Artikel Berkenalan dengan biksuni kung fu di Himalaya ini bersumber dari artikel karya Magdalena Rojo.
Berkenalan dengan biksuni kung fu di Himalaya ini bersumber dari hasil pembacaan atas karya Magdalena Rojo. Judul aslinya Meet Buddhism's Kung Fu Nuns in Himalaya

Sebuah artikel karya Magdalena Rojo menarik perhatian penulis hari ini. Judulnya adalah “Meet Buddhism’s Kung Fu Nuns Of The Himalaya,” yang tayang di religionunplugged.com. Rojo menulis praktik unik para biksuni Ordo Drukpa di Biara Druk Amitabha, Nepal. Mereka mengintegrasikan latihan kung fu ke dalam kehidupan monastik Agama Buddha di Himalaya. Sekitar 800 biksuni, dari berbagai rentang usia, menjalani latihan seni bela diri di vihara. Tujuannya adalah sebagai sarana peningkatan kesehatan fisik dan mental, perlindungan diri, serta strategi simbolik untuk menantang struktur ketimpangan gender. Sesuatu yang masih mengakar kuat di masyarakat Himalaya.

Melalui narasi pengalaman dua biksuni, Jigme Lhamo dan Jigme Yamgchen Ghamo. Rojo menyoroti konteks sosial yang melingkupi kehidupan perempuan di kawasan India dan Nepal. Termasuk ketimpangan akses pendidikan, praktik pernikahan anak, beban kerja domestik yang tidak seimbang. Selain itu juga keterbatasan kepemilikan sumber daya, serta tingginya kerentanan terhadap kekerasan berbasis gender dan perdagangan manusia. Dalam konteks tersebut, biara tidak hanya berfungsi sebagai ruang spiritual. Akan tetapi juga sebagai institusi alternatif yang menyediakan perlindungan, pendidikan, dan pembentukan agensi bagi perempuan.

Peran Penting Gyalwang Drukpa

Transformasi ini tidak terlepas dari peran Yang Mulia Gyalwang Drukpa, pemimpin spiritual Ordo Drukpa.  Sejak 2008 beliau secara sadar mendorong reinterpretasi praktik Buddhisme melalui pengenalan kung fu bagi para biksuni. Inisiatif ini menantang persepsi dominan yang memandang seni bela diri sebagai praktik yang identik dengan kekerasan dan maskulinitas. Sekaligus ini memperluas pemaknaan disiplin tubuh dalam kerangka etika Buddhis yang menekankan kesadaran, konsentrasi, dan pengendalian diri.

Latihan kung fu diposisikan sebagai praktik yang selaras dengan meditasi dan latihan pernapasan Buddhis. Karena keduanya sama-sama menuntut fokus mental, ketajaman kesadaran, serta disiplin tubuh. Dalam jangka panjang, praktik ini membentuk ketahanan psikologis, kepercayaan diri, dan kepemimpinan di kalangan biksuni. Hal yang kemudian mentransmisikan keterampilan tersebut kepada generasi yang lebih muda, dalam struktur pedagogis internal biara.

Di luar ruang monastik, para Biksuni Kung Fu Drukpa terlibat aktif dalam kegiatan advokasi sosial melalui kunjungan ke sekolah, ceramah publik, serta partisipasi dalam yatra sepeda lintas Nepal dan India yang diselenggarakan oleh organisasi Live to Love. Kegiatan ini menggabungkan agenda kesetaraan gender, pelestarian lingkungan, dan pelayanan sosial, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan bagi komunitas Himalaya. Dengan demikian, praktik keagamaan para biksuni tidak berhenti pada ranah spiritual semata. Akan tetapi meluas ke bentuk keterlibatan sosial yang konkret.

Secara keseluruhan, artikel Rojo menunjukkan bahwa praktik Biksuni Kung Fu Drukpa merepresentasikan bentuk Buddhisme kontemporer yang adaptif dan emansipatoris. Praktik di mana disiplin spiritual, pengelolaan tubuh, dan aktivisme sosial saling terjalin. Kasus ini memperlihatkan bagaimana institusi keagamaan dapat berfungsi sebagai agen transformasi sosial. Khususnya dalam konteks pemberdayaan perempuan dan penantangan norma patriarkal di masyarakat tradisional.

LEAVE A REPLY