Page 18

Kelenteng Tempat Ibadah Agama Buddha Tradisi Tionghoa

3
Istilah kelenteng berakar dari Kwan Im Teng, Jadi kelenteng tak lain adalah tempat ibadah agama buddha dengan tradisi Tionghoa.
Agama Buddha berkembang sesuai konteks budaya penganutnya. Leluhur Tionghoa membawa tradisi Chinese Buddhism ke Nusantara. Tempat ibadah awal adalah Kwan Im Teng diserap oleh masyarakat lokal menjadi kelenteng.

Di Indonesia orang terbiasa menyebut bangunan rumah ibadah berciri khas Tiongkok sebagai Kelenteng. Suatu istilah serapan yang terbentuk dari proses pengucapan Kwan Im Teng dalam lidah Indonesia. Istilah ini bermakna tempat Memuja Kwan Im atau Bodhisattva Avalokitesvara. Pemujaan terhadap Bodhisatva Avalokitesvara atau Kwan Im Pu Sa adalah bagian dari praktik religi agama Buddha Tionghoa (Chinese Buddhism). Suatu bentuk akulturasi agama Buddha dengan kepercayaan tradisi masyarakat Tiongkok sejak abad pertama masehi.

Arsitektur, ragam hias, dan ikonografi Tiongkok adalah ciri khas dari wihara Chinese Buddhism. Seperti Naga, Sepasang Singa Penjaga, Cakra, Bunga Teratai, Swastika, Ikan, Mutiara, Pagoda, dan lain sebagainya. Kwan Im Teng di negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Yang dibangun sejaman dengan Kwan Im Teng-Kwan Im Teng tertua di Indonesia hingga saat ini masih disebut Kwan Im Teng.  Diantara Kwan Im Teng tertua di Indonesia adalah Kwan Im Teng/Jin De yuan/Vihara Dharma Bhakti di Glodok. Kwan Im Teng/Vihara Avalokitesvara di Banten. Tiao Kak Sie/Vihara Dewi Welas Asih di Cirebon dan lain-lain.

R.A Kartini dan Kelenteng Welahan

Sementara di Indonesia menggunakan istilah serapan Kelenteng. Istilah lain yang digunakan adalah Konco, dan Topekong. R. A Kartini dalam salah satu suratnya menuliskan bahwa saat remaja ia pernah sakit dan tidak bisa disembuhkan oleh para dokter. Kemudian keluarganya mengikuti saran seorang Tionghoa untuk berobat ke Topekong Hian Thian Sang Te. Sekarang masyarakat umum menyebutnya Kelenteng Welahan, meski nama resminya tetap Hian Thian Sang Te. Kartini sebagaimana tulisannya, diminta meminum air yang telah ditaburi abu sisa pembakaran dupa di altar dan ternyata sembuh. Kartini dalam suratnya tersebut juga menyebut bahwa ia adalah anak Buddha. Kemudian mulai bervegetarian sejak saat itu.

Kwan Im Teng/JIn De Yuan/Wihara Dharma Bhakti di Glodok menyimpan prasasti nama-nama bhiksu yang pernah menempati wihara tersebut yang berdiri tahun 1650, namun karena kondisi sosial politik yang tidak kondusif sejak terbitnya PP 10 Tahun 1959 hingga meletusnya peristiwa 1965, para bhiksu ini akhirnya meninggalkan Indonesia dan mengungsi ke Tiongkok. Kwan Im Teng/Wihara Dewi Welas Asih di Cirebon juga menyimpan prasasti yang mencatat penyebaran agama Buddha di Cirebon dan sekitarnya pada tahun 1800an.

Apa karakteristik Chinese Buddhism?

Tak Kenal Henti, sering dilambangkan dengan simbol infinity knot (simpul tak terputus). Itulah kenapa agama Buddha yang dibawa dari India oleh para bhiksu dan pedagang akhirnya bisa dianggap agama asli Tiongkok oleh orang sono. Saat nenek moyang Tionghoa datang ke Nusantara, bentuk Buddhisme inilah yang dibawa. Segera mereka mendirikan tempat untuk memuja Kwan Im Po Sat atau Bodhisatva Avalokitesvara. Kwan Im Teng/Tang adalah nama-nama tempat ibadah tertua yang ada di Asia Tenggara.

Kenapa Kwan Im?

Catatan tertua tentang Nusantara dari Bhiksu Fa Hien tampaknya bisa menjawab hal ini. Fa Hien yang datang ke Jawa tahun 400 mencatat betapa ganas dan lamanya pelayaran dari Tiongkok ke Jawa. Para pengelana ini umumnya membawa pratima Kwan Im, entah gambar ataupun arca. Bhiksu pengelana ini mencatat bahwa ia pun membawa pratima Kwan Im, dan ketika terjebak badai dasyat ia membaca Ta Pei Cou atau Maha Karuna Dharani dalam bahasa Sansekertanya.

Jadi inilah sebabnya kebanyakan tempat ibadah tertua yang ada di Asia Tenggara adalah Kwan Im Teng. Huruf terakhir menunjukkan keterangan tempat yakni Tang/Teng/Tong. Atau kemudian Yuan, Sie, Bio, Kiong, Ma. Jin De Yuan, salah satu yang tertua di Nusantara, dulu juga bernama Kwan Im Teng yang dibangun sejaman dengan Kwan Im Teng di Singapura dan Malaysia yakni antara 1600-1700.

Kwan Im Teng Awal di Batavia

Pembangunan Kwan Im Teng di Batavia mendapat tantangan luar biasa dari Dewan Gereja Batavia yang menentang keras pembangunan tempat ibadah agama Buddha yang dianggap memuja iblis dari kacamata mereka. Beruntunglah perekonomian orang-orang Tionghoa kemudian membaik berkat berkembangnya perkebunan tebu, industri gula dan arak Batavia yang sangat dikenal para pelaut dari berbagai negara. Jadi ingat bahwa sampai sekarang Pemprov DKI Jakarta masih punya saham banyak di perusahaan bir. (Ha ha ha).

Peningkatan perekonomian itu pada gilirannya memiliki andil dalam upaya membangun tempat ibadah. Sebuah tempat ibadah sebenarnya sempat dibangun di sisi luar tembok kota, namun akhirnya dibongkar, karena keberatan Dewan Gereja Batavia yang tak segan-segan bersurat langsung ke pusat kerajaan di Netherland. Maka awalnya masyarakat Tionghoa membangun rumah sakit untuk orang miskin (sekarang RS Husada Mangga Besar, belakangan juga bangun yang sekarang namanya RS Budi Kemuliaan di sebelah BI).

Setelah perjuangan panjang, baru menjelang 1650 ijin mendirikan Kwan Im Teng Batavia di daerah Glodok diperoleh. Kwan Im Teng lain juga telah berdiri sebelumnya di areal benteng Kerajaan Banten pada masa yang sama, yang sekarang bernama Vihara Avalokitesvara Banten.

Pemujaan Kwan Im di Tiao Kak Sie Cirebon

Selain itu juga terdapat Kwan Im Teng di wilayah Kerajaan Cirebon yang dibangun tahun 1559. Dalam monografnya Claudine menerjemahkan prasasti yang ada di Wihara Dewi Welas Asih (nama Kwan Im Teng Cirebon saat ini) bahwa Kwan Im Teng ini adalah pusat penyebaran agama Buddha di Jawa Barat. Kwan Im Teng Batavia hancur pasca kerusuhan Tionghoa 1740, dan dibangun kembali dengan nama Jin De Yuan atau dalam dialek Hokkien disebut Kim Tek Ie, kelak menyesuaikan nama akibat kebijakan Orba menjadi Wihara Dharma Bhakti.

Istilah Kwan Im Teng inilah yang keberadaanya demikian tua dan mengakar di masyarakat yang mengalami penyesuaian fonetik sesuai lidah masyarakat setempat menjadi klenteng. Sebagaimana proses lidah masyarakat lokal melahirkan nama yan tidak ada maknanya dalam bahasa mandarin tapi sudah melekat sehingga tetap dipakai sebagai nama jalan, wihara bahkan gereja yaitu Toasebio. Dewa utama di Toasebio adalah Cheng Goan Cheng Kun yang kemmudian diidentikkan dengan dewa yang banyak dipuja Tionghoa asal Fujian Selatan yakni Dazhi, maka kemungkinan mereka menyebut tempat memujanya Dazhi Bio atau Dazhi Miao, dan warga lokal kemudian melafalkannya menjadi Toasebio.

Baca juga: Ikonografi Kelenteng: Pesan Dharma Leluhur Tionghoa

Bali dan Chinese Buddhism

Proses lain terjadi di Bali, karena tempat ibadah Chinese Buddhism tertua disana terkait dengan pembangunan Taman Ayun. Tokoh yang kemudian dipuja sebagai dewa adalah Chen Fu Zheng Ren atau Tan Cin Jin (Hokkien), asal Tiongkok yang sangat dihormati warga Tionghoa Banyuwangi, Bali hingga Lombok. Ia datang ke Kerajaan Blambangan dari Batavia saat Kerajaan Mengwi menguasai Blambangan. Keberhasilannya membangun istana di Blambangan menyebabkan ia diminta membuat istana di Mengwi Bali. Singkat cerita ia akhirnya difitnah, dan diburu untuk dibunuh. Tetapi 2 orang ksatria yang diutus untuk membunuhnya justru akhirnya bertekad menjadi abdi beliau. Makanya arca pengawal di altar beliau tampak berpakaian adat Bali di Banyuwangi.

Leluhur laki-laki Tionghoa disebut Kongco, inilah yang kemudian diserap menjadi Konco, untuk menyebut tempat ibadahnya. Jadi di Bali dan Lombok istilah klenteng tidak sepopuler di Jawa, lebih familiar istilah konco. Penyebutannya bukan kanca (konco atau teman dalam bahasa Jawa) tapi o yang depan dibaca agak seperti u, co nya mirip ucapan “taoco.” Rasanya cuma lidah Bali dan Lombok yang terbiasa).

Sam Poo Kong: Kelenteng Tri Ratna

Informasi tambahan bagi yang pernah sembahyang atau main ke Sam Poo Kong (Klenteng Gedong Batu Semarang), apakah tahu artinya? Kong itu menunjukkan “tempat” sama seperti Bio, Kiong, Sie, Yuan, Teng, Tang, Miao dll yang dalam bahasa Indonesia semua secara sederhana diterjemahkan kuil atau wihara. Sam (tiga) Poo (permata/ratana/ratna-sanskrit/pali) Kong (wihara) jadi dapat diterjemahkan: Wihara Tri Ratna (Wihara Tiga Permata): Buddha, Dharma, dan Sangha.

Jadi setelah anda memahami panjang lebar riwayat klenteng di atas. Jangan rancu dengan rumah ibadah Konghucu yang disebut Li thang/Lidang. Ciri khas paling utama yang membedakan Li thang dengan Kelenteng adalah. Pada Li thang semestinya tidak ada arca dewa-dewa dan bodhisattva apalagi Buddha. Tokoh yang menjadi pusat pemujaan dan penghormatan adalah Nabi Konghucu.

Sedangkan Kelenteng (Chinese Buddhism) yang biasanya di Indonesia dibawah pembinaan Majelis Tri Dharma. Pada altarnya terdapat aneka macam patung Buddha, bodhisattva dan dewa-dewa (termasuk dewa-dewa yang dihormati penganut Taoisme). Pengertian ini penting juga untuk membedakan Kwan im teng (kelenteng) dengan Li thang/Lidang.
__________________________
Oleh: Eddy Setiawan (Peneliti IN)

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

0
Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.
Institut Nagarjuna berharap program rintisan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia akan melahirkan pemimpin bangsa dan dharma untuk kemajuan Agama Buddha di Indonesia (Foto: IN)

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas Buddha, Kementerian Agama Republik Indonesia), dan Ramah Handoko (Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK).

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia angkatan pertama ini diselenggarakan di Restoran Ekaria Jakarta dan diikuti sebanyak 26 peserta yang terdiri dari kaum muda. Selain itu, pada momen pembukaan juga hadir 40 tamu undangan dari berbagai organisasi Buddhis di Indonesia.

Lotus Sutra

0
Lotus sutra atau sutra teratai atau saddharma pundarika sutra adalah sutra penting dalam Buddhdharma Asia Timur.
Agama Buddha di Tiongkok, Korea, dan Jepang menempatkan Lotus Sutra atau Sutra Teratai sebagai salah satu sutra terpenting.

sutra-teratai_compress < Klik untuk mengunduh E-Book/PDF Lotus Sutra.

Silahkan diunduh Sutra Teratai atau Saddharma Pundarika Sutra (versi Bahasa Indonesia) suntingan Henry T.

Sutra Teratai adalah salah satu sutra terpenting saat penyebaran Buddhis di Asia Timur yang demikian pesat kala itu. Masa dimana teknologi cetak belum lahir, sehingga salah satu kebajikan yang dapat dilakukan kaum terpelajar adalah menyalin isi Tripitaka, salah satunya Lotus Sutra untuk disebarluaskan.

Unduh: Kitab Sanghyang Kamahayanikan

1

Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan final < klik untuk mengunduh file E-BOOK/PDF

Inilah Sang Hyang Kamahayanikan yang kuajarkan kepadamu keluarga Tathagata, Putra Jina, keutamaan Sang Hyang Mahayanalah yang hendak kuajarkan kepadamu. (1)

Sang Guru penulis teks ini mengatakan bahwa sesungguhnya yang hendak diajarkan adalah Mahayana. Ada tiga tema di dalam satu slokha ini: yang pertama motivasi mengajar, yang kedua kualifikasi pendengar ajaran, dan yang ketiga tema ajaran. Sang Hyang Kamahayanikan dalam bahasa Kawi, dalam bahasa Indonesia adalah Mahayana Suci. Teks ini dibuka dengan singkat mengacu pada tiga pengertian: yang pertama adalah motivasi sang Guru mengajarkan Mahayana. Apakah Mahayana? Mahayana adalah jalan besar atau yana besar (maha adalah agung, yana adalah jalan) artinya yang akan diajarkan ini adalah tema Dharma yang memungkinkan untuk membawa kebahagiaan bagi dirinya sendiri juga membawa kebahagiaan bagi orang lain. Ajaran yang memiliki karakteristik seperti itu disebut ajaran Mahayana. Bukan hanya dalam ungkapan kalimatnya saja, tetapi pemahaman yang mengikuti ungkapan kalimat itu. Setelah seseorang mendengarkan ajaran Mahayana akan membawa pengertian-pengertian berupa keinginan untuk membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan keinginan-keinginan secara langsung atau tidak langsung membawa kebahagiaan bagi makhluk lain. Ajaran yang karakteristiknya demikian adalah Mahayana, yang menjadi motivasi dari sang Guru untuk mengajarkan kepada siswanya.

