Page 17

Agama Zheng He (Cheng Ho) Berdasarkan Bukti Primer

0
Armada Zheng He Cheng Ho - agama Buddha San Bao Taijian
Agama Zheng He dinarasikan berbeda di Indonesia dan Malaysia, yakni beragama Islam. Bukti menunjukkan ia beragama Buddha.
Narasi Populer di Indonesia dan Malaysia

Narasi keislaman Zheng He yang beredar di Indonesia dan Malaysia bertumpu pada marga Ma yang umum di kalangan Muslim Hui. Selain itu juga melalui klaim bahwa ayahnya seorang haji. Serta catatan bahwa ia pernah membantu memperbaiki masjid di pelabuhan asing. Namun, semua ini bersifat indikasi lemah (weak evidence) dan tidak didukung dokumen primer yang menegaskan keyakinan pribadinya.

Beberapa waktu lalu juga tersiar kabar tentang penemuan makam Cheng Ho di Tiongkok. Namun bukti ini juga lemah karena berdasarkan catatan Zheng He meninggal di Kalkuta. Tak lama setelah dimulainya penjelajahan ketujuhnya pada musim gugur 1433. Kemudian armadanya kembali ke Tiongkok pada musim panas. Rentang waktu yang lama tentu tidak mungkin membawa raganya pulang. Berdasarkan tradisi para pelaut, diyakini bahwa Zheng He “dikuburkan” di lautan.

Apalagi kesimpulan para arkeolog pada pertengahan 2010 lalu menyatakan bahwa makam tersebut adalah makam Hong Bao. Salah seorang wakil Zheng He dalam tujuh pelayaran yang terkenal tersebut. Makam ini semula berbentuk tapal kuda sebagaimana makam tradisional Tionghoa, baru pada 1985 diubah ke bentuknya yang baru.

Namun, jika ditelusuri dengan pendekatan sejarah. Narasi yang ada selama ini jelas tidak memiliki dukungan kuat dari sumber primer maupun sekunder yang kredibel. Tidak ada dokumen resmi Dinasti Ming (Ming Shilu), catatan perjalanan, prasasti, atau artefak otentik. Menyebutkan Zheng He memiliki nama Islam, mengucapkan syahadat, atau melaksanakan ibadah Muslim.

Narasi ini sebagian besar terbentuk di era modern (abad 20). Sering kali terkait kebutuhan representasi identitas di ruang publik. Diperkirakan mulai berkembang pada masa akhir Dinasti Qing dan transisi ke republik pada 1900an. Jika narasi populer menempatkan agama Zheng He adalah Islam. Bukti-bukti primer menunjukkan agama Zheng He yang berbeda.

Agama Zheng He dalam Sumber Primer

Novi Basuki dalam Apa Agama Cheng Ho memaparkan berbagai sumber primer pendukung. Diantaranya yang ditemukan di Tiongkok, —seperti catatan dinasti Ming dan salinan sutra-sutra oleh Zheng He ataupun pihak lain yang didanainya—, menunjukkan dengan jelas bahwa Zheng He beragama Buddha. Diantaranya adalah bukti primer berikut:

1. Gelar Resmi: Sanbao Taijian (三寶太監)

Dalam Ming Shilu atau Catatan Resmi Dinasti Ming, Zheng He diberi gelar Sanbao Taijian. Secara harfiah berarti Kasim Tri Ratna (Sansekerta) atau Tiga Permata. Tiga Permata adalah konsep inti yakni Buddha, Dharma, dan Sangha. Umat Buddha menyatakan berlindung kepada Tiga Permata. Gelar ini bukan sekadar sebutan kehormatan. Melainkan penanda status resmi oleh birokrasi kekaisaran, dengan muatan konotasi religius jelas. Penjelasan catatan resmi dinasti tersebut juga diungkapkan Dreyer, EL 2007, Zheng He: China and the Oceans in the Early Ming Dynasty 1405-1433, Pearson Longman, New York.

2. Zheng He memiliki Nama Dharma

Umat Buddha yang telah ber-Tri Sarana atau mengucap berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha (Tri Ratna) akan mendapatkan nama dharma. Adapun nama dharma Zheng He diketahui dari temuan beberapa sutra kuno. Dalam sejumlah kolofon sutra tersebut, Zheng He sebagai penyalin sutra, menyebut dirinya dengan nama dharma Fu Jixiang (福吉祥). Zheng He juga dalam berbagai kolofon kerap mengagungkan San Bao, seperti:

“Demi membalas berkah agung dari San Bao (Tri Ratna), aku menyalin sutra ini dengan harapan menyelamatkan semua makhluk.”

Salah satu salinan sutra oleh Zheng He, berangka tahun Yongle 12 atau 1414 Masehi, telah ditemukan dan dilelang dengan harga fantastis di balai lelang Suthesby’s New York 2015 lalu. Pada kolofon sutra ini Zheng He menyatakan tekadnya menyalin beberapa sutra Buddhis lainnya yaitu:
  1. Vajracchedika Prajnaparamitha Sutra (Jin Gan Jing)
  2. Guanyin Sutra (Guanyin Jing).
  3. Buddha Amithabha Sutra (Mituo Jing).
  4. Marici Bodhisatva Sutra (Molizhitian Jing).
  5. Prajnaparamithahrddya (Xin Jing).
  6. Suranggama Sutra (Leng Yang Jing).
  7. Nilakantha Dharani (Da Bei Zhou).

Penyalinan kitab suci Buddhis pada masa tersebut adalah salah satu praktik pengumpulan kebajikan. Banyak pejabat bahkan kaisar yang melakukannya, untuk memperoleh karma baik. Hasil penyalinan biasanya disebarkan ke berbagai vihara, untuk keperluan penyebaran agama Buddha.

Pada sutra yang saat ini tersimpan di Museum Long, Shanghai tersebut, Cheng Ho menyatakan bahwa ia melakukan penyalinan sutra karena “setiap mendapatkan perintah untuk melanglang buana selalu mendapat karunia dari San Bao.” Cheng Ho memperkenalkan diri pada bagian awal naskah sebagai “da Ming Gui taijian Zheng He, faming Fu Jixiang” yang artinya “kasim negara Ming yang agung dengan nama dharma Fu Jixiang.”

Baca juga: Sutra Teratai Salinan Laksamana Cheng Ho

3. Zheng He dalam Kolofon Sutra

Kolofon Bhiksu Yao Guangxiao

Bhiksu Yao Guangxiao adalah seorang Kepala Kantor Administrasi Agama Buddha (Senglu Si) Dinasti Ming. Ia juga adalah penasehat Kaisar Zhu Di atau lebih dikenal dengan nama Kaisar Yongle, kaisar yang memerintahkan Zheng He untuk melanglang buana.

Pada bagian penutup Sutra Marici Bodhisatva (Fo Shuo Molizhi Tianzhi Jing) yang ia salin, ia mencatat bahwa pada 1403 tersebut Cheng Ho adalah Pusa jie dizi yakni umat yang sedang bertekad menjalankan sila bodhisatva. Selain itu juga dicatat bahwa Zheng He telah mendanakan sebagian hartanya untuk mencetak dan menyebarluaskan sutra yang disalin Bhiksu Yao tersebut di atas.

Kolofon Shamini Lijie Wen

Salah satu bagian Tri Pitaka yang disalin adalah Vinaya untuk Samaneri atau dalam bahasa Mandarin disebut Shamini Lijie Wen. Naskah yang ditemukan berangka tahun 1420. Zheng He sebagai yang memerintahkan dan mendukung pendanaan penyalinan ini, menulis pada kolofonnya “da Ming Guo feng Fo xin guan taijian Zheng He, faming Fu Jixiang” yang terjemahannya “kasim negara Ming yang agung Zheng He, penganut Buddha dengan nama dharma Fu Jixiang.” Sutra ini masih tersimpan baik di Perpustakaan Provinsi Yunnan.

Kolofon Saddharma Pundarika Sutra

Zheng He juga menuliskan pernyataan serupa pada kolofon Sutra Saddharma Pundarika berangka tahun Ming Xuande 7 atau 1432 Masehi. Sutra ini ditemukan ketika terjadi pemugaran Vihara Baoben di Phinghu, Zhejiang pada 11 September 2002. Sekali lagi tertulis “kasim negara Ming yang agung Zheng He, penganut Buddha dengan nama dharma Fu Jixiang.” Saat ini sutra tersebut dipajang dan tersimpan di Pinghu City Museum.

4.Keberadaan San Bao Gong (三寶宮)
Kuil yang menghormati Zheng He di Tiongkok, Malaysia, dan Indonesia umumnya bernama San Bao Gong. Ini konsisten dengan gelar kehormatan dari kekaisaran yaitu San Bao (Tri Ratna/Tiga Permata: Buddha, Dharma, Sangha), menunjukkan kesinambungan antara identitas spiritual Zheng He dan cara masyarakat Tionghoa mengenangnya.

Menjaga Integritas Sejarah

Zheng He adalah tokoh besar yang melampaui batas-batas agama dan kebudayaan. Ia telah memimpin armada besar mengarungi samudera yang luas, dalam tujuh kali pelayarannya. Catatan pelayaran seperti Yingyai Shenglan (瀛涯胜览) karya Ma Huan, seorang Muslim. Memberikan gambaran kebijakan pelayaran, interaksi diplomatik, dan deskripsi negeri yang dikunjungi. Catatan yang penting dan berguna.

Tokoh besar memang tak luput dari kontroversi. Namun, memisahkan antara narasi populer dan bukti otentik bukan hanya tugas akademik, melainkan juga upaya menjaga integritas sejarah. Pertanyaan tentang apa agama Zheng He pada akhirnya tidak berhenti pada identitas personal semata, tetapi mengarahkan kita pada pemahaman yang lebih luas tentang warisan yang ia tinggalkan.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang telah ia lakukan dan kontribusinya bagi dunia. Misi damai yang ia bawa—melalui perdagangan, diplomasi, dan pertukaran budaya—menunjukkan bahwa interaksi antarbangsa dapat dibangun di atas prinsip saling menguntungkan, saling menghormati, dan merayakan keberagaman. Bukankah dunia yang damai dan terhubung seperti itu merupakan harapan bersama umat manusia?

Dalam konteks ini, perdebatan mengenai agama Zheng He tidak hanya menyangkut data sejarah, tetapi juga cara kita memahami identitas itu sendiri. Dalam kerangka filsafat Madhyamaka yang dirumuskan oleh Nagarjuna, dua kebenaran tidak menunjuk pada dua jenis kebenaran yang terpisah, melainkan dua cara memahami realitas yang sama. Pada tingkat konvensional, identitas seperti “Muslim” atau “Buddhis” digunakan dalam komunikasi sosial. Namun pada tingkat yang lebih mendalam, semua penetapan tersebut tidak memiliki esensi tetap (svabhava), melainkan muncul melalui kesalingtergantungan (pratityasamutpada).

STABN Raden Wijaya Teken MoU dengan Fo Guang Shan Taiwan

0
Suasana penandatanganan MoU antara STABN Raden Wijaya dan Fo Guang Shan Tsunglin University.
Ketua STABN Raden Wijaya Sulaiman Ph.D Menandatangani MoU dengan Perwakilan Fo Guang Shan Tsunglin University (Foto: STABN Raden Wijaya).

Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri atau STABN Raden Wijaya resmi menjalin kerja sama internasional. Kali ini melalui kerjasama dengan Fo Guang Shan Tsunglin University, Taiwan. Ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kedua lembaga, yang berlangsung pada Sabtu, 8 November 2025.

Penandatanganan dilakukan oleh Ketua STABN Raden Wijaya, Dr. Sulaiman, M.Pd., Ph.D., bersama Suhu Miao Nan dari Fo Guang Shan Tsunglin University serta Ketua Pusat Pendidikan Buddhis Fo Guang Shan Indonesia, Suhu Ru Yun.

STABN Raden Wijaya Teken MoU di Hari Besar Kwan Im

Penandatanganan MoU dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Besar Avalokitesvara Bodhisattva, menjadi momentum penting dalam penguatan pendidikan Buddhis berbasis kolaborasi internasional.

Kerja sama ini difokuskan pada penyelenggaraan Program Studi Independen Internasional. Direncanakan program tersebut akan dilaksanakan di Fo Guang Shan Tsunglin University selama enam bulan. Program dirancang untuk memperkuat integrasi antara pembelajaran akademik dan praktik spiritual untuk mahasiswa peserta program.

Sulaiman pada kesempatan tersebut menyatakan bahwa program ini penting untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman batin.

“Nilai pembelajaran di Tsunglin sangat relevan dengan kebutuhan dunia saat ini, yang menuntut keseimbangan antara kecepatan berpikir dan kedalaman spiritual.” Ujarnya sebagaimana dikutip Bimas Buddha.

Saat ini, sebanyak sepuluh mahasiswa STABN Raden Wijaya telah mengikuti program tersebut selama tiga bulan di Taiwan. Mereka menjalani kehidupan berbasis disiplin, kesederhanaan, serta praktik mindfulness dalam keseharian.

Program ini dijadwalkan berlangsung hingga Februari 2026.

Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan program join-kurikulum. Mahasiswa dari program pendidikan Fo Guang Shan Indonesia yang menempuh studi di Tsunglin University nantinya berkesempatan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag.) dari STABN Raden Wijaya. Saat ini sekolah tinggi ini telah meraih akreditasi unggul pada sejumlah program studi keagamaannya.

Pemerintah Indonesia melalui kementerian agama juga mendorong berbagai sekolah tinggi agama untuk meningkatkan status menjadi institut dan kelak menjadi universitas. Salah satu STAB di Indonesia yang sudah berubah status menjadi institut adalah STAB Nalanda.

Pihak kampus menilai kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi pendidikan Buddhis Indonesia di tingkat global. Selain itu juga diharapkan dapat menjadi langkah untuk menyiapkan kaum muda yang memiliki kapasitas akademik, spiritual, dan sosial.

Baca juga: Kelenteng: Tempat Ibadah Agama Buddha Tradisi Tionghoa

Renungan Hari Pahlawan 2025: Kepahlawanan dan Bodhisatwa

0
Bodhisattva adalah calon Buddha, yang rela berkorban demi kebahagiaan makhluk lain. Semangat Bodhisattva inilah yang menjadi inti renungan hari pahlawan 2025.
Indonesia memperingati Hari Pahlawan setiap 10 November 2025. Kepahlawanan adalah salah satu bentuk jiwa Bodhisattva atau Bodhisatwa. Inilah renungan hari pahlawan 2025.

Setiap 10 November, bangsa Indonesia mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Namun peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada nostalgia sejarah. Ia adalah ajakan untuk menimbang kembali arti kepahlawanan di tengah dunia yang berubah. Ketika musuh tak lagi datang membawa senjata, tetapi hadir dalam bentuk disinformasi, ketidakpedulian, dan kerusakan moral yang lebih halus. Renungan Hari Pahlawan 2025 ini akan dikaitkan dengan semangat berkorban bodhisatwa.

Dalam tradisi Buddhis, semangat kepahlawanan menemukan cerminnya dalam jalan Bodhisatwa. Sosok yang menunda pencapaian Nirvaṇa demi menolong semua makhluk dari penderitaan. Bodhisatwa adalah pahlawan batin. Ia berjuang bukan untuk menaklukkan musuh di luar, melainkan untuk menaklukkan kegelapan dalam diri sendiri dan masyarakat. Ia berperang melawan keserakahan, penolakan, dan kebodohan batin—tiga racun yang menjadi akar dari penderitaan dunia.

Pahlawan dan Bodhisatwa: Dua Jalan, Satu Spirit

Bagi bangsa Indonesia, pahlawan adalah simbol pengorbanan tanpa pamrih. Bagi umat Buddhis, Bodhisatwa adalah lambang tekad welas asih yang tak terbatas. Keduanya dipersatukan oleh roh yang sama: keberanian untuk mengabdikan diri bagi kebahagiaan makhluk lain.

Kepahlawanan bukan hanya keberanian menghadapi bahaya, tetapi juga kesediaan untuk melakukan yang benar ketika kebanyakan orang memilih diam. Dalam konteks Buddhis, keberanian itu berarti berani melawan arus kebodohan batin, berani menegakkan kebenaran, dan berani menolak segala bentuk kebohongan yang menyesatkan kesadaran manusia.

Krisis Zaman Modern dan Musuh Baru Kemanusiaan

Zaman kita kini ditandai oleh perang yang tidak lagi bersifat fisik, melainkan perang asimetris—perang yang berlangsung di ranah informasi, persepsi, dan kesadaran. Di balik layar gawai, dunia sedang berperang untuk merebut kebenaran. Disinformasi, fitnah, dan kebohongan (DFK) menjadi senjata yang jauh lebih berbahaya daripada peluru, karena ia menyerang akar kesadaran manusia.

Dalam pandangan Buddhis, DFK adalah bentuk modern dari moha, kebodohan batin yang menutupi cahaya kebijaksanaan. Ia memecah masyarakat, menumbuhkan kebencian, dan memperlemah welas asih. Ketika manusia tidak lagi dapat membedakan yang benar dan salah, yang faktual dan yang manipulatif, maka penderitaan kolektif pun lahir.

Di tengah situasi ini, kepahlawanan sejati tidak lagi diukur dari siapa yang menang dalam konflik, tetapi dari siapa yang berani bersuara demi kebenaran tanpa menambah kebencian. Seorang Bodhisatwa modern tidak tinggal diam ketika kebenaran diputarbalikkan. Ia berbicara dengan kejernihan dan kasih, menolak terlibat dalam kebohongan, dan menjaga agar ruang publik tetap menjadi ladang Dharma—tempat di mana kebijaksanaan dan welas asih dapat bertumbuh.

Renungan Hari Pahlawan dan Panggilan Ekologis 

Selain perang informasi, musuh besar kemanusiaan hari ini adalah kerusakan lingkungan. Bumi menjerit di bawah beban keserakahan manusia. Sungai mengering, laut penuh sampah, hutan digunduli, dan udara tercemar. Semua ini adalah hasil dari hilangnya kesadaran akan keterhubungan kehidupan (pratityasamutpada).

Dalam pandangan Bodhisatwa, penderitaan bumi adalah penderitaan semua makhluk. Menanam pohon, menjaga sumber air, mengurangi konsumsi berlebih, dan melindungi hewan adalah bentuk nyata dari praktik welas asih. Kepahlawanan hari ini bukan hanya soal melawan penjajahan manusia atas manusia, tetapi juga melawan penjajahan manusia atas alam.

Melestarikan lingkungan bukan isu sekuler, melainkan bagian dari jalan spiritual: melindungi kehidupan berarti menghormati Dharma. Di sinilah muncul bentuk baru dari pahlawan zaman ini—mereka yang berjuang diam-diam menjaga bumi agar tetap layak huni bagi generasi mendatang.

Menumbuhkan Semangat Bodhisatwa

Jalan kepahlawanan Buddhis tidak ditempuh melalui perang, melainkan melalui latihan batin yang panjang dan penuh ketekunan. Seorang Bodhisatwa belajar untuk memberi tanpa pamrih, menjaga kejujuran dan moralitas di tengah godaan duniawi, bersabar dalam menghadapi ketidakadilan, serta tidak berhenti menyalakan semangat kebajikan meski dunia tampak apatis.

Ia menjaga kejernihan batin agar tidak terperangkap dalam amarah dan kebencian, dan menajamkan kebijaksanaan agar dapat melihat keterhubungan semua kehidupan. Kepahlawanan semacam ini tidak membutuhkan pangkat, sorotan, atau penghargaan. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta kasih adalah bagian dari perjuangan besar untuk mengurangi penderitaan di dunia.

Dari Medan Perang ke Medan Dharma

Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan cermin bagi nurani kita. Para pahlawan bangsa telah membuka jalan bagi kemerdekaan lahiriah; tugas kita kini adalah memperjuangkan kemerdekaan batiniah—kebebasan dari kebohongan, keserakahan, dan ketakutan.

Zaman ini membutuhkan pahlawan yang tidak hanya kuat, tetapi juga jernih dan welas asih. Pahlawan yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus bertindak dan kapan harus berdoa. Pahlawan yang berani mencintai di tengah dunia yang makin apatis.

Seperti Avalokitesvara yang mendengar jeritan dunia dan menanggapinya dengan welas asih, demikian pula kita dipanggil untuk mendengar jeritan zaman ini: jeritan manusia yang tersesat dalam disinformasi, jeritan alam yang dilukai, dan jeritan hati nurani yang ingin hidup dalam kebenaran.

Melalui renungan hari pahlawan 2025 ini, kita perlu mengingat bahwa menjadi pahlawan di zaman digital bukan berarti memenangkan perang opini. Akan tetapi memelihara kebijaksanaan dan integritas di tengah badai kebohongan. Dan menjadi Bodhisatwa di masa kini bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan hadir di dunia dengan kesadaran penuh — berbuat baik, berbicara benar, dan menjaga kehidupan.

Kepahlawanan sejati tidak terletak pada kemegahan tindakan, melainkan pada ketulusan niat. Dan semangat Bodhisatwa mengajarkan bahwa keberanian yang paling besar adalah keberanian untuk tetap welas asih di dunia yang kehilangan arah.@eddy setiawan

Baca juga: Zheng He: Antara Narasi dan Bukti

Gayatri Rajapatni: Mastermind Politik di Balik Kejayaan Majapahit

2
Gayatri Rajapatni distanakan sebagai Prajna Paramitha
Gayatri Rajapatni memiliki nama kecil Dyah Gitarya. Tumbuh menjadi mastermind politik di balik kejayaan Majapahit.

Di balik puncak kejayaan Majapahit yang sering dikaitkan dengan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada, berdiri sosok yang tak kalah penting namun bekerja dalam senyap—Gayatri Rajapatni. Ia bukan hanya seorang putri raja, nenek dari Hayam Wuruk, tapi perempuan inilah sosok mastermind politik Majapahit. Melalui strategi diplomasi, visi penyatuan, dan kebijaksanaan spiritual berlandaskan ajaran Buddha Mahayana.

Putri Raja Penggemar Sastra dan Agama

Gayatri adalah putri Raja Kertanegara, penguasa terakhir Singhasari, yang terkenal sebagai penganut fanatik ajaran Siwa-Buddha. Sumber-sumber seperti Slamet Muljana (2006) dan Pigeaud (1960) menegaskan bahwa lingkungan istana Kertanegara sarat dengan pemikiran sinkretik, namun Kertanegara sendiri memberi porsi istimewa pada ajaran Buddha Mahayana, khususnya pemujaan Bodhisattva. Sejak muda, Gayatri dibesarkan dalam atmosfer ini dan menunjukkan kecenderungan kuat pada nilai-nilai Buddhis, yang kelak memengaruhi seluruh kiprahnya.

Melepaskan Tahta demi Jubah Bhiksuni

Sebagai istri Raden Wijaya, pendiri Majapahit, Gayatri berhak atas posisi ratu utama. Namun, ia mengambil keputusan yang jarang diambil bangsawan perempuan kala itu: melepaskan kesempatan menjadi penguasa langsung dan memilih menjadi bhiksuni. Meski demikian, tradisi Buddhis tidak melarang bhiksuni untuk kembali ke kehidupan duniawi, sehingga secara teknis ia tetap dapat menjadi ratu jika mau. Gayatri memilih tetap memegang sila bhiksuni, dan mengarahkan pengaruhnya melalui jalur politik tidak langsung—mempromosikan putrinya, Tribhuwana Tunggadewi, ke tahta Majapahit.

Pengaruh Politik sebagai Bhiksuni

Sebagai bhiksuni, Gayatri tidak mundur dari arena politik. Ia menguasai seni “penyatuan tanpa peperangan” di beberapa wilayah Nusantara, terutama dengan menggunakan agama dan kebudayaan sebagai sarana. Di wilayah yang cenderung menerima pengaruh Buddhis—seperti Bali, yang mengenal tradisi Siwa-Buddha—diplomasi keagamaan menjadi instrumen efektif. Upaya ini berjalan seiring visi Cakravartin yang diwarisi dari Kertanegara: seorang penguasa universal yang menyatukan wilayah bukan semata lewat kekuatan senjata, tetapi lewat legitimasi spiritual.

Gajah Mada, yang telah dikenal keluarga Gayatri sejak masa Singhasari, kemungkinan besar adalah hasil kaderisasi lingkungan istana Kertanegara. Visi penyatuan Nusantara yang terkenal dalam Sumpah Palapa sejalan dengan idealisme Gayatri, menandakan adanya kesinambungan ideologis antara keduanya.

Raden Wijaya memulai Majapahit dengan kebijakan yang relatif toleran terhadap berbagai agama, melanjutkan pola Singhasari. Tribhuwana, di bawah bimbingan Gayatri, memperkuat posisi agama Buddha di istana tanpa menghilangkan unsur Siwaisme. Model ini menciptakan harmoni keagamaan yang menjadi perekat bagi wilayah-wilayah yang memiliki tradisi berbeda.

Pujian dalam Negarakretagama

Mpu Prapanca dalam Negarakretagama (Canto 48–49) memuji Gayatri Rajapatni sebagai sosok yang bijak, penuh kasih, dan menjadi sumber kebahagiaan rakyat:

“Baginda Sri Rajapatni, bagaikan Dewi Prajnaparamita di dunia,
lemah lembut budi pekertinya, teguh dalam dharma,
penuh belas kasih terhadap rakyat,
melindungi semua tanpa pandang bulu,
bagai pelita yang tiada padam.”

Gayatri Rajapatni dalam Wujud Prajnaparamita

Gayatri Rajapatni wafat pada tahun 1350. Namun, pengaruhnya tidak berhenti di situ. Pada 1362, cucunya Hayam Wuruk menggelar upacara Sraddha yang megah untuk mengenang 12 tahun kematian sang nenek. Sebagai penghormatan tertinggi, Hayam Wuruk memerintahkan pembangunan dua candi—Prajnaparamitapuri dan Wisesapura—untuk mendharmakan Gayatri.

Di candi-candi ini, Gayatri diabadikan dalam bentuk arca Prajnaparamita, perwujudan kebijaksanaan transendental dalam ajaran Mahayana. Arca tersebut menampilkan sosok duduk bersila di atas padmasana, dengan tangan membentuk sikap dharmacakra-mudra, simbol pengajaran dharma. Kehalusan pahatannya, kelembutan wajahnya, dan aura ketenangan yang memancar membuat arca ini dianggap mahakarya seni pahat Majapahit. Sayang belakangan, narasi yang tidak dilandasi bukti mengaitkan arca dengan Ken Dedes, sehingga masyarakat awam salah paham mengenai hal ini.

Hingga kini, kisah Gayatri Rajapatni tetap relevan, menjadi bukti bahwa di balik kejayaan besar sering berdiri seorang mastermind visioner yang bekerja dalam diam—menggunakan kebijaksanaan spiritual untuk membentuk sejarah politik.

Baca juga: Fenomena Pemujaan Brahma Empat Muka di Asia Tenggara

Bacaan LanjutanCœdès, G 1968, The Indianized States of Southeast Asia, University of Hawaii Press, Honolulu.

Muljana, S 2006, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, LKiS, Yogyakarta.

Pigeaud, TGTh 1960, Java in the 14th Century, Martinus Nijhoff, The Hague.

Pranidhi, D, Santoso, WM & Siscawati, M 2022, ‘Otoritas Perempuan dan Religiusitas Gayatri Rajapatni’, Dharmasmrti, vol. 22, no. 1, hlm. 1–8.

Prapanca, Mpu 1979, Negarakretagama, terj. Slamet Muljana, Bhratara, Jakarta.

Sumber: Gayatri Rajapatni: Mastermind Politik di Balik Kejayaan Majapahit

Orang Buta dan Gajah: Buddhadharma di Amerika

0
Perumpamaan gajah dan orang buta adalah perumpamaan klasik Buddhis
Agama Buddha di Amerika dipelopori para imigran dari Asia terutama Tiongkok, Jepang, dan Vietnam.

Untuk memahami perkembangan Buddhadharma di Amerika Serikat menurut Feuerhed (2018), dapat digunakan metafora klasik dari teks Buddhis kuno. Yakni ibarat orang buta dan gajah, tentang sekumpulan orang buta yang diminta mendeskripsikan seekor gajah. Salah seorang yang memegang ekornya menyebut gajah seperti tali. Sementara yang lain, memegang kepala, dan mengatakan gajah seperti batu besar. Orang yang memegang gading menggambarkannya seperti tongkat panjang.

Masing-masing tidak sepenuhnya salah, namun tak satu pun memberikan gambaran utuh. Hanya dengan menyatukan semua perspektif—semua bagian gajah—kebenaran menyeluruh bisa dilihatDemikian pula halnya dengan Buddhadharma di Amerika. Dalam artikelnya yang terbit di JSTOR Daily (2018), Peter Feuerherd menggunakan metafora ini untuk menggambarkan keragaman wajah Buddhadharma di AS.

Dari Komunitas Imigran hingga Konversi Lokal

Ia merujuk pada analisis Peter N. Gregory (2001: 233-263) dalam artikelnya di Religion and American Culture: A Journal of Interpretation Vol. 11, No. 2. Gregory pada artikelnya yang berjudul Describing the Elephant: Buddhists in America, menyatakan bahwa agama ini berkembang dalam berbagai bentuk dan pengalaman yang berbeda. Di satu sisi, terdapat komunitas imigran Asia—dari Tiongkok, Jepang, Vietnam, hingga Myanmar—yang membawa praktik keagamaan leluhur mereka, terutama sejak gelombang migrasi besar pada 1960-an. Bagi mereka, Buddhadharma bukan sekadar pencarian spiritual pribadi, melainkan bagian integral dari kehidupan keluarga dan komunitas. Vihara berperan sebagai pusat kehidupan sosial dan religius, sementara penghormatan kepada leluhur memperkuat ikatan batin dengan akar budaya mereka.

Di sisi lain, terdapat kelompok yang kerap disebut “Buddhis konversi”—yakni warga Amerika non-Asia yang berasal dari latar belakang agama di luar Buddhis, ataupun sekuler yang menemukan makna dalam ajaran Buddha. Mereka tertarik pada meditasi, pemurnian batin, serta nilai-nilai yang selaras dengan psikologi modern. Dalam bentuk ini, Buddhadharma tampil lebih individualistik, rasional, dan menyesuaikan diri dengan semangat demokratis serta egaliter khas Barat.

Namun, wajah Buddhadharma yang paling sering disorot media justru berasal dari kelompok konversi ini—melalui figur publik, kelas meditasi, dan retret spiritual yang berorientasi pada pengembangan diri. Padahal, di baliknya terdapat ratusan vihara komunitas Asia yang telah berdiri selama beberapa generasi, memelihara kehidupan religius yang kaya dan berakar. Bagi para imigran, praktik Buddhis bukanlah sekadar gaya hidup alternatif, melainkan kelanjutan tradisi leluhur yang hidup.

Feuerherd menyoroti bahwa, menurut Gregory, Buddhadharma di Amerika menunjukkan ciri khas tertentu: keterlibatan aktif umat awam, keterbukaan terhadap kesetaraan gender, integrasi dengan psikologi Barat, serta dorongan untuk menerapkan Dharma dalam kehidupan publik. Semua ini mencerminkan proses adaptasi alami saat ajaran Buddha bertemu dengan konteks budaya baru. Namun, sebagaimana metafora gajah, memahami hanya satu sisi akan menghasilkan gambaran yang timpang.

Orang Buta dan Gajah: Buddhadharma di Indonesia?

Refleksi atas kisah tersebut mengajak kita menoleh pada komunitas Buddhis di Indonesia, yang juga bukan entitas tunggal. Terdapat 3 tradisi besar yaitu Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Bahkan berbagai aliran lain seperti Maitreya dan Nichiren.

Semua aliran ini tumbuh di atas tanah budaya yang majemuk—dari komunitas Tionghoa di perkotaan hingga ekspresi Buddhadharma lokal yang melebur dengan kebijaksanaan Nusantara. Di kelenteng-kelenteng Tionghoa, Buddhisme hadir dalam bentuk populer yang penuh ritual; di vihara-vihara Theravada, ia tampil lebih filosofis dan meditatif; sementara di beberapa daerah, praktik keagamaan Buddhis menyatu dengan tradisi Jawa, Bali, Sasak ataupun tradisi lainnya.

Dalam keragaman ini, tantangan utama umat Buddha Indonesia hari ini adalah melihat “gajah” secara utuh. Kita perlu menyadari bahwa perbedaan aliran dan latar budaya bukanlah penghalang, melainkan kekayaan. Semua bentuk Buddhadharma—apapun ekspresinya—berakar pada tujuan yang sama: mengakhiri penderitaan dan menumbuhkan welas asih. Hanya dengan pandangan yang utuh, inklusif, dan terbuka, Buddhadharma Indonesia dapat terus berkembang sebagai tradisi yang hidup, membumi, dan selaras dengan semangat kebhinekaan. Pandangan yang saling meniadakan, harus ditinggalkan. Diganti dengan kesasadaran bahwa pada hakikatnya semua eksistensi adalah saling bergantung atau interdependen. Aku dan kamu tidak berbeda, sebagaimana isi adalah kosong dan kosong adalah isi. @eddy setiawan

Referensi:
Feuerherd, P 2018, ‘How American Buddhism is Like an Elephant‘, JSTOR Daily, 10 April.

Baca juga: Master Xu Yun: Buddhadharma di Tiongkok Modern

Galeri Kegiatan

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna