Master Xu Yun adalah salah seorang tokoh Buddhis di masa Tiongkok awal.
Master Xu Yun dan Buddhadharma di Tiongkok Modern (Foto: Amitabha Buddha.Wordpress.com)

Di tengah perubahan besar Tiongkok—dari runtuhnya kekaisaran hingga lahirnya negara modern—Buddhadharma turut bergerak dinamis. Justru dalam masa yang penuh gejolak itu, muncul seorang tokoh yang menjaga dharma di era yang baru. Master Xu Yun (1840–1959), seorang biksu Chan yang dikenal dengan nama “Awan Kosong”.

Nama tersebut bukan sekadar julukan puitis, melainkan gambaran dari kehidupan dan ajarannya. Menurut Shakya, Shakya & Cheung (1996) dalam Empty Cloud: The Teachings of Xu Yun, A Remembrance of the Great Chinese Zen Master. Istilah “kosong” dalam tradisi Chan merujuk pada keadaan bebas dari ego. Yaitu ketika seseorang tidak lagi menilai dunia berdasarkan “aku” dan “milikku”. Dalam pengertian ini, Xu Yun tidak hanya mengajarkan konsep tersebut, tetapi menjalaninya secara konkret.

Sejak awal, jalan hidupnya telah menunjukkan arah yang berbeda. Lahir pada masa Dinasti Qing dalam keluarga yang berharap ia menempuh karier duniawi. Xu Yun justru memilih meninggalkan kehidupan tersebut sebelum pernikahan yang telah direncanakan terjadi. Dalam biografi yang dihimpun oleh para muridnya. Diceritakan bahwa ia memilih kehidupan asketik yang keras, bahkan harus bertahan hidup dalam kondisi yang sangat terbatas. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pencarian spiritualnya (Wyles 2016).

Master Xu Yun: Dari Dinasti Qing hingga Era Komunis

Perjalanan hidupnya yang panjang membuatnya menjadi saksi tiga zaman yang berbeda yaitu kekaisaran, republik, dan negara komunis. Namun, di tengah perubahan sosial dan politik yang begitu drastis, ia tetap berpegang pada satu hal yang tidak berubah. Yakni keberlangsungan Buddhadharma. Dalam dirinya, tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi dijaga dan dihidupkan kembali.

Pencerahan dalam tradisi Chan bukanlah sesuatu yang datang secara instan, melainkan hasil dari latihan panjang yang penuh ujian. Sebagaimana dicatat dalam sumber yang sama, Xu Yun mengalami berbagai penderitaan fisik dan mental sebelum mencapai kondisi batin yang jernih dan bebas dari keraguan . Pengalaman ini menjadi fondasi otoritas spiritualnya sebagai guru Chan.

Namun, kontribusinya tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia hadir pada masa ketika banyak vihara mengalami kemunduran dan disiplin monastik melemah. Dalam kesaksian muridnya, digambarkan bahwa ketika Xu Yun tiba di Vihara Nan Hua, kondisi kehidupan monastik sangat tidak tertib—para bhiksu saling bertengkar dan bangunan vihara mengalami kerusakan (Shakya, Shakya & Cheung 1996). Melalui kepemimpinannya, disiplin ditegakkan kembali dan vihara dipulihkan, menandai kebangkitan kembali tradisi Chan.

Master Xu Yun, Zhou Enlai dan Mao

Pandangan Xu Yun juga tidak terbatas pada Tiongkok. Ia memahami bahwa Buddhadharma harus melampaui batas geografis jika ingin bertahan. Dalam catatan biografisnya disebutkan bahwa ia mendorong penerjemahan teks-teks Buddhis ke dalam bahasa Inggris, sehingga ajaran Chan dapat diakses oleh dunia internasional (Wyles 2016). Langkah ini menjadi penting dalam konteks globalisasi Buddhisme pada abad ke-20.

Menariknya, pengaruh Xu Yun juga melampaui ranah keagamaan. Dalam sebuah kajian akademik tentang agama di Tiongkok modern, disebutkan bahwa Zhou Enlai memiliki kedekatan dengan tradisi Buddhis, sementara Mao Zedong menunjukkan ketertarikan terhadap Buddhadharma sebagai sistem pemikiran tentang pembebasan manusia (Wyles 2016). Dalam konteks ini, Buddhadharma tidak hanya diposisikan sebagai agama, tetapi juga sebagai sumber refleksi filosofis dalam masyarakat modern.

Warisan Sang Awan Kosong

Meski demikian, masa Tiongkok modern bukanlah periode yang sepenuhnya ramah bagi institusi keagamaan. Dalam catatan murid Xu Yun, diceritakan bahwa pada tahun 1951 ia mengalami kekerasan fisik yang berat akibat tekanan politik, bahkan hingga dipukuli dan dibiarkan tanpa makanan (Shakya, Shakya & Cheung 1996). Namun, yang menjadi penting bukan hanya peristiwa tersebut, melainkan bagaimana ia meresponsnya. Ia tetap bertahan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.

Sebagaimana dituliskan oleh Jy Din Shakya, Xu Yun adalah sosok yang “tidak lagi memiliki diri yang dapat digenggam”, sebuah metafora untuk keadaan batin yang sepenuhnya bebas dari keterikatan (Shakya, Shakya & Cheung 1996). Dalam arti ini, “Awan Kosong” bukan sekadar nama, melainkan representasi dari pencapaian spiritualnya.

Warisan Xu Yun terus hidup hingga hari ini, tidak hanya melalui bangunan fisik yang ia pulihkan, tetapi melalui ajaran dan murid-murid yang melanjutkan jalannya. Ia menunjukkan bahwa dalam dunia yang terus berubah, nilai-nilai spiritual tidak harus hilang. Sebaliknya, ia dapat bertahan, beradaptasi, dan bahkan menemukan bentuk baru.

Kisahnya bukan sekadar biografi seorang bhiksu, melainkan refleksi tentang daya tahan sebuah tradisi. Dalam sosok Xu Yun, kita melihat bagaimana Buddhadharma tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi di tengah perubahan zaman.

Referensi

Shakya, JD, Shakya CY & Cheung, UR 1996, Empty Cloud: The Teachings of Xu Yun, A Remembrance of the Great Chinese Zen Master, Nan Hua Chan Buddhist Society, Tiongkok.

Wyles, AC 2016, ‘Master Xu Yun, Mao Zedong, and Zhou Enlai’, (terj.), Buddhist Socialism,  dilihat pada 09 April 2026, (https://buddhistsocialism.weebly.com/master-xu-yun-mao-zedong-and-zhou-enlai.html).

Baca juga: Shi Heng Yi: Ceramah Dharma di TEDx yang Mengguncang Dunia Barat

LEAVE A REPLY