Yang kedua mengenai siswa. Siswa di sini disebut Tathagata Kula dalam bahasa Sanskerta atau keluarga Tathagata dalam bahasa Indonesia. Siapakah keluarga Tathagata? Dalam sutra Mahayana dikatakan bahwa setiap Buddha memiliki Kula, bahasa Sanskerta ini diadopsi ke dalam bahasa Indonesia seperti yang sering kita dengar “Kula Warga”, kula artinya keluarga, warga artinya anggota. Jadi kata Kula Warga dalam bahasa Indonesia sebetulnya bersumber dari bahasa Sanskerta. Tathagata Kula adalah keluarga Tathagata. Oleh karena Tathagata memiliki kualifikasi tertentu yaitu makhluk samsara yang telah bangun, yang disebut sebagai Buddha, yang mencapai pencerahan atas daya upayanya sendiri, yang mencapai realisasi itu ketika tidak ada Pratyeka dan Sravaka, itulah seorang Tathagata. Tathagata tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu karena ayah dari para Tathagata dikatakan adalah para Jina; sementara ibu dari para Tathagata adalah Prajnaparamita. Jadi ayah-ibu para Tathagata adalah predikat spiritual yang terdapat di Mahayana yang disebut sebagai Paramita. Walaupun seorang Tathagata seperti itu keadaannya, ada orang yang kemudian akan menjadi Tathagata juga, orang-orang tersebut disebut (dalam kalimat berikutnya yaitu) Putra Jina, dalam bahasa Sanskrit namanya Jinaputra. Mengapa Jinaputra? Karena ia nanti akan menjadi Jina juga. Siswa memiliki kualifikasi telah mengembangkan aspirasi untuk menjadi Buddha, untuk menjadi Jina, untuk menjadi Tathagata.

Lalu yang ketiga: Keutamaan Sang Hyang Mahayanalah yang hendak kuajarkan kepadamu. Ini mengenai kualifikasi ajaran. Jadi motivasinya Mahayana, siswanya beraspirasi Mahayana, lalu yang diajarkan adalah ajaran Mahayana yaitu keunggulan Mahayana dan keluhuran Mahayana. Bilamana melalui proses ini yaitu guru yang bermotivasi Mahayana, siswa yang bermotivasi Mahayana, lalu Dharma yang juga Mahayana; maka akan menghasilkan realisasi Mahayana.

Sang Hyang Kamahayanikan adalah semacam transkripsi dari sebuah pengajaran lisan guru di suatu tempat pada zaman dahulu di abad kesembilan, yang kemudian ditulis oleh siswa yang mendengarkannya sehingga pada bagian tertentu ada ungkapan permohonan ajaran dan ada ajaran-ajaran yang menjelaskannya.

____________________
Oleh: UP. Surya Mahendra

Diskusi Terbatas IN: Menata Buddhis Indonesia

0
Foto bersama peserta Diskusi Terbatas IN: Menata Buddhis Indonesia.
Diskusi Terbatas IN: Membangun Kesepahaman, Kebijakan, dan Strategi Menata Buddhis Indonesia. Hasil kolaborasi dengan Konferensi Agung Sangha Indonesia atau KASI (Foto: IN).

Pembina dan Pengurus Institut Nagarjuna pada pembukaan Diskusi Terbatas IN: Membangun Kesepahaman, Kebijakan dan Strategi Menata Buddhis Indonesia. Dari Kiri ke Kanan: Daniel Johan, Isyanto, Eko Nugroho Rahardjo, Ivana Lie, dan Widodo.

Diskusi ini merupakan hasil kolaborasi Institut Nagarjuna dan Konferensi Agung Sangha Indonesia atau KASI. Peserta diskusi mewakili hampir keseluruhan spektrum Buddhis di Indonesia. Baik dari sisi aliran maupun organisasi sosialnya. IN berharap melalui diskusi terbatas ini para pemimpin komunitas Buddhis di Indonesia dapat membangun kesepaham, mengarahkan kebijakan organisasinya untuk strategi pengembangan komunitas.

Baca juga: Hock An Kiong Akan Bangun Sekolah Buddhis di Bengkalis

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna