Page 6

Pagoda Ba Vang di Vietnam: Bisa Ngapain Aja?

0
Pagoda Ba Vang adalah tempat ibadah umat Buddha sekaligus destinasi wisata di Vietnam.
Pagoda Ba Vang adalah salah satu pagoda umat Buddha Vietnam yang menjadi tempat wisata.

Datang ke Ba Vang Pagoda bukan cuma soal foto-foto. Banyak pengalaman yang bisa kamu rasakan langsung. Seperti ikut retret meditasi dan sesi dharma talk. Hadir di festival lampion, Vu Lan, atau festival awal tahun lunar. Jalan santai di hutan pinus sambil dengar denting lonceng dari vihara. Ziarah relik Buddha dan artefak Truc Lam. Atau sekedar duduk tenang, tarik napas, dan benar-benar healing. Menyadari kehadiran diri 100% di sini dan saat ini.

Banyak pengunjung bilang, suasana di Ba Vang bikin hati lebih ringan dan pikiran lebih jernih.

Arti Nama Pagoda Ba Vang yang Penuh Makna

Nama Ba Vang berarti tiga gunung emas. Mewakili tiga gunung yang mengelilingi lokasi vihara. Dalam filosofi Buddhis, tiga gunung ini melambangkan: kebijaksanaan, moralitas, dan welas asih. Secara feng shui, Ba Vang dipercaya sebagai titik pertemuan energi alam. Nggak heran kalau banyak orang merasa suasana di tempat ibadah umat Buddha ini “berbeda”.

Baca juga: Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh: Singa Emas yang Terlupakan

Cara Menuju Lokasi dari Hanoi

Dari Hanoi ke lokasi pagoda ini berjarak sekira 120–130 km. Dengan waktu tempuh 2–2,5 jam via jalan tol yang tersedia. Jika perjalanan dilakukan dari Vietnam Selatan atau luar negeri. Kita harus terbang ke Cat Bi, Van Don, atau Noi Bai. Lalu lanjut ke Uong Bi.

Bisa sekalian mampir ke lokasi wisata lainnya. Seperti Yen Tu, Ha Long Bay, atau Sun World Ha Long. Aksesnya mudah dan cocok buat trip singkat maupun liburan panjang.

Tips Biar Healing Makin Maksimal

Meski menjadi destinasi wisata yang terbuka untuk semua orang. Hal yang harus diingat adalah bahwa Pagoda Ba Vang adalah tempat ibadah umat Buddha. Jadi gunakan pakaian sopan dan tertutup, Jaga ketenangan, hindari suara berisik. Selain itu, jagalah kebersihan, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Waktu terbaik berkunjung ke pagoda ini adalah pada awal tahun lunar, hari besar Buddhis, atau Vu Lan. Sehingga kamu bisa merasakan atmosfer perayaan hari-hari besar di lokasi premium ini.

Dengan arsitektur megah, alam yang menenangkan, dan sejarah spiritual yang kuat. Ba Vang Pagoda Quang Ninh bukan cuma destinasi wisata religi. Ini tempat buat berhenti sejenak, menata ulang pikiran, dan pulang dengan hati yang lebih tenang.

Sumber: Sun Paradise Land

Renovasi Plum Village Telah Mendapat Persetujuan Resmi

1
Rencana renovasi Plum Village libatkan MVRDV dan telah disetujui otoritas lokal di Perancis.
Rencana renovasi Plum Village libatkan MVRDV dan telah disetujui otoritas lokal di Perancis.

Baru-baru ini, saya menyimak kabar tentang disetujuinya rencana pembangunan untuk renovasi biara Plum Village. Sebuah biara Buddhis yang terletak di wilayah Dordogne selatan, Prancis. Izin tersebut diberikan oleh otoritas setempat kepada komunitas biara. Sebagai bagian dari upaya menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan komunitas spiritual yang terus berkembang. Di balik rancangan tersebut, terlibat studio arsitektur ternama asal Belanda, MVRDV. Studio yang telah bekerja sama erat dengan biara sejak 2023 silam.

Plum Village didirikan pada 1982 oleh Bhikkhu Thich Nhat Hạnh. Seorang bhiksu asal Vietnam yang juga merupakan tokoh sentral dalam gerakan Engaged Buddhism. Biara ini sekarang menjadi biara Buddhis terbesar di Eropa. Kompleksnya terdiri dari tiga lokasi, termasuk Upper Hamlet untuk para bhiksu dan Lower Hamlet untuk para bhiksuni. Setiap tahunnya, ribuan pengunjung datang untuk mengikuti retret meditasi. Sehingga kapasitas infrastruktur pun mulai tidak memadi. Pada masa puncak, beberapa bhiksu atau bhiksuni bahkan rela tidur di tenda, demi memberi ruang bagi para tamu. Pernah dalam satu masa retret total peserta yang datang berjumlah 800 orang.

Plum Village Menjawab Tantangan

Untuk menjawab tantangan ini, Plum Village menggandeng MVRDV, arsitek pendamping MoonWalkLocal, serta konsultan teknis seperti OTEIS, VPEAS, dan Emacoustic. Tujuannya adalah guna menyusun dua masterplan terpadu, baik untuk Upper Hamlet maupun Lower Hamlet. Pada Desember 2025, Dewan Kota Thenac dan Loubes-Bernac memberikan izin pembangunan untuk fase pertama proyek tersebut.

Rencana yang disetujui mencakup pembangunan empat rumah tamu komunal berbahan kayu, renovasi toko buku biara (yang berada di bekas lumbung batu), serta pembangunan vihara bhiksuni baru di Lower Hamlet. Semua elemen dirancang dengan prinsip nirlaba dan berorientasi pada keberlanjutan: menggunakan material sirkular, berbasis hayati seperti kayu dan insulasi jerami, serta meminimalkan jejak karbon—selaras dengan nilai-nilai ekologis yang menjadi inti praktik Engaged Buddhism.

Rancangan Kolaboratif

Proses perancangan sendiri bersifat partisipatif. Tim arsitek mengadakan serangkaian lokakarya dengan para bhiksu dan bhiksuni untuk memahami ritme kehidupan, kebutuhan spiritual, dan hubungan mereka dengan lingkungan. Seperti diungkapkan Sanne van der Burgh, Associate Director MVRDV, “Kami harus ‘melupakan’ banyak hal yang kami pelajari sebagai arsitek… Kehidupan yang mereka jalani sangat berbeda dari pengguna yang biasanya kami rancang.”

Hasilnya adalah desain yang responsif dan rendah hati. Rumah tamu dibentuk dalam konfigurasi huruf U, mengelilingi ruang bersama untuk lingkar Dharma, dengan akses melalui tangga luar, balkon, dan beranda yang memperkuat koneksi dengan alam. Vihara bhiksuni—yang akan menampung 76 anggota monastik dari 12 negara—dirancang sebagai bangunan halaman dalam berbahan kayu prefabrikasi, lengkap dengan zendo, perpustakaan, ruang kelas, dan area komunal.

Aspek lingkungan juga menjadi prioritas renovasi Plum Village. Masterplan mengintegrasikan strategi lanskap seperti penciptaan habitat burung untuk pengendalian nyamuk, penempatan panel surya, serta pengurangan lalu lintas kendaraan demi menjaga suasana kontemplatif.

Bagi pembaca di Indonesia—negara dengan warisan Buddhis yang panjang dan komunitas spiritual yang dinamis—proyek ini menawarkan wawasan berharga: bahwa arsitektur religius kontemporer dapat menjadi medium untuk mewujudkan harmoni antara spiritualitas, komunitas, dan ekologi. Di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim, pendekatan Plum Village menunjukkan bahwa merancang ruang suci bukan hanya soal bentuk, tetapi juga tentang mendengarkan—secara mendalam—cara hidup yang ingin diwadahi.

Dalam konteks Indonesia dengan keberagaman budaya yang demikian kaya. Pembangunan tempat ibadah selain soal ramah lingkungan, faktor pelestarian budaya lokal juga perlu diperhatikan. Tantangannya bagaimana mengintrodusir arsitektur etnik kontemporer yang unik untuk vihara di berbagai wilayah Indonesia.

Sumber: Archdaily.Com

Relik Buddha Tarik Hampir 18 Juta Pengunjung di Vietnam

0
Pameran relik suci Buddha di Vietnam tarik hampir 18 juta pengunjung.
Pameran relik suci Buddha menarik hampir 18 juta pengunjung di Vietnam.

Selama sebulan penuh mulai Mei hingga Juni 2025. Vietnam menjadi saksi sebuah fenomena spiritual luar biasa. Sebanyak 17,8 juta orang, dari segala usia, latar belakang, dan penjuru negeri, datang berbondong-bondong. Kedatangan mereka adalah untuk memuliakan relik suci Buddha yang dipinjamkan pemerintah India dalam rangka peringatan Hari Waisak Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan kali pertama relik suci tersebut dipamerkan di Vietnam.

Kementerian Kebudayaan India: Gerakan Spiritual Luar Biasa

Kementerian Kebudayaan India menyebut peristiwa ini sebagai “gerakan spiritual luar biasa” yang menyapu seluruh wilayah Vietnam. Dari ujung selatan hingga utara. Dalam pernyataan resminya, kementerian menulis:

“Jutaan umat berkumpul dalam ziarah pemujaan bersejarah terhadap relik suci Sang Buddha dari India. Tur suci ini menyatukan umat Buddha dan para pencari spiritual dalam ekspresi penghormatan, kedamaian, dan solidaritas budaya yang mendalam.”

Relik tersebut merupakan sisa jasmani Sang Buddha, Siddhartha Gautama, yang biasanya disemayamkan di Mulagandha Kuti Vihara, Sarnath, Uttar Pradesh—salah satu dari empat situs suci utama dalam kehidupan Buddha. Peminjaman sementara ke Vietnam dikoordinasikan oleh Kementerian Kebudayaan India bekerja sama dengan International Buddhist Confederation (IBC) dan Pemerintah Vietnam.

Perjalanan Relik Buddha

Perjalanan suci dimulai ketika relik tiba di Kota Ho Chi Minh pada 2 Mei 2025. Relik Buddha  mulai dipamerkan di Biara Ay Thanh Tam pada 3 Mei. Dari sana, relik dibawa ke Pagoda Quan Su di Hanoi (13–17 Mei), lalu ke Pagoda Tam Chuc di Provinsi Ha Nam (17–19 Mei). Antusiasme publik yang luar biasa membuat pemerintah Vietnam meminta perpanjangan masa pameran. Pada awalnya pameran direncanakan berakhir pada 21 Mei—hingga 2 Juni.

Vietnam memiliki sekitar 13 juta umat Buddha, atau sekitar 13% dari total populasi. Sebagian besar menganut tradisi Mahayana. Ajaran Buddha telah hadir di tanah ini lebih dari 2.000 tahun. Dan tetap memainkan peran penting dalam kehidupan budaya, sosial, bahkan politik. Sangha Buddha Vietnam, organisasi keagamaan resmi yang diakui negara. Turut mengoordinasikan acara ini bersama kuil-kuil lokal dan otoritas daerah.

Yang Mulia Thích Trí Quảng, Patriark Tertinggi Sangha Buddha Vietnam, menyampaikan rasa harunya:

“Ini adalah pengalaman yang sangat mengharukan dan mempersatukan. Kehadiran relik Sang Buddha di tanah kami memberi kesempatan langka bagi jutaan orang untuk memperbarui ikrar spiritual, merenungkan Dharma, dan merasakan kedekatan dengan Sang Bhagavā.”

Delegasi India yang mengawal relik dipimpin oleh Gubernur Negara Bagian Odisha, Prof. Ganeshi Lal. Ia hadir bersama para bhiksu senior dan pejabat kebudayaan. Pada malam 2 Juni, relik dikembalikan ke India menggunakan pesawat khusus Angkatan Udara India. Kepulangannya disambut secara seremonial di Pangkalan Udara Palam, New Delhi.

Setibanya di India, relik sempat dipamerkan untuk umum selama satu hari di Museum Nasional New Delhi pada 3 Juni. Keesokan harinya, relik diarak dengan penghormatan kenegaraan melalui Varanasi menuju Sarnath, tempat asalnya. Prosesi penyemayaman kembali di Mulagandha Kuti Vihara menandai penutupan dari apa yang oleh banyak pihak disebut sebagai “ziarah internasional bersejarah.”

Pesan dari Komunitas Mahabodhi India

Sekretaris Jenderal Maha Bodhi Society of India, Yang Mulia Ven. Pelwatte Seewalee Thero, menyampaikan kesannya yang mendalam:

“Saya tidak akan pernah melupakan kasih sayang yang ditunjukkan pemerintah dan rakyat Vietnam kepada kami. Negara Anda telah melewati penderitaan panjang untuk mencapai kebebasan dan kemajuan hari ini. Dengan berkah Buddha, Dharma, dan Sangha, serta kebijaksanaan historis yang Anda miliki. Saya percaya Vietnam akan terus bangkit dalam cahaya kedamaian dan kebijaksanaan.”

Peristiwa ini bukan hanya soal angka atau kehadiran massal. Akan tetapi juga simbol nyata bagaimana ajaran Buddha terus menyatukan manusia lintas batas. Baik dalam diam, doa, dan kerinduan universal akan kedamaian.

Sumber: Buddhistdoor.net

Jang Kyung-ho: Dongkuk Steel dan Modernis Buddhis Korea

0
Jang Kyuk-ho pendiri Dongkuk Steel adalah umat awam Buddhis utama di Korea.
Pendiri Dongkuk Steel, Jang Kyuk-ho adalah seorang umat awam Buddhis yang sangat berpengaruh.

Pada 8 September 2025, suasana khidmat menyelimuti lantai tiga Daebeopdang Hall di Gedung Buddhist Broadcasting System (BBS), Mapo, Seoul. Di sana, digelar upacara peringatan 50 tahun wafatnya Geosa Jang Kyung-ho. Pendiri Dongkuk Steel, sekaligus ulang tahun ke-50 Korea Buddhist Promotion Institute (KBPI). Hadir dalam acara tersebut tokoh-tokoh penting seperti Ven. Jinwoo, pimpinan eksekutif Ordo Jogye. Serta Chairman Dongkuk Steel Jang Se-joo, yang dengan khusyuk menundukkan kepala dan menangkupkan tangan.

Siapa sebenarnya Jang Kyung-ho

Lahir di Busan pada 1899, Jang Kyung-ho bukan sekadar pengusaha sukses. Ia adalah seorang geosa (istilah kehormatan untuk umat awam Buddhis). Kyung-ho menjadikan dua hal sebagai misi hidupnya. Yakni, mengembangkan ajaran Buddha dan berkontribusi bagi bangsa melalui bisnis. Setelah lulus dari Boseong High School pada 1916 dan sempat belajar di Jepang, ia memperdalam keyakinannya lewat retret Buddhis (ango) di bawah bimbingan Venerable Guha di Tongdosa pada 1925. Saat itu, ia bersumpah: “Aku akan mengabdi pada negara lewat pekerjaanku, dan membalas jasa kepada Buddha.”

Langkah pertamanya di dunia usaha dimulai dari bisnis karung beras bernama Daegung Yanghaeng pada 1929. Perjalanan bisnisnya terus berkembang hingga akhirnya mendirikan Dongkuk Steel pada 1954. Sebuah perusahaan baja swasta pertama di Korea Selatan.

Dharma Bhakti Jang untuk Agama Buddha

Namun, yang membuat namanya begitu dihormati di kalangan Buddhis bukan hanya kekayaannya. Melainkan cara ia memberi. Ia tak hanya menyumbang uang, tapi membangun sistem yang bisa melestarikan dan memodernisasi ajaran Buddha.

Pada 1967, ia mendirikan Pusat Distribusi Teks Buddhis di depan Kuil Jogye. Organisasi yang mencetak dan menyebarkan versi terjemahan yang mudah dipahami dari sutra-sutra penting. Seperti Sutra Hati, Sutra Seribu Tangan, dan Sutra Intan. Tujuannya? Agar ajaran Buddha bisa menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat awam.

Tak berhenti di situ, pada 1973 ia membangun Vihara Daewon di Gunung Namsan, Seoul, lengkap dengan Daewon Buddhist College. Sebuah langkah revolusioner saat itu. Konon, ia ingin kuil itu menjadi tempat yang ramah bagi umat awam. Bahkan ia menyatakan “Aku ingin membuat tempat suci di mana orang bisa masuk sambil masih memakai sepatu.”

Dan di penghujung hayatnya, tepat sebelum wafat pada 9 September 1975, Jang Kyung-ho menyumbangkan 3 miliar won dari kekayaan pribadinya. Setara sekitar 500 miliar won hari ini. Jika dikonversi ke rupiah, sekira 5,75 Triliun rupiah. Donasi itu adalah untuk mendirikan Korea Buddhist Promotion Institute. Padahal, gaya hidupnya sendiri sangat sederhana. Tisu bekas dikeringkan dan dipakai ulang, kertas pembungkus kue upacara disimpan untuk dijadikan kertas catatan.

Kyung-ho juga merupakan pelopor media Buddhis, meski tak sempat melihatnya terwujud. Visinya tentang stasiun radio Buddhis, akhirnya tercapai pada 1990 dengan lahirnya BBS, Buddhist Broadcasting System.

Dalam sebuah bait puisi yang ditinggalkannya, Jang Kyung-ho menulis:

“Perdebatan di alam Dharma sejati, di mana diri dan orang lain tak terpisah, ibarat seekor lalat berusia sehari yang demikian fana. Keyakinanku sudah teguh sejak usia 20-an, tapi sekadar tahu saja tidaklah cukup. Harus dilatih dan dihayati hingga menjadi manusia sejati. Pikiran menciptakan segala fenomena—semua dibuat oleh pikiran.”

Pesan dari Pemimpin Ordo Jogye

Dalam sambutannya, Ven. Jinwoo menyebut Jang Kyung-ho sebagai “umat awam besar” yang setara dengan tokoh-tokoh Buddhis legendaris seperti Vimalakīrti dari India atau Beopseul dari Korea. “Semakin saya pelajari jejaknya, semakin saya terkagum-kagum,” katanya. “Ia benar-benar pelopor dan visioner.”

Sementara itu, Chairman Jang Se-joo, cucunya, mengenang sang kakek sebagai sosok yang lebih suka bertindak daripada bicara. “Beliau adalah guru sejati yang mengajarkan dengan teladan. Warisannya adalah pedoman emas yang harus kita renungkan di zaman ini.”

Peringatan 50 tahun ini bukan hanya nostalgia, tapi juga panggilan untuk melanjutkan semangat Jang Kyung-ho: menyebarkan Dharma dengan bijak, relevan, dan penuh kasih di tengah dunia modern. Disadur dari artikel yang ditulis Gim Han-soo dan diterbitkan pada 9 September 2025 di Chosun.Com.

Buddha Bamiyan di Belakang Menteri Afganistan: Ironi Bikin Viral

0
Lukisan Patung Buddha Bamiyan di belakang Menteri Luar Negeri Afganistan adalah ironi yang bikin viral.
Hadirnya lukisan Buddha Bamiyan di belakang Menteri Afganistan menciptakan ironi dan viralitas.

Sebuah foto dari New Delhi mendadak beredar luas di media sosial. Dalam gambar itu, Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi tengah berbicara di hadapan wartawan. Di atas meja, berdiri bendera kecil Taliban. Di dinding belakangnya, tergantung lukisan patung Buddha Bamiyan. Sebuah ironi yang kemudian membuat foto ini viral.

Kontras inilah yang membuat publik tertegun. Lukisan itu menjadi ironi visual. Rezim yang pada 2001 meledakkan patung Buddha Bamiyan, kini berbicara di bawah bayangannya.

Tragedi Penghancuran Buddha Bamiyan

Patung Buddha Bamiyan adalah warisan peradaban yang telah berdiri lebih dari 1.500 tahun di tebing Bamiyan, Afghanistan. Taliban menghancurkannya dengan bahan peledak, dengan alasan patung itu “tidak Islami”. Tindakan itu kala itu mengguncang dunia dan menjelma simbol ekstremisme.

Dua dekade kemudian, simbol itu muncul kembali—bukan di lembah Bamiyan, melainkan di ruang diplomasi.

“Buddha Bamiyan mengawasi mereka yang pernah menghancurkannya. Sejarah punya caranya sendiri untuk berbicara,” tulis seorang pengguna media sosial. Yang lain menyebutnya sebagai “puisi sunyi tentang ironi”.

Seorang utusan Taliban pernah mengatakan bahwa penghancuran patung itu dilakukan dalam kemarahan, setelah dunia menawarkan dana untuk menyelamatkan monumen sementara jutaan warga Afghanistan kelaparan. Alasan itu tak pernah benar-benar meredakan luka simbolik yang ditinggalkan.

Dalam konferensi pers tersebut, hanya jurnalis laki-laki yang hadir. Ketika ditanya soal hak-hak perempuan, Muttaqi menyebut isu itu sebagai “propaganda”. Afghanistan, katanya, menjalankan syariah dan “semua orang memiliki hak”.

Kunjungan itu juga diisi pertemuan dengan Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar. Tanpa bendera negara di meja pertemuan, India menyebut Muttaqi sebagai Menteri Luar Negeri Afghanistan—menghindari perdebatan antara “republik” dan “emirat”. India bahkan mengumumkan peningkatan misi teknisnya di Kabul menjadi kedutaan besar.

Namun, di ruang publik, yang paling diingat bukanlah pernyataan diplomatik itu. Yang melekat justru satu gambar: seorang pejabat dari rezim yang pernah meledakkan Buddha, kini berbicara dengan Buddha Bamiyan di punggungnya.

Sejarah, kali ini, tak berteriak. Ia hanya menggantung di dinding.

Sumber: Financial Express

Galeri Terbaru

Isyanto, Ketua Umum Institut Nagarjuna memberikan kenang-kenangan kepada narasumber pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia.

Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia Angkatan 1

Tampak Ketua Umum Institut Nagarjuna, Isyanto memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber. Adapun para narasumber dalam pembukaan Sekolah Kepemimpinan Buddhis Indonesia adalah Supriyadi (Ditjen Bimas...
Pembina Pengurus dan Pengawas IN pada saat Launching Institut Nagarjuna.

Launching Institut Nagarjuna