersama Dirjen Bimas Buddha. Dan kalau ada dari pihak swasta yang tertarik akan lebih baik.” Pungkas Isyanto.

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna