Page 4

Daniel Johan Anggota DPR RI Hadiri Puja Manta: Bicara Moderasi

0
Daniel Johan salah seorang Anggota DPR RI hadir sebagai umat Buddha pada Puja Manta Baca Paritta 24 Jam Non Stop di Wisma STI
Daniel Johan anggota komisi IV DPR RI sebagai umat Buddha menghadiri Puja Manta di Wisma STI pada Minggu 25 Januari 2026.

Wisma Sangha Theravada Indonesia (STI) menyelenggarakan Puja Manta Baca Paritta 24 Jam Non Stop. Kegiatan diadakan di Pendopo Kendali Roso, Wisma Sangha Theravada Indonesia, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Puja Manta dimulai pada Minggu hingga Senin, 25–26 Januari 2026 dengan membaca tiga sutta yang dipilih.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan spiritual menjelang pengukuhan Rumah Moderasi Beragama. Pengukuhan dilaksanakan pada 26 Januari 2026 di lokasi yang sama oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Dengan diawali pidato kebudayaan dari intelektual Yudi Latief. Dengan tema Menyambut Hidup Yang Baru Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia.

Anggota DPR RI Hadiri Puja Manta

Pembacaan paritta dimulai pada Minggu, 25 Januari 2026 pukul 09.00 WIB. Berakhir pada Senin, 26 Januari 2026 pukul 09.00 WIB. Pembacaan berlangsung secara berkesinambungan selama 24 jam tanpa jeda. Paritta yang dibaca secara berulang selama kegiatan tersebut meliputi: Manggala Sutta, Karaniya Metta Sutta, dan Ratana Sutta. Ketiga sutta ini dikenal sebagai teks penting dalam tradisi Buddhis yang menekankan nilai-nilai kebajikan, cinta kasih universal, serta perlindungan melalui keyakinan kepada Tri Ratna.

Salah satu umat yang hadir adalah Daniel Johan yang membawa serta istri dan anak-anaknya. Beliau adalah seorang anggota Komisi IV DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Barat. Johan menyatakan menyambut baik rangkaian kegiatan di Wisma STI dalam rangka menyambut pengukuhan Rumah Moderasi Beragama. “Indonesia yang beragam telah menyaksikan gelombang ekstrimisme dalam beragama. Sehingga dibutuhkan narasi moderasi, jalan tengah di setiap agama. Ini patut diapresiasi.” ungkapnya saat ditemui penulis di lantai dasar Wisma STI.

Moderasi Beragama: Pemaknaan

Dalam beberapa tahun terakhir, moderasi beragama memang semakin sering dibicarakan sebagai respons terhadap menguatnya berbagai ekspresi ekstremisme beragama. Sesuatu yang kerap—meski tidak selalu tepat—disebut sebagai radikalisme. Istilah moderasi beragama muncul sebagai upaya untuk menawarkan cara beragama yang tidak terjebak pada sikap berlebihan, sekaligus tidak jatuh pada pengabaian nilai-nilai keimanan.

Secara etimologis, kata moderasi berasal dari bahasa Inggris moderation, yang berarti sikap sedang, seimbang, dan tidak melampaui batas. Dalam konteks keberagamaan, moderasi beragama merujuk pada sikap yang berusaha mengambil jalan tengah, menjadi penyeimbang, serta menghadirkan solusi di antara dua kutub ekstrem yang saling berhadapan.

Pendekatan ini menempatkan moderasi sebagai posisi—titik tengah—yang tidak hanya bersifat netral. Akan tetapi juga aktif berperan sebagai penengah atau wasit dalam dinamika kehidupan beragama. Dengan demikian, moderasi beragama bukan sekadar sikap kompromistis. Melainkan upaya sadar untuk menjaga keseimbangan antara keyakinan, toleransi, dan tanggung jawab sosial.

Agama Buddha dan Jalan Tengah

Dalam ajaran Buddha jalan tengah dimaknai sebagai bukan ini dan bukan itu, tapi melingkupi keduanya, melampaui kedua kutub. Bhiksu Nagarjuna, intelektual Buddhis yang hidup pada abad 1 hingga 3 masehi. Menjelaskan melalui Madhyamaka (jalan tengah), bahwa jalan diantara dua ekstrim bukan berada diantara keduanya, tapi melampaui keduanya. Karena keduanya tidak memiliki esensi, keberadaannya saling bergantung atau interdependen. Tidak ada kanan tanpa kiri, tiada kami tanpa kita, tiada aku tanpa kamu. Maka dalam Agama Buddha Mahayana di Tiongkok, dikenal istilah “Isi adalah Kosong dan Kosong adalah Isi”. Ketika tiba di tanah Jawa, oleh Mpu Tantular. Pejabat Agama Buddha di Rakryan ing Kasogatan. Digubah menjadi Bhinna Ika Tunggal Ika, untuk menyesuaikan rima, beliau tulis Bhinneka Tunggal Ika.

Delegasi Buddhis Tiongkok diterima Penasehat Politik Tertinggi

0
Delegasi Buddhis Tiongkok (BAC) diterima penasihat politik tertinggi Wang Huning.
Penasihat politik tertinggi Tiongkok Wang Huning menyampaikan pentingnya adaptasi budaya dan modernisasi kepada delegasi Buddhis Tiongkok (BAC).

Penasihat politik tertinggi Tiongkok, Wang Huning, bertemu dengan para delegasi Buddhis Tiongkok. Para delegasi ini adalah peserta Kongres Nasional Asosiasi Buddha Tiongkok di Beijing, yang berlangsung dari 28 hingga 29 Desember 2025. Pertemuan ini berlangsung seiring penguatan kebijakan negara dalam penataan kehidupan beragama melalui organisasi keagamaan resmi.

Wang Huning, adalah anggota Komite Pusat Polit Biro Partai Komunis Tiongkok. Selain itu juga menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok. Pada pertemuan tersebut ia menekankan pentingnya penerapan kebijakan dasar Partai terkait urusan keagamaan. Menurutnya, komunitas dan tokoh Buddhis diharapkan dapat berperan aktif dalam mendukung agenda besar modernisasi nasional.

Baca juga: Asosiasi Buddhis Tiongkok Bentuk Komite Pengawas Pertama

Delegasi Buddhis Tiongkok: Kesadaran Hukum, SDM dan Budaya

Dalam pertemuan dengan delegasi buddhis Tiongkok tersebut. Wang mendorong Asosiasi Buddha Tiongkok untuk memperkuat tata kelola internal kehidupan beragama. Ia menekankan perlunya peningkatan kesadaran hukum di kalangan umat dan rohaniwan Buddha. Tujuannya, agar mereka senantiasa menaati hukum negara, memegang teguh aturan serta sila kebiksuan. Sekaligus menjaga kemurnian ajaran dan praktik keagamaan Buddhadharma Tiongkok.

Selain itu, Wang juga menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia di lingkungan Buddhis. Ia mendorong lahirnya generasi rohaniwan yang tidak hanya menguasai ajaran kanonik Buddha. Akan tetapi juga memahami dan menghayati nilai-nilai luhur budaya tradisional Tiongkok. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat identitas Buddhadharma yang selaras dengan konteks kebudayaan nasional.

Wang juga mengajak Asosiasi Buddhis Tiongkok untuk memperluas pertukaran dan dialog dengan komunitas Buddhis internasional. Hal ini dinilai penting sebagai bagian dari kontribusi Tiongkok dalam percakapan global tentang agama dan budaya. Tiongkok sendiri sudah beberapa kali menjadi tuan rumah pertemuan umat Buddha global.

Dalam Kongres Nasional ke-11 tersebut. Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) juga mengesahkan piagam organisasi yang telah direvisi. Menetapkan seperangkat aturan dan regulasi keagamaan baru. Serta memilih kepemimpinan yang baru untuk periode mendatang.

Pertemuan ini mencerminkan upaya berkelanjutan pemerintah Tiongkok dalam mengarahkan kehidupan beragama. Suatu relasi harmonis agama dan negara. Dimana agama berjalan seiring dengan hukum negara, pembangunan sosial, dan visi modernisasi nasional.

Sumber: China Daily

Asosiasi Buddhis Tiongkok Bentuk Komite Pengawas Pertama

1
Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) untuk pertama kalinya memilih komite pengawas.
Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) untuk pertama kalinya memili komite pengawas.

Kongres Nasional ke-11 Asosiasi Buddhis Tiongkok (BAC) berlangsung di Beijing pada 28–29 Desember 2025. Dalam kongres tersebut, untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi itu, dibentuk Komite Pengawas. Sebuah badan baru yang bertugas mengawasi kinerja dan tata kelola internal asosiasi.

Sebanyak 547 perwakilan Buddhis dari tiga tradisi utama (Sanskerta, Pali, dan Tibet), yang berasal dari 31 provinsi, wilayah otonom, dan kota setingkat provinsi hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka didampingi oleh 106 perwakilan undangan khusus. Hadir pula Duan Yijun, Wakil Menteri Departemen Kerja Front Persatuan Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok sekaligus Kepala Administrasi Urusan Agama Nasional, yang menyampaikan pidato resmi.

Presiden BAC dan Kepala Pengawas Baru

Kongres memilih Yanjue sebagai presiden BAC periode ke-11, menggantikan kepemimpinan sebelumnya. Selain itu, kongres juga memilih anggota Dewan dan Dewan Tetap BAC periode 2025–2030.

Adapun yang menjadi sorotan adalah pembentukan Komite Pengawas pertama BAC. Bhiksu Zhengci, mantan wakil presiden BAC periode sebelumnya. Terpilih sebagai Kepala Pengawas. Dengan jabatan baru ini, Zhengci tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden.

Zhengci, lahir di Daye, Provinsi Hubei, pada 1971, ditahbiskan sebagai bhikkhu pada April 1983. Ia sebelumnya menjabat sebagai Presiden Asosiasi Buddhis Provinsi Hubei, serta menjadi kepala vihara di Wuzu Temple di Huangmei. Juga di Vihara Honghua yang berlokasi di Gunung Dongfang, Huangshi. Pengalaman kepemimpinannya di tingkat lokal dan nasional menjadikannya figur sentral dalam struktur baru BAC ini.

Pembentukan Komite Pengawas di tingkat nasional mengikuti tren yang telah berkembang di sejumlah daerah. Sejak beberapa tahun terakhir, asosiasi Buddha di Shenyang (Liaoning), Jinjiang (Fujian), dan Provinsi Jilin telah membentuk komite serupa. Menurut pengumuman sebelumnya dari Asosiasi Buddha Shenyang. Komite pengawas lokal beroperasi berdasarkan prinsip “kepemimpinan kolektif, sentralisme demokratis, diskusi menyeluruh, dan pengambilan keputusan melalui rapat”. Tugas utamanya mencakup pengawasan internal, evaluasi kebijakan, serta pengembangan pendekatan kerja organisasi.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya BAC untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan transparansi, dan menyesuaikan diri dengan arahan kebijakan keagamaan pemerintah Tiongkok yang menekankan pada “sinifikasi agama” dan integrasi nilai-nilai sosialis.@esa

Jejak Sunyi Shaolin Afrika

1
Shaolin dari Henan Tiongkok berakar pada Chan Buddhisme. Kini telah berdiri pusat budayanya di Afrika. Shaolin Afrika menjadi pemandangan menarik.
Jejak sunyi Shaolin Afrika. Dari Henan Tiongkok chan Buddhisme akhirnya tiba di Afrika membawa kungfu shaolin.

Beberapa dari kita mungkin kerap mendapatkan FYP di akun media sosial kita yang bertema “Shaolin Afrika”. Konten tersebut biasanya menampilkan anak-anak Afrika, berjubah Shaolin sedang mendemonstrasikan kungfunya. Mereka diawasi seorang dewasa, yang juga berpenampilan pelontos dan berjubah Shaolin. Tampak kedisiplinan dan ketepatan gerak yang memukau dari anak-anak tersebut. Salah satu yang kerap muncul adalah akun dari Zambia.

Pusat Budaya Shaolin di Lusaka Afrika

Jika diamati dari latar video tempat mereka berlatih. Ini tampaknya adalah Cultural Center of Shaolin Temple di Lusaka, ibu kota Zambia. Pusat budaya ini dibuka pada 2021. Ia bukan sekadar sekolah bela diri, melainkan simpul kecil dari tradisi panjang Shaolin yang berakar pada Buddhisme Chan (Zen) di Tiongkok. Secara historis, Kuil Shaolin di Gunung Song, Henan, adalah vihara Buddhis sejak abad ke-5. Di sanalah ajaran meditasi Chan berpadu dengan latihan fisik, melahirkan tradisi kung fu sebagai disiplin tubuh dan batin—cara para bhiksu menjaga kesehatan, ketahanan, dan konsentrasi dalam praktik Dharma.

Di Lusaka, warisan itu hadir dalam bahasa yang lebih universal. Setiap sore, suara hentakan kaki dan teriakan latihan menggema dari kompleks sederhana di pinggiran kota. Para murid—disebut Shaolin disciples—datang dari berbagai latar belakang, sebagian besar remaja yang sebelumnya memiliki sedikit pilihan hidup. Mereka belajar jurus, mengatur napas, menguatkan tubuh, sekaligus menyerap nilai disiplin, ketekunan, dan pengendalian diri—nilai yang sejak berabad-abad lalu menjadi bagian dari etos monastik Shaolin.

Agama Buddha di Afrika

Pusat budaya ini membawa jejak Agama Buddha secara halus ke Afrika. Kungfu di sini bukan semata seni bertarung, melainkan latihan membentuk karakter. “Shaolin bukan hanya tentang gerak, tetapi tentang membangun diri,” ujar salah seorang pelatih. Di sela latihan, anak-anak itu bermain sepak bola, menabuh genderang, dan berbincang tentang mimpi mereka. Tubuh bergerak, tetapi batin juga diarahkan.

Empat tahun sejak dibuka, Cultural Center of Shaolin Temple di Zambia telah melampaui fungsinya sebagai sekolah kungfu. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas benua: tradisi Buddhis Chan yang lahir di Tiongkok bertemu dengan realitas sosial Afrika. Di sana, Shaolin hadir bukan sebagai agama yang dikhotbahkan, melainkan sebagai laku hidup—disiplin, kesabaran, dan harapan.

Di tengah dunia yang serba cepat, pusat kecil di Lusaka itu mengingatkan kita bahwa Dharma dapat menempuh jalan sunyi. Kadang ia tidak datang lewat kitab atau ritual. Melainkan lewat hentakan kaki, tarikan napas, dan tubuh-tubuh muda yang belajar berdiri tegak menghadapi hidup. Sebuah upaya kausalya dalam mewujudkan kebahagiaan bagi semua makhluk. @eddy setiawan

Baca juga: News.Cn

Dari Chinese ke Han Buddhism: Sinifikasi Agama Buddha Tibet

1
Dari chinese ke han buddhism: upaya sinifikasi Agama Buddha Tibet
Dari chinese ke han buddhism: upaya sinifikasi Agama Buddha Tibet

Pada 10–11 Januari 2026, Universitas Tsinghua di Beijing menyelenggarakan sebuah simposium.  Temanya adalah “Simposium 2026 tentang Studi Buddhisme Han–Tibet”. Sebuah forum yang menghimpun sekitar 50 akademisi dan tokoh keagamaan. Termasuk para biksu dan khenpo (kepala vihara). Mereka berasal dari berbagai biara utama aliran Nyingma di Tibet dan wilayah etnis Tibet di Tiongkok. Simposium ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Buddhisme Han–Tibet. Institusi yang berada di bawah Fakultas Humaniora ini, berfokus pada sejarah, tokoh, dan ajaran aliran Nyingma.

Salah satu aspek menarik dari kegiatan ini adalah pergeseran terminologis yang tampaknya sedang dikembangkan dalam wacana resmi. Penggunaan istilah “Agama Buddha Han” (Han Buddhism) menggantikan “Agama Buddha Tiongkok” (Chinese Buddhism). Dalam kerangka ini,  keduanya tampak diposisikan sebagai dua komponen tradisi etnis dalam Agama Buddha yang lebih luas. Secara kolektif seluruhnya disebut sebagai bagian dari warisan budaya Tiongkok yang unggul.

Soal Rasa Kebersamaan Bangsa Tiongkok

Dalam pidato pembukaannya. Profesor Shen Weirong, Direktur Pusat Studi Buddhisme Han–Tibet. Menjelaskan bahwa studi Buddhis tidak hanya merupakan upaya akademik, tetapi juga berkontribusi pada penguatan “rasa kebersamaan sebagai komunitas bangsa Tiongkok”. Menurutnya, dialog antara kalangan akademik dan komunitas keagamaan, sebagaimana terjadi dalam simposium tersebut. Merupakan bentuk konkret dari “adaptasi Buddhisme ke dalam konteks Tiongkok”.

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong “sinifikasi agama”. Suatu proses penyesuaian praktik dan doktrin agama agar selaras dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan politik Tiongkok kontemporer. Dalam konteks Agama Buddha Tibet, hal ini mencakup upaya untuk menekankan keterkaitan historis dan budaya antara tradisi Tibet dan Tiongkok daratan, serta memperkuat narasi integrasi nasional.

Dari Chinese Buddhism ke Han Buddhism

Namun, pergeseran dari istilah “Agama Buddha Tiongkok” ke “Agama Buddha Han” juga membawa implikasi konseptual. Istilah “Tiongkok” bersifat geopolitik dan inklusif terhadap berbagai kelompok etnis, sedangkan “Han” merujuk pada kelompok etnis mayoritas. Dengan demikian, penggunaan istilah “Han” berpotensi mengubah cara Agama Buddha Tibet dipahami. Tidak lagi sebagai sesuatu yang bersifat asing, tapi bagian dari spektrum internal yang beragam sejajar dengan etnis lainnya.

Di sisi lain, partisipasi aktif para tokoh keagamaan Tibet dalam forum semacam ini menunjukkan adanya ruang dialog antara negara dan komunitas religius. Biara-biara seperti Samye, Mindrolling, Dzogchen, Palyul, dan Larung Gar turut mengirimkan perwakilan, yang mengindikasikan tingkat keterlibatan tertentu dari kalangan internal Buddhisme Tibet terhadap wacana resmi ini.

Penting untuk dicatat bahwa proyek sinifikasi agama di Tiongkok bukanlah fenomena baru. Namun suatu evolusi terminologis dan pendekatan akademik. Seperti yang terlihat dalam simposium Tsinghua, yang menandai tahap baru dalam upaya tersebut. Tentu menarik untuk dibahas lebih dalam soal akurasi historis dan teologisnya. Selain tentunya, soal bagaimana identitas agama dikelola dalam kerangka negara-bangsa modern.

Dalam konteks global, di mana banyak tradisi agama menghadapi tantangan adaptasi terhadap realitas sosial-politik kontemporer. Kasus Agama Buddha Tibet di Tiongkok menawarkan contoh kompleks tentang interaksi antara agama, identitas etnis, dan kebijakan negara. Bagaimana keseimbangan antara pelestarian tradisi dan integrasi nasional akan terus menjadi isu yang layak diamati. Baik oleh pemerhati agama, kewarganegaraan, sejarawan, maupun pengamat kebijakan publik.@eddy setiawan

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna