Page 17

Cho Su Kong: Jejak Bhiksu dari Anxi

1
Cho Su Kong adalah seorang bhiksu Buddha Mahayana yang berasal dari Anxi
Deifikasi atau proses pendewaan adalah praktik biasa dalam agama rakyat di Tiongkok. Salah satunya adalah Cho Su Kong yang disebut Dewa dari Cadas Air Jernih. Semasa hidupnya Cho Su Kong adalah seorang bhiksu aliran Mahayana berasal dari Anxi.

Di kalangan Hokkien dan diaspora Tionghoa di Asia Tenggara, nama Cho Su Kong atau Qingshui Zushi begitu akrab. Patungnya berwajah gelap, duduk tegak dalam jubah bhiksu Mahayana. Wajah gelapnya memancarkan wibawa sekaligus welas asih. Namun di balik segala penghormatan oleh komunitas Tionghoa, hanya sebagian orang yang paham bahwa beliau sejatinya adalah seorang bhiksu Buddhis dari aliran Chan atau di Jepang disebut Zen. Sumber-sumber dari Fujian dan Taiwan menyebut nama awamnya adalah Chen Zhaoying (陳昭應), dan memiliki nama dharma Puzu (普足).

Bhiksu Cho Su Kong lahir pada tahun 1047 di wilayah Anxi–Yongchun, Quanzhou, Fujian, pada masa Dinasti Song Utara. Sejak kecil, ia menunjukkan bakat luar biasa dalam mempelajari kitab suci Buddhis dan mempraktikkan sila. Pada usia muda ia ditahbiskan di Dayun Yuan (大雲院), lalu berguru kepada seorang bhiksu Chan master bergelar Dajing Shanming—gelar yang berarti Mahaguru Chan Shanming dari Gunung/Biara Dajing. Dari sinilah muncul istilah “Da Jing Shan” yang kerap dikaitkan dengan beliau. Bukan berarti Gunung Da Jing, tapi gunung tempat berdirinya vihara dari Bhiksu Dajing Shanming.

Setelah bertahun-tahun berguru, ia menyepi di Gunung Mazhang, lalu berpindah ke Gunung Zhangyan. Di sana terdapat mata air yang jernih dan tak pernah kering. Pada tahun 1083, ia memberi nama baru bagi tempat itu: Qingshui Yan—Harafiah, Tebing atau Cadas Air Jernih. Ia mendirikan biara di lokasi itu, mengajar para siswa, dan menjadi tumpuan harapan masyarakat. Berdasarkan kisah turun temurun, dituturkan bagaimana bhiksu ini dapat mendatangankan hujan saat kemarau panjang. Sang bhiksu juga menjadi tempat dimana masyarakat yang sakit mencari kesembuhan. Baik sakit fisik maupun non fisik. Selain itu ia juga selalu membantu rakyat kecil di masa-masa sulit.

Dari Fujian ke Asia Tenggara

Setelah wafat pada 1101, nama Qingshui Zushi dikenang sebagai seorang patriark atau 祖師 (zushi) dalam bahasa mandarin. Dalam konteks Buddhisme Tionghoa, istilah ini secara harfiah berarti guru leluhur. Suatu gelar kehormatan untuk tokoh yang mengajarkan dan menegakkan ajaran (Dharma) di suatu tempat atau aliran. Serta menjadi teladan moral dan spiritual sehingga generasi setelahnya menghormatinya sebagai pendiri keluarga besar spiritual.

Pada kasus Qingshui Zushi (Cho Su Kong), gelar zushi berarti ia diakui sebagai pendiri atau pelindung suatu aliran/devosi tertentu dalam Buddhisme Chan di Fujian. Itu sebabnya, meski kini banyak kuilnya bercampur dengan tradisi rakyat, inti sejarahnya tetap: ia adalah patriark Buddhis, seorang bhiksu yang dihormati karena kebajikan dan jasa-jasanya.

Ikonografinya pun khas—wajah hitam, sorot mata tegas, dan jubah bhiksu Mahayana yang sederhana—menjadi simbol kebajikan dan keteguhan. Di Fujian, terutama Anxi dan Yongchun, kultusnya tumbuh subur.

Seiring arus migrasi orang-orang Tionghoa, khususnya Hokkien, penghormatan kepada Qingshui Zushi tersebar ke Taiwan, kemudian juga sampai ke Asia Tenggara. Di Taiwan, setiap tanggal 6 bulan pertama kalender lunar diperingati sebagai hari ulang tahunnya, lengkap dengan prosesi dan persembahan di zushi miao. Sementara  di Malaysia, beliau dikenal dengan sebutan Cho Su Kong atau Chor Soo Kong. Dengan cerita-cerita yang menekankan perannya sebagai bhiksu penyembuh dan pembawa hujan. Kuil yang didedikasikan untuknya di Penang, bahkan dikenal dunia sebagai Snake Temple, karena legenda ular-ular yang jinak di sana—walau identitas beliau sebagai bhiksu Buddhis tetap menjadi inti kisah.

Warisan Sang “Air Jernih”: Cho Su Kong

Penghormatan kepada Qingshui Zushi tidak pernah sekadar pemujaan simbol. Ia adalah cermin sejarah hidup seorang bhiksu yang mengabdikan diri pada Dharma dan kemanusiaan. Dari Anxi hingga kawasan Asia Tenggara, figur Cho Su Kong tetap dihormati hingga kini. Salah satu tempat yang didirikan untuknya di Indonesia adalah Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao. Rong Jia Yi adalah transliterasi dari Tanjung Kait. Sedangkan Da Bo Gong berarti “Paman Tertua atau Kakek Agung”. Dalam konteks ini mengacu pada Cho Su Kong sebagai dewata utama di kuil yang terletak di Tanjung Kait ini. Maka tak heran jika tempat yang akrab disebut Kelenteng Tanjung Kait ini, terkenal dengan ciamsi obatnya. Sesuai dengan kepakaran sang patriak dari Anxi di masa hidupnya.@eddy setiawan

Sumber: Madingring

Soft Power Buddhis dalam Diplomasi Asia Modern

0
Soft power Buddhis: Antara India dan Tiongkok.
Artikel ini merupakan hasil tinjauan terhadap opini Jack Meng Tat Chia di Asia Times.

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan kebangkitan diplomasi keagamaan di Asia yang semakin terang-terangan menampilkan diri di panggung geopolitik. Di baliknya, terdapat dinamika yang menarik. Tiongkok dan India, dua negeri yang sama-sama memiliki hubungan panjang dengan Buddhadharma. Kini terlibat dalam apa yang oleh Jack Meng-Tat Chia disebut sebagai “perebutan hati dan pikiran Buddhis dunia.” Ini mungkin salah satu bentuk soft power Buddhis yang dapat digunakan di kawasan Asia.

Chia, seorang sejarawan agama dari National University of Singapore. Melalui artikelnya di Asia Times, 25 Agustus 2025 menguraikan bagaimana dua kekuatan besar Asia ini berlomba memanfaatkan simbol, situs suci, dan relik Buddha.  Hal tersebut menjadi bagian dari soft power Buddhis  atau kekuatan lunak dalam diplomasi modern. Di tengah dunia yang kian rapuh oleh perang dagang dan retaknya aliansi politik. Buddhadharma yang sejatinya berakar pada welas asih dan kesadaran batin. Tampak berubah menjadi medium politik luar negeri yang penuh kalkulasi.

Relik, Diplomasi, dan Panggung Spiritualitas

India, di bawah pemerintahan Narendra Modi, menegaskan dirinya sebagai “tanah kelahiran Buddha.” Relik-relik suci Buddha dipinjamkan ke berbagai negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam, bukan hanya sebagai upaya penghormatan spiritual, melainkan juga untuk meneguhkan posisi India sebagai pusat ziarah dunia Buddhis. Praktik ini, menurut Chia, menunjukkan pola baru di mana kesakralan diolah menjadi strategi kebudayaan negara.

Tiongkok tidak tinggal diam. Beijing justru mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis dengan menenun Buddhadharma ke dalam kebijakan besar seperti Belt and Road Initiative. Relik gigi Buddha dari Kuil Lingguang di Beijing misalnya. Dikirim ke Thailand dalam upacara penuh simbol politik dan disiarkan secara luas oleh media. Bahkan, pemerintah Tiongkok berupaya menegaskan otoritasnya atas Buddhadharma Tibet. Dengan mengklaim hak menentukan reinkarnasi Dalai Lama berikutnya—sebuah tindakan yang, bagi Chia, sarat makna geopolitik.

Selain itu, Tiongkok juga memperkenalkan gagasan “Buddhadharma Laut Tiongkok Selatan.” Suatu narasi budaya yang memadukan warisan spiritual dengan klaim kedaulatan maritim. Melalui gagasan ini, Buddhadharma diproyeksikan sebagai wajah peradaban Tiongkok yang damai. Akan tetapi juga berfungsi sebagai legitimasi simbolik atas pengaruhnya di kawasan.

Diplomasi Buddhis: Tradisi Lama yang Berubah Fungsi

Chia mengingatkan bahwa diplomasi Buddhis bukanlah fenomena baru. Sejak masa Asoka hingga Sriwijaya, para raja di Asia telah menggunakan relik dan ajaran Buddha untuk mempererat hubungan antarwilayah dan meneguhkan legitimasi kekuasaan. Namun dalam konteks modern, kebangkitan praktik ini membawa nuansa berbeda—lebih diplomatik, lebih strategis, dan terkadang, lebih politis daripada spiritual.

Di Asia kontemporer, negara-negara melihat Buddhadharma bukan hanya sebagai agama, melainkan juga sebagai aset budaya yang bisa menggerakkan simpati internasional. Namun di sisi lain, “penggunaan” agama semacam ini berisiko mengaburkan makna spiritualnya. Relik, situs suci, dan ritual ziarah dapat dengan mudah berubah menjadi instrumen politik, bahkan menjadi simbol rivalitas kekuasaan.

Jembatan Kecil dari Singapura

Dalam lanskap kompetisi dua raksasa ini, Chia menyoroti peran menarik negara kecil seperti Singapura yang sering menjadi jembatan tenang di tengah riuhnya diplomasi Buddhis. Jauh sebelum hubungan diplomatik resmi antara Singapura dan Tiongkok terbentuk, hubungan antartokoh Buddhis sudah terjalin erat. Antara tahun 1982 dan 1990, Yang Mulia Hong Choon dari Federasi Buddhis Singapura melakukan serangkaian kunjungan ke Tiongkok dan bertemu dengan para pemimpin agama maupun politik. Dalam pandangan Chia, langkah-langkah semacam ini menunjukkan bahwa hubungan keagamaan dapat menjadi fondasi diplomasi lintas batas yang lebih damai, bahkan mendahului hubungan politik formal.

Pameran “Rahasia Pagoda yang Runtuh” di Museum Peradaban Asia (2014), yang menampilkan artefak dari Kuil Famen di Shaanxi, menjadi contoh nyata bagaimana Agama Buddha berperan sebagai jembatan kultural. Dalam konteks ini, diplomasi Buddhis tampil bukan sebagai perebutan pengaruh, melainkan sebagai ruang dialog dan saling pengertian.

Pedang Bermata Dua

Namun, Chia mengingatkan bahwa diplomasi agama adalah pedang bermata dua. Ketika simbol-simbol Buddhis dijadikan alat propaganda, ia kehilangan kesakralannya. Kegiatan ziarah atau pameran relik bisa menimbulkan reaksi negatif jika dilihat sebagai strategi politik yang terselubung. Rivalitas antara India dan Tiongkok, meski terbungkus dalam citra “kedamaian”, sebenarnya mencerminkan ketegangan lama yang kini bergeser dari batas wilayah ke ranah spiritual.

Dalam konteks ini, Chia mengajukan pertanyaan penting: dapatkah diplomasi Buddhis benar-benar menjadi kekuatan untuk perdamaian, ataukah ia justru memperdalam jurang rivalitas? Jawabannya bergantung pada cara negara-negara di Asia memaknai agama—sebagai sumber kebijaksanaan, atau sekadar instrumen kekuasaan.

Menemukan Jalan Tengah: Soft Power Buddhis

Sebagai penutup, Chia menekankan pentingnya melibatkan komunitas keagamaan dan lembaga lokal dalam diplomasi semacam ini. Hanya dengan pendekatan yang partisipatif dan jujur. Maka nilai-nilai Buddhis seperti kasih sayang dan pengendalian diri dapat benar-benar menjadi dasar bagi hubungan internasional yang lebih manusiawi. Diplomasi Buddhis, jika dilakukan dengan kesadaran etis, dapat menjadi model baru hubungan antarbangsa—berbasis welas asih, bukan dominasi; berbasis dialog, bukan propaganda. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, visi seperti ini tidak hanya relevan, tetapi juga sangat dibutuhkan.@eddy setiawan

Baca juga: Diplomasi Buddhis di Asia Modern

Referensi:

Jack Meng-Tat Chia, 2025, “Hard Rivalry for Buddhism’s Soft Power: China and India Locked in a Not-so-Holy Geopolitical Competition for Buddhism’s Diplomatic High Ground”, Asia Times, 25 Agustus, diakses 03 November 2025, https://asiatimes.com/2025/08/hard-rivalry-for-buddhisms-soft-power/.

Jack Meng-Tat Chia adalah Foo Hai Fellow dalam Kajian Buddhis dan Profesor Sejarah Madya di National University of Singapore (NUS). Ia juga editor buku Figures of Buddhist Diplomacy in Modern Asia. Publikasi yang didukung oleh Social Science and Humanities Research Fellowship, Social Science Research Council (Singapore).

Suksesi Pengurus Institut Nagarjuna

1
Kepengurusan Institut Nagarjuna Periode 2020-2025 di bawah Ketua Umum Isyanto telah berakhir. Suksesi pun diadakan dan terpilih Eddy Setiawan sebagai ketua umum periode 2025-2030.
Institut Nagarjuna telah mengadakan pergantian kepengurusan dengan berakhirnya masa kepengurusan periode 2020-2025.

Pengurus Institut Nagarjuna periode sebelumnya, pada November 2025 telah purna tugas. Ketua Pengurus IN, Isyanto dan jajaran mengakhiri masa kepengurusannya selama 2 periode. Hal ini dilakukan dengan mengadakan Rapat Pleno Lengkap. Rapat dihadiri Pembina, Pengurus, dan Pengawasan yayasan, dengan materi mengenai laporan pertanggungjawaban dan suksesi pengurus.

Kegiatan diadakan di Wisma STI yang terletak di bilangan Jakarta Selatan, pada Minggu 2 November 2025. Di wisma yang lebih akrab disebut umat Buddha sebagai vihara Pondok Labu. Isyanto membacakan Laporan pertanggungjawaban pengurus yang dipimpinnya. Setelah didialogkan antara pembina, pengurus, dan pengawas LPJ dapat diterima dengan baik.

Pembina dan pengawas hanya berpesan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan eksistensi IN sebagai lembaga kajian dan pengembangan umat Buddha, dapat makin diterima. Program yang sudah berjalan dengan baik dan rutin seperti Sekolah Kepemimpinan Buddhis perlu dilanjutkan. Apalagi informasi terakhir, masyarakat di beberapa daerah masih berharap IN mengadakan kegiatan kembali di wilayahnya.

Salah satu kekuatan IN menurut para Pembina dan Pengawas adalah kemampuan IN mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang aliran atau majelis. Latar belakang pengurus IN yang beragam, dan karakter inklusif para aktivisnya membuat suasana pelatihan penuh keterbukaan dan jauh dari eksklusitas sektarian. Hal demikianlah yang tampaknya dirindukan sebagian besar kaum muda yang menjadi peserta kegiatan IN. Suasana demikian membuat umat dapat merasakan harmoni, selain materi-materi kebangsaan dalam kegiatan. Selain itu IN ke depan juga diharapkan lebih intensif untuk mempublikasikan kajian-kajiannya. Baik kajian ringan melalui website IN maupun yang lebih serius melalui berbagai jurnal yang ada.

Suksesi Pengurus: Eddy Setiawan Ketua Umum IN 2025-2030

Sementara pemilihan ketua dilakukan dengan musyawarah mufakat, dan memberikan kepercayaan kepada Eddy Setiawan sebagai Ketua IN 2025-2030. Sedangkan Manggala Wirya Tantra sebagai Sekretaris, dan memberikan hak sepenuhnya kepada Pembina sesuai AD/ART untuk menentukan sususan pengurus ke depan. Pembentukan kepengurusan, akan menyesuaikan kebutuhan dan perkembanan organisasi. Diharapkan melalui suksesi pengurus ini, IN akan benar-benar dapat mengisi bidang yang belum cukup banyak digarap komunitas Buddhis di Indonesia.@sekretariat

Baca juga: Institut Nagarjuna Sukses Luncurkan Sekolah Kepemimpinan Muda

Nagarjuna: Filsuf Buddhis Terbesar Pendiri Madhyamaka

0
Ikonografi Nagarjuna dalam tradisi Buddhadharma Mahayana. Nagarjuna dan Madhyamaka.
Nagarjuna kerap digambarkan lengkap dengan naga. Nagarjuna dan Madhyamaka mencakup sunyata, dua kebenaran dan relevansinya dalam konteks Indonesia.

Ringkasan Singkat
Nagarjuna adalah filsuf Buddhis India abad ke-2 Masehi
Pendiri aliran Madhyamaka (Jalan Tengah)
Mengembangkan konsep Sunyata (kekosongan)
Penulis Mulamadhyamakakarika (MMK)
Disebut sebagai “Buddha Kedua” dalam tradisi Tibet
Pemikirannya berpengaruh hingga Asia Timur, Tibet, dan Nusantara
Mengapa Nagarjuna Penting?

Nagarjuna adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah Buddhisme — bahkan sering disebut sebagai “Buddha Kedua”. Pemikirannya tidak hanya mengubah arah filsafat Buddhis, tetapi juga membentuk cara manusia memahami realitas, kebenaran, dan hubungan antar makhluk hingga hari ini.

Di tengah dunia modern yang penuh polarisasi, ekstremisme, dan krisis kebenaran, ia menawarkan sesuatu yang sangat langka. Yakni cara berpikir yang tajam tetapi tidak dogmatis, kritis tetapi tidak nihilistik, dan mendalam tanpa kehilangan relevansi praktis.

Bagi Institut Nagarjuna, selanjutnya disingkat IN. Nama ini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan representasi dari misi intelektual:

MENGHADIRKAN DHARMA SEBAGAI ALAT ANALISIS UNTUK MEMAHAMI DAN MENJAWAB PERSOALAN KEHIDUPAN BERBANGSA, BERNEGARA, DAN BERKEMANUSIAAN DI INDONESIA.

Siapa Nagarjuna?

Ia adalah seorang filsuf Buddhis yang hidup sekitar abad ke-2 hingga ke-3 Masehi di India Selatan. Ia dikenal sebagai pendiri aliran Madhyamaka, salah satu tradisi filsafat paling berpengaruh dalam Buddhadharma Mahayana.

Profil Singkat
Nama                : Nagarjuna
Periode             : ±150–250 M
Asal                   : India Selatan (Vidarbha)
Latar belakang : Brahmana
Karya utama     : Mulamadhyamakakarika
Aliran                : Madhyamaka
Julukan             : Buddha Kedua

Yang membuat filsuf besar ini unik bukan hanya kecerdasannya, tetapi kemampuannya mengubah cara berpikir umat Buddhis secara mendasar — dari pendekatan metafisik menjadi analisis kritis terhadap realitas.

I. Riwayat Hidup: Antara Sejarah dan Legenda

1. Latar Belakang

Sebagian besar sarjana menempatkannya sebagai tokoh abad ke-2 Masehi. Ia kemungkinan berasal dari India Selatan dan dilahirkan dalam keluarga Brahmana — kelas intelektual tertinggi dalam masyarakat India saat itu.

Ini penting karena:

ia memahami filsafat non-Buddhis dari dalam
kritiknya sangat tajam dan sistematis

2. Pendidikan dan Konversi

Menurut tradisi, Nagarjuna adalah anak jenius yang menguasai:

Veda
logika
metafisika India

Namun ia kemudian beralih ke Buddhadharma dan mendalami ajaran di pusat pendidikan seperti Nalanda.

3. Legenda Naga

Kisah paling terkenal adalah hubungannya dengan makhluk naga.

Legenda menyebutkan:

ia mengambil Sutra Prajnaparamita dari dunia naga
naga melindunginya saat mengajar

Makna simbolisnya:

naga = kebijaksanaan tersembunyi
Nagarjuna = pengungkap kembali Dharma mendalam

4. Kiprah Intelektual

Secara historis, kontribusi terbesarnya adalah karya filosofis, terutama:

Mulamadhyamakakarika
Vigrahavyavartani
Ratnavali
Suhṛllekha

II. Inti Filsafat Nagarjuna: Madhyamaka

1. Kritik terhadap Esensialisme

Nagarjuna hidup pada masa ketika Buddhadharma berkembang menjadi sistem filsafat kompleks, terutama melalui tradisi Abhidharma yang menganggap bahwa realitas terdiri dari “unsur-unsur dasar” (dharma) yang memiliki esensi tetap. Ia menolak ini.

Menurutnya, tidak ada sesuatu pun yang memiliki esensi mandiri (svabhava)

2. Sunyata: Kekosongan

Konsep paling terkenal dari Nagarjuna adalah Sunyata (kekosongan).

Namun penting dipahami:

❌ bukan nihilisme
❌ bukan “tidak ada apa-apa”

✔ melainkan:

TIDAK ADA SESUATU YANG BERDIRI SENDIRI SECARA MANDIRI

Analogi sederhana

Sebuah kursi:

terdiri dari kayu, desain, fungsi, persepsi
tanpa itu semua → tidak ada “kursi”

Maka:
“kursi” kosong dari esensi tetap

Kutipan penting

“APA YANG MUNCUL BERGANTUNGAN, ITULAH KEKOSONGAN.”

3. Pratityasamutpada (Kemunculan Bergantungan)

Sunyata tidak berdiri sendiri.

Ia adalah sisi lain dari:

Pratityasamutpada → semua fenomena muncul karena sebab dan kondisi

Rumusannya:

Sunyata = Pratityasamutpada
Keduanya = Jalan Tengah
4. Dua Kebenaran

Nagarjuna menjelaskan realitas melalui:

1. Kebenaran Konvensional
dunia sehari-hari
bahasa, konsep, identitas
2. Kebenaran Tertinggi
semua itu kosong dari esensi

Keduanya tidak bertentangan, tapi saling melengkapi.

5. Metode Berpikir: Catuskoti

Metode logika Nagarjuna:

X ada
X tidak ada
X ada dan tidak ada
X bukan keduanya

Semua diuji → semua runtuh jika diasumsikan punya esensi

III. Karya-Karyanya

1. Mulamadhyamakakarika yang merupakan karya utamanya.

Isi: 27 bab analisis realitas secara radikal

Pengaruh:

Cina
Tibet
Jepang
2. Vigrahavyavartani

Menjawab kritik terhadap filsafatnya.

3. Ratnavali

Nasihat politik kepada raja. sangat relevan dengan isu negara dan etika publik

4. Suhṛllekha

Surat etika praktis:

welas asih
kerendahan hati
praktik Dharma

IV. Warisan dan Pengaruh

1. Tradisi Madhyamaka

Dikembangkan oleh:

Aryadeva
Candrakirti
Bhavaviveka
2. Penyebaran ke Asia Timur

Melalui Kumarajiva melahirkan: Sanlun dan Chan (Tiongkok) dan Zen (Jepang)

3. Buddhadharma Tibet

Nagarjuna disebut:

“BUDDHA KEDUA”

Pemikirannya menjadi dasar seluruh filsafat Tibet.

4. Dialog dengan Filsafat Barat

Dibandingkan dengan:

Ludwig Wittgenstein
Immanuel Kant

V. Relevansi Kontemporer
1. Melawan Fanatisme

Fanatisme lahir dari keyakinan absolut. Nagarjuna menyatakan tidak ada yang absolut

2. Dasar Welas Asih

Karena semua saling bergantung, penderitaan orang lain merupakan bagian dari kita

3. Era Post-Truth

Nagarjuna menawarkan:

skeptisisme sehat
logika ketat

4. Etika Lingkungan

Manusia tidak terpisah dari alam, semua saling terkait dan bergantungan.

5. Buddhadharma Indonesia

Model Nagarjuna:

✔ kritis
✔ intelektual
✔ terlibat sosial

VI. Nagarjuna dan Nusantara

1. Srivijaya

Pusat Buddhadharma Mahayana yang banyak mempelajari Madhyamaka.

2. Jawa Kuno
Borobudur
teks Kamahayanikan

jelas menunjukkan pengaruh Nagarjuna

3. Majapahit

Konsep Prajnaparamita berkembang kuat.

4. Posisi IN

IN melanjutkan tradisi ini:

mengkaji Dharma dalam konteks Indonesia
menghubungkan Buddhadharma dengan berbagai diskursus kontemporer seperti:
kewarganegaraan
HAM
lingkungan
sosial-politik
budaya
sejarah

VII. Penutup

Mengapa Nagarjuna masih relevan? Karena ia menunjukkan:

batas berpikir manusia
sekaligus potensi kebijaksanaan

Ia adalah:

FILSUF YANG MEMBONGKAR FILSAFAT ITU SENDIRI

Kesimpulan

Nagarjuna bukan sekadar tokoh sejarah.

Ia menawarkan:

metode berpikir
kerangka analisis
dan jalan kebijaksanaan
Referensi Singkat
Garfield (1995)
Westerhoff (2009)
Williams (2009)

Tentang IN

IN adalah lembaga kajian Buddhis Indonesia yang mengembangkan Dharma sebagai alat analisis untuk memahami realitas sosial, politik, dan kemanusiaan.

 

 

 

 

 

 

Nagarjuna dan Madhyamaka: Analisis Sunyata dan Dua Kebenaran

0

Pendahuluan

Nagarjuna merupakan tokoh sentral dalam filsafat Buddhis Mahayana yang melalui aliran Madhyamaka mengembangkan kerangka pemikiran berbasis Sunyata (kekosongan) dan doktrin dua kebenaran sebagai fondasi pemahaman realitas.

Dalam tradisi Buddhis, Nagarjuna sering disebut sebagai “Buddha Kedua” karena kontribusinya yang bersifat transformatif. Ia tidak hanya menafsirkan ajaran Buddha, tetapi juga mengembangkan metode filosofis yang secara sistematis mengkritik asumsi-asumsi metafisik tentang keberadaan dan kebenaran.

Di tengah dunia kontemporer yang ditandai oleh polarisasi, absolutisme, dan krisis epistemologis, pemikiran Nagarjuna menawarkan pendekatan yang kritis, reflektif, dan terbuka. Oleh karena itu, kajian terhadap Nagarjuna tidak hanya relevan dalam studi Buddhis, tetapi juga dalam analisis sosial, politik, dan kemanusiaan. Hal inilah yang mendorong pilihan nama untuk lembaga ini, yaitu Institut Nagarjuna.

Latar Historis dan Biografis Nagarjuna

Secara historis, Nagarjuna diperkirakan hidup pada abad ke-2 hingga ke-3 Masehi di wilayah India Selatan. Ia sering dikaitkan dengan latar belakang Brahmana, yang menunjukkan bahwa ia memiliki penguasaan mendalam terhadap tradisi filsafat India sebelum beralih ke Buddhisme.

Beberapa sumber tradisional mengaitkannya dengan pusat pembelajaran seperti Nalanda, meskipun aspek ini masih menjadi perdebatan dalam kajian modern.

Selain catatan historis, riwayat Nagarjuna juga diperkaya oleh narasi simbolik, terutama kisah tentang hubungannya dengan naga. Dalam tradisi ini, ia digambarkan memperoleh teks Prajnaparamita dari dunia naga—sebuah simbol bahwa ia mengungkap kembali ajaran kebijaksanaan yang mendalam.

Kerangka Filsafat: Nagarjuna dan Madhyamaka

Kritik terhadap Svabhava

Salah satu kontribusi utama Nagarjuna adalah kritiknya terhadap konsep svabhava (esensi inheren). Dalam banyak sistem filsafat pada masanya, realitas dipahami sebagai terdiri dari entitas yang memiliki keberadaan mandiri.

Nagarjuna menolak pandangan ini dengan menunjukkan bahwa tidak ada fenomena yang memiliki esensi tetap dan independen.

Sunyata: Kekosongan sebagai Prinsip Ontologis

Konsep Sunyata merupakan inti dari pemikiran Nagarjuna. Namun, kekosongan tidak dapat dipahami sebagai nihilisme.

Sebagaimana dijelaskan oleh Jay L. Garfield (1995), Sunyata bukanlah penolakan terhadap keberadaan, melainkan penolakan terhadap gagasan bahwa sesuatu memiliki esensi tetap.

Dengan demikian, kekosongan menunjukkan bahwa seluruh fenomena bersifat relasional dan bergantung pada kondisi.

Penting untuk ditekankan bahwa Sunyata dalam pemikiran Nagarjuna tidak identik dengan nihilisme. Kekosongan bukan berarti ketiadaan, melainkan ketiadaan esensi tetap. Dengan kata lain, sesuatu tetap “ada” dalam tingkat konvensional, tetapi tidak memiliki keberadaan yang mandiri dan absolut.

Sebagai ilustrasi, identitas sosial seperti “warga negara” atau “agama” tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui relasi historis, hukum, dan budaya. Dalam perspektif Nagarjuna, identitas tersebut bersifat nyata secara konvensional, tetapi kosong dari esensi tetap.

Pratityasamutpada: Kemunculan Bergantungan

Konsep kekosongan berkaitan erat dengan Pratityasamutpada, yaitu doktrin tentang kemunculan bergantungan.

Dalam kerangka Nagarjuna:

Apa yang muncul secara bergantungan, itulah yang disebut kosong.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kekosongan bukanlah negasi realitas, melainkan cara memahami bahwa segala sesuatu ada dalam jaringan sebab dan kondisi.

Dua Kebenaran

Nagarjuna menjelaskan realitas melalui doktrin dua kebenaran:

  1. Kebenaran konvensional (samvriti-satya): dunia pengalaman sehari-hari, bahasa, dan konstruksi sosial
  2. Kebenaran tertinggi (paramartha-satya): realitas sebagai kekosongan dari esensi inheren

Kedua kebenaran ini bersifat komplementer. Pemahaman yang tepat terhadap keduanya menjadi kunci dalam filsafat Madhyamaka.

Metodologi Berpikir Nagarjuna (Catuskoti)

Metode berpikir Nagarjuna dikenal melalui logika catuskoti (empat kemungkinan):

  • suatu hal ada
  • suatu hal tidak ada
  • suatu hal sekaligus ada dan tidak ada
  • suatu hal bukan keduanya

Melalui pendekatan ini, Nagarjuna menunjukkan bahwa setiap klaim tentang realitas akan runtuh jika diasumsikan memiliki esensi tetap. Dengan demikian, ia tidak menawarkan sistem metafisika baru, melainkan membongkar asumsi-asumsi dasar dalam berpikir metafisik.

Karya-Karya Utama dan Tradisi Interpretasi

Karya utama Nagarjuna adalah Mulamadhyamakakarika, sebuah teks filosofis yang menjadi fondasi bagi perkembangan Madhyamaka. Dalam karya ini, Nagarjuna menyusun analisis sistematis terhadap konsep-konsep dasar seperti sebab-akibat, gerak, waktu, dan identitas, dengan tujuan membongkar asumsi tentang adanya esensi tetap (svabhava) dalam realitas.

Selain karya tersebut, Nagarjuna juga menulis beberapa teks penting lainnya, antara lain Vigrahavyavartani, yang berisi pembelaan terhadap pendekatan filosofisnya; Ratnavali, yang memuat nasihat etis dan politik kepada penguasa; serta Suhṛllekha, yang berbentuk surat nasihat praktis mengenai kehidupan bermoral dan praktik Dharma.

Pemikiran Nagarjuna kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para penerusnya dalam tradisi Madhyamaka, seperti Aryadeva, Candrakirti, dan Bhavaviveka. Melalui elaborasi mereka, Madhyamaka berkembang menjadi sistem filsafat yang semakin kompleks, terutama dalam perdebatan epistemologis dan metode argumentasi.

Proses penyebaran ajaran Nagarjuna ke Asia Timur tidak terlepas dari peran penerjemah besar seperti Kumarajiva, yang menerjemahkan teks-teks penting ke dalam bahasa Tionghoa. Melalui jalur ini, pemikiran Madhyamaka memengaruhi perkembangan tradisi Sanlun di Tiongkok serta Chan, yang kemudian dikenal sebagai Zen di Jepang.

Di Tibet, Nagarjuna menempati posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan sistem filsafat Buddhis. Tradisi Madhyamaka menjadi fondasi utama dalam pendidikan monastik dan kerangka analisis filosofis, serta memainkan peran penting dalam pembentukan pemahaman tentang realitas dan pembebasan.

Secara lebih luas, Nagarjuna dan Madhyamaka memiliki pengaruh yang signifikan di berbagai wilayah Asia di mana Buddhisme Mahayana berkembang. Dalam setiap konteks, ajarannya tidak hanya ditransmisikan, tetapi juga diinterpretasikan dan disesuaikan dengan tradisi intelektual lokal, sehingga tetap hidup dan relevan lintas ruang dan waktu.

Pengaruh Nagarjuna di Asia

Pengaruh Nagarjuna meluas ke berbagai wilayah Asia, termasuk Tiongkok, Tibet, Jepang, dan Asia Tenggara. Dalam setiap konteks, pemikirannya mengalami interpretasi dan adaptasi sesuai dengan tradisi lokal.

Di Tibet, Madhyamaka menjadi fondasi utama pendidikan monastik. Sementara di Asia Timur, pemikirannya berkontribusi pada perkembangan Zen. Tokoh seperti Thich Nhat Hanh yang mengembangkan konsep Engaged Buddhism, atau Buddhadharma Terapan. Sangat terpengaruh pemikiran dan karya Nagarjuna. Dapat dibaca pada Sejarah Engaged Buddhism.

Relevansi Kontemporer: Nagarjuna dan Madhyamaka

Pemikiran Nagarjuna memiliki relevansi penting dalam konteks modern.

Pertama, ia memberikan kritik terhadap fanatisme dan klaim kebenaran absolut.

Kedua, doktrin kemunculan bergantungan menjadi dasar etika welas asih, karena menunjukkan keterhubungan antar makhluk.

Ketiga, dalam era post-truth, pendekatannya mendorong sikap kritis terhadap bahasa dan konstruksi realitas.

Keempat, dalam isu lingkungan, pemahaman interdependensi menegaskan bahwa manusia tidak terpisah dari alam.

Dalam konteks Indonesia, pendekatan Nagarjuna dapat digunakan untuk misalnya membaca ulang konsep kewarganegaraan yang sering dipahami secara kaku dan esensialis. Identitas kewarganegaraan tidak bersifat tetap, melainkan terbentuk melalui relasi hukum, administrasi, dan praktik sosial. Dengan demikian, pendekatan Madhyamaka membuka ruang bagi pemahaman yang lebih inklusif dan dinamis terhadap status kewarganegaraan.

Selain itu, dalam konteks polarisasi sosial dan politik, pemikiran Nagarjuna menawarkan kritik terhadap kecenderungan melihat realitas secara hitam-putih. Jalan Tengah mengajak untuk memahami kompleksitas tanpa terjebak pada ekstrem. Demikian pula dalam praktik beragama yang rentan terjebak diantara ekstremisme atau konservatisme.

Nagarjuna dan Madhyamaka dalam Konteks Indonesia

ejak pemikiran Nagarjuna dapat ditelusuri dalam perkembangan Buddhadharma di Nusantara. Pada masa Sriwijaya, tradisi Mahayana berkembang sebagai pusat pembelajaran Buddhis yang memiliki jaringan intelektual luas di Asia.

Peninggalan seperti Borobudur serta teks Kamahayanikan menunjukkan adanya pengaruh ajaran Prajnaparamita yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi Madhyamaka. Hal ini mengindikasikan bahwa gagasan filosofis yang berkembang di India tidak hanya ditransmisikan, tetapi juga diinterpretasikan dan diadaptasi dalam konteks lokal Nusantara.

Sejumlah sarjana juga melihat bahwa struktur naratif dan simbolik pada relief Borobudur mencerminkan pemahaman mendalam terhadap ajaran kebijaksanaan (Prajnaparamita), yang dalam tradisi filsafat Buddhis berkaitan dengan konsep kekosongan (Sunyata). Dengan demikian, Borobudur tidak hanya dapat dibaca sebagai monumen religius, tetapi juga sebagai representasi visual dari kosmologi dan epistemologi Buddhis.

Bagaimana di Nusantara?

Dalam konteks sastra Jawa Kuno, pengaruh tersebut dapat ditelusuri dalam karya Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Teks ini tidak hanya merefleksikan sintesis pemikiran Buddhis dan Siwais, tetapi juga menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap prinsip non-dualitas yang sejalan dengan semangat Jalan Tengah. Ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari karya ini kemudian diadopsi sebagai semboyan nasional Indonesia, menunjukkan bagaimana warisan intelektual Buddhis turut membentuk dasar imajinasi kebangsaan.

Dalam konteks Indonesia kontemporer, pembacaan ulang Nagarjuna menjadi semakin relevan. Pemikirannya dapat digunakan sebagai kerangka analitis untuk memahami isu-isu seperti kewarganegaraan, pluralisme, dan keadilan sosial. Dengan menolak esensialisme dan menekankan relasionalitas, pendekatan Madhyamaka membuka ruang bagi pemahaman yang lebih inklusif dan dinamis terhadap identitas sosial dan politik. Dapat disimak pada artikel Hamemayu Hayuning Bawono dan Etika Kesalingketergantungan misalnya.

Dengan demikian, Nagarjuna tidak dapat dipandang semata sebagai tokoh India, melainkan sebagai bagian dari sejarah intelektual Buddhisme Asia yang turut membentuk lanskap pemikiran di Indonesia.

Kesimpulan

Nagarjuna bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan seorang pemikir yang menawarkan metode kritis untuk memahami realitas.

Melalui konsep kekosongan, kemunculan bergantungan, dan dua kebenaran, ia menunjukkan bahwa realitas tidak dapat dipahami secara absolut maupun nihilistik.

Pemikirannya tetap relevan sebagai dasar pengembangan cara berpikir yang reflektif, kritis, dan terbuka dalam menghadapi tantangan dunia modern.

Referensi

Garfield, JL 1995, The Fundamental Wisdom of the Middle Way: Nagarjuna’s Mulamadhyamakakarika Oxford University Press, New York.

Westerhoff, J 2009, Nagarjuna’s Madhyamaka: A Philosophical Introduction, Oxford University Press, Oxford.

Williams, P 2009, Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations. 2nd ed., Routledge, London.

Tentang Institut Nagarjuna

Institut Nagarjuna adalah lembaga kajian Buddhis di Indonesia yang berfokus pada pengembangan Dharma sebagai kerangka analisis untuk memahami realitas sosial, politik, dan kemanusiaan secara kritis dan kontekstual.

Artikel ini merupakan pengantar komprehensif untuk memahami Nagarjuna dan filsafat Madhyamaka sebagai dasar kajian Buddhis.

 

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna