Tulisan ini berangkat dari sebuah perenungan yang perlahan mengendap setelah mengamati fenomena pengajaran dana di tengah umat. Di banyak kesempatan, ajakan untuk berdana tentu disampaikan dengan niat baik, bahkan sering dimaksudkan untuk menumbuhkan kebajikan dan sraddha pada karma dan karma-phala. Dengan kata lain dana tanpa pamrih. Namun, pada saat yang sama, tampak pula sebuah kecenderungan yang patut direnungkan bersama: motivasi berdana kian mudah bergeser ke arah yang transaksional, sementara kesalehan religius perlahan disusupi oleh pamrih yang halus dan terselubung, sering kali tanpa disadari.
Resiko Menjauh dari Pembebasan
Dalam suasana seperti itu, klasifikasi tentang “ladang yang subur” (Dalam Dakkhiṇavibhangga Sutta), yang semestinya dibaca dengan waskita, dapat berubah menjadi dorongan/hasrat untuk mengejar pahala, seolah inti dana terletak pada hasil terbesar yang bisa diperoleh. Padahal, bila dana makin digerakkan oleh pamrih diri, maka ia berisiko menjauh dari arah pembebasan. Menjauh dari hakikat dana tanpa pamrih yang seharusnya dipraktikkan umat Buddha.
Di sinilah perenungan ini menjadi penting: bagaimana membaca kembali ajaran dan sutta secara lebih jernih, lebih utuh, dan lebih selaras dengan rasa Dharma yang sesungguhnya. Dalam Majjhima Nikaya (MN 29), Buddha menegaskan secara langsung: “Dhamma ini, para bhikkhu, diajarkan untuk pembebasan (nissaraṇa), bukan untuk menggenggam atau menginginkan.” Karena itu, setiap cara memahami dana yang justru memperkuat hasrat memiliki, mengejar hasil, atau mencengkeram pahala, patut diuji kembali dalam terang arah pembebasan itu sendiri.
Satu Rasa Dharma: Pembebasan
Dana tanpa pamrih adalah praktik melepas yang tulus, sebagaimana Buddha juga mengajarkan bahwa seperti semua air yang bermuara ke samudera memiliki satu rasa, yaitu rasa asin. Demikian pula Dharma hanya memiliki satu rasa, yaitu rasa pembebasan. Maka bila suatu cara memahami dana justru menebalkan pencengkeraman (upadana), menyamarkan pamrih, dan menguatkan perhitungan diri. Barangkali yang diperlukan adalah pembacaan yang lebih tajam, lebih mendalam, dan lebih setia pada arah pembebasan yang menjadi jantung Dharma. Bukan sebuah kritik atas pengajaran dharma yang belum menyentuh akarnya.
Baca juga: Lanskap Keagamaan Beijing 1400-1900 dan Praktik di Perantauan
Tahap Awal Berdana: Kita Sudah Berjalan, Tetapi Belum Benar-benar Sampai
Pada awalnya, dana dilakukan dengan niat yang baik—ingin menanam kebajikan, berharap pahala, dan memilih “ladang yang subur” agar hasilnya berlimpah. Dalam kerangka Sammuti Sacca (kebenaran konvensional), hal ini tidak keliru. Ia bahkan penting: melembutkan hati, mengikis kekikiran, dan menumbuhkan kepercayaan pada karma. Dalam ajaran Buddha sendiri ditegaskan: “Cetanahaṃ, bhikkhave, kammaṃ vadami” — “Para bhikkhu, Aku mengatakan bahwa niatlah yang disebut karma” (AN 6.63).
Sejak awal, yang menentukan arah bukanlah semata objek pemberian, melainkan kualitas batin (niat) yang memberi. Namun perlahan, tanpa disadari, muncul lapisan halus di baliknya: perasaan “aku memberi”, harapan “aku akan mendapat”, dan keyakinan bahwa “ini adalah pahalaku”. Di sinilah diṭṭhi (pandangan) mulai terbentuk—bukan pandangan kasar, melainkan pandangan yang tampak baik tetapi masih berpusat pada diri (atta/atman).
Ketergelinciran Dana sebagai Investasi Penuh Kalkulasi
Dalam Dakkhiṇavibhangga Sutta (MN 142), Buddha memang menjelaskan perbedaan hasil berdasarkan penerima, yakni bahwa memberi kepada berbagai jenis makhluk menghasilkan buah yang berbeda. Akan tetapi, dalam sutta yang sama juga ditegaskan adanya kualitas pemberian yang lebih luhur: pemberian yang dilakukan tanpa mengharapkan balasan, tanpa mengharapkan buah, dan tanpa mencengkeram. Dengan kata lain, penjelasan tentang “ladang” tidak dimaksudkan sebagai strategi perhitungan egois, melainkan sebagai pemahaman bertahap yang pada akhirnya harus dilampaui oleh kemurnian batin.
Justru di sinilah pembacaan populer sering tergelincir. Bait penutup Dakkhiṇavibhangga Sutta kerap diangkat untuk meneguhkan gagasan bahwa yang terpenting adalah menemukan penerima yang paling tinggi nilainya agar buah karmanya paling besar. Lalu istilah “yang tanpa nafsu” dipersempit seakan-akan hanya menunjuk status rohani tertentu, sehingga umat diarahkan hampir sepenuhnya untuk memikirkan siapa yang paling “subur”, bukan bagaimana membebaskan batinnya sendiri dari pamrih diri.
Pembacaan seperti ini berbahaya karena membuat sabda Buddha menyusut menjadi logika investasi spiritual. Padahal sangat masuk akal untuk membaca frasa itu juga sebagai penunjuk kualitas batin yang bebas dari pamrih, bebas dari hasrat memiliki, bebas dari pencengkeraman atas pahala, dan bebas dari dorongan menjadikan dana sebagai alat memperbesar diri. Jika bait itu hanya dipakai untuk meneguhkan hierarki penerima, tetapi gagal mendengar pesan pemurnian niat dalam sutta yang sama, maka yang terjadi bukan pendalaman samma-diṭṭhi, melainkan penguatan miccha-diṭṭhi yang halus: mencengkeram pahala atas nama Dhamma.
Mengatasi Pencengkeraman
Ketika pandangan seperti ini mewarnai (raga) cara kita bertindak, ia menjadi upadana (pencengkeraman): pencengkeraman pada peran sebagai pemberi, pada hasil yang diharapkan, bahkan pada konsep tentang “kebaikan” itu sendiri. Dari situ, ia menguat menjadi saṃyojana (belenggu), yaitu ikatan halus yang mempertahankan identitas batin. Dan akhirnya, ia menjadi avaraṇa (rintangan batin), yakni tirai yang menutupi kewaskitaan (panya), karena batin masih bergerak dalam kerangka “aku dan milikku”. Di titik ini, dana belum selesai. Bukan karena salah, tetapi karena belum dimurnikan.
Jebakan “Ladang yang Subur” dan Pudarnya Welas Asih
Ada satu jebakan halus yang sering muncul dari konsep “ladang yang subur”. Ketika bagian ini dipahami secara parsial, ia mudah berubah menjadi strategi perhitungan spiritual—seolah-olah inti dana adalah memilih objek yang paling “menguntungkan”, bukan memurnikan batin. Dari sini, perhatian bergeser: bukan lagi pada upaya mengatasi dukkha mereka yang butuh sentuhan welas asih, melainkan pada “efisiensi dan kalkulasi pahala”.
Akibatnya, muncul kecenderungan membanding-bandingkan: ini ladang lebih tinggi, itu lebih rendah; ini lebih menghasilkan, itu kurang bernilai. Tanpa disadari, kecenderungan ini dapat mengalahkan kepekaan terhadap penderitaan nyata. Orang yang miskin, terlantar, lapar, sakit, atau hidup dalam kesulitan bisa terlewatkan—bukan karena mereka tidak layak ditolong, tetapi karena mereka tidak dianggap sebagai “ladang subur”.
Jika kita membaca lebih luas dan jernih dalam keteladanan sosok Buddha, kepekaan untuk hadir menanggulangi penderitaan begitu jelas diutamakan. Dalam kisah Dhammapada Attakatha, seorang petani datang terlambat untuk mendengarkan Dharma setelah lama mencari sapinya yang hilang. Ia tiba dalam keadaan letih dan lapar. Buddha tidak segera memberinya khotbah, tetapi terlebih dahulu meminta agar ia diberi makan; baru setelah itu Dharma disampaikan. Pesan kisah ini sangat jernih: welas asih dan kepekaan terhadap dukkha yang nyata tidak disingkirkan/dikalahkan oleh pertimbangan misi religius.
Penderitaan Nyata Harus diatasi Segera
Arah yang sama juga tampak dalam Dhammadayada Sutta (MN 3), yang mengajarkan agar ketika kita berhadapan dengan derita seseorang yang sedang lapar, sakit, atau terlantar, upaya yang paling mendesak secara Dharma untuk dilakukan bukanlah mempertanyakan “seberapa besar pahala yang akan saya dapat jika menolongnya?”, melainkan “apakah saya peka pada dukkha yang nyata hadir di hadapan saya?”
Kisah dalam sutta ini menunjukkan bahwa perhatian Buddha pertama-tama tertuju pada penderitaan konkret, bukan pada efisiensi perannya yang akan memberi dampak pahala spiritual bagi para siswanya. Saat itu Buddha menginstruksikan agar bhikkhu yang lemah karena lapar lebih patut diberi makan terlebih dahulu daripada dibiarkan tetap menderita demi menjaga idealisme dan disiplin yang kaku. Di sini tampak bahwa perhatian pada dukkha yang konkret lebih selaras dengan jantung Dharma, alih-alih semangat berdana, namun sibuk menghitung pahala dari ladang yang subur.
Ini juga selaras dengan sabda Buddha yang sangat terkenal: “Lapar adalah penyakit yang paling berat.” (Dhammapada 203. Sukha Vagga). Ucapan ini membuat garis batin Buddha jadi sangat jelas: penderitaan jasmani yang mendesak bukan hal remeh, bukan gangguan sampingan bagi spiritualitas, tetapi sesuatu yang sungguh harus diperhatikan. Maka mendahulukan memberi makan yang lapar dapat dibaca sebagai ungkapan karuṇa (welas asih) yang hidup—Dharma yang turun ke bumi, bukan Dharma yang melayang karena terlalu tinggi diagungkan namun jauh dari realitas.
Berdana Bukan Untuk Berkutat Urusan Pahala
Berdana yang landasannya kalkulasi dan efisiensi “ladang subur” bisa mengarah pada praktik yang menyimpang dari akar maitri (niat bajik yang mengharapkan dan berupaya mewujudkan kebahagiaan pihak lain) dan karuṇa (welas asih dalam wujud keberanian untuk hadir di mana ada penderitaan). Dalam Karaṇīyametta Sutta (Sn 1.8) ditegaskan:
Mata yatha niyaṃ puttaṃ ayusa ekaputtam anurakkhe,
evampi sabbabhatesu manasaṃ bhavaye aparimaṇaṃ.
“Seperti seorang ibu melindungi anak tunggalnya dengan nyawanya, demikianlah hendaknya seseorang mengembangkan batin tanpa batas kepada semua makhluk.”
Di sini tidak ada seleksi berdasarkan nilai pahala. Semua makhluk, tanpa kecuali, dalam jangkauan welas asih tanpa batas (maitri-karuna). Jika pada satu kesempatan, ada di dalam jangkauan kita untuk bisa membantu seseorang yang menderita tetapi kita justru sibuk menghitung “ini ladang subur atau tidak”, maka yang bekerja bukan kebijaksanaan, bukan kewaskitaan, melainkan pencengkeraman (upadana) yang terselubung.
Salah satu misi Buddha adalah mengentaskan semua makhluk dari dukkha, bukan mengajari umat untuk mengalahkan welas asih dengan kalkulasi spiritual. Karena itu, konsep “ladang subur” tidak boleh dibiarkan membunuh kepekaan hati. Ia hanya bermakna sejauh membantu orang mulai memberi; tetapi ia menjadi keliru ketika dipakai untuk membenarkan pengabaian terhadap mereka yang paling membutuhkan.
Ketika Dana Belum Menjadi Paramita
Sering kali setiap pemberian langsung disebut sebagai dana paramita, seolah-olah semua tindakan memberi otomatis sudah menjadi kesempurnaan memberi. Padahal tidak setiap dana adalah paramita. Ada dana yang baik, bermanfaat, dan patut dihargai sebagai kebajikan; tetapi kebajikan itu belum tentu telah “menyeberang (param) ke pantai seberang (ita).” Kata paramita sendiri menunjuk pada gerak menyeberang, melampaui, menuju kesempurnaan yang tidak lagi berpusat pada pencarian hasil bagi diri. Karena itu, jika batin masih sibuk bertanya “di mana pahala paling besar?”, “siapa ladang paling subur?”, atau “apa buah yang akan saya peroleh?”, maka arah batinnya masih mudah berputar pada “aku dan milikku” (atman/atta). Dalam keadaan seperti itu, menyebutnya sebagai dana paramita, jelas itu terlalu cepat.
Kesalahpahaman ini penting dibenahi, sebab tanpa disadari orang bisa merasa dirinya sedang menapaki jalan bodhisattva, padahal motivasi batinnya masih berporos pada akumulasi pahala dan peneguhan identitas religius. Ia memberi, tetapi sekaligus sedang menanam cerita tentang dirinya sebagai pemberi. Ia berdana, tetapi diam-diam tetap memperbesar pusat diri. Di sini bukan tindakannya yang harus diremehkan, melainkan arah batinnya yang perlu dijernihkan. Sebab dana paramita bukan sekadar tindakan “menyerahkan sesuatu,” melainkan latihan “melepaskan pencengkeraman (upadana).”
Maka pembeda yang paling penting bukan pertama-tama terletak pada besar-kecilnya pemberian, juga bukan semata pada tingginya objek penerima, melainkan pada kualitas batin yang memberi. Dāna biasa masih dapat berjalan dalam logika kebajikan duniawi: saya memberi agar berbuah baik. Itu tidak salah sebagai tahap awal. Namun dana paramita mulai tumbuh ketika pemberian makin bebas dari pamrih, makin longgar dari perhitungan, dan makin digerakkan oleh kewaskitaan serta welas asih. Ia tidak berhenti pada “saya memberi”, tetapi pelan-pelan mengikis pusat “saya” itu sendiri.
Dana Tanpa Pamrih: Dari Pahala Menuju Kewaskitaan
Peralihan sejati terjadi ketika pandangan mulai berubah—bukan lagi memberi untuk mendapatkan, melainkan memberi dengan melihat. Melihat bahwa apa yang disebut “aku”, “penerima”, dan “pemberian” hanyalah rangkaian kondisi dalam idappaccayata (saling-keterkondisian). Dalam terang anatta dan śunyata, pusat diri mulai melonggar dan tidak lagi menjadi poros segala tindakan.
Dari sinilah kewaskitaan (panya/prajna) bertumbuh. Dan bersamaan dengan itu—bukan terpisah—muncul sesuatu yang lebih luas: mahakaruṇa (welas asih agung).
Welas asih ini tidak lagi memilih siapa yang layak, tidak menghitung apa yang akan didapat, dan tidak membedakan diri dengan yang lain. Ia mengalir karena tidak menemukan batas yang tegas antara “aku” dan “makhluk lain”. Seperti tangan yang spontan menolong tubuhnya sendiri—tanpa niat mengumpulkan jasa dan tanpa rasa memiliki.
Di sinilah dāna berubah sifatnya. Ia bukan lagi tindakan moral yang mengumpulkan pahala, melainkan ungkapan alami dari kejernihan dan keterhubungan.
Dan karena itu, mahakaruṇa (welas asih agung) lebih agung daripada pahala karma baik—bukan karena ia “menghasilkan lebih banyak”, melainkan karena ia melampaui seluruh kerangka perhitungan itu sendiri. Pahala masih bergerak dalam ranah sebab-akibat yang terukur, sedangkan mahakaruṇa lahir dari kebebasan—dari batin yang tidak lagi mencengkeram hasil.
Bodhicitta yang Membumi: Dana Tanpa Pamrih
Arah menuju pembebasan ini diperdalam dalam Bodhicaryavatara karya Santideva:
“Semua kebahagiaan di dunia berasal dari keinginan membahagiakan orang lain; semua penderitaan berasal dari keinginan membahagiakan diri sendiri.” (Bodhicaryavatara 8.129)
Di sini terjadi pembalikan arah batin secara radikal: dari akumulasi menuju pengabdian tanpa pusat diri. Dari “aku ingin pahala” bukan lagi sekadar menjadi “semoga semua makhluk terbebas dari dukkha”, melainkan berkembang menjadi niat yang lebih membumi: “semoga saya terus bertumbuh agar makin mampu mengurangi dukkha makhluk, sesuai kemampuan, keadaan, dan kejernihan yang bisa saya tumbuh-kembangkan.” Dengan demikian, kebahagiaan makhluk lain tidak lagi dipandang sebagai urusan di luar diri, melainkan sebagai panggilan batin yang dihidupi setahap demi setahap.
Di sana, dana menemukan kepenuhannya. Ketika memberi tidak lagi berpusat pada diri, tetapi menjadi bagian dari tekad yang lebih luas untuk terus bertumbuh dalam mengurangi dukkha makhluk, di situlah ia bertumbuh menjadi bodhicitta (tekad pengguggahan demi semua makhluk), yang dihidupi secara bertahap, membumi, dan selaras dengan keterbatasan manusiawi tanpa kehilangan keluasan arahnya. Sebuah dana tanpa pamrih. Memberi tetap terjadi—bahkan mungkin lebih luas dari sebelumnya—tetapi tanpa pemilik, tanpa penuntut hasil, dan tanpa cerita tentang diri. Inilah dana tanpa pamrih, dan justru karena itu, ia menjadi tak terukur.
Penutup
Dana yang berangkat dari harapan pahala bukanlah sesuatu yang harus dicela. Ia bisa menjadi awal yang baik. Tetapi jika berhenti di sana, ia berisiko berubah menjadi diṭṭhi (pandangan), lalu upadana (pencengkeraman), kemudian saṃyojana (belenggu), dan akhirnya avaraṇa (rintangan batin). Yang mula-mula tampak sebagai kebajikan biasa, namun seiring waktu, tanpa disadari, menjadi penghalang (avaraṇa) pembebasan.
Karena itu, jalan dana tidak selesai pada memberi di “ladang yang subur”. Jalan ini matang ketika pemberian tidak lagi digerakkan oleh perhitungan untung-rugi spiritual, melainkan oleh kewaskitaan (prajna) dan mahakaruṇa (welas asih agung). Di titik itu, memberi tidak lagi menjadi investasi pahala, melainkan dana tanpa pamrih yang merupakan wujud laku pembebasan.
Pada akhirnya yang dibutuhkan bukan sekadar tangan yang memberi, melainkan hati yang tidak mencengkeram. Bukan sekadar persembahan yang bernilai, melainkan batin yang makin bebas dari pamrih. Dan ketika batin seperti itu tumbuh, maka yang lahir bukan hanya kebajikan, melainkan arah menuju pengguggahan.
Memberi, tanpa si pemberi,
tindakan Mengalir, tiada diri yang memiliki.
Melihat, tanpa pusat diri,
peduli, tanpa batas tepi.
Bukan pahala yang dikumpulkan,
Bukan jasa yang disimpan,
Melainkan hati yang terbuka—
Di mana semua keberadaan
Tak lagi terpisahkan.
Om Awigenham Astu, Mugi Rahayu Sagung Dumadi.
Oleh Eko Nugroho R.
________________
Pustaka Pendukung
Anguttara Nikaya 6.63. Nibbedhika Sutta. Diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato. SuttaCentral. Diakses dari https://suttacentral.net/an6.63/en/sujato.
Majjhima Nikaya 142. Dakkhiṇavibhangga Sutta. Diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato. SuttaCentral. Diakses dari https://suttacentral.net/mn142/en/sujato.
Majjhima Nikaya 142. Dakkhiṇavibhangga Sutta (Penjelasan tentang Persembahan). Diterjemahkan oleh Indra Anggara. SuttaCentral. Diakses dari https://suttacentral.net/mn142/id/anggara.
Majjhima Nikaya 29. Mahasaropama Sutta. Diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato. SuttaCentral. Diakses dari https://suttacentral.net/mn29/en/sujato.
Majjhima Nikaya 29. Mahasaropama Sutta. Diterjemahkan oleh Indra Anggara. SuttaCentral. Diakses dari https://suttacentral.net/mn29/id/anggara.
Sutta Nipata 1.8. Karaṇīyametta Sutta. Diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato. SuttaCentral. Diakses dari https://suttacentral.net/snp1.8/en/sujato.
Sutta Nipata 1.8. Karaṇiyametta Sutta (Cinta-Kasih). Diterjemahkan oleh Indra Anggara. SuttaCentral. Diakses dari https://suttacentral.net/snp1.8/id/anggara.
Santideva. Bodhicaryavatara: An Introduction to the Bodhisattva’s Way of Life. Lotsawa House. Diakses dari https://www.lotsawahouse.org/indian-masters/shantideva/.
Santideva. Bodhicaryavatara: An Introduction to the Bodhisattva’s Way of Life, Bab 1, “The Benefits of Bodhicitta.” Lotsawa House. Diakses dari https://www.lotsawahouse.org/indian-masters/shantideva/bodhicharyavatara-1.
Santideva. Bodhicaryavatara: An Introduction to the Bodhisattva’s Way of Life, Bab 3, “Fully Adopting Bodhicitta.” Lotsawa House. Diakses dari https://www.lotsawahouse.org/indian-masters/shantideva/bodhicharyavatara-3.
Patrul Rinpoche. The Brightly Shining Sun: A Step-by-Step Guide to Meditating on the Bodhicaryavatara. Lotsawa House. Diakses dari https://www.lotsawahouse.org/tibetan-masters/patrul-rinpoche/bodhicharyavatara-brightly-shining-sun.












