Dona dan Bahiya Sutta Arus Batin
Dona dan Bahiya Sutta

Dona dan Bahiya: Menyusuri Arus Batin Menuju Nihsaraṇa
Oleh Eko N.R.

Ada saat-saat dalam hidup ketika batin terasa seperti air yang keruh. Berputar tanpa
henti, terseret oleh rasa tidak berkecukupan, penolakan, dan kebingungan. Pada
titik itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “Siapa aku?”. Atau “Mengapa ini
terjadi?” tetapi lebih mendalam: “Bagaimana aku bisa keluar dari pusaran ini?”. Dona
dan Bahiya muncul dalam Sutta sebagai dua tokoh yang berbeda. Pada waktu dan situasi
yang juga sama sekali berbeda. Namun pengalaman batin mereka saling terkait. Yang
satu berhadapan dengan hasil batin yang telah bebas dari kelesah. Sedangkan yang lain mengajak kita menggugah kesadaran agar bisa melihat fenomena secara jelas. Tanpa keruh batin, dan keduanya menuntun ke arah Nihsaraṇa, ‘arus keluar dari pusaran samsara.’

Dona Pertanyaan yang Tak Pernah Usai: “Siapakah Engkau?”

Kisah Dona Sutta diawali dengan sebuah misteri yang membuat sang brahmana, Doṇa,
terhenti di tengah hutan. Ia melihat jejak kaki yang ganjil – Jejak kaki mahapurisa. Keunikan jejak kaki ini adalah petunjuk pertama: seorang mahapurisa (manusia agung)
adalah ia yang berjalan di dunia tanpa terikat, tanpa meninggalkan jejak identitas diri,
sehingga jejak kakinya tidak dapat diklasifikasikan layaknya makhluk pada umumnya.
Jejak itu adalah tanda kebebasan.

Layaknya seseorang yang hatinya penuh tanda tanya, ia langsung bertanya sesuatu
yang mungkin juga kita tanyakan ketika menghadapi ‘Ia yang berpengetahuan
sempurna’:

“Devosi bhavaṃ?”
“Apakah Engkau seorang dewa?”

Buddha menjawab lembut:
“No hidaṃ, brāhmaṇa, devo homi.”
“Tidak, Brahmana, Aku bukan dewa.”

Dona tidak berhenti. Ia mencoba menempelkan label lain: manusia, gandhabba, yakṣa.
Setiap label muncul dari kebutuhan batin untuk menamai dan memahami sesuatu yang
mengagumkan sekaligus menimbulkan kegelisahan. Kebutuhan ini adalah manifestasi
alami batin yang masih terperangkap dalam kelesah—selalu ingin mengidentifikasi,
mengkategorikan, dan memegang teguh sesuatu.

Buddha menanggapi dengan terang, tidak menolak atau menerima label-label tersebut,
melainkan menjelaskan hasil dari latihan batinnya:

“Sakkāyadiṭṭhā me pahīnā.”
“Aku telah meninggalkan pandangan tentang identitas diri.”

Sakkaya-dithi: Pandangan Keliru tentang “Aku”

Di sini terlihat jelas: batin yang masih dipenuhi kelesah—rasa tidak berkecukupan,
penolakan, kebingungan—akan selalu membawa kecenderungan untuk mencari dan
menyematkan label, selalu ingin menggenggam. Namun, Dona berhadapan dengan ‘Ia
yang telah selesai dengan dirinya dan terbebas dari semua pelabelan’.

Sakkāya-diṭṭhi adalah pandangan keliru yang menganggap lima agregat kehidupan
(khandha): wujud, perasaan, persepsi, bentukan mental, dan kesadaran, sebagai ‘Aku’
atau ‘milikku’. Dengan menghilangkan pandangan ini, batin Buddha melihat kelima
agregat hanya sebagai proses yang muncul dan lenyap tanpa pemilik abadi. Akibatnya,
tidak ada lagi subjek yang merasa tidak berkecukupan yang menjadi akar dari kilesa.
Batin yang padam dari kelesah kini mampu melihat tanpa terganggu oleh identitas dan
kategori. Inilah bentuk awal dari apa yang Mahāyāna sebut Ādarśa-jñāna, kewaskitaan
yang memantulkan realitas tanpa menilai, tanpa menambah-nambahi, tanpa
prapañca. Kewaskitaan ‘bagaikan cermin’ ini ‘tidak terdistorsi’ oleh apa yang
dipantulkannya (tidak marah pada pantulan kemarahan) dan ‘tidak menyimpan’ jejak
pantulan (tidak ada memori identitas yang tersisa setelah objek pergi). Sementara itu pada kesempatan lain, ada Bahiya;

Bahiya: Mengamati Apa Adanya (yathā bhūta-darśana)

Bahiya seorang siswa, datang dengan batin yang terguncang dan terburu-buru,
mendesak Sang Buddha untuk mengajarkan Dharma segera karena khawatir kematian
akan menjemputnya lebih dahulu:

“Bhante, ajari aku Dharma.”

Buddha memberinya ajaran yang singkat namun tajam, yang langsung memutus rantai
reaksi batin:

“Di dalam yang dilihat, hanya yang dilihat.
di dalam yang terdengar, hanya yang terdengar.
di dalam yang dirasakan, hanya yang dirasakan.
di dalam yang dikenali, hanya yang dikenali.”
(Bāhiya Sutta, Udāna 1.10)

Bahiya diajak melihat fenomena apa adanya (yathā bhūta-darśana), tanpa komentar
batin, tanpa menilai, tanpa mengaitkan dengan narasi diri. Ajaran ini adalah praktik
radikal untuk memutuskan rantai reaksi antara indera dan Kilesa. Ketika mendengar
suara keras, alih-alih merespon dengan ‘Suara ini mengganggu’ (yang sudah melibatkan
Dosa atau penolakan), batin hanya mencatat ‘Hanya yang terdengar’ (hanya getaran
udara).

Batin yang keruh oleh kelesah mulai mereda. Dalam keheningan ini, kesadaran
tergugah: bahwa penderitaan muncul dari kegelisahan, kelesah yang mengaduk-aduk
batin sehingga keruh. Dari titik ini, arah menuju Nihsaraṇa menjadi terlihat.

Buddha menegaskan lagi, menjelaskan konsekuensi dari praktik yathā bhūta-darśana:
“Ketika engkau melihat yang terlihat hanya sebagai yang terlihat, maka engkau tidak
‘menjadi oleh itu’ (na tena); ketika engkau tidak ‘menjadi oleh itu’, engkau tidak ‘di
dalamnya’; ketika engkau tidak ‘di dalamnya’, engkau tidak di sini, tidak di sana, tidak di
antara keduanya.”

Kata-kata ini menekankan kekuatan Ādarśa-jñāna dalam praktik: batin yang
memantulkan pengalaman tanpa distorsi, tanpa menambah cerita (prapanca), dan
tanpa menempel pada identitas. “Tidak menjadi oleh itu” berarti Anda tidak
menjadikan pengalaman (dilihat, dirasakan, dikenali) sebagai basis untuk
mengukuhkan ‘siapa aku’. Jika saya melihat keindahan, saya tidak menjadi ‘orang yang
melihat keindahan’. Jika saya merasakan sakit, saya tidak menjadi ‘orang yang
menderita’. Inilah kunci untuk membongkar Sakkāya-diṭṭhi melalui praktik senantiasa
‘hadir’ saat ini.

Menyadari Kelesah dan Keruh Batin

Kelesah (Kilesa) yang berwujud rasa tidak berkecukupan (lobha/raga), penolakan
(Dosa/Dvesa), kebingungan (Moha)—ini mengaduk-mengaduk batin sehingga menjadi
tidak lagi tampak jernih, kekeruhan berupa kegelisahan (kelesah) batin ini menutupi
penglihatan kita terhadap hakikat kenyataan.

Ketiga Kilesa (kelesah) ini bekerja secara simultan atau bergantian. Moha (kebingungan
atau delusi) adalah akar yang membuat kita gagal melihat sifat sejati fenomena
(anicca, dukkha, anatta), sehingga memicu Lobha (keinginan kuat untuk memiliki atau
mempertahankan sesuatu yang kita kira bisa diandallkan dan memuaskan) dan Dosa
(penolakan terhadap sesuatu yang kita anggap tidak menyenangkan, tidak mendukung
atau mengancam).

Seperti Dona yang melihat hasil akhir batin yang ‘bebas dari kelesah’ pada kehadiran
Buddha, kita pun sering hanya menggagas dan berharap bisa mengalami kondisi
‘terbebas’ itu, hanya sayangnya kita tak pernah sungguh-sungguh berupaya melihat
secara jernih apa yang sedang terjadi dalam batin kita. Setiap pengalaman, baik kelima
indra maupun pikiran, biasanya ditangkap melalui ‘lensa’ kelesah: kita menilai,
membandingkan, ingin memiliki, atau menolak. Inilah yang menghalangi kita melihat
fenomena apa adanya (yathā bhūta-darśana), seperti yang diajarkan kepada Bāhiya.
Misalnya, seseorang membaca komentar tajam di media sosial. Batin segera
terguncang—marah, tersinggung, ingin membalas. Moha membuat kita lupa bahwa

kata-kata itu hanyalah barisan huruf dan getaran temporer. Kita menganggapnya nyata
dan mengancam identitas diri (Sakkāya-diṭṭhi). Kemudian muncul Dosa (penolakan)
dan Lobha (keinginan untuk membalas atau memenangkan argumen). Bukan
komentarnya yang membuat batin keruh, tetapi kelesah yang mengaduk-aduk batin,
menutupi kemampuan untuk melihat kenyataan sederhana: kata-kata itu hanyalah
kata-kata, suara yang lewat, pengalaman indera yang muncul dan hilang.

Kesadaran yang Tergugah: Titik Balik Menuju Tindakan

Saat batin mulai diam, hanya mengamati pengalaman apa adanya, muncul momen
halus namun penting: kesadaran tergugah. Kesadaran tergugah ini adalah Sati
(Perhatian Penuh) yang berfungsi sebagai penjaga pintu indera. Ia melihat Vedanā
(perasaan/sensasi—suka, duka, netral) muncul sebelum Kilesa sempat bereaksi.

Kita mulai menyadari bahwa mencengkeram kelesah hanya menambah penderitaan.
Saat batin hanya hadir sebagai pengamat tanpa menginginkan, tanpa menolak, tanpa
menilai, ada rasa ringan, kelegaan, dan keheningan di tengah pengalaman yang
biasanya membuat keruh.

Kesadaran ini seperti cahaya yang menembus kabut—tidak instan, tapi cukup untuk
menunjukkan arah. Dalam praktik, ini berarti ketika rasa cemas muncul (sensasi fisik di
perut/dada), alih-alih bereaksi dengan narasi (‘mengapa aku cemas?’, ‘ini buruk’), kita
hanya mengamati sensasi itu sebagai energi fisik, tanpa memberi label ‘cemas’ atau
mengaitkannya dengan cerita ‘siapa’ yang cemas.

Dari kesadaran tergugah itu, muncul dorongan alami untuk mengambil tindakan yang
membawa batin keluar dari pusaran. Tindakan ini bukan lari atau menolak pengalaman,
melainkan membiarkan pengalaman ada tanpa pencengkeraman, hadir sepenuhnya,
dan melepaskan kelesah yang mengaduk-aduk batin, inilah pengalaman sadar penuh
(mindfulness).

Bayangkan seseorang terjebak dalam pusaran sungai. Awalnya, ia panik, menarik kayu
atau melawan arus, dan semakin hanyut. Tapi ketika ia menyadari arus, perlahan ia
belajar melepaskan kayu, mengikuti arus, dan menemukan arah keluar. Begitu juga
batin: ketika kesadaran tergugah, ia mulai melihat jalur alami menuju kebebasan,
menuju Nihsaraṇa.

Sintesis: Doṇa adalah Peta, Bāhiya adalah Kompas

Untuk mencapai pembebasan, kita membutuhkan dua komponen esensial dalam
perjalanan batin: sebuah tujuan yang jelas (Peta) dan alat navigasi (Kompas) yang
efektif. Dona menyajikan Peta bagi kita. Peta ini bukan sekadar deskripsi topografi,
melainkan gambaran nyata dari hasil akhir batin yang telah menanggalkan semua label
dan kekeruhan (Ādarśa-jñāna). Kisah Dona, di mana Buddha menolak setiap kategori
identitas, menegaskan bahwa Nihsaraṇa (arus keluar) adalah pelepasan total dari
beban diri—sebuah kondisi yang membuktikan bahwa pembebasan mutlak dari
Sakkāya-diṭṭhi itu mungkin.

Tanpa peta ini, upaya praktik kita mungkin tersesat, hanya berputar pada perbaikan diri sementara, bukan pembebasan fundamental. Sementara Peta (Dona) menunjukkan ke mana kita harus pergi, Bahiya menawarkan Kompas yang sangat presisi. Ajaran “di dalam yang dilihat, hanya yang dilihat” adalah alat navigasi instan yang dapat digunakan di setiap momen dan situasi.

Kompas Pemutus Kilesa

Kompas ini tidak peduli dengan identitas masa lalu atau tujuan masa depan. Ia hanya memberikan instruksi radikal tentang cara memutuskan rantai Kilesa dalam momen saat ini (yathā bhūta-darśana). Misalnya, ketika kita merasa gelisah di tempat kerja. Peta
mengingatkan kita bahwa ada kondisi batin yang bebas dari cengkeraman kegelisahan
(seperti yang dicapai Buddha). Kompas (Bahiya) segera mengarahkan perhatian kita. Amati gelisah tersebut ‘hanya sebagai yang dirasakan’—sensasi panas, denyutan.
Tanpa menempelkan narasi “Aku gelisah karena bosku…”. Ini adalah praktik langsung
memotong prapañca.

Sintesis kedua ajaran ini terletak pada kesadaran yang konsisten. Nihsaraṇa tidak
tercapai dalam satu lompatan, melainkan ketika batin secara disiplin dan terus￾menerus menerapkan metode Bāhiya (Kompas). Setiap kali kita berhasil mengamati
sesuatu “hanya sebagai yang terlihat” tanpa menjadikannya basis identitas, kita sedang
melatih batin kita untuk berfungsi sebagaimana batin seorang mahapurisa—batin yang
terbebas dari Sakkāya-diṭṭhi yang disaksikan oleh Doṇa (Peta yang dicapai). Dengan
demikian, Kompas dan Peta saling memvalidasi: praktik observasi murni memurnikan
batin, dan kemurnian batin adalah tujuan akhir yang telah diwujudkan oleh Buddha.
Inilah proses transformatif yang memandu kita keluar dari pusaran samsara.

Mengambil Arah Nihsaraṇa: Membiarkan Arus Membimbing

Nihsaraṇa bukan pelarian dari dunia, tetapi ‘arus keluar dari pusaran’ yang diciptakan
oleh kelesah sendiri. Dengan kesadaran tergugah, batin memahami bahwa penderitaan
muncul dari pencengkeraman, bukan dari fenomena itu sendiri. Seperti yang
dinyatakan dalam Majjhima Nikāya (MN 29):

“Dhamma ini, para bhikkhu, diajarkan untuk pembebasan (nissaraṇa/nihsarana), bukan
untuk menggenggam atau menginginkan.”

Tindakan menuju Nihsaraṇa adalah keputusan batin: tidak menambah cerita, tidak
menilai, tidak mencengkeram, hanya hadir dengan jernih. Dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti: Melihat komentar yang menyakitkan tanpa ikut terbakar. Merasakan
cemas tanpa menambahkan narasi tentang siapa yang salah. Mengamati kemarahan
muncul dan hilang tanpa ikut terseret. Setiap momen hadir dengan kesadaran seperti
ini adalah langkah kecil menuju arus bebas dari pusaran samsara.

Nihsaraṇa bukanlah berenang ke tepi sungai, melainkan ‘berhenti melawan arus yang
kita ciptakan sendiri’ (arus Kilesa). Ketika kita melihat arus tanpa melawan
(menerapkan ajaran Bāhiya), kita secara alami menemukan jalur keluar, inilah tindakan “membiarkan arus membimbing” yang didorong oleh kesadaran yang tergugah, melek,
awas dan jernih.

Akhirnya, batin menjadi seperti cermin yang memantulkan segala sesuatu tanpa distorsi, tanpa keruh, dan dari cermin itu. Nihsaraṇa mengalir alami bebas, tenang, dan penuh kesadaran. Inilah penghubung reflektif dari Doṇa yang menunjukkan hasil batin jernih, dan Bāhiya yang menuntun kesadaran melihat apa adanya. Kesadaran tergugah yang menuntun kita secara alami ke arah Nihsaraṇa.

Daftar Pustaka

Lembaga Dharmaduta Indonesia. (1990). Majjhima Nikāya 29: Alagaddūpama Sutta. Jakarta: Lembaga Dharmaduta Indonesia.

Lembaga Dharmaduta Indonesia. (1990). Angutara Nikāya 4.36: Doṇa Sutta. Jakarta: Lembaga Dharmaduta Indonesia.

Yayasan Buddhis Indonesia. (2001). Udāna 1.10: Bāhiya Sutta. Jakarta: Yayasan Buddhis
Indonesia.

LEAVE A REPLY