Sebuah foto dari New Delhi mendadak beredar luas di media sosial. Dalam gambar itu, Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi tengah berbicara di hadapan wartawan. Di atas meja, berdiri bendera kecil Taliban. Di dinding belakangnya, tergantung lukisan patung Buddha Bamiyan.
Kontras inilah yang membuat publik tertegun. Lukisan itu menjadi ironi visual. Rezim yang pada 2001 meledakkan patung Buddha Bamiyan, kini berbicara di bawah bayangannya.
Patung Buddha Bamiyan adalah warisan peradaban yang telah berdiri lebih dari 1.500 tahun di tebing Bamiyan, Afghanistan. Taliban menghancurkannya dengan bahan peledak, dengan alasan patung itu “tidak Islami”. Tindakan itu kala itu mengguncang dunia dan menjelma simbol ekstremisme.
Dua dekade kemudian, simbol itu muncul kembali—bukan di lembah Bamiyan, melainkan di ruang diplomasi.
“Buddha Bamiyan mengawasi mereka yang pernah menghancurkannya. Sejarah punya caranya sendiri untuk berbicara,” tulis seorang pengguna media sosial. Yang lain menyebutnya sebagai “puisi sunyi tentang ironi”.
Seorang utusan Taliban pernah mengatakan bahwa penghancuran patung itu dilakukan dalam kemarahan, setelah dunia menawarkan dana untuk menyelamatkan monumen sementara jutaan warga Afghanistan kelaparan. Alasan itu tak pernah benar-benar meredakan luka simbolik yang ditinggalkan.
Dalam konferensi pers tersebut, hanya jurnalis laki-laki yang hadir. Ketika ditanya soal hak-hak perempuan, Muttaqi menyebut isu itu sebagai “propaganda”. Afghanistan, katanya, menjalankan syariah dan “semua orang memiliki hak”.
Kunjungan itu juga diisi pertemuan dengan Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar. Tanpa bendera negara di meja pertemuan, India menyebut Muttaqi sebagai Menteri Luar Negeri Afghanistan—menghindari perdebatan antara “republik” dan “emirat”. India bahkan mengumumkan peningkatan misi teknisnya di Kabul menjadi kedutaan besar.
Namun, di ruang publik, yang paling diingat bukanlah pernyataan diplomatik itu. Yang melekat justru satu gambar: seorang pejabat dari rezim yang pernah meledakkan Buddha, kini berbicara dengan Buddha Bamiyan di punggungnya.
Sejarah, kali ini, tak berteriak. Ia hanya menggantung di dinding.
Sumber: Financial Express